Actions

Work Header

dipake_asal_asalan_sama_dua_cowok_libra.mp4

Summary:

Bahkan panasnya siang hari itu tak dapat mengalahkan panasnya Han Taesan yang berada di atasnya ini. Wajahnya total merah padam dengan lubangnya yang dihajar habis-habisan oleh kakak tingkatnya itu.

Notes:

I'm bad at tag, so sowrrryyy, feel free to correct me if i wrong sooo enjoyyy nyam nyam <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sesuai permintaan kawan karibnya, dengan satu kresek hitam berisikan dua gelas es teh manis, ia masuki kediaman Taesan yang memang sudah biasa sepi seolah tak berpenghuni. Orang tuanya sibuk mencari uang, sering singgah di negara tetangga seolah lupa jika punya anak di rumah. Namun, Taesan sendiri gak terlalu memusingkan orang tuanya yang jarang pulang itu, selagi uang jajannya mengalir lancar dan pekerjaannya gak diganggu, Taesan gak masalah. 

Kantung kresek itu diletakkan di atas meja, si pirang cemberut kala ia tiba di kamar si Leo, lelaki itu sibuk sendiri dengan laptopnya. Manik bulat si pirang melirik ke paha Taesan yang terekspos, dengan sengaja ia daratkan tangannya di atas sana, mengelusnya lembut buat si surai legam tersentak.

“Bentar, Han, jangan ganggu.” Peringatan si Leo tak digubrisnya. Leehan justru semakin menjadi, ia bawa telapak tangannya semakin naik hingga menyentuh selangkangan. Kekehan kecil lolos di bibir tebal si pirang kala maniknya menangkap jemari Taesan mengepal kuat di sisi laptopnya. 

“Fuck, Kim donghyun.” Geraman rendah dari Taesan justru buat darah si pirang makin berdesir, ia rasakan selangkangannya sesak, kontolnya yang udah menegak itu berdenyut, ingin lebih banyak dengar makian dari si Leo.

Leehan mendekat, jarinya sudah menarik turun celana Taesan, bibir tebal itu mendarat ke leher yang lebih tua, dikecupnya dengan lembut, lidahnya terjulur, menyapu permukaan leher hingga ke bawah telinga, digigit pelan daun telinga buat Taesan loloskan desahan tertahan.

“Daripada garap cerita homo lu itu, mending lu yang gua garap, San.” Taesan merinding dibuatnya, suara rendah Leehan buat Taesan menelan ludah. Lidah si libra gak berhenti menggoda lehernya, sesekali dihisap dan digigit hingga tinggalkan bekas. Susah payah Taesan menahan diri supaya nggak langsung mendorong si pirang lalu menggaulinya saat ini juga, ia masih ingin mengikuti permainan yang Leehan tawarkan. 

“Gua yang masuk ya, San.” Tawaran yang lebih terdengar seperti pernyataan itu buat Taesan was-was. Ya, memang di antara mereka berdua gak ada posisi yang pasti untuk siapa yang memasuki tapi, memang Taesan lah yang lebih sering bergerak, sedangkan Leehan hanya diam dan membiarkan Taesan yang memuaskannya. Namun, jika sudah si pirang yang memutuskan, tentu itu bukan putusan yang bagus lantaran tiap kali Leehan yang berada di atas, Taesan akan selalu berakhir dengan gak bisa jalan, sepenuhnya. Siap-siap, dua hari ke depan ia hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang.

 


 

Taesan awalnya kebingungan kala Leehan justru naik ke pangkuannya dan mengarahkan kontolnya ke anal pria cantik itu. Bukannya dia yang mau masuk hari ini ya? Namun, kebingungan terjawab sudah usai Leehan yang bersuara sembari menggerakkan pinggulnya maju-mundur, naik-turun, mencari kenikmatannya sendiri.

“Gua pengen ngerasain kontol lu dulu, bentar,” 

Taesan mengangguk paham, kedua tangannya mendarat di pinggang si pirang, membantunya bergerak. 

“Hng-angh! Ahh! Ahng! G-gua udah nga—ahh—barin Bang Hee—seeunghhh! Katanya d-dia mau j-join ahh!” Satu anggukan Taesan berikan sebagai balasan sebelum dengan mudahnya mengangkat tubuh si pirang untuk berpindah ke atas ranjang. Tubuh yang lebih mungil dibalikkan, pinggulnya diangkat tinggi-tinggi, Taesan kembali dorong kontolnya ke dalam anal Leehan, melanjutkan penyatuan mereka yang sempat terputus. 

“Nghh—ahh! Akh! Akh! P-pelan, ahh!” Taesan tuli, mohonnya Leehan bagaikan angin lalu baginya. Ia terus merojok lubang itu hingga kamarnya dipenuhi oleh desahan dan tangisan dari si pirang. Sembari menunggu Heeseung—kakak tingkatnya—tiba, Taesan tak beri ampun pada lubang Leehan meski pria cantik itu memohon belas kasihan. 

Penuh. Perutnya kembung dijadikan tempat pembuangan sperma kawan karibnya itu. Padahal niatnya hari ini ia lah yang akan membuat Taesan gak bisa jalan? kok malah dirinya yang berakhir hampir pingsan?! 

Leehan berguling ke samping, meraup sebanyak-banyaknya oksigen sebab tadi Taesan tak berinnya kesempatan untuk bernapas. Leehan menangkap tiap pergerakan Taesan, mulai dari bangun dari ranjang, berjalan menuju meja belajarnya hingga mengeluarkan segelas es teh yang dibelinya sebelum kemari. Ia ulurkan tangannya ke arah Taesan yang juga menatapnya sembari menyeruput es teh tersebut.

“M-mau..” Pintanya lirih, sebagian suaranya telah habis dibuat mendesahkan si Leo. 

“Mau ini?” Leehan mengangguk lemas kala Taesan sunggingkan senyum tipis, yang lebih tua bawa tungkainya kembali ke ranjang, duduk di pinggir sembari mengusap lembut surai si pirang. Detik berikutnya, pekikan dari si pirang menggema seisi kamar lantaran Taesan menuangkan cairan berwarna cokelat itu ke atas tubuh telanjang Leehan—lebih tepatnya ke atas pantat merahnya. 

“Taesan bajingan!” Tawa Taesan menggelegar seisi kamar begitu dengar makian Leehan. Tangannya terulur untuk usap pantat yang memerah itu, senang sekali rasanya mengerjai yang lebih muda. Terlintas ide jahil lainnya di kepala, buat senyum Taesan makin mengembang. 

“AKH- ANJING! BANGSAT, LU NGAPAIN!?” Leehan menggeliat tak karuan saat rasakan sesuatu yang begitu dingin menyapa analnya. Kepalanya sontak menoleh ke belakang, melihat apa yang dilakukan yang lebih tua pada lubangnya. Manik bulatnya membola, cengkeraman di bantal semakin menguat kala rasakan es batu yang dimasukkan Taesan—dengan mudahnya masuk ke dalam analnya. Dadanya bergerak naik turun, napasnya memburu, Taesan dan segala otak bejatnya itu gila. 

Pekikan Leehan kembali terdengar kala Taesan menambahkan sebuah es batu ke dalam anal Leehan, disusul dengan kontolnya yang kembali penuhi lubang si pirang. Pria cantik di bawahnya menggeliat tak nyaman, tak suka dengan sensasi dingin dan panas disaat yang bersamaan. Tidak bisakah es batu itu dikeluarkan lebih dulu?

“S-san... es b-batunya k-keluarinhh d-duluuhhh ahh! Nggak e-enyahhkk!” Lagi, lagi, Taesan abai, pinggulnya bergerak semakin laju memompa kejantanannya hingga mentok, buat Leehan muncrat, air mani hingga air matanya ikut mengalir deras disusul rasa hangat di lubangnya kala Taesan dapatkan pelepasannya untuk yang kesekian kalinya.

Geraman rendah dari arah belakang menarik perhatian Leehan yang sibuk pertahankan kesadaran setelah berkali-kali dipakai oleh Taesan. Leehan mendelik kala melihat Heeseung—kakak tingkatnya—telah tiba, entah sejak kapan, kedatangannya tak disadari Leehan atau pun Taesan, yang lebih mengejutkan adalah ketika Heeseung telah menanggalkan celananya, kejantanannya pun telah masuk ke anal Taesan. 

“T-tunggu- WOI LEPASIN DULU KONTOL LU HAN DONGMIN!” Batin Leehan berteriak, inginnya ia sendiri yang melepaskan namun tenaganya sudah terkuras habis. Ia pun membiarkan tubuhnya ikut terlonjak kala Heeseung memompa kontolnya. Geraknya acak-acakan, tak tentu arah buat Taesan terus keluarkan geraman rendah. Leehan pun ikut rasakan sakitnya kala Taesan meremas kuat pinggangnya. 

Leehan ingin protes tapi dari bawah sini Taesan terlihat beribu-ribu kali lebih menggairahkan dengan kontolnya yang tertancap di lubangnya, juga lubangnya yang tengah digagahi Heeseung habis-habisan. Sepertinya fetish Leehan bertambah satu, yaitu, melihat Taesan dibuat tolol dipake orang lain.

“Bang— arghh...” Tolol. Benar-benar Leehan kayaknya udah tolol. Melihat Taesan yang bermandikan keringat dengan Heeseung di belakangnya yang tak kurangi tempo genjotannya buat Leehan makin ngaceng. Bahkan tanpa disentuh, kontolnya udah muncrat lagi dan Heeseung yang menyadari itu lantas terkekeh pelan. Seolah telah bertukar pikiran dengan adik tingkatnya itu, jari jemari Heeseung yang tadinya melingkar apik di pinggang Taesan berganti ke lehernya, cengkeramannya tak sampai buat Taesan pingsan, seenggaknya cukup untuk renggut sedikitnya napas yang lebih muda.

Leehan di bawah sana meneguk ludah, bahkan panasnya siang hari itu tak dapat mengalahkan panasnya Han Taesan yang berada di atasnya ini. Wajahnya total merah padam, dengan iseng ia jawil pentil yang lebih tua, buat Taesan lagi-lagi menggeram rendah. 

“H-han... Bangsatt.” 

“Bang, dia muncrat lagi, anjing.” Heeseung melirik ke arah bongkahan sintal Leehan, benar saja, Taesan lagi-lagi muncrat hingga maninya luber ke luar. Satu kali dorongan sampai dirasa mentok, buat Taesan memekik kencang. Heeseung yang menemukan titik kenikmatannya pun tak buang waktu, ia rojok lagi di titik yang sama, buat kedua adik tingkatnya itu memekik secraa bersamaan. Taesan yang diberi kenikmatan dari depan dan belakang hampir hilang kesadaran jika Heeseung tak buru-buru menampar wajahnya.

“Jangan pingsan dulu, Abang belum puas.” 

Taesan mengumpat dalam hati, kontolnya diremas oleh lubang Leehan sedangkan lubangnya sendiri dipake habis-habisan oleh Heeseung. Kenikmatan dari berbagai arah ini buat Taesan mati-matian tahan dirinya untuk tak muncrat yang kesekian kalinya di lubang Leehan.

“Bentar,” Heeseung tekan perut Taesan, buat yang lebih muda merengek, disusul dengan hangat dirasa di lubangnya kala Heeseung capai pelepasannya untuk yang pertama. Leehan di bawah sana pun ikut merengek kala Taesan lagi-lagi jemput pelepasannya, untuk yang kesekian kalinya. 

“Han, masih punya tenaga gak?”

“Gak ada, Bang, udah mau mati gua-”

“Padahal mau gua ajak masuk bareng ke nih perek.”

Sontak tenaga yang tadinya terkuras itu penuh seolah-olah ia tak pernah rasakan yang namanya lelah. Dengar penawaran Heeseung yang mengajaknya make Taesan rame-rame buat adrenalin Leehan terpacu. Pikiran-pikiran liarnya mula memikirkan berbagai posisi yang pas untuk menguras habis tenaga dan sperma si Leo.

Sedangkan Taesan yang tenaganya sudah terkuras banyak itu hanya bisa pasrah ketika tubuhnya diposisikan berada di tengah, di antara dua pria libra yang kontolnya sudah mengoyak analnya. Bahkan untuk berteriak pun Taesan rasanya tak sanggup, ia dibuat kehilangan suaranya setelah berkali-kali dipakai oleh mereka. 

Kacau, Taesan benar-benar dibuat kacau oleh dua libra kurang ajar itu. Salahkan mereka jika Taesan tak bisa jalan dalam beberapa hari ke depan! 

Notes:

meet me on twitter/x @homonedo :3