Chapter Text
Entah bagaimana Eunho bisa berakhir di kamar yang leih luas dari apartemennya ini. Nuansa putih gading bersih tidak mencerminkan perilaku empunya yang diam-diam memiliki selera kegiatan seksual yang tidak biasa.
.
Eunho bekerja sebagai staff marketing di suatu perusahaan besar, atasannya adalah Nam Yejun, sebagai leader tim marketing I. Pria berusia awal 30an yang sudah Eunho kenal sejak tahun lalu—saat ia magang. Hingga di rekrut menjadi pegawai tetap, Eunho selalu menyukai Yejun.
Perawakan tinggi dengan bahu lebar nan tegap, jas yang selalu membungkus rapih tubuh atletisnya. Membuat Eunho selalu ingin memuji betapa tampannya pria itu. Namun, tentu saja itu tidak pernah terucap. Tiap kali di hadapkan langsung oleh Yejun, Eunho menjadi salah tingkah hingga kosa katanya seperti anak-anak berumur tiga tahun. Walaupun proporsi tubuh mereka yang nyaris sama, aura dominasi kuat selalu membuat Eunho menunduk tiap kali Yejun bicara padanya. Padahal, Yejun pun sebagai leader tidak pernah marah, bahkan saat timnya membuat kesalahan fatal.
Pesan Masuk, TL Nam 18.02 :
Laporan survey dengan asuransi x saya tunggu hari ini ya
Manik Eunho berkedut kala pesan itu masuk. Dirinya menatap layar hitam di depannya yang barusan ia matikan sebagai tanda penutup pekerjaan hari ini.
Yejun memang terkenal rramah dan baik. Bahkan, Eunho yakin semua orang di kantor ni akan menyukai pria bersurai biru gelap itu jika Yejun tidak hobi menahan pegawai untuk bekerja lembur.
Sebuah helaan nafas kasar Eunho ambil, mengacak surai putihnya frustasi.
Pesan Masuk, BongBong 18.05 :
Kemana? Semua orang sudah datang
Mendapatkan partner seks?
Pesan Keluar, BongBong 18.06 :
Ada pekerjaan dari TL Nam, lembur…
Pesan Masuk, BongBong 18.06 :
Eo? Lagi? Kejamnya…
Mau minum setelah selesai?
Pesan Keluar, BongBong 18.06 :
Sure, mumpung besok weekend
Pesan Masuk, BongBong 18.09 :
Bar xxxx mau? :D
Eunho membaca pesan itu kemudian ia kembali menghidupkan komputernya, membuka aplikasi pesan di komputer untuk membalas pesan Bonggu disana.
Pesan Keluar, TL Nam 18.10 :
Bar xxxx? Mau, but help me to find a hookup partner also
Menutup langsung aplikasi untuk melanjutkan pekerjaannya, Eunho kembali fokus. Mengerjakan sisa laporan yang belum selesai.
Pesan Masuk, TL Nam 19.22 :
Ke ruangan saya sekarang
Pop-up notifikasi membuat Eunho dengan cepat membuka pesan yang lupa ia balas tadi. Jantungnya terasa meloncat keluar dari rongga dadanya saat ruang pesan pribadi itu terbuka. Ia berkali-kali memastikan bahwa pesan terakhir yang ia kirim benar-benar terkirim ke Bonggu. Namun naas, justru itu terkirim pada atasannya.
.
Disinilah ia berdiri dengan sebuah amplop berisi surat pengunduran diri dan dokumen yang tadi di minta di tangannya. Pintu kayu besar dengan kehadiran Yejun di dalamnya membuat Eunho merutuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa membuat kesalahan begitu, selain malu, apa yang akan di pikirkan oleh atasannya itu? Apakah Yejun akan jijik? Atau Eunho akan terkena penalti? Oh, sudah tidak ada muka lagi, ia akan resign saat ini juga.
Pintu kayu itu Eunho buka, melangkah perlahan emmasuki ruangan sang atasan sambil menunduk. Tidak berani menatap pria yang berada di sisi lain ruangan, tengah duduk di kursi kerjanya.
“Do Eunho—”
“Leader Nam,” sela Eunho, “Ini laporan yang diminta, semua informasi sudah tertera. Dengan kesimpulan, asuransi x memenuhi standar untuk bekerjasama dengan perusahaan. Lalu-,” setelah menyodorkan dokumen, Eunho menyodorkan sebuah amplop dengan tulisan Resignation Letter besar di depannya, “Saya mengundurkan diri dari perusahaan”
Siapa sangka ia akan mengundurkran diri setelah tiga bulan bekerja dengan status pegawai.
“Saya menolak pengunduran diri kamu”
Maniknya membulat sempurna kala akhirnya dagunya terangkat. Entah sejak kapan Yejun sudah berada di hadapannya dengan jarak kurang dari satu meter. Tangannya dimasukkan kedalam saku kemudian mengunci tatapan keduanya membuat Eunho bak tersihir tidak dapat melirik kearah lain.
“Kamu perlu menjelaskan sesuatu, kan?”
Obsidian sebiru langit menusuk yang enggan melepas kontak, susah payah Eunho meneguk salivanya sendiri. Lidahnya terasa kelu untuk bicara padahal ia tadi sudah merangkai kata-kata untuk meminta maaf. Hanya “Ah” dan “Eh” sejak tadi keluar dari mulutnya.
“Kamu menyukai pria?,” imbuh Yejun lagi, “Bar xxxx adalah bar gay, Eunho”
“Anu…Iya Leader Nam—,” tunggu. Bagaimana Yejun tahu itu, pikir Eunho. Kecuali kalau dia juga—
“Mau menjadi partner seks, Eunho?”
“Huh?”
Kejadaian begitu cepat, otak Eunho belum dapat memeroses bagaimana Yejun yang kini menciumnya. Begitu lihai dan hati-hati. Ciuman pertama Eunho. Ia tidak menyangka ciuman pertamanya diambil oleh pria yang ia sukai. Namun, tetap saja! Apa yang barusan terjadi?!
Ciuman lembut perlahan mendalam, tengkuk yang lebih muda ditarik untuk melesakkan lidah Yejun kedalam rongga hangat Eunho. Manik biru itu terbuka, menatap tajam kearah Eunho yang menutup matanya, hingga dahinya nampak berkerut.
Menyudahi ciumannya, Yejun menarik diri, menciptakan benang saliva diantara belah ranum keduanya. Sebelah tangannya menangkup pipi Eunho, mengusap lembut garis bibir empunya dengan ibu jari sebelum melesak masuk untuk menekan pipi bagian dalam Eunho. Sebuah senyuman manis tanpa dosa Yejun lemparkan, lagi-lagi membuat desiran darah Eunho terasa lima kali lebih cepat di bawah kulit pucatnya.
“Such an obedient puppy”
.
“Kamu perawan?!” setengah terkejut saat pengakuan itu Eunho buat. Yejun jadi merasa tidak enak karena hampir saja membuat kesan pertama yang buruk, ternyata Eunho benar-benar menangis karena sakit, bukan karena keenakan.
Maka dari itu tubuh gempal Eunho Yejun tuntun untuk duduk di pangkuannnya dengan hati-hati, melingkarkan lengannya posesif di pinggul ramping Eunho. Memberikan usapan lembut disana untuk menenangkan, “Shhh….maaf,”
Jujur, dalam hati Eunho cukup kebingungan menghadapi pria di hadapannya ini. Pertama, di kantor, Yejun benar-benar terpoles oleh wajah tampan dan sikap baik hati. Sering mentraktir tim kopi di pagi hari, atau snack saat makan siang.
Kedua, kala Yejun membuatnya lembur untuk bekerja, sering kali ia pindah ke cubicle kosong di dekat Eunho untuk bekerja alih-alih di ruangannya. Kalau boleh jujur, itu membuat Eunho gugup. Ia juga sering mengkhawatirkan dan bertanya soal jadwal makan dan tidurnya atau, apakah pekerjaan yang ia beri berlebihan. Awalnya Eunho pikir itu adalah perhatian khusus namun, keesokkan harinya, ia mendapati Yejun bertanya pada karyawan lain dengan pertanyaan yang sama.
Lalu yang ketiga, saat ini. Bagimana sikap lembut dan murah hari itu pergi kala kakinya menapak di apartemen mewahnya. Pupil bulat nan lebar mengecil bersamaan dengan manik yang memicing. Tangan lembut yang sering menjabat tangan Eunho itu berubah melingkar di lehernya untuk sekedar menariknya kedalam ciuman. Seperti melihat sisi lain dari pria yang lebih tua di hadapannya.
Tidak, bukan berrarti Eunho tidak menyukainya. Ia hanya terkejut, semuanya hanya terjadi dalam waktu kurang dari tiga jam. Ia juga belum pernah berhubungan seks, bahkan menyentuh dirinya sendiri saja jarang-jarang ia lakukan karena lembur sudah membuatnya kelelahan lebih dulu belakangan ini.
Pelukan dan usapan yang diberikan itu rasanya kelewat nyaman. Dagunya beristirahat pada bahu Yejun kala isakkan tangis Eunho perlahan mereda. Pakaiannya sudah dilucuti lebih dahulu oleh Yejun, ia duduk di pangkuan itu telanjang bulat, dengan collar beserta juntaian talinya melingkar pas di leher indah itu. Yejun yang memasangkan tadi.
“Kalau kamu gugup kita bisa sudahi aja, ya?”
“Tidak!” manik merah itu bergretar saat mulutnya berucap lebih dulu daripada pikirannya berjalan. Sergahan refleks membuat Yejun menatapnya dengan bingung, dimana Eunho perlu memutar otak mencari alasan agar tidak canggung. Ia juga takut kesempatan untuk mendeakati Yejun lenyap begitu saja.
“Uh, tapi ini…keras, Hyung…” jawaban malu-malu, kontras dengan bokongnya yang sengaja digerakkan berputar pelan, Yejun mendesis merasakan ereksinya yang di goda. Manik biru itu kembali bertabrakan dengan milik si merah.
“Kamu tadi panggil apa?,”
“Oh maaf Leader Nam, aku…nggak sengaja”
“Saya tanya tadi kamu panggil saya apa?,” Eunho dapat melihat bagaimana rahang itu mengeras saat bicara dan tubuh yang mematung menunggu jawabannya.
“Hyung?”
Jantung Yejun terasa mencelos loncat dari rongganya mendengar panggilan itu. Bagaimana bibir plump itu bergerak, terdengar mendayu indah di telinga Yejun. Sampai-sampai ereksinya semankin menggembung dibawah sana.
Tali panjang itu ia tarik, membuat pucuk hidung bangir keduanya bersentuhan ringan. Disana pula tatapan itu semakin intens.
“Lagi”
“Hyung, Yejun Hyung…” kali ini Eunho ucapkan dengan lirih.
Seperti menyalakan api, libido Yejun yang sebelumnya meredup kembali memuncak. Namun, ia masih tidak tega jika harus melakukan “itu” saat ini juga. Maka dari itu, ia tuntun tubuh gempal itu untuk berlutut di lantai, diantara pahanya yang terbuka. Membuat Eunho kini perlu mendongak untuk menatap Yejun.
Pria itu sungguh menyukai pemandangan ini. Manik berkaca sayu menatapnya lebar, tangan terulur di depan, kaki tertekuk kebelakang. Percis seperti anjing baik yang penurut. Membayangkan hal itu membuatnya kembali terkekeh pelan dengan tawa rendah yang khas.
“Buka mulutnya,” titah yang langsung Eunho kerjakan, “Pintar. Lets train your mouth and throat first shall we?”
Dengan begitu, Yejun menurunkan celananya dengan cepat. Membebaskan kejantannya yang sudah mengacung keras di udara. Manik Eunho terbelalak melihat bagaimana ukuran itu dapat disembunyikan dalam kegiatan sehari-harinya. Ia kira miliknya sudah cukup besar namun, milik Yejun jauh lebih tebal. Well, sebagai sesama pria, Eunho cukup iri melihatnya.
“Suka pemandangannya hm?”
Pertanyaan itu membuat Eunho kembali mendongak dengan wajah yang kini sudah semerah kepiting rebus. Tak sadar menatap bagian selatan itu hingga mulutnya menganga lebar.
“Hisap”
“Huh?, itu tidak bakalan muat…” ringisnya pelan. Benar, bagaimana mulutnya dapat menampung benda tebal berurat itu? Tidak mungkin.
“That’s why I said I need to train your throat,” sebuah tarikan kembali Yejun beri di tali itu, membuat tubuh Eunho terhuyung kedepan dan bibirnya menyentuh bagian ujung penis yang lebih tua.
Perlahan namun pasti, belah mulut itu terbuka, memberikan jilatan kecil membuat desisan lagi-lagi lolos dari mulut Yejun, “Good, good boy, Eunho”
Eunho melirik Yejun yang juga kini juga tengah melihatnya dengan senyuman lembut. Merasakan perasaan senang aneh yang ia tidak pernah rasakan sebelumnya. Jilatan-jilatan kecil perlahan menjadi hisapan pada pucuk penis yang lebih tua. Tidak memaksakan diri karena sedikit lagi rahangnya akan terasa ngilu.
Melihat itu, jemari Yejun menyalip diantara surai silver Eunho, meremat kecil dan menyisir kebelakang. Menyingkirkan juntaian yang menghalangi pandangannya untuk menangkap ekspresi itu lebih jelas.
“I’ll take the lead Eunho, just do as what I say okay?,” dengan pipi menggembung penuh penis Yejun, Eunho mengangguk. Diam-diam Yejun berteriak gemas dalam hatinya.
“Tarik nafas dalam—kemudian—haaaaah…” kepala itu Yejun dorong turun hingga semua kejantanannya masuk kedalam rongga hangat yang lebih muda namun, dengan cepat ia keluarkan lagi. Hal itu membuat Eunho refleks tersedak hingga terbatuk berkali-kali. Sudut matanya nampak jelas menitihkan air mata sebagai respon alami.
“H-Hyung…sakit,” keluhnya sambil memegangi lehernya sendiri.
“You’re a good one right? Open your mouth and throat wider,” Yejun kembali mengarahkan kejantanannya pada mulut yang lebih muda. Melihat bagaimana bibir tebal itu menangkup ujung miliknya nampak menggemaskan. Wajah kacau akan air mata dan saliva yang berada di sekitar mulut dan dagu menambah kesan seksi di mata Yejun.
Sekali lagi Yejun meminta Eunho untuk menarik nafas dalam, kemudian ia melesakkan lagi dalam dalam kejantanannya hingga tercetak di tenggorokkan Eunho. Kali ini ia diamkan sedetik sebelum menarik keluar. Alhasil, Eunho terbatuk lebih keras dari sebelumnya bahkan, saat mengambil nafas ia perlu membuka mulutnya juga, membantu pasokan oksigen terhirup dari sana.
Tentu saja sakit masih menjadi rasa yang mendominasi. Tenggorokkan Eunho terasa perih dan rahangnya juga nyeri. Yejun membiarkan sang submisif untuk menenangkan diri, masih dengan tanggannya yang mencengkram surai silver itu untuk mendongak agar bisa ia lihat ekspresi empunya. Benar, semuanya diperhatikan Yejun lamat-lamat.
“Come here, now do it by yourself”
Dengan begitu, Eunho kembali memasukkan ujung batang keras itu lagi kedalam mulutnya. Menggenggam sisanya dengan kedua tangan untuk ia beri pijatan dan pompaan. Gerakan kaku membuat Yejun lagi-lagi tersenyum geli karena sangat terasa amatir. Namun yang lebih tua tidak protes, membiarkan Eunho untuk mencari temponya sendiri. Hingga kuluman polos ditambah jilatan, kemudian hisapan. Perlahan tiap gerakan yang Eunho buat menjadi alasan penisnya berkedut siap memuntahkan cairan hangatnya. Semakin keras pijatannya, semakin vokal desahan rendah Yejun.
Eunho mendongak, melihat si surai biru menutup mata dan mendongak hingga kerutan nampak di dahinya. Dalam hatinya ia bangga karena dapat mmbuat Yejun merasakan nikmat. Maka dari itu, ia semakin bersemangat memanjakan milik yang lebih tua. Hingga dapat ia rasakan kedutan itu semakin intens berbarengan dengan desahan Yejun yang semakin keras. Dalam beberapa gerakan, Yejun mencapai klimaksnya. Memuntahkan cairan hangat itu di dalam mulu Eunho.
Karena rasa asing memenuhi mulutnya, Eunho menarik diri sebelum Yejun selesai dengan klimaksnya. Membuat semburan cairan kental itu juga mendarat di bibir dan pipi yang lebih muda.
“Kemari, tidak perlu di telan,” ujar Yejun sambil mengadahkan tangannya di depan mulut Eunho. Menunggu yang lebih mudah untuk melepehkan klimaks itu dari mulutnya. Namun, ia cukup terkejut saat Eunho justru malah meneguknya habis membuat si surai biru memiringkan kepalanya khawatir, “Hey, kenapa ditelan?!”
“Enak”
Jawaban yang membuat Yejun tertawa gemas. Ia ulurkan tangannya untuk mengusap sisa-sisa cairan yang berada pada wajah cantik yang lebih muda menggunakan dua jari. Kemudian ia lesakkan jemari itu kedalam mulut yang lebih muda, membuat gerakan maju-mundur perlahan. Menyentuh tiap deretan gigi dan menekan-nekan lidah empunya yang kian menggeliat kesana kemari hingga Eunho melenguh pelan.
“Suka?”
“Eung!”
“Then I’ll ensure you have it a lot in the future. You did well today, pup”
end
