Work Text:
Tetangga baru itu terlalu sering memenuhi pikiran Dohoon, tidak tahu mengapa.
Hanjin dan keluarganya baru setengah tahun menempati rumah kosong di samping rumah Dohoon itu.
Tentu saja Dohoon yang introvert itu awalnya tidak begitu peduli dengan keberadaan penghuni baru samping rumahnya, bahkan tidak ikut menyambut kedatangan mereka di saat ibunya sendiri repot-repot membuat kue khusus untuk keluarga itu.
Namun ternyata kedatangan tetangga baru itu membawa sebuah rutinitas pagi yang tidak pernah disangka oleh Dohoon.
Yaitu berangkat kuliah bersama Hanjin.
Anak satu-satunya penghuni baru itu secara kebetulan menempuh pendidikan di tempat yang sama dengan Dohoon. Karena gedung fakultas yang berdekatan, jadinya mereka berangkat bersama.
Tentu saja ini bukan inisiatif dari keduanya, ini karena suruhan dari ibu Dohoon yang semangat sekali memiliki tetangga baru. Jadi kedua remaja itu hanya bisa mengangguk patuh.
Hanjin pun jadi tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi umum karena setiap harinya berangkat dan pulang dibonceng oleh Dohoon.
Ya, di sini lah awal keakraban mereka.
Seakrab itu sampai di titik di mana mereka bisa memasuki rumah satu sama lain secara bebas.
Tanpa permisi pun.
Seperti hari ini, Hanjin disuruh ibu Dohoon untuk mengambil kue yang dibuatkan untuk dirinya. Hanjin pun masuk ke dalam rumah Dohoon untuk mengambil kue yang katanya berasa di dalam kulkas itu.
Niatnya hanya ingin mengambil kue, menyapa Dohoon sejenak, lalu pulang lagi. Hanjin tahu Dohoon sedang sibuk dengan tugasnya, jadi hanya berniat untuk menyapa sebentar saja sambil menyemangati.
Namun Dohoon tidak sedang berada di kamarnya, melainkan di kamar mandi.
Kamar mandinya terletak di dekat dapur.
Di situ Hanjin mendengar desahan rendah dan juga suara decakan basah. Iya, kamar mandinya tidak kedap suara.
Dan Hanjin terkejut karena mendengar ada namanya di tengah lenguhan itu. Terdengar sangat jelas, Dohoon menyebut nama Hanjin di tengah desahannya.
Akhirnya Hanjin berniat untuk langsung pergi dari rumah Dohoon, mengurungkan niatnya untuk menyapa pemuda itu. Hanjin tidak mau tahu lebih dalam apa yang sedang Dohoon lakukan di dalam kamar mandi itu.
Yang jelas, sepertinya ia tidak akan bisa melihat Dohoon dengan perasaan yang sama lagi.
.
.
.
Sudah seminggu lebih Dohoon berangkat kuliah sendiri karena Hanjin telah lebih dulu berangkat bersama temannya yang lain.
Dohoon jadi merasa kosong. Bukan hanya karena Hanjin tidak berangkat bersamanya lagi, tetapi pemuda manis itu benar-benar tidak mengobrol dengannya selama seminggu ini.
Ketika berpapasan, hanya ada sapaan singkat tanpa percakapan lanjutan. Hanjin sering terlihat buru-buru ketika bertemu dengannya, Dohoon jadi tidak enak mau mengajak Hanjin mengobrol.
Jujur saja Dohoon merasa Hanjin seperti sedang menghindarinya. Tetapi ia tidak tahu atas dasar apa, ia melakukan kesalahan apa hingga Hanjin harus menghindarinya seperti itu.
Mungkin ia harus menanyakannya hari ini?
Kebetulan hari ini giliran rumahnya yang jadi tempat acara arisan ibu-ibu komplek berlangsung, sudah dipastikan banyak orang yang akan datang.
Dohoon yang tidak suka berbaur dengan ibu-ibu itu berniat untuk mengungsi ke rumah Hanjin, sempat ditawari ibunya Hanjin juga tadi.
"Bawa nih kue, buat Hanjin juga." Ibu Dohoon menyodorkan kotak makan berisi kue-kue yang tadi pagi dibuatnya.
"Aku nginep boleh gak, Ma?" tanya Dohoon sembari menerima kotak makan itu.
"Tanya ke mamanya Hanjin jangan ke Mama," jawab Ibu Dohoon.
"Kalo dibolehin jadi boleh?"
"Ya, terserah. Asal gak jadi beban aja."
Dohoon langsung mengangguk dengan senyum setelah mendengar itu, ia pun pamit pada ibunya.
Menuju rumah Hanjin, ia berpapasan dengan Ibu Hanjin yang kebetulan mau ke rumahnya untuk membantu mempersiapkan acara arisan.
Dohoon benar-benar meminta izin kepada Ibu Hanjin untuk bisa menginap dan seperti ekspektasinya, Ibu Hanjin mengiyakan permintaan Dohoon.
Semakin berseri lah pemuda tinggi itu jadinya.
Terlalu lama tidak bercengkrama dengan tetangga manisnya.
Masuk ke dalam rumah Hanjin dengan langkah ringan, Dohoon juga sebelumnya sempat mengirim pesan kepada si manis bahwa ia mau datang.
Hanjin hanya menjawab singkat mengatakan bahwa ia ada di kamar dan Dohoon bisa langsung masuk saja ke kamarnya.
Di sini lah Dohoon sekarang, mengetuk pintu kamar Hanjin menandakan bahwa ia sudah datang.
"Sebentar, kak!" jawab Hanjin dari dalam kamar. Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka.
Lima detik Dohoon merasa tubuhnya berhenti berfungsi, hanya matanya yang terpaku memandangi penampilan Hanjin.
Pemuda itu mengenakan kaus putih yang ukurannya sedikit lebih besar dari badannya, dipadukan dengan hotpant hitam.
Hotpant.
Pendek.
Benar-benar pendek hingga hampir terlihat seperti Hanjin tidak menggunakan bawahan apapun, apalagi kaus oversizednya benar-benar menutupi keberadaan hotpant itu.
Sebenarnya Dohoon saat ini pun berpenampilan tidak jauh beda dengan Hanjin, kaus oblong dan celana training. Pakaian hari libur lah.
Pemuda tinggi itu meneguk ludah kasar. Wajah Hanjin pun entah mengapa terlihat lebih cantik dan menggemaskan saat ini, walaupun sepertinya pemuda itu baru bangun dari tidurnya dan belum mandi.
Namun sejujurnya penampilan Hanjin yang polos seperti ini yang Dohoon suka.
Iya, Dohoon suka Hanjin.
"Udah rame ya di rumah kakak?" Pertanyaan dari Hanjin itu langsung mengembalikan Dohoon ke dunia nyata setelah sempat hilang akal sejenak.
"B-belum, baru beberapa yang dateng buat bantu-bantu. Paling ramenya jam satu nanti," jawab Dohoon.
Hanjin mengangguk paham lalu mempersilakan Dohoon masuk ke dalam kamarnya.
Jujur saja Dohoon merasa tubuhnya agak panas dingin sekarang. Ia mendudukkan diri di ranjang Hanjin sementara sang tuan rumah duduk di meja belajarnya.
"Hari Minggu gini nugas," celetuk Dohoon berusaha membuat dirinya lebih santai, tidak mau Hanjin menyadari bahwa tetangganya ini sedang berpikir yang aneh-aneh tentangnya.
"Gabut aja sih tadi," jawab Hanjin dengan tangan yang sibuk mengetik.
Dohoon hanya manggut-manggut.
Memang si Hanjin adalah tipikal yang kalau lagi bosan itu belajar. Berbeda dengan Dohoon yang kalau lagi bosan pasti main game atau langsung tidur.
Karena Hanjin sedang mengerjakan tugas dan Dohoon tidak mau mengganggu, jadi Dohoon putuskan untuk memainkan ponselnya.
Namun baru saja membuka layar kunci, Dohoon langsung disambut dengan notifikasi video porno dari aplikasi X. Tentu saja Dohoon yang panik itu sontak menggeser notifikasinya agar hilang.
Wajahnya langsung memerah padam. Sialan, malah muncul notifikasi laknat di saat-saat seperti ini.
Dohoon memutuskan untuk menonton video gameplay dari YouTubers kesenangannya agar pikirannya tidak semakin menjadi-jadi.
Walaupun matanya sesekali memandangi punggung Hanjin yang posisi duduknya membelakangi ranjang itu.
Namun Dohoon berhasil mengalihkan pikirannya, kini jadi hanya fokus pada video gameplay yang sedang ditontonnya. Dohoon pun berbaring dengan nyaman di ranjang selagi menonton.
Sayangnya... ini tidak berlangsung lama.
Karena tiba-tiba Hanjin datang, ikut berbaring. Pemuda cantik itu menyelip tepat di ruang kosong antara Dohoon dan ponselnya.
Jangan ditanya betapa terkejutnya Dohoon saat ini, sampai tahan napas malah. Matanya total melotot menatap Hanjin.
Sedangkan Hanjin menyamankan posisinya, matanya tertuju pada layar ponsel Dohoon yang masih menampilkan video.
"Ikut nonton," ujar pemuda manis itu.
Dohoon gugup setengah mati tetapi berusaha untuk tetap terlihat santai. Ia mengangguk, membenarkan posisi ponselnya agar Hanjin bisa ikut menonton. Kalau Hanjin cukup teliti, pasti bisa menyadari kalau tangan Dohoon sekarang sedikit gemetar.
"Ih, game horor ya?" gerutu Hanjin baru menonton beberapa detik dari videonya.
"Iya, banyak jumpscarenya nanti," jawab Dohoon.
"Gak mau nonton, deh. Takut." Hanjin balik badan menghadap Dohoon. Lengannya memeluk tubuh yang lebih tua dengan erat, wajahnya pun ditenggelamkan pada dada bidang itu.
Lagi-lagi membuat Dohoon terkejut. Ini mah Hanjin sengaja biar jantungnya berhenti berdetak...
"Y-ya udah, mau nonton video apa?" tanya Dohoon. Ini sebisa mungkin menstabilkan suaranya, tetapi susah sekali mempertahankan suara stabil itu.
"Gak apa-apa, aku mau tidur aja," jawab Hanjin. Kini kakinya ikut menyusul memeluk tubuh Dohoon.
Yang di mana membuat pusat tubuh mereka jadi saling bersentuhan secara tidak langsung.
Wajah Dohoon telah memerah padam. Malu, miliknya sudah setengah menegang, Hanjin pasti merasakannya karena bahan celana mereka lumayan tipis.
"Tidurnya meluk kakak banget ini?"
"Iya, biar bisa nyentuh ininya kakak."
"Hanjin..."
Dohoon mendorong Hanjin menjauh. Mata mereka lalu saling tatap.
"Kaget banget keliatannya, kayak gak pernah jadiin aku bacol aja," celetuk Hanjin.
Mata Dohoon terbelalak. Dari mana Hanjin tahu itu...
Hanjin tersenyum mengejek. Didekatkan wajahnya pada wajah Dohoon, "nih, aku izinin. Coba wujudin fantasi liarnya, aku mau liat."
"Hanjin, gak gitu..." lirih Dohoon hendak menjauhkan wajahnya tetapi malah ditahan oleh Hanjin.
"Gak apa-apa, gak ada siapa-siapa di rumah nih kebetulan. Pintu kamar juga udah aku kunci."
Tubuh yang lebih kecil naik ke atas tubuh yang lebih besar, Hanjin dudukkan dirinya pada perut Dohoon. "Aku gak lebih baik dari kakak sih btw."
Semakin Hanjin mundurkan pantatnya hingga menyentuh gundukan keras di pusat tubuh Dohoon. "Aku juga pengen dimasukin Kak Dohoon, pengen dienakin."
Napas Dohoon terasa sesak, Hanjin bergerak menggesek di bawah sana membuat rangsangan yang semakin gila. Tangannya lalu menahan pantat Hanjin agar berhenti bergerak.
Namun Hanjin malah mendesah pelan, "remes, kak."
Dohoon turuti. Diremasnya bulatan sintal itu tanpa ragu, pinggulnya pun dinaikkan sedikit agar semakin menekan pada belahan di sana. Desahan Hanjin semakin nyaring.
Ya, kalau dipancing begini mah Dohoon bisa apa?
"Tau dari mana kamu jadi bacolnya kakak?" tanya Dohoon.
"Waktu lagi ngambil kue minggu lalu, suara kakak kedengeran dari dapur," jawab Hanjin.
"Oh, nguping..." Dohoon mendudukkan diri, mendekatkan bibirnya pada telinga Hanjin. "Mau dengerin kakak desah langsung di sini sambil genjotin kamu?"
"Mau..." Hanjin mengangguk semangat.
Keadaan dibalik, kini Dohoon mengungkung Hanjin yang berbaring di bawahnya.
Hanjin langsung menggenggam pergelangan tangan Dohoon yang masuk ke dalam kausnya. Tentunya untuk bermain pada kedua dadanya.
Bibir Dohoon pun langsung mencumbu bibir Hanjin dengan perlahan.
Di bawah sana, Dohoon menekan pusat tubuhnya pada pusat tubuh Hanjin.
Pakaian mereka masih lengkap, tetapi tetap bisa merasakan sensasi aneh yang tercipta saat Dohoon mulai bergerak menggesek di bawah sana.
Hanjin melenguh pelan, ia bisa merasakan seberapa kerasnya benda di balik celana Dohoon itu. Bahkan membuat miliknya pun ikut mengeras karena bersentuhan secara tak langsung dengannya.
Dohoon angkat sedikit pinggul Hanjin dan semakin kuat menggesekkan kedua pusat tubuh mereka itu. Keduanya sudah benar-benar mengeras di bawah sana.
"Eungh.."
Cicitan kecil lolos dari mulut Hanjin membuat Dohoon ikut keluarkan desahan rendah, hasratnya semakin naik karena suara itu.
Dohoon pun mengakhiri ciuman mereka untuk menatap wajah Hanjin. Entah mengapa, aura Hanjin jadi berbeda sekali sekarang.
Ia merasa merinding karena tatapan sayu itu. Hanjin begitu cantik, begitu menggoda. Dohoon tidak tahu kalau Hanjin bisa jadi sangat atraktif seperti ini, ia rasa ia semakin jatuh pada pesona Hanjin.
"Udah, buka aja..." lirih Hanjin.
"Hm?" Dohoon bergumam bertanya.
Tiba-tiba jemari kaki Hanjin sudah berada pada lingkar celananya, mulai bergerak untuk menanggalkan celana Dohoon.
Ditahan lah oleh Dohoon. "Sabar."
"Mau kakak," sungut Hanjin.
"Buka punya kamu dulu."
"Ya udah, sini buka."
Dohoon lakukan itu. Ia buka celana pendek Hanjin dengan perlahan. Sedikit deg-degan juga sih, bayangkan ini dia mau melihat secara langsung hal yang udah bikin dia mikir jorok akhir-akhir ini.
Dohoon sampai tahan napas selama menarik celana Hanjin hingga terlepas. Hanjin turut perhatikan tangan Dohoon itu, pun ikut membantu agar celananya terbuka sempurna.
Dan kini tubuh bagian bawah Hanjin tidak berbalut apa pun.
Dohoon, dengan kesadaran penuhnya, mengumpat kencang. "Anjing, cantik banget..."
"Makasih?" ucap Hanjin. Di lubuk hatinya yang terdalam, lumayan tersipu juga atas pujian tiba-tiba dari Dohoon itu.
Dohoon raba sejenak area selangkangan Hanjin, batinnya terus mengumpat merasakan betapa mulusnya tempat itu. Sial, Hanjin secantik itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dohoon sampai bingung mengapa bisa ada laki-laki secantik ini.
Miliknya yang sudah menegang itu pun dikeluarkan dari celana dan langsung saling bersentuhan dengan milik Hanjin.
Mati Hanjin.
Ia teguk ludah kasar melihat benda yang mengacung tegak sesaat setelah dikeluarkan Dohoon dari balik celana. Perasaan takut muncul, bagaimana kalau sampai robek nanti di bawah sana...?
Dohoon dekatkan wajahnya pada wajah Hanjin, berikan kecupan kupu-kupu pada permukaan wajah cantik itu. Lalu melumat lembut bibir merah Hanjin.
Hanjin melenguh pelan, selain karena ciumannya juga karena milik Dohoon itu benar-benar menempel pada miliknya. Hanjin benar-benar begitu kecil bila dibandingkan dengan Dohoon.
"Aku ada lube," ujar Hanjin.
"Kamu nyimpen lube?" tanya Dohoon menatap Hanjin tak percaya. Dibalik tampang lugu Hanjin ternyata pemuda itu menyimpan barang tak senonoh di kamarnya.
"Baru beli itu," jawab Hanjin. "Karena aku tau kakak bakal ke sini hari ini."
"Kamu udah ngerencanain mau ngewe sama kakak?"
"Segala sesuatu emang harus direncanain gak sih?"
"Ngediemin kakak itu bagian dari rencana kamu juga?"
"Enggak. Emang kaget aja aku tiba-tiba jadi bacolnya anak tetangga, ditambah sibuk kerkom juga sih akhir-akhir ini..."
"Maaf, ya... Jangan diemin lagi..."
Dohoon mengatakan itu sambil mencebikkan bibirnya cemberut, Hanjin pun mengikuti raut wajah Dohoon yang menurutnya sangat lucu itu.
"Iya, udah jangan cemberut lagi." Dielusnya pipi Dohoon lalu wajah yang lebih tua itu ditarik mendekat, kembali bibir mereka saling melumat.
Tangan kiri Hanjin masih mengelus pipi Dohoon sedangkan tangan kanannya turun pada dua kelamin yang masih saling bersentuhan itu.
Hanjin pijat lembut keduanya secara bersamaan, melakukan frotter. Walaupun tangan kecilnya tidak bisa benar-benar menggenggam dua batang tegang itu.
Karena masih kering, Hanjin hentikan kegiatan mereka berniat untuk mengambil pelumas yang ia simpan di laci meja belajarnya.
Namun Dohoon menahannya.
"Nanti aja pake lubenya," katanya.
Lalu mulut Hanjin disuruh mengemut jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Dohoon. Dituruti lah oleh pemuda manis itu.
Hanjin emut dua jari itu layaknya permen lolipop, matanya yang berbinar lucu menatap Dohoon dengan polosnya. Dua tangannya pun ikut menggenggam pergelangan tangan kanan Dohoon.
Dohoon meneguk ludah, tatapan Hanjin seperti sedang menggoda Dohoon untuk membuat tubuh kecil itu gemetaran dengan tangis yang tak henti-henti.
Ia sodok jarinya masuk ke dalam mulut Hanjin semakin dalam, lalu jarinya bergerak mengikuti gerak lidah Hanjin.
Sedikit terlalu dalam, Hanjin sampai tersedak. Dohoon agak panik langsung meminta maaf pada yang lebih muda. Gerakannya lalu jadi lebih pelan penuh perasaan daripada sebelumnya.
Sampai benar-benar terasa basah jarinya barulah Dohoon keluarkan dari mulut Hanjin.
"Kak aahh..."
Tangan Dohoon lebih dulu menyentuh milik Hanjin, memijat lembut kejantanan yang muat dalam genggamannya itu. Hanjin bercicit pelan, gerakan tangan pemuda tinggi itu sangat lihai.
Bakat pencoli handal.
Makin pening Hanjin ketika miliknya kini bersentuhan dengan milik Dohoon dalam genggaman hangat itu. Kulit mereka pun saling menggesek di sana seiring dengan gerakan tangan Dohoon.
"Kak Dohoon..." lenguh Hanjin pelan. Sama seperti yang dibayangkannya tadi, sensasi ini begitu memabukkan.
Pijatan lembut dari tangan Dohoon pada kedua kejantanan mereka membuat Hanjin seperti dimabuk, tangan Dohoon hangat sekali.
Hanjin pening, miliknya bersentuhan langsung dengan urat-urat kasar yang menonjol pada milik Dohoon. Pipi Hanjin memanas, ia menyukai detail tubuh Dohoon.
"Hanjin.. Hanjin..." gumam Dohoon meracau. Bibirnya naik ke telinga Hanjin dan menggigit pelan di sana membuat sang empu langsung mengerang geli.
Tak hanya tangannya sekarang yang bergerak memijat, pinggulnya pun ikut bergerak maju mundur secara teratur. Dalam genggamannya itu, kejantanannya bergerak keluar masuk beradu gesek dengan kejantanan Hanjin.
Hanjin mendesah tertahan, precumnya langsung mengalir deras akibat gerakan Dohoon itu.
"Enak.." racau Hanjin, kakinya terbuka semakin lebar.
Dohoon memejamkan mata menikmati apa yang ia lakukan saat ini. Mulutnya tak berhenti melenguh pelan.
Dengan posisi mulut Dohoon yang masih berada tepat di samping telinganya, tentu saja Hanjin dapat mendengar dengan jelas semua lenguhan itu.
Semakin liar kupu-kupu itu berterbangan di perutnya, Hanjin rasa sebentar lagi ia akan sampai pada ejakulasi.
Dua kejantanan itu semakin terasa licin dalam genggaman Dohoon, precum mereka yang tidak hentinya mengalir kini saling bercampur hingga membuat frotter yang mereka lakukan jadi semakin licin.
Tubuh Hanjin menegang sesaat lalu disusulkan dengan tembakan cairan hangat di bawah sana, Hanjin sampai pada ejakulasinya duluan.
Dohoon menggeram rendah merasakan cairan hangat yang mengenai tangan dan miliknya itu, semakin tidak beraturan gerakan pinggulnya.
"Enghh.. Kak Dohoon.."
Begitu banyak cairan yang Hanjin keluarkan. Sepertinya memang segila ini sensasi ejakulasi itu bila dilakukan bersama orang lain.
Tak lama kemudian, gerakan Dohoon terhenti bersamaan dengan cairan yang keluar dari kejantanannya. Lebih banyak daripada Hanjin tadi, banyak sekali hingga mengalir jatuh ke kasur dari perut Hanjin.
Dohoon terengah-engah, tenaganya hilang seketika. Ia menjatuhkan tubuhnya berbaring di atas tubuh Hanjin, leher jenjang si manis digigitnya pelan sembari menikmati pelepasannya itu.
Hanjin elus lembut kepala pemuda itu. "Kak, kalo keluar emang sebanyak ini?" tanyanya meraba perut sendiri yang penuh dengan cairan putih yang lengket.
Dohoon menggeleng pelan. "Gak sebanyak ini sih, kayaknya karena sama kamu aja jadi banjir."
"Nafsu banget sama aku," ledek Hanjin.
Dohoon mendengus geli, "emang, kan?"
Hanjin jadi ikut tertawa kecil.
"Ayo—"
Tring~ tring~
Tiba-tiba ponsel Hanjin berdering, karena berada di sebelah Hanjin jadi langsung diangkat lah olehnya.
Panik sedikit karena itu ternyata panggilan dari ibunya. Untung cuma panggilan suara bukan panggilan video.
"I-iya, Ma?" sapa Hanjin. Dohoon hanya diam ikut mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu.
"Kyungmin mau dateng? Oke..."
Percakapan itu berlangsung agak lama, Hanjin menahan desahnya agar tidak keluar karena Dohoon secara kurang ajar malah menjilati dadanya.
Entah kenapa tiba-tiba kausnya sudah disibak begitu oleh Dohoon.
Setelah panggilan berakhir, Hanjin langsung memukul pelan pundak Dohoon. "Gak sopan orang lagi telponan malah dijilatin begini," omel Hanjin sembari menaruh ponselnya.
"Enak," ucap Dohoon seadaanya membuat Hanjin mendengus kesal.
"Kyungmin mau dateng," ujar Hanjin.
"Sepupu kamu?" tanya Dohoon dijawab anggukan oleh Hanjin. "Gak jadi ngewe dong?"
"Kyungminnya nginep, kak," jawab Hanjin.
"Aku juga mau nginep," balas Dohoon.
"Iya, nanti aku ambilin karpet."
"Mau sama kamu di kasur."
"Gak bisa, Kyungmin sama aku—"
Tring~ tring~
Tiba-tiba ponsel Hanjin berdering lagi, sekarang panggilan dari Kyungmin.
"Iya, kakak bukain pintunya—"
"ADA, BANG DOHOON—"
"KAKAK DIEM!"
Jujur aja, di seberang telepon itu ada Kyungmin yang lagi bingung kenapa ini orang yang lagi telponan sama dia ribut banget. Mana tiba-tiba telponnya dimatiin.
Tetapi tidak apa-apa, Kyungmin pun akhirnya menunggu dengan sabar di depan pintu rumah Hanjin.
Sebenarnya itu pintunya tidak sedang dalam keadaan terkunci dan ia bisa langsung masuk saja ke dalam rumah Hanjin.
Namun sepertinya jangan, Kyungmin jangan sampai tahu kalau pemilik rumah itu hampir saja mau berbuat asusila kalau ia tidak datang.
