Actions

Work Header

The Winner Takes It All

Summary:

Dalam kehidupan konglomerat yang megah, pernikahan bisnis selalu bisa terjadi. Mu Qing pianis, omega, dan sejak kecil secara alami ia tahu bahwa dirinya akan menikah dengan Wen Zhi tuan muda kaya raya generasi kedua sama sepertinya.
Tetapi ketika Wen Zhi jatuh cinta pada seorang pemuda miskin, Mu Qing merasa harapannya hancur berantakan.

Dalam kekalutan yang tiada habisnya, sahabat kecilnya Feng Xin muncul. Menemani Mu Qing dalam setiap proses kehidupan pianis itu.

Nb : jika biasanya kita melihat sudut pandang kisah si kaya x si miskin dari perspektif yang jatuh cinta, maka ini akan mengambil perspektif dari tunangan si kaya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: 1. The Gods May Throw A Dice

Chapter Text

Suasana villa musim panas milik Keluarga Mu terlihat ramai, tampak beberapa anak tengah duduk dibawah pohon dengan mainan-mainan mahal yang berada dalam genggaman tangan. 

 

Langit diatas berwarna biru cerah dengan beberapa awan bergerak lembut tertiup oleh angin, lebah terbang rendah kemudian hinggap di atas kelopak bunga yang baru mekar. Dengan semangat lebah kecil menghisap nektar bunga manis tersebut. 

 

Tetapi ketenangan lebah terusik ketika mendengar suara bising jepretan kamera yang nyaring. Lebah sadar bahwa koloninya berada jauh darinya, jadi ia hanya bisa dengan tidak puas mengepakkan sayapnya menjauhi bahaya. 

 

“Ck, dia terbang.” Keluh seorang anak laki-laki alpha menggenggam kamera terbaik yang baru keluar tahun ini. 

 

Bocah itu berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut hitam, kulit sewarna batang pohon maple, matanya berwarna amber yang sedamai matahari musim semi. 

 

“Xiao Xin! Biskuit sudah matang!” Seorang wanita keluar dari dalam vila, mengenakan dress musim panas berpola bunga warna warni. 

 

Feng Xin segera berlari kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain. 

 

Nyonya Lin adalah istri dari pemilik Xuan Zhen Grup, salah satu perusahaan besar yang sudah berdiri kokoh sejak puluhan tahun yang lalu. Hari ini untuk menghibur putra omeganya yang baru kalah dalam kompetisi piano, Nyonya Lin mengundang teman sepermainan Mu Qing untuk bermain di Villa musim panas Keluarga Mu. Buktinya sekarang Mu Qingterlihat lebih bahagia dibanding kemarin membuat Nyonya Lin merasa lega. 

 

“Wah pie apel!” Wen Zhi, putra kedua pemilik perusahaan properti Wen berteriak girang ketika melihat Nyonya Lin muncul meletakkan pie apel yang menjadi favoritnya dan beberapa cookies coklat kesukaan Feng Xin. 

 

Nyonya Lin hanya menggeleng kecil betapa antusiasnya anak-anak ini. 

 

“Mu Qing, kau mau cookies ini?” Tanya Feng Xin menyodorkan cookies pada bocah omega dengan mata bulat. 

 

Si bocah omega, Mu Qing menggeleng tegas. “Aku ingin makan pie apel, seperti Zhi-ge!”

 

Feng Xin mengerutkan dahi. “Huh, sejak kapan kau suka makanan itu?”

 

“Jika Zhi-ge menyukainya maka aku juga akan menyukainya.” Ujar Mu Qing dengan percaya diri. Ia kemudian melanjutkan. “Ibu berkata bahwa ketika dewasa nanti aku akan menikah dengan Zhi-ge, jadi mulai sekarang aku harus membiasakan diri!”

 

Sebagai anak-anak yang lahir dengan sendok emas di mulutnya, mereka hanya akan berteman dengan orang-orang yang berada di level yang sama. Mereka juga akan menikah dengan orang yang memiliki status setara sehingga bisa terjalin kerjasama jangka panjang. 

 

Mu Qing sejak baru lahir ke dunia ini sudah diputuskan untuk menikah dengan Wen Zhi kelak. Dua keluarga memiliki hubungan yang baik dan hubungan timbal balik yang tidak sebentar. Secara alami Mu Qing sudah diberitahu sejak awal bahwa ia suatu saat nanti akan menikah dengan Wen Zhi. 

 

“Kita masih kecil tahu, mengapa memikirkan pernikahan secepat itu?” Keluh Feng Xin. Ia kemudian menyenggol Wen Zhi. “Hei, apa kau menyukai calon omegamu di masa depan ini?”

 

Wen Zhi menatap Mu Qing. “Qing-er teman yang baik, akun menyukainya.”

 

“Hmph! Maka sudah diputuskan kami akan menikah nanti!” Mu Qing tersenyum riang. 

 

Nyonya Lin terkekeh kecil dan mengendus. “Kalian anak-anak kecil berbicara seperti orang dewasa! Tunggu sampai kalian tumbuh besar, kita akan melihatnya lagi nanti.”

 

Empat belas tahun kemudian, di bawah guguran dedaunan yang memasuki musim gugur. Cincin pertunangan di jari Mu Qing berkilau karena cahaya lampu taman yang redup. 

 

“Maaf Qing-er, aku hanya menyukai Cheng Yao.”

 

Mata seperti dedaunan dedalu melebar dengan pupil yang menyusut. Seolah-olah ia adalah terpidana yang mendengarkan putusan kematian dari Hakim. Angin dingin musim gugur membelai pipi Mu Qing, dihadapannya Wen Zhi berdiri menggenggam tangan seorang laki-laki omega dengan penampilan sederhana. 

 

“Menyukai?” Lidah Mu Qing terasa kelu. 

 

Ada tatapan penuh sesal dari mata tegas Wen Zhi, namun lebih dari itu ia memiliki keteguhan seperti seribu prajurit. 

 

“Tapi kau dan aku sudah bertunangan.”

 

“Itu benar, tetapi ini hanyalah pertunangan untuk urusan bisnis. Aku akan segera memutuskannya.” Ucap Wen Zhi. 

 

Mu Qing tersenyum kemudian tertawa dengan rasa tidak percaya. Rambut hitam legam yang semula diikat kini terlepas dari ikatannya, tersebar di sepanjang bahunya. “Bukankah pria ini adalah pelayan di restoran kecil yang sering kau kunjungi? Seorang pelayan miskin, apa yang kau harapkan darinya?” 

 

Chen Yao yang mendengar itu menundukkan kepalanya semakin dalam, meremas ujung kaos usang yang ia beli dua tahun yang lalu. Jika dibandingkan dengan Mu Qing ia sama sekali tidak ada apa-apanya, seperti kerikil kecil di tengah hamparan ladang bunga. 

 

Wen Zhi menyipitkan matanya. Ia berkata tidak senang. “Qing-er, jaga kata-katamu.”

 

Mu Qing menghela nafas. “Selesaikan hubungan kalian sesegera mungkin. Kau pikir Keluarga Wen bisa menerima omega yang tidak jelas asal usulnya? Zhi-ge jangan membuat rumit segalanya.” 

 

“Aku akan menyakinkan kedua orang tuaku, apa yang aku butuhkan hanya Chen Yao dan aku tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi.” Ucap Wen Zhi dengan tegas. 

 

Mu Qing menggeleng kecil. “Zhi-ge ini bukan dongeng Cinderella, kau harus bangun sesegera mungkin. Aku hanya memberitahumu, kau akan menyesali semua ini suatu saat nanti.”

 

Ponsel dalam genggaman Mu Qing bergetar, ada pesan masuk yang membuat Mu Qing menjadi sedikit tergesa. “Jangan membicarakan omong kosong, kau hanya dibutakan oleh pesona omega miskin ini sejenak. Aku akan pergi, Feng Xin baru kembali.”

 

Mu Qing membalikkan badannya, berniat untuk segera pergi. 

 

“Aku sudah yakin bahwa yang aku cintai adalah Chen Yao, aku tidak peduli siapa dia dan apa latar belakangnya. Aku hanya menginginkan Chen Yao.”

 

Mu Qing berhenti melangkah, ia membalikkan badan dan berkata dengan sangat tenang. “Itulah yang juga dikatakan oleh pelacur-pelacur milik ayahku.”

 

Sekarang Wen Zhi yang langsung terdiam. Ia seperti menggaruk luka yang hampir sembuh di benak Mu Qing. 

 

“Kita masing-masing harus sadar diri. Seekor ayam tidak seharusnya memakai bulu merak, seekor merak tidak seharusnya memakai bulu ayam. Jujur saja, perbedaanmu dan omega ini terlalu banyak. Semakin banyak perbedaan akan semakin banyak masalah yang timbul di kemudian hari. Zhi-ge, dengarkan nasehatku baik-baik.”

 

Mu Qing melirik Cheng Yao untuk yang terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi dari taman itu. 

 

Genggaman tangan Chen Yao sedikit mengendur, kata-kata Mu Qing terus menusuk hati terdalamnya membuatnya merasa jatuh ke dalam dasar jurang. Namun Wen Zhi berbalik menggenggam erat tangan Chen Yao. “Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja di masa depan. Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu kan?”

 

Wen Zhi membawa Chen Yao ke dalam dekapannya. Chen Yao tidak membalas dekapan Wen Zhi, banyak hal-hal yang menghalanginya untuk melakukan itu. 

 

Ia mencintai Wen Zhi dan Wen Zhi mencintainya, itu tidak diragukan lagi. Tetapi ia menyadari siapa dirinya, hanya seorang pemuda miskin dengan setumpuk hutang yang ditinggalkan oleh ayah tirinya yang bajingan. Bekerja keras siang malam untuk membayar hutang-hutangnya. Hidup dalam kemiskinan yang terasa dingin, semestinya ia sadar bahwa Wen Zhi sangat berbeda dengannya. 

 

Logikanya menyuruhnya untuk mundur, tetapi hatinya yang tamak menginginkan Wen Zhi sampai akhir.