Work Text:
Ada satu sudut temaram di perpustakaan fakultas sains. Sudut dimana buku-buku tertumpuk tinggi, sinar matahari bahkan tak bisa menembus tingginya tumpukan ilmu itu.
Bau apek sebab jamur yang leluasa tumbuh di sudut lembab itu sangat khas. Membuat orang-orang enggan ke sana, apalagi dengan fakta bahwa buku-buku yang berada di sana ialah buku lama, buku dan jurnal yang tak akan diterima dosen sebagai referensi pembelajaran. Maka di perpustakaan yang besar ini, sudut itu terdiam sepi, tak pernah didatangi lagi,
—atau sebenarnya masih. Sudut kelam itu masih kerap didatangi. Seorang dosen tampak sering ke sana membawa satu orang mahasiswanya tiap beberapa bulan sekali. Orang-orang mungkin berpikir, oh mungkin saja mahasiswa itu sedang dibantu dosennya untuk mengerjakan paper-nya, atau, oh, sepertinya mereka sedang melakukan penelitian bersama. Wajar memang untuk berpikir begitu dengan status yang kedua orang itu pegang, namun hey, apakah kau pernah membayangkan seorang lelaki berkacamata dengan kemeja basahnya terduduk simpuh di antara rak-rak buku, matanya tampak berair oleh air mata—apa kau pernah terpikir bahwa lelaki itu, si Dosen Lee itu, tengah menghisap sebuah penis di antara tumpukan ilmu yang dijunjungnya? Pipinya tampak mengembung penuh, bibir hatinya seakan terbelah lebar sebab penis yang ia hisap sungguh begitu besar, begitu berurat hingga lidahnya menjadi geli. Tangan halus pria manis itu sedari tadi memegang batang penis yang tak bisa masuk ke mulutnya, meremasnya bersamaan dengan hisapannya.
Oh. Dosen Lee Haechan begitu menyukainya. Merasakan penis itu memenuhi mulutnya, membasahi sedikit lidahnya, mencekat sedikit lehernya karena terlalu panjang—Haechan sangat menyukainya. Dan sepertinya tak hanya Haechan saja yang menyukai hal ini, lelaki yang tengah berdiri sambil memejam mata keenakan di atas sana juga tampak sama sukanya, geramannya terus terdengar tak terhenti. Tak sia-sia Haechan membayar mahasiswanya ini, birahi Haechan sudah naik begitu saja hanya dengan melihat wajah nafsu mahasiswanya itu.
"Sialan Pelacur. Lanjutkan kewajibanmu."
Ah.
Haechan tak menyangkanya ... Haechan tak menyangka bahwa Mark, sang mahasiswa, akan mengatainya begitu. Mengatainya dengan kasar, seakan akal sehatnya telah lupa siapa Haechan dan siapa yang membayarnya. Haechan ... Haechan begitu menyukainya!
"Ku bilang lanjutkan."
Oh fuck. Fuck. Fuck.
Mark gila. Wajah memerah penuh nafsu itu, suara rendah seakan berbisik itu, juga tangan kekarnya yang terulur ke bawah mendorong kepala Haechan agar menelan kembali seluruh penisnya—sungguh gila ... Mark sudah gila.
Lalu tanpa babibu, dengan bantuan tangan Mark yang menggerakkan kepalanya kasar, Haechan kembali menyedot penis itu cepat. Menggerakkan lidahnya untuk menari menjelajah urat-urat halus Mark. Tangan lentiknya tak lupa meremas sisa penis Mark, meremas kedua buah zakar Mark di bawah sana.
"Uhm~"
Haechan tak bisa bernapas. Haechan tak bisa mendesah. Mark menahan kepala Haechan, memasukkan hampir seluruh penisnya, mendiamkan penis itu tercekat di tenggorokan Haechan. Ini begitu menyesakkan ... air mata Haechan perlahan jatuh dari pipinya.
"Apakah nikmat memakan seluruh penisku?"
Ugh.
Walaupun tak bisa bernafas, walaupun terasa sesak, tapi untung saja Haechan itu penyelam yang handal, ia bisa menahan nafas sampai hampir 3 menit lamanya. Tentu saja penis Mark yang mengisi tenggorokannya ini bukanlah apa-apa. Mark bisa mendiamkan penis itu selama 4 menit di dalam sana dan Haechan tak akan keberatan, Haechan akan sangat menyukainya.
"Ah!" Namun tak seperti ekspektasi dan rancangan Haechan, Mark malah dulu menarik penisnya keluar, menguntaikan benang saliva dari sekujur penisnya dan mulut Haechan.
Haechan tersengal, memerah mengambil nafas. Tangannya mengelap sisa saliva yang tertinggal di muka, lantas ia mendongak, menatap Mark dengan wajah sayu penuh nafsu.
"Mau lagi?" Tanya Haechan. Suaranya lirih dan sopan. Menunjukkan bahwa ia adalah jalang jinak yang hanya ingin merasakan penis sang dominan.
"Hisap dengan baik." Mark menggeram, mengarahkan Haechan pada penisnya yang masih mengacung tegang.
Tak perlu basa-basi, Haechan langsung menangkup sisi penis itu dengan kedua tangannya. Tidak seperti tadi dimana kepalanya yang bergerak maju mundur menggenjot penis Mark di mulutnya, kini penis itu tak masuk ke mulut Haechan. Haechan hanya menjilat penis itu seakan batang panas itu adalah eskrim.
Ia memasukkan ujung penis Mark yang basah, menjilat sedikit pre-cum, memutar lidahnya di atas titik basah itu. Setelah itu, ia berpindah ke sisi-sisi penis Mark, mengesap, menjilat, juga menyusuri urat-urat itu dengan lidah hangatnya. Turun ke ujung, Haechan mengangkat penis Mark, membuat penis itu menempel pada perut lelaki itu. Kini bukan penis yang ingin Haechan hisap melainkan buah zakar Mark. Oh, betapa kejamnya Haechan sempat melupakan kedua bola kembar itu.
Slurp!
Tak tanggung-tanggung, Haechan menghisap buah zakar Mark begitu kuat, sangat-sangat nikmat. Bunyi nakal itu sampai terdengar keras hingga Mark melotot was-was.
Namun berbeda dengan Haechan, sekiranya pikirnya sudah hilang entah kemana. Yang ia tau hanya penis Mark, penis Mark, penis Mark. Yang ia inginkan sekarang hanyalah memakan eskrimnya.
"Begitu nikmat, Jalang?" Geram Mark. "Begitu nikmat sampai kau ingin orang tau bahwa kau adalah pelacur di kampus ini? Kau begitu pandai menghisap penis mahasiswa begini?"
Haechan mendongak, bergidik mendengar kalimat rendahan yang ditujukan kepadanya, kalimat pujian yang memang layak ia dapatkan. Mulutnya masih diisi oleh buah zakar Mark, matanya semakin basah menatap tatapan merendahkan di atas sana.
"Kecilkan suaramu atau orang-orang juga akan meminta kuluman darimu."
Oh fuck.
Mark benar-benar tau caranya merendahkan Haechan dengan suara rendah nan tajamnya itu, membuat libido Haechan naik hingga membasahkan celananya.
Ya Haechan akan bermain pelan, tak akan berisik, karena penis yang ia mau sekarang hanyalah penis Mark. Ia tak ingin penis yang lain mengisi mulutnya.
Lalu bibir penuh itu kembali menyesap buah zakar Mark. Menjilat juga menghisap kedua bola daging di bawah penis tegang Mark itu. Hisapan Haechan tak hanya sampai di situ, sekarang ia kembali bergerak, menggenggam penuh penis Mark kembali, lalu mengecupi bagian ujung penis Mark, menjilat terus penis itu selayaknya eskrim manisnya.
Umpat-umpatan Mark dalam sayup terdengar. Penis Mark begitu bengkak dalam genggaman Haechan, urat-uratnya berdenyut di tiap jilatan Haechan. Haechan tau bahwa Mark sedang berada di ujungnya, mata tajam lelaki itu yang terpejam adalah salah satu petunjuknya. Maka dengan riang, Haechan kulum penis Mark lagi, memasukkan setengah penis basah itu ke mulutnya, menghisap-hisap kejantanan itu hingga yang Mark bisa lakukan ialah meremas rambut Haechan, mengeluar-masukkan secara cepat penis itu di mulut Haechan.
Bunyi basah dari kulit yang beradu cepat tampaknya tak bisa terbendung lagi di titik ini. Bukannya takut ketahuan, Mark malah tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah penisnya yang dikulum Haechan, yang dipermainkan Haechan, yang akan mengisi penuh mulut Haechan,
Haechan terus tersentak-sentak digenjotan Mark pada mulutnya. Lidahnya ia mainkan, ia juga turut menggeram merasakan penis Mark benar-benar begitu bengkak dan keras. Geraman itu menghasilkan getaran luarbiasa yang menambah laju genjotan Mark.
"Agh!"
Dan Mark ... akhirnya benar-benar tumpah di dalam mulut Haechan, mengotori bibir hati itu dengan cairan putihnya.
Mark menutup mata, nafasnya tersengal menikmati ejakulasinya. Dari bawah sini, Haechan dapat melihat rambut tegang Mark yang basah bermandikan keringat. Oh sungguh seksi. Penis Haechan rasanya juga akan meledak sama banyaknya dengan kepunyaan Mark sekarang, yang sampai saat ini juga masih mengeluarkan spermanya, belum mau keluar dari mulut Haechan yang tertutup rapat membendung cairan basa itu.
"Telan itu semua."
Haechan mendongak, mendapati Mark sudah tersadar dari euforianya. Wajahnya yang basah menatap Haechan penuh tuntutan.
Saat penis itu dikeluarkan dari mulut Haechan oleh tangan berurat Mark, saat itu pula Haechan langsung menelan seluruh cairan yang ada di mulutnya, pun menyeka sisa cairan yang meluber di sekitaran dagu dan lehernya, menghisapnya dengan tatapan jalang kepada Mark yang berdiri di depannya.
"Lubang mulutmu menakjubkan."
Haechan tersenyum lebar. Tentu saja, mulutnya adalah yang terbaik, baik itu di kelas ketika menerangkan, maupun di ranjang ketika ia mengulum penis ataupun mendesah.
"Mau lihat lubangku yang lain?"
Tawar Haechan. Tak sabar untuk memamerkan lubang terbaiknya.
Di lorong buntu yang tertutup rak buku, yang juga tercegat dinding putih di ujung lorongnya, Haechan bersandar panas. Bagian belakang kemejanya yang basah menempel pada dinding, sedangkan bagian bawahnya yang tak kalah basah kini telanjang, menggigil oleh dinginnya lantai.
Haechan menyumpal mulutnya dengan tangannya, mengangkang semakin lebar pada Mark yang kini mengocok penis memerahnya, membawa stimulasi yang berlebihan hingga ke perutnya.
Setelah tadi, saat sadar mereka tidak ada lube, Mark memilih untuk fokus pada penis Haechan. Mengangkangkan kaki sang manis selagi ia mengocok penis kecil nan basah itu, membiarkan lubang kering Haechan terbuka, terbiar tak tersentuh; berkedut meronta-ronta seakan ingin dijamah.
"Kau ingin aku menggunakan lubangmu kan, Jalang? Tapi sayangnya lubang ini terlalu kering. Ingin ku basahi lubang itu dengan spermaku dahulu baru kemudian ku gunakan?" Mark sempat bertanya demikian tadi. Ludah Haechan langsung menetes mendengar tawaran menggiurkan tersebut. Diisi penuh dengan sperma sebelum dimasuki, Haechan gila kalau tak menginginkannya.
Ia ingin diisi oleh cairan Mark. Diisi oleh bibit bayi Mark. Ia ingin dikawini, diisi begitu penuh hingga ia kenyang.
"Tapi sayang, spermaku tidak ditakdirkan untuk membuahimu." Begitu kecup Mark pada pipi Haechan, menjatuhkan segala fantasi liarnya tentang berkawin di tengah-tengah perpustakaan luas ini.
Lalu dengan begitu, di sini lah Mark, terus mengocok penis Haechan sambil menatap wajah penuh nafsu sang lelaki manis. Hanya penis Haechan yang ia sentuh. Ia tak menyentuh yang lain—puting, lubang, atau bagian tubuh Haechan sama sekali tak ia sentuh, mengakibatkan Haechan menggeliat gatal, meraih kancing bajunya untuk menampakkan puting menegangnya.
"H-hisap ...."
Haechan meminta lirih, menggunakan jari telunjuk dan jempolnya untuk bermain dengan puting merah muda nya, menyuruh dengan wajah sayu agar bibir Mark berlabuh ke puting kecilnya.
"Anh~!"
Tanpa meminta dua kali, Mark langsung meraup puting itu, menyedot nya rakus, menggerakkan lidahnya lincah di puting halus itu. Tangan Mark yang terbebas masih bermain di bawah sana, membuat Haechan sama sekali tak memiliki waktu untuk bernapas barang sejenak oleh kenikmatan.
Benang saliva panjang langsung terjuntai dari bibir Mark ketika kulumannya ia lepas. Ia kecup puting memerah muda itu, memberikan puluhan kecupan kupu-kupu yang menggetarkan badan Haechan dengan pelan.
Lidah Mark perlahan menjulur ke luar, menyapa puting Haechan lagi kemudian menjilat, melilit puting itu dengan rakus. Jika Haechan punya penis Mark sebagai eskrimnya, maka Mark punya puting Haechan sebagai manisannya.
Tangan Mark di bawah sana sudah terhenti dari kesibukannya melecehkan penis Haechan. Ingin berganti suasana, tangan basah itu berhenti di puting Haechan yang belum dimainkan. Telapak tangannya mengelus-elus puting tegang itu. Kemudian dengan jari telunjuk dan jempolnya, Mark menjepit puting Haechan, memelintir gemas puting itu seakan mengharapkan setitik susu keluar.
Haechan tak menutup mulutnya dengan tangan lagi. Ia mendesis pelan pada tiap jilatan juga permainan Mark pada putingnya. Mendongakkan kepalanya saat rasanya isapan Mark pada putingnya begitu geli dan menyenangkan.
"Kau menyukainya?"
Bak seorang induk yang sedang menyusui anakannya, Haechan menatap ke bawah, bertanya pada Mark sambil mengelus rambut tegang lelaki yang Haechan baru sadari memiliki alis camar itu.
Mark mendongak, melepaskan kulumannya hingga puting basah nan bengkak itu hanya berada di depan bibirnya saja. "Suka." Jawab Mark jujur. Ia menegakkan badannya, duduk sejajar kembali menghadap Haechan. "Tapi akan lebih baik kalau aku bisa minum susu. Aku haus, tau"
Haechan menggit bibirnya. Oh, sialan. Mark tau pasti bagaimana cara membuat seorang jalang merangkak bernafsu kepadanya. Membuat Haechan tak bisa berkata-kata lagi sampai kepalanya terasa pening hanya karena satu patah kata singkat saja.
"Aku punya sesuatu yang bisa kau minum." Cicit Haechan dengan suara serak. "Ini. Kau bisa mengambilnya sendiri." Penis merah yang menegang itu lantas Haechan pegang, mengurut penis itu sendiri pelan, mengajak Mark agar kembali bermain dengan inti utamanya.
Tangan Mark dengan sigap menggeser tangan Haechan, kembali mengocok penis sang manis. Bunyinya begitu basah, hawanya begitu panas. Yang Mark lihat setelahnya hanyalah Haechan yang melenguh-lenguh tak berdaya, mengadahkan kepalanya menikmati tiap kocokan Mark.
Paha Haechan sedikit terlonjak-lonjak, kakinya ia kangkangkan sehingga lubangnya kembali terbuka terpapar udara, mengerut, membuat Haechan semakin merinding.
Penis Haechan begitu halus. Begitu panas dan cantik. Bahkan buah zakarnya begitu manis di mata Mark. Mark rasanya ingin terus mengocok penis itu, menghancurkannya hingga tiada cairan yang tersisa.
Dengan kocokan Mark yang semakin cepat—semakin laju sebab precum Haechan yang membasahi telapak tangannya, sebab penis Haechan yang sudah membengkak—Haechan menutup matanya, ia gigit bibir hatinya menahan desahan kuat. Jari kakinya menggulung, tangannya meremas kemejanya kuat.
"Akh~!"
Dalam satu kocokan kuat terakhir, lelaki itu pun menemui pelepasannya. Badannya bergetar hebat mengeluarkan seluruh spermanya pada telapak tangan Mark.
Mata Haechan tertutup rapat semakin mengadah dengan dada yang membusur ke depan. Badannya sesekali bergetar, terus mengeluarkan sisa-sisa sperma dari penisnya.
Mark yang juga sama berpeluhnya kini mendudukkan diri di lantai. Dengan tangan yang masih kotor, ia tunggu Haechan bangkit dari euforianya, menikmati wajah manis sang dosennya.
Lalu saat perlahan mata cantik itu terbuka, Mark tak bisa untuk tak terkekeh kemudian bertanya,
"Apakah menyenangkan?"
Haechan mengangguk. Mengangguk keras sekali.
"Kalau begitu tugasku selesai." Mark berdiri dari duduknya. Menatap ke bawah menikmati sekejap pemandangan Haechan yang masih luarbiasa kotor.
"Kau akan pergi?" Tanya Haechan sambil menarik celana dalamnya , memakainya sambil berusaha berdiri.
"Iya."
"Dan tanganmu?" Arah pandang Haechan mengarah ke tangan Mark yang masih kotor berlumuran sperma.
"Aku akan membersihkannya."
Haechan mendengus. Ia pakai seluruh celananya, ia kancing seluruh bajunya, lalu ia mendekat, memeluk leher Mark kemudian berbisik, "Minum. Itu susumu."
Kekehan keluar dari bibir Mark. Ia bawa tangannya untuk memeluk leher Haechan balik. Melewati surai kelam sang manis, Mark menghisap tangan kotornya sendiri, menjilat jarinya yang berlumuran cairan.
"Terima kasih susunya." Bisik Mark balik di kuping Haechan.
"No dick sucking on the library—"
"Oh ayolah Renjun." Haechan memutar bola matanya malas. Ia hanya meminjam sebentar sudut ruangan itu untuk bermain dengan mahasiswanya dan kini Renjun, si penjaga perpustakaan, sudah dulu mencegatnya dengan tatapan marah tepat setelah ia keluar dari bagian lorong kelam itu.
"Cari hotel dan jangan bermain di perpustakaanku lagi. Mengerti?" Sergah Renjun dengan suara tajam.
"Aku hanya sebentar. Hotel mahal dan jauh, sudut perpustakaanmu jauh lebih baik." Ucap Haechan.
Renjun mendelik. "Besok akan ku tutup lorong buku itu." Ancamnya.
Haechan menatap Renjun malas. "Ya ya ya. Kau sudah bilang begitu berulang kali namun tetap saja tempat itu menjadi wahana bermainku. Kau malas untuk mengemas buku-buku di sana bukan?"
Sebenarnya ini rahasia umum. Tapi Renjun itu pemalas. Ya, dia bekerja di perpustakaan, kerjanya hanya duduk seharian di balik meja depan. Jadi ketika ia harus menambah pekerjaannya (menutup lorong kelam itu contohnya) dirinya sudah lebih duluan merasa malas. Terlalu banyak hal yang harus dilakukan untuk menutup lorong terpencil itu, dan Renjun malas. Toh lorong itu sudah ada hampir setengah abad lamanya lantas mengapa menjadi tugas Renjun untuk menutupnya?
"Oh astaga Haechan—terserahmu tapi jangan sampai ketahuan." Desis Renjun. Haechan tau saja ia benci pekerjaan tambahan.
Haechan tertawa pelan sambil bersandar di meja kerja Renjun. "Terima kasih, Jalang Jahat."
Renjun mendengus malas. Ia tatap bibir Haechan yang masih membengkak tanda permainannya tadi cukup intens. "Dia muridmu bukan? Bagaimana?"
"Dia hebat."
Sudah Renjun duga. Bibir hati itu jarang membengkak. Sepertinya penis murid berandal yang Haechan esap tadi sangat besar.
"Sangat hebat?"
"Begitu hebat dan kotor."
Ah, lihatlah mata sayu pelacur satu ini, berbinar dengan kebahagiaan di dalamnya. "Ku yakin kau akan menggunakannya lagi." Taruhan Renjun. Jika mahasiswa itu begitu hebat hingga membuat bibir Haechan membengkak, pun membuat matanya berbinar, maka ya, besok ia akan datang kembali ke sini dengan mahasiswa itu lagi.
Namun Haechan tak lantas mengiyakan. Ia pura-pura berpikir sambil terus matanya berbinar senang. "Mungkin?" Kekehnya. "Mungkin aku sedikit menyukainya."
"Siapa namanya?" Tanya Renjun.
"Mark Lee. Namanya Mark Lee."
Renjun mengangkat alisnya menatap wajah Haechan yang terus-terusan senang sejak keluar dari sudut bercintanya. "Hati-hati." Peringat Renjun. "Aku tak ingin mendengar kabar bahwa seorang dosen dikawini mahasiswanya."
Tawa Haechan langsung meledak saat itu juga. Ia mencolek Renjun kemudian berkata, "aku tak masalah dengan berita yang begitu."
Oh, Haechan bodoh. Begitu mudah jatuh hati pada penis seorang lelaki.
