Work Text:
Tiba-tiba tangan kanan Jeonghan memegang sesuatu yang sangat panas di tidurnya. Sontak ia raba dan genggam erat benda panas itu. Jeonghan mengernyitkan alisnya, bentuknya seperti tangan? Biasanya tangan suami Jeonghan memang hangat, tetapi ini kelewat panas. Akhirnya mau tidak mau Jeonghan duduk dan menyalakan lampu kecil di nakas sisinya. Jam digital menunjukkan pukul 02.17 subuh, Jeonghan dan Seungcheol baru tidur 3 jam yang lalu. Seingatnya, Seungcheol tidak menunjukkan gejala sakit sebelum tidur tadi.
Choi Seungcheol tertidur menghadap Jeonghan di sisi kirinya. Jeonghan pegang dahi Seungcheol dan membandingkan suhu tubuh mereka. Sepertinya demam. Untuk memastikan, laki-laki berambut panjang itu mengambil termometer di laci nakas.
“Mas, mas sayang, bangun dulu, yuk. Ukur suhu dulu.” Ia tepuk pelan bahu laki-laki kesayangannya itu.
Jeonghan kecup pipi Seungcheol yang kelewat panas di bibirnya. Tidak bisa, suhu tubuh sepanas ini sudah pasti demam.
“Hmm.” Mata Seungcheol akhirnya terbuka dan agak memerah.
“Angkat dulu tangan kanannya, aku ukur suhu Mas dulu.” Jeonghan mengusap lengan kanan suaminya.
Setelah ia tempatkan termometer di ketiak Seungcheol, suaminya menggenggam tangan Jeonghan dan meletakkannya di pipinya yang panas. Tangan Jeonghan yang satunya menggaruk pelan punggung Seungcheol, seperti biasa yang ia lakukan ketika kesayangannya sedang kesulitan tidur. Di saat seperti itu, di mata Jeonghan, Seungcheol sangat amat manja dan tingkahnya seperti bayi.
Tiittt…tiittt…tiittt…
Suara termometer selesai mengukur suhu. Seungcheol melepas genggaman tangan Jeonghan dan sedikit mengangkat tangannya untuk diambil termometernya.
Benar. Laki-laki di depan Jeonghan ini ternyata demam. Suhu tubuhnya bahkan mencapai 38,9 derajat celcius.
“Demam kamu, Mas. Mana yang sakit?” tanyanya.
“Kepala aku, pusing banget rasanya. Terus ini tenggorokan aku rasanya perih.” jawabnya dengan suara serak.
Beruntung Jeonghan adalah seorang yang mengetahui pertolongan pertama saat sakit.
“Ya udah bangun duduk dulu, minum dulu dikit. Aku ke dapur dulu bikin Lo Han Kuo sama ambil obat.”
Seungcheol mengangguk dan duduk bersandar di kepala tempat tidur mereka. Jeonghan lalu menyodorkan botol minumnya yang memang selalu disediakan di nakas. Laki-laki yang sedang demam itu minum beberapa teguk dan mengembalikan botol minum pink kecil Jeonghan. Namun, ketika hendak beranjak dari tempat tidur, tangan Jeonghan ditahan oleh Seungcheol.
“Kenapa, Mas?” Tanya Jeonghan khawatir.
“Pelukkk, jangan tinggalin.” Rengeknya yang dibalas kekehan kecil dari Jeonghan.
Lantas Jeonghan membuka kedua tangannya lebar-lebar agar Seungcheol langsung masuk dekapannya. Kepala Seungcheol yang panas bersandar di bahu kiri Jeonghan, napasnya pun terasa panas di lehernya. Kedua tangannya memeluk pinggang Jeonghan erat seakan tidak mau ditinggalkan. Jeonghan juga tak kalah erat memeluk Seungcheol. Ia elus dan tepuk pelan punggung kekar suaminya itu.
Mana tega Jeonghan membiarkan Seungcheol seperti ini.
Ketika ia merasa Seungcheol mulai tertidur, segera ia bangunkan karena sedari tadi, niatnya urung untuk mengambil obat.
“Ayo, aku ambil obat dulu. Abis itu aku peluk sampe Mas bobo.” Kedua tangan Jeonghan terus mengusap punggung suaminya.
Pelukan Seungcheol pun merenggang dan ia kembali duduk dalam posisi bersandar.
Jeonghan segera turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di dapur rumahnya dan Seungcheol memang menyimpan beberapa obat-obatan pertolongan pertama ketika terjadi kejadian seperti ini. Sebelum membuka kotak obat, ia mengisi termos elektrik dengan air dan memanaskannya. Lalu tangan Jeonghan mengambil satu bungkus Lo Han Kuo, minuman saat sakit tenggorokan, untuk diseduh. Mereka berdua memang menyimpan beberapa kotak minuman ini di rumah. Meskipun sedang tidak sakit tenggorokan, terkadang minuman ini juga berguna untuk mencegah panas dalam.
Ia juga mengambil paracetamol serta note kecil untuk mencatat suhu Seungcheol dari sekarang hingga pagi nanti. Untungnya besok akhir pekan. Mereka tidak perlu repot izin ke kantor. Kedua orang tua mereka juga pasti akan mengerti kalau Seungcheol dan Jeonghan tidak jadi pergi ke rumah mereka. Setelah termos mati, ia menuang 1/2 air panas dan air biasanya sisanya ke dalam termos yang sudah diisi Lo Han Kuo.
Ketika Jeonghan membuka pintu kamar, Seungcheol ternyata sudah mengganti kaos lengan pendeknya dengan sweater hitam tebalnya. Laki-laki yang sudah menjadi suami Jeonghan selama 3 tahun ini masih duduk setia menunggu Jeonghan. Dari pintu, Jeonghan tersenyum kecil dan bergegas untuk duduk di sisi tempat tidurnya.
“Nih, obatnya minum dulu.” Jeonghan memberikan obat dan botol minum pink untuk Seungcheol minum.
Seungcheol sebenarnya jarang sekali sakit. Dalam satu tahun, mungkin bisa dihitung dengan jari satu tangan berapa kali ia sakit. Tahun lalu Seungcheol terserang diare yang membuatnya tidak bisa beranjak dari toilet. Baru hari ini lagi, satu tahun lewat sedikit, imun dalam tubuh Seungcheol drop hingga demam tinggi. Nanti siang jika demamnya belum turun, mau tidak mau harus dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah minum obat, Jeonghan lalu memberikan termos berisi Lo Han Kuo yang langsung diminum setengah olehnya.
“Makasih, ya. Maaf jadi repotin kamu subuh gini. I know how you value your sleep time,” ucap laki-laki di depan Jeonghan.
“No, don’t be sorry. Bukan cuma aku yang jadi tanggungan Mas, Mas juga jadi tanggungan aku. Apa lagi kalo sakit.” Jeonghan mengusap tangan Mas nya yang panas, “udah ayo bobo lagi. Katanya mau bobo dipeluk?”
Meskipun sedang lemas dan sakit, laki-laki berlesung pipi ini kembali sumringah seperti anak kecil yang diberi balon jika tidurnya dipeluk Jeonghan.
***
Kali ini Jeonghan terbangun karena ada sesuatu yang basah dan panas di lehernya.
Pasti Seungcheol berkeringat parah, pikirnya.
Sekarang baru pukul 5 pagi. Sudah hampir tiga jam yang lalu ia memberi Seungcheol obat. Mungkin keringat ini efek dari obat?
Jeonghan mencoba bangun dan melepaskan diri dari pelukan Seungcheol. Tangan kanannya melingkar erat di pinggang Jeonghan, kaki mereka juga bertaut. Semakin ia mencoba untuk bangun, tangan Seungcheol semakin kencang memeluknya.
Bisa-bisanya di saat sakit seperti ini, Mas masih bisa memeluk erat. Jeonghan tersenyum kecil.
Karena tidak tahan, akhirnya Jeonghan kembali membangunkan Seungcheol untuk cek suhu. Ternyata masih demam. Suhu tubuhnya masih di sekitat 38 derajat.
Wah, gak bisa begini.
Akhirnya Jeonghan memutuskan untuk mengompres.
“Mas, bajunya buka dulu. Aku mau kompres. Demam kamu ga turun banyak soalnya.” ujarnya sembari menaruh baskom air panas di nakas beserta 2 handuk kecil.
“Yah, kirain buka baju mau nakal kamunya.” Canda Seungcheol yang terbangun.
“Yeu, lagi sakit malah minta. Kalo aku sakit juga malah repot kita, Mas.”
Laki-laki di depan Jeonghan kini sudah bertelanjang dada duduk bersandar dengan tumpukan bantal di belakangnya. Segera Jeonghan peras handuk yang sudah direndam air panas dan mulai mengompres dada suaminya terlebih dahulu. Seluruh badannya panas karena demam. Matanya juga terpejam karena menahan kantuk. Setelah dada, kini gantian punggungnya. Handuk yang ia ambil cukup besar sehingga bisa menutupi satu punggung lebar Seungcheol.
“Mas bangun dulu, aku kompres punggungnya.” Seungcheol membuka matanya sedikit dan terduduk tegak.
Kini kepalanya kembali bersandar di pundak Jeonghan dan dua tangannya memeluk pinggangnya. Seungcheol memang sering manja, tapi jika sedang sakit seperti ini, rasanya Jeonghan sangat tidak tega.
Handuk putih yang hangat dilebarkan di punggung Seungcheol. Sembari menunggu handuk hangat menyerap panas tubuh suaminya itu, tangan Jeonghan membalas pelukan. Satu tangannya mengusap rambut di tengkuk Seungcheol, satu tangan lainnya menepuk pelan punggung laki-laki yang sedang sakit.
“Cepet sembuh, ya Mas sayang,” bisik Jeonghan pelan di telinga Seungcheol.
Butuh sekitar 2 menit untuk handuk terasa dingin. Segera Jeonghan ambil handuk basah dan ia ganti dengan handuk kering untuk mengelap punggung Seungcheol. Dari dengkuran kecil yang terdengar, Seungcheol sudah kembali tertidur pulas di bahu Jeonghan. Masih ada jeda 2 jam lagi untuk minum obat. Jeonghan sepertinya tidak akan bisa kembali tidur. Hatinya tidak tenang karena suhu tubuh Seungcheol yang belum juga turun.
Ia lempar kedua handuk kompres ke lantai dan membaringkan Seungcheol kembali ke posisi tidur. Iya, Jeonghan membiarkan suaminga ini tidur bertelanjang dada agar panas tubuhnya keluar. Ketika memakai sweater tadi pun Seungcheol berkeringat. Toh Seungcheol juga tidak menggigil. Setelah diselimuti, Jeonghan beranjak dari tempat tidur sebentar untuk merapikan baskom dan handuk ke kamar mandi.
Sekarang pukul 5.21 pagi, rasa kantuknya juga sudah hilang. Akhirnya Jeonghan memutuskan untuk masak bubur. Sebelum kembali ke dapur, Jeonghan duduk di sisi tempat tidur suaminya yang sedang tertidur pulas. Sepertinya setelah dikompres, panasnya mulai mereda. Ia ambil novel di nakas yang akan dibaca sambil menunggu bubur matang.
Semoga obatnya cepat bekerja.
Laki-laki yang jarang sakit ini sedang terserang penyakit yang paling ia benci. Katanya kalau demam, ia tidak bisa ngapa-ngapain. Memang Seungcheol tidak bisa diam aja, sih.
Ini kamu emang lagi disuruh istirahat sama dunia, Mas.
Jeonghan kecup sekali lagi pipi Seungcheol dan berbisik, “jangan sakit lama-lama, Mas. Aku gak suka lihat kamu lemes gini.”
Matahari belum mulai muncul ketika Jeonghan turun ke dapur. Segera ia cuci beras dan memasaknya rice cooker. Masak bubur akan memakan waktu sekitar satu jam lebih. Cukup untuk menghabiskan novel fiksi yang semalam tanggung ia habiskan.
Pukul 06.30 pagi, tepat ketika Jeonghan menyelesaikan novelnya, bubur untuk sarapan Seungcheol pun matang. Jeonghan mengusap sedikit air mata yang tersisa. Masih ada rasa sedih di hatinya setelah membaca akhir cerita. Lucunya, Jeonghan juga ikut menangis karena keadaan Seungcheol yang sedang sakit. Oh, hatinya sangat tidak tega.
Stop it, Jeonghan. Seungcheol demam doang, gak sekarat kayak karakter novel yang barusan lu baca! Ucapnya dalam hati
Buru-buru Jeonghan naik ke kamar tidurnya, ia perlu memeluk Seungcheol sekarang!
Posisi tidur Seungcheol sudah berbeda dari terakhir ia meninggalkannya. Dari tempatnya berdiri di pintu, Jeonghan tidak bisa melihat kepala Seungcheol yang terbungkus selimut.
“Mas, cek suhu lagi, yuk.” Jeonghan kembali duduk di sisi kasur Seungcheol.
“Kamu kemana tadi?” Akhirnya raut wajah Seungcheol yang merengut terlihat dari balik selimut.
“Maaf ya aku ninggalin. Aku masak bubur di bawah tadi. Masih pusing? Cek dulu sini, kalo masih panas kita ke IGD aja, ya?”
“Kamu abis nangis?” Seungcheol melihat mata Jeonghan yang sedikit memerah dan bengkak.
“Keliatan, ya? Aku ngabisin novel juga. Masa endingnya Gus mati duluan, terus Hazel ternyata hamil, but the baby didn’t make it and Hazel dies too. Aku sedih terus kesel.” Oceh Jeonghan yang dibalas kekehan dari Seungcheol.
“Kirain nangis gegara aku sakit.” Seungcheol dari posisi tidurnya mengulurkan tangan untuk menghapus jejak air mata di pipi Jeonghan.
“That too.”
Jeonghan selesai mengukur suhu tubuh Seungcheol. Akhirnya turun di 37,6 derajat.
“Haduh akhirnya turun juga,” ucap Jeonghan lega, “kamu masih pusing atau ada gejala lain apa gak, Mas?”
“Ada.” Jawaban Seungcheol berhasil membuat duduk Jeonghan kembali tegak.
“Aku masih lemes karena kurang dipeluk.”
Jeonghan menghembuskan napas lega dan tertawa kecil, “kamu tuh, stop godain aku gak bisa apa? Jantung aku tuh turun ke perut deh.”
Laki-laki bertubuh ramping itu merebahkan tubuhnga di samping Seungcheol. Kalau biasanya Jeonghan yang selalu bersandar di dada Seungcheol, kini posisinya terbalik dan Jeonghan sama sekali tidak keberatan.
Seungcheol menyamankan tidurnya sambil mendengarkan suara detak jantung Jeonghan yang stabil. Belaian lembut Jeonghan di rambutnya pun semakin memberatkan kelopak matanya. Sesekali ia masih sadar ketika Jeonghan mencium ujung kepalanya.
“Cepet sembuh Mas sayang. You know I’m always here for you, kan? Take your time to recover, ya. Aku sayang banget sama Mas.”
Iya, Seungcheol juga masih bisa mendengar ucapan Jeonghan itu. Ia pun membalas dengan mengeratkan pelukannya ke tubuh Jeonghan.
Pagi itu, ketika matahari sudah setengah menyinari bumi, Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan masih berbagi kehangatan melalui pelukan erat di akhir pekan.
