Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-13
Words:
1,184
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
19
Hits:
408

No Traces

Summary:

Kau bahagia, maka itu sudah cukup untukku pun bahagia.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Aku tak tahu, seberapa penting berita ini hingga mereka berada dimana-mana. Bahkan mereka terpampang dalam megatron di pusat kota yang penuh sesak ini. Semua orang yang melintas melihatnya, mengetahuinya, dan turut bersuka cita.

Satu berita kebahagian datang dari sepasang kekasih yang telah menjalin cinta selama sepuluh tahun.

Seorang vokalis band terkenal dengan kekasihnya yang merupakan aktris dengan banyak judul drama yang selalu menjadi hits.

Sepasang kekasih yang sejak keterlibatan mereka dalam satu projek drama, menarik banyak perhatian orang-orang karna kemistri diantara keduanya, sehingga banyak yang menjadi penggemar mereka, bahkan menjodoh-jodohkan mereka. Dan itu terjadi sejak sepuluh tahun yang lalu, dan ternyata mereka benar menjalani hubungan secara diam-diam semenjak projek drama tersebut.

Sungguh para penggemar bahagia bukan kepalang begitu mengetahui fakta ini. Dan kini, keduanya mengumumkan berita bahagia itu. Tersebar dimana-mana.

Sungguh sesuatu yang sangat jarang sekali.

Akhirnya aku berada di masa dimana para fans meng-amini hubungan percintaan idola mereka.

Well, mungkin masih belum seluruhnya. Tapi khusus untuk pasangan yang satu ini, mereka benar-benar sangat dicintai oleh para penggemar. Semua orang ingin ikut serta merayakan kebahagian mereka.

Aku tersenyum, lebar sekali.

Bahagia atas berita pernikahan mereka yang kini tersebar luas dimana-mana.

Aku bahagia, hingga air mataku jatuh tanpa kusadari.

Dalam hati aku mendoakan kebahagian mereka dengan setulus hati.

Selamat Sunjae. Kini kebahagiaan kita telah berada di depan mata..

.

.

.

“Im Sol!!! Ayo cepat kesini, sebentar lagi akan dimulai!!!”

Im Sol seketika berhenti dengan pekerjaannya ketika mendengar Hyunju dengan suara menggelegarnya yang memecah perhatian seluruh karyawan.

“Ya ya, hari ini sudah ditentukan menjadi hari libur nasional. Apa yang kalian lakukan? Ayo segera berkumpul kemari!!!”

Im Sol tertawa mendengar pernyataan berlebihan Hyunju.

Ia meninggalkan komputer di hadapannya dan pergi menuju Hyunju dan karyawan lainnya yang sudah berkumpul di depan televisi kantor mereka.

“Akan sangat menyenangkan sekali jika hari ini benar-benar menjadi hari libur nasional. Maka seharusnya aku tidak berada di kantor ini dan bersantai saja di rumah.” Ucap Im sol sambil mencomot kudapan di hadapannya yang sudah dipersipakan untuk acara nonton bareng mereka.

Benar-benar deh, mereka semua sangat bersemangat.

“Tapi lebih asik begini kan, jadinya kita bisa menyaksikannya bersama-sama. Pasangan kesayangan kita, kapal Sunjae Sonya akhirnya benar-benar berlayar!!!!”

Hyunju benar-benar sangat gemirang gembira sekali. Kakinya bahkan menghentak-hentak girang.

Im Sol tertawa geli melihatnya.

Wajar Hyunju sebahagia ini. Sejak drama Sunjae dan Sonya melejit, Hyunju menjadi salah satu penggemar yang menaiki kapal mereka, alias sangat berharap sesuatu benar-benar terjadi di antara Sunjae dan Sonya yang menjadi tokoh utama dalam drama tersebut. Dan ternyata mereka benar-benar menjalin hubungan semenjak drama tersebut.

“Aku masih sangat tidak menyangka sekali Sol-ahh. Aku dan fans yang lain benar-benar sangat heboh sejak hari pertama mereka mengumumkan hubungan mereka. Lalu tak lama setelah itu mereka bahkan mengumumkan pernikahan mereka!!! Dan itu adalah hari ini!!! Daebak, rasanya seperti mimpi. Halusinasi kami selama ini ternyata adalah nyataa!!!”

Hyunju masih saja dengan sangat antusias kembali menceritakan momen-momen kapal favoritnya itu, Sol hanya mengangguk-angguk mendengarkan sambil terkekeh geli.

Dasar, umur sudah setua ini masih saja bersemangat dengan hubungan artis, hehe

“YA YA YA SUDAH DIMULAI. HARAP DIAM!!!”

Karyawan yang lainnya berteriak menyadarkan Hyunju dan Sol yang dari tadi heboh sendiri.

Kini Hyunju mengambil tempat duduk paling dekat dengat televisi dan matanya fokus dengan tayangan dalam televisi tersebut.

Ya, benar.

Hari ini, proses pernikahan Sunjae dan Sonya disiarkan di salah satu stasiun televisi yang dulunya menayangkan drama fenomenal mereka.

Sebesar itu antusias para penggemar hingga hal yang seingat Sol sangat jarang ini benar-benar terjadi.

Dari dalam layar televisi, tampak sosok Sunjae dengan tuxedo putihnya, dengan rambut yang ditata ke belakang, sehingga menampakkan jidatnya yang tentu saja dapat membuat para penggemar berteriak kagum. Ia tampak tampan, tampan sekali.

Setampan dalam ingatan Sol dulu...

“AAAA lihatlah raut gugupnya ituu!!! Sangat menggemaskann!!!”

Hyunju dan karyawan lainnya berteriak penuh antusias. Sol dapat membayangkan seluruh warga korea saat ini sedang heboh seperti ini juga menyaksikan  pernikahan sakral ini.

Sol kembali fokus pada layar televisi dimana Sonya kini telah masuk ke dalam ruangan, berjalan menuju altar.

Ia tampak sangat menawan, dengan gaun putihnya, dan riasan simple namun tetap memancarkan kecantikannya. Tangannya dirangkul oleh ayahnya, menuju sang pujaan hati.

Sonya kini telah berada di hadapan Sunjae, mereka saling menatap dengan penuh cinta. Hyunju dan yang lain berteriak memekik terharu akan pemandangan tersebut.

Hingga akhirnya pendeta berdiri di hadapan pasangan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suami istri itu, Im Sol tak kuasa lagi menahan segala rasa sesak yang ada di dadanya.

“Aku ke toilet dulu. Sudah tidak bisa ditahan lagi!”

Im sol berucap dengan sekuat tenaga menahan getaran di suaranya.

“Ya ampum di saat penting begini. Kau akan ketinggalan momen berharga ini!!!”

Hyunju mengomel tapi matanya tetap fokus pada layar.

Im Sol tak membalas lagi, ia bergegas ke toilet. Masuk ke dalam bilik toilet, dan menguncinya rapat-rapat.

Kedua tangannya menangkup mulutnya dengan kuat, menahan segala isak yang kini tumpah ruah.

Air matanya sudah mengucur sejak ia berlari menuju toilet. Pipinya basah, merah, dan hatinya hancur berkeping-keping.

Ini adalah jalan yang ia pilih sendiri, dengan segala kesadaran yang ia punya.

Tapi ia tak dapat mengelak bahwa hatinya hancur, tak terhingga.

Ia dengan tulus mendoakan kebahagian untuk lelaki yang paling ia kasihi, tapi hatinya sakit, karna ia takkan pernah menjadi bagian dari hidup lelaki itu.

Sol jatuh terduduk masih dengan menangkup wajahnya, menahan segala isakan tangis. Ia tak ingin membuat kericuhan dengan tangisnya yang tak berarti ini.

Dalam hati ia berdoa, semoga tidak ada orang yang datang ke toilet, sehingga ia bisa dengan leluasa meluapkan kesedihannya ini.

.

.

.

Im Sol berjalan dengan lesu menyusuri jalan yang sunyi. Ia meninggalkan mobilnya di parkiran apartemennya, dan memutuskan untuk berjalan sebentar di sekitar apartemennya.

Ia tak lagi menangis, ia sudah cukup puas melakukannya tadi. Hatinya lumayan lega.

Untuk saat ini...

Sol menghela nafas. Dalam hati beberapa pertanyaan terus-terusan memenuhi benaknya.

Kenapa ia harus merasakan sakit yang tak terhingga begini?

Apa yang ia lakukan hingga pantas mendapatkan nasib seperti ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja muncul di kepalanya.

Lagi dan lagi, air mata itu kembali turun. Sol menghapusnya dengan ujung lengan bajunya.

Menatap nanar lengan bajunya yang entah sudah keberapa kalinya basah karna air mata.

“Biarlah. Biarlah. Semua kulakukan agar Sunjae tetap di dunia ini.” Sol menggumam lirih.

Butiran salju mendarat di tangannya. Sebutir, dua butir, hingga kini tangannya penuh dengan butiran salju.

Im Sol memandangi salju dengan tatapan nanar.

Dulu, hujan adalah kesukaan Sunjae, tapi kini salju lah yang menjadi kesukaannya. Hari ketika ia bertemu dengan kekasih abadinya. Sol mengetahuinya dari wawancara Sunjae yang pernah ia tonton.

Sol tersenyum memandangi salju yang berjatuhan.

Ia bahagia. Pasti bahagia, jika Sunjae bahagia.

Kebahagian Sunjae adalah satu-satunya yang paling penting dalam hidupnya.

Tidak ada yang lain.

Sol kembali melangkah menyusuri jalan yang sunyi itu.

Kesedihan ini takkan pernah habis, tapi dia akan kembali terbiasa, seperti yang sudah dia lakukan selama bertahun-tahun ini.

Lagipula, kesedihan ini takkan berlangsung lama lagi.

Dalam kesunyian itu, samar-samar ia mendengar gemerincing lonceng yang selalu menghantui hidupnya.

Kini ia tak lagi gemetar ketakukan. Ia akan menghadapinya, lagi.

Dengan tekat penuh, Sol berbalik badan, menyambut akhir dari segalanya.

Akhir dari pengorbanannya.

Semua berlangsung dengan sangat cepat. Badannya terasa ringan, bebannya kini terangkat.

Bibirnya mengulas senyum penuh kelegaan.

Selamat tinggal, Sunjae. Semoga kau selalu bahagia.

.

.

.

END.

Notes:

Gk sengaja malah bikin fic angst begini hehe
Pls kindly write your comment ya subeom♡♡♡