Work Text:
Kegiatan Jisoo di sekolah sekarang begitu padat. Selain aktif sebagai pengurus OSIS dia juga ikut kegiatan ekskul yang bikin jadwal pulang sekolahnya sering telat sampai sore hari. Seperti hari ini, dengan lesu Jisoo masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di sofa depan TV. Sang papa yang tadi mampir menjemput dirinya, menyusul di belakang.
Wonwoo langsung pergi menuju dapur untuk mengambilkan putrinya itu minuman. Ada sang istri, Jun, yang berkutat di dapur mulai menyiapkan makan malam.
"Bebersih dulu sayang, biar ga lemes gitu. Nanti mama masakin ayam goreng kesukaan kamu." teriak sang mama.
"Biarin aja istirahat dulu anaknya. Nanti aku gendong naik sekalian buat bebersih."
"Udah gede anaknya, pa. Emang kamu masih kuat?"
"Jisoo masih putri kecil kita, ma. Buat aku dia masih anak kecil. Aku kasih minum dulu buat dia."
Posisi dapur dan ruang TV itu lurus tanpa sekat. Hanya dipisahkan dengan area meja makan yang cukup besar. Wonwoo duduk di samping sang putri sambil menyerahkan segelas air putih dingin yang langsung ditenggak habis oleh Jisoo.
Sehabis minum Jisoo malah makin menempel pada tubuh sang papa. Mengendus aroma tubuh papanya yang campuran antara parfum dan bau keringat setelah seharian kerja. Satu kakinya menyampir di atas paha Wonwoo yang tersenyum senang menyambut santapannya.
Paha mulus yang dibalut rok sekolah pendek itu kini tersaji bebas di hadapannya. Walaupun sejak Jisoo masuk ke mobil dari sekolah tadi Wonwoo sudah puas menggosok paha putih itu. Bahkan sesekali jahil memasukkan tangannya ke selangkang sang putri yang suka rela melebarkan kakinya.
Endusan Jisoo juga sesekali berganti dengan jilatan dan kecupan mesra di leher papanya. Tangannya yang tadi memeluk di lengan sang papa juga sudah bergerilya di atas dada kekar Wonwoo. Menggoda ujung pentil sang kepala keluarga yang mulai tegang.
Sofa tempat mereka duduk sangat besar membelakangi dapur tempat Jun sedang sibuk mengiris sayur dan mencuci daging ayam. Hati-hati mereka melakukan aksi tercela itu agar tidak ketahuan wanita lain di rumah itu.
"Nakal banget kamu." bisik Wonwoo di telinga Jisoo.
"Aku sange, pa. Mau digosokin lagi memeknya."
"Salah sendiri mancing papa. Kamu kan yang minta ciuman di depan sekolah tadi."
"Mobil papa kan kacanya -hngh- gelap. Ga akan ketahuan."
Lenguhan Jisoo itu terselip lantaran ujung jempol Wonwoo memang sudah mulai bertingkah nakal menusuk itil Jisoo dari balik celana dalamnya.
"Nanti ketahuan mama gimana? Mau naik dulu?"
"Di sini aja. Mama lagi madep belakang, nyuci sayur." Jisoo sedari tadi mengamati sang mama setiap hendak meluncurkan aksi. Biar ga ketahuan.
"Lonte papa memang kamu. Cepet ngangkang."
Jisoo beralih duduk dengan benar menghadap TV. Wonwoo yang mulai gerah melepaskan beberapa kancing kemejanya sambil menyalakan remote TV. Menyetel saluran National Geographic yang tidak disukai sang istri. Namun bisa membantu mendikstrasi kemungkinan suara berdosa yang bisa terdengar nanti.
Posisi Jisoo duduk tegak dengan kaki mengangkang. Celana dalamnya sudah dilepas, disimpan di dalam tas. Tangan besar Wonwoo langsung membelai kasar memek Jisoo yang sudah basah. Jisoo menahan erangannya di dalam tenggorokan sambil matanya memutar ke dalam kelopaknya sendiri. Tangan dingin Wonwoo menggosok lipatan labia dan menyentuh itilnya yang sudah bengkak.
Wonwoo juga dengan sengaja menusukkan ujung jari tengahnya ke dalam lubang memek Jisoo yang tiga hari lalu baru dikobel sama papa. Pakai mulut. Jisoo menggigit bibirnya sendiri dengan wajah total sudah sange seperti pelacur. Wonwoo sangat menikmati wajah erotis putri kecilnya itu.
"Kok malah pada nonton TV. Bukannya pada mandi."
"Jisoo mau nonton macan liar dulu ma. Katanya ada tugas sekolah." Wonwoo yang menjawab karena sekali Jisoo membuka mulut suara desahannya tak akan bisa ditahan lagi.
"Jangan lama-lama ya, nak. Nanti mandinya kemalaman ga bagus." sang mama masih teriak dari ruang dapur dengan tangan belepotan tepung. Wonwoo yang menoleh memastikan situasi masih aman.
"I-iya ma." jawab Jisoo singkat.
Karena ikutan sange Wonwoo jadi ingin ikutan beraksi gila. Sabuk celananya sudah dilepas di mobil tadi jadi ia tinggal membuka resleting untuk mengeluarkan kontol besarnya. Saat dikeluarkan dari dalam kolor, kontol itu sudah setengah tegang dan merah ujungnya.
Wonwoo membawa tangan mungil Jisoo untuk mengelus kontolnya biar tegang sempurna. Sama seperti yang mereka lakukan di sepanjang perjalanan pulang tadi. Sebuah adegan gila yang dilakukan ayah dan anak tanpa ikatan darah di hadapan wanita yang mereka panggil sebagai istri dan mama. Saling memberikan kenikmatan dengan memainkan kemaluan masing-masing tanpa malu.
Adegan harimau saling berkejaran untuk mengincar pasangan itu seakan menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan gila di depan TV. Bergantian memejamkan mata dan menghembuskan nafas frustasi karena tak bisa mengaum kegirangan dengan bebas.
Tangan Jisoo sudah basah karena keringat dan cairan bening papanya. Begitu juga telapak Wonwoo sudah sepenuhnya licin oleh pelumas alami sang putri.
Tanpa ada yang menyuruh tiba-tiba Jisoo berpindah ke atas pangkuan sang ayah. Menggelayut manja setelah dengan lihai memasukkan kontol papa ke dalam memek basahnya. Pantatnya turun perlahan sambil terus memperhatikan gerakan sang ibu yang tengah sibuk menggoreng ayam membelakangi mereka.
"Ahhhhhhh…." desahan pelan itu terdengar nyaring di telinga Wonwoo seiring kontolnya tenggelam sempurna di dalam memek sang putri.
Wonwoo sempat terkejut dengan aksi Jisoo ini. Ia pikir saling mengocok nikmat sudah cukup untuk menyenangkan Jisoo. Mendapat full service seperti ini bukan main senangnya Wonwoo. Kontol ngacengnya terjepit nikmat di dalam lubang senggama gadis kecilnya.
Wonwoo merapikan rok belakang Jisoo agar tautan kemaluan mereka tak terlihat vulgar. Walau juga tak menghentikan aksi Wonwoo meremas bongkahan mungil bokong putrinya. Sambil didorong ke depan belakang mengikuti Jisoo yang bergoyang menggilas kontolnya.
Suara TV dan ayam yang digoreng memenuhi riuh rumah dua lantai sore itu. Menyamarkan desahan dan bisikan erotis dari hubungan gelap yang penuh dosa dari pasangan ayah dan anak gila.
"Kontol papa gede. Enak. Nghhhh…. " Bisik Jisoo. Matanya tak henti lepas dari sang mama yang masih fokus menggoreng lauk kesukaannya.
"Memek kamu legit. Udah sering dikontolin tapi masih sempit. Lontenya papa emang hebat." Wonwoo mengulen bokong Jisoo sambil sesekali menghentakkan pinggulnya sendiri.
Mendengar pujian dari sang papa dan remasan di bokongnya mengantarkan Jisoo pada klimaks pertamanya. Tubuhnya kejang di atas pangkuan sang papa memijat nikmat kontol didalamnya. Jisoo meremas rambut di tengkuk sang papa sementara leher mulusnya dijilat sensual oleh Wonwoo.
Suara kompor yang dimatikan menyalakan alarm Jisoo tentang sang mama yang sudah selesai menggoreng ayam. Ia langsung pura-pura memejamkan mata sambil bergelayut manja di pangkuan papa. Sama seperti kebiasaannya sejak kecil saat ingin bermanja sama papanya.
"Duh, anak mama udah gede masih manja aja sama papanya. Jangan ketiduran sayang. Belum mandi lho kamu."
"Iya mama. Abis ini Jisoo mandi." suara serak Jisoo dibuat manja sambil masih memeluk papanya. Yang sedang kewalahan lantaran di bawah Jisoo masih terus mengetatkan otot vaginanya menjepit kontol sang papa. Wonwoo mengumpat dalam hati atas aksi putrinya itu. Baru beberapa bulan diajarkan buat nakal, Jisoo sudah semahir ini.
Jisoo melihat mamanya melepaskan celemek setelah mengulak alik rak bumbu di dapurnya. Lalu wanita cantik itu mengambil dompet yang disimpan di dekat kulkas. Jisoo jadi deg-degan dan tegang karena tiba-tiba Jun keluar dari area dapur. Tapi ia tidak mungkin turun dari pangkuan sang papa sekarang. Kalau tidak mau mama melihat kontol papanya itu ngaceng besar dan tegak seperti tugu monas di tengah ruang TV.
"Mama mau bikin tumis tapi kecap sama saos tiramnya habis. Mau ke minimarket dulu. Jisoo mau nitip apa, nak?" tanya mamanya lembut yang berdiri di belakang sofa. Mengusap rambut Jisoo yang menempel di pundak lebar papanya. Dua insan yang sebenarnya sedang dalam adegan tak senonoh itu jadi sama-sama terpacu detak jantungnya dalam kecepatan super. Keringat mulai merembes di pelipis keduanya.
"Nggak ada. Mau sama papa aja." Jisoo balas masih sok manja dan memeluk papanya lebih erat. Menyalurkan rasa takutnya kalau sampai ketahuan sama mamanya. Wonwoo mengelus punggung ramping anaknya -bukan di bokong lagi- seakan sedang menenangkan lonte kecilnya.
"Biarin aja, ma. Nanti aku anterin ke atas buat mandi sekalian. Terus makan malam ya, nak?" jawab Wonwoo tenang. Padahal ia ingin menjerit merasakan kontol bengkaknya dipijat kuat otot memek Jisoo yang menegang.
"Ya udah kalau gitu. Mama ke minimarket dulu. TV-nya matiin aja. Ngapain lihatin hewan kawin begitu?"
Jun pergi setelah sungguhan mematikan TV. Suara motor maticnya terdengar semakin menjauh dan hilang. Jisoo menghela napas lega sambil tersenyum menatap papanya yang juga tampak gurat kepanikan.
"Hampir aja, kan. Kamu sih nakal banget." Wonwoo mencubit hidung bangir putrinya itu.
"Ayo pa diberesin dulu terus kita mandi. Nanti mandi bareng di kamar Jisoo aja." Jisoo mengucapkan itu sambil bokongnya naik turun menunggang di atas papanya. Dan Wonwoo setuju dengan anaknya.
Tanpa melepaskan tautan kontol dan memek mereka Wonwoo menggendong Jisoo ke lantai atas. Sepanjang jalan hingga menaiki tangga Jisoo kegelian karena kontol Wonwoo terus menusuk-nusuk memek basahnya.
Kegiatan mereka di sofa dilanjutkan di dalam kamar mandi kamar Wonwoo yang memang lebih luas. Tubuh mereka sama-sama telanjang di bawah guyuran air shower yang hangat. Saling menempel erat dengan bibir bercumbu melumat satu sama lain.
Tadi sebelum menyusul sang putri di kamar mandi, Wonwoo mengirim pesan kepada sang istri untuk dibelikan martabak manis langganan mereka yang agak jauh dari rumah. Beralasan Jisoo yang meminta. Sengaja agar kepergian Jun bisa lebih lama sehingga ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan Jisoo. Yang sudah memanggilnya dengan menungging memamerkan memek telanjangnya.
Bibir Wonwoo melahap dengan beringas milik Jisoo yang mungil. Erangan keduanya tak lagi ditahan. Dengan puas melantunkan suara kenikmatan surga dunia yang mereka buat sendiri. Suara kulit yang bertepuk menggema di ruangan 3 x 4 meter yang didominasi warna putih.
Sebelah kaki Jisoo menyampir di lengan sang papa yang dengan semangat menggenjot kontol besarnya di dalam memek Jisoo. Tadi papa sudah sempat buncat pas mereka baru sampai di kamar. Muncrat di dalam memek Jisoo yang masih menempel dalam gendongannya.
Tapi Wonwoo merasa belum puas. Mumpung sang istri masih mengantri lama, ia hajar kembali lubang sang putri di dalam kamar mandi pribadi dia dan istrinya. Wonwoo menurunkan kaki Jisoo dan menyuruhnya untuk menungging berhadapan pada cermin besar di belakang pintu kamar mandi.
Dari pantulan cermin, Jisoo melihat papanya tersenyum tampan sambil kembali memasukkan kontol menyumpal memeknya yang sudah penuh oleh peju. Rambut hitam lurus yang basah, mata memutar ke belakang dan mulut menganga mendesah kencang, Wonwoo begitu senang menikmati pemandangan itu lewat pantulan cermin.
Tubuh kecil Jisoo memantul maju mundur bersama dengan sodokan Wonwoo yang begitu kuat. Dalam dan penuh sampai bokong Jisoo menabrak perut papanya. Pentilnya yang semakin montok ikut bergoyang di bawah sana. Wonwoo tak menyiakan mainan itu untuk diremas dan dipelintir putingnya.
"Papa udah hhh dekethhh sayanghh. Enak banget memek kamuhhh…"
Tepukan kulit mereka semakin terdengar nyaring dan cepat. Suara Jisoo sampai terdengar bergetar tidak bisa membalas ucapan sang ayah.
"Sebelum mama datang… Papa cepetinhhh…" ingat mamanya membuat Jisoo kembali klimaks untuk entah keberapa kali sore itu. Pantatnya menghentak selain karena klimaks tapi juga dari tumbukan sang papa yang tak juga berhenti.
Pinggang ramping Jisoo diremas bersama dengan semburan hangat memenuhi lubang memeknya. Suara nafas Wonwoo yang memburu begitu indah di telinga Jisoo. Otot memeknya memeras habis peju sang papa hingga cairan putih itu meluber ke paha rampingnya.
Tubuh Jisoo dibalik berhadapan dengan Wonwoo. Tengkuknya ditarik dalam ciuman lembut namun kuat dalam dekapan tubuh besar sang papa. Mata Jisoo memejam, memeluk erat tubuh pria dewasa di hadapannya. Menikmati setiap detik lumatan bibir Wonwoo pada miliknya.
Jisoo merasa begitu menyayangi sang papa. Ia menyukai setiap perlakuan yang dilakukan Wonwoo padanya. Jisoo selalu ingin bersama dan dekat dengan papanya. Jisoo jatuh cinta sama papanya sendiri.
Selesai dengan seluruh kegiatan di kamar mandi, ngewe dan beneran mandi, Wonwoo mengelap tubuh sang putri hingga kering dan tak ada air yang menetes. Jisoo deg-degan kala sang ayah menyentuh setiap sudut tubuhnya yang telanjang itu. Seakan sentuhan Wonwoo memberikan sengatan listrik kecil pada tubuhnya. Menyetrum hatinya menjadi penuh dengan rasa kepada sang ayah.
Wonwoo membubuhkan kecupan lama di kening sang putri lalu sedikit lumatan di bibir Jisoo yang merah dan semakin menjadi candu baginya. Jisoo tersenyum senang sampai wajahnya memerah malu. Rasanya ia ingin terus seperti ini dengan papanya.
"Udah sana balik ke kamar kamu dulu. Bawa baju sama tasnya. Lalu pake baju yang bener, keburu mama pulang."
Bukannya menurut, Jisoo malah langsung menghambur ke pelukan Wonwoo. Tubuh mereka masih sama-sama telanjang walau sudah kering namun masih lembab.
"Aku sayang banget sama papa. Cinta sama papa. Jisoo ga mau pisah sama papa." Jisoo mengucapkan itu dengan mata berkaca menatap tepat di mata Wonwoo.
Sejenak pria dewasa itu tertegun mendengar ucapan putrinya. Menelisik makna dari kalimat dan tatapan Jisoo padanya. Wonwoo terlalu pintar untuk tidak bisa memahami makna dari ucapan Jisoo.
"Papa juga sayang sama Jisoo. Papa nggak akan ninggalin Jisoo. Sampai kapanpun."
Jisoo keluar dari kamar Wonwoo dengan masih telanjang sambil menenteng seragam serta tasnya tadi. Bibirnya tersenyum bahagia sambil memasuki kamarnya. Jantungnya berdegup kencang dan merasa begitu bahagia. Melompat ke atas kasur dan berteriak girang. Telinganya terus terngiang kalimat terakhir papanya. Bibirnya masih terasa bergetar akibat jejak terakhir yang tertinggal di sana.
"Papa juga cinta sama Jisoo." ucap papa Wonwoo dengan satu kecupan di bibir Jisoo sore itu.
