Actions

Work Header

Sempurna.

Summary:

Aku menciumi goresan bekas luka di tangan Zayne. Sebagai gantinya, ia menbawaku kelangit ketujuh dengan jemarinya yang indah.

Notes:

I love his hands so I wrote this.

Work Text:

Sunyi. Ruangan ini tak luput dengan bau karbol khas rumah sakit. Dengan ia yang berdiri disitu dengan jas hitamnya yang digulung sampai setengah lengan, menampilkan bekas luka-luka cantik yang tergores dengan indahnya. Barusan kami hampir pulang bersama, namun saat ini kami masih tak bergerak di ruangan tertutup rapat ini. 

 

Your scars on your forearms.. ” tanpa sadar jari-jari ini membawaku sendiri menyentuh lengan miliknya. “ I wish you show it off more.

 

Saat ini, jemarinya sedang menjalar kesana kemari dalam pahaku yang sedang menjepit pinggangnya. Entah bagaimana ia sudah membawa badan ini ke meja kerja miliknya. Rok ini tersingkap, Zayne tak kunjung berhenti menatapnya.

 

You don’t dislike it?

 

Konyol. Kamu bahkan tidak sadar kamu terlihat lebih seksi dengan bekas-bekas luka itu. Tidak tahu sudah berapa kali aku memimpikan tangan besarmu yang indah itu membawaku ke surga dengan nikmat yang bisa kau hujamkan ke dalam.

 

“Boleh aku cium?” Tanyaku. Aku sudah membawanya sendiri untuk bertemu dengan bibirku. Aku bisa melihat dirinya dalam wajahnya terukir senyuman hangat. Indahnya.

 

Zayne mengecup puncak kepalaku, “Suka?” 

 

Bodoh. Dia masih saja bertanya.

 

Semakin diperhatikan, lengannya semakin menarik. Aku rasa aku dipelet. Entahlah. Aku mabuk segalanya. Aku bahkan tak suka bau karbol. Aku benci rumah sakit. Anehnya semua ini tak membuatku mual. Mungkin, mungkin saja, intensitas nafsu kami saat ini sudah tak terbendung. Segalanya tak menarik. Selain dia.

 

“Jarimu panjang,” ujarku sambil memperhatikan helaian lembut tangannya yang sedari tadi masih menjalar di bagian dalam pahaku. Zayne terkekeh. Begitu saja bagiku terdengar merdu. Ia sempurna.

 

Puas jarinya melanglang buana, kali ini ia menciumku tanpa memberi sela untukku bernapas. Ciumannya lembut. Tangan satunya menopang pinggangku dan mendorong badanku untuk semakin dekat dengannya. Lenganku menjalar ke bahu miliknya yang besar. Semakin panas rasanya. Gerah. Tanpa sadar pun badanku sudah meliuk-liuk dan menyodorkan dadaku untuk lebih dekat dengannya. 

 

“Cantik, boleh main di sini pake jari? Gak lebih.”

 

Masih saja izin dulu. Kamu pikir aku mau berhenti ketika rasa maluku bahkan sudah hilang? Akal sehatku sudah tidak bekerja. Aku merengek mau. Pusing juga. Tak tahan. 

 

Mungkin, mungkin saja, karena parfum yang ia pakai hari ini. Dia pernah bilang kepadaku, saat itu nafsunya juga tak terbendung, bahwa aroma yang dia cium lebih manis dari biasanya. Ini yang saat ini aku dapati. 

 

Aku ingin digagahi. 

 

Sekarang juga. 

 

Aku tak tahu ini aroma apa. Wanginya bak wangi ambery cedar dan tonka bean. Aromatik-woody bukan, ya? Cocok dengan dirinya. Sial. Buat diriku makin terangsang saja. 

 

Tanpa sadar, ciumanku sudah membabi buta. Aku menciumi lehernya tanpa ampun. Ia bermain dengan rambutku, aku anggap dia merasa enak.

 

“Zayne…” letih dari desahanku keluar. Yang dipanggil menatapku dengan penuh nafsu dan sayang. Bibirnya sedikit terbuka. Padahal kami janji tidak mau lagi berbuat hal seperti ini di rumah sakit. Semuanya kalah dengan nafsu sesaat.

 

Sekonyong-konyong, tangannya sudah menarik celana dalam di bawah rokku. Terlihat adanya cairan kental yang terhubung ketika ia menariknya ke bawah. 

 

“Becek.”

 

Akan lebih aneh kalau aku belum basah.

 

Aku merasa sangat nakal. Melihat tangannya dan diraba sedikit saja, sudah bisa membuat kemaluanku sebasah ini. 

 

Masih sunyi. Aku menahan desahanku dengan susah payah. Zayne bilang aku boleh gigit bahunya kalau tak tahan. Payah. Padahal aku mau buat dia terangsang karena dengar desahanku. Rupanya tak bisa untuk saat ini. 

 

Sampai mana tadi? Aku jadi banyak berpikir padahal badanku sudah lemas. Aku mengangkang semakin lebar. Saat ini cahayanya redup, aku suka. Zayne terlihat samar, namun tetap tampan. Dia tampan terus sih, tak beda jauh.

 

Matanya tajam. Dia menikmati ini. Aku merasakan jemari panjang dan tebalnya itu meraba vaginaku. Geli. Nafasku semakin berat. Lengannya seksi sekali. Urat di tangannya pun timbul semakin jelas. Aku ingin direcoki jarinya sampai tak bisa terpikir apapun lagi.

 

Aku pusing karenamu.

 

“Aku masukin, ya, Cantik?”

 

Dua jari dengan lihainya bermain di dalamku. Kepalaku terdorong ke belakang. Aku melihatnya dengan jelas. Bagaimana tangan indahnya bermain denganku. Diiringi dengan suara becek yang samar. Bagaimana jemarinya yang tebal dan keras itu keluar masuk dengan cepat.

 

Gagah sekali. 

 

Pelepasanku semakin dekat. Desahanku tak tertahan. Sesuai maunya, aku gigit bahunya. Bukannya meringis sakit dia malah mencium telingaku. Aneh, tapi aku suka.

 

Gocekannya semakin kasar. Jemarinya memperkosa vaginaku dengan ritme yang cepat. Kakiku gemetar, punggungku maju ke depan, dibuatnya pula aku mencengkram lengannya.

 

Aku memaju mundurkan pinggangku tanpa kusadari. Jari jemarinya menghujam titik yang sangat dalam membuatku ingin terpekik. Enak. Enak banget.

 

Jarinya panjang dan tebal. Enak sekali. 

 

Tak perlu waktu lama jari Zayne keluar masuk dan mengenai g-spot itu. Cairan bening itu akhirnya muncrat. Zayne masih kerap menggocek punyaku sampai pelepasanku selesai. Enak sekali. Mau gila rasanya.

 

Kakiku lemas. Sepertinya ini pertama kalinya aku squirt ketika orgasme. Semuanya karena jarinya yang aku dambakan itu.

 

Semuanya sesuai apa yang aku bayangkan.

 

Setelah itu ia menciumku kembali. Kali ini lebih lembut dan tidak terburu-buru. Sayangnya, kami harus mengendalikan diri. Sayangnya, padahal aku ingin dimainkan oleh jarinya itu lebih lama. Ingin tau seberapa gilanya aku bisa ia bawa kalau saja kami bermain lebih lama.

 

Zayne menjilat jari bekas cairanku sampai habis. Nakal.

 

Aku melihat sekilas, kemejanya basah karena cairanku yang muncrat tadi. Ia sungguh peka, dengan mudahnya sadar aku yang menatap sekilas kemejanya. 

 

“Ga usah khawatir. Aku kan pake jas panjang. Ga akan ada yang lihat kok.”

 

Padahal aku suka percikan itu. Itu tanda betapa sayangnya aku pada tanganmu. Hanya dengan menatap lenganmu yang penuh luka itu, membayangkan hal yang tidak-tidak, aku bisa membubuhkan percikan cinta itu lagi.

 

Aku suka dirimu seutuhnya. Semua hal dalam dirimu, bagiku sempurna. Kamu terlalu sempurna. Semua yang kau lakukan pun dengan mudah membuatku merasa enak dan nyaman.

 

Tak pernah sekalipun aku menolak. 

 

Karena aku mengetahui besarnya cintaku dan cintamu itu sejajar dan seimbang. Kamu pun yang tak sering merangkai kata, aku paham tatapanmu. Kamu selalu menjamah tubuhku dengan lembut. Gurat wajahmu bagai mengatakan kalau aku ini rapuh, yang harus kau lindungi.

 

Andai kau tahu, seberapa sempurnanya dirimu dalam mataku. Kamu mungkin akan lebih mencintai dirimu sendiri.

 

Kalau bisa, akan aku pinjamkan mataku sebentar.

 

Kalau bisa.