Actions

Work Header

Iri

Summary:

Acara reuni yang kental dengan arus hiruk pikuk manusia familiar memaksa Anies untuk mengerti batasan-batasannya sebagai suami Ganjar

Notes:

Iri ini bagian dari Pain Is So Close To Pleasure yah guys. Bisa dibilang sekuelnya sih, tapi masih bisa dibaca sendiri tanpa harus baca yg pertama. Aku beneran sayang bgt sama pasangan masokis ini, jadi gk bisa move on :(

One thing, aku kepaksa jadi inaktif di twitter/X krn satu dan lain hal. Jadi maafkan kalo para mootsku merasa kehilangan atau gmn. I miss u guys too :'

Semoga bokep satu ini bisa bikin keadaanku kembali ke semula dan bisa berinteraksi dgn kalian lagi secepatnya :'

Happy reading, lovelies! :*

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tidak bisa ditoleransi, tidak bisa dimaafkan, tidak bisa dibiarkan! Aniesnya dipeluk-peluk oleh orang yang tidak Ganjar kenal. Mereka terlihat sangat bahagia dengan senyuman lebar dari kedua bibir pria tersebut. Ganjar bergidik dengan jijik ketika melihat snapgram yang dibagikan salah satu teman mutual suami dan dirinya beberapa menit yang lalu. Anies yang sudah berpakaian rapi dan cantik menggunakan batik corak favorit Ganjar, jambul mininya yang sudah tertata rapi, dan kacamata yang berkilau bersih, sedang dipeluk dan dipegang dari belakang oleh pria tanpa nama dengan mesra.

 

Pasalnya, Anies sedang menghadiri acara reuni kampusnya malam itu. Ganjar yang sedang menonton TV untuk membuang waktu sambil menunggu suaminya pulang tiba-tiba mendengar denting suara dari telepon genggamnya, menandakan ada notifikasi yang masuk. Tanpa sangkaan apapun, ia membuka notifikasi tersebut dan langsung disambut oleh foto paling kotor yang pernah ia lihat. Rasa cemburu dan dengki langsung membakar emosinya. Wajahnya memerah panas padam ketika ia menekan tombol telepon pada nomor suaminya yang kurang ajar tersebut. Ia tunggu beberapa dering sampai akhirnya pada dering keempat Anies mengangkat teleponnya.

 

“Halo Mas?” sapa Anies dengan suara ceria, suara gemuruh musik dangdut terdengar sebagai suara latar belakang.

 

“Pulang sekarang!” bentak Ganjar dengan murka. Ia lalu langsung menutup telepon mereka dan bergegas menyiapkan peralatan untuk menghukum suami kecilnya itu.

 

Di sinilah akhirnya mereka bertemu. Anies yang dengan tergesa-gesa langsung pulang mendengar amukkan suaminya itu langsung disergap, diseret menuju kamar tidur mereka, dan langsung dilucuti habis dari baju hajatnya. Kemeja batik, celana bahan gelapnya, serta dalamannya Ganjar lempar jauh-jauh ke pojok ruangan sambil kedua pergelangan tangan pasangannya itu diikat dan talinya disangkutkan pada gantungan baju di belakang pintu kamar mereka. Perbuatan suaminya itu sangatlah kasar, tiba-tiba, dan gesit, Anies sampai tidak sempat untuk bertanya dan memberontak.

 

Anies dibiarkan terperangkap dan tanpa busana seperti itu selama beberapa menit. Ganjar menikmati kesemokkan suaminya yang telanjang bulat dari belakang sambil tersenyum jahat. Pada tangannya terdapat alat cambuk untuk berkuda yang belum ia kenalkan pada suaminya. Ia lalu mengambil kain perca gelap dan dengan lihai menutup mata Anies, mengikatnya menjadi simpul kencang tepat di belakang kepala suaminya.

 

“M-Mas?” panggil Anies sambil menahan isakannya. 

 

Rasa khawatir dan takut memenuhi pikirannya. Netranya tidak dapat dipakai, sehingga indra lainnya menjadi beberapa kali lipat lebih responsif, terutama sensitivitasnya terhadap sentuhan. Hal tersebut secara tidak langsung membuat gairah seksual Anies meningkat. Ganjar sedari dia sampai di rumah mereka tadi belum mengeluarkan satu patah kata pun. Hal itu membuat Anies bertambah takut dan tak nyaman. Ia belum pernah melihat suaminya semarah ini. 

 

Ganjar mengambil ancang-ancang pada tangan yang memegang alat cambuknya dan langsung menyambuk suaminya tepat di pundak belakangnya yang lebar. Seketika tubuh Anies menegang dan melekuk menahan rasa nyeri. Ikatan pada kedua pergelangan tangannya mengencang selagi kedua sikunya menarik dengan kasar, kedua telapak tangannya pucat hasil dari sirkulasinya yang terpotong.

 

“Jangan ada suara, ngerti?” tanya Ganjar dengan suara yang berat, nadanya gelap dan menantang.

 

Anies menggeleng sengit. Lokasi tempat lecutan Ganjar berkedut perih, warna kulit disekitarnya mulai memerah. Lalu Ganjar mencambuknya lagi, cambukan yang 2 kali lebih keras mendarat tepat di sebelah cambukan pertama. Suaranya sangat lantang ketika berkontakan dengan kulit mulus Anies. Si pria mungil berambut ikal mengeluarkan rintihan tersendat  yang keras, takut suaranya terdengar terlalu jelas di telinga Ganjar.

 

“Gak puas kamu sama Mas, hah?”

 

Anies menggeleng lagi. Kepalanya ia sandarkan pada sisi belakang pintu sambil berusaha mengatur alur bernapasnya. Rasa nyeri yang hebat pada kedua punggungnya cukup menyita hampir seluruh oksigen dari kedua belah parunya. Kedua tungkainya mulai melemah karena sebagian peredarannya mulai terpusat pada kejantanannya yang sudah berdiri dengan tegang. Lututnya bergetar ketika tadi terbentur daun pintu pada cambukan kedua suaminya.

 

“Kalau ditanya sama Mas jawab dong!” hardik Ganjar dengan keras sebelum mendekatkan dirinya kembali pada punggung bidang Anies.

 

Ketika masih juga tidak mendapatkan respon dari suaminya, si pria jangkung berambut putih menjilat bekas lecutannya. Rasa perih mengiris menyambut sistem saraf Anies seperti kilat guntur di kala badai; Begitu tiba-tiba dan membekas. Ternyata bekas lecutan yang kedua menghasilkan luka terbuka yang cukup dalam karena air liur dari lidah hangat Ganjar menghasilkan rasa sengatan yang membuatnya ketagihan.

 

“E-enggak, Mas,” ucap Anies dengan lirih, kedua tangannya sudah tertarik dengan penuh paksaan lagi karena jilatan lidah Ganjar yang terasa sangat intim dan sensual itu.

 

“Cuma Mas kan yang bisa giniin kamu?”

 

Jilatan Ganjar bergerak dari pusat luka, lalu ke tengkuknya yang mulai lembab oleh keringat, dan akhirnya menyapu daun telinga Anies dari belakang. Si pria yang kedua tangannya terikat itu bergidik geli sekaligus tak sabar. Jilatannya begitu basah dan binal, jejak air liurnya membuat bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri ketika disambut oleh deru napas Ganjar yang memanas.

 

Dengan anggukan kecil, Anies menjawab, “cuma M-mas aja.”

 

“Anies yang pinter,” Ganjar berkata sambil tersenyum kejam. Ia puas merasakan jejak zat besi di papila lidahnya dari luka pada punggung suaminya. 

 

Lalu si pria yang memegang kontrol mengecup tengkuk suami kecilnya sebelum mengambil beberapa langkah mundur. Ia angkat cambuk yang ada pada tangan kanannya itu setinggi-tingginya dan mengayunkannya dengan sekuat tenaga, cambukannya mengenai punggung bawah Anies yang sudah sangat basah oleh keringat, ujung tipis cambukan tersebut mendarat tepat pada lekukkan di atas bokongnya. Lecutannya sangatlah keras sampai torso pria yang lebih mungil itu terhentak membentur daun pintu dengan keras pula. Anies melolong dengan lantang, rasa sakit yang dirasakannya dibersamai dengan sensasi basah yang sedikit mengucur melalui belahan pantatnya. Oh, sudah pasti itu adalah kucuran darah dari luka segarnya.

 

Ganjar sedikit menahan napasnya ketika melihat darah segar yang mengalir dari luka yang tercipta karena cambukannya, matanya terbelalak kaget. Perasaan takut dan khawatir seketika mengalahkan persona sadistiknya. Ternyata ia bisa memukul hingga sekeras itu; luka ciptaannya terlihat cukup menyakitkan dan dalam berdasarkan dari kucuran darah yang terlihat. Ia sudah siap-siap mendengar safe word dari pasangannya, tetapi malah dibuat terkejut ketika melihat cairan putih susu agak kental yang ikut menetes sedikit demi sedikit dari bagian kerampang milik pria dihadapannya. Bibir pria berambut putih itu langsung tertarik menjadi senyuman puas dan tak percaya. 

 

Lalu terdengar suara isakan dari dalam mulut Anies.

 

“An-Anies keluar, Mas,” Ucapnya dengan takut-takut. Belum pernah ia keluar secepat itu, tanpa disentuh ataupun stimulasi apapun pada alat kelaminnya. Benar-benar murni dari rasa sakit yang diciptakan Ganjar.

 

Ganjar memperhatikan lutut Anies yang mulai kepayahan menunjang berat tubuhnya. Tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya pun tertaut dengan kencang, tanda bahwa Anies mempertahankan tarikannya dengan cukup persisten.

 

“Dipukul sekeras itu malah keluar. Padahal belum disentuh sama sekali sama Mas,” Ganjar berkata dengan cengiran binal.

 

Tubuh Anies menggelinjang ketika jari-jari Ganjar menyentuh dan mengurut luka terbarunya secara sirkuler. Pijatannya pelan tetapi cukup dalam, sehingga menimbulkan rasa nyeri yang konsisten. “Tapi gak apa-apa, kamu Mas paksa untuk keluar sebanyak yang kamu bisa hari ini, ngerti?” bisik Ganjar pada salah satu telinga Anies.

 

Lalu Anies merasakan presensi Ganjar mendekat pada bagian bawahnya. Rupanya Ganjar berlutut tepat di belakang tempat Anies berdiri dan menyelaraskan pandangannya tepat pada bokong suaminya itu. Kemudian ia mulai menyapu luka terbaru yang diciptakannya itu dengan lidahnya yang hangat dan lebar.

 

Napas Anies memuncak untuk kesekian kalinya lagi.

 

“Hha—ah! M-Mas…” desahnya parau.

 

Jilatan dan kecupan Ganjar cukup membuatnya merasa terlalu terstimulasi. Kombinasi antara rasa perih, sensasi basah, dan kehangatan dari permainan lidah pasangannya hampir cukup untuk membuat penisnya langsung berdiri menegang kembali detik itu juga.

 

“Tadi Mas bilang apa, Nies? Jangan ada suara,” ucap Ganjar mengingatkan.

 

Jika saja Anies mampu menggunakan salah satu tangannya untuk meredam semua rintih dan desah yang keluar dari kedua belah bibirnya yang tidak mau nurut itu, ia pasti mampu diam seribu bahasa. Namun, mungkin memang ini tujuan dari Ganjar; membuatnya kepayahan dalam mengatur kenikmatannya di tengah-tengah lautan stimulasi yang bersumber hanya dari suaminya itu.

 

Jadi, ketika Ganjar memisahkan kedua bokongnya antara satu dengan yang lainnya dan mulai membenamkan lidahnya pada lubang penuh kerutnya, Anies hanya bisa menjerit dalam kesunyian. Mulutnya menganga lebar tetapi nihil suara yang keluar selagi Ganjar sibuk melahap lubang berbentuk cincin suaminya yang masih tertutup rapat itu. Tangan-tangan Ganjar menahan pinggul suaminya agar setiap sensasi  jilatan dan isapannya diterima secara konsisten pada objek pelecehannya itu.

 

Ketika dirasa anus pasangannya itu sudah cukup basah oleh air liurnya sendiri, Ganjar mulai menyematkan jari telunjuk serta jari tengah dari tangan kanannya pada permukaan rapat lubang tersebut. Anies yang sudah setengah mati menahan desahannya selama Ganjar melahap bagian bawahnya, terpaksa merintih lantang ketika jemari suaminya masuk menyambut dinding Anies yang sangat hangat. Sensasi nyeri yang dirasakan Anies meningkat lagi karena bagaimanapun juga air liur dengan lubrikan seks adalah dua cairan dengan konsistensi yang berbeda. Saliva Ganjar tidak cukup licin untuk meredakan rasa nyeri ketika anusnya mulai dipenetrasi.

 

“Mas, s-sakit…” protes Anies.

 

“Kan emang kamu sukanya gitu,” balas Ganjar dengan singkat yang kemudian membenamkan penuh kedua jarinya di dalam Anies dan menggigit tajam luka cambukan yang berada tepat di atas bokongnya itu.

 

Seketika dada Anies langsung membusung ke atas sampai membentur daun pintu lagi. Kedua sikunya ikut terbentur dan kedua tangannya tersayat oleh secerca tali yang mulai menipis karena terus ditarik kuat oleh yang diikat. Tubuhnya berguncang dengan kasar ketika semprotan ejakulasi kedua dari ujung penisnya keluar. Tetesannya jatuh berdampingan dengan klimaks pertamanya, sehingga lantai tempat mereka berpijak itu mulai licin dan becek oleh cairan senggama Anies.

 

“Keluar yang kedua. Dua kali lagi ya?” Ganjar meminta, dirinya sudah kembali berdiri dan menempelkan kedua puting susunya yang tegang pada punggung telanjang Anies. Salah satu tangannya melingkar tepat di depan dada telanjang Anies untuk menopang tubuh lunglai suaminya itu agar tetap berdiri. Tampaknya kedua lututnya sudah lemas total.

 

Anies menggeleng ragu, napasnya masih pendek dan cepat serta rona di pipinya masih terang oleh warna merah. Jika sekali lagi saja ia harus ejakulasi, mungkin masih bisa walau pengeluarannya tidak sebanyak dua pertamanya. Tetapi jika total 4 kali ejakulasi… Ia khawatir akan orgasme kering. Ia belum pernah berhubungan seksual dengan Ganjar atau dengan siapapun sampai ke titik tersebut.

 

Dua kali lagi ya, Nies? ” tanya Ganjar lagi sambil mendorong pinggulnya hingga Anies dapat merasakan kontur kejantanan Ganjar yang masif pada bokong dan selangkangannya. Suaranya berat dan masih terdengar penuh murka.

 

Sial, Ganjar benar-benar tahu cara memainkan kartunya dengan baik. Anies dibuat takut setengah mati tapi disaat yang bersamaan sisi otoritas Ganjar malah membuat gairahnya melesat tinggi.

 

“Tapi mau pake c-cambuknya lagi, Mas,” kata Anies dengan malu, suaranya kecil dan pelan seperti bisikan halus.

 

“Kalau aja temen genitmu itu tau gimana kebiasaan kamu di kamar, Nies” kekeh Ganjar penuh kemenangan.

 

Tanpa basa basi, Ganjar langsung mengambil alat cambuk yang tergeletak di lantai dan mengambil ancang-ancang kembali dengan. Dengan keras dan kasar, ia lemparkan pukulannya pada kedua bokong Anies secara melintang. Dengan instan, kedua bongkahan semok itu bergetar dan langsung memerah. Bekas lucutan yang berbentuk garis memanjang itu diteliti oleh Ganjar dengan mengikuti lajurnya menggunakan ujung kasar cambukan tersebut. Sensasi perih yang langsung diikuti oleh rasa geli akibat gesekan kasar dari alat cambuk membuat Anies mengerang berat. Tanpa aba-aba, Ganjar menyerang salah satu bokong Anies lagi dengan kekuatan yang sangat besar, membuat suaminya teriak menangis dan timbulnya cairan merah dari dasar lukanya yang bersih. 

 

Sensasi lecutan yang terakhir tersebut sampai membuat kepala Anies pusing, ia seakan-akan hampir kehilangan kesadarannya saking kuatnya ia menahan rasa sakit. Akan tetapi, jauh di bawah sana, organ yang dijepit kedua paha gembulnya mulai menegang lagi.

 

Dengan cekatan, Ganjar langsung meludahi tangan kanannya dengan cukup banyak air liur dan mengusap penisnya yang besar, panjang, dan keras dengan gerakan yang metodis. Sambil menunggu, ia gigit-gigit kecil tengkuk suaminya yang mulai lunglai dan dilanda rasa nikmat serta nyeri yang berkesinambungan. Ketika dirasa sudah siap, ia arahkan kemaluannya agar sejajar dengan lubang masuk Anies, membelah bokongnya lagi dengan salah satu tangannya, dan mendorong masuk tanpa kenal ampun.

 

Pintu masuk Anies terasa sangat ketat bagi Ganjar, malah terlalu ketat dari biasanya karena waktu preparasi yang tidak cukup dan media lubrikan yang kurang memadai pula. Tetapi ia tetap menerobos masuk, mempenetrasi tanpa henti sambil menikmati rasa ngilu yang dirasakan penis tegangnya. Anies yang mulai terbangun dari episode overstimulation -nya, mengejang dengan hebat ketika kepunyaan Ganjar senti demi senti memasuki tubuhnya.

 

“Nies—OH Anies, sial…” Ganjar bersumpah serapah terhadap sensasi kehangatan dan kesempitan anus suami tercintanya itu.

 

Anies meringis kesakitan sambil kedua tangannya berpegangan dengan teguh pada secarik  tali tipis yang sudah menyayat pergelangan tangannya dengan cukup dalam. Sekarang yang menopang tubuhnya hanyalah tali tersebut serta genggaman kedua tangan Ganjar pada pinggul semoknya. Kedua tungkainya sudah terkulai lemas jauh sebelum itu. Akan tetapi, hati kecilnya tersenyum senang melihat reaksi suaminya yang terdengar hampir gila akan kenikmatan lubang ketatnya itu.

 

“Sialan… sempit banget sih kamu…” puji si pria jangkung, pinggulnya mulai bergerak maju dan mundur dalam ritme yang lambat.

 

Anies ikut terpantul ke depan dan ke belakang mengikuti tempo suaminya. Sodokan demi sodokan terasa sangat kasar dan menyakitkan, tetapi Anies tidak berharap sensasi yang lain. Prosedur yang diciptakan suaminya itu terasa baru dan menyegarkan, membuat pengalamannya jadi lebih menggairahkan.

 

Tanpa lambat laun, ruangan tersebut dipenuhi oleh suara tamparan kulit dengan kulit yang sensual serta dibarengi dengan desahan dari kedua insan. Ganjar berdehem dengan berat dan Anies mengerang dengan suara melengking, suatu harmonisasi kotor dengan latar belakang suara flop flop flop yang konstan.

 

Kemudian Anies mulai beringsut lebih dalam lagi menuju kejantanan Ganjar, berusaha mencari jalan keluar untuk mencapai klimaks ketiganya. Ia merasa benar-benar tegang, tetapi ia tak yakin bahwa ia mampu ejakulasi lagi seperti permintaan pasangannya. Bagian buah zakarnya mulai terasa berat dan cairan panas yang ada pada saluran reproduksinya sudah dipersiapkan untuk dirilis. Tetapi, cukup sampai di situ saja, otot-otot kemaluannya seperti tidak mampu untuk menciptakan orgasme ketiganya.

 

Anies geram dengan penuh frustasi. Isakannya mulai terasa lantang pada telinga Ganjar.

 

“S-sentuh… Anies…” desah Anies dengan kata memelas, nadanya hampir seperti perintah.

 

“Gak bisa keluar?” tanya Ganjar dengan ucapan yang tersendat-sendat mengikuti ritme penetrasinya yang sudah sangat brutal.

 

Anies menggeleng penuh sesal, ”Nh—ah… susah, Mas.”

 

Ganjar akhirnya memutuskan untuk sedikit mengalah. Ia gerakan tangan dominannya untuk menghampiri kemaluan Anies yang sudah sangat menegang itu dan mulai mengurutnya dengan gegabah. Hal itu membuat Anies susah payah menahan tangisan frustasinya karena ia tahu betul Ganjar mampu membuatnya keluar hanya dengan beberapa kali pompaan tangannya saja. Suaminya itu dengan sengaja dan dengan terang-terangan melewatkan setiap titik sensitif pada penisnya. Genggamannya longgar, ritmenya canggung, dan ditambah lagi tempo sodokan penisnya pada anus pria mungil itu menjadi buyar.

 

“M-mas please buat Anies k-keluar…” rengek Anies tanpa rasa sungkan.

 

Ganjar menempelkan wajahnya pada sambungan antara leher Anies dengan pundaknya yang bidang itu. Ia hirup wangi tubuh pasangannya dengan posesif. Wangi keringat, wangi bekas shampo dan kolonye, dan kental sekali wangi seks. Ia gigit dengan gemas kulit leher tersebut. Rasa manis langsung menyambut papila lidahnya dengan girang, meninggalkan marka keunguan pada kulit empuk milik leher suaminya.

 

“Janji gak bakal bergenit-genit lagi sama cowok lain?” tembak Ganjar tanpa basa-basi.

 

“J-janji. Anies janji gak bakal… Gak bakal bikin Mas iri lagi,” balas Anies dengan tidak sabar. Ia hanya ingin ejakulasi untuk ketiga kalinya dan berharap Ganjar bisa mengampuninya. 

 

Ganjar berdehem mengerti. Ia lalu membetulkan ritme penetrasinya, memastikan setiap dorongan masuknya mengenai titik paling sensitif yang berada jauh di dalam suaminya sambil tangannya meremas-remas kasar kepala kejantanan Anies. Benturan demi benturan pada prostatnya yang dibarengi dengan pijatan sensual pada ujung kejantanannya membuahkan sensasi yang belum pernah dirasakan Anies sebelumnya. Rasa sakit, nikmat, dan dekat di ujung benar-benar membuatnya liar dan gila. Adrenalin yang berhasil dipompa di seluruh penjuru saluran darahnya mampu membuat tubuhnya kembali menggelinjang kuat walaupun sempat lemah terkulai akibat dua kali pascaejakulasi.

 

“Keluar ya, sayang,” perintah suaminya yang jauh lebih tinggi itu dengan bisikan lembut.

 

Fokus Anies untuk membiarkan dirinya orgasme lagi hampir pecah pada sepatah ucapan terkasih dari suaminya itu. Belum satu pun ucapan ‘sayang’, ‘cantik’, ataupun ‘manis’ yang keluar dari pasangannya itu sedari tadi, padahal ia sudah sangat menunggu-nunggu dipanggil nama-nama kecil itu oleh suaminya. 

 

Tetapi stimulasi seks pada kedua ujung paling sensitif miliknya tetap lebih besar, akhirnya Anies dapat mencapai klimaks untuk ketiga kalinya malam itu. Semprotannya lebih lemah dari dua sebelumnya, namun konsistensinya lebih kental. Telapak tangan serta jari-jari Ganjar basah oleh air mani suaminya. Ia tetap memompanya hingga benar-benar kering, menikmati bagaimana suaminya tetap tegang dan menggelinjang di bawah kuasanya. Untungnya ritme yang ia terapkan pada anus suaminya memelan sedikit.

 

“Sekali lagi ya, cantik,” ucap Ganjar dengan nada yang menghalus dari persona sebelumnya

 

Anies terisak mendengar perkataan suaminya itu. Ia benar-benar sudah kosong, sudah tidak ada yang bisa dikeluarkan. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk menerima stimulasi dan kesadarannya mulai menurun. Jantungnya yang tadinya sangat berdebar itu sudah capai berdetak, tubuhnya sudah kuyup oleh keringat, darah yang menetes, serta sperma hasil ejakulasinya. 

 

“Gak bisa… Gak bisa lagi, M-Mas…” ucapnya lunglai, Ganjar sudah sepenuhnya menopang tubuhnya yang sudah lembek bagai jeli.

 

“Harus bisa, cantik. Masmu ini belum keluar sama sekali loh. Mau biarin Mas nuntasin sendiri?” tanya Ganjar dengan nada menuduh, ia eksploitasi rasa bersalah Anies yang dari awal sudah jelas terlihat menjadi sesuatu yang lebih menyiksa batin suami mungilnya itu.

 

Anies menyedot ingus yang keluar dari hidungnya dengan berisik, linang air matanya sudah membasahi hampir seluruh permukaan pipi berisinya. “D-di kasur aja ya Mas lanjutinnya? Anies bener-bener udah gak bisa berdiri,” sebutnya halus.

 

Tanpa perkataan afirmasi, Ganjar langsung melepaskan ikatan pada kedua pergelangan Anies pada pintu. Ia menarik keluar penisnya yang masih tertanam di dalam Anies, menyelipkan lengan kanannya pada lutut belakang pasangannya, dan menggendongnya gaya pengantin. Anies yang jelas-jelas terlihat capai dan letih secara insting langsung melingkarkan kedua lengannya yang ternyata masih tertaut antara satu dan lainnya di sekitar tengkuk Ganjar, kepalanya ia sandarkan pada dada bidang pria berambut putih itu.

 

Ketika tubuh lesunya menyambut kasur yang empuk, Anies langsung meringis lagi; gesekan luka basahnya terhadap kain di kasur cukup mengingatkan kondisi punggungnya. Tetapi setidaknya dengan begini, ia bisa membiarkan suaminya memakai tubuhnya sesuka dan sekuat yang ia bisa karena Anies sudah tidak perlu mempertahankan postur dan keseimbangannya. Kedua tangannya yang masih saling bertautan ia simpan tepat di atas kepalanya sehingga kedua ketiaknya terekspos dengan jelas. Suaminya akhirnya mendaki tubuh Anies dari bawah dan menatapnya dalam kelaparan seksual yang kentara.

 

“Anies manis, kamu mau tidur ya?” tanya Ganjar yang mulai menjauhkan kedua tungkai Anies yang selembek daging mentah. Suaranya mulai terdengar jauh bagi Anies karena rasa kantuknya mulai menyelimuti kelima indranya.

 

Si pria berambut ikal akhirnya hanya berdehem mengigau sebelum kenyaman kasur mereka membuatnya jatuh tertidur. Sebenarnya ia tidak tertidur (atau pingsan?) secara total, terbukti dari reaksi tubuhnya yang menyambut setiap sodokan keras dan kasar dari suaminya dengan responsif. Penisnya mulai menegang, lubang masuknya tetap berkedut di setiap penetrasi, dan napasnya tetap menderu bagai kuda pacu. Tubuhnya benar-benar sudah tidak bisa menunjang kesadarannya secara penuh karena sumber tenaga maupun adrenalin yang ada di dalam tubuh mungil itu sudah habis.

 

Ganjar menyadari bahwa suaminya sudah hilang kesadaran ketika ia tidak merespon apapun perkataan yang keluar dari mulutnya. Ia lalu perhatikan tubuh mungil yang berada di bawahnya itu, terpantul-pantul ke arah kepala kasur karena sodokan brutalnya. Tubuhnya lentur dan lemas, matanya tertutup sambil mulutnya sedikit menganga. Pasangannya itu benar-benar terlihat sangat mungil, submisif, dan pasrah, memberikannya semacam kenikmatan tersendiri. Ia seolah-olah sedang memperkosa suaminya dalam tidurnya, seolah-olah ia dapat melakukan apa saja pada tubuh Anies tanpa persetujuan darinya. 

 

“Persetan sama ini semua, Nies. Maafin Mas yah,” ia berbisik sebelum melanjutkan tindakan sodominya yang tak kenal ampun itu.

 

Ganjar melanjutkan tindakan asusilanya itu sebanyak 2 kali tanpa kesadaran penuh sang suami. Dua kali pula ia mengisi anus dan rektum Anies dengan cairan spermanya sampai perut bawah pria berambut ikal itu mulai mengembung karena muatannya yang menumpuk banyak di dalamnya. Ganjar, yang masih terengah-engah menimpa tubuh suaminya dari atas, baru akan memulai ronde ketiga sebelum tubuh Anies bergetar sedikit entah karena apa.

 

“Mas Ganjar…” sapanya masih dengan suara penuh kantuk.

 

“Bangun juga kamu, manis. Mas baru aja keluar untuk kedua kalinya tadi di dalem kamu,” balas Ganjar, Anies dapat merasakan senyuman dalam suaranya yang masih terengah-engah itu.

 

“Loh? Anies ketiduran ya, Mas?” tanya Anies, otaknya mulai memproses kembali keadaan mereka sekarang. Masih telanjang, kejantanan Ganjar masih tertancap jauh di dalamnya, mereka masih berkeringat dan napas keduanya pun masih belum teratur.

 

“Kayaknya tadi kamu pingsan sebentar deh, Nies. Tapi Mas tetep lanjutin aja.”

 

Wajah Anies langsung memerah terang, kulitnya seketika memanas akan pengakuan dari suaminya itu.

 

“P-pantes aja Anies rasanya kebas banget di bawah…” balasnya sambil memalingkan pandangannya menjauh dari Ganjar.

 

“Masih mau sekali lagi, cantik. Boleh ya?” kata Ganjar sambil memelas.

 

Jantung Anies langsung berdebar ketika mendengar permintaan dari pria berambut putih itu. Lubang sempitnya mulai berkedut heboh ketika pikirannya mulai membayangkan bagaimana suaminya menyodomi dirinya ketika ia pingsan tadi. Ia membayangkan bagaimana suaminya mendorong masuk dan menarik keluar dengan sadis, mengejar klimaksnya selagi ia perkosa Anies yang tidak sadarkan diri. Setiap tarikan dan dorongan pada lubangnya berhasil membuat pasangannya ejakulasi dua kali. Entah kenapa bayangan tersebut malah membuatnya menegang lagi.

 

“Tapi kan… Anies udah kering dari tadi, Mas,” kata Anies beralasan.

 

“Kamu pernah denger ejakulasi kering gak, Nies? Mas mau paksa Anies sampai ke keadaan gitu.”

 

Napas Anies terhenti dan matanya pun membelalak terkejut. “Kenapa, Mas?”

 

“Biar kamu inget kalo kamu cuma milik Mas. Pas nikah kita kan udah disumpah untuk tetap setia pada satu sama lain. Sekarang kamu terbukti gak setia sama Mas dengan main-main sama cowok brengsek temanmu itu,” ucap Ganjar dengan halus walau perkataannya benar-benar mencerminkan sentimen yang berbeda 180 derajat.

 

“Tapi Anies beneran gak ngapa-ngapain, Mas. Dia cuman meluk Anies dari belakang, sebatas itu aja,” bela Anies dengan pasrah.

 

“Sambil lenganmu di pegang, dada semok favorit Mas diremas olehnya… Gak usah bohong, Nies. Mas liat semuanya.”

 

“Mas, Anies berani sumpah Anies gak ngapa-ngapain dan gak diapa-apain sama dia. Kita cuman terlalu terbawa suasana aja, namanya ketemu temen lama. Foto itu kebetulan diambil dan nimbulin kesan mesra aja. Semua ini cuman salah paham, Mas.”

 

“Tapi Mas gak mungkin ngampunin Anies perkara ini. Mas gak bisa berhenti bayangin badan Anies yang udah disentuh-sentuh sama dia, digrepe-grepe sama dia, terus kamu bawa pulang bekas sentuhan kotornya itu. Mas harus bersihin itu semua sama sentuhan Mas lagi. Mas harus buat Anies kapok biar hal yang sama gak kejadian lagi.”

 

Anies lambat laun menjadi merasa bersalah. Ia sadar bahwa Ganjar memang memiliki kecenderungan posesif bahkan ketika mereka masih berpacaran zaman kuliah dulu. Tetapi ia tidak menyangka ternyata suaminya ini memang seposesif itu. Bayangkan saja sifat posesif itu harus terbentur dengan fakta bahwa suaminya, lelaki yang paling disayanginya, dengan bebas disentuh orang lain tanpa seizinnya.

 

“Anies minta maaf kalo Anies jadi terkesan gak setia sama Mas. Anies masih kok sayang sama Mas. Anies gak mau Mas marah ke Anies,” ucapnya pelan, air mata mulai terbendung lagi di permukaan matanya.

 

“Mas gak marah kok ke Anies, cuman mau ngingetin aja kamu miliki siapa sebenernya,” kata Ganjar penuh senyum nakal.

 

Ia lalu mulai menarik penisnya lagi secara perlahan dan mendorongnya masuk dengan cepat. Anies merasakan cairan yang berada di dalam rektumnya ikut terguncang oleh manuver Ganjar, membuatnya geli oleh sensasinya yang terombang-ambing di dalam dinding anusnya yang sudah kebas karena kebrutalan suaminya.

 

“Anh— please buat Anies keluar lagi M-Mas. Hukum Anies, buat Anies bener-bener kapok. P-pleas e Mas,” Anies mendesah panas. 

 

“Kamu dengan mulut frontalmu itu, sayang. Sial… masih aja sempit walau udah dientot berapa kali juga,” geram Ganjar dengan gemas.

 

Jalan masuk Anies sudah benar-benar basah oleh cairan cinta Ganjar dari ronde-ronde sebelumnya, sehingga tindakan sodominya terasa sangat lancar dan licin. Dinding Anies pun dengan senang hati memijat dan mengisap penis Ganjar sebagai respon stimulasinya. Cairan putih susu nan kental menyembul keluar sedikit demi sedikit dari lubang yang dianiaya, membasahi pangkal paha Anies dan seprai bersih di bawah tubuhnya. Ganjar terasa sangat keras dan besar, membelah Anies dari pusat tubuhnya dengan mudah.

 

“L-lebih dalam lagi M-Mas. Anies mau dibuat penuh sama cairan Mas…” erang Anies dengan manis. Napasnya sudah sangat menderu dan kedua tangannya yang masih saling bertautan sudah dilingkarkan pada pundak bidang Ganjar, mendekatkan wajahnya pada bibir Ganjar sehingga napas mereka saling mencocokan satu dengan yang lainnya.

 

“Keluar di dalem lagi?” tanya Ganjar sebelum akhirnya melumat puting susu semok si manis dengan brutal. Geliginya dengan lihai melecehi puting yang sudah mengeras itu, lidahnya di usapkan pada sekeliling areolanya sambil mulutnya menghisap payudara Anies kuat-kuat. Anies menjerit kesakitan sambil badannya menggelinjang nikmat.

 

“Mn—iya. Di dalem… dalem An-nies…” 

 

Dengan penuh inisiatif, Ganjar kembali memompa batang penis Anies yang mengeras. Ia usap lubang ejakulasi suaminya dengan ibu jarinya yang jauh lebih besar sambil mencocokan pompaannya dengan ritme penetrasinya. Dengan segera, Anies merasakan overstimulation untuk yang kesekian kalinya. Lubangnya terasa panas oleh sodokan kejantanan pria berambut putih itu, batang penisnya sendiri dengan sibuk dipermainkan dan dibuat nikmat, serta puting susunya dilahap dengan rakus oleh Ganjar. Tidak lama sensasi orgasme mulai terbentuk di dalam tubuhnya.

 

“B-bentar lagi—”

 

“Mas juga, manis,” potong Ganjar dengan suara yang berat, koneksi antara bibirnya yang menempel pada areola Anies diputus terlebih dahulu.

 

“M-Mas—OH!”

 

Tubuh Anies berguncang dengan hebat sambil akhirnya ia  ejakulasi untuk terakhir kalinya hari itu. Tetapi cairan yang dikeluarkan dari ujung kepala kejantanannya bukan lah semen ataupun sperma, melainkan urine jernih yang bermuncratan dengan banyak. Ganjar menyaksikan hal ini dengan senyum kemenangan sebelum akhirnya ia menyusul klimaks suaminya. Ia keluar lagi masih dengan intensitas dan volume mani yang sama, kepalanya mendadak terasa ringan akan ejakulasi terakhirnya, lubang Anies dengan lihai mengurutnya untuk mengeluarkan segala yang ia punya, seolah-olah dinding-dindingnya haus akan cairan senggama milik Ganjar.

 

Begitu tuntas, Ganjar langsung menindih tubuh Anies dengan tubuhnya yang jauh lebih besar, ia terkulai dengan lemas sambil berusaha untuk mengatur napasnya kembali.

 

“Anies malah ngompol,” ucap Anies dengan malu. Ganjar sudah dapat menyimpulkan pasti wajah dan leher suaminya itu sudah semerah tomat rebus.

 

Ganjar terkekeh ringan. “Ya wajar, Nies. Kamu kan udah kering soalnya, jadi pipis deh yang keluar.”

 

“Ih, jijik tau. Mas malah nimpa Anies pula.”

 

Ganjar sedikit mengangkat wajahnya dan menghadap pada suaminya. Ia tatap mata Anies dengan tatapan hangat sambil bibirnya tersenyum dengan tampan.

 

“Kamu gak pernah menjijikan kok di mata Mas,” gombal si pria jangkung.

 

Anies menggeram tersipu, ia tarik bagian belakang kepala Ganjar dengan kedua pergelangannya yang menyatu, sehingga bibir suaminya akhirnya mendarat pada bibirnya yang sangat ranum.

 

“Jadi kita impas kan, Mas?” ucap Anies hampir dengan nada grogi.

 

“Kita impas, Nies,” kata Ganjar sambil mengangguk.

 

Anies melemparkan senyuman termanisnya pada Ganjar, matanya yang masih berkacamata itu berbinar dengan gemilang walau cahaya di dalamnya sudah redup akibat kelelahan. Ganjar yang masih tersipu dengan senyuman manis pasangannya mulai menyadari kalau suaminya itu akan jatuh tertidur untuk kedua kalinya. 

 

“Eh, Nies, jangan tidur dulu. Sini Mas urus dulu lukanya,” ucapnya dengan halus. 

 

“Gak kuat, ngantuk banget. Ini badan udah gak kerasa apa-apa…”

 

“Kamu tengkurep dulu aja, nanti mas bersihin terus kasih hansaplas luka-lukanya.”

 

“Parah banget ya Mas lukanya?” tanya Anies dengan lugu. 

 

Ganjar terkekeh malu dan gugup, pipinya mulai memerah lagi. “Um… iya. Apalagi yang terakhir di bawah itu…”

 

“Tadi Mas… gak beneran mukul Anies karena marah kan?” tanya Anies lagi, matanya bulat seperti anak anjing sebatang kara. 

 

“Ya enggak lah, sayang,” balas Ganjar sambil mulai membuka simpul yang menyambungkan kedua pergelangan tangan Anies dengan hati-hati, “itu murni karena sisi sadis Mas aja kok. Yah, mungkin sama rasa posesif sedikit sih.”

 

“Mas ini lucu juga. Mas udah gantengnya kayak gini masa sama Anies mau ditinggal. Ya gak mungkin lah. Emangnya Anies bego,” kekeh Anies sambil menutup matanya, menikmati usapan-usapan kecil pada pergelangan tangannya yang penuh cedera juga. 

 

“Masmu ini kan emang paling gak tahan kalo kamu deket-deket orang lain kayak gitu, cantik,” jawab Ganjar sambil bersungut-sungut manja. 

 

Anies tersenyum dalam keadaan setengah terlelapnya. “Mm… makasih ya Mas Anies udah diingetin.”

 

Ganjar memperhatikan tubuh pasangannya itu dengan seksama. Raga molek kepunyaan suaminya itu penuh dengan bekas luka dan tanda yang bervariasi. Luka lama, luka baru, luka terbuka, memar ungu, memar kuning, goresan, dan lain sebagainya. Ia tetap menyayangkan badan cantik suaminya itu harus dibalut oleh sejibun bekas aniaya akibat aktivitas menyimpang mereka. Sesadis apapun ia di atas ranjang, Ganjar tetaplah suami penyayang yang terus mengkhawatirkan keadaan pasangannya itu. 

 

Sekarang ia malah dipaksa untuk melihat mahakarya ciptaannya pada kanvas mulus yaitu tubuh suaminya yang sudah terlelap bagai bayi. Ia menghela napas dengan berat sebelum menggulingkan Anies pelan-pelan ke samping untuk mengekspos punggung yang sudah selesai dijadikan sansak. Tiga luka yang diciptakannya terlihat apik namun masih mengeluarkan darah segar. Ganjar bergidik sedikit ketika membersihkan dan mengobati luka-luka tersebut, mengira Anies akan terbangun dari tidurnya. Untungnya si pria mungil berambut ikal itu tidur sangat pulas sampai-sampai sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. 

 

Ganjar akhirnya hanya dapat menghela napas dengan pasrah. Rutinitas ini pastilah bukan yang terakhir bagi mereka dan Ganjar percaya dinamisme mereka hanya akan bertambah menyimpang mulai dari saat ini. Sudah banyak batasan yang mereka langgar, tetapi tidak satu pun dari mereka mampu berkata cukup. Bukannya ia mau protes, tetapi ia khawatir terhadap keadaan suaminya kecilnya nanti. 

 

Akhirnya Ganjar hanya mampu mengecup pergi seluruh pikiran dan keraguannya melalui luka Anies yang baru saja dirawat. Rasa besi yang tajam memenuhi bibirnya sekali lagi, tetapi dia tidak peduli. Dia mencintai perasaan itu seperti dia sangat mencintai suami mungil tersayangnya.

Notes:

Cung siapa yang becek?

Aku harap kalian suka dgn bokep brutal ini. Sampai jumpa lagi guys!

Series this work belongs to: