Chapter Text
“Aku nggak bawa baju ganti,” ujarmu sembari menarik kausmu ke bawah sebagai niatan untuk menutupi area privasimu dari mata Xavier. “Harusnya kita langsung pulang aja.” Agaknya dirimu sedikit menyesali keputusan kalian yang jatuh menginap satu malam di sebuah hotel yang tak sengaja Xavier temui saat berteduh. Luar biasanya lagi hanya tersisa satu kamar, mau tak mau kalian mengiyakan.
Xavier tampak santai saja memperlihatkan tubuh bagian atasnya di hadapanmu. Sweternya yang basah kuyup diletakkan ke tepian wastafel. Biru kembarnya menatapmu lewat cermin. “Nanti kuhubungi servis hotel supaya baju kita dicuci.”
“Terus sampai bajunya selesai dicuci, kita mau pakai apa?” Kamu mendecak tidak setuju dengan ide teman priamu. “Jangan ngaco.”
“Aku nggak ngaco,” sahut Xavier setelah membasuh wajahnya. Ia berbalik menghadapmu. Kali ini dirimu dapat melihat jelas tubuh kekarnya di bawah penerangan kamar mandi yang remang-remang. Tangannya menggapai helaian rambut yang terjatuh menghalangi wajahmu. “Basah, ‘kan. Ayo kita bilas dulu, nanti sakit.”
“Siapa dulu yang mau bilas? Aku atau kamu?”
Kedua tangan Xavier memegang tepian wastafel, sebagai tumpuan bobot tubuhnya. Ia melirik ke dalam shower . “Aku bilang kita .” Jika dilihat dari reaksimu yang langsung menarik napas tajam, Xavier pastikan bahwa kamu baru menangkap maksud di balik ucapannya tadi. “Kok kamu kaget?”
Satu langkah maju yang diambil oleh Xavier menambah kecepatan detak jantungmu yang kian lama kian berdebar-debar. Napas Xavier menerpa wajahmu. Pria berambut abu-abu pirang tersebut secara terang-terangan melirik bibirmu ketika kamu menjilatnya tanpa sadar. “Aku bantu, ya?” Tangan Xavier menarik ujung kausmu.
Tangan kananmu menahan dada Xavier. Dapat dirimu rasakan detak jantung temanmu juga sama berisik. Kalian mengalami hal yang serupa. Bibir kalian nyaris menempel, tapi kamu dapat merasakan bibir Xavier bersentuhan denganmu. “Oke.”
Mendapatkan lampu hijau darimu, Xavier menanggalkan kaus tersebut kemudian ikut meletakkan di atas bahu tegasnya. Kali ini kedua tangannya bergerak ke belakang punggungmu. Kamu sempat berjingkat saat bibir Xavier mengecup dan menarik tali bra-mu. “Xavier...” Napasmu bergetar, menggelitik leher Xavier. “Aku bisa lepas sendiri.”
“Tapi, aku mau bantu kamu.” Pandangan kalian bertemu. Xavier bersungguh-sungguh atas setiap satu kata yang lolos dari bibirnya. Kecupannya bergerak ke perpotongan leher, turun ke belahan dada hingga berakhir di payudara sebelah kirimu. Ia mengisap kulitmu sampai meninggalkan rona merah di sana. Xavier menengadah, “Boleh, ya?” Dia mengemis izin darimu. Gemas. Gemas sekali.
Satu anggukan kepala kecil sebelum bra-mu bernasib sama seperti kaus yang bertengger di pinggir wastafel.
