Actions

Work Header

Menunggu

Summary:

Keadaan memaksa mereka untuk bertemu dan berkompromi terlepas dari duka dan pahitnya kehidupan hanya demi mempersatukan 2 insan bodoh yang hanya bisa menunggu. Semesta memutuskan tidak ada lagi yang boleh menunggu.

Notes:

Disclaimer:
Bagian awal ada sedikit nyebut2 underage attraction, tp cmn sebatas itu sih. Gk ada yg aneh2 bgt. Tapi kalo tetep gk nyaman bisa di skip aja ke bagian kedua (pokoknya deretan font miring kedua). Mohon kebijakannya aja, krn pengalaman bacanya pasti akan jauh berbeda.

Dan plis, apapun yang eksis di ao3 stays in ao3 guys (berlaku bukan untuk karya aku doang). Gk usahlah sebenernya kabums koar2 beginian di author's note. Aku kira ini udh jadi pemahaman umum, but i guess masih harus diingetin lagi yak?

Selain itu, happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Halo dek, saya Ganjar.”

 

Seketika jiwanya disedot habis dari raganya, meninggalkannya sekosong selongsong peluru yang habis ditembakan. Pertemuan pertama yang melencengkan lintasan hidupnya ke dalam suatu lini yang berkabut dan gelap; hanya ujung awalnya saja yang jelas terlihat. Pikirannya dibawa terombang-ambing di tengah samudra perawan tanpa navigasi manusia. Tetapi hatinya langsung terpaut erat padanya, sekarang, selalu, dan selamanya.

 


 

Suatu petang di hari Rabu yang terlampau panas menerpa wilayah Yogyakarta. Temperatur yang ditunjukan pada peramal cuaca Google di ponsel pintar hari itu mencapai 36 derajat celcius. Kelembapan udara sampai menciptakan suasana pengap tak mengenakan. Semua orang dibanjiri keringat yang tidak berkesudahan. Tidak ada yang mampu bekerja, belajar, bermain, apalagi memasak dalam gelombang sepanas itu. Semua orang hanya bisa terkapar di atas kursi dan terduduk dengan lunglai selagi mengipaskan dirinya dengan apapun yang bisa dijadikan kipas manual.

 

Petang yang sangatlah panas, tetapi ternyata terasa jauh lebih panas bagi seorang pemuda berumur 16 tahun bernama Anies Baswedan. Anies tengah mengerjakan tugas sekolahnya di meja pendek dalam ruang keluarganya. Pintu depan rumahnya, yang langsung tersambung dengan ruang keluarga, dibukakan selebar mungkin agar udara panas tidak terperangkap di dalam rumah yang menjadi kediamannya itu. 

 

Si remaja berambut ikal gelap itu masih menggunakan kemeja SMAnya yang sudah basah oleh keringat. Matanya yang jeli membaca soal pada buku paketnya dengan seksama sambil sesekali menyeka keringat yang bercucuran dari dahinya yang berjerawat, dasi kelabu ia biarkan tergantung dengan longgarkan di dasar lehernya untuk membiarkan dua kancing kemeja pertamanya terbuka, mengekspos sedikit kulit dadanya yang berkilatan oleh keringat. Lidahnya sedikit mencuat keluar dari dua belah bibir ranumnya sambil tangan kanannya sibuk menulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dijadikan tugas.

 

Tiba-tiba saja ia mendengar Abah memanggilnya dari ruang tamu di depan. Anies awalnya tidak mendengar namanya dipanggil saking seriusnya mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia memutar bola matanya dengan sedikit jengkel ketika Abah memanggil untuk kedua kalinya.

 

“Ada apa, Bah?” tanya Anies yang tidak lupa membawa kertas penuh corat coretnya yang terlipat rapi sebagai kipas.

 

“Ini, nak, ada kenalan Abah dari kantor. Namanya Ganjar. Salam dulu ya,” ucap Abah sambil tersenyum, tangannya ia sandarkan pada pundak cungkring putra keduanya itu.

 

“Halo dek, saya Ganjar,” ucap pria yang dimaksud Abah, tangan kanannya disodorkan untuk berjabatan dengan milik si murid SMA.

 

Rambutnya sedikit panjang dengan model setengah mullet dan berwarna hitam gelap, hampir sepekat hitamnya rambut Anies. Surainya yang halus itu membingkai dahinya yang maskulin dan menyembunyikan daun telinganya yang lancip. Senyumnya lebar dan menampilkan sederet geligi putih yang rapi, bibirnya tipis berwarna merah muda segar. Pipinya sedikit gembul dibandingkan dengan perawakannya yang tinggi kurus. Matanya terhalang dengan kaca mata hitam dengan gaya retro yang dikenakannya.

 

Anies hampir lupa untuk menarik napas ketika melihat pemandangan yang memesona itu.

 

Anies hanya mengangguk tersipu sambil menyambut hangat tangan kanan Ganjar yang jauh lebih besar darinya. Pria yang lebih tua dihadapannya itu menjabat tangan Anies dengan gagah dan kuat.

 

“Ini Anies, Njar, putra pertama saya,” kata Abah dengan ramah. Matanya sedikit menunjukkan tanda tanya karena anaknya tidak dengan segera mengenalkan dirinya seperti biasa ketika dikenalkan dengan orang baru.

 

“Wah, masih SMA ya kamu? Kelas berapa?” jawab Ganjar basa-basi walau tidak terdengar seperti itu pada telinga lawan bicaranya.

 

“Dua,” balas Anies dengan pelan, matanya berusaha untuk tidak memelototi tulang selangka Ganjar yang mengintip keluar dari kemeja kerjanya terlalu lekat.

 

“IPA atau IPS?”

 

“IPS.”

 

“Wuih, sama dengan Mas dong.”

 

Anies terkekeh canggung mendengar ucapan Mas Ganjar yang terdengar sangat akrab itu. Mungkin lebih ke sok akrab, tetapi Anies tidak keberatan. Tidak jika lawan bicaranya setampan Mas Ganjar.

 

“Tolong suguhin Mas Ganjarnya minum dulu ya, Nies. Abah mau shalat ashar dulu, belum sempet tadi,” ucap Abah lagi.

 

Anies mengangguk kecil, “boleh lewat sini, Mas.”

 

“Eh, kamu lagi ngerjain PR ya? Aduh maaf jadi ganggu loh, Nies,” ucap Ganjar ketika dipersilakan duduk di ruang tengah kediaman Anies dan melihat beberapa buku paket dan buku tulis Anies yang berserakan di atas meja santai di ruangan tersebut.

 

“Uhm… Gak apa-apa kok, Mas. Ini… PRnya juga dikit lagi beres. Bisa dilanjut nanti,” balas Anies berdusta. Dia baru saja menjawab dua soal.

 

“Oh, PRnya apa? Barangkali Mas bisa bantu,” sebut Ganjar dengan kekehan yang sangat renyah.

 

Suara baritone pria berambut mullet itu terdengar bagai musik dan gemericik air sungai bagi Anies.

 

“Agama, Mas.”

 

“Oh, coba sini Mas liat soalnya,” kata Ganjar dengan nada yang terdengar agak tegas walau tidak menuntut, membuat Anies jadi ragu untuk menolak permintaanya.

 

Anies tidak bergeming untuk beberapa detik. Buku-bukunya ia dekap erat-erat di dalam lekuk siku dalamnya, matanya terbelalak diam-diam. Jika Mas Ganjar melihat soal dari pekerjaan rumahnya, dia akan tahu bahwa tadi Anies telah berbohong. Ah, tapi tidak masalah, kan? Hanya kebohongan putih yang tidak berbahaya, semua orang pasti melakukannya demi beramah tamah.

 

“Uhm… Mas Ganjar mau minum apa? Sirup mungkin?” tanya si murid SMA sambil memberikan pria muda di hadapannya buku tugasnya.

 

“Ah apa aja asal yang seger-seger sih, Nies. Jangan balik bawa sekoteng panas, ya?” canda Ganjar sambil memamerkan geligi putihnya lagi.

 

Lutut Anies langsung bergetar lemah melihat pemandangan seperti itu untuk kedua kalinya hari itu.

 

Tanpa membalas candaan Ganjar maupun memberikannya anggukan kecil, Anies langsung melesat ke dapur rumahnya dengan gesit. Jantungnya berpacu dengan langkahnya yang dengan memalukannya terlihat sangat cepat. Dia yakin pipinya pasti sudah semerah jambu air yang sedang panen di pekarangan rumahnya. Ganjar yang melihat tingkah anak dari koleganya itu hanya tersenyum dalam kebingungan.

 

“Ini sebenernya jawaban kamu udah bener sih, Nies, yang nomor dua ini. Cuman pendapat pribadi aku sih beda dari tulisanmu,” sambung Ganjar begitu Anies masuk lagi ke ruang tengah bersama dengan nampan yang berisi dua gelas tinggi sirup warna merah dengan dentingan beberapa es batu di dalamnya.

 

“Pendapat Mas emang gimana?” tanya Anies sambil berlutut di samping Ganjar dan menyuguhkan minumannya dengan sopan dan hati-hati.

 

“Gini—eh iya makasih. Jadi gini, inikan pertanyaannya ‘siapakah istri yang paling dicintai Rasulullah? Jelaskan jawaban Anda!’ dan kamu jawab yang intinya tuh nabi tidak pernah membeda-bedakan istrinya dan selalu memperlakukan mereka dengan adil dan baik. Nah, justru menurut aku Rasul tuh paling sayang sama Aisyah.”

 

Salah satu alis si remaja berambut ikal itu terangkat karena penasaran, “istri Rasul yang anaknya Abu Bakar itu?”

 

“Iya, kenapa coba?”

 

Anies mengangkat bahunya dengan bingung.

 

“Aku pernah baca di buku biografinya, di situ disebutin kalau beliau tuh pernah suatu waktu habis pulang dari shalat tahajud di masjid. Kan posisinya dini hari tuh, nah beliau saking takutnya ngebangunin Aisyah pas masuk ke rumah, beliau bela-belain tidur di luar. Kurang romantis apa coba tuh? Udah pasti Aisyah istri yang paling disayang beliau, kan?” ucap Ganjar panjang lebar yang diakhiri dengan cengiran khasnya.

 

Anies tertawa lepas mendengar cerita dari teman barunya itu.

 

“Ah, yang bener Mas? Lucu banget ya mereka,” balas Anies sambil tertawa.

 

Sesuatu dalam diri Ganjar mendadak seperti ada yang mengaduk pelan-pelan. Rasanya tiba-tiba seperti berputar, sehingga menghasilkan sedikit rasa mual. Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak ketika melihat tawa si murid SMA yang masih berlutut di dekatnya. Tarikan bibirnya sangat indah dan masih menunjukkan belahannya yang ranum, matanya seketika berubah menjadi bentuk garis, menenggelamkan kilau pupilnya yang cemerlang. Dalam sekejap, ia tidaklah melihat seorang murid SMA yang dikenalkan sebagai anak koleganya, melainkan ia menyaksikan seseorang yang dapat mencuri napasnya pergi.

 

“Yang lebih lucunya lagi, ada beberapa literatur yang bilang kalo Aisyah juga malah ketiduran tepat di balik pintu tempat Rasul memilih untuk beristirahat karena kelamaan nungguin suaminya pulang dari shalat,” kata Ganjar menambahkan, beberapa katanya mendadak saling terpeleset satu dengan yang lainnya.

 

“Ih, romantis banget ya mereka,” ucap Anies yang benar-benar tidak menyadari perubahan gestur dari lawan bicaranya.

 

Dengan pelan-pelan Ganjar mulai lupa dengan cuaca panas terik kala itu. Melihat Anies yang masih berseri-seri karena anekdotnya itu cukup membuat suasana hatinya menjadi sejuk dan, pada akhirnya, membuat raganya pun ikut mendingin.

 

“Nies, makasih ya udah nyuguhin Mas Ganjar. Kalo kamu mau lanjutin belajar di kamar dulu aja, Abah sama Mas Ganjar gak akan lama-lama kok ngobrolnya,” serobot Abah yang datang secara tiba-tiba, memecahkan momen manis di antara kedua pria muda tersebut.

 

“Oh… iya, Bah,” ucap Anies sambil mengangguk santun.

 

Ia lalu pamit kepada kolega Abah yang baru saja ia suguhi itu, membereskan buku-bukunya, dan membawanya menuju kamar tidurnya. Sebelum ia menutup pintu depannya, si murid SMA berambut ikal itu masih menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arah pria yang telah menarik perhatiannya dengan malu-malu. Pipinya semakin memanas ketika ia menyadari bahwa pria yang tungkainya sangat panjang itu masih menatap ke arah Anies sambil menyunggingkan senyum tampannya. Dengan grogi, Anies langsung membanting tutup pintu kamarnya.

 


 

“Dek, Mas izin pamit pergi jauh ya sehabis ini semua. Mas mau nikah dan ikut istri ke Depok. Sekalian mau ambil S2 juga kayaknya.”

 

Tiba-tiba saja terasa ada tali tebal yang sangat kaku mengikat dada Anies dengan sangat kuat. Saking kuatnya, seluruh udara yang ada di dalam paru-parunya tertekan keluar dan tidak bisa masuk lagi. Rasanya sakit, seperti disayat seribu pedang kecil, tetapi mukanya harus tetap memancarkan kenetralan. Tidak boleh ada yang mengetahui badai yang berkecamuk di dalam batinnya ketika mendengar informasi yang pahit itu.

 


 

Usianya baru 18 tahun lebih sedikit ketika statusnya berubah menjadi anak yatim. Abah meninggal tepat ketika Anies baru saja menyelesaikan masa orientasi sebagai mahasiswa baru sebagai mahasiswa fakultas ekonomi. Rasanya baru saja kemarin Anies dan sekeluarga merayakan atas diterimanya siswa SMA itu di perguruan tinggi negeri impiannya. Sekarang, seluruh kebahagiaan itu rasanya seperti mimpi, seperti angan-angan yang jauh karena sekarang Abah sudah tidak bisa membersamainya lagi. 

 

“Anies kuliah yang rajin ya, nak. Abah percaya kamu pasti nanti jadi orang yang besar untuk negeri ini,” kata Abah lewat telepon umum di suatu sore yang mendung dekat dengan kampus Gajah Mada. 

 

“Ya pastilah, Bah. Anies kan udah diterima di kampus impian Anies. Masa gak diperjuangin sampe lulus nanti,” kekeh si mahasiswa baru. 

 

“Jagain adik-adik kamu juga. Ibumu juga. Kamu tetep putra Abah paling tua. Kamu yang nanti bakal jadi kepala keluarga Baswedan gantiin Abah nanti,” balas ayahanda Anies. 

 

“Duh, Bah, ini Anies masih kecil gini. Baru juga jadi maba, masa udah harus gantiin Abah?”

 

Seperti itulah kira-kira ucapan terakhir yang terucap dari mulut kedua pria dari marga Baswedan untuk terakhir kalinya. Tepat dua hari dari percakapan polos itu, Abah terkena serangan jantung ketika sedang mengambil wudhu di petang menuju waktu Ashar. Rumah Baswedan sedang kosong; Ibu sedang pengajian di masjid, Anies sedang sibuk melakukan masa orientasi, dan adik-adik sedang sekolah. 

 

Kebetulan saja kolega Abah yang hampir tidak bisa meninggalkan pikiran Anies muda, Ganjar Pranowo, diutus untuk mengirimkan beberapa dokumen ke kediaman keluarga Baswedan. Si ahli hukum muda itu sudah merasakan sesuatu yang tidak mengenakan ketika dirinya ditinggal menunggu hampir 20 menit di teras depan rumah yang sangat familiar baginya itu. Mau tak mau, akhirnya Ganjar mendobrak masuk dan menemukan Abah sudah tidak sadarkan diri.

 

Setelah itu, kejadiannya terjadi sangat cepat. Anies dan kakak langsung di telpon oleh Ibu dan disuruh pergi ke rumah sakit sementara adik-adik semua dijemput Ganjar dari sekolah masing-masing. Ketika Anies sampai di rumah sakit, Abah sudah dinyatakan meninggal. Tepatnya pukul 4 lebih 9 sore. 

 

Malamnya, setelah Abah dimandikan dan dishalatkan, tetapi sebelum dimakamkan, Ganjar menyapa Anies dengan lembut. 

 

“Dek, Mas turut berduka cita ya,” ucapnya sambil membawakan secangkir teh manis hangat. 

 

Dari sore sampai malam itu, pukul 8 malam lebih sedikit, hujan tanpa henti. Dunia seolah-olah ikut berkabung bersama keluarga Baswedan dan orang-orang terdekatnya. Ganjar sudah memperhatikan anak dari koleganya itu menggigil beberapa kali karena angin malam yang basah dan juga dingin. Jadi, ia memutuskan untuk membuatkannya teh manis hangat. 

 

“Eh, Mas, makasih. Anies juga turut bersedih. Anies tau Mas dan Abah temen yang deket,” ucap Anies sambil menyedot ingusnya sedikit. Matanya sudah berkaca-kaca jauh sebelum Ganjar menghampirinya. 

 

“Abahmu itu orang baik, Nies. Bisnisnya bener-bener bersih dan lurus. Mas seneng bisa kerja sama orang sejujur Abahmu itu.”

 

Mendengar perkataan pria yang jauh lebih jangkung itu cukup membuat bendungan air mata Anies bocor. Tangisnya pecah ketika pikirannya mengingat lagi sosok Abah yang sudah tidak bisa ia lihat lagi secara fisik. Dadanya berkedut penuh pilu ketika ia menyadari mulai dari saat itu, ia sudah tidak memiliki sosok penjaga, sosok sandaran, dan sosok bapak yang mampu mengayomi Anies sekeluarga. Anies takut membayangkan kehidupan tanpa sosok Abah yang kalem, tegas, dan bijaksana. 

 

“Nies…” kata Ganjar sebelum menarik mahasiswa baru itu ke dalam pelukan hangatnya. 

 

Anies tidak sempat bertindak salah tingkah ketika indra penciumannya menghirup wangi tubuh Ganjar yang tercium sangat manis dan menyegarkan itu. Hangatnya tubuh Ganjar mampu mengalahkan tegukan teh manis panas manapun. Seketika, Anies langsung jatuh pada lengseran limbo ketentraman batin yang mendalam. Andaikan saja dekapan ini menjadi miliknya selamanya. Andaikan saja sosok Ganjar mampu membimbingnya dalam kehidupan tanpa haluan ini. Andaikan saja Ganjar menjadi miliknya sedari dulu… 

 

“Dek, Mas izin pamit pergi jauh ya sehabis ini semua. Mas mau nikah dan ikut istri ke Depok. Sekalian mau ambil S2 juga kayaknya,” ucapnya dengan tiba-tiba sambil hidungnya menghirup rambut ikal si mahasiswa baru. 

 

Angan-angan pada hati Anies pun pupus menjadi bubuk. Hatinya sedari tadi sore sudah retak oleh kematian Abahnya, tetapi informasi dari Ganjar inilah yang membuatnya hancur berkeping-keping. Kepingan-kepingan kecil yang berusaha ia tempel satu persatu selagi dekapan Ganjar melonggar dan akhirnya lepas. Hilangnya wangi tubuh Ganjar membuat matanya yang semula menangis menjadi kering, dadanya sesak terlilit oleh sesuatu yang tak kasat mata. 

 

“K-ke Depok, Mas?” tanya Anies yang masih menyedot ingusnya. 

 

“Iya, Mas udah daftar S2 di UI. Ujian saringannya 2 minggu lagi, jadi minggu depan baru mau akadnya. Agak mendadak ya?” kekeh Ganjar yang berusaha untuk mencairkan suasana. 

 

Di luar hatinya yang sudah menjadi kepingan kecil, Anies tetap menyunggingkan senyumnya yang paling manis. Saking manisnya, Ganjar sampai tertegun; ingin sekali rasanya ia mengecup bibir si mahasiswa baru yang terlihat sangat empuk dan ranum itu… 

 

“Gak mendadak kok. Selamat ya, Mas, semoga ujiannya sukses dan akadnya lancar. Anies kayaknya gak bisa hadir karena kuliah udah langsung banyak kegiatan nih,” jawab Anies secara jujur. Ia berterima kasih kepada tuhan di atas karena ia tidak perlu berbohong pada Ganjar. Cukup hatinya saja yang berdusta terhadap perasaannya. 

 

“Mas ngerti kok, kita tetep kontakan aja yak. Siapa tau kamu ada yg mau ditanyain tentang perkuliahan nanti. Walaupun kita beda fakultas, tapi kan Mas tetep alumni UGM juga.”

 

Anies memperhatikan cengiran yang dilemparkan pria yang lebih tua 10 tahun darinya itu. Senyuman yang tampan, rambutnya sudah dipotong pendek rapi dan mulai memutih, pipinya yang sedikit menggembung karena lebarnya tarikan senyuman di bibirnya, Anies santap pemandangan itu bagai makan malam terakhirnya. Haruskah ia mengakui perasaannya? Haruskah ia berkata jujur kepada pria yang sudah menjadi obsesinya sejak 2 tahun yang lalu? Apa yang ia harapkan jika ia mengakui perasaannya kepada Ganjar? 

 

Untuk memilikinya. Untuk bisa membersamainya. Untuk bisa dimilikinya. Untuk bisa mencintainya dan dicintainya

 

Tetapi itu semua mustahil digapai. Ganjar sudah siap menikahi perempuan beruntung yang bahkan Anies tidak ketahui keberadaanya. Selain itu, mana mungkin Ganjar melihat Anies sebagai pasangan romantis di usianya yang sudah sangat matang. Anies pastilah hanya seorang anak muda yang ia kenal, tidak lebih dari itu.

 

Dekapan Anies melonggar, kedua lengannya kembali kepada sisi tubuhnya. Rambut-rambut halus di sekujur raganya kembali menegang karena baru saja kehilangan sumber kehangatannya. Mendadak jarak diantara mereka terasa terlalu jauh beribu-ribu kilometer walau pupil masing-masing masih menatap satu sama lain. Gapaian yang tak terjangkau karena batasan tembok tinggi yang menjadi tameng batin; Anies menguatkan senyumnya. 

 

“Udah pasti dong, Mas,” ucapnya berbohong.

 


 

“Ini Alam, dek, anak sulung Mas. Bandelnya gak ketolongan deh.”

 

Pernyataan polos yang ternyata masih saja terasa seperti sayatan tajam pada hati Anies. Pria idamannya telah berkeluarga dan dia masih di titik nol yang sama ketika Ganjar meninggalkannya; masih terobsesi tetapi tidak punya nyali untuk mengakui perasaannya. Senyumnya selalu pahit setiap dirinya mendengar nama ‘Ganjar’, apalagi saat bertemu dengan si pemilik nama. Topeng yang dikenakannya terasa berat ketika melihat wajah pria yang lebih tua itu, mengingat cintanya yang terbelenggu keadaan dan kompleksitas kehidupan.

 


 

Dia berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat, tempat yang katanya memiliki banyak sekali kesempatan dan kemungkinan. Anies berencana untuk berangkat ke negeri asing tersebut dalam waktu 2 bulan. Seluruh persiapan skripsinya harus ditunda dulu demi dapat meraih pengalaman program student exchange selama 1 tahun itu. Teman-teman seangkatannya turut berbahagia atas pencapaian pemuda berambut ikal tersebut. Bagaimana tidak, Anies si ketua senat yang juga merangkap sebagai teman yang baik, tutor yang jempolan, serta mahasiswa teladan langganan juara umum IPK tinggi itu sangatlah disegani dan dicintai khalayak banyak. Otaknya yang encer serta kemampuan sosialnya yang holistik membuatnya dikenal dan dihormati civitas akademika tempatnya berkuliah.

 

Di luar kehidupannya sebagai mahasiswa teladan, anak yang penurut, kakak yang bertanggung jawab, serta pribadi yang haus ilmu, Anies tetap merasakan kekosongan yang hanya dapat diisi oleh seseorang tertentu dari masa SMAnya. Seseorang dengan perangai jangkung, rambut putih, tubuh kurus, suara berat yang manis, serta senyum tampan yang dapat membuat hati Anies bergetar. Si mahasiswa teladan sudah mencoba beribu-ribu cara untuk melupakan sosok Ganjar dari hatinya; menyibukkan dirinya dengan belajar dan kegiatan organisasi, mendekatkan diri kepada tuhannya, mendekati teman-teman wanitanya, semua usahanya berbuah nihil. Tidak ada cara apapun yang sukses ia lakukan demi mengenyahkan Ganjar dari kepalanya.

 

Maka, ketika Anies tiba di bandara Jakarta untuk menaiki pesawat menuju Amerika Serikat, ia kaget setengah mati ketika mendapati Ganjar dan keluarga kecilnya sedang menunggu di gerbang yang sama dengannya.

 

“Loh? Anies? Anies Baswedan?” sapa Ganjar dari balik punggung Anies yang terlihat sedikit kesulitan dengan barang bawaannya yang lumayan berat.

 

Anies masih ingat siapa orang yang memiliki suara seindah itu. Nadanya menyenangkan terlepas dari getarannya yang terdengar berat dan gelap. Ketika tubuhnya berputar untuk menghadapi orang yang menyapanya, sepasang netra Anies langsung membuka lebar. Wajahnya masih setampan terakhir mereka berjumpa; malam ketika Abah direnggut dari kehidupannya. Rambutnya sudah memutih total, kerutan di wajahnya lebih dalam dan jelas, tetapi selain itu tidak ada yang berubah dari sosok Ganjar. Senyumnya masih sehangat mentari, pipinya masih menggembung sedikit akibat tarikan bibirnya, geliginya masih kinclong berwarna putih, perangainya masih sekurus dan sejangkung yang Anies ingat. 

 

Kolonye pria idamannya yang lembut menyambut hidung si mahasiswa ketika terpaan angin sepoi-sepoi ditiupkan. Kolonye yang masih ia ingat betul ketika Ganjar mendekapnya selagi ia menangisi kepergian Abah tersendu-sendu. Anies bertanya-tanya, apakah dekapannya masih sehangat dulu?

 

“Dek? Ini Mas Ganjar, masih inget gak?” sapa Ganjar lagi ketika ia hanya melihat Anies melongo di hadapannya.

 

“Mas Ganjar…”

 

Nama yang Anies sebut terasa asing. Caranya bergulir dari lidahnya seperti memori hilang yang ditemukan kembali; aneh tapi familiar disaat yang bersamaan.

 

“Kamu mau ke Amerika juga? Lucu ya bisa barengan gitu dengan Mas. Mau liburan ke sana?”

 

“Ng… program beasiswa, Mas. Student exchange .”

 

Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil, laki-laki, yang merengek di bawah kaki Ganjar. Usianya tak mungking lebih dari usia sekolah dasar. Tubuhnya mungil dan rambutnya lurus berwarna hitam. Bentuk bibirnya serta kilau matanya memancarkan sesuatu yang sama dengan pria yang sedang berbincang-bincang dengan Anies. Suaranya melengking memekakan telinga meminta perhatian pria berambut putih.

 

“Aduh, Alam jangan teriak-teriak dong. Malu sama Mas Anies tuh liat,” bujuk Ganjar pada anak yang bergelung di tungkai jenjangnya, Alam.

 

“Alam…” bisik Anies lebih kepada dirinya sendiri.

 

“Ini Alam, dek, anak sulung Mas. Bandelnya gak ketolongan deh,” ucap Ganjar lagi. Tangan-tangan lebarnya mengambil Alam di kedua ketiaknya dan langsung mengangkatnya ke dalam sebuah gendongan.

 

Anies tertegun melihat buah hati pertama milik Ganjar dan istrinya itu. Sebuah keluarga kecil dari pria yang selalu mengusik tidurnya. Si kepala keluarga tanpa sengaja jadi memperhatikan reaksi Anies terhadap anak sulungnya itu. Tatapannya netral, tanpa senyuman maupun lengkungan bibir, tetapi air mukanya memancarkan kesenduan dan kepahitan. Suatu reaksi yang tidak terpikirkan oleh Ganjar. Anies yang ia tahu pasti selalu tersenyum manis kepada semua orang, termasuk dirinya. Sudah lama sekali ia tidak bertegur sapa dengan pria yang jauh lebih muda itu, ia rindu melihat senyumnya yang seterang mentari pagi. 

 

“Ehm… Halo, Alam. Aku Anies, kenalan Ayahmu,” sapa Anies dengan sedikit kecanggungan dan keengganan.

 

“Rambut Mas Anies lucu, kriwil gitu,” celetuk si bocah nakal yang masih berada di pangkuan bapaknya.

 

“Eh, jangan ngomong gitu, Lam. Kan gak semua orang rambutnya putih kayak ayah,” sambut Ganjar dengan tawa renyah.

 

“Alam gak ngejek. Alam muji rambut Mas Anies, lucu. Alam mau punya rambut kayak Mas Anies.”

 

Anies tersenyum mendengar perkataan si anak kecil dihadapannya. Oh, seandainya Alam adalah miliknya bersama Ganjar; ia bisa saja mendapatkan rambut ikal Anies. Sayangnya itu hanyalah mimpi belaka; ia tidak bisa mengandung anak dan yang lebih pentingnya lagi Ganjar bukanlah miliknya.

 

“Mau pegang rambut Mas?” tawar Anies dengan tiba-tiba.

 

Ganjar terbelalak penuh kaget dan putra sulungnya malah memancarkan senyum semangat atas tawaran tersebut.

 

“Mau!” sahut Alam.

 

“Eh, gak apa-apa, Nies? Takutnya gak sopan…” ucap Ganjar.

 

“Kan Anies yang nawarin duluan, Mas,” ucap Anies dengan kekehan halus, tubuhnya mendekat ke arah Alam dan kepalanya sedikit ditundukan untuk memberi akses pada si bocah penasaran.

 

Tangan mungil Alam menyambut lebatnya ikal Anies dengan pelan-pelan namun percaya diri. Jemari pendeknya membelah setiap helai seperti sabit besar yang sedang membabat tumbuhan padi di masa panen. Rasanya halus dan tebal… Ganjar jadi ingin ikut merasakan halusnya rambut pria yang jauh lebih muda dari dirinya itu.

 

Anies berdehem kecil ketika ia merasakan satu tangan besar dan lebar yang ikut mengelus surai kusutnya. Matanya terpejam sejenak tanpa protes, menikmati bagaimana belaian Ganjar terasa sangat menenangkan dan penuh kasih sayang. Seandainya ia bisa mendapatkan ini kapan saja ia mau…

 

Tanpa sadar, Ganjar menggerakan tangannya yang sedang membelai rambut Anies turun menuju telinga kirinya, lalu pada pipi gemuknya. Kulit si pria yang lebih mungil itu terasa sangat halus, empuk, dan hangat. Jika saja tangannya mampu menarik semua itu kepada bibirnya agar bisa dikecup…

 

“Ayah kok malah pegang pipi Mas Anies sih?” protes Alam ketika menyadari tangan Ayahnya sudah berpindah dari rambut Anies.

 

Sontak, Ganjar menarik tangannya dengan cepat. Gelagatnya salah tingkah sambil pipinya mulai merona akan tindakan bawah sadarnya sendiri. Anies, di sisi lain, sudah lebih memerah dibandingkan pria yang lebih jangkung itu.

 

Setelah itu terdengarlah panggilan nomor penerbangan pada speaker bandara dengan sangat lantang dan jelas. Angan-angan yang ada di dalam otak Anies dan Ganjar langsung pecah sepenuhnya, meninggalkan kehangatan pada pipi si pria berambut ikal dan pada telapak tangan si pria berambut putih. Dengan cepat, Anies langsung merindukan belaian Ganjar dan dengan segera pula Ganjar merasakan dorongan untuk meraba anggota tubuh Anies yang lainnya.

 

Anieslah yang pertama kali mengucapkan selamat tinggal diantara mereka. Ia tidak repot-repot untuk berbasa-basi menanyakan detail destinasi Ganjar dan juga tidak menawarkan destinasi dirinya sendiri. Kedua tangannya dengan cekatan langsung menjinjing tas-tas bawaanya dan langsung melesat menuju antrean untuk menunjukan boarding pass pada personel penerbangan pilihannya, meninggalkan Ganjar dan Alam yang masih melongo menatapnya. Ia bermaksud untuk benar-benar memutus kemungkinan komunikasi diantara mereka, ia takut ia tidak mampu mengontrol perasaannya seperti tadi; membiarkan dirinya di bawah buaian pria beristri…

 

Tidak. Cukup sampai disitu saja. Ia tidak akan merenggut Ganjar dari kehidupan keluarga kecilnya.

 

Ganjar sendiri tidak sempat untuk menahan Anies. Masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada pria yang lebih muda itu; mengapa ia memutus komunikasi mereka tepat begitu dirinya pindah ke Depok? Mengapa ia menghindari telepon dari Ganjar? Apakah ia benar-benar sesibuk itu di dalam dunia kuliahnya? Tidakkah ia ingin mengetahui kehidupan Ganjar di Depok? Kehidupannya sebagai ayah baru dan mahasiswa S2?

 

Belum beberapa menit yang lalu pertanyaan itu tampaknya tidak perlu diucapkan karena Anies sudah berada pada genggamannya dengan nyata. Rasa kekecewaan dan bingung yang semula ia rasakan terhadap sikap Anies dulu seolah-olah sirna begitu ia mengelus wajah Anies yang ternyata sangat mungil itu. Dalam beberapa detik saja, mata batinnya seperti mampu memproyeksikan kehidupan dirinya bersama dengan Anies. Satu atap, satu ruangan, satu hati…

 

Itu semua lenyap begitu Anies memutar balik badannya dan menghilang dari radar kehidupan Ganjar untuk kesekiannya lagi. Ia tidak yakin kapan ia bisa bertemu dengan Anies lagi.

 


 

“Tanda-tanda vitalnya stabil, jadi gak tau kenapa Ayah gak juga siuman. Mas Anies mau ya nemenin kami di sini untuk beberapa hari?”

 

Permintaan yang lugu sekaligus sederhana; bahkan itu saja tetap terasa berat bagi Anies. Berat ketika ia harus melihat Ganjar yang babak belur penuh perban berdarah dan bekas jahitan. Terlalu berat ketika ia harus menahan ke khawatirannya di depan Alam yang terlihat sangat putus asa. Ia hampir menolak, demi kebaikan dirinya sendiri; lantas mengapa ia malah terduduk di samping kasur pria yang merenggut cintanya jauh bertahun-tahun silam dan mengelus tangannya dengan kehangatan yang dapat mengembalikan kehidupan ke dalam raga Ganjar?

 


 

Entah dari mana atau dari siapa Alam bisa mendapatkan nomor ponselnya. Ia juga tidak pernah mengira kalau Alam lah yang berada pada ujung saluran telepon yang berlawanan dengannya ketika ia memutuskan untuk mengangkat panggilan nomor yang semula tidak dikenal itu. Suara Alam sudah berat dan terdengar berwibawa, mencerminkan kedewasaan yang baru saja matang. Nada berbicaranya mirip sekali dengan Ayahnya. Alam tidak repot-repot untuk menjelaskan kronologinya; ia langsung memperkenalkan dirinya dengan tergesa-gesa dan menginformasikan kepada Anies bahwa sekarang mereka sekeluarga sedang di Jakarta, kota tempat Anies sedang menetap, dan Ayah dan Bundanya telah mengalami kecelakaan mobil yang dahsyat. 

 

Bunda dengan sangat disayangkan tidak bisa diselamatkan dan sudah dinyatakan dead on arrival ketika mobil ambulans sampai di rumah sakit . Ganjar berada dalam keadaan koma dan sedang di tengah-tengah operasi yang mungkin saja menyelamatkan nyawanya. Isakan Alam pecah ketika dirinya dengan polos meminta kehadiran Anies, entah untuk dijadikan kekuatan emosional baginya atau untuk mendukung dan mendoakan keberhasilan operasi Ganjar. Anies tidak ambil pusing; ia langsung menancapkan gas di mobilnya dengan segera ketika ia mendengar lokasi rumah sakit tempat Ganjar sedang dioperasi dan meninggalkan pekerjaannya dengan terburu-buru.

 

Kedua lengannya langsung ia buka selebar-lebarnya ketika melihat sosok Alam yang sudah sangat berbeda dibandingkan ketika mereka bertemu pertama kali bertahun-tahun yang lama itu di bandara Jakarta. Tubuhnya sekarang hampir sejangkung Ayahnya, rambutnya lurus dan hitam pekat, potongannya setengah mullet, dan tubuhnya tegap dan kurus; benar-benar cerminan Ayahnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya dihiasi kacamata lensa tipis yang menekan dengan keras pada sisi kepala Anies ketika dekapan mereka menyempit.

 

Entah mengapa, pelukan Alam tidak terasa asing sama sekali baginya.

 

Si remaja yang sudah piatu itu menangis sejadi-jadinya di telinga Anies. Napasnya menderu sekaligus tersendat, tangisannya lantang dan memilukan. Anies mengelus rambutnya dari belakang dengan penuh perhatian. Hatinya ia kuatkan demi Alam, demi Ganjar; ia tidak boleh menangis. Tidak sebelum para dokter membawakan berita terburuk bagi mereka berdua.

 

Mas Ganjar harus hidup apapun taruhannya. Anies tidak akan membiarkannya meninggal.

 

Kurang dari 2 jam berikutnya, seorang dokter yang masih menggunakan pakaian bedah keluar dari ruang operasi. Anies dan Alam langsung menghampiri dokter tersebut dan menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya takut terucap diantara kedua lidah. Mereka takut setengah mati terhadap jawaban yang akan diberikan sang dokter.

 

Ketika berita bagus menyambut sepasang telinga Anies serta Alam, mereka berdua langsung tersungkur di bawah lantai yang sedingin es. Alam langsung bersujud syukur sementara Anies mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada si dokter penyelamat nyawa. Matanya berkaca-kaca tetapi air matanya tidak tumpah; tidak sampai ia bisa benar-benar melihat Ganjar.

 

Siang berganti menjadi malam. Ganjar sudah dipindahkan ke ruangan observasi walau dirinya belum kunjung siuman.

 

“Tanda-tanda vitalnya stabil, jadi gak tau kenapa Ayah gak juga siuman. Mas Anies mau ya nemenin kami di sini untuk beberapa hari?” tanya Alam ketika ia selesai menanyakan keadaan terbaru Ayahnya kepada dokter yang sedang berjaga kepada Anies.

 

Anies mengangguk dengan ramah. Bibirnya tersenyum kelelahan dengan seluruh emosi yang sudah ia rasakan dari siang sampai hampir larut malam itu. Hari akan berganti dan Ganjar belum juga sadar dari komanya. Ia lalu memperhatikan Alam yang mulai kesusahan mempertahankan kesadarannya. Rasa kantuk sudah hampir menguasai tubuh si remaja sampai-sampai ia hampir tertidur di dalam pangkuan tangannya sendiri dalam keadaan terduduk.

 

“Alam, tidur aja gih di ranjang sebelah. Kasian kamu udah kecapean gitu. Biarin Mas aja yang jagain Ayahmu untuk malam ini,” perintah Anies pada remaja dengan pakaian kusut itu.

 

Alam tidak memiliki tenaga untuk membantah kenalan Ayahnya itu. Dengan lemas ia menganggukan kepalanya, mendaki kasur di sebelah tempat Ayahnya berbaring, dan langsung tertidur dengan pulas.

 

Anies akhirnya seolah-olah ditinggal berdua saja dengan Mas Ganjarnya. Ia mulai memperhatikan sosok pria yang masih rutin mengunjungi alam mimpinya itu. Perangainya sudah terlihat jauh lebih tua, kerutan-kerutan pada ujung-ujung mata serta dahinya terlihat jelas, rambutnya masih seputih terakhir ia melihatnya, tetapi air mukanya masih menunjukkan kebeliaan yang menyegarkan. Tidak aneh jika Ganjar sudah terlihat tua, Anies sendiri sudah menginjak usia 30 tahun lebih. Sudah hampir 12 tahun semenjak pertemuan tak terencana mereka di bandara itu.

 

Dua belas tahun ia mampu menjalankan hidup walau masih tetap dibayang-bayangi sosok pria berambut putih tersebut. Tetapi rasanya hidupnya terhenti untuk beberapa saat ketika melihat Ganjar dalam keadaan semenyedihkan itu. Ia tidak bisa menyapa Anies dengan senyumnya jenaka dan ada kesan jahilnya. Matanya tidak bisa berkerut ketika tertawa sambil berbincang-bincang dengan Anies. Suara beratnya yang merdu tidak bisa menyapa telinga pria berambut ikal itu bagai nyanyian di malam hari.

 

Anies melirik pada tangan Ganjar yang bebas dari jarum dan selang infus. Tangan yang pernah membelainya 12 tahun yang lalu dengan hangat. Tangan yang mengelus pipinya dengan tenang. Tangan yang membuat Anies takut setengah mati dengan apa yang mampu mereka lakukan jika saja dia tidak langsung memasang benteng tinggi diantara sentimen mereka berdua. Tangan yang membuatnya sadar betapa inginnya Anies hadir setiap saat di dalam kehidupan Ganjar dan pun sebaliknya.

 

Ia menggenggam tangan tersebut dengan serakah. Ia rasakan setiap permukaan kulit telapak tangan Ganjar. Tangan yang begitu besar dan hangat; seolah-olah mampu menampung seluruh kehidupan Anies dalam satu kepalan saja. Ia angkat tangan yang tak bertenaga itu dan membawa buku-buku jarinya mendekati bibir ranumnya yang masih bergetar sedih. Lalu ia mengecupnya dengan halus.

 

“Mas Ganjar, ini Anies. Anies izin nemenin Mas di sini sampai Mas sadar, ya?” bisiknya sambil air matanya mengalir ke arah pipi gempalnya.

Si korban kecelakaan tidak menjawab pertanyaan Anies. Matanya tetap terpejam rapat, dadanya tetap naik dan turun secara spontan dan tenang, tubuhnya diam tidak bergeming. Akhirnya Anies melepaskan genggamannya. Ia menarik kursi kosong tidak jauh dari kasur Ganjar dan duduk sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa seberat karung beras. Lelah dan lesu langsung memenuhi raganya tepat begitu Anies membiarkan tubuhnya beristirahat. Pemandangan yang ia ingat sebelum dirinya dilanda kantuk dan pada akhirnya jatuh terlelap adalah sosok Ganjar yang terkapar di hadapannya.

 


 

Tidak ada yang dapat menghalangi mereka untuk bersatu sekarang. Semuanya seolah-olah sudah diatur sampai ke titik tersebut; Anies yang menunggu duda pria idamannya dengan setia dan Ganjar yang menunggu keberanian batinnya untuk menyatakan cinta kepada pria yang ia kenal sejak dulu sekali. Keadaan memaksa mereka untuk bertemu dan berkompromi terlepas dari duka dan pahitnya kehidupan hanya demi mempersatukan 2 insan bodoh yang hanya bisa menunggu. Semesta memutuskan tidak ada lagi yang boleh menunggu.

 


 

Masuk minggu kedua setelah Ganjar siuman dan dipulangkan dari rumah sakit, Anies masih juga tidak mau menemui pria yang bertubuh jenjang tersebut. Setiap panggilan dari ponsel Alam pasti ia tunggu sampai mati dan chat darinya ia balas dengan singkat, beralasan bahwa dirinya masih sibuk dengan pekerjaanya. Sebenarnya dia tidak benar-benar berbohong untuk menghindari pertemuan keluarga yang baru saja kehilangan sosok istri dan ibu itu; Anies benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi, seperti yang banyak orang tahu, kesibukan hanyalah masalah prioritas. Semua pasti bisa Anies lakukan bahkan dalam satu waktu jika itu memang prioritas baginya. 

 

Mungkin rasa malu lah yang menghalanginya untuk menyapa Ganjar lagi. Bagaimana tidak, kejadian itu benar-benar seperti dongeng dari negeri barat; Ganjar yang masih dalam keadaan koma mendadak bisa membuka kedua kelopak matanya begitu Anies mengecup keningnya yang masih berbalut perban steril. Benar-benar seperti kisah Sleeping Beauty.

 

Pasalnya, Anies sudah muak menunggu selama 3 hari di ruang rawat inap bersama dengan Alam. Bukannya ia tidak suka berbincang dan menghabiskan waktu dengan anak dari pria yang ia cintai itu, tetapi kesannya Ganjar seolah-olah menolak bangun untuk menyatakan bahwa keadaannya sudah baik-baik saja. Para dokter sudah melakukan berbagai tes pada pria berambut putih itu dan semuanya menyatakan normal. Ganjar sudah dalam kondisi yang stabil berdasarkan seluruh tes yang bisa dilakukan, lalu mengapa ia tidak juga mau bangun dari lelapnya?

 

“Mas, kenapa gak mau bangun sih? Ini udah 3 hari loh. Alam sampe ngambek tuh sama Mas, dia udah bela-belain beliin kopi kesukaan Mas, udah nyiapin makanan kesukaan Mas juga, tapi Mas masih gak bangun. Dokter-dokter juga pada bingung loh sama keadaan Mas,” ucap Anies pada suatu sore di ruang rawat inap tempat Ganjar berbaring. Kebetulan ia sedang ditinggal berdua saja dengan Ganjar karena Alam sedang pergi jajan.

 

“Aku juga udah nemenin Mas selama 3 hari ini. Apa mungkin karena ada aku Mas jadi gak mau bangun? Mas gak mau kah ketemu dengan Anies?” tanya Anies tanpa mengharapkan jawaban dari yang diajak bicara.

 

“Atau… jangan-jangan Mas malu ketemu sama aku, ya? Masnya belum dandan soalnya, takutnya nanti gak ganteng,” kekeh si pria berambut ikal, perkataannya mulai melantur sambil menghibur kekhawatirannya.

 

“Yah, kata aku sih Mas tetep keliatan ganteng mau dandannya kayak gimana juga. Mas udah keliatan ganteng banget pas kita ketemu pertama kali, 18 tahun yang lalu… ”

 

“Saking gantengnya, Anies sampe belum pernah mencintai siapa-siapa lagi selain Mas Ganjar. Menyedihkan banget ya?”

 

Dengan mata yang sendu, Anies menatap wajah Ganjar yang tenang dan tanpa emosi. Terlepas dari seluruh perban dan bekas lukanya, Ganjar masih memancarkan ketampanan yang selalu membuat Anies silau. Kening yang maskulin, hidung yang tegas, alis yang awas, dan bibir yang tipis dan berwibawa yang selalu membuat Anies berdebar-debar jika melihatnya.

 

“Kalo Anies cium, Mas mau bangun ya?” tawar si pria jomblo.

 

Tanpa menunggu respon dari Ganjar, Anies beranjak berdiri dan menghampiri si pria jenjang. Bibir ranumnya ia dekatkan pada dahi Ganjar dan mengecupnya dengan hangat. Dari situ, waktu seolah-olah berhenti di antara mereka. Anies menarik dirinya sedikit ketika ia merasa adanya pergerakan dari pria yang baru saja dikecup. Dirinya hampir mati berdiri ketika melihat ternyata sepasang mata teduh Ganjar sudah mengintip parasnya dan bibirnya tersenyum masih penuh kantuk.

 

“Ini Mas bangun,” sapa Ganjar dengan suara serak bagai katak di pinggir sungai.

 

Wajah Anies langsung merah padam ketika menyadari bahwa Ganjar bisa saja sudah siuman mulai dari dialog polos nan memalukannya tadi.

 

Jadi semenjak itulah Anies terus menghindari Ganjar sampai 2 minggu lamanya. 

 

Tetapi tentu saja Ganjar yang dalam kurun waktu tersebut sudah hampir mendapatkan tenaganya lagi secara penuh terus mencari cara untuk bertemu dengan pria yang jauh lebih muda itu. Ketika kesadarannya pulih karena kecupan hangat Anies, seluruh tujuan hidupnya menjadi jelas. Ia jadi mengerti kenapa selama bertahun-tahun ini hidupnya selalu terasa seperti ada lubang kecil yang tidak dapat dipenuhi oleh kebahagiaan apapun. Hari-harinya yang selalu ia jalani dengan penuh angan-angan tak beralasan menjadi jelas, pikirannya menjadi berkabut ketika melankolia menyerang hatinya tanpa sebab. Semuanya terjadi hanya karena ia tidak memiliki Anies di sisinya. 

 

Batinnya tertawa mengejek atas kebodohannya selama ini; memendam dan menolak perasaannya sendiri pada sosok anak SMA yang menyuguhkannya sirup di ruang keluarga kediamannya. Obsesi yang ia tolak mentah-mentah ketika rangkulnya mendekap mahasiswa baru yang menangis tersendu-sendu atas kepulangan Abahnya. Rasa gatal yang tidak ia garuk tepat ketika telapak tangannya mengelus pipi tembam Anies di bandara yang dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Tetapi sekarang ia tidak akan menolak itu semua; tidak ketika ia tahu Anies lah yang mengecupnya untuk membawanya kembali ke dalam kehidupan.

 

Ketika sosoknya sampai pada pintu rumah Anies dengan napas yang terengah-engah, bibirnya tersungging dengan senyuman paling cerah yang pernah ia pasang. Baru saja tangannya hendak mengetuk pintu depan di hadapannya tersebut, kakinya menolak berdiri tegak untuk menyokong torsonya. Bukan hal yang aneh ketika raganya yang masih dalam tahap pemulihan pascaoperasi harus dipaksa lari sepanjang 8 kilometer untuk menghampiri Anies. Jadi, Ganjar langsung terperosok tepat di teras Anies dengan memalukan. Seluruh tubuhnya berkedut protes atas olah tubuh yang dilakukan mendadak sekali, paru-parunya terasa bisa meledak kapan saja di setiap tarikan dan hembusan napas yang dalam dan berat, jantungnya memompa seluruh pasokan oksigen sekencang mungkin sampai-sampai pria bertubuh jenjang tersebut mampu mengecap darah di dalam tenggorokannya.

 

Tetapi ia tidak ambil pusing, ia tetap terkekeh geli dengan tindakan intrusifnya tepat ketika Alam menyebutkan alamat lengkap kediaman Anies. Rasanya ia harus segera, saat itu juga, langsung bertemu dengan pria berambut ikal itu dan menyatakan cintanya.

 

Ia akhirnya beringsut sedikit untuk menyandarkan punggung kurusnya pada pintu di hadapannya sambil terduduk. Napasnya ia coba atur dan seluruh tungkai serta lengannya diluruskan. Matanya memandang pada mentari yang berkilau cerah siang itu, pikirannya dipenuhi oleh wajah cantik Anies yang masih belum mengetahui kehadirannya di teras depan. Memorinya lalu memutar suatu reka adegan bertahun-tahun silam; tentang kisah seorang nabi yang menunggu istrinya di pintu depan rumah mereka. Suatu kisah yang mampu membuat seorang anak SMA tertawa tersipu-sipu di depan Ganjar. Tawa yang langsung membuatnya jatuh hati saat itu juga.

 

“Mas Ganjar?” ucap suatu suara terbekam yang berasal dari sisi pintu bagian dalam.

 

“Nies?” balas Ganjar dengan kaget, punggungnya masih menempel erat dengan daun pintu bagian luar.

 

“Mas ngapain di luar gitu? Gak mau masuk?” tanya Anies dengan bingung, pintu masih tertutup dengan rapat.

 

“Entaran deh ya, ini Mas masih ngos-ngosan,” sebut Ganjar.

 

“Mas lari ke sini?”

 

“Hehehe… iya, dek.”

 

Daun pintu langsung terayun membuka, sontak tubuh Ganjar langsung terjatuh ke belakang. Ia memekik kaget tetapi matanya langsung terpusat pada wajah cantik Anies yang membingkai lapang pandangnya.

 

“Orang baru sembuh kok udah lari-lari aja sih?” protes Anies dengan galak.

 

“Lah, siapa yang ngumpet-ngumpet gitu gak mau ketemu Mas?” protes balik Ganjar, masih dalam posisi berbaring di lantai.

 

Wajah Anies langsung merona bagai tomat rebus, pandangannya langsung dialihkan. Ia jatuhkan dirinya di samping Ganjar.

 

“Aku gak ngumpet-ngumpet kok.”

 

Ganjar tersenyum sambil meraih salah satu tangan mungil Anies. Ia kecup punggung tangannya dengan lembut. “Bohong.”

 

“Uhm… lagian Mas ngapain kesini? Aku lagi banyak kerjaan.”

 

Ganjar tertawa lantang dengan usaha membohong Anies yang kalengan itu. Ia elus punggung tangan Anies dengan ibu jarinya.

 

“Mas mau mengaku cinta sama kamu, dek. Sama mau sekalian minta cium juga, tapi kali ini di bibir. Jangan di kening.”

 

Wajah Anies kian memanas mendengar pengakuan dari Masnya itu.

 

“Mas masih dalam pengaruh obat ya?” tanyanya masih tidak percaya.

 

“Enggak, Nies. Mas udah cinta sama kamu dari dulu, dari pertama ketemu. Mas bodoh aja gak langsung sadar dengan perasaan Mas. Satu hal mengarah ke hal lain, tapi pada akhirnya Mas sekarang ada di sini bareng kamu,” ucap Ganjar dengan tulus.

 

Rasanya Anies perlu mencubit dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak percaya atas apa yang baru saja telinganya dengar. Tubuhnya bergidik merasakan sapuan bibir hangat Ganjar pada punggung tangannya.

 

“Kamu… mau terima cinta Mas enggak? Walau udah bertahun-tahun terpendam?”

 

Air mata yang jernih langsung berlinang pada mata Anies. Mulutnya mengeluarkan tawa gemas dan matanya menyipit karena senyumannya, menumpahkan linangan air mata akibat emosinya yang terlalu meledak-ledak. Ia raih kedua belah pipi Ganjar dan menyambut bibir lebarnya dengan bibir ranumnya yang empuk. Ia kecup Ganjar dengan romantis dan penuh makna. Seluruh emosinya ia curahkan pada ciuman tersebut, seluruh hari-hari galaunya, seluruh angan-angan penuh harapan selama ini, seluruh keluh kesah rindu yang tidak disuarakan, ia tumpahkan semuanya pada kecupan di antara bibir mereka.

 

Masih dalam ciumannya, Ganjar menghela lega. Biarlah waktu menjadi saksi penungguan mereka. Walau bodoh, walau lama, walau tidak sempurna, ia tidak peduli. Ia tidak perlu menunggu lagi dan begitu juga Anies cintanya.

Notes:

Disclaimer lagi:

Gk ada mksd2 tertentu aku bawa2 'unsur agama' Islam di sini. Bukan bentuk penistaan (ekhem) dan bukan juga bentuk 'islamisasi'. Semuanya aku tulis murni untuk tujuan narasi, nothing else.

Bagi yang butuh penjelasan, Rasul (Muhammad SAW, nabi utama yang mendakwahkan ajaran Islam) punya beberapa istri, salah satunya istri muda bernama Aisyah. Aisyah merupakan putri dari sobat Muhammad, Abu Bakar. Nah untuk kredibilitas cerita antara Muhammad dan Aisyah itu masih dipertanyakan sih, tapi yg jelas aku emg pernah baca cerita semacam gt. Jadi bagi yg agak ke trigger atau gmn, setidaknya aku udh nyampein alesan aku ehehehe.

Kudos dan komen akan sangat dihargai, aku seneng bgt bacain interaksi kalian soalnya :'
Until next time~