Work Text:
Liburan musim panas tidak mengalami gelombang panas seperti tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan musim panas tahun ini jauh lebih singkat dan di akhir bulan depan sudah mulai memasuki musim gugur. Waktu itu Suo dan Nirei pergi berkencan. Sebenarnya tujuan utama mereka pergi membeli persediaan makanan, namun karena itu juga waktu yang sempurna untuk jalan-jalan.
Di dalam supermarket yang ramai, Nirei berhenti menelusuri rak demi rak perlengkapan bumbu dan bahan pokok.
"Detergen sudah, teh celup sudah, saus tomat sudah, terus yang belum...ah, sudah semua." Nirei yang memegang catatan belanjaan menceklis semua keperluan mereka. Lalu dia menoleh ke belakang.
"Kamu perlu sesuatu, Suo?" tanyanya kepada kekasihnya yang bertugas mendorong troli berisi penuh belanjaan Nirei. Suo melirik kiri-kanan tampak berpikir, lalu kemudian dia membalas.
"Aku mau kamu." jawabnya sambil tersenyum manis.
Nirei yang serius menunggu jawaban menjadi kesal karena di goda seperti itu, tapi tidak dipungkiri pipinya terasa panas karena gombalan receh kekasihnya ini. Alhasil karena semua belanjaan sudah beres, mereka pergi ke kasir dan Suo yang membayar.
Total ada dua kantong besar untuk mengemas belanjaan mereka dan Suo yang membawakannya. Nirei sudah menawarkan, tapi Suo menolak dan membawanya seorang diri. Selalu dengan act of service dari Suo Hayato yang jarang membiarkan kekasih membawa sesuatu. Bukan memanjakannya, tapi berdasarkan pengalamannya, Nirei sudah 6 kali melalaikan kantong belanjaan setiap berbelanja. Kalau tidak ketinggalan di suatu tempat, kelupaan, atau yang lebih buruk kantong belanjaan yang dibawanya selalu jebol. Entah bagaimana yang terakhir bisa terjadi tapi itu sudah terjadi 3 kali dan telur selusin yang dibeli berakhir pecah.
Suo memaklumi jika terkadang kekasihnya ini agak clumsy, mau marah juga tidak bisa. Bagaimana bisa dia marah jika Nirei akan segera menyesali perbuatannya dan meminta maaf seolah-olah meminta ampun seperti habis membunuh seseorang. Aneh tapi Suo sayang sama keluguan Nirei.
Untuk mengurangi ketidak gunaannya karena membawa tangan kosong, Nirei pergi ke toko kue dan membelikan kue teh kesukaan Suo.
"Seenggaknya aku tidak pernah menjatuhkan bingkisan kue dari tanganku, ya kan Suo." ucap Nirei dengan bangga, dia memamerkan kue yang dia belikan untuk Suo.
Suo hanya melihat betapa menggemaskannya Nirei tidak tahan lagi untuk mengecup pipinya. Nirei terperanjat kaget di cium tiba-tiba di depan publik. Nirei mengeluh pada kelakuan Suo yang selalu membuat salah tingkah tapi hanya ditanggapi dengan senyum bangga Suo tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Mereka berjalan menuju arah pintu keluar supermarket. Ketika mereka melewati sebuah papan mading yang di pajang di depan pintu masuk, disitu tertempel sebuah pamflet yang diabaikan lalu lalang orang-orang. Tapi mata Nirei sangat jeli dan langsung terpaku pada judul pamflet itu. Ternyata sebuah poster promosi sebuah pameran seni.
"Wah, Suo Suo. Lihat, besok ada pameran seni." Nirei terpana membaca seluruh informasi yang tercantum di poster besar di depannya.
"Siapa? Leonardo Da Vinci?" tanya Suo bingung.
Nirei melotot ke arah kekasihnya, menatapnya tak percaya seorang Suo Hayato tidak mengenalnya.
"Dia terkenal loh Suo, masa kamu tidak tahu?"
Suo menoleh kearah Nirei lalu menggeleng dengan wajah polos. Sungguh, dia tidak kenal siapa pelukis ini.
Nirei melongo lagi. Bagaimana bisa orang-orang mengabaikan hal ini, padahal lukisan dalam pameran ini dari pelukis terkenal. Terlebih lagi kekasihnya yang sangat jenius tidak tahu. Nirei tentu mengetahuinya dan sangat menyukai karya-karyanya.
"Dia pelukis yang pernah kuceritakan kemarin. Karya pertama langsung terkenal, langsung dapat harga lelang tertinggi, lalu disusul dengan karya lainnya. Tapi yang paling mencolok dari pelukis ini adalah tidak banyak yang tahu bagaimana rupanya. Pelukis ini tertutup banget."
Nirei tampak senang saat menjelaskan, kemudian dia tanpa sadar mulai menceritakan beberapa karya seni kesukaannya. Nirei akhir-akhir ini tertarik pada karya seni rupa, terutama lukisan, karya Johannes Vermeer adalah favoritnya.
Namun Nirei sadar jika Suo tidak begitu memperhatikannya. Dia seketika terdiam, Suo yang sejak tadi mendengar Nirei sambil membaca isi pamflet langsung menoleh.
"Ngomong-ngomong, Suo sudah pernah ke pameran seni sebelumnya?" Nirei bertanya dengan malu-malu, jika diingat lagi selama menjalani hubungan lebih dari tiga tahun Nirei belum mengetahui hal ini.
Suo menarik senyum tipis, menjawab. "Belum pernah."
"Eh, serius?"
Suo mengangguk lagi dan Nirei percaya. Suo memang tidak begitu menyukai hal-hal seni rupa atau semacam itu. Pelajaran terburuknya adalah seni. Bagi Suo, seni adalah sesuatu yang tidak tetap, akan berubah tergantung pelakon seni itu sendiri. Mungkin Nirei telah menyadarinya.
Tapi Suo juga peka kalau Nirei sangat ingin pergi ke pameran dan ingin mengajaknya. Dia juga menebak jika Nirei jadi sungkan mengajaknya pergi setelah tau Suo tidak tertarik dengan seperti ini. Suo mengenal baik tabiat kekasihnya yang selalu mendahulukan perasaan orang lain dan daripada dirinya ini. Dua kantong belanjaan dibawa dengan satu tangan tanpa kesulitan, sedangkan satunya terangkat untuk menyelipkan anak rambutnya Nirei ke belakang telinga. Perlakuan mengundang atensi Nirei yang menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Bagaimana kalau kita pergi kencan lagi besok." ajak Suo, tangannya yang memainkan rambut Nirei dengan nyaman mengelus pipinya.
Nirei mengangguk setuju. Bahkan kencan berkedok belanja adalah idenya Suo. "Boleh. Kemana?" sahut Nirei.
Sup menarik lengkungan senyum yang tak lelah bertengger di bibirnya, membawa hawa panas yang menjalar di pipi tembem Nirei setiap kali disuguhi rupa tampan kekasihnya. Suo memberi kode dengan lirikan matanya ke arah pamflet.
"Ke pameran seni."
Mendengar itu Nirei sontak terkejut, menatap kekasihnya tak percaya. Namun bukan Suo namanya yang berbohong untuk hal-hal yang di antusiasme oleh kekasih manisnya ini. Nirei menjadi bersemangat dan mengangguk cepat.
"Mau, mau, mau!"
Suo tertawa kecil melihat ekspresi Nirei dengan cepat berubah terang dan matanya berbinar seperti kena percikan manik-manik berkilau. Nirei juga tak tahan senangnya sampai merangkul lengan Suo yang menganggur, mengayunkannya seperti anak kecil yang dikabulkan permintaannya. Tetapi kecentilan Nirei tak bertahan lama saat menyadari mereka masih ditengah keramaian dan mengundang berbagai tatapan reaksi dari orang-orang.
Kemudian seperti yang dijanjikan, keesokan harinya mereka pergi ke pameran seni yang terjadwal di pamflet sore kemarin.
Suo takjub karena Nirei benar-benar teramat sangat senang untuk mendatangi pameran seni, karena apa, dari kedatangan mereka dan Suo masih sibuk dengan parkir paralel, Nirei hampir tak sabar untuk turun lebih dulu dan ingin nyelonong masuk.
Sebenarnya ia baru tahu jika kekasihnya ternyata memiliki minat dalam seni. Suo sendiri tidak begitu mengerti tentang seni, tapi Suo sangat senang hal tentang Nirei. Berapa kali pun dia melihat Nirei tersenyum bahagia seperti sekarang, Suo menyukainya lebih dari pada seni manapun.
"Ramainyaaaa~" Nirei bergumam takjub, Suo di sebelah mengangguk setuju. Padahal yang dimaksud ramai adalah lukisan yang terpajang di sepanjang dinding pameran, untuk jumlah pengunjung tidak seramai yang di terlihat.
"Aku yakin pamerannya nanti ramai pengunjung setelah jam tiga sore makanya aku buru-buru ngajak kamu keluar siang ini, Suo. Kamu tidak marah, kan?" ujar Nirei khawatir di akhir.
Nirei selalu seperti ini, mencemaskan hal yang tidak perlu seperti apakah dia marah atau tidak, dan ini yang membuat Suo tak pernah bisa menolak permintaan kekasihnya.
"Untuk apa aku marah. Bukannya kamu tahu kalau mau berhenti aku marah, kamu tinggal cium aku. Ya kan, Sayang?"
"Kamu tidak pernah ngomong begitu, Suo."
"Memang tidak pernah, tapi kamu sendiri sering bujuk aku dengan cara itu, kan?"
Nirei yang sadar diri bahwa dia sudah kalah telak tidak berani mengelak atau menambah perdebatan. Pipinya terasa sangat panas dan memerah hingga ke leher. Suo terkekeh kecil berhasil menggoda Nirei, dia menggandeng tangan yang lebih pendek dan membawanya masuk ke dalam galeri seni.
Setelah beberapa langkah lebih jauh, perhatian Nirei dengan cepat teralihkan. Pandangan tidak lepas untuk tolah-toleh secara bergantian menatap tiap lukisan yang mereka lewati. Suo yang awalnya memimpin jalan, berganti Nirei yang menyeret Suo. Suo sendiri lebih pasif, dia hanya menatap lamat-lamat suatu lukisan namun Nirei terlalu buru-buru mengajaknya ke spot lain. Dia terus berdecak kagum, memuji tiap detail lukisan, menganalisis pesan dan arti lukisan untuk di gumamkan sendiri, memotretnya dan kembali menarik tubuh kekasihnya yang masih asik memandang satu lukisan yang dilihatnya baru kurang dari lima menit.
"Astaga, Nirei, kamu kenapa buru-buru?"
"Aku tidak sabar melihat lukisan berikutnya, Suo. Masih ada 56 karya lagi yang menanti."
Memang benar pameran kali ini menampilkan banyak karya si pelukis sepanjang hidupnya. Nirei adalah pria yang aktif dan selalu bersemangat dengan hal baru, membuatnya kadang tak sabaran untuk menuntaskannya. Suo tertawa lelah, setengah hari mereka habiskan untuk mengelilingi satu galeri.
Setengah jam setelah jam makan siang selesai, baru mereka selesai mendatangi setiap spot. Nirei mendesah puas dengan apa yang dilihatnya. Dia bahkan sudah menghitung apa saja yang menjadi kesukaannya.
"Aku ingin melukis!"
"Ya?"
"Aku mau melukis Suo."
Nirei tiba-tiba menjadi bersemangat ingin memegang kuas dan melukis semua imajinasi di kepalanya yang terpacu setelah melihat karya-karya menakjubkan.
"Sekarang?" tanya Suo lagi dan Nirei mengangguk penuh semangat hingga rambutnya bergerak ikut, seolah menambahkan keinginan Nirei untuk melukis.
Nirei tidak punya peralatan lukis sama sekali dan dia ingin mengajak Suo untuk membelinya terlebih dahulu. Tapi hari itu sudah cukup sore dan langit mulai gelap.
"Bagaimana aku belikan peralatan melukis untukmu besok saja?" Suo menyarankan, dia juga menambahkan kalau besok dia sudah masuk kerja dan ada meeting dengan klien. Mendengar itu Nirei mengurungkan niat untuk pergi beli malam ini dan menurut apa kata Suo.
Toh kekasihnya tetap menjanjikan akan membelikan semua set peralatan lukis untuknya setelah pulang kerja. Akhirnya Nirei beralih mengajak Suo pulang kerumah.
"Kalau begitu kita pulang saja. Suo ingin makan malam pakai apa?" Nirei mengingat mereka punya bisa membuat banyak menu karena mereka sudah mengisi kulkas dari belanjaan kemarin. Suo menunduk sebentar, memikirkan jawabannya.
Kemudian Suo memberikan kode agar Nirei mendekat. Nirei yang polos menyodorkan badannya lebih dekat kearah Suo dan Suo membisikkan jawabannya, kemudian mengecup pipi Nirei diakhir. Alis Nirei mengkerut bingung, dia menjauh dari Suo.
"Apa? Kamu ngomong apa?" Nirei kebingungan karena Suo tidak memberikan jawaban.
"Sengaja. Aku cuman pengen cium kamu, Nirei." kekeh Suo dengan senyum usil. Nirei yang lagi-lagi menjadi korban keusilan Suo mendengus kesal dengan pipinya tampak merona.
Untung Suo sudah janji mau berikan alat lukis besok, kalau tidak Nirei bisa-bisa merajuk.
Kemudian keesokan harinya. Yang dijanjikan Suo dan yang dinantikan Nirei akhirnya sampai di tangannya. Nirei menatap penuh binar pada palet, cat air berbagai ragam warna dan beberapa kuas untuk melukis dan juga lembaran kanvas ukuran A4 sesuai permintaan Nirei. Kegiatan baru Nirei selain pergi bekerja adalah berkutat dengan alat lukisnya, kadang tak jarang Suo menemukan banyak kaos Nirei di laundry penuh bercak cat air, atau balkon luar tempat favorit Nirei bermain dengan kuasnya juga kotor oleh pewarna. Sudah hampir seminggu rutinitas sore Nirei adalah melukis, Suo bahkan di anggurin kekasihnya yang lebih fokus menggores berbagai warna diatas kanvas. Menyedihkan memang, tapi Suo akui hasil lukisan Nirei tidak seburuk itu.
"Suo." panggil Nirei tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan yang tengah dikerjakannya, tangannya masih memegang kuas. Suo yang memperhatikan dari belakang melirik Nirei.
"Ya, kenapa?" sahut Suo.
Kali ini Nirei berhenti melukis, menaruh kuas basahnya ke dalam gelas kotor berisi air kemudian memutar tempat duduknya menghadap Suo. Senyum manis melengkung di bibir tipis Nirei.
"Bagaimana akhir pekan kita pergi painting dates?" katanya malu-malu tapi tak dipungkiri dia mengharapkan jawaban sesuai ekspektasinya.
"Painting dates?"
Nirei mengangguk, kemudian menjelaskan maksudnya dari ajakan kencannya. Sejujurnya Suo tak bisa berkata-kata, sepanjang mereka menjalin hubungan baru kali ini Nirei berinisiatif mengajaknya kencan, sungguh. Dari awal, selalu Suo yang lebih dulu bertindak karena Suo tahu kalau Nirei masih sungkan dan takut Suo tidak menyukai pendapatnya.
Suo tidak bisa tidak tersenyum lebar sambil tertawa, tangannya terjulur untuk menangkup pipi Nirei dan mengusap-usap dengan gemas. Nirei cuman bisa diam pipinya di tekan dan dicubit.
"Tentu saja, ayo kita pergi kencan besok. Oh, dan juga sekalian piknik. Sebentar lagi musim gugur, pasti pemandangan di pinggiran kota sangat cocok untuk melukis."
Mengemas barang-barang melukisnya untuk dibawa masuk kedalam, Nirei terus menantikan rencana mereka esok pagi untuk pergi melukis di kencan mereka. Disisi lain Suo tidak mengerti mengapa Nirei bisa segembira itu menantikannya.
Esoknya, di taman yang berhamburan ladang rumput dan tumbuhan bunga-bunga liar warna-warni masih tumbuh segar, kemudian pepohonan ek rindang yang mulai menguning mengikuti perubahan cuaca menuju musim ranggas menjadi pemandangan menakjubkan kencan piknik mereka. Nirei takjub dengan tempat pilihan Suo, alasan mengapa Nirei lebih membiarkan Suo mengambil keputusan karena itu selalu tepat dan sempurna.
Mereka menggelar karpet tipis dan Suo menata makanan yang mereka bawa dalam keranjang anyaman. Sebaliknya Nirei membongkar peralatan melukisnya.
"Kamu mau makan dulu atau..."
"Melukis." jawab Nirei cepat. Suo mengangguk mengerti, membiarkan kekasihnya ini bermain dengan alat lukisnya. Namun kini dia dibuat bingung saat Nirei menyodorkan kanvas berukuran mini dan sebuah kuas padanya. Suo memberikan tatapan keheranan.
"Suo kan sudah setuju kita painting dates, jadi Suo juga melukis."
"Aku? Aku tidak bisa melukis, Nirei."
Nirei memikirkannya, dia tahu jika Suo tidak menyukai hal seperti ini tetapi dia sangat ingin melukis bersama Suo. Kemudian dia terpikirkan sebuah ide dan mengusulkan untuk menggambar tentang satu sama lain, Nirei melukis Suo dan begitu sebaliknya.
Suo terkejut. Dia tidak bisa menggambar pemandang dengan baik, apalagi wajah orang. Suo dengan pelan menjelaskan kalau gambarannya hanya sebatas coretan tidak jelas dan terkesan kekanakan. Nirei tidak mempermasalahkan itu dan masih tetap ingin mereka bersenang-senang bersama.
Kanvas kecil dipegang di tangan keduanya, duduk berhadapan. Palet warna di depan mereka dan Nirei dengan serius mencoba mengabadikan proporsi wajah tampan Suo ke dalam lukisannya. Suo juga sama, terus memperhatikan wajah menggemaskan Nirei seolah-olah menghitung objek secara presisi. Padahal dia hanya memandang Nirei. Lukisannya baru setengah jadi, itu juga ngasal. Nirei mencoba melirik kesamping, tapi Suo dengan cepat menghalangi pandangan Nirei yang ingin mengintip miliknya.
Setelah gambar jadi, mereka saling tunjuk gambar. Gambaran Nirei on point. Di atas kanvas putih terpotret dengan jelas gambaran Suo di hari itu. Kemeja putih, gaya rambut, postur badan yang duduk bersila sambil memegang kuas dan kanvas kecil, anting kuning panjang dan sedikit senyuman di wajahnya. Suo entah mengapa merasa tersentuh. Ini kali pertamanya dia begitu senang melihat potretnya sendiri.
Suo tidak bisa berhenti memuji hasil pekerjaan Nirei, bibirnya terus melontarkan kata-kata manis yang meluluhkan hati Nirei, membuat pipi kekasihnya memerah sempurna dan badannya merespon dengan gerak malu-malu.
Untuk menutupi rasa malunya dan menyudahi Suo yang menjadi gencar merayunya, ia pun menagih hasil lukisan Suo. Suo langsung terdiam dan tampak enggan memberikan kanvasnya kalau Nirei tidak memaksanya. Nirei melihatnya. Hasil lukisan Suo sangat sederhana, hanya gambar wajah dengan rambut di poles dengan warna kuning cerah, pipi dibuat merona dengan lingkaran kecil dan tak lupa gambar seperti bibir yang tengah tersenyum senang.
Nirei hampir tertawa, dia tidak pikir Suo akan menggambarkannya dengan menggemaskan seperti ini. Suo mengeluh, mengatakan jika seni bukanlah bidangnya. Dia lalu meledek Suo karena sebelumnya mereka pernah dough date dan hasil miniatur buatan Suo cukup berantakan, jika Nirei katakan. Tapi baginya itu sisi menggemaskan Suo yang sangat kalah dengan menghadapi kelas seni, wajah frustasi Suo benar-benar lucu.
"Aku suka kalau Suo frustasi dan malu-malu begini." ledek Nirei sambil menahan tawanya. Namun lama-lama dia tidak bisa tidak tergelak puas
"Begitu? Kalau aku suka kalau Nirei frustasi dan malu-malu kalau dibawahku."
Suo memberikan senyum seolah dia berkata hal-hal baik padahal otaknya membayangkan hal buruk sekarang. Nirei segera terdiam, bibirnya melengkung kebawah merasa tidak senang dengan ucapan cabul Suo yang tidak sesuai kondisi.
"Kan, Suo kalau di ledek dikit langsung bawaannya mesum. Mesum." rajuknya.
Suo tertawa. Sungguh, mahakarya Tuhan yang satu ini sangat-sangatlah menggemaskan.
Dia hanya memiliki satu orang ini dan tidak akan ada yang lain. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan untuk 'mengatakan' isi hatimu. Suo Hayato akui jika dirinya tidak pandai dalam bidang seni, terutama seni rupa. Bukan karena dia tidak bisa memahami cara pandang pada suatu lukisan atau semacamnya, tetapi hanya saja keahliannya tidak ada disana. Meskipun begitu dia dapat memahami nilai dari sebuah lukisan. Dia bisa memilah apakah lukisan itu indah atau biasa saja. Tapi hanya sebatas itu. Tidak peduli seberapa detail, ekspresif atau berwarnanya lukisan itu. Jika itu indah, ya indah. Namun Suo berubah pandangan ketika dia melihat Nirei Akihiko yang duduk disampingnya, diterpa cahaya pagi yang hangat dan bibir yang selalu membingkai lengkungan yang tampak manis itu.
Pemandangan itu tidak bisa dianggap sebagai indah seorang. Baginya, Nirei Akihiko adalah wujud keindahan itu sendiri.
