Actions

Work Header

loveholic's hangover

Summary:

sabtu ini pun sunoo istirahatkan logikanya, biarkan tubuhnya yang ambil alih (meski rasanya seperti digerogoti dari dalam)

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tengah malam kurang sembilan belas menit—seharusnya sebentar lagi temannya itu datang mengetuk pintu apartemen dan menerjang masuk ke dalam pelukannya.

Jungwon, temannya itu, tak pernah banyak bicara. Datang tiap tengah malam menuju Sabtu, peluk dia sampai mereka sama-sama tertidur, lalu siangnya terbangun seolah enggak terjadi apa pun. Dengan tenang mereka habiskan sarapan bersama usai berbagi liur beberapa menit. Lalu mereka bebersih dan dia pulang. Selanjutnya, seminggu ke depan mereka akan bertingkah macam dua orang asing yang hanya kebetulan bekerja di kantor yang sama. Lalu saat Jumat malam datang, siklus ini kembali terulang.

Mereka memang sekantor, tapi interaksi intens pertama keduanya justru berlangsung di depan kamar mandi bar langganannya tiga bulan lalu.

Sunoo butuh smoking break kala itu, jadi di sanalah dia berjongkok sembari hisap rokoknya dalam-dalam.

Pada menit entah keberapa, ada seorang laki-laki jalan terhuyung keluar dari pintu bar ke arahnya. Mulanya dia ingin bersikap tak peduli. Namun, saat kenali wajahnya sebagai rekan sekantor yang baru masuk bulan lalu bersamanya, Sunoo paksa kakinya berdiri songsong lelaki itu, berusaha cegah dia terjatuh.

Sunoo berhasil gapai Jungwon sebelum dia hantam ubin, tetapi tahu-tahu Jungwon ciumi bibirnya. Sembari bibirnya dijajah, Sunoo bisa rasakan aliran panas akibat kontak jemari Jungwon dan permukaan kulitnya sendiri. Jari-jarinya dengan lihai bergerak susuri seluruh punggung dan pinggangnya, bahkan jangkau lehernya juga, buat kepala Sunoo penuh kabut.

Seketika akalnya padam.

Malam itu, di ruang sempit jok belakang mobil Jungwon, tubuh mereka saling berkenalan dan merasakan satu sama lain. 

Sunoo hanya tahu nama dan divisi kerja lelaki itu, tapi tubuh mereka sudah lebih dulu berpadu.

Esok paginya dia terbangun di sebelah Jungwon di kamar sebuah penginapan di dekat bar.

Mulanya ingin Sunoo bangunkan dia. Tapi niatnya urung saat kepalanya tak bisa temukan kalimat yang ingin diucap pada pria itu. Akhirnya, Sunoo hanya tinggalkan nomornya di secarik kertas sebelum bereskan pakaiannya dan pulang ke apartemen kecilnya untuk bersiap ke kantor.

Ketika tak sengaja berpapasan dengan Jungwon sewaktu keluar dari pantry, Sunoo rasa gugup setengah mati. Perutnya sampai terasa melilit. Satu-satunya hal yang sanggup dia lakukan hanyalah tersenyum kaku sambil membungkuk sebentar, lalu berlalu dengan langkah cepat.

Sunoo sempat menoleh, ingin tahu reaksi Jungwon. Namun, yang dia lihat malah buat segumpal kecewa tersangkut di tenggorokannya sebab lelaki itu tampak tanpa beban raih sebuah gelas dan seduh kopinya.

Tapi ya sudahlah, memangnya apa yang dia harapkan?

Besar kemungkinan semalam Jungwon berada di bawah pengaruh alkohol yang cukup kuat sampai hilang kesadarannya. Sunoo bahkan ragu rekannya itu ingat kalau dirinyalah semalam yang temani dia kejar puasnya.

Ya sudahlah.

Namun, dalam minggu yang sama pada tengah malam menuju Sabtu, ada pesan dari nomor asing sambangi ponselnya.

 

+62 xxx-xxxx-xxxx

hai, Sunoo, ini Jungwon dr marketing.
blh tlg krm alamatmu skrg?

 

Begitulah awal Jungwon perlahan jadi bagian dari rutinitas mingguan Sunoo.

Setiap kali duduk di balkon menunggu kedatangan Jungwon, Sunoo sesungguhnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan? Kenapa dia biarkan Jungwon masuk semudah ini? Sampai kapan mereka akan berada di situasi macam ini? Apa yang sedang dia kejar dari ini semua?

Sayangnya, setiap kali pula seluruh pertanyaan Sunoo berakhir menguap tanpa jejak. Mereka dipaksa lenyap karena selalu kalah dari panasnya cumbuan Jungwon—

di bibirnya,

di lehernya,

di dadanya,

di perutnya,

di pantatnya,

di pinggangnya,

di punggungnya,

di selangkangannya,

di sepanjang kakinya,

—di sekujur tubuhnya.

Itu sebabnya, seperti biasa, tengah malam menuju Sabtu ini pun Sunoo duduk di balkon menunggu kedatangan Jungwon.

Ding dong!

Lambat-lambat Sunoo langkahkan kakinya ke pintu. Dia ingin beri waktu pada dirinya sendiri tenangkan degup jantung, takut ketahuan ketika dada mereka bersentuhan nanti saat berpelukan.

Malam itu, seperti biasanya, Jungwon hanya bicara sedikit. Dia lebih pilih peluk Sunoo sampai mereka sama-sama tertidur, lalu Sabtu agak siang terbangun seolah enggak terjadi apa-apa. Dengan tenang mereka habiskan sarapan bersama usai beberapa kali penis Jungwon semburkan cairan hangat di dalam lubang pantat Sunoo, hingga meleleh ke paha dan lututnya. Lalu mereka bebersih dan Jungwon pulang. Selanjutnya, seminggu ke depan mereka bertingkah macam dua orang asing yang hanya kebetulan bekerja di kantor yang sama—sampai Jumat tengah malam menuju Sabtu datang kembali dan siklus pun terulang.

Notes:

- this work was also published on twt through @enbxbarea anonymously
- struktur tulisan terinspirasi dari karya-karya rain chudori
- judul dikutip dari lagu dengan judul yang sama, loveholic’s hangover oleh BIBI ft. Sam Kim