Actions

Work Header

melebur semesta

Summary:

Dua anak manusia dari adat yang berbeda dipersatukan dengan pergumulan panas di atas dipan. Hisar, seorang anak bangsawan Jawa, diam-diam menjalin hubungan terlarang dengan anak Gubernur Jenderal.

Notes:

Judul tulisan ini diambil dari sebuah lagu dengan judul yang sama oleh Sal Priadi. Baiknya didengar sembari dibaca.

Selamat membaca.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Soerabaia, 1914

 

Selain kerlap-kerlip bintang yang terkesan labil untuk menampakkan diri dan bulan yang membulat sempurna hiasi langit gelap nan pekat, malam ini juga diselimuti dengan kegelisahan dan ketakutan baik bagi Hisar maupun Markus. Ketegangan terjadi di antara mereka tatkala Markus lihat sebuah pamflet di papan pengumuman di mana Hisar kini adalah seorang buronan. Lelaki berdarah biru dari Belanda itu mencabut salah satunya dan ia bawa lembaran itu ke dalam kantungnya. Hisar sulit menerka apa yang sedang dipikirkan oleh Markus kala ia lihat kedatangan pemuda itu dengan raut wajah yang sukar ditebak. 

Kini mereka sedang ada di dalam kamar asrama tempat Hisar tinggal selama ia menuntut ilmu di Hoogere Burgerschool (HBS) yang jauh dari rumahnya. Kebetulan lingkungan indekos belum tahu berita itu termasuk Meneer dan Mevrouw Rooseboom, tuan rumah indekos pelajar HBS tempat Hisar tinggal sementara. Kalau saja mereka tahu, pasti mereka sudah sedari tadi menyerahkan teruna itu ke kantor polisi.

 

Saat Markus datang, ia langsung mengunci pintu dan jendela yang ada di seluruh ruangan. Terasa semakin pengap saat gelap mengisi seisi ruangan, semua sumber penerangan dimatikan kecuali dua lampu minyak di meja belajar dan nakas dekat dipan yang dibiarkan menyala. Hisar bingung mengapa Markus begitu panik. Setelah Markus memastikan tiada sedikitpun celah yang terbuka di ruang kamar Hisar, Markus berdiri dan terus menatapnya yang sedang duduk di kursi meja belajarnya seperti saat ini. Pemuda itu bisa merasakan aura yang tidak mengenakkan dari Markus, sehingga ia merasa segan untuk menghampirinya. Tapi tetap saja Hisar lah yang menginisiasi pembicaraan karena tak mungkin juga mereka harus terus menerus diam. 

“Ada apa, Markus? Mengapa kau tergesa-gesa seperti kesurupan setan?” tanyanya.

Dengan cukup emosi tapi suaranya ia rendahkan, Markus membalikkan pertanyaan lelaki itu. “Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu?”

“Aku?” Hisar menunjuk dirinya, raut wajahnya terlihat kebingungan, “tak ada apa-apa denganku. Aku baik-baik saja.”

“Apa yang telah kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan apapun, Markus.”

“Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

Hisar menggeleng. “Tidak.”

“Lalu jelaskanlah padaku, Wat is dit? (Apa ini?)” tanyanya sembari Markus tunjukkan selembar pamflet dengan ilustrasi wajah Hisar yang ia temukan tadi.

Peluh keringat mengucur seketika membasahi telapak tangan dan lehernya meski malam ini terasa sangat dingin sekalipun tiada jendela yang terbuka. Hisar benar-benar tidak tahu kalau ia adalah buronan polisi bersenjata, Gewapende Politie. Sempat ia kebingungan lalu teringat bahwa dirinya menulis sesuatu yang dimuat di muka halaman koran paling awal yang terbit hari ini, tentang ketidakadilan hukum orang-orang Eropa yang menyiksa para pribumi.

“Hisar, Kijk me recht in de ogen en beantwoord mijn vraag! (Tatap mataku dan jawab pertanyaanku!)” Markus menuntut penjelasan dari bumiputera di hadapannya. “Dit is duidelijk een foto van je gezicht met je volledige naam eronder (Sudah jelas ini gambar wajahmu dan ada nama lengkapmu di bawahnya), Raden Mas Hadi Sarwono.”

Hisar pun menjawab dengan lantangnya, “Als je bij mij Nederlands bent gaan gebruiken, heb je mijn uitleg blijkbaar niet meer nodig. Je weet al wat het antwoord is. (Jika kau mulai menggunakan bahasa Belanda denganku, tampaknya kau tidak lagi membutuhkan penjelasanku. Kau sudah tahu apa jawabannya.)”

Markus hanya diam, alis sebelah kirinya menukik ke atas dan matanya menajam, meminta penjelasan lebih dari Hisar yang rahangnya mulai menajam. “Jelaskan,” titahnya.

“Aku melakukan hal yang telah semestinya pribumi sepertiku lakukan, terutama aku seorang priyayi. Aku berbudi luhur pula berpendidikan. Aku bersekolah saat anak-anak lain yang nasibnya tidak semujur diriku sibuk bekerja bermandikan cahaya matahari. Tapi orang-orang kulit putih sepertimu anggap aku melakukan hal yang bodoh karena mereka tak mau kami melawan.” Dengan menggebu-gebu Hisar meluapkan emosinya. Ia kembali melanjutkan dengan kata-kata yang mencabik, “Bagi kalian aku tak lain dari seekor tikus pengerat. Aku kecil dan kotor, tapi ternyata aku juga bisa berbahaya sampai-sampai kalian merasa terganggu meski hanya dengan sebuah gertakan kecil dari sebuah rubrik yang ada di muka halaman koran pagi ini.”

“Apa kau bilang? ‘Kalian’? Hisar, kau benar-benar berpikir kalau aku sama dengan mereka? Setelah apa yang telah kita lewati bersama?”

“Kau mempertanyakan ini, Markus. Dari tiap-tiap yang kulakukan. Apa yang bisa kuharapkan darimu? Kau adalah seorang bangsawan,” singgungnya. Bibir Hisar bergetar, sepasang iris kecoklatan indah miliknya berkaca-kaca. “Bahkan setiap aku mengingat kalau kau adalah darah biru dari Belanda pun rasanya begitu menyakitkan. Dan kau seorang pria, aku juga pria!”

Raut wajah Markus melunak begitu ia lihat air mata itu lolos basahi kedua pipi Hisar. Langkah-langkah kecil Markus ciptakan seiring suara decitan lantai yang bergesekan dengan sepatu botnya, perlahan ia dekati si bumiputera. Niat hati Markus ingin genggam kedua tangan kecil itu, namun si pemilik merasa enggan untuk disentuh dan menolak begitu saja.

“Hisar,” lirihan keluar dari bibir Markus.

Dengan berapi-api dan nada yang ketus Hisar mengakui apa yang telah ia perbuat. “Iya. Aku baru saja membuat bangsamu marah atas kenyataan yang kutulis, hukum dari orang-orang Eropa yang dikenal sebagai manusia yang memiliki kepintaran tak ada tanding, beradab, dan menjunjung tinggi keadilan itu telah mempermainkan kami. Hanya berpihak pada kalian tanpa ingat setitik pun kalau kami juga manusia.” 

Bumi manusia dengan segala persoalannya—pula imperialis dengan segala carut-marutnya. Rakyat-rakyat Nusantara kala itu dihadapi oleh kedatangan tak terduga dari Barat berabad-abad lamanya, seolah tak terbangun dari mimpi buruk mereka diperbudak, diperdaya, dirampas kebebasannya, seperti mereka bukan tuan tanah di tanah air mereka sendiri. Jeritan mereka hanyalah angin lalu, dan kala sudah merasa terusik maka senyaplah sekejap sekali senapan menembak kemudian darah bercucuran dan raga yang tak berdaya jatuh begitu saja—tergeletak di atas tanahnya sendiri. Tenaga dan pikiran dikerahkan, perlawanan demi perlawanan terus digaungkan, mereka terus melawan sekuat tenaga walau tiada hasil yang berarti. Berbagai lapisan masyarakat pribumi berakhir ditundukkan. Rakyat yang sudah melarat makin melarat dibuatnya. Kendati demikian, mereka tak akan berhenti begitu saja. Karena perjuangan bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk hari esok, lusa, dan seterusnya.

Mereka—kolonial Belanda—sebut tempat ini sebagai Hindia Belanda, negara bagian dari Kerajaan Belanda. Mencakup wilayah Sumatera di paling barat sampai Papua di ujung timur, pusatnya ada di wilayah Jawa dan Batavia adalah ibukotanya. Begitu luasnya Hindia Belanda dikuasai, lantas tak ayal setiap daerah punya perlawanan dari rakyat pula pemuda-pemudinya yang haus akan kebebasan.

Salah satunya adalah pemuda dari bangsawan Jawa yang lebih akrab dipanggil Hisar. Terlahir dengan nama Raden Mas Hadi Sarwono, ia adalah seorang anak dari kalangan bangsawan Jawa. Ayahnya adalah seorang bupati, sedangkan ibunya adalah keturunan dari Panembahan Senopati. Kepiawaiannya dalam merangkai kata dan berpikir kritis seringkali ia gunakan untuk menulis rubrik di koran-koran lokal guna mengkritisi kaum penjajah Belanda yang sewenang-wenang atas pribumi di tanah yang bukan milik mereka. Biasanya Hisar menulis di balik nama pena demi melindungi nama baik keluarganya, apalagi reputasi sang ayah sebagai pejabat dan penguasa lokal. Namun hari ini semuanya terkuak. Orang-orang kini tahu siapa di balik nama pena “Hans Soedarman” berikut tulisan-tulisannya yang kerap kali memantik api; entah kemarahan kolonial Belanda atau malah semangat juang para rakyat, terutama muda-mudi yang melek aksara.

Jelas bukan tanpa alasan kalau Markus marah sebab menurutnya Hisar tengah membahayakan dirinya sendiri. Sudah sedari awal Markus peringati pemuda itu, tapi bukan Hisar kalau sudi menuruti pinta orang-orang yang menghalanginya. Hisar sama sekali tak menggubris peringatan Markus.

Markus sendiri adalah seorang bangsawan Belanda. Markus Jan Willem-Alexander Frederik Idenburg lengkapnya. Keluarganya berhijrah dari Amsterdam menuju Batavia sebab sang ayah ditunjuk oleh pemerintahan monarki Belanda untuk menjadi seorang Gubernur Jenderal. Markus disekolahkan di HBS Surabaya karena orangtuanya beranggapan bahwa sekolah di Surabaya lebih baik untuk putra sulungnya itu agar ia bisa hidup mandiri dan lebih mengenal Hindia Belanda dengan harapan Markus dapat berpotensi sebagai penerus tonggak kekuasaan keluarga Idenburg walau posisi Gubernur Jenderal bukanlah posisi yang dapat diwarisi. Markus tak tinggal sendiri, ia tinggal bersama keluarga pamannya yang merupakan seorang saudagar kaya raya. Ia adalah pemilik kebun kapas di daerah Malang sekaligus pemilik pabrik manufaktur untuk mengelola kapasnya di Wonokromo.

Sudah terlihat begitu jelas perbedaan di antara mereka. Hisar adalah seorang bumiputera, sedangkan Markus adalah bangsawan Belanda. Jikalau Hisar kecewa dengan Markus sekarang ini tentu tak akan mengejutkannya, sebab darah Belanda itu mengalir dari pada tubuhnya. Ditambah, lelaki itu adalah seorang anak Gubernur Jenderal. Kalau Markus dukung kebijakan Belanda atas tiraninya, maka bukanlah hal yang aneh. Lantas apa yang membuatnya meneteskan air mata seolah-olah ia tak berdaya di hadapan Markus setelah berbagai hal berani yang telah ia lakukan?

“Aku tahu kau tidak pernah sekalipun setuju saat aku bilang kalau aku akan terus menerus menulis di koran karena kau memang bagian dari mereka. Tapi bisakah kau, setidaknya, lihat sekali saja apa yang aku lakukan ini demi diriku sendiri?”

Bibir Markus dibuat tak berkutik atas pertanyaan dari Hisar yang menusuk itu.

Kemudian Hisar kembali bertanya, “Bisakah kau cukup dukung aku sebagai orang yang kau cintai, jika memang begitu adanya?”

Cinta.

Bagi Hisar, dengan Markus menyalahkan kemudian mempertanyakan atas apa yang ia lakukan dan tindakan yang ia ambil, bukan hanya sekedar mengekang seorang rakyat pribumi yang mendambakan kemerdekaan sebagai seorang bangsawan Belanda yang inginnya senantiasa berkuasa. Markus juga mengingkari cinta di antara mereka, jalinan yang terlarang dan tak semestinya ada di antara dua lelaki dari pada bumiputera dan kulit putih. Tersedu-sedan Hisar yang merasa dipatahkan sebab Markus tidak ingin melihatnya mencapai kebahagiaannya sendiri. Di mata Hisar, kini Markus hanyalah seorang pemuda yang egois.

Markus bertekuk lutut—bersimpuh di hadapan Hisar yang terduduk di atas kursi. Kali ini tangan Hisar tak menolak sedikitpun sentuhan yang ditawarkan Markus. Ia genggam kedua tangan itu begitu eratnya, memohon ampun atas praduga Hisar pada dirinya. Markus enggan untuk kehilangan bumiputera itu dari hadapan dan hidupnya. “Hisar, kau sangat paham kalau aku memang mencintaimu. Kuupayakan segala kebahagiaan untukmu. Bukan hanya untuk cinta, tapi untuk tanah ini juga. Untuk orang-orang yang hidup di tumpuannya. Aku ingin bebaskan dan aku ingin berjuang bersamamu.”

“Kalau bisa aku menua bersamamu di negeri ini, aku mau,” lanjutnya, lalu Markus tangkup pipi kiri Hisar dengan tangannya yang besar, “tapi aku tidak mau kau melakukan hal-hal berbahaya seperti ini lagi. Kita pakai cara lain, ya? Pasti kita akan temukan jalan.”

Tetesan air mata jatuh membasahi tangan si anak aristokrat itu. Hisar menggelengkan kepalanya. “Beginilah cara yang harus kutempuh. Sehalus-halusnya aku bermain, aku tahu akan ada saat seperti ini. Ini risiko yang harus kuhadapi, Markus. Apa kau tidak lihat bagaimana pengadilan Belanda itu menjatuhkan hukuman pada seorang budak yang tak sengaja meloloskan sekarung kentang busuk dan itu juga disebabkan oleh keteledoran tuannya karena budak itu sendiri tak bisa membaca tulisan di karung itu? Sudah dipukul, disiksa, dihadiahi pula kurungan penjara sementara tuannya masih melenggang bebas begitu saja.” 

Hisar lanjut bertanya sembari ia tatap mata Markus lamat-lamat kala pandangannya mengabur sebab air matanya berkubang. “Markus, mau berapa jiwa tak bersalah lagi yang ingin kau lihat terjerembab tak berdaya di balik tipu muslihat hukum Belanda?” 

Pertanyaan itu bagai sambaran petir untuk Markus, seperti membuka jalan pada pikirannya yang sempat kacau.

Markus telah kembali diwaraskan. 

Memang inilah jalan yang harus ditempuh demi melawan tirani dan penjajah. Tidak ada yang namanya ‘main aman’ karena untuk sebuah kebebasan ada harga yang harus dibayar. Jangan pikirkan perihal Markus yang telah mengkhianati negaranya, toh sedari awal saat Markus membalas tatapan malu dan senyum yang dilayangkan padanya dari sebuah jendela kelas pun ia sudah berkhianat. Jatuh hati pada seorang anak laki-laki dari penguasa lokal. Seorang bumiputera. Kemudian sembunyi-sembunyi menjalin hubungan asmara dengannya beberapa bulan ini—Markus telah pecundangi rasa bangga dan harga diri bangsa kulit putih yang sudah mendarah daging dari abad ke abad.

Terlintas dalam benak Markus yang ingin ia terus ingat baik-baik; mestinya ia dukung saja pergerakan Hisar, apapun itu yang dilakukan oleh kekasihnya. Tak perlu memberi dukungan setengah-setengah karena kalau ia memang pemuda yang pintar, harusnya ia mafhum bahwasannya mencintai Hisar sama artinya dengan mencintai negeri ini juga. Tentu Markus juga memikirkan hal yang sama, ia juga tidak buta akan semua ini semata-mata ayahnya punya kuasa terbesar di Hindia Belanda. Dengan begitu jelas Markus lihat berbagai kekejaman yang dilakukan baik serdadu angkatan bersenjata maupun elitis kolonial Belanda membuatnya bergidik ngeri, semuanya bertolak belakang dengan hati nuraninya.

Tapi Markus khawatir kalau sampai-sampai ada hal buruk yang menimpa Hisar. Lelaki itu tak akan memaafkan dirinya sendiri meskipun hanya setitik ujung pedang menggores kulit kekasihnya.

“Aku minta maaf, Hisar. Maafkan aku.” Markus menghapus jejak air mata dari pipi Hisar dengan ibu jarinya, kemudian ia mengelus pipi itu. “Sedari awal aku harusnya paham kalau mencintaimu sama dengan mencintai negeri ini,” lanjutnya.

Bangsawan tanah Jawa itu masih saja menangis sesenggukan, mulutnya masih tak kuasa untuk membalas Markus.

Kedua ibu jari Markus mengelus punggung tangan Hisar seraya berkata, “Aku tidak ingin ada kejadian buruk yang menimpamu. Kalau sampai mereka menangkapmu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sampai mati. Semoga kau paham atas kekhawatiranku.”

“Markus,” panggil Hisar di sela-sela tangisnya, “aku bisa melindungi diriku sendiri. Kau hanya perlu percaya padaku.”

“Tolong … tolong singkirkan segala prasangka burukmu tentang diriku. Kau paling tahu aku. Aku juga ingin melawan mereka sepertimu. Aku hanya khawatir.”

Hisar menghela nafas pelan, merasa seolah-olah Markus mampu menembus dinding pikirannya. “Aku minta maaf juga, Markus. Tidak seharusnya aku berpikir seperti itu.”

Lelaki itu mengikuti pergerakan Hisar begitu ia bangkit dari duduknya. Mereka berdiri, kemudian Markus hapus jejak air mata dari kedua pipi Hisar dengan kedua ibu jarinya, lalu ia rengkuh tubuh kecil kekasihnya ke dalam pelukan hangatnya. Tangan kanan Markus mengelus surai halus legam si bumiputera dan tangan kirinya menenangkan pundak yang bergetar itu. Hanyut dalam suasana, mereka saling bertukar tatap lalu memejamkan mata seiring pergerakan kepala yang saling mendekat. Markus mendekatkan kepala Hisar dan berusaha untuk menggapai bibirnya. 

Setelahnya kening menyatu pada titik temu lalu ke hidung dan bibir, mereka seperti berbicara satu sama lain perihal rasa yang mereka tuangkan pada kecupan demi kecupan. Kemudian berubah menjadi lumatan yang begitu menggairahkan kala hasrat yang membuncah di antara mereka. Markus cumbu bibir itu dengan begitu lembutnya, sedang Hisar hanya mengikuti alur permainannya saja—membiarkan Markus memimpin seperti biasanya.

Begitu memabukkan cumbuan itu sampai-sampai tubuh Hisar terasa ringan bagai bulu angsa begitu anak aristokrat Belanda itu mengangkat kedua pahanya. Lengan Hisar mengalungi leher Markus, sesekali desahan lolos dari bibirnya saat Markus menjamah bagian lehernya, kemudian ia baringkan Hisar di atas dipan. Markus memberi jeda sejenak untuk mengagumi paras cantik yang termaktub pada wajah Hisar—meski hanya dibantu oleh cahaya seadanya.

“Apa boleh?” Markus meminta izin.

Hisar tersenyum sembari ia membelai wajah rupawan itu, kemudian ia menganggukkan kepala sebagai pertanda bahwa izin diberikan. “Kita sudah sampai sejauh ini, apa kau juga mau menyudahi? Lebih baik kita lanjutkan saja.” 

Tanpa menunda-nunda, Markus kembali mencumbu kekasihnya dan kedua tangannya langsung bekerja membuka pakaian Hisar begitu izin telah ia kantungi.

Hisar yang tadinya sudah siap ingin tidur dan terbalut piyama putih sekarang sudah telanjang bulat—ditelanjangi oleh seorang tamu tidak diundang yang kehadirannya tak ia pungkiri juga. Ada sebuah perandaian yang cukup aneh timbul di pikiran Markus. Menurut pemuda itu, kulit Hisar seperti saus karamel pada puding kesukaannya yang sering dibuat oleh ibunya: Manis, menggoda, menggugah selera. “Cantik, cantik sekali. Kulitmu terasa begitu manis. Aku terbuai dibuatnya,” pujinya, dibalas dengan senyuman Hisar yang merekah. 

Tak ingin bibir Markus melewati satu inci pun tubuh Hisar yang beraromakan kayu manis bercampur madu. Terus menerus Markus menjamah dengan indranya, dimulai dari ceruk leher, kemudian turun ke dada terutama kedua putingnya, lalu ke perut, pinggang, dan sampai ke bagian kemaluan pemuda pribumi itu.

Tiba-tiba terdengar kebisingan dari luar kamar. Suara orang-orang berbicara dengan bahasa Belanda dan derap langkah seperti orang yang sedang berlalu lalang.

Het spijt me, meneer. We moeten alle kamers in dit huis doorzoeken, zonder uitzondering. (Maafkan kami, tuan. Kami harus menggeledah seluruh kamar di asrama ini tanpa terkecuali)”

Maar het is laat in de nacht en deze zoektocht zal iedereen hier storen. Kom morgenochtend maar terug. (Tapi ini sudah larut malam dan pencarian ini akan mengganggu semua orang di sini. Kembalilah di pagi hari.)”

Dit is een bevel van mijn superieuren, werk alstublieft met ons samen om Raden Mas Hadi Sarwono te vinden. (Ini adalah perintah dari atasan saya, tolong bekerja sama dengan kami untuk menemukan Raden Mas Hadi Sarwono.)”

Je hebt de regels overtreden. Er mag 's nachts niet worden gezocht, want het is tijd voor de studenten hier om te rusten. (Anda melanggar aturan. Pencarian tidak diperbolehkan pada malam hari, karena sudah waktunya bagi para siswa di sini untuk beristirahat.)”

Meneer, verbergt u iets voor ons? (Tuan, apakah Anda menyembunyikan sesuatu dari kami?)”

Niet! Natuurlijk niet. (Tidak! Tentu saja tidak.)”

Als u echt niets te verbergen heeft, werkt u dan alstublieft met ons samen zodat deze zoektocht soepel en snel. (Jika Anda benar-benar tidak menyembunyikan apa pun, mohon bekerja sama dengan kami untuk membuat pencarian ini berjalan lancar dan cepat.)”

Kebisingan di depan kamar Hisar menginterupsi momen intimnya dengan kekasihnya. Terdengar suara meneer Rooseboom adu mulut dengan salah seorang polisi yang ia duga dari Gewantie politie. Sempat ia sedikit merutuki para polisi Belanda itu di dalam hati karena telah mengganggu dirinya yang sudah keenakan ketika Markus mulai melumat zakarnya, ditambah ia gagal membuka kancing baju Markus sebab hanya dirinyalah yang telanjang. Sangat tak adil menurutnya.

Akan tetapi sesungguhnya Hisar lebih memikirkan apa yang terjadi di depan kamarnya. Mereka benar-benar panik karena polisi-polisi itu tengah mencari Hisar hingga ke asrama. Langsung saja ia membalut selembar kain jarik di tubuhnya layaknya gadis pinggiran Jawa dan melempar piyamanya ke sembarang tempat asal tersembunyi. Markus bergegas memadamkan kedua lampu minyak yang menyala dan menarik Hisar masuk ke dalam sebuah lemari kayu jati berukuran besar di sudut ruang. 

Markus yang membawa salah satu lampu minyak di tangannya berbisik, “Hisar, apa kau bawa lampu minyak yang satu lagi?”

“Untuk apa?” Hisar kembali bertanya dengan berbisik-bisik pula.

“Kalau mereka memegang salah satu lampu dalam keadaan panas, kita bisa ketahuan!”

Hisar merutuki keteledorannya. “Aduh, bodoh sekali!” Kemudian ia menatap Markus yang ada di belakangnya, ia berbisik, “Astaga, aku sama sekali tidak memikirkannya! Maaf, Markus.”

“Sudahlah, salahku juga karena tidak mengingatkanmu. Kita berdoa saja semoga polisi-polisi itu tidak seteliti yang kukira.” Markus merengkuh Hisar dengan lengan kirinya, memastikan teruna itu ada pada posisi yang aman.

Braaakk …!!! 

Para polisi itu berhasil mendobrak paksa pintu Hisar. Terdengar suara derap langkah ke sana kemari tengah mencari teruna itu. Terlihat dari celah pintu lemari kalau mereka menggeledah hampir seisi ruangan. Nyaris—nyaris saja karena mereka menyisir kamar ini tapi sepertinya para polisi londo itu tidak berminat untuk menghampiri lemari jati yang Markus dan Hisar sedang gunakan sebagai tempat persembunyian. Mereka merasa cukup lega karena selain masalah Hisar, tak mungkin juga mereka harus ditangkap karena tengah berzina pula. Jadi Markus dan Hisar benar-benar berusaha untuk diam dan tenang sampai pasukan Gewantie politie itu angkat kaki.

Kapitein, we hebben elke hoek doorzocht, maar we kunnen geen verdachten vinden. (Kapten, kami telah mencari di setiap sudut, tetapi kami tidak dapat menemukan tersangka)” Salah satu anggota polisi mengadu pada sang kapten yang ada di dalam kamar Hisar.

Kapten itu mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk menahan pasukannya. “Wacht even. Ik wil iets controleren, hier ruik ik rook. Het lijkt alsof er net een lampje is uitgegaan. (Tunggu sebentar, di sini saya mencium bau asap. Sepertinya ada lampu yang baru dimatikan.)”

Tak bisa dipungkiri, Markus gugup setengah mati dan jantungnya berdegup begitu kencang. Begitu pula dengan Hisar. Daripada takut ditangkap karena masalah tulisannya, Hisar justru lebih takut tertangkap dengan keadaan seperti ini. Akan sangat bahaya jika hubungan mereka diketahui selain dari teman-teman dekat mereka karena hubungan sesama jenis menjadi begitu amat tabu saat kedatangan bangsa Belanda, kemudian diperparah pula dengan status, derajat, dan perbedaan ras di antara mereka.

“Ah!— mmph.” 

Reflek Hisar memekik, kemudian dihentikan oleh tangan Markus yang membekapnya. Lampu minyak yang dipegang oleh Markus ternyata tak sengaja menyentuh kulitnya.

Sedangkan si kapten yang hampir memegang lampu minyak di nakas mengurungkan niatnya tatkala ia dengar suara yang mendistraksinya. Matanya menajam bagai elang—berpendar ke seluruh sudut kamar sebab ia merasa ada sesuatu yang janggal. Indra itu menangkap potongan kain yang terjepit di pintu lemari. Bergerak perlahan ia hampiri lemari itu. Sedangkan dari dalam sana, Markus memejamkan kedua matanya dan merapalkan doa agar diturunkan keajaiban di tengah-tengah kemustahilan. Hisar pun baru sadar kalau kain jarik yang ia kenakan terjepit pintu lemari.

Sial. Aku sangat sial. Jika memang aku harus tertangkap, setidaknya tangkap aku dalam keadaan rapi. Hisar membatin.

Tangan polisi londo itu terulur ke arah pintu lemari. Waktu terasa bergulir begitu lama, untuk membuka pintu itu saja sepertinya terasa muskil baginya. Begitu ujung jarinya mulai menyentuh pintu itu, sontak ia kembali dikejutkan oleh anak buahnya yang memberi laporan. 

Kapitein, we zagen een verdacht uitziende inlander naar het westen rennen. (Kapten, kami menemukan seorang pribumi yang terlihat mencurigakan sedang berlari ke arah barat)”

Ia terhenti dan memberi titah, “Neem het mee naar kantoor en vraag om informatie. (Bawa saja ke kantor polisi dan mintai keterangan)”

Die inlander heeft overeenkomsten met Raden Mas Hadi Sarwono. (Pribumi itu memiliki kemiripan dengan Raden Mas Hadi Sarwono)”

Ketika sang kapten mendengar itu dari anak buahnya, ia langsung membelalakan matanya dan berlari ke luar areal indekos bersama dengan pasukannya menuju ke barat. Markus dan Hisar menghela nafas lega setelah tercekat sekian lama di dalam sana. “Kita sangat beruntung malam ini.” Markus kecup pelipis lelaki yang ada di rengkuhannya.

Sementara Meneer Rooseboom masih setia di depan pintu kamar. Ia mengetuknya lalu berkata, “Ik weet dat jullie hier zijn en ik weet al wat er aan de hand is. Eerder kwam je vriend Renggala hier en legde het me uit. Nu hij achtervolgd wordt door Politie, zul je hem later moeten bedanken. (Saya tahu kalian di sini dan saya sudah tahu apa yang terjadi. Sebelumnya temanmu Renggala datang ke sini dan ia menjelaskannya kepadaku. Sekarang dia dikejar oleh polisi, kau harus berterima kasih padanya nanti)”

Tak ada jawaban dari keduanya. Meneer hanya tersenyum memaklumi, paham dengan keadaan dan ia bukanlah orangtua yang kolot.

Alle studenten eten zeevruchten in de achtertuin. Kom later, ik leg het apart voor jullie twie. (Semua murid sedang menyantap hidangan laut di halaman belakang. Datanglah nanti, saya akan menyisihkannya untuk kalian berdua)”

Meneer menutup pintu kamar Hisar dan mengganjalnya dengan sapu tangannya agar tertutup rapat, kemudian pergi menuruni anak tangga dan berjalan menuju halaman belakang. Sudah merasa kalau tak ada siapapun lagi di luar sana, Markus dan Hisar akhirnya keluar dari persembunyian mereka lalu kembali menyalakan lampu minyak tapi kali ini cukup banyak hingga menyinari seluruh ruang kamar Hisar yang cukup luas.

Hisar hanya memerhatikan Markus yang berjalan kian-kemari untuk menyalakan lampu sembari ia bersandar pada penyanggah dipan dan meluruskan kakinya. Lucu sekali kalau Hisar ingat bahwasannya Markus adalah seorang bangsawan dan hal semacam ini pasti akan dikerjakan oleh pelayan-pelayannya. Bahkan tempat ia tinggal sudah tersedia listrik sebab rumah pamannya itu di sekitar pabrik ditambah mereka adalah orang Belanda. Sementara Hisar, penguasa-penguasa lokal lainnya, bahkan penduduk pribumi pun tak bisa memakai listrik karena selain status mereka, ketersediaan listrik juga terbatas sehingga hanya mampu memenuhi kebutuhan orang-orang Belanda.

Sedangkan Markus di sini mau bersusah payah menyalakan lampu satu per satu untuk menerangi kamar yang bukan miliknya. Hisar tertawa geli, ketika orang-orang Belanda di luar sana menindas kaumnya, sedangkan di sini ada seorang bangsawan Belanda yang nampaknya tak keberatan melayani seorang pribumi.

Markus yang melihat Hisar tertawa merasa heran. “Apa yang membuatmu tertawa?”

“Kau,” jawabnya.

“Aku?” Markus berjalan menghampiri Hisar, lalu ia melepas sepatunya dan duduk di sebelah Hisar.

“Kau berjalan ke sana kemari seperti setrika dan menyalakan lampu untuk kamar seorang pribumi. Kau sedang melayani seorang pribumi, sesuatu yang tak mungkin bangsamu akan lakukan.”

Pemuda Belanda itu kemudian terkekeh dan menatap tangan kanan Hisar yang kosong, kemudian ia genggam dan ia tatap wajah kekasihnya dan berkata, “Aku tidak melayanimu.”

“Lantas apa yang kau lakukan?”

“Hanya hal kecil yang sekiranya membuat orang yang ku cintai merasa nyaman,” ujar Markus, ia kecup pula punggung tangan Hisar yang tertaut dengannya dan ia melanjutkan, “dan agar mataku tak luput dari wajahmu. Bulan dan bintang terlalu malu untuk menyinari malam ini karena mereka takut akan kalah cantik darimu.”

“Mulutmu pun terlalu manis, gula akan kalah manis darimu.”

“Aku hanya berkata jujur.”

“Baiklah, aku akan percaya padamu.” Hisar terkekeh.

“Aku sangat bersyukur polisi sialan itu tidak membuka pintu lemari tadi. Kita sudah terhimpit oleh keadaan dan aku sudah pasrah kalau kita tertangkap.”

“Mengapa kau merasa takut?”

“Karena aku tak ingin mereka melakukan apapun padamu. Kurasa kita berdua tahu kalau mereka tak segan untuk melakukan apapun pada pribumi meskipun kau anak bangsawan,” jawab Markus. “Lagipula … aku tak ingin mereka melihatmu dalam keadaan seperti ini.”

Pipi Hisar memerah. Ia paham dengan apa yang Markus maksud. Hisar mengenakan selembar kain jarik yang ia lilit di dada untuk menutupi tubuhnya.

Lalu Markus berbisik, “Kau menyajikan sebuah hidangan lezat pada mereka tanpa kau sadari. Semestinya hidangan itu hanya tersaji untuk diriku seorang.”

Kemudian Markus membuat gerakan yang spontan tanpa diduga-duga. Ia berada di atas Hisar dan memegang kedua tangan lelaki itu hingga ia tak bisa berkutik. Markus bertanya, “Jadi, apa kita akan melanjutkan apa yang kita mulai tadi?”

“Sudah hilang hasratku. Apalagi kau masih pakai baju yang lengkap.”

Tangan Hisar meraba dada Markus dan memainkan beberapa kancing yang melekat pada setelan baju demang berwarna putih khas para pria Belanda yang Markus kenakan. “Aku kesal dengan para polisi itu karena tak sempat aku lucuti bajumu. Aku juga ingin lihat badanmu. Rindu rasanya. Aku hitung sudah dua bulan lamanya tak bersua.”

“Apa yang terjadi dua bulan yang lalu?” Markus menggodanya.

“Kau lupa? Kita melakukan ‘itu’ untuk pertama kalinya saat itu.” Hisar merajuk sebab ia kira Markus melupakan malam yang berkesan itu. “Kita saling menginginkan dan rasanya begitu nikmat. Aku tak menyangka kalau malam itu adalah malam pertama untuk kita. Sempat kukira kau juga pernah melakukannya dengan orang lain.”

“Tidak, aku tidak pernah.”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Lalu, bagaimana kau bisa membawa surga ke dalam diriku?”

“Naluri. Naluriku kuat.”

“Ah, begitu,” jawab Hisar dengan suara bernada seperti ledekan, lalu menganggukkan kepalanya.

“Kalau kau mau aku bisa membawakannya lagi malam ini untukmu,” tantang Markus. “Aku tahu kau masih menginginkanku melakukannya.”

“Mengapa kau bisa berkata demikian?”

“Pancaran matamu tak bisa berbohong, Hisar. Dan yang ini …” Markus menunjuk pada sesuatu yang menonjol di balik kain jarik Hisar, “... terlalu jujur.”

Di atas dipan yang cukup luas itu mereka bergulat. Hisar membalikkan posisinya, kini ia duduk di paha Markus dengan kedua kakinya yang tersingkap kain hingga paha dan menekuk—dan menghimpit kaki Markus. Ia bertumpu pada lututnya. Hisar membelai surai coklat kekasihnya. “Kau sangat pintar, Markus.”

“Itulah mengapa kau selalu melihat namaku di peringkat atas,” jawabnya dengan penuh percaya diri. “Wanneer zijn je benen open? Ik wil niet te laat zijn. (Kapan kedua kakimu terbuka? Aku tak ingin terlambat)”

“Dan kapan kancing-kancing baju ini terbuka?” Hisar membalikkan pertanyaannya.

“Saat tanganmu membukanya.”

Hisar tersenyum lebar. Maniknya berbinar-binar, menyiratkan senyum kemenangan layaknya seorang jawara perang. Kedua tangannya yang semula hanya bermain-main di dada bidang kekasihnya kini mulai sigap melaksanakan tugasnya. Satu per satu kancing ia buka hingga terlihat perut dan dada Markus yang cukup atletis untuk laki-laki seusianya. 

Teruna bumiputera itu memagut Markus ke dalam ciuman yang begitu memabukkan. Hasrat berahi yang sempat padam kini kembali membara dan memanasi seisi ruangan. Pipi Markus terasa hangat saat tangan Hisar mendarat padanya—menangkup keduanya seolah menuntut lebih, sementara ia berusaha membuka bajunya dan melemparnya ke sembarang tempat. Ketika Markus sudah bertelanjang dada, ia mengambil kuasa sepenuhnya dan merebahkan Hisar, lalu berdiri dan melepas ikat pinggangnya serta pengait celananya.

Tiba-tiba Hisar mengulurkan kedua kakinya ke atas dan mengapit kedua sisi pinggang Markus, lalu ia melucuti celana lelaki itu dengan jari jempol dan telunjuk. Markus terlucuti oleh Hisar seperti tentara dari bangsanya yang kerap kali melucuti warga sipil tak bersalah yang hanya menuntut hak mereka. Selepas Markus melepas pakaian dalamnya, bangsawan Belanda itu berdiri telanjang bulat dengan kejantanannya yang ereksi. Hisar mematung, kedua matanya terbelalak sempurna seolah ia mengagumi benda kekasihnya.

Hisar sudah ada pada puncak berahinya. Ia ingin benda Markus ada di dalam tubuhnya sekarang juga.

“Tidak secepat itu, sayang,” ucap Markus dengan suara rendahnya, seperti ia mampu menembus pikiran terdalam Hisar.

Wajahnya mendekat ke ceruk leher Hisar, begitu dalam ia hirup aroma segar dan menyenangkan yang khas—bibirnya mengecup kulit madu yang senantiasa ia puja begitu khidmatnya, lalu turun ke selangka. Deru nafas Hisar menyapu surai Markus, desahan-desahan kecil lolos begitu saja dari bibir ranumnya. Bersafari di atas tubuh Hisar begitu menyenangkan bagi lelaki tanggung itu dan Hisar menikmati tiap-tiap yang dilakukannya. 

Markus terhenti tatkala ia rasakan bibirnya dihalangi oleh kain yang bertengger pada dada Hisar. Kepalanya terangkat dan tangan kanannya membelai wajah rupawan sang kekasih, menghaturkan pujian klise yang tak lelah Hisar dengarkan. “Hati mereka akan dimakan keirian dan kedengkian, bahkan menggelap kalau saja mereka tahu ada keindahan luar biasa dari pada tubuhmu.”

Kali ini Hisar bertanya sebab rasa penasarannya kali ini tak terbendung. “Siapa yang kau maksud ‘mereka’?”

“Mereka yang ingin menjadi dirimu,” jawab Markus yang mengecup batang hidung dan filtrum Hisar. “Dan mereka yang ingin menjadi diriku.” 

Lalu tangan Markus membuka lilitan kain jarik yang Hisar kenakan. Ia dekatkan bibirnya di telinga kanan Hisar dan berbisik, “Kecantikan, ketampanan. Semua hal yang dimiliki manusia itu fana. Tapi punyamu abadi, bahkan waktu tak rela membiarkannya sirna. Hisar itu sempurna.”

Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, rasa malu sudah mereka tanggalkan di tempat yang jauh dan yang tersisa hanyalah cinta. Ialah sisi lain dari cinta mereka yang begitu kotor pula menggairahkan.

Lagi dan lagi, Markus lumat bibir Hisar—disesapnya bagai candu yang membuatnya ketagihan. Begitu manis dan kenyal, ia juga suka lenguhan Hisar lantaran dibuat enak olehnya. Hisar pun menikmati bibir Markus yang terus memperdalam ciumannya dan bagaimana Markus mengisi seisi mulutnya. Kedua lengan Hisar yang mengalungi leher Markus mengencang seakan-akan ia tak ingin berhenti, lalu ia angkat sepasang kakinya dan bertengger di dua sisi pundak kokoh lelaki itu.

Di dalam ciumannya Markus tersenyum saat ia merasa pundaknya berat, ia tangkap itu adalah sebuah sinyal dari Hisar bahwa ia sudah lebih dari siap.

“Jangan terlalu buru-buru, aku ingin mengubah posisi kita dahulu.” Markus mengangkat badan Hisar kemudian ia rebahkan pemuda itu menyesuaikan bantal, kemudian ia naik ke atas dipan dan menyangga tubuhnya dengan lutut. Markus kembali mendekat ke bibir Hisar, namun pemuda itu menahannya.

“Yang ini bisa nanti lagi kau sambangi, tapi kalau yang di bawah sana … aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan, sayangku,” ujarnya dengan suaranya yang seduktif, mampu menaikkan syahwat Markus yang sudah tak dapat dibendung lagi. Hasrat Hisar pun sudah membuncah—ia ingin kekasihnya segera menerobos masuk ke dalam raganya. Tapi Markus tak ingin buru-buru, ia lebih suka untuk melakukan semuanya secara perlahan. Jarinya yang lihai itu memainkan puting susu Hisar hingga ia semakin terstimulasi.

Ahh … Markus.”

Lenguhan Hisar bersahutan dengan suara gemuruh yang menggelegar dari luar kamar pertanda hujan deras akan turun. Sedangkan Markus tengah menjilati bagian areola sebelum ia menyesap puting yang sudah menegang, kiri ke kanan Markus berlaku adil pada kedua susu Hisar.

Hisar kembali mengangkat kedua kakinya dan ia jadikan dua pundak kokoh Markus sebagai penyangga, begitu lebar ia buka hingga abaimananya sedikit menganga. Markus masukkan jari panjangnya ke dalam guna mempersiapkannya sebelum pelirnya memasuki lubang Hisar. Satu per satu, ia pastikan Hisar merasa tidak kesakitan dan nyaman. “Apakah sakit?” tanya Markus dengan lembut.

“Tidak. A-aku sangat menikmatinya.” Hisar menjawab di tengah lenguhannya.

Lenguhan itu kian menjadi desahan erotis yang begitu merdu. Kerap kali Hisar sebut nama Markus dan Markus sangat menyukainya. Suara itu memancing berahinya yang bisa mengubahnya menjadi pria yang beringas, namun ia harus tahan karena semua harus perlahan demi Hisar yang masih menyesuaikan diri—sebab ini baru kedua kalinya mereka bersetubuh. Markus harus mengutamakan Hisar.

Tiga jari adalah batasnya, pun ia sudah siap. Kemudian yang Markus lakukan adalah menstimulasi kelamin Hisar mulai dari kepala hingga buah zakarnya. Semakin lama Hisar semakin menikmatinya, syahwatnya meningkat sampai menembus ubun-ubun kepala. Hisar remat kain alas dipannya saat jari tangan kanan Markus turut kembali memasuki lubangnya. Dirasa sudah benar-benar siap, Markus hentikan pergerakan kedua tangannya.

Selepasnya tangan putih pucat itu terjulur ke dalam kolong nakas, di sana terletak semangkuk berisikan minyak kelapa dan ia celupkan tangannya ke dalam mangkuk, lalu membalurkannya pada kemaluannya agar Hisar tak merasa sakit.

“Cepat, Markus!” tukas Hisar. Pemuda itu sudah tidak sabar lagi.

Markus memegang zakarnya dan ia masukkan itu ke dalam lubang sanggama Hisar yang merah. Hisar rasakan sakit yang begitu besar lantaran lelaki itu masih belum terbiasa. Tubuhnya terasa seperti terbelah menjadi dua bagian, namun saat Markus bisikkan kata-kata manis yang menenangkannya ia merasa sakit yang dia rasakan jadi berkurang. 

Lagi, yang tersisa hanyalah sisi cinta mereka yang kotor—mendambakan tubuh satu sama lain untuk salurkan cinta dan kasih sayang. Kulit ke kulit, sentuhan demi sentuhan, afeksi, mampu mengikat dua adam pada hubungan yang begitu dalam dan intim. Dua pria tanggung di antara belia dan dewasa itu sudah paham akan hal yang mereka hadapi, sudah mengerti cinta—antara bagian yang suci dan yang khabis.

“Terpatri berkat dari dewi-dewi pada daksamu yang begitu indah dan menggugah,” bisik Markus sembari ia belai surai dan wajah Hisar. “Tak ingin ku ingkari mereka atas nikmat ini, aku janji akan membawakanmu surga sebagai bentuk syukurku yang telah mengirimmu untukku. Untuk aku cintai dan aku kagumi.”

Sirnalah sudah perih yang Hisar rasakan. Lenyap begitu saja, terganti dengan keinginan terhakiki; hasratnya. Hatinya pun merasa penuh dan hangat mendengar kata-kata itu dari Markus, tiada Hisar temui jejak kebohongan—hanya ada ketulusan dari pria antah-berantah yang jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada sosok yang merebahkan diri di bawah tubuhnya.

Hujan turun begitu deras, kerap kali suara gemuruh menyambar kencang sampai-sampai mampu samarkan rintihan Hisar. Zakar Markus telah masuk menembus pintu yang tak lagi suci itu untuk kedua kalinya. Hentakan pertama rasanya pedih bercampur nikmat bagi Hisar, ia remat tangan Markus yang bertumpu pada dipan. Rematan itu pun semakin mengendur seiring dirinya yang sudah mulai terbiasa dengan hentakan-hentakan berikutnya.

Markus menumbuki lubang sanggama Hisar hingga menyentuh dinding rektumnya. “Markus …” Hisar panggil nama Markus berulangkali dengan suara sengalnya yang sedang mengatur napas.

“Suaramu indah saat kudengar kau panggil namaku.”

Ahh … M-markus, nikmat rasanya.”

Sudah tak mampu untuk ditahan lagi, Hisar keluarkan mani yang membasahi pinggang dan perutnya saat Markus masih menumbuk lubangnya. Dada Markus tak luput pula dari percikan cairan putih itu. Lalu Markus mengecup bibir dan leher Hisar.

“J-jangan di sana, nanti timbul bekas.” Hisar memperingati Markus sebab pemuda itu pernah sekali tinggalkan tanda di sana yang mampu ditangkap oleh netra ibundanya. Markus pun menurut.

“Markus, h-h-hentikan.”

Markus menaikkan alis kirinya, bertanya-tanya mengapa Hisar ingin berhenti saat ia belum kunjung keluar. Begitu Hisar bangkit, ia menepi agar kekasihnya bergerak dengan leluasa. Tak disangka olehnya ternyata Hisar bersetungging, kini lubang miliknya menghadap ke arah Markus. “Aku ingin seperti ini,” ujar Hisar.

Sontak Markus yang masih belum ingin semua ini berakhir langsung mengambil posisi. Markus mainkan sepasang buah birit bulat milik Hisar, lalu ia kecup. Selepasnya ia bersiap untuk kembali memasukkan zakarnya.

Kali ini sudah tak lagi menyakitkan baginya saat zakar itu menyentuh lubangnya sampai ke dalam. Hisar menggoyangkan pinggulnya dan ia menikmatinya saat kepala putik Markus menyentuh prostatnya.

“Hisar …” erang Markus.

Puas dan penuh cinta—perasaan yang didapat Markus dan Hisar, sebuah kepuasan lahir dan batin yang tak akan mereka dapatkan dari siapapun melainkan satu sama lain. Tak terbesit dalam bayangan keduanya untuk meninggalkan satu sama lain jikalau setiap gerakan dan sentuhan adalah cara mereka bercakap. Dalam kata lain; inilah manifestasi terbesar dari hati kecil mereka.

Berkali-kali Hisar sebut nama Markus, berkali-kali pula Markus menumbuk prostatnya. Kedua kakinya terasa lemas sebab tak ada jeda pemuda itu bermain di lubang sanggamanya. Kemudian mereka berganti posisi untuk ketiga kalinya. Dengan sigap Hisar merebahkan Markus. Ia duduk di atas Markus dengan zakarnya di dalam lubang miliknya, kali ini tak ingin menghiraukan kakinya sebab Markus belum mencapai klimaks.

Hisar masih ingin memuaskan Markus, begitupula Markus yang masih belum ingin berhenti. Pinggulnya yang bergoyang, rautnya yang sensual, suaranya yang sengal dengan nafas yang kurang beraturan, dan wajah yang dibanjiri peluh keringat membuatnya terlihat berkilau dan begitu indah dari bawah sana.

Deru nafas mereka saling bersahutan, suara guntur kerap kali menyapa, dan di dalam kamar yang dingin ini mereka menyalurkan cinta dan nafsu—dunia mereka kuasai berdua dan sementara waktu mereka lupa diri. Kedua kalinya Hisar mengeluarkan mani dan ia enggan untuk berhenti, tak akan ia akhiri ini sampai dirinya ditahbiskan Markus.

Markus sadar bahwa kekasihnya itu sudah kelelahan, lantas ia berhenti sejenak. “Sayang, aku tahu kau sudah mencapai batasmu. Kau lelah.”

Ia lepaskan zakarnya dan bumiputera itu terjatuh di atas badannya. “Bukan berarti aku ingin berhenti,” bisik Hisar di balik dada Markus. “Lanjutkan.”

“Kau tak bisa membohongiku. Kau sudah kelelahan.”

“Aku mohon.”

“Kau memohon?” Markus menatap Hisar.

“Mohon, jangan berhenti dahulu.”

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada Hisar?”

“A-aku—”

Markus menyeringai, ia berguling dan mengungkung tubuh Hisar di bawahnya. “Memohon seperti bukan dirimu. Apa yang membuatmu memohon padaku?”

“Basuhi aku, Markus. Basuh sukma dan ragaku. Aku tak akan berhenti sampai tiba waktunya aku dapatkan milikmu.” Hisar mendekatkan wajah Markus pada wajahnya dan dengan suaranya yang rendah ia bertanya, “Apa yang membuatmu sulit untuk memberikan itu padaku? Apa ada yang kurang dariku?”

“Kau sangat luar biasa malam ini, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”

“Karena kau belum memberikan apa yang mestinya kudapat dari yang kau punya.”

Markus mafhum, ia kembali mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk minyak kelapa itu dan membalurkan zakarnya. “Kau memohon untuk ini. Sayang, aku akan menjadi manusia yang paling durjana jika aku tak memenuhi keinginanmu,” ujarnya.

Pemuda itu mengecup bibir ranum Hisar, lalu ia menarik Markus dan melumat bibirnya dan ia jamah bagian leher Markus sebelum kembali pada bibirnya.

Bangsawan Belanda itu kembali menancapkan zakarnya pada lubang Hisar yang menganga. Markus menumbuknya tanpa ampun dan Hisar berusaha memberikan yang terbaik, bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Kali ini tak hanya desahan dan lenguhan, kecipak suara bibir yang saling beradu juga mengisi ruangan.

“Berikan p-padaku, Markus!”

Markus tersenyum lebar, hentakan yang semula keras jadi melemah. Ia merasakan kejantanannya mulai penuh dan semakin tak tertahan sehingga ia menariknya keluar.

“Hisar …”

Apa yang Hisar inginkan, Hisar akan dapatkan.

Markus menahbiskan Hisar dengan cairan maninya, ia basahi bagian atas badan Hisar dan sedikit percikan di wajah pemuda itu. Hisar tersenyum puas—disucikanlah dia dengan mani Markus sebagai tanda bahwasannya Markus miliknya.

“Markus …” Suara sengalnya memukau Markus, tersirat kegembiraan di sana. Sekali lagi Hisar menarik Markus dan memberi kecupan di wajahnya. Kening, pipi, hidung, dan bibir tak luput dari perhatian Hisar. “ … terima kasih.”

Malam ini kita buat cinta.

Markus merebahkan diri di sebelah Hisar, ia tarik kekasihnya itu di dalam dekapannya. Dada kirinya dijadikan bantal untuk kepala kekasihnya bersandar. Telinga Hisar mampu menangkap suara jantung yang berdegup kencang. Hisar mendongak ke arah wajah Markus “Setelah sekian purnama kita bersama dan setelah apa yang kita lakukan tadi, rupanya aku masih bisa membuatmu gugup.”

“Entah itu gugup atau bahagia, selama kau masih terpahat di dalam sana, jantungku hanya berdegup kencang untukmu.”

“Mulutmu terlampau manis, jangan seperti itu.”

“Mengapa?”

“Karena semakin aku jatuh, semakin aku terpikat, semakin ingin aku mengeratkan genggammu. Kalau kau bertutur demikian pula pada orang selain aku, maka bertalu-talu hatiku akan sakit.”

“Tidak akan. Aku untukmu, kau untukku.” Markus menggenggam tangan kanan Hisar dan ia cium punggung tangannya, kemudian mendekap pemuda itu ke dalam rengkuhannya.

Bangsawan Jawa yang semula hanya diam menikmati ritme detak jantung pemuda yang lebih tua darinya itu kemudian memanggil namanya. “Markus.”

Ia hanya berdeham. “Hmm?”

“Aku senang kau adalah yang pertama untukku. Cinta pertama, hubungan pertama, segala hal yang pertama kali kualami dan kurasakan di jalanku menuju kedewasaan, kau di sana. Kau membawaku ke tempat yang tak bisa kubayangkan sebelumnya.”

“Dan aku sangat terhormat bisa mendampingimu, Raden Mas. Kau persilakan diriku untuk masuk ke dalam hatimu saat aku penuh keraguan. Kau tegakkan sepasang pundak lemah milik seorang pria yang mendambakanmu.” Markus tatap teduh kekasihnya yang pula menatapnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.

“Malam ini guntur begitu menggelegar, hujan turun begitu deras, dan angin bertiup begitu kencang. Rasa dingin dan takut akan lenyap saat kau rengkuh aku.” Hisar menoleh dan menatap mata Markus, kemudian ia bertanya, “Markus, hujan datang dan pergi, begitu pula dingin dan takut. Apa kau akan ada untuk merengkuhku dihujan-hujan selanjutnya?”

Bibirnya kelu dibuat bungkam oleh sebuah pertanyaan sederhana bercampur runyam. Pertanyaan yang menuntut sebuah kejelasan atas masa depan yang kabur dan abu-abu; tentang cinta mereka, sebuah anomali di negeri orang-orang berwatak cadas demi memegang teguh adat dan kepercayaan. 

Sebuah pertanyaan yang kian membuat Markus berkutat—berusaha menjawab meski ia tahu tak ada jawaban yang pasti untuk mempertahankan hubungan dua adam. Keluarga Hisar beradat, pun keluarga Markus akan menafikan anak sulungnya untuk berhubungan selain dengan wanita Eropa yang terpandang. Sekali salah satunya tahu, maka sia-sialah mereka menanam benih cinta sebab tak mampu mereka tuai kelak.

“Tertumbuk biduk dikelokkan, tertumbuk kata dipikiri.”

“Darimana kau belajar peribahasa?”

“Dari datuk yang punya toko pinggan di persimpangan.” Markus mencubit hidung bangir kekasihnya sembari ia berujar, “Bukan peribahasanya, yang penting artinya. Aku bersungguh-sungguh akan hal itu.”

Hisar tersenyum bahwasannya Markus sama sekali tak memiliki niat untuk menjauh dan melepaskannya. Arti dari sebuah peribahasa yang Markus katakan itu ialah pesan untuk pantang menyerah dan terus berjuang. Ia yakin kelak ia akan mendapatkan kebebasan, baik kebebasan negerinya maupun kebebasan cintanya. Hisar akan terus berjuang demi tanah air dengan memberi kontribusi terbaiknya. Tapi selama ada Markus di sisinya, Hisar jamin ia baik-baik saja dan berdiri tegap—melawan, bergerak, dan mencinta.

Lupakan polisi dan masalah-masalah yang akan dihadapi oleh Hisar dan Markus, saat ini mereka sedang memadu kasih di atas dipan ditemani hujan dan petir.

Hendak Markus abaikan sejenak. Selama Hisar ada di dekatnya, ia akan terus lindungi dan menemaninya. Mungkin takdir akan pisahkan raga tapi hati akan kekal bertaut selama-lamanya. Yang ia tahu, lelaki yang sedikit lebih muda darinya itu nyaman di dalam rengkuhannya. Menyelundup, mencari kehangatan, mengabaikan kotor, dan bercakap-cakap perihal cinta pula berbagi kisah hidup.

Di luar hujan turun dengan deras.

Notes:

Ini adalah tulisan yang sebelumnya pernah dipublikasi di Twitter melalui Privatter dua tahun lalu (kalau pernah mutualan dengan akun 8154km, that's me!). Awalnya tulisan ini dibatasi hanya untuk mutual karena mau balik belajar menulis jorok, tapi butuh umpan balik. Namun, diputuskan untuk dipublikasikan di sini sebagai arsip online karena akun itu sudah dideaktivasi.

Sedikit TMI, cerita ini ditulis setelah kembali membaca roman milik Pramoedya Ananta Toer berjudul “Bumi Manusia” dan menonton kisah Zainuddin dan Hayati dalam film “Tenggelamnya Kapal van der Wijck”, yang juga adaptasi dari roman karya Buya Hamka. Narasi disesuaikan dengan gaya bahasa Melayu pra-kemerdekaan, tapi tetap bisa dipahami oleh pembaca.

Tulisan tidak ada yang diubah dan tidak disunting lagi. Semoga masih bisa dinikmati.

Terima kasih sudah membaca!

Tabik.