Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-23
Words:
7,727
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
75
Bookmarks:
5
Hits:
4,106

Prove Me Wrong

Summary:

“Ah lama kamu,” tukas Renjun, merajuk lalu menjauhkan diri dari tubuh Jaemin.

Sial!

Padahal Jaemin sekarang sedang di fase benar-benar mendamba. Tubuhnya bahkan, tanpa sadar, bergerak maju untuk mengejar rangsangan Renjun, tetapi tentu saja terhalang oleh tangan yang terikat di balik kursi kerja.

Shit!”

Renjun spontan terkekeh, “Udah ada yang pernah bilang ke kamu belum, Jaemin? Your accent while cursing, so sexy.”

× × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × ×

Jaemin ke Renjun:
❌ menjilat atasan
✅ dijilati atasan (dalam makna sebenar-benarnya)

Notes:

cw // very explicit sexual scene , harsh word
latar tempat lokal, tetapi tetap dengan nama mereka

happy reading

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Enggak becus!”

Jaemin seharusnya sudah kebal dengan bentakan semacam ini. Faktanya, entah sudah berapa kali Jaemin menjadi sasaran teguran —atau amukan lebih tepatnya— karena Renjun menilai pekerjaannya jauh dari kata memuaskan.

Jadi seharusnya Jaemin juga sudah tidak lagi terkejut ketika dirinya berakhir dalam posisi seperti sekarang.

Duduk dengan gusar di atas kursi kerja sang atasan, dengan kedua tangannya yang kini terikat di belakang sandarannya. Bukan dengan tali, tentu saja, sebab Renjun juga tidak mau bila ada gurat-gurat tak indah yang membekas di permukaan kulit pergelangan tangan Jaemin.

“Lagian saya juga nggak mau ambil risiko, Jaemin. Apa yang bakal orang pikirin kalau mereka lihat kamu keluar dari ruangan saya dengan bekas ikatan tali?”

Itulah alasan kemeja Jaemin kini sudah kehilangan pelengkapnya, sebuah dasi hitam dengan motif garis-garis abstrak halus berwarna kelabu. Sepintas dasi itu tampak polos, tetapi cahaya matahari yang lantang menembus jendela kacanya tak sanggup menyembunyikan motif samar yang tertera.

Renjun spontan tersenyum.

Tubuhnya menjauh sejenak sementara dia mengagumi hasil karyanya.

Jaemin yang sudah takluk, dengan tatapan mata yang tak bisa Renjun deskripsikan.

Atau mungkin Renjun sebenarnya bisa mendefinisikan, dia hanya enggan melakukannya. Baginya tatapan tidak terima yang terbersit di iris gelap Jaemin hanya bentuk kemunafikan, sebab faktanya sang bawahan kini terengah-engah dengan pipi memerah.

Dan Renjun tahu juga apa makna dari kondisi tersebut.

Bet you, pasti banyak yang bilang kamu ganteng kan, Jaemin?”

Renjun tersenyum sambil kembali mendekati Jaemin. Sebelah tangannya mulai melonggarkan dasi yang masih terikat di kemejanya sendiri, sementara tangannya yang lain mengusap ringan tepi wajah Jaemin.

Begitu lembut.

Begitu membius.

Kalau saja Jaemin tidak merasa ada sebagian dirinya yang ingin memberontak, terlepas dari jelasnya fakta yang kini bergema di kepalanya.

Jaemin sudah tidak bisa lolos.

Pun harus Jaemin akui, sebagian dirinya juga tidak mau meloloskan diri.

Apalagi karena kini bibir candu Renjun tiba-tiba berlabuh di permukaan bibir keringnya. Renjun mencium seolah tak ada lagi hari esok untuk mereka berjumpa. Langsung dengan torsi tinggi, merengkuh setiap sudut bibir Jaemin, membuatnya, tanpa sadar, berbalik untuk turut mengejar ciuman Renjun.

Entah berapa kali Renjun mengganti sudut arah dan kemiringan kepalanya. Kedua tangannya juga sekarang sudah menangkup rahang Jaemin, membantu lelaki yang lebih muda untuk mengikuti keberingasan Renjun dalam tautan bibir mereka.

Sampai Renjun mendadak mengakhiri ciumannya.

Renjun menangkup lebih erat rahang Jaemin, lalu perlahan menarik kepalanya meski mereka hanya terpisah tak lebih dari sejengkal. Napas Renjun dan Jaemin saling beradu cepat, tetapi keduanya seolah tak merasa keberatan.

Inilah yang Renjun sebut kemunafikan. Sebab seterang apapun kobar perasaan tidak terima di mata Jaemin, faktanya Renjun akan melihat sejumput penerimaan itu di sana.

Sejumput yang lambat laun merumput subur hingga layaknya sebuah lapangan.

Namun Renjun, lagi-lagi, enggan mengkonfrontasi. Semua itu tidak penting. Biarlah jika Jaemin masih gamang dengan perasaannya, yang penting Renjun tahu apa yang dia butuhkan, dan bawahannya inilah jawabannya.

Renjun tersenyum tipis. Ibu jari di tangan kanannya bergerak lembut menyeka sisa-sisa air liur di bibir Jaemin, tahu betul bahwa cairan tubuhnya juga ikut andil membasahi permukaan bengkak nan memerah di sana. Renjun lalu ganti menyeka bibirnya sendiri dengan punggung tangan, sebelum kembali melabuhkan kecupan singkat di bibir Jaemin.

Kecupan yang kemudian bergerak cepat ke berbagai sudut wajah Jaemin, termasuk mencium di dekat lubang telinganya yang cukup sensitif dengan embusan napas.

Jaemin sebenarnya mirip dengan Renjun, sama-sama sulit untuk dibuat merasa geli, tetapi Renjun sudah tahu betul di mana kelemahan Jaemin dan itulah yang dilakukannya barusan.

Cup.

Kembali Renjun mengecup bibir Jaemin, menjadikannya pelabuhan terakhir sebelum mengulurkan dasinya sendiri yang kini sudah terlepas dari kerah kemeja.

“Mata atau mulut?”

Jaemin langsung menggeleng hebat. Kalau dia punya pilihan, maka Jaemin ingin sekali meneriakkan opsi untuk tidak ditutup mata maupun mulutnya. Jaemin sudah merasa terpenjara, tidak berdaya, dengan tangan diikat seperti ini, dan dia tidak mau semakin payah dengan mata atau mulut yang tertutup percuma.

“J-Jangan, Pak Renjun. S-Saya janj—”

“Ssst…” balas Renjun dan meletakkan telunjuk lentiknya secara vertikal di depan permukaan mulut Jaemin. “Two options, my Dear. Pilih dari situ, jangan off side.”

Jaemin tahu semestinya dia menurut. Lagipula memangnya dia ini siapa sampai berusaha membuat kesepakatan dengan Renjun yang posisinya jelas tidak selevel dengannya?

Namun Jaemin juga tidak mau menyerah, atau mungkin dia hanya mencoba memperlihatkan keinginannya untuk membantah Renjun, tentu supaya tidak terkesan sekadar menerima semua perlakuan sang atasan.

Renjun memilih menerima opsi kedua, walau dia sebenarnya tidak benar-benar tahu —dan tidak benar-benar ingin tahu— bagaimana isi kepala Jaemin.

Jadi Renjun terkekeh pelan, seraya tangannya mengibaskan pelan dasi mahalnya di atas wajah Jaemin, “Mata aja ya kalau gitu? Saya lagi nggak pengin main gelap-gelapan.”

Renjun tidak selamanya bertindak otoriter seperti ini. Dia pernah memberi keleluasaan untuk Jaemin menentukan pilihan dan kala itu, Renjun masih ingat betul, pria yang lebih muda meminta supaya ruangan di sekeliling mereka digelapkan.

“Saya nggak mau l-lihat… ah m-maksudnya, itu preferensi, bukan berarti saya—”

Renjun juga ingat betul, saat itu dia tertawa kecil. Bergegas dikecupnya lagi bibir Jaemin, sebelum Renjun menurunkan kadar penerangan di dalam ruangannya serta menutup tirai-tirai jendela.

Jadi, pada intinya, Jaemin lebih suka bercinta dengan penerangan minim tetapi kali ini Renjun tidak mau melakukannya. Untuk mengambil jalan tengah atas perbedaan preferensi mereka, alangkah baiknya jika Renjun menutup saja mata Jaemin, bukan?

“J-Jangan, Pak. Saya—”

Relax, my Dear,” bisik Renjun sambil tetap menutup mata Jaemin dengan dasi kerjanya. 

Dasi yang sudah pasti jauh lebih lembut ketimbang yang kini mengikat erat pergelangan tangan Jaemin. Dasi yang kembali menegaskan perbedaan kasta di antara mereka berdua, produk lokapasar dan Armani jelas bukan tandingan.

Namun lembutnya kualitas dasi yang menutup mata Jaemin tak dapat membendung keresahannya. Renjun tahu Jaemin gusar dengan perlakuannya, jadi Renjun kembali menghadiahkan banyak ciuman di wajah Jaemin, dengan bonus menjilat telinga Jaemin hingga gemetar takut itu perlahan memudar.

You'll be safe, my Dear. Tenang, oke? Kamu tahu pasti, saya nggak bakal ngapa-ngapain kamu.”

Renjun kembali mencium bibir Jaemin, kali ini lebih lama dan lebih mendalam, seakan berniat untuk turut mengisap semua kegelisahan yang mendera.

Good boy,” puji Renjun sambil mengusap lembut kepala Jaemin.

Secara kasta dan finansial, jelas Jaemin jauh berada di bawah Renjun. Namun jika ada hal yang membuat Renjun iri dari Jaemin, tentu adalah rambutnya yang lembut dan lebat.

Lebatnya rambut ini pun selaras dengan bulu-bulu yang membentuk alis serta memayungi matanya. Bahkan bulu mata Jaemin juga begitu lentik, menjadi alasan lain untuk Renjun mantap menutup mata Jaemin di sesi panas mereka kali ini, sebab mungkin Renjun akan lebih gemas dengan bulu mata cantik di sana.

Renjun lalu kembali menciumi wajah Jaemin, kali ini tidak terburu-buru dan seolah berusaha menyampaikan semua perasaannya. Ciuman yang kemudian bergerak turun meninggalkan wajah Jaemin, sementara sang empunya tubuh cuma bisa terengah-engah dalam kegelapan.

Jaemin memang lebih nyaman melakukan perbuatan tak senonoh seperti ini dalam kegelapan. Bahkan ketika Jaemin bermasturbasi di kamarnya sendiri pun, dia akan memilih dalam kondisi gelap, sambil menonton video biru atau sekadar memainkan imajinasi liarnya.

Bukan tanpa alasan.

Jaemin hanya tidak nyaman bila matanya bisa menyaksikan seluruh detik-detik panas itu apabila lampu menyala terang.

Apalagi jika Renjun yang menjadi pasangannya.

Bukannya Renjun tidak menarik. Baik ketika sedang menikmati sesi panas atau tidak, Renjun tetaplah seorang pria yang menarik dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

Meski Jaemin juga harus mengakui, Renjun nyaris tidak memiliki kekurangan, kecuali pada sifat galaknya yang mungkin untuk mengkompensasi tinggi tubuhnya yang terhitung kalah dari sebagian besar pria lainnya.

Terlepas dari itu, maka Renjun adalah wujud kesempurnaan. Wajahnya apalagi, Jaemin tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan Renjun dengan segala pesonanya.

Garis wajahnya lembut, sangat meneriakkan kesan cantik yang sulit untuk Jaemin hempas. Namun sorot matanya begitu tajam, dengan side profile yang menawan, membuat Jaemin juga sulit untuk tidak memuji Renjun sebagai sosok lelaki tampan.

Walau hidung Renjun lah poin utama kesempurnaan pahatan wajahnya. Bangir dan proporsional. Hidung yang ideal menjadi komplementer pipinya, baik ketika sedang sangat tirus maupun saat berisi menggemaskan.

Hidung yang kini beberapa kali menabrak jakun Jaemin, seiring dengan ciuman Renjun yang bergerak menuju rahang dan lehernya.

Jaemin menelan ludahnya, membuat jakun itu bergerak dan otomatis memicu tawa dari Renjun yang tengah menggigit-gigit manja lehernya.

“Kamu sengaja ya?”

Jaemin langsung menggeleng cepat, “E-Enggak, Pak, nggak, saya—”

“Tapi itu seksi banget sih, bikin geli di bibir saya waktu jakun kamu naik turun,” jawab Renjun, lalu dengan main-main menggigit lagi kulit leher Jaemin. “You always impress me, Jaemin. Enggak salah saya tertarik sama kamu.”

Renjun kali ini menghadiahi Jaemin dengan sebuah ciuman panjang di salah satu sudut lehernya yang kelak bekasnya masih bisa ditutupi dengan kerah kemeja. Lagi-lagi Renjun harus menegaskan, dia tidak mau ambil risiko dengan membuat seluruh kantor ini mengetahui perbuatan tak senonoh yang dilakukannya bersama Jaemin.

Atau mungkin lebih tepatnya: perbuatan tak senonoh yang dilakukannya terhadap Jaemin.

Renjun toh tahu, hubungan apapun yang terjalin di antara mereka sekarang masih berada di ranah abu-abu, dan kesalahan sudah sepatutnya dilimpahkan hanya kepadanya.

Ciuman Renjun lalu turun lagi, semakin meninggalkan area wajah dan leher Jaemin seiring dengan tangannya yang dengan cekatan melepaskan satu-persatu kancing kemejanya.

Kemeja yang tentu tak ada apa-apanya dengan kemeja Renjun, dia bahkan lupa hari ini memakai produk dari Polo Ralph Lauren atau Armani juga seperti dasinya. Namun kemeja Jaemin, harus Renjun akui, lebih mengesankan kehangatan ketimbang fabrik mahal yang melekat di tubuhnya sekarang.

Mungkin karena Renjun samar-samar masih bisa mencium aroma pengharum pakaian yang biasa disemprotkan saat menyeterika.

Atau mungkin karena aroma alami Jaemin juga sudah bercampur dengan panasnya tubuh itu akibat segala cumbuan yang Renjun berikan.

Kemeja yang sekarang sudah terbuka semua kancingnya, dan spontan membuat Renjun mengeluh karena tak langsung berhadapan dengan padatnya otot perut serta dada Jaemin.

“Kenapa mesti pakai kaos dalam sih?” gerutu Renjun sembari tangannya aktif mengeluarkan dua lapis atasan Jaemin dari dalam celananya. “Saya gunting aja ya? Nanti saya transfer uang gantinya, atau saya beliin baru sekalian.”

Menggunting bagian lengannya tentu akan mempermudah Renjun dalam melahap otot-otot Jaemin, tetapi lelaki Leo itu kembali menggeleng hebat.

“J-Jangan, Pak.”

Renjun mendengus sambil mendudukkan diri di atas pangkuan Jaemin. Jarinya dengan nakal memainkan kain kaos dalam tanpa lengan itu, menarik-nariknya sesekali hingga membuat sedikit noktah hitam dari puting dada Jaemin terumbar keluar.

“Terus saya apain nih?” keluh Renjun lagi. “Kan saya udah bilang, kamu ngantor nggak usah pakai kaos dalam.”

“Tapi baju saya nerawang, Pak, saya—”

“Nanti saya beliin kemeja yang nggak nerawang deh.”

Kembali Jaemin menggeleng, “Jangan, Pak Renjun. Saya nggak perlu dibelikan kemeja. Lagian saya juga yang nggak pede dan gerah rasanya kalau nggak pakai daleman.”

Argumentasi yang masuk di logika Renjun, jadi rasanya sulit untuknya bisa membantah. Alhasil Renjun hanya bisa mendengus, sementara tangan kanannya kembali memainkan tali kaos dalam Jaemin sementara tangan kirinya sudah aktif meremas-remas dada Jaemin.

Jelas rasanya berbeda dengan meremas dada perempuan, tetapi Renjun tahu, dia lebih tertarik dengan dada Jaemin. Bukan hanya karena Renjun seratus persen penyuka sesama jenis, tetapi memang dada bidang Jaemin adalah salah satu alasan mengapa Renjun nekat melakukan ini semua sampai sekarang. 

“Terus ini saya apain?”

Jaemin mendengung pelan, sebelum kepalanya sedikit meneleng sementara bibirnya meringis kecil sebelum menjawab, “Kalau diangkat aja, Pak?”

“Tapi ujungnya kamu gigit ya, saya lagi nggak mau ada gangguan waktu mainin dada kamu.”

Sangat final dan mengikat. Titah Renjun adalah mutlak. Jadi Jaemin juga tidak bisa berbuat banyak kecuali mengangguk sementara Renjun mengangkat ujung kaos dalamnya. 

Tanpa basa-basi, Renjun menjejalkan ujung kaos dalam itu ke dalam mulut Jaemin, memaksa yang lebih muda untuk menggigitnya supaya dada dan perutnya yang berotot terumbar begitu saja.

Dan sudah pasti, inilah yang Renjun inginkan.

Bergegas Renjun mengubukan dalam-dalam wajahnya ke dada bidang Jaemin. Tanpa permisi, lelaki Aries itu mencium setiap jengkal tubuh bagian atas Jaemin yang penuh dengan otot-otot liat.

Hingga bibir tipis Renjun tiba di noktah hitam Jaemin. Ujungnya jelas telah mencuat, memancing Renjun untuk menggigit gemas pusat titik-titik saraf itu.

“Eenghhh…”

Jaemin menggeram sekaligus melenguh, dan Renjun merasa semakin terbakar.

Diliriknya Jaemin yang kepayahan karena harus menggigit kaos dalamnya sendiri sambil merem-melek menikmati rangsangan yang mendesak setiap titik sensitifnya.

Dan pemandangan itu membuat Renjun semakin girang. Ciuman dan jilatannya di dada menjadi semakin intensif, sementara tangan Renjun yang menganggur mulai bermain naik-turun membelai setiap kotak yang terbentuk di atas perut Jaemin.

Suara mesum bergema kencang di dalam ruangan kerja Renjun, tetapi dia masa bodoh. Selain karena ruangannya memang sudah didesain kedap suara, Renjun sejatinya memang tidak benar-benar peduli kalaupun seluruh kantor tahu perbuatan bejatnya.

Hanya saja, Renjun masih menghormati Jaemin. Bawahannya ini bukan tipikal karyawan yang mau mengorbankan harga diri demi menjilat atasan, apalagi jika situasinya dijilati atasan seperti sekarang.

Biarlah kenakalan Renjun terhadap Jaemin hanya disaksikan oleh sekretaris pribadi Renjun yang berada satu lantai dengannya.

Renjun terus mencumbu dada dan perut Jaemin, membubuhkan ciumannya secara konstan di setiap jengkal kulit tubuhnya, menyesap seluruh rasa dan aroma yang timbul dari setiap pori-pori yang ada.

Walau favorit Renjun tentu saja adalah puting hitam mencuat yang kini sudah basah kuyup oleh gigitannya.

Begitu pula dengan setiap kotak otot perut Jaemin yang dikecup mesra oleh Renjun, sementara tangannya menelusup ke belakang dan mengusap ringan permukaan punggung yang tak kalah liat itu.

Seandainya mereka tidak bermain di atas kursi kerja dengan tangan terikat seperti ini, tentu Renjun bisa memaksa Jaemin untuk merunduk berpegangan pada meja kerjanya sehingga memberi kesempatan bagi Renjun mencumbu punggung Jaemin.

Namun biarlah itu menjadi skenario kisah mereka di lain kesempatan. Sekarang Renjun harus puas dengan seluruh bagian tubuh Jaemin yang bisa dijangkaunya.

Lagipula terlalu dini untuk merasa kesal, sebab hidangan utama pun belum tersaji di depan mata.

“Aaah…”

Itu Renjun yang mendesah, terdengar sangat puas setelah membasahi nyaris seluruh permukaan dada dan perut Jaemin dengan jilatan mesumnya.

Seringai kecil terbentuk di wajahnya, seiring dengan Renjun yang sejenak menjauhkan diri demi menyaksikan hasil kriyanya.

Sempurna.

Jaemin benar-benar sempurna, memenuhi seluruh kriteria pria idamannya, dan Renjun tahu dia tidak akan puas hanya dengan hal-hal yang telah dilakukannya.

Lagipula dengan wajah Jaemin yang memerah hebat seperti sekarang, serta napasnya yang tersengal-sengal, tentu Renjun tahu permainan mereka belum tuntas.

Namun Renjun tidak buru-buru mendekati Jaemin. Ada hal yang mesti dilakukannya, dan karena itulah dia membiarkan saja Jaemin yang berusaha menetralkan deru napas dengan melepaskan gigitan pada kaos dalamnya.

Luar biasa.

Terlepas dari banyaknya benang kusut yang memenuhi benaknya, Jaemin tahu stimulus dari Renjun tadi sungguh-sungguh memperdaya dirinya. Pikiran Jaemin ikut terasa mengawang karena cumbuan Renjun, dampaknya memang sangat luar biasa.

Hingga raut wajah Jaemin mendadak berubah, ketika telinganya menangkap suara peraduan logam yang sangat familiar.

“Saya lagi lepas celana, kalau kamu mau tahu, Jaemin.”

Suara Renjun mulai terdengar breathy dan serak, dan Jaemin tentu memahami maknanya.

“Saya sekarang lagi ngelepas kemeja saya,” ujar Renjun lagi, lalu suara kain yang jatuh tertangkap jelas oleh rungu Jaemin. “Saya sudah hampir telanjang, for your information, tinggal pakai celana dalam. Menurut kamu, mending saya lepas sekarang atau nanti aja?”

Coba kombinasikan pertanyaan cabul itu dengan suara horny Renjun. Jadi katakan kepada Jaemin, bagaimana caranya untuk tidak semakin merasa terangsang dengan godaan verbal Renjun itu?

“Jaemin?” panggil Renjun lagi, kali ini suaranya terdengar semakin sialan karena berupa bisikan manja tepat di sebelah telinga Jaemin. Embusan napasnya tepat menabrak lubang telinganya, sementara giginya lancang menggigit lembut daun telinga Jaemin, “Gimana menurut kamu? Dibiarin dipakai dulu…”

Ucapan Renjun terdengar menggantung, sebab kemudian dia sibuk menggesekkan selangkangannya yang tinggal memakai celana dalam ke lutut Jaemin yang masih dibungkus celana panjang.

Dan tentu saja sentuhan itu semakin membuat Jaemin kepayahan.

“...atau mending saya lepas dari sekarang?”

Ada jeda lagi, yang ternyata dimanfaatkan Renjun untuk semakin melemahkan Jaemin dengan menggesekkan lagi gundukan kelaminnya yang mulai berdiri dan basah di lutut Jaemin.

“Udah basah banget ternyata, hihi…”

Sungguh berani-beraninya Renjun tertawa, ketika Jaemin dibuat semakin kewalahan dengan semua stimulus yang ada. Lidahnya kembali iseng membasahi telinga dan leher Jaemin, layaknya Renjun adalah induk yang tengah memandikan anak kucingnya.

Renjun benar-benar pengejawantahan kucing nakal, setidaknya dalam situasi seperti sekarang.

“Jawab dong, Jaemin…”

Renjun kini ganti mengembuskan napas dengan sengaja di telinga Jaemin, membuat bulu kuduknya kembali meremang hebat.

“S-Saya… aakkhhhh…”

Katakan kepada Jaemin, bagaimana caranya dia bisa menjawab kalau Renjun terus mencumbunya tanpa henti, seakan lelaki Leo itu tidak punya titik-titik saraf yang tersiksa?

“Ah lama kamu,” tukas Renjun akhirnya, bersikap seolah pemuda merajuk dengan menjauhkan tubuhnya dari Jaemin.

Sial! 

Sungguh sial!

Padahal Jaemin sedang di fase benar-benar mendamba. Tubuhnya bahkan, tanpa sadar, bergerak maju untuk mengejar rangsangan Renjun, tetapi tentu saja terhalang oleh tangan yang terikat di balik kursi kerja.

Shit!”

Renjun spontan terkekeh, “Udah ada yang pernah bilang ke kamu belum, Jaemin? Your accent while cursing, so sexy.

Atau sebenarnya aksen setiap kali Jaemin berbicara dalam bahasa Inggris, dan inilah alasan paling utama mengapa Renjun menerimanya bekerja di perusahaannya. Jaemin adalah seorang polyglot, dia lancar bercakap-cakap dalam sejumlah bahasa, dengan beberapa di antaranya memiliki aksen yang terdengar menggoda apalagi jika dipadukan dengan suaranya yang berat.

Atau mungkin itu efek Renjun yang memang sudah dibuat mabuk kepayang oleh Jaemin?

Namun Renjun harus menyampaikannya, bahwa puncak tertinggi keseksian Jaemin adalah ketika mengumpat dalam bahasa Inggris. Ada sesuatu yang menggetarkan Renjun, apalagi karena Jaemin biasanya mengumpat secara serius saat sedang dalam sesi panas seperti sekarang.

“P-Pak Renjun, maaf, saya—”

“Oh, don't say sorry, my Dear,” balas Renjun, kembali mendekati Jaemin dan mengusap lembut pipi lelaki yang lebih muda darinya itu. “I'd like to hear more malah.”

Renjun tak lupa mampir mencium bibir Jaemin, cukup lama dan intens, sebelum menjejalkan kembali ujung kaos dalam yang sudah basah oleh air liur tadi ke dalam mulutnya.

“Gigit,” perintah Renjun dan Jaemin tahu dia tak bisa melawan.

Renjun tentu tersenyum dengan kepatuhan Jaemin itu. Terlepas dari tubuhnya yang tinggi besar, Jaemin bertingkah tak ubahnya anak kucing yang selalu menurut kepada induknya, dan Renjun suka dengan hal tersebut.

Itulah salah satu faktor penyebab Renjun sedaya upaya memanfaatkan jabatannya untuk menciptakan petualangannya sendiri dengan Jaemin, seperti sekarang.

Who's gonna resist a man like Jaemin, anyway?

Jadi di sinilah Renjun sekarang, berdiri beberapa langkah di depan Jaemin yang terikat di kursi kerjanya, dengan mata tertutup dan mulut tersumpal kain kaosnya sendiri.

Napasnya terengah-engah, itu sudah pasti.

Rambutnya berantakan, itu sudah jelas.

Wajahnya memerah, fakta yang tak bisa dibantah.

Dan penisnya sudah membengkak.

Kenyataan yang membuat Renjun tersenyum puas sebelum menjilat bibirnya. Renjun lalu mengelus gundukan selangkangannya sendiri, seolah memintanya untuk bersabar sebelum memasuki acara utama.

Belum sekarang.

Bila diibaratkan, sekarang mereka masih memasuki tahap pre-chorus. Masih ada siksaan lain yang ingin Renjun lakukan, dan tanpa basa-basi langsung dieksekusinya detik ini juga.

“UUKKKHH!!”

Tidak, Jaemin bukan merasa kesakitan.

Ya memang sedikit nyeri, tetapi rasa nikmatnya jauh lebih besar, apalagi ketika kaki dan jari-jemari Renjun berkolaborasi menggoda penis Jaemin yang masih bersembunyi di balik dua lapis bawahannya.

“Enak, Jaemin?”

Suara horny Renjun kembali lagi, membuat darah Jaemin berdesir dan seolah mengalir semua ke arah penisnya yang terus dihabisi di bawah sana.

Renjun berdiri dengan satu kaki, sementara kedua tangannya bersedekap tepat di depan dada. Tak menganggur, tentu saja, sebab jari-jari tangannya sebenarnya sedang mencumbu puting dadanya sendiri sementara salah satu kakinya tengah menggodai alat kelamin Jaemin.

“Jaemin,” panggil Renjun lagi dengan penuh penekanan, walau napasnya juga mulai tersengal akibat rangsangannya sendiri. “Jaemin, jawab saya. Enak?”

Setiap patah kata yang terucap dari bibir Renjun, diikuti dengan injakan yang lebih kuat di penis Jaemin, membuat alat vital itu semakin membesar dan terasa jelas di kaki Renjun sekalipun masih dibungkus erat oleh celana kerja Jaemin.

Tentu tak ada jawaban verbal, Jaemin tidak berani melepaskan gigitannya terhadap kaos dalam yang dijejalkan Renjun tadi. Namun Jaemin mengerang tanpa henti, dengan kepala bergerak panik, mengombinasikan gelengan dan anggukan.

Benar-benar membuat pusing, walau Renjun sepertinya bisa menebak alasan di balik respons Jaemin tersebut.

Jadi Renjun malah mengikuti permainannya. Kakinya terus menggoda penis Jaemin yang semakin membengkak, sementara Renjun tak berhenti bertanya, “Enak apa nggak nih? Kamu geleng-geleng, tapi juga angguk-angguk.”

“Hnngggg…”

“Jadi cowok kok nggak konsisten,” keluh Renjun seraya terus menjahili penis Jaemin.

Sungguh-sungguh sialan!

Tubuh Jaemin jadi sangat memanas dan sensitif karena semua sentuhan Renjun, meski satu-satunya rangsangan yang Jaemin terima sekarang hanya jari-jari kaki yang aktif menggoda penis bengkaknya.

Namun Jaemin bisa mendengar jelas desahan Renjun, dan kepalanya otomatis membayangkan apa yang sedang dikerjakan atasannya tersebut. Ini toh bukan sesi panas pertama mereka, Jaemin sudah tahu bagaimana kelakuan Renjun sehingga dia juga bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan lelaki kecil itu untuk memuaskan dirinya sendiri.

Pasti Renjun kini sedang mencubit putingnya sendiri.

“Uukkkhhh!”

Lalu Renjun mencoba menetralkan rasa sakit dari cubitan itu dengan menggosokkan telapak tangannya ke puncak dadanya.

“Hhhh…”

Renjun pasti menjilat dulu bibirnya sebelum menggigitnya, dan semua dilakukan demi menahan bocornya desahan yang lebih keras seiring dengan semakin kencangnya gesekan telapak tangan dan puting dadanya yang mencuat.

“Eerrgggh…”

Kini Renjun terdengar menggeram dan Jaemin bisa membayangkan lelaki itu sedang frustrasi karena rasa gatal menyebar ke dadanya yang lain. Alhasil tangan Renjun yang lain kini juga semakin aktif bekerja dan diawali dengan gerakan meremas.

Demi Tuhan, Jaemin bisa membayangkan semua itu dengan jelas sementara penisnya terus dimainkan. Puting dadanya sendiri juga jadi terasa gatal, tetapi sialnya, tak ada siapapun yang bisa membantunya menuntaskan rasa menyebalkan tersebut.

Jaemin tahu Renjun sekarang sedang sibuk sendiri mengejar sensasi akan meledak yang tumbuh subur di dalam dirinya, dan Jaemin jelas tidak berani meminta Renjun untuk turut memperhatikannya.

Heck! Dalam keadaan normal saja Jaemin tak berani mengajukan permintaan apapun, apalagi kalau Renjun sedang tersengal-sengal sendiri seperti sekarang.

“Aaaakkkkk!!!”

Jaemin bisa mendengar teriakan tertahan itu, membuatnya kembali membayangkan kondisi cabul Renjun sekarang.

Pasti sekujur tubuhnya sempat mengejang sesaat, Jaemin bisa merasakan godaan kaki Renjun di penisnya sempat berhenti sejenak. Jaemin lalu membayangkan Renjun yang menengadahkan kepala dengan napas berkejaran. Wajahnya memerah hebat dan semua bulu romanya berdiri. Jakunnya yang, sebenarnya, tidak kalah seksi dari milik Jaemin juga pasti naik-turun berkali-kali seiring dengan bibirnya yang digigit sendiri demi meredam desahan yang tak henti diproduksi.

Dan semua bayangan itu membuat Jaemin semakin merasa darahnya seperti mengalir lebih cepat, berkumpul dari ujung kaki dan kepalanya menuju ujung alat kelaminnya.

Situasi ini membuat Jaemin kembali refleks memajukan tubuhnya, tanpa suara meminta agar Renjun kembali menjahili penisnya yang terasa gatal. 

Renjun tentu bisa mengartikannya.

Senyumnya terkembang walau itu tak serta-merta membuat Renjun mau menuruti harapan Jaemin. Dia malah menurunkan kakinya, membuat telinganya menangkap jelas gerutuan yang ingin dilepaskan Jaemin dari mulutnya tetapi terhalang oleh kaos yang membungkam.

Namun Renjun bisa melihat urat-urat yang tercetak jelas di leher dan sekujur lengan Jaemin, membuatnya bisa membayangkan gerakan putus asa tangan Jaemin yang terikat di belakang sana.

Dang! Benar-benar sulit untuk Renjun membayangkan ada seseorang yang menolak kehadiran Jaemin.

Walau, tentu saja, itu bukan urusannya, setidaknya untuk sekarang. Ada urusan yang lebih mendesak, baik di selangkangannya sendiri atau di selangkangan Jaemin, dan itulah prioritas utama Renjun.

Jadi Renjun hanya menikmati kefrustrasian Jaemin sementara tubuhnya melangkah lebih dekat. Hingga Renjun berdiri tepat di antara kaki Jaemin yang terbuka, lalu tangan kanannya menggoyangkan sesuatu di atas hidung Jaemin.

“Familiar sama aromanya, Jaemin?”

Pertanyaan yang cuma dibalas dengan geraman, bukan hanya karena mulutnya tersumpal tetapi juga karena Jaemin tahu betul benda apa yang tengah disajikan di depan indra penciumannya.

Celana dalam yang jelas sudah berbaur dengan bau tubuh nan mesum milik Renjun. Sekilas Jaemin bisa merasakan lembab dan lengket di fabrik itu, yang dapat dia bayangkan apa penyebabnya dan, sialnya, kemudian dikonfirmasi sendiri oleh Renjun.

Tentu dikonfirmasi dengan cara yang tak kalah luar biasa.

Renjun menggesekkan ujung alat vitalnya sendiri, yang sudah dalam kondisi telanjang, ke otot-otot di perut rata Jaemin.

Ujung yang terasa hangat dan basah —Jaemin yakin itu karena precum— seolah dibalurkan merata di tubuh bagian atas sang lelaki Leo, walau desahan Renjun menguat saat alat vitalnya bertemu dengan pusar Jaemin yang tidak biasa. 

Berbeda dengan pusar Renjun yang seperti kawah, maka punya Jaemin tampak tertutup. Pusar bodong kalau orang-orang bilang. Ada tonjolan di dalam pusarnya, membuat Renjun merasa geli sendiri jika menggesekkan ujung penisnya di sana.

Do you feel it, Jaemin?” bisik Renjun, tentu saja tidak absen menggodai telinga sensitif Jaemin. Variasi permainan mereka memang itu-itu saja, tetapi Jaemin bersumpah, Renjun selalu membuatnya jadi lebih mabuk kepayang setiap kali mereka kembali terlibat dalam sesi panas.

“Basah,” ucap Renjun lagi. “Panas.”

Renjun dengan sengaja mengembuskan napas panjang nan menggelitik di dekat leher Jaemin, membuatnya semakin menegang karena antisipasi, “I'm ready to be wrecked.

Renjun lalu mencium lagi bibir Jaemin —tentu setelah melepaskan sejenak kaos yang menyumpal mulutnya— dan tak merasa jijik walau mereka saling bertukar air liur di sana. Renjun juga yang kemudian menyudahi ciuman hebat itu, diikuti dengan menyeka bibir memerah Jaemin yang sudah membengkak hebat, lalu berbisik tepat di atasnya, “I need you to wreck me.

Renjun langsung menurunkan bibirnya meski kepala Jaemin sudah bergerak frustrasi untuk mengejarnya. Malah Renjun kembali menyumpal mulut Jaemin dengan kaos dalamnya, sementara dirinya memilih mengabsen jengkal demi jengkal leher, dada, dan perut Jaemin lagi, sambil berhati-hati memastikan precum-nya tak sampai mengotori celana kerja bawahannya.

Bukan apa-apa, tetapi Renjun tahu tawaran celana barunya juga pasti akan ditolak oleh Jaemin. Jadi daripada satu kantor melihat jejak permainan panas mereka di kain celana Jaemin, akan lebih baik jika Renjun lebih berhati-hati.

Karena itulah kini Renjun sudah berlutut di depan Jaemin, bergerak taktis membuka ritsleting celana kerja bawahannya dan sedikit memelorotkan boxer di dalamnya untuk mengeluarkan hidangan utamanya.

Sesuai dugaannya.

Penis Jaemin benar-benar sudah membengkak. Pembuluh darahnya tampak menonjol di permukaan, dengan sekujur area yang telah memerah hebat, bahkan jauh lebih merah dan panas ketimbang penis Renjun.

Kalau diibaratkan, penis Jaemin sudah seperti gunung berapi level siaga. Masih perlu pancingan untuk membuat alat kelamin itu menjadi semakin fantastis, sebelum akhirnya erupsi memuntahkan muatannya.

Dan tentu saja itu yang Renjun kejar.

Jadi dikecupnya ujung alat vital Jaemin, membuat lelaki itu sontak mengerang sambil menengadahkan kepala. Lewat lirikan matanya, Renjun bisa melihat Jaemin menggigit kaos dalamnya dengan lebih frustrasi, memicu munculnya lengkungan bibir di wajahnya.

Erangan itu menguat saat Renjun ganti mengisap ujung penis Jaemin, dan semakin menjadi-jadi ketika Renjun mengadu lidahnya dengan ereksi Jaemin.

Tentu semua itu cuma permulaan, sebab setelahnya Renjun sudah benar-benar fokus pada alat kelamin Jaemin. Kepalanya ikut naik-turun demi mengakomodasi masuk dan keluarnya penis panas itu di dalam mulutnya.

“Errgghhh…”

Sengal napas Jaemin terdengar jelas di telinga Renjun, membuatnya semakin bersemangat untuk memuaskan ereksi yang menghebat itu.

Sebenarnya sesi ini akan menjadi semakin luar biasa kalau Renjun membiarkan tangan Jaemin lepas tanpa ikatan. Sebab selain mengumpat, beberapa waktu belakangan, Jaemin juga sudah memberanikan diri untuk menjambak rambut Renjun saat sesi blow job. 

Jaemin seakan memiliki preferensinya sendiri saat tengah dipuaskan dengan mulut dan, tentu saja, Renjun akan dengan senang hati mengikutinya.

Namun mungkin kesempatan itu bisa disimpan untuk lain waktu, sebab Renjun sekarang juga lebih ingin menunjukkan dominansinya atas Jaemin. Lagipula tanpa dijambak pun Renjun sudah tahu gerakan seperti apa yang dapat memuaskan Jaemin, dan mendengar erangan tertahan Jaemin sekarang sepertinya Renjun tidak salah menempuh langkah.

Renjun bisa merasakan penis Jaemin semakin membengkak dan memanas dalam kulumannya. Sesekali juga tubuh Jaemin terasa mengejang, membuat Renjun jadi semakin semangat memadukan semua persenjataannya untuk menghadirkan kepuasan.

Pikiran Jaemin sudah benar-benar mengawang dengan semua godaan Renjun di selangkangannya, apalagi karena kini Renjun juga mengombinasikan jilatan dan kulumannya dengan mengelus-elus manja paha serta perut Jaemin.

Namun tiba-tiba saja semua itu berhenti.

Renjun mendadak menyetop aksi mesumnya, membuat kepala Jaemin langsung terasa pening. Bahkan tanpa sadar Jaemin melepaskan gigitan pada kaosnya, dan langsung menjerit frustrasi, “Pak Renjun?!”

Sialnya kefrustrasian Jaemin malah membuat Renjun tertawa. Mana dia sangka, Jaemin yang tadinya masih sempat menyiratkan perasaan tidak rela jelang diajak bermain panas, adalah Jaemin yang sekarang juga dibuat kesal karena penisnya tiba-tiba ditinggalkan setelah dibuat ereksi tanpa ampun.

“Sabar,” ujar Renjun sambil menyeka dada Jaemin dengan telunjuk lentiknya. “Saya mau lepas celana kamu, nggak adil kan kalau cuma saya yang telanjang?”

Double triple sialan!

Jaemin jadi semakin pusing rasanya membayangkan Renjun berdiri dengan alat kelamin menegang dan tidak tertutupi apapun di hadapannya. Bagaimana tidak sial kalau Jaemin hanya bisa membayangkannya alih-alih melihat secara langsung?

Padahal, kalau ingatan Jaemin tidak salah, atasannya ini diberkahi dengan tubuh yang dipahat indah. Alat kelaminnya mungkin kalah panjang dan besar dari Jaemin, tetapi ukurannya juga bukan yang kecil dan tak memuaskan. Jaemin pernah memberi Renjun blow job dan, nyatanya, dia juga merasa kewalahan.

Walau bagian maut dari tubuh Renjun adalah pinggangnya yang ramping. Kalau saja dada Renjun tidak rata dan selangkangannya tak dilengkapi dengan penis, Jaemin yakin Renjun bisa menjadi wanita paling seksi dalam hidupnya karena pinggangnya yang sangat ramping.

Jaemin ingat mereka pernah rekreasi dengan Renjun duduk di pangkuannya. Tangan Jaemin tak diikat saat itu, sehingga dia bisa memegang pinggang Renjun dan, demi Tuhan, ukurannya sangat tepat dalam rengkuhannya.

Rampingnya pinggang itu lalu dipercantik dengan perut yang rata dan kencang, serta pantat yang membulat.

“Kamu kapan-kapan mau work out pantat bareng saya? Biar nggak datar banget itu bagian belakang kamu.”

Walau, sialnya, Jaemin juga jadi teringat dengan ejekan terselubung dari Renjun itu.

Namun lamunan itu langsung buyar saat paha Jaemin ditepuk, pertanda untuknya mengangkat pantatnya agar mudah bagi Renjun melepaskan celana kerja sekaligus boxer dari kakinya. 

Renjun sempat bersiul saat menurunkan celana Jaemin, “Gimana rasanya duduk bugil di kursi bos sendiri?”

Pertanyaan yang tak sempat Jaemin jawab sebab tubuhnya keburu merinding dengan sentuhan mesra Renjun. Apalagi karena setelah itu Renjun kembali memaksa Jaemin menggigit kaos dalamnya, lengkap dengan perintah untuk sama sekali tidak melepaskannya.

“Kamu nggak mau satu kantor tahu permainan kita kan?”

Blackmail adalah metode paling efektif untuk membungkam Jaemin, meski pria Leo itu juga tidak akan gegabah membuka aksi nakalnya bersama sang atasan.

Sebab terlepas dari bagaimanapun permainan ini bermula, Jaemin juga merasa berkontribusi dalam perasaan bersalah. Jaemin juga, sejujurnya, menikmati sesi-sesi panas yang dilaluinya bersama Renjun. Jaemin juga pernah beberapa kali menginisiasi permainan antara dirinya dan Renjun. Bahkan kalau Jaemin boleh dan bisa jujur, Renjun juga sering menjadi bahan masturbasinya.

Jadi porsi kesalahan mereka terbagi seimbang, bukan?

Namun Jaemin enggan memikirkannya lebih jauh, apalagi karena Renjun kembali membalurkan penisnya yang lembab oleh precum ke paha dalam Jaemin.

Dan puncaknya, tentu saja, saat Renjun mempertemukan alat vital mereka. Tanpa malu, Renjun menyatukan ereksi mereka satu sama lain, menggesekkan kedua organ yang memerah itu, menciptakan friksi yang kian membuat mereka merasa gatal dan panas.

Napas Renjun dan Jaemin saling beradu. Renjun bahkan sampai harus meredam desahannya dengan menggigit pundak Jaemin, sementara tangannya terus menggesekkan penis mereka.

Aroma persetubuhan sudah mulai menyebar memenuhi ruangan, membuat dinginnya suhu AC tak sanggup membendung rasa panas di setiap jengkal tubuh Jaemin dan Renjun.

Rasa panas itu juga yang membuat Renjun merasa semua persiapannya sudah cukup.

Jadi dilepaskannya penis menjulang Jaemin, sementara tubuhnya mundur beberapa langkah. Tak lama, sebab Renjun sudah kembali sejenak kemudian dengan sebuah kondom yang sudah terbuka dari pembungkusnya.

Tanpa basa-basi Renjun membungkus alat kelamin Jaemin dengan kondom berukuran ekstra itu, bahkan sempat menghadiahi pucuknya yang membengkak dengan gigitan lembut.

Nyeri, tapi nikmat, dan sialnya, Jaemin menikmati itu semua.

Prove me wrong, Jaemin,” pinta Renjun sebelum menggigit manja kedua puting dada Jaemin yang menegang. “Buktiin kamu masih becus, seenggaknya untuk urusan memuaskan saya.”

Jaemin lalu merasakan ujung alat vitalnya digesekkan di sebuah lubang yang familiar untuknya. Jaemin tentu tahu itu ujung lubang surgawi Renjun, yang juga sudah basah dan merenggang.

Sial! Sial! SIAL!

Jaemin jadi membayangkan kalau Renjun juga sudah preparasi sejak dini. Mungkin sesi foreplay mereka tadi juga dibarengi dengan Renjun mempersiapkan lubangnya, mungkin dengan melesakkan entah mainan jenis apa ke dalam analnya.

“Sebenernya saya —lubang saya maksudnya— selalu siap sih. Gimana kalau tiba-tiba kamu ngajak quickie? Adik kamu tuh ukurannya merepotkan, kalau nggak persiapan dulu saya yang pusing.”

Tiba-tiba saja bisikan menggoda Renjun waktu itu kembali merasuk ke dalam pikiran Jaemin. Walau saat itu Jaemin menepisnya, mana mungkin dia mengajak Renjun have a quick sex di kantor, bukan?

Namun nyatanya mereka sering quickie di kantor, atas inisiasi Renjun tentu saja, dan Jaemin tidak menolaknya.

Who's gonna resist Renjun, anyway?

Jelas bukan Jaemin, dan fakta ini semakin membuktikan kalau ada kontribusinya dalam hubungan tak jelas apapun yang sedang terjadi antara dirinya dengan Renjun sekarang.

Lagipula bagaimana cara Jaemin tidak memedulikan Renjun apabila kini penisnya sudah tenggelam dalam lubang anal sang Aries?

Entah work out jenis apa yang telaten dikerjakan Renjun, tetapi lubang dan pantat lelaki itu selalu bisa memberikan kenikmatan tidak terperi untuk Jaemin.

Bahkan di balik dasi mahal Renjun pun Jaemin hanya bisa merem-melek, tak sanggup menahan semua stimulus yang mendobrak titik-titik saraf kemaluannya.

Jaemin bisa merasakan Renjun meremas dadanya, mungkin sebagai kompensasi rasa sakit untuk tubuhnya yang kini perlahan-lahan duduk di atas pangkuan paha telanjang Jaemin. Terlepas dari apapun persiapan yang dilakukan Renjun, tetap saja, menerima alat kelamin Jaemin di dalam analnya adalah pekerjaan ekstra.

Alhasil Renjun perlu waktu sejenak untuk beristirahat, tentu setelah berhasil menelan seluruh batang kemaluan Jaemin yang ereksi dan memerah.

Pantat Renjun kini beradu dengan bola kembar di pangkal selangkangan Jaemin, menciptakan friksi tak nyaman tetapi, well, mereka menikmatinya.

Bahkan friksi itu yang pertama kali dimanfaatkan Renjun saat merasa sudah siap untuk menikmati hidangan utamanya. Sambil menggesekkan puting dada mereka yang sama-sama mencuat, Renjun juga mempertemukan kulit pantatnya yang halus dengan testis Jaemin yang lembab. Jangan lupakan juga penis ereksi Renjun yang otomatis membelai di antara perutnya dan Jaemin, membuat suasana cabul itu semakin terasa.

“Saya mulai ya.”

Itu bukan penawaran, tentu saja. Renjun sudah tahu dia siap digempur dan Jaemin tidak punya opsi juga untuk menolak.

Jadi Jaemin hanya menggigit kaos dalamnya saat Renjun mulai menaikturunkan tubuh di atas pangkuannya, membuat batang penisnya seperti diremas setiap kali keluar-masuk lubang anal nan hangat itu.

Desahan breathy dan serak Renjun sontak memenuhi indra pendengaran Jaemin, membuat darahnya semakin berdesir tidak karuan. Tubuh Renjun memang maut, tetapi desahannya yang seksi adalah kunci utama penyebab Jaemin tidak benar-benar bisa lepas dari permainan mereka.

Bahkan Jaemin pernah merasa pusing karena memikirkan pria mana lagi yang bisa mendengar desahan frustrasi Renjun ini, apalagi kalau skala permainan mereka semakin memuncak.

Persis seperti sekarang.

Napas Jaemin dan Renjun saling beradu, saling berkejaran, seiring dengan selangkangan mereka yang terus beradu tanpa ampun. Penis Jaemin laksana dipijat di dalam gua sempit Renjun, sementara penis Renjun sendiri juga terasa semakin panas dan lengket akibat friksi yang tercipta di antara mereka.

“Jaemin. Jaemin. Jaemin.”

Entah berapa kali nama Jaemin dibisikkan dengan suara horny Renjun, membuat penisnya seolah menegang lagi setiap kali Renjun melafalkan namanya dengan napas memberat. 

Bukan tanpa alasan Renjun menyebutkan namanya. Biasanya hal ini terjadi setiap kali ujung kelamin Jaemin menyundul titik memuaskan di dalam anal Renjun, membuat pikirannya mengawang bak menyentuh surga.

Pikiran mengawang itu juga yang sepertinya menjadi alasan Renjun tiba-tiba menarik lepas kaos Jaemin dari dalam mulutnya dan sedetik kemudian langsung kembali dibekap dengan ciuman panjang.

Renjun memakai kedua tangannya untuk membingkai wajah Jaemin, membantu lelaki Leo itu ke arah dan sudut yang benar untuk memperdalam ciuman mereka.

Benar-benar panas, dan sialnya, semua dilakukan bersamaan dengan Renjun yang terlonjak-lonjak di atas pangkuan Jaemin. Bunyi cabul dari selangkangan yang saling beradu memenuhi ruangan kerja Renjun, tetapi tak ada yang peduli. Kedua pemuda itu sama-sama fokus menuntaskan hasrat yang sudah membumbung tinggi, mendesak minta dilepaskan sesegera mungkin.

Lidah Renjun dan Jaemin saling membelit panas. Hanya sesekali mereka melepaskan tautan bibir, itu pun sekadar untuk menarik napas, sebelum salah satu di antara mereka kembali mencari. 

Gerakan naik-turun Renjun di atas penis menjulang Jaemin juga tidak berhenti. Renjun seolah tahu seberapa jauh dia harus mengangkat tubuh, sebelum kembali melesakkan penis Jaemin di dalam kehangatan lubang analnya.

Tangan Renjun juga tidak menganggur. Sesekali dia mencubit puting menegang Jaemin, atau meremas penisnya sendiri, atau menggaruk buah zakar Jaemin, hingga mengelus manja punggung berkeringat Jaemin. Stimulus yang benar-benar tiada henti dan membuat Jaemin pening sendiri, apalagi karena matanya tertutup dan dia tidak bisa menerka apa gerakan menggoda Renjun selanjutnya.

Tangan Jaemin bahkan sering terpelintir sendiri, menggambarkan keinginan besarnya untuk berbalik meremas dan memainkan dada Renjun. Jaemin juga gatal menggoda penis Renjun, tetapi tangan terikatnya tidak memberi banyak pilihan.

Jadi Jaemin tidak bisa berbuat banyak.

Jaemin mencoba melemaskan tubuhnya, berpasrah menjemput kenikmatan dunia dengan setiap gerakan Renjun. Biarlah atasannya itu yang mendominasi —seperti bagaimana biasanya mereka berhubungan— dan Jaemin cukup menikmati detik-detik panas yang terlewat.

Setidaknya dengan melemaskan tubuh seperti ini membuat Jaemin sanggup menyimpan lebih banyak energi.

Energi yang memberinya kesempatan untuk menggempur balik ketika dia merasa gerakan Renjun mulai kacau, mungkin akibat kelelahan. Napas Renjun sudah benar-benar memburu di ceruk lehernya, semakin meyakinkan Jaemin bahwa kini gilirannya untuk ikut mengimbangi permainan sang atasan, meski tentu tidak semaksimal apabila tangannya tidak terikat.

Walau sebenarnya Jaemin bisa melepaskan ikatan itu dengan mudah, dia bisa merasakan simpul dasinya sudah melonggar di bawah sana. Namun Jaemin tidak mau mengambil risiko, lagipula tak ada yang salah dengan sepenuhnya bertekuk lutut mengikuti keinginan Renjun.

“Pegangan.”

Hanya itu yang bisa Jaemin katakan, sementara mulai memanfaatkan otot pinggul dan pahanya untuk mendorong penisnya demi menggempur lubang anal Renjun.

“Aakk! Aakk! Jaemin! L-Lebih kenc— aakk!”

Renjun serius, isi kepalanya sudah semburat tidak karuan. Setiap kali ujung alat vital Jaemin menyentuh titik putihnya, Renjun cuma bisa terperanjat dan meneriakkan nama Jaemin dengan putus asa.

Tangannya hanya bisa mendekap erat leher Jaemin, sedangkan tubuhnya sudah tak lagi bertenaga untuk kembali bergerak di pangkuan sang bawahan. Kini kenikmatannya benar-benar hanya bertumpu pada energi Jaemin yang, entah bagaimana, tetiba melonjak, mendorong penisnya untuk bergerak dalam torsi tinggi.

Memang tak banyak gerakan yang bisa Jaemin lakukan kecuali naik dan turun, keluar dan masuk lubang Renjun. Karena itulah, menjadi tugas Renjun untuk menambah ekstasi dengan menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri, bahkan sesekali memutarnya dan membuat alat kelamin Jaemin seolah melesak lebih dalam.

“Renj—”

Baru Jaemin hendak melafalkan nama Renjun, tetapi bibirnya kembali disumpal dengan ciuman. Renjun kembali menggempur Jaemin dari atas dan bawah, menciptakan stimulus yang tak ada henti.

Dada mereka saling bergesekan, begitu pula dengan alat vital Renjun yang sudah memuntahkan muatannya setelah terus-menerus merasakan liatnya otot perut Jaemin.

Rangsangannya memang tidak main-main, dan Jaemin tahu itulah penyebab semua darahnya sekarang seolah mengalir ke selangkangannya.

“D-Di dalam.”

Renjun tiba-tiba berbisik serak, sekaligus menggigit pelan daun telinga Jaemin yang ikut basah oleh keringat.

Please, please, please…

Titah yang sangat tidak koheren, tetapi Jaemin sudah sering menghadapi Renjun yang overwhelm setelah orgasme sehingga mudah baginya memahami instruksi tersebut.

Renjun mau merasakan semprotan lahar putih Jaemin, meski tentu saja masih ada kondom yang melapisi. Lalu Renjun juga tidak mau penis Jaemin buru-buru dicabut setelah orgasme.

Dan itulah yang bisa Jaemin lakukan, bukan?

Jadi ketika pelepasannya semakin dekat, Jaemin hanya terus mempercepat tusukan alat kelaminnya, sementara Renjun hanya sanggup menyebutkan nama bawahannya berkali-kali.

C-Coming.”

Selalu ada yang menggelitik Renjun setiap kali Jaemin membisikkan momen pelepasannya, mungkin karena caranya menyebutkan yang mirip dengan bagaimana pelafalan kata “cumming”.

Atau mungkin Jaemin sebenarnya ingin berkata seperti itu, tetapi telinga Renjun justru menangkap hal yang berbeda.

Namun Renjun tidak mau memikirkan lebih jauh. Kehangatan yang mendadak datang di dalam lubangnya lebih menarik perhatian Renjun, apalagi karena diikuti dengan gigitan pelan Jaemin di bahu sempitnya.

Gigitan yang lalu ditambah dengan isapan dan kuluman, membuat Renjun yakin, akan terbentuk hickey di sana.

Bukan masalah besar, tentu saja. Jaemin juga tahu diri untuk tidak menciptakan tanda di tempat yang bisa membongkar permainan panas mereka, apalagi karena lawannya adalah Renjun sang atasan sendiri.

Meski sebenarnya Renjun sama sekali tidak keberatan sekalipun ketahuan bermain gila dengan Jaemin.

Namun Renjun, sekali lagi, enggan memikirkannya lebih jauh. Merasakan semprotan sisa-sisa sperma Jaemin di dalam sana lebih menjadi prioritas untuknya, dan itu yang Renjun lakukan sambil menenggelamkan kepala di leher lawan mainnya.

Napas keduanya sama-sama terengah. Tubuh mereka sama-sama lengket. Namun kondisi tak nyaman itu tidak membuat Jaemin dan Renjun bergerak memisahkan diri, entah untuk berapa lama waktu setelahnya.

Jaemin bahkan baru kembali bersuara saat merasakan deru napas Renjun yang memelan dan berubah menjadi lebih teratur.

“P-Pak Renjun?”

Dan panggilan itu membuat mata Renjun, yang semula hampir terpejam, kembali terbuka. Senyuman kecutnya terkembang, menertawakan perubahan panggilan Jaemin untuknya sesaat sebelum dan setelah mencapai pelepasannya. 

Walau tawa itu juga berlaku untuk Renjun, sebab dia juga tadi yang langsung membungkam Jaemin dengan ciuman saat mendengar sang bawahan hampir menyebutkan namanya tanpa embel-embel “Pak”.

Renjun toh tahu, Jaemin mungkin akan menyesal jika sampai melangkah sejauh itu, memanggil namanya tanpa honorific.

“Pak Renjun capek ya?” tanya Jaemin lagi, masih dengan suara beratnya yang sangat familiar di benak Renjun. “Kita bersih-bersih dulu yuk, Pak.”

Kali ini Renjun tak menyembunyikan tawanya, meski kepalanya tetap terkubur di leher Jaemin, “Kita? Kamu mau bersih-bersih sama saya?”

“E-Eh nggak gitu maksud saya,” tutur Jaemin dengan terburu-buru, tak berniat menciptakan kesalahpahaman dengan atasannya sendiri. “M-Maksudnya Pak Renjun bersih-bersih dulu, sekalian saya juga beres-beres.”

“Kamu nggak mau mandi dulu emang?” tanya Renjun lagi, mengabaikan saran Jaemin yang menyiratkan permintaan agar segera melepaskan tautan selangkangan mereka.

Malah Renjun bergerak melepaskan simpul dasi di mata dan tangan Jaemin, “Pakai kamar mandi saya aja sana, nggak apa-apa.”

Penawaran yang sudah beberapa kali disampaikan Renjun selepas sesi panas mereka di kantor —tentu saja tidak sejak awal dia sebaik ini kepada Jaemin— tetapi selalu berujung dengan penolakan.

“E-Eh nggak perlu, Pak, saya bisa mandi di kamar mandi karyawan.”

Tuh kan.

Penolakan itu sudah sesuai prediksi, jadi Renjun tidak mau ambil pusing. Dia bahkan tidak kunjung beranjak dari pangkuan nyaman Jaemin, membuat pria yang lebih muda dibuat bingung akan bertindak seperti apa.

Jaemin tentu ingin segera mengakhiri sesi panas ini, dia tidak berani membayangkan berapa banyak waktu yang sudah terbuang untuk melayani desakan nafsu Renjun. Namun atasannya yang lebih tua itu juga tidak segera melepaskan diri dari penisnya, aksi yang tak mungkin dilakukan Jaemin tanpa titah dari Renjun.

Dan ketidaknyamanan itu juga Renjun tangkap, karena itulah dia kemudian berbicara dengan bibir menempel di kulit berpeluh Jaemin, “Sebentar lagi, Jaemin.”

Setidaknya Renjun punya keistimewaan untuk tak perlu mengungkap apa alasannya meminta Jaemin agar lebih bersabar. Dengan jabatannya, Renjun yakin, Jaemin tidak akan membantah maupun memaksa untuk meminta alasan.

Jaemin akan patuh, dan memang itulah yang dilakukannya.

“Oke, Pak.”

Meski harus Renjun akui, situasi ini tidak selalu membuatnya berbahagia. Kepatuhan Jaemin, baik sebagai salah satu karyawannya maupun sebagai partner seksnya, memang hal yang memikat di mata Renjun. Namun, demi Tuhan, Renjun juga kadang mengharapkan pemberontakan dari Jaemin, walau dia juga tahu hal itu tak mungkin terjadi di antara mereka.

Pusing.

Renjun pun pusing dengan hal-hal yang berkecamuk di hati dan kepalanya. Bahkan Renjun kira benang kusut itu bisa terurai setelah bermain panas dengan Jaemin, tetapi sepertinya harapannya berakhir kosong belaka.

Jadi Renjun hanya bisa menghela napas, dan Jaemin bisa mendeteksi ada makna terselubung selain kelelahan di balik embusan hawa itu.

Namun siapa Jaemin hingga bisa lancang bertanya? Alhasil Jaemin hanya diam, sementara tangannya memberanikan diri untuk mengusap punggung Renjun dengan tisu, mengeringkan peluh di sana sekaligus untuk memberikan kenyamanan atas kegundahannya.

“Jaemin.”

Sampai tiba-tiba Renjun memecah keheningan mereka dengan panggilan yang lembut sekaligus tegas, kualitas yang nyaris tak pernah Jaemin temui saat mereka berinteraksi sebagai atasan dan bawahan.

“Iya, Pak?”

Ada jeda lagi, dan Jaemin merasakan Renjun beberapa kali mengembuskan napas menerpa lehernya.

“Kamu mau naik jabatan?”

“Eh?”

Jaemin berusaha menjauhkan kepala Renjun, merasa pembicaraan ini tidak seharusnya dilakukan saat mereka sedang sama-sama telanjang setelah bermain panas. Namun upayanya menemui jalan buntu, Renjun bersikeras bertahan dalam pangkuan Jaemin.

“Dengan kemampuan kamu, sebenarnya kamu bisa, minimal, jadi team leader. Tapi mungkin akan sulit kalau di sini karena persaingannya yang ketat,” jelas Renjun. “Tapi saya bisa bantu kamu naik pangkat, asal kamu mau dimutasi ke kantor cabang yang lain. Ini bukan demosi, ini mutasi, jadi nggak akan bikin gajimu berkurang.”

Jaemin masih terdiam, mencerna setiap penjelasan atasannya dengan sebaik mungkin.

“Tapi ya itu, kamu harus mutasi ke kantor lain, tapi saya pastiin jenjang karier kamu lebih jelas karena peluangnya juga lebih besar. Kalau di sini, kamu tahu sendiri, banyak politik kantor yang mengintervensi. Belum juga persaingannya yang memang benar-benar ketat. Kamu memang hebat, Jaemin, tapi akan sangat sulit buat kamu berkembang di sini.”

Penjelasan yang seketika membuat Jaemin tertawa kecil, “Pak Renjun, kita berakhir jadi kayak gini juga karena banyaknya kesalahan kerjaan saya yang Bapak temuin. Aneh aja kalau sekarang Bapak bilang saya hebat.”

Renjun tak menjawab, walau dalam hati rasanya malu sendiri dikuliti seperti itu. Renjun membiarkan saja ucapan Jaemin berakhir tanpa jawaban, sebab rasanya tidak mungkin dia mengakui alasan sebenarnya sering mencari kesalahan sang bawahan.

Memangnya Jaemin akan percaya kalau Renjun bilang dia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Jaemin, sekalipun dengan cara berpura-pura butuh dipuaskan secara seksual?

Meski, nyatanya juga, Renjun sangat menikmati setiap sesi panasnya dengan Jaemin. Pura-pura atau tidak, Renjun tetap merasa dipuaskan dengan layanan Jaemin, sekaligus merasa puas karena bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Jaemin.

“Lagipula maaf, Pak, saya nggak mau dimutasi,” ujar Jaemin lagi. “Saya harus di sini karena—”

Dia kan?”

Ucapan Jaemin berhenti, diikuti dengan helaan napas pelan Renjun, “Anak marketing yang adiknya mendiang tunangan kamu, kamu pernah cerita sama saya, by consent.”

Tak langsung ada jawaban, tetapi Renjun bisa merasakan tubuh Jaemin menegang.

Butuh waktu beberapa saat sampai Jaemin bisa kembali rileks —walau tidak benar-benar kembali seperti sediakala— dan menjawab pertanyaan Renjun, “Iya, saya inget kok pernah cerita ke Pak Renjun. Dan iya, dia alasan saya, sebisa mungkin, untuk tidak pergi dari sini. Saya sudah janji buat jaga dia, setidaknya sampai ada laki-laki baik yang akan menikahinya.”

“Kamu nggak berutang hidup ke dia, Jaemin.”

“Tapi saya berutang hidup ke tunangan saya kan? Saya berutang hidup ke kakaknya kan?” sahut Jaemin, kini ganti mendeskripsikan seberapa penting sosok mendiang tunangan yang sudah meninggalkannya.

“Tunangan saya, dia menyelamatkan saya waktu kecelakaan. Dia donorkan ginjalnya buat saya waktu kecelakaan itu bikin kedua ginjal saya rusak. Dia…”

Kembali ucapan Jaemin berhenti, rumpang di tengah jalan dan membuat dada Renjun bergemuruh. Benang-benang kusut itu kembali memenuhi isi kepalanya, seiring dengan nyatanya perasaan cemburu karena ada sosok lain yang dicintai Jaemin sepenuh hati, bahkan ketika hidupnya sudah tak ada lagi di Bumi ini.

“...intinya saya belum bisa ninggalin tempat ini, Pak, tapi terima kasih banyak atas penawarannya. Saya sudah cukup puas dengan apa yang saya capai sekarang.”

Dan Renjun tidak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa mengartikan nyeri yang mendera setiap kali Jaemin menjabarkan jawabannya.

“Kamu secinta itu ya, sama tunangan kamu.”

Jaemin tersenyum kecil, tetapi sialnya, ketulusannya bisa Renjun lihat dengan jelas dari sudut tempatnya berada sekarang.

“Secinta itu, mungkin cinta saya sudah habis di dia,” jawab Jaemin, mantap. “Mungkin dulu saya kasih hati saya seutuhnya buat dia, sebagai bayaran buat dia kasih ginjalnya demi menyelamatkan saya, hehe…”

Renjun kembali menggigit bibirnya, bukan untuk menyetop desahan yang akan lolos atau tawa yang refleks akan tersembur karena upaya Jaemin untuk melempar candaan, tetapi untuk menghentikan semua emosi yang seketika meluap dari dalam dadanya.

Mengapa Renjun harus datang terlambat dalam kehidupan Jaemin?

 

 

“Halo, Kun Ge. Pertanyaan I di chat tadi, iya, serius lah, I mana pernah bercanda sih? Aish, kebanyakan cingcong Gege nih! Gimana? Ada nggak lowongan buat posisi kayak I di Headquarter? Enggak, enak aja, dikira I nih orang problematik sampai mau kabur ke Singapore? I udah bosen aja di Jakarta. I mau balik ke HQ aja, atau lempar ke cabang lain deh nggak apa-apa, sampai ke Eropa atau US juga boleh, pokoknya nggak di Indonesia lagi. Hahaha… nggak apa-apa Gege-ku Sayang, anggap aja I lagi patah hati dan mau ganti suasana. Gimana? Ada nggak?”

Notes:

thanks for coming
bolehlah kita berjumpa lagi di X @/morningelv atau Tellonym @/tehsusukrimer jika berkenan, bye bye~