Work Text:
“Ta, please?”
Penuh harap Mingyu memelas, menggenggam tangan pacarnya—Sita dengan lebih erat, tak cukup menyadari bahwa jari-jarinya lembab oleh keringat gugup. Sementara gadis berpakaian nyentrik satunya tak mengindahkan Mingyu, memilih untuk berpura-pura menonton layar lebar bioskop seakan tidak mendalangi kemalangan yang sedang menimpa pacarnya sendiri.
Harusnya Mingyu tidak perlu menerima bujukan Sita yang memintanya mereservasi dua kursi teater dengan jadwal tayangan terakhir menjelang tengah malam.
Harusnya Mingyu belajar dari kesalahannya selama ini untuk tidak mempercayai Sita yang telah berulang kali menjadikan dirinya sebagai objek eksperimen berbagai situasi untuk menuntaskan hasrat kotor perempuan itu sendiri.
Sialan. Lagipula mengapa Mingyu bisa terjebak dengan Sita, cockring, satu butir obat perangsang, dan kursi bioskop yang ia pegang erat-erat untuk menahan resah?
“Please Ta, gak bisa,” bisik Mingyu lirih dan menarik lengan Sita sedikit lebih keras—menunjukkan desperasi lebih terang-terangan. “Malu, nanti ketahuan kalau celana aku basah.”
Sita tak bereaksi banyak, hanya melirik tak acuh dan melepaskan pegangan Mingyu dari lengannya dengan satu bantahan telak. “Berisik. Kencing aja di sini, emangnya lo masih punya malu?”
Mingyu meringis dalam benak. Persetan. Dirinya bahkan separuh tidak menyangka bisa bertahan sejauh ini dalam hubungan aneh bersama Sita, kakak tingkat yang ia temui lewat aplikasi Bumble. Dua bulan terlewat sejak mereka mulai berkencan—setelah hubungan tanpa status dengan berkali-kali sesi check-in sekonyol alasan bahwa Mingyu kepalang konak dipertemukan dengan seseorang yang jago degrading dan berkacamata bingkai tebal—preferensi yang kadang malu untuk Mingyu akui telah melatarbelakangi situasinya saat ini.
Sementara afeksi lelaki itu sepanjang waktu seperti tidak berbalas dengan imbang, kebanyakan kencan mereka diisi hal-hal aneh yang Sita sukai seorang diri—menjadikan Mingyu sebagai objek dari segala kesenangannya itu. Pegging, bondage, public humiliation, and now; drugs.
Bangkit dari kursinya dengan kaki sedikit gemetar, Mingyu berjalan menuruni baris-baris kursi dengan terburu seraya berulang-ulang menarik turun jaket bomber yang ia kenakan untuk menutupi bagian depan celananya sendiri. Kaki-kakinya ditarik cepat untuk berlekas meninggalkan teater yang tak diisi lebih dari lima orang itu, menggigit bibir bawah dengan penuh kecewa karena tahu Sita tidak mengekorinya dengan sebuah permintaan maaf. Sepanjang langkahnya menuju toilet di luar bioskop, Mingyu hanya mampu menahan ringis dan sepenuhnya gusar dengan harap-harap cemas tidak ada seorang kenalan pun yang melihatnya dengan kondisi sedemikian berantakan.
Nafasnya berhenti ditahan begitu memastikan toilet ini sepenuhnya kosong. Terburu-buru masuk ke bilik paling ujung serta segera menarik slot kunci untuk menutup. Tangan Mingyu berlekas meloloskan kancing celana dan menarik turun fabrik kaku itu bersama dengan brief yang ia kenakan hingga pertengahan paha.
“Shh… fuck—”
Ringisan Mingyu disusul lenguh kecil begitu ia menyentuh ereksinya dengan hati-hati. Pangkal penisnya dilingkari cincin sementara ujungnya basah oleh kucuran sperma sendiri—sepenuhnya ngilu, hampir terasa sakit karena gejolak hasratnya yang membumbung namun tercekat cockring untuk menjauhkannya dari klimaks.
Sekujur tubuh Mingyu terasa panas. Bukan, tidak dalam artian sebenarnya yang membuat ia ingin diterpa pendingin atau bertelanjang diri. Panas ini disulut hasrat yang merangkak menjilati setiap inci tubuh Mingyu. Dimulai dari ereksi kerasnya yang butuh atensi, kulit yang sepenuhnya meremang oleh setiap friksi bahkan dari gesekan pakaian sendiri, hingga pucuk-pucuk dadanya yang menegang dari balik kaus polo putih—tampak teramat mencolok, kotor, cabul—sewaktu Mingyu melepas bomber yang ia kenakan dan menjatuhkannya di atas ubin.
Mingyu tidak mengenali label dari butir perangsang yang Sita paksakan kepadanya untuk diminum. Berapa lama efeknya? Apa akan semakin memudar seiring waktu? Bisakah Mingyu bertahan untuk berpikir jernih sampai efeknya hilang? Mingyu berharap ia bisa memutar waktu, meninggalkan Sita atau rencana semacamnya untuk menghindarkan diri dari segala hal-hal aneh milik perempuan itu.
Mata Mingyu memerah karena meredam amarahnya sejak tadi—merasa bodoh, kecewa sekaligus ingin juga menangis.
Uh, it’s not getting any better.
Menyandar pada sisi bilik, Mingyu perlahan mencoba melonggarkan cincin yang melingkari pangkal ereksinya meski terasa semakin mencekik. Tangan kanannya menahan batang penis yang memerah, mencoba menarik keluar karet hitam itu yang segera ia sesali karena justru membuat nyeri kejantanannya. “No, no—No, I can’t do this.” Kepalanya menggeleng-geleng, bibirnya digigit semakin keras.
Mencari opsi untuk meloloskan cockring itu, gemetar mencoba memompa batang penisnya dalam genggaman tangan. Keringat membanjiri sekujur tubuh Mingyu karena berulang-ulang gagal untuk mencoba masturbasi—berkeinginan meredakan hasratnya yang justru semakin membuatnya panik terlebih desperate karena tak kunjung menemui ejakulasi.
“Ouuhh—anjing!” Mingyu menunduk, melihat tangannya yang kesulitan dan semakin meragukan keputusannya untuk mengurut penisnya. Kepalang mencari nikmat ditengah badai panik karena sekalipun ia berupaya mencapai klimaks, spermanya tak kunjung tumpah ruah dan hanya membuatnya semakin sensitif. “Ahhh… Gak kuat… Sita anjing—”
“Ada orang di dalam?”
Mata Mingyu membeliak, mulutnya jatuh menganga panik begitu suara berat terdengar setelah tiga ketukan di balik pintu bilik. Ada bayangan dari bawah daun pintu dilengkapi sepasang boots berwarna hitam—bukan khayalan Mingyu setelah ia coba memastikan untuk mencari tahu.
Mingyu menarik langkahnya mundur menjauhi pintu sekalipun tak ada ruang banyak yang tersisa, membuatnya menyudut pada sisi kloset yang tertutup hingga tak sengaja membuat gagang jet shower jatuh terbanting ke atas ubin dan menimbulkan bising. Jantungnya bak diusir dari rongga dada begitu pintu bilik berayun terbuka—sial! Ternyata slot kuncinya memang rusak, terlihat dari baut yang ikut jatuh bergelinding di lantai.
Rasanya seperti disiram mentah-mentah dengan air mendidih. Mingyu menggigil ketakutan, malu, merasa menjadi paling bejat karena di sini dirinya menjadi pihak yang dipergoki setengah telanjang dengan ereksi terpampang—bekas sperma menetes ke lantai juga memperburuk kondisinya saat ini.
“S-saya—saya gak—”
“Gue kirain ada orang mabok,” ujar pria satunya tenang. “Ternyata orang sagapung jam segini.”
Wajah Mingyu semakin padam, ditarik menunduk semakin dalam. Tangannya buru-buru ingin menarik celana namun lebih dulu tercekal tangan pria yang kini ikut masuk memenuhi bilik sempit ini.
“L-lo mau ngapain?”
“Hm, ngapain ya?” Menjawab dengan nada congkak, sebelah tangannya ditarik untuk menemukan dagu Mingyu dan memaksanya mendongak untuk saling menatap.
Sepasang maniknya terhalang kacamata berbingkai tebal, segaris senyum kecil, dan raut wajah yang tidak dapat Mingyu terka sedang merencanakan apa. Secara teori, Mingyu yang lebih tinggi dan dibekali gumpalan bisep lebih besar dari milik orang di depannya ini bisa dengan mudah melawan, menolak dengan tindak anarkis, atau kalaupun perlu Mingyu bisa membuatnya babak-belur total.
Namun bagaimana wajah tampan lelaki itu terlihat tenang, tangannya mengelus-ngelus rahang Mingyu, dan sebelah tangannya lagi ditarik naik untuk menangkup sepanjang batang penis Mingyu untuk diuruti hingga bagian testisnya yang penuh—ada bisik berisik yang menghantui kepala Mingyu yang terlanjur diracuni sebutir perangsang dari Sita.
“Gue Wonwoo. Nama lo siapa, ganteng?”
⋆⋅☆⋅⋆
Semesta mungkin akhirnya menghadiahi Mingyu dengan garis takdirnya yang selama ini tertukar dengan milik orang lain. Menemukannya tersudut dalam bilik sempit toilet mall dengan kaus polo tersingkap sampai atas dan seorang laki-laki bernama Wonwoo yang sibuk menyusu. Menjilati puting kanan Mingyu dengan atentif, meninggalkan gigitan-gigitan geram, sementara noktah lainnya dipelintir tak kenal ampun dengan jari-jari Wonwoo yang kasar. Stimulasi bertubi-tubi yang membuat Mingyu tak sanggup untuk tak meloloskan setetes atau dua tetes liur dari bibirnya yang terbuka dan menutup selama menyuarakan vokal.
“Hhgnn…” Mingyu mendesah parau begitu merasakan bibir Wonwoo menjalar dari puting, kini mulai menjelajahi kulit dadanya yang basah oleh peluh. Kecupan-kecupan ringan yang menjelma hisapan-hisapan sensual, meninggalkan bercak merah keunguan di atas kulit sewarna perunggunya yang mengilap basah oleh jejak ludah. “Mas—uhh… Pegang gue, please…”
Menciumi leher Mingyu dan menyudutkannya semakin lekat pada dinding bilik, Wonwoo mengabulkan harap lelaki yang ia sedang kerjai. Tangannya meraba menuruni otot abdomen Mingyu, berhenti pada batang penis yang sejak tadi tak berhenti menitikkan precum. “Becek kayak gini, lo gak mungkin cuma sange karena kepergok kan?”
Mingyu melenguh. Sial. Dengan suara seberat itu berbisik tepat di daun telinganya yang kemudian dikulum dan dijilati dengan sedemikian lihai, apa yang dapat Mingyu lakukan selain menggeram penuh desperasi? Mencengkram bagian depan kemeja kerja Wonwoo, Mingyu menggeleng pasrah. “Gue dikerjain… sama c-cewek gue pake—hgnn—obat…”
Raut skeptis Wonwoo langsung terpatri seperti dugaan Mingyu. Tak ada orang waras yang akan terjebak dalam situasi ini, Mingyu sepenuhnya yakin kesialan ini bahkan tidak akan menimpa orang-orang dengan fetish exhibitionist di luar sana. It’s just his shitty luck, milik Mingyu sendiri yang mungkin jadi tamparan keras baginya untuk segera meninggalkan Sita.
“Biar apa?” Tanya Wonwoo yang disusul erangan Mingyu begitu tangannya menguruti kepala penis lelaki itu dengan ibu jari. Menggoda lubang kencingnya dengan gesekan-gesekan kecil, memancing leleh cairan untuk keluar lebih banyak. Jarinya yang basah oleh precum Mingyu dibawa untuk mengoleskan cairan itu pada dada Mingyu, menggosoknya, melicinkan gerakkan untuk memelintir puting Mingyu lebih leluasa. “Biar dia seneng? Lo dientot cowok lain? Gak masuk akal.”
“Aah, ahhh!” Kedua tangan Wonwoo mencubit masing-masing puting Mingyu, menjepit tonjolan itu dengan keras sampai empunya merengek mencoba meronta.
“Susu lo sering dimainin juga, kan? Putingnya gede.” Komentar vulgar Woonwo menyulut sisi terdalam Mingyu untuk mengamini pertanyaan itu dengan sebuah anggukan. Jawabannya menerbitkan satu senyum miring dari bibir Wonwoo yang—sial, Mingyu ingin menciumnya. “Dipelihara cewek gila berapa lama lo? Well trained banget gue liat-liat.”
“Uhh… Mas Wonwoo…”
Menghadiahi raut desperasi Mingyu dengan kocokan cepat pada batang penisnya, Wonwoo menikmati bagaimana tubuh besar Mingyu yang dibekali otot-otot kencang sepanjang matanya memandang itu mengejang namun tak mencoba meloloskan diri dari cekalan kuasanya. Dua puting yang memerah bengkak dan sekujur tubuh diselimuti peluh tipis yang membuat kulit tan lelaki ini semakin menggoda untuk dikerjai—Wonwoo tak masalah jika malam ini lembur sedikit lebih lama.
Menuntun Mingyu untuk melipat dan menaikkan sebelah lutut di atas kloset, kedua tangan memegangi dinding, dan kaki telanjang satunya yang dicengkeram erat-erat oleh Wonwoo untuk memaksa pahanya tetap terbuka—situasi ini sebenarnya tidak seburuk apa yang terdramatisir dalam kepala Mingyu.
Tak diduga, Mingyu menelan ludah begitu sebelah tangan Wonwoo menampar bongkahan pantatnya kencang. Perih itu kembali bersambut dengan tangkupan telapak tangan lebar yang kemudian dibawa untuk meremas gumpalan daging itu dengan geram. “Udah pernah dipake belum?”
Sesederhana gelengan Mingyu rasanya tak cukup untuk menjelaskan situasi yang menjebaknya selama dua bulan terakhir. Maka bibirnya dibuka untuk menjawab dengan kepala mencoba menoleh ke belakang dengan niat mencari wujud Wonwoo. Namun instan, mata Mingyu disuguhi wujud Wonwoo yang sudah menurunkan celana kerjanya sendiri—meloloskan batang penisnya yang melebihi ukuran Mingyu, diselimuti urat-urat menonjol, dan menjanjikan sesuatu yang tidak pernah Mingyu berani bayangkan selama ini dalam benaknya.
Dientot pake kontol gimana ya rasanya?
Dijejali batang-batang silikon berbagai ukuran milik Sita rasanya tidak pernah mempersiapkan Mingyu untuk menerima batang penis Wonwoo. Jadi dengan sisa nafas yang akhirnya berani ia hela, mata yang berkedip-kedip sedikit takut, akhirnya Mingyu menjawab; “Gue belum pernah… sama kontol beneran.”
Kekehan terlepas dari bibir Wonwoo, ia sampai-sampai perlu mendengus untuk meredam geli. Benar, sungguh seperti mendapat jackpot. He’s so inviting—totally desperate. Bahkan begitu Wonwoo melumuri tangannya sendiri dengan lelehan precum Mingyu, mencoba memasukkan satu jari ke liang analnya—Wonwoo tak sedikitpun kecewa.
Merasakan dua jari panjang mencoba melonggarkannya, Mingyu menoleh ke belakang berkali-kali. Bibirnya digigit keras, tangannya mencari-cari tempat untuk mencengkeram hingga akhirnya menyerah begitu ujung bantalan jari Wonwoo berhenti dan ditarik keluar. Perih dari lubangnya berganti kedutan mendamba begitu menonton Wonwoo meludah ke telapak tangannya sendiri, meratakan lendir liurnya pada jari-jari sebelum kembali dibawa menerobos anal Mingyu sekali lagi.
Ludah Wonwoo mempermudah gerak dua jarinya sekalipun memang tak selicin lubrikan buatan, namun sudut pandang cabul Mingyu mengelu-elukan bagaimana kotornya adegan itu sampai sekujur tubuhnya ikut mencari-cari perhatian dari Wonwoo—pengen diludahi.
“Mas Won, M-Mas… Pengen keluar—uhhhh…”
“Coba kocok kontolnya sendiri.” Pintah itu diikuti sebelah tangan kiri yang sedang tidak sibuk mengobrak-abrik liang anal Mingyu untuk menampar bulatan sekal pantatnya, membuat empunya melenguh lirih dan menunduk menahan perih.
Mingyu menurut.
Hati-hati jarinya melingkari penisnya sendiri, memompa batang mengeras yang berkali-kali sensitif tak kunjung diberi klimaks sejak tadi. Belum lagi masih ada cincin karet yang masih menghalangi jalan ejakulasinya, memaksa Mingyu menahan isak begitu pompaan tangannya membuat ia semakin kelimpungan tak tahu harus melakukan apa.
“Kocok yang cepet, jangan berhenti dong. Katanya mau keluar, kan?” Bibir Wonwoo menuruni tengkuk basah Mingyu, melumat potongan leher lelaki itu dengan penuh minat begitu mendengar kerasnya desahan Mingyu. Sementara jarinya bertambah satu digit, membelah Mingyu hingga terasa longgar—berantakan dan pasrah, lebur tak punya kuasa untuk menolak.
Jari-jari itu ditarik keluar tanpa aba-aba, membuat nafas Mingyu tercekat dan gerak tangannya sontak terhenti begitu merasakan benda tumpul lain mencoba menerobos memenuhi liang analnya dengan sedikit paksa.
“Haaahnn—Mas Wonnn!” Ereksi itu didorong masuk agak terburu, menodong Mingyu dengan tuntutan untuk menelan habis kejantanan itu sekalipun rasa penuh dan perih begitu mengganggu. “Mas, Mas Wonwoo gak bisa—gak bisa masuk, jangan keras-keras…”
Suara panik Mingyu sukses menyulut Wonwoo menjadi lebih keji, mengentak masuk seluruh batang penisnya sampai habis, sampai Mingyu mengerang keras begitu merasakan ganjalan daging itu memenuhinya—sesak. Namun begitu rasa perih mereda, Mingyu tak mampu menjelaskan bagaimana friksi dari setiap tarik dan dorongan penis Wonwoo menjawab rasa gatal tak tertahan yang membuat sekujur-kujur tubuhnya merinding. Seakan jawaban yang ia cari semenjak menginjakkan kaki di muka ruang teater bioskop adalah untuk hal ini—dikontolin Mas Wonwoo.
Menarik keluar sampai ujung sebelum disodok masuk sampai mentok, Mingyu tak sekuat perkiraannya sendiri. Tangan-tangannya mengepal, kepalanya menunduk dalam, tak menyadari bahwa hal itu justru mengundang tamparan baru pada pantatnya dan disusul geraman Wonwoo setelah merasakan Mingyu mengetatkan cengkraman liang analnya.
Mengeluarkan ereksinya untuk membalik tubuh Mingyu, memaksa lelaki itu terduduk di atas kloset sebelum pahanya ditarik dan lubangnya kembali dipenuhi—Wonwoo menggigit pipi dalamnya untuk mengurai senyum. Ganteng, masih sama seperti impresi pertama sewaktu Wonwoo bertemu tatap dengan Mingyu setelah pintu rusak bilik toilet ini ia buka. Bedanya sekarang Mingyu menjelma berkali-kali lipat lebih ganteng, diguyur peluh dan sekitar dagunya basah oleh liur yang menetes karena sibuk Wonwoo entotin.
Tangan Wonwoo terulur untuk kembali mengerjai puting Mingyu yang menggodanya sejak tadi. Mencuat menantang, bengkak dan masih setengah basah oleh air liur Wonwoo yang sisanya telah bercampur keringat. Semenjak jempolnya menemukan ujung noktah-noktah itu, Mingyu tak henti merengek—mendesah pendek uh, uh, uh! untuk kemudian melenguh kecil dengan nada lebih manja.
“Kenapa? Teler susunya gue pelintir-pelintir kayak gini?”
“Untung gue yang nemuin, kalo ketemu sama anak-anak lain bisa abis lo digilir satu-satu.”
Setiap kalimat provokatif Wonwoo selalu berhasil menyulap Mingyu menjadi lebih mendamba, needy, ingin ditanya dengan kalimat yang lebih kotor. Mengendus gelagat Mingyu yang selalu meneteskan precum baru setiap ditanyai demikian membuat Wonwoo membentuk konklusi; nih cowok pengen dientot sambil dipancing-pancing omongan jorok. “Mau? Mau gak digilir? Dipake rame-rame sampe hamil peju?”
“Hgggnnn—!” Mingyu melenguh panjang begitu Wonwoo melesakkan ereksinya sampai ujung. Ejakulasinya tertahan cockring, hanya menyemburkan cairan encer lebih banyak. Sementara mata Mingyu semakin basah oleh tetes air mata, sebegitu ingin klimaks—pengen muncrat tapi gak bisa.
“Bilang sama gue, enak gak dikontolin kayak gini?” Mempercepat gerak pinggulnya, penetrasi Wonwoo menjadi lebih berantakan. Cairan precumnya mengisi liang anal Mingyu, membuat bunyi kecipak basah yang kontor diekori kerasnya tamparan paha mereka—mengisi petak toilet dengan bising cabul.
Mingyu pasrah.
Ereksinya sudah kepalang ingin meledak, seperti sudah diujung puncak namun masih tertahan. Ada buncahan hasrat yang menggulungnya habis hingga tak sadar justru kelepasan pipis. Cairan encer selain sperma mengalir dari batang penisnya—tak deras namun membasahi pangkal paha dan turut mengotori panggul Wonwoo, membuat lelaki satunya seketika tergelak puas. “Anjing! Kencing beneran lo?”
Tertawaan itu menggiring Mingyu menyembunyikan wajah dengan lipatan tangan, sungguh-sungguh malu. Pernah mendengar kalau beberapa obat perangsang membuat penggunanya tak punya kontrol, namun apa ini juga termasuk salah satunya? Mingyu tersentak begitu tangannya disingkirkan dari wajah.
“Gue mau liat muka lo,” ujar Wonwoo tak mengindahkan padam wajah Mingyu dan melanjutkan sodokan penisnya tanpa ampun. “Kencingin aja—hgnn—gak perlu… lo tahan-tahan.”
Seiring kencang sodokan Wonwoo, jari-jari Mingyu menemukan punggung dan baju Wonwoo untuk diremat. Bibirnya bahkan sudah robek berdarah karena sering ia gigiti sendiri; menanggung ngilu, nikmat, dan hasrat melambung membuat kepalanya pening bukan main.
Menyeret ereksinya semakin dalam dengan hentakan intens mengerjai titik nikmat lelaki di bawahnya, tangan Wonwoo terangkat untuk menemukan dagu Mingyu—menuntun lelaki itu dalam ciuman dalam. “Hmmph…” Menghisap bibir atasnya, mencecap bibir dalamnya dengan kaitan lidah untuk kemudian lebih lamat ia hisapi bibir bagian bawah. Khidmat berbagi liur kepada satu sama lain, menuntun Mingyu untuk membalas belitan lidahnya yang kian menuntut.
Wonwoo menarik mulutnya menjauh, menatap Mingyu atentif dengan kacamata setengah berembun setelah ciuman panas mereka. “Gue keluarin di dalem,” serak Wonwoo setengah parau dan disusul erangannya sendiri. “Anjing—enak banget lo.”
Satu hentakan telak yang mengenai area prostat Mingyu memaksa lelaki itu mengejang, mencengkram baju kerja Wonwoo keras-keras dengan mata terpejam erat. “HAHHH—nnngg! Masss—ini a-apa…”
Rintihan itu membuat Wonwoo memahami apa yang sedang dihadapi Mingyu. Senyumnya ditarik congkak dan semakin sibuk mendorong masuk penisnya—mengejar penuntasannya sendiri. “Barusan lo keluar tapi gak muncrat kan? Dry orgasm tapi tadi pipis-pipis gini.” Wonwoo separuh terengah dan terkekeh jenaka. “Kontol bocor mana bisa dipake buat ngetotin cewek.”
Menghentak dalam-dalam, Wonwoo menunduk untuk berbisik serak nyaris hilang suara di depan wajah Mingyu penuh pengejekan. “Cocoknya cuma buat dikontolin cowok lain kan, Mingyu?”
