Actions

Work Header

New Unmarked Sheet

Summary:

Rin terbangun dalam keadaan terbalut piyama tipis, dengan elusan pada sprei ranjang yang tercium harum juga lembut, sama sekali tiada garis kusut, tak seperti semalam yang bahkan tak terbentuk. Apa ia larut dalam mimpi begitu jauh sampai dengan pergantian sprei juga pakaiannya pun tak tahu?

Work Text:

Hal pertama yang dirasa ketika ia membuka mata adalah rasa sakit yang luar biasa dan menjalar pada keseluruhan badan. Permainan egois Nagi semalam benar-benar membuatnya tak berkutik. Jangankan melayangkan kata memohon, suaranya saja telak dibuat serak. Air matanya dikuras sampai tak lagi mampu memproduksi. Peluh membasahi tubuh layaknya sehabis mandi, dan suhu panas ruangan mengalahkan dinginnya suhu dari air conditioner.

 

Sungguh, bangkit untuk duduk pun rasanya seperti berusaha setengah mati. Bahkan futsal dengan kaki kram atau kebas tidak ada apa-apanya dibandingkan sensasi saat ini.

 

Ia ingin kembali tidur. Tenaga sama sekali belum ada, sekadar menggerakkan tangan pun ia enggan. Lelah, perih pada bagian bawah. Namun ada pekerjaan rumah yang mencegahnya dari niat berleha-leha begitu pandangan terarah ke jarum jam dinding, membelalak kala waktu memberikan keterangan pukul dua belas siang.

 

Tak disangka tindakan beringas seorang Nagi Seishiro mampu membuat Rin tertidur begitu pulas.

 

Omong-omong, soal pria berambut sewarna platina itu, Rin tidak menangkap sosoknya bersamanya di ranjang, diiringi dengan pengumpulan nyawa yang spontan menyadarkan bahwa ada sesuatu yang telah dikerjakan.

 

Rin terbangun dalam keadaan terbalut piyama tipis, dengan elusan pada sprei ranjang yang tercium harum juga lembut, sama sekali tiada garis kusut, tak seperti semalam yang bahkan tak terbentuk. Apa ia larut dalam mimpi begitu jauh sampai dengan pergantian sprei juga pakaiannya pun tak tahu?

 

Pusing, ia menundukkan kepala, lalu mengingat-ingat adegan di mana Nagi terus menghujamnya tanpa kenal ampun, mengabaikan Rin yang menangis dan merengek penuh putus asa. Kalau saja Rin sanggup meminta maaf dan menelan keegoisannya bulat-bulat, mungkin pria itu sudah memberikan keringanan atau mengubah tempo permainan.

 

'Nggak ada yang bisa sentuh kamu sampai sedalam ini, Rin. Iya, 'kan?'

'Kamu bakal ulangin kesalahanmu lagi, nggak?'

'Perlu aku seperti ini lagi supaya kamu ngerti?'

 

Ah, memikirkannya justru membuatnya ingin menangis lagi.

 

Bersamaan dengan melayangnya kilas balik, indra pendengaran menangkap suara pintu kamar terbuka dengan Rin yang terburu-buru untuk kembali pada posisi awal— di mana si cantik masih terlelap dengan satu tangan menjadi alas tambahan untuk pipi. Nagi tak menyadari rekayasa itu, dibuktikan dengan ia mendekati sosok di atas ranjang dan mengusap wajah sang kekasih penuh hati-hati, lalu perlahan menjalar ke rambut berwarna hijau gelap yang lepek hasil persenggamaan satu malam penuh.

 

"Sayang, Rin," panggil Nagi selagi tangannya masih nyaman untuk sekadar hinggap di paras rupawan Rin, setiap inci dari wajah tak ia lewatkan untuk diberi sentuhan penuh afeksi. "Ayo bangun. Kamu belum mandi."

 

Gelagat yang lebih muda tampak benar-benar seperti baru saja terbangun akibat friksi antara kepala dengan sebuah telapak tangan yang menghasilkan gestur usapan, padahal sudah terhitung lebih dari sepuluh menit ia kembali ke alam sadar. Rin mengerjap seolah-olah berusaha untuk menangkap gambaran jelas dari figur yang kini tepat berada di depan pandangan, lalu memalingkan sorot mata itu ke arah di mana Nagi tak terlihat olehnya. Bukan sebuah kesengajaan Rin untuk mengalihkan pandangan, sejujurnya rasa takut itu masih bersemayam akan bayangan amarah Nagi yang meletup dan tersalur melalui persetubuhan semalam. Ketika teringat oleh kedua iris keabu-abuan itu bak menggelap, keberaniannya untuk menatap Nagi semakin lenyap. Namun ada segelintir ketakutan mulai tersingkir saat pria itu berbicara dan menyapa pendengarannya begitu lembut tanpa tersisip intimidasi sama sekali, dengan tubuh tingginya membungkuk untuk menyertai kecupan pada dahi.

 

"Kamu boleh marah sesukamu, tapi ayo mandi dulu." Ucapan diikuti dengan terangkatnya Rin dan dipindahkan dalam gendongan, meringis begitu tubuh bagian bawah dirasa layaknya terpisah dari bagian atas. Nagi yang menyadari spontan berucap maaf sembari langkahnya dibawa menuju ke dalam kamar mandi. "Maaf, Sayang. Maaf, tahan sedikit, ya."

 

Adalah perkataan sebelum Nagi menurunkan figurnya lepas dari gendongan, ditempatkannya yang lebih muda di dalam bak mandi berisi air hangat. Tak heran Nagi mengulang kata maaf sebab kini air rendam menyapa permukaan kulit seperti sengatan arus listrik berskala kecil. Rin tak banyak berbicara untuk sekadar mengeluh perih terutama pada area selangkangan, maka desisan pelan terlontar setiap kali pergerakan Nagi mengarah ke bagian bawah tubuhnya dan berakhir memilih untuk menyabuni badannya secara mandiri. Walau demikian, proses membersihkan diri itu tetap dibantu olehnya untuk membilas rambut supaya tak berlama-lama, kecuali bagian menyikat gigi, tentu Rin tidak ingin benar-benar seperti anak kecil. Dengan sabar Nagi menunggunya lalu memakaikannya jubah mandi sebelum sosoknya kembali digendong keluar dari kamar mandi.

 

Sejak nyawanya terkumpul, banyak hal tertangkap oleh visual Rin mengenai setiap titik yang ia lihat dari kamar tidur hingga kamar mandi. Semuanya bersih bahkan setiap sudut terlihat tertata rapi. Tidak ada pakaian kotor dalam keranjang, ranjang dengan sprei baru, lantai kedua ruangan pun bisa ia klaim bersih dan kesat meski kedua kakinya sama sekali belum menyentuh permukaan. Mungkinkah Nagi telah mengerjakan pekerjaan rumah? Namun pikirannya terlampau skeptis sebab ia tahu dengan tabiat sang kekasih.

 

Tanpa disadari, seharusnya Rin pun merasa aneh dengan perlakuan istimewa Nagi hari ini. Dimulai dari terbangun sampai kembali ke ranjang dalam keadaan segar usai mengguyur air ke sekujur tubuh setelah dibuat berpeluh semalaman, Nagi benar-benar telaten dalam mengurus yang lebih muda terlihat dari bagaimana pria itu tak membiarkannya berjalan sendiri dan membantunya membersihkan diri.

 

Rin tetap diam dalam kondisi rambut tertiup oleh embusan angin dari pengering rambut, Nagi tidak mengizinkannya berbaring dalam keadaan setengah basah, jadi pria itu hanya menurut sembari menunggu rambutnya selesai dikeringkan.

 

"Kamu mau makan apa? Kita pesen aja, ya. Aku nggak yakin masakanku aman untuk perut kamu." Pertanyaan mendadak dari Nagi tentu spontan membuat pikiran bak terisi oleh kumpulan sampah gumpalan kertas di mana tiada satu pun nama makanan tertulis untuk diucapkan, masih bergelut dengan pikiran selagi Nagi masih menunggu jawaban untuk didengar sambil ia meletakkan pengering rambut pada letak asal, lalu memakaikan Rin kaus juga celana pendek— ia terkekeh saat tersadar bahwa ia memakaikan Rin kaus miliknya. "Wait, ini kaus aku."

 

Rin menggeleng dan menahan kedua tangan Nagi yang hampir menyingkap kaus yang dikenakannya. "No, aku mau pakai." Terlanjur nyaman dalam balutan baju kebesaran, lagipula ini milik pacar sendiri. Nagi tak ambil pusing dan membiarkan Rin memakai kaus miliknya.

 

"Sei—"

 

"Hm?"

 

"Aku nggak mau makan nasi," Ujarnya dengan sedikit keraguan yang harus ia telan, Rin enggan, suasana hatinya tidak menginginkan kehadiran makanan utama masuk ke pencernaan. "Aku mau buah."

 

Kejutan datang begitu Nagi hanya mengangguk mengiyakan daripada membujuknya untuk mengonsumsi nasi— memang seperti itu biasanya 'kan?

 

Nagi pergi ke dapur selama beberapa menit, pada saat yang bersamaan, Rin bersandar pada ujung ranjang. Sepertinya, hari ini ia memiliki nol persen dalam kesanggupan berjalan. Menyeret badannya mundur untuk sekadar bersandar saja bagian bawahnya langsung mengirimkan sinyal perih. Pintu kamar terdengar kembali dan terlihat sosok Nagi membawa nampan dengan mangkuk di atasnya berisi beberapa varian buah yang sudah dipotong, juga segelas air putih yang ia letakkan di atas nakas terlebih dulu agar terhindar dari adegan air tumpah. Mangkuk itu ia angkat dan ditaruhnya nampan di lantai pada sisi tempat tidur, badannya perlahan naik ke atas kasur lalu mengambil posisi di samping Rin untuk ia suapi.

 

Satu suapan pertama hendak ditujukan ke arah mulut yang lebih muda, namun sang empu hanya menatapnya tanpa membuka mulut, mengundang gestur memiringkan kepala dari yang lebih tua.

 

"Mau .... pangku." Permintaan itu cukup jelas terdengar walau terucap samar, bersamaan dengan Rin yang menunduk karena malu juga rona merah pada kedua pipinya tanpa permisi menghias. Jadilah Nagi menaruh mangkuk berisi buah itu untuk sesaat, memposisikan diri di tengah-tengah lalu menarik tubuh Rin mendekat, tak lupa pelan-pelan dalam mendudukkan Rin di atas kedua paha dalam posisi menghadapnya. Diambilnya kembali wadah berbahan beling itu setelah memastikan Rin nyaman menduduki singgasana ekslusifnya, "Aaaaa." Nagi menginstruksikan Rin untuk membuka mulutnya, menyuapi si pemilik iris pirus itu layaknya seorang bayi.

 

Kegiatan suap dan disuapi itu berlangsung tanpa ada percakapan. Walau masing-masing dari mereka tertanam suatu keinginan untuk mengungkapkan perasaan, keduanya memilih untuk menikmati keheningan dengan sedikit suara dari garpu dan mangkuk yang saling bersinggungan. Rin menyukai setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya, dan Nagi menyukai bagaimana Rin menyambut suapannya dengan antusias. Tentu ia lapar, dan makan sesuatu yang diinginkan sudah pasti menyenangkan sebab sebuah senyum tipis terpatri begitu manis pada bibir yang lebih muda.

 

"Sei, udah ... makan?" Rin bertanya dalam keadaan buah yang masih ia kunyah, setiap kata memiliki jeda dan terucap tak jelas. Kedua pipinya menggembung bersamaan dengan Nagi yang tak kuasa menahan gemas untuk mencubit pipi sang empu, ia memilih untuk mengelap sudut bibir Rin menggunakan ibu jarinya. "Udah, Sayang."

 

Lalu suasana kembali sepi setelah Rin menanggapi dengan anggukan pelan. Buah-buah di dalam mangkuk berukuran sedang itu akhirnya tandas, Nagi meletakkannya dan mencondongkan badan untuk mengambil gelas yang ia taruh di atas nakas.

 

"Kenyang?" Rin mengusap perutnya yang kini berisi setelah menghabiskan buah dalam jumlah banyak, ia menyodorkan kembali gelas yang sudah melompong isinya ke Nagi, yang lebih muda hanya membalas dengan sendawa dan spontan menutup mulutnya. Menahan malu luar biasa, ia baru saja mengeluarkan suara itu tepat di depan wajah Nagi. Sedangkan si pria rambut putih itu hanya tersenyum geli, sebisa mungkin menahan tawanya agar tak menyinggung. Nagi menyeret tubuhnya lebih mundur untuk menyandarkan punggung pada ujung ranjang, disertai dengan satu tangan merengkuh pinggang Rin.

 

Hela napas mengudara, Nagi mengusap rambut legam itu, menyelipkan poni yang tumbuh panjang di belakang telinga. "Rin, dengerin aku."

 

Ada sebuah tensi yang tiba-tiba meninggi, Rin sedikit tegang ketika mendengar suara Nagi yang berubah seperti semalam. Ia takut akan dimarahi lagi meski ia memaksa kepalanya untuk mendongak, memberanikan diri menatap wajah sang kekasih.

 

"Aku minta maaf untuk ini," Nagi mendaratkan kedua telapak tangannya menyusuri pinggang lalu turun sampai paha Rin. "Aku terlalu kasar semalam sampai kamu susah jalan. Semua udah terlanjur karena aku lepas kendali. Aku cemburu sama temen-temen kamu, Rin. Aku nggak pernah semarah ini sama kamu. Kamu tau, aku nggak gampang cemburu, tapi aku minta tolong untuk jaga batasan sentuhan sama temen-temen kamu, ya?"

 

Rin menelan ludah susah payah, menggigit bibir bawah sebelum ia menetralkan cemasnya. Ia tak tahu, bahwa kejujuran sederhana mampu membuat kedua matanya berkaca-kaca. Nagi selalu memberi tahu soal perasaan cemburu, sedangkan ia kepalang cuek untuk mendengarkan, dan Rin mulai melimpahkan pikiran bahwa semua ini terjadi atas keegoisannya.

 

"Aku yang minta maaf sama kamu, Sei," Rin mulai menghapus jarak di atas pangkuan, membuat dada mereka saling bersentuhan yang di mana detak jantung dari keduanya bisa dirasakan. Wajahnya dipendam di ceruk leher Nagi, takut ia tidak bisa mengontrol ekspresi kala berbicara sembari menatap iris keabu-abuan milik Nagi. "Kalau kamu nggak begitu, mungkin aku bakal terus ngulang kesalahan aku."

 

Ada senyuman lebar dan perasaan lega dari Nagi yang Rin lewatkan karena tak mau saling bertatapan. Vokalnya saja sedikit bergetar, namun secepatnya kembali normal begitu Nagi mengusap punggungnya pelan. Kedua bahunya didorong, mau tak mau kembali melihat wajah Nagi dengan senyuman merekah. Pria yang lebih tua menangkup pipinya, lalu membubuhkan kecupan sekilas pada bibirnya.

 

"It's okay. Aku cuma mau denger maaf dari kamu. Makasih, Sayang."

 

Entah siapa yang memulai, Rin dalam pangkuan memegang kedua tangan Nagi yang menangkup kedua pipinya. Kedua ujung hidung mereka menempel satu sama lain dan berujung menyatukan bibir, memagut secara lembut. Rasanya, kecanggungan dan segala yang mencakup permasalahan semalam itu pupus dalam satu ciuman. Rin bahkan lupa akan perih pada bagian bawah tubuhnya saat pinggul itu tidak bisa diam pada tempatnya, menggeliat penuh gelisah begitu pagutan semakin dalam. Di sisi lain, Nagi menahan pinggul Rin yang tak karuan bergesekan dengan pahanya. Yah, walau tak langsung menyentuh bagian krusialnya, tetap saja sensasi itu akan tersalurkan ke sana.

 

Pagutan itu perlahan terlepas setelah Rin mengisyaratkan Nagi dengan menarik rambutnya. Dua sejoli itu saling memasok oksigen yang telah direnggut untuk sesi mengobrol bibir dengan bibir. Kekehan terlontar, melupakan semua kecanggungan layaknya hal-hal yang sudah lalu tak pernah terjadi.

 

"Sei," Jemari lentik itu turun, bergerak maju mundur di leher Nagi, menghasilkan rasa hangat bercampur sedikit hasrat. "Aku mau lebih."

 

Eh— padahal, semalam ia dibuat menangis sampai tenggorokannya serak. Namun sekarang Rin memancingnya lagi.

 

"Kamu masih sakit, aku nggak tanggung jawab kalau kamu nggak bisa jalan sampai beberapa hari ke depan."

 

"Mmh— kamu yang kerjain semua pekerjaan rumah selama aku nggak bisa jalan. Ini salahmu karena yang kebagian enaknya semalam cuma kamu."

 

"Licik." Nagi dengan jahil menepuk pantat si cantik, mengundang reaksi terkejut juga pekikan kecil. "Serius kamu? Ini sprei baru, Sayang."

 

Alih-alih menyayangkan nasib baru untuk sprei baru, Rin menyunggingkan senyum selagi pergerakannya bertambah nakal. Lagi dan lagi, pinggulnya semakin sengaja dibuat bergesekan.

 

"Ayo tandain sprei yang baru ini."

 

Sungguh, Nagi sendiri tak habis pikir dengan tingkah centil kekasihnya. Namun tak masalah, semua kemauan Rin akan ia turuti, seriskan apa pun itu.

Series this work belongs to: