Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-18
Words:
2,238
Chapters:
1/1
Kudos:
135
Bookmarks:
13
Hits:
10,500

Lesson Learned

Summary:

Ada alasan kenapa sesuatu di dalam dada Eunseok terus-terusan ribut di sepanjang perjalanan menuju apartemen Karina

Notes:

makasih promptnya @whozlly di twitter, maaf kalo nggak sesuai ekspektasi 😔🙏

boleh baca one tweet ini dulu kalau mau tau awal mulanya yaaa.. hope you enjoy <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Ke apartemen aku ya, Seok.”

Eunseok menoleh cepat pada Karina, hanya sekilas karena saat ini dirinya sedang memegang kemudi mobil. Namun dari kilasan yang hanya beberapa detik itu Eunseok bisa lihat senyuman jenaka dari sang pacar.

“Nggak ke apartemen aku aja, Kak?” tanya Eunseok pelan, tahu kalau pertanyaannya beresiko sedikit tinggi mengingat beberapa menit lalu ketika Eunseok jemput Kak Karina, gadis cantik itu sibuk memainkan ponsel dan menanggapi apapun yang Eunseok ucapkan hanya dengan sebuah anggukan atau gumaman pelan.

Eunseok rasakan ada atmosfer aneh yang menggantung di udara mobil itu setelah pertanyaannya terlontar dari mulut. Dia juga bisa merasakan Karina menoleh ke arahnya, meskipun mata Eunseok terfokus pada jalanan, tapi sisi matanya bisa melihat Karina menatapnya dengan tatapan yang biasa dia berikan kalau sedang merasa kesal atau marah pada Eunseok—datar, dingin, menyeramkan dan mengintimidasi bagi Eunseok.

Karina mendengus, tangan gadis itu menyugar rambut legamnya sendiri sebelum berkata, “Aku bilang ke apartemen aku, Eunseok. Kamu nurut aja sama aku bisa nggak sih?”

Eunseok meneguk ludahnya kasar tatkala mendengar ucapan Karina. Jelas pacarnya itu masih marah soal dirinya yang nggak menunggu izin untuk mengantar Kak Milk beberapa jam lalu. “Maaf, Kak…” jawab Eunseok lirih, “ini mobilnya aku arahin ke apartemen Kakak kok.”

Lagi, Karina mendengus, lalu bergumam pelan untuk menanggapi ucapan Eunseok yang saat ini jantungnya sudah mulai berdetak cepat nggak karuan.

 

💗

 

Ada alasan kenapa sesuatu di dalam dada Eunseok terus-terusan ribut di sepanjang perjalanan menuju apartemen Kak Karina.

Apartemen pacarnya itu adalah tempat di mana mereka selalu melakukan seks dengan hebat. Berbanding terbalik dengan apartemen Eunseok yang biasa mereka pakai hanya untuk bersantai atau sekadar menonton film dan cuddle, apartemen Karina selalu menjadi tempat mereka bermain karena Karina memiliki semua yang mereka butuhkan.

Strip.”

Eunseok sudah menduga kalau dirinya berada dalam masalah ketika Karina bilang akan memberinya sebuah pelajaran… tapi ini baru.

Sedari tadi Eunseok cuma berdiri di dalam kamar Kak Karina, memperhatikan gadis itu keluar-masuk kamar sambil membawa beberapa barang. Eunseok melihat Karina membawa sebuah kursi kayu ke dalam kamar dan sempat berpikir, oh, kita mau belajar beneran ya ternyata. Tapi tentu saja belajar yang Eunseok pikirkan di kepalanya, nggak sama dengan belajar yang ada di kepala Karina.

“Kamu denger nggak aku ngomong apa?”

Eunseok terkesiap, kepalanya serta-merta menoleh ke arah Karina yang tengah berdiri nggak jauh darinya. Gadis itu berkacak pinggang, menatap Eunseok dengan tatapan yang langsung membuat Eunseok gugup setengah mati. Eunseok meneguk ludahnya kasar sebelum bertanya pelan, “Aku.. buka baju, Kak?”

Karina mengangguk, “Sama celananya juga,” lanjutnya, “just get naked, terus duduk di kursi itu.” titahnya sambil menunjuk ke arah kursi kayu di tengah ruangan yang menghadap ke arah pintu dan membelakangi tempat tidur.

Eunseok hendak membuka mulut, namun dia urungkan ketika melihat manik Karina tengah memperhatikan dirinya seolah menunggu Eunseok membuat kesalahan, lagi. Jadi pertanyaan yang sempat ingin Eunseok lontarkan kembali ditelannya bulat-bulat.

Hurry up, Eunseok,” titah Karina nggak sabaran, “apa perlu gue yang turun tangan buat nelanjangin lo?”

Gue. Lo.

Okay. Eunseok is probably really getting on her nerves.

Decakan Karina terdengar, lalu langkah kakinya mendekat pada Eunseok. Tapi sebelum tangan Karina sempat menyentuhnya, Eunseok sudah lebih dulu membuka kaos dan celana jeansnya, hanya menyisakan celana dalam yang melekat di kulit.

“Lanjutin.” ucap Karina ketika dilihatnya gerakan Eunseok malah terhenti, dua tangannya terlipat di depan dada.

Eunseok terdiam sejenak, “Dingin, Kak.” ucapnya pelan, yang kemudian baru Eunseok sadari adalah satu kesalahan besar lain yang dia lakukan tatkala melihat ekspresi wajah sang pacar.

Tapi sebenarnya Eunseok nggak akan mengatakan kalau hal itu adalah sebuah kesalahan. Terkadang, Eunseok memang suka menantang Karina secara tersirat. Eunseok melakukan semuanya dengan penuh perhitungan, sedang yang tadi itu merupakan sebuah pancingan yang sepertinya sudah cukup berhasil memancing emosi Karina.

Dada Eunseok bertalu-talu ketika mendapati Karina menatap ke arahnya dengan tatapan yang Eunseok sendiri nggak terlalu bisa pahami karena ekspresi gadis itu nggak kelihatan berubah sama sekali sedari tadi. Namun jika harus menebak, Eunseok yakin Karina pasti merasa gusar, hanya saja gadis itu nggak mengeluarkannya secara gamblang di depan Eunseok. Setidaknya nggak sekarang.

Eunseok justru merasakan adrenalinnya terpacu ketika melihat Karina berjalan keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun. Eunseok tahu bahwa apapun yang Karina siapkan untuknya nanti, pastilah sesuatu yang akan membuatnya merasakan nikmat atau bahkan ketagihan.

 

💗

 

“Hh- ahh.. K-kakak.. p-please…” suara pemuda itu bergetar, pun tubuhnya yang diberi stimulasi terus-menerus tanpa henti membuat badannya ikut bergerak nggak nyaman. Sesekali tubuh yang dipenuhi rona merah itu melonjak tiap jemari lentik sang kekasih menggaruk lubang kencingnya.

“Enak, sayang?” tanya Karina, sebuah senyuman tipis terpatri di wajah gadis itu. Tangan kirinya masih setia menggaruk lubang kencing Eunseok sementara tangan lainnya yang memegang vibrator dia arahkan ke batang penis yang lebih muda, menghasilkan lonjakan tubuh untuk yang kesekian kalinya.

“Kak—ngh…!” Eunseok menggigit bibir, kepalanya mendongak sementara dua matanya terpejam. Dua tangannya yang terikat di belakang kursi nggak membantunya sama sekali karena Eunseok jadi nggak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menerima semua yang Karina berikan.

“Kak… Ah! Kakak—hiks, udah Kak… aku nggak kuat…” Eunseok menggeleng ribut. Sedari tadi penis kecilnya sudah mengeluarkan banyak precum yang meleleh di batangnya, bahkan hingga membasahi tangan Karina. Getaran bervolume sedang dari wand vibrator yang menempel di penis Eunseok nyaris membuatnya hampir bucat. Bukan yang pertama kali sebenarnya, karena hampir empat puluh menit setelah Karina menelanjangi Eunseok dan mengikatnya di kursi, Eunseok terus dimanjakan oleh sentuhan sang pacar. Namun tiap kali Eunseok sudah tinggi dan nyaris mengeluarkan putihnya, Karina akan menghentikan semua aksinya lalu berbisik sambil mengelus rambut Eunseok, “Patience, my love. I have not given you my permission yet.”

Permission.

Eunseok paham kalau itu yang mau Karina ajarkan padanya. Dengan dua kaki yang terbuka lebar dan seluruh tubuh yang sedang gemetar hebat seperti ini, Eunseok pikir kalau dirinya nggak terikat pada kursi dan mencoba berdiri pun sepertinya dia nggak akan bisa. Dia hanya bisa mendongak dengan mulut setengah terbuka, mengeluarkan desah yang bercampur dengan rintihan.

Kurva yang terbentuk di bibir Karina semakin melebar ketika melihat reaksi yang sesuai dengan bayangannya di wajah Eunseok. Tangannya kirinya nggak berhenti mengerjai penis Eunseok yang terlihat seolah mau meledak, warnanya merah dan urat-uratnya kelihatan menonjol keluar. Dua bola kembarnya pun sudah sangat keras, menampung semua peju yang seharusnya dikeluarkan tapi terus-terusan ditahan.

Karina arahkan tangannya yang memegang vibrator ke salah satu puting Eunseok yang langsung membuat pemuda itu bergerak-gerak frantik seakan baru saja tersengat listrik. Kepala pemuda itu lagi-lagi mendongak, mulutnya terbuka dan air liur yang menetes dari salah satu sisinya mengindikasikan bahwa selain merasa frustasi karena belum bisa mengeluarkan cairannya, dia juga merasakan nikmat yang nggak ada duanya.

“A-akh! Ka-kak.. u-udah.. aku gak kuat- hhngh- m-mau—”

“Belum, Eunseok.” Karina memotong rengekan lelaki submisifnya itu, “Tahan.” titahnya. Gadis itu lantas mematikan vibrator di tangannya dan menaruhnya di atas meja rias. Ia lalu kembali lagi ke hadapan Eunseok yang dua kakinya sudah gemetar hebat dengan sebuah mainan lain di tangan.

“Liat deh,” tubuh Karina agak membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Eunseok yang terduduk di kursi, “aku baru beli ini kemarin, kita cobain ya, sayang?”

Dua manik Eunseok yang sayu menatap benda metal panjang di tangan Karina, “Itu apa, Kak?”

Sounding rod.” Suara Karina terdengar ceria, tanpa melihat wajahnya pun Eunseok tahu kalau pacarnya itu tengah menyunggingkan senyum lebar, “Nanti aku masukin ke lubang pipis kamu.”

Mendengar itu, mata Eunseok melebar sedikit. Ia segera memfokuskan pandangannya pada metal berbentuk bulatan-bulatan kecil di tangan Karina yang panjangnya mungkin sekitar sepuluh sentimeter—atau lebih. Eunseok kemudian meneguk ludah, “Emang bisa masuk?” cicitnya pelan.

Gadis Aries yang berdiri di hadapan Eunseok terkikik geli, lalu mengangkat kedua bahunya dalam gerakan yang seolah main-main. “Nggak tau,” Nada suaranya terdengar bercanda, “makanya kita harus nyoba, kan?”

Beberapa saat Eunseok hanya diam sambil mengamati Karina melumuri beda berwarna silver itu dengan lube. Ada rasa takut yang menjalar dari balik punggungnya yang juga bercampur dengan rasa antisipasi yang menyenangkan. Eunseok nggak tau apakah dia akan suka kalau lubang kencingnya dimasuki benda asing itu, tapi ia dengan cepat membuat keputusan kalau rasanya terlalu sakit, dia akan langsung mengatakannya pada Karina agar pacarnya itu nggak akan pernah lagi memakaikan benda itu padanya.

Done,” ucap Karina setelah selesai membasahi metal panjang tersebut, “sekarang aku masukin ke lubang kamu ya, Seok.”

Penis merah Eunseok berkedut sedikit, kembali mengeluarkan precum ketika tangan Karina kembali memegang batangnya setelah kehilangannya selama beberapa menit. Eunseok mengeluarkan sedikit desahan ketika lagi-lagi Karina mengerjainya dengan menekan ujung penisnya yang hampir meledak dengan ibu jari.

Karina terkekeh pelan, sementara tubuh Eunseok mulai sedikit menegang tatkala ujung dingin benda besi itu bertemu dengan ujung penisnya.

Mulut Eunseok terbuka lebar saat benda itu mulai masuk ke dalam lubang kencingnya, namun pemuda itu nggak mengeluarkan suara. Matanya terpejam menahan linu, bersyukur Karina masih berbaik hati melumuri lube pada metal itu sebelum memasukkannya ke lubang kencing Eunseok. Rasanya cukup sakit, tapi ternyata nggak sesakit itu karena Eunseok masih bisa merasakan nikmatnya. Ia hanya harus menggertakkan giginya untuk menahan linu ketika benda itu masuk semakin dalam dan menggaruk saluran uretranya.

“Enak nggak, sayang?” tanya Karina, “Kamu suka kan?”

Eunseok meneguk ludahnya susah payah, “I-iya, Kak.. hhgh.. ena— Ah!” Pekikan itu keluar dari mulut Eunseok bersamaan dengan lonjakan tubuhnya di kursi, sedang Karina tertawa puas karena tahu benar kalau pekikan Eunseok barusan disebabkan oleh dirinya yang menarik keluar sounding rod di dalam lubang kencing sang pacar tanpa aba-aba. Sounding rod itu nggak sepenuhnya Karina keluarkan dari lubang Eunseok, melainkan dia tinggalkan sedikit ujungnya di dalam uretra si pemuda Pisces.

“K-kak hhh udah.. udah.. hiks, aku nggak kuat hhngh— sakit.. hiks, mau keluar.. please….” Rengek bercampur isakan tanpa sadar Eunseok keluarkan. Rasanya dia nggak kuat lagi buat menahan spermanya agar nggak keluar, garukan di dalam uretranya tadi memang menyakitkan tapi juga menggelitik sesuatu di dalam sana. Kepala Eunseok pening, sesuatu di dalam perutnya pun mulai bergejolak dan membuatnya semakin ingin bucat.

“Belum, sayang… belum.” Tangan kanan Karina memegang sounding rod sementara tangan yang lain menggenggam batang penis Eunseok yang sudah sangat merah dan keras. “Sebentar lagi yaa.. setelah ini baru aku bolehin kamu keluarin semuanya, oke?”

Eunseok tentu saja nggak bisa menjawab secara langsung. Pikirannya sudah lebih dulu berkabut ketika tangan Karina bergerak bersamaan, naik-turun secara perlahan. Dua pahanya bergetar, terlalu banyak stimulasi yang Eunseok terima tapi nggak cukup untuk membuatnya bisa mengeluarkan cairan. Belum lagi sounding rod yang menutupi lubang kencingnya juga menghalangi jalan untuk putihnya keluar. Kakinya sempat ingin menutup ketika metal di dalam lubang pipisnya menumbuk titik prostatnya, namun tangan Karina mencegah hal itu terjadi sehingga Eunseok lagi-lagi cuma bisa mengerang dan mengeluarkan rengekan.

“A-ah.. hngahh- ahh.. k-kak.. lagii-hh lebih cepet- hhhah hhahh..” Sejujurnya Eunseok setengah sadar ketika menyuruh Karina untuk menggerakkan tangannya lebih cepat. Tapi nggak apa-apa, karena Eunseok memang butuh pelepasannya datang dengan segera.

Karina mendengus remeh. Melihat Eunseok akhirnya menuntut sesuatu darinya setelah puluhan menit hanya bisa memohon membuatnya semakin ingin mengerjai pacarnya itu. “As you wish, my princess.” ucap Karina sebelum kemudian menarik sounding rod itu keluar lalu kembali masuk dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Tangan lainnya yang menggenggam batang penis Eunseok pun nggak tinggal diam dan ikut naik-turun mengikuti ritme gerakan sounding rod.

Eunseok menggeram rendah, tubuhnya membusur dan mengejang beberapa kali lantaran Karina mengocoknya dengan brutal dari luar dan dalam secara langsung. Ada rintihan yang keluar dari bilah bibir pemuda itu, lalu isakan frustasi pun menyusul ketika Karina mulai bermain-main dengan kulup merah Eunseok. Gadis itu mencubit kulup titit Eunseok sampai kulit yang tersisa di atasnya menyentuh sounding rod yang masih tegak berdiri.

“Ahhh! U-udah! Udahh.. hiks—” pekik Eunseok, napasnya pendek-pendek. Air mata, keringat dan air liur bercampur menjadi satu di wajah merah pemuda itu. Lagi, Eunseok sesuatu dalam perutnya berputar-putar aneh seperti ingin keluar namun nggak bisa karena masih tertahan. “Kak.. hiks— m-mau keluar.. mau pipis.. Seokie mau pipis… please bolehin Seokie pipis..”

Karina sempat ingin mengiyakan permintaan sang pacar ketika melihat wajahnya yang terlihat memelas. Namun Karina juga belum benar-benar ingin menghentikan aksinya, maka dia biarkan Eunseok tetap memekik dan menangis. Suaranya justru terdengar seperti melodi yang indah di telinga Karina, membuatnya semakin bergairah dan mengocok lubang pipis Eunseok tanpa ampun hingga mulut pemuda yang terikat di kursi itu hanya bisa terbuka dan menutup berulang kali tanpa mengucap apapun.

Ketika kepala Eunseok terdongak menghadap langit-langit kamar dan matanya membelalak hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat, barulah Karina tahu kalau sekarang adalah waktu yang tepat.

Karina tekan sekali lagi sounding rod di lubang pipis Eunseok dalam-dalam sebagai sentuhan terakhirnya sambil berkata, “Keluarin, sayang. Keluarin semua pipisnya.”

Bersamaan dengan aba-aba itu badan Eunseok bergetar hebat, napas pendek-pendeknya terdengar keras bak dengusan kasar. Lalu pinggul Eunseok pun melonjak naik ke atas, tubuhnya membusur dan pemuda itu mengejan kuat sampai sounding rod di lubangnya keluar sedikit demi sedikit namun nggak sampai berhasil untuk mengeluarkan semuanya.

Karina tersenyum tipis, tangannya lantas menarik sounding rod itu dalam satu gerakan untuk membantu sang kekasih. Eunseok yang merasakan gesekan cepat dari bulatan-bulatan metal yang menggaruk uretranya itu sontak mengerang menyambut orgasme paling intens yang pernah ia rasakan.

Gumpalan sperma muncrat keluar dari lubang kencingnya, mengotori perutnya sendiri. Pinggul Eunseok terangkat naik dan turun beberapa kali untuk menguras sisa-sisa putih yang masih ada hingga yang keluar dari sana tinggal cairan putih yang sudah terlalu lama ditahan.

Eunseok terengah-engah. Kepalanya terasa ringan seperti ingin pingsan. Matanya pun hampir kembali menutup karena merasakan kantuk yang luar biasa. Tapi sebelum hal itu sempat terjadi, ia merasakan dua pipinya dicengkram, nggak terlalu keras, hanya agar matanya kembali terbuka dan dirinya berfokus pada wajah sang pacar cantiknya.

And that is your lesson about permission.” ucap Karina sebelum kemudian mengecup lembut bibir Eunseok.

 

Notes:

find me on x