Actions

Work Header

What a night

Summary:

Mingyu yang patah hati membuat dirinya hanyut dalam pengaruh alkohol. Wonwoo yang menyimpan rasa pada kawan serumahnya itu harus bekerja keras semalaman mengurus dan menemani bayi besar yang mengubah kehaluannya.

Notes:

Ini awal bagaimana hubungan spesial mereka dimulai. Jadi alurnya mundur dari part yang sebelumnya. Untuk next part (kalo ada) bisa dicek dibagian notes buat timelinenya ya.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mmphhhmmm… 

 

Baru saja keduanya memasuki unit apartemen sharing mereka, Mingyu langsung melumat bibir Wonwoo tanpa ampun. Bibir pria kekar itu dengan lihai terus menghisap bergantian belah bibir tipis lawan di hadapannya. Wonwoo yang tadi sempat terkejut lalu membiarkan saja housematenya itu melakukan hal tak senonoh padanya. Ia tak protes, karena memang Wonwoo menyukai Mingyu. 

Wonwoo tadi sedang menonton anime favoritnya saat nama Mingyu muncul di layar ponselnya. Namun bukan suara Mingyu yang terdengar melainkan pria lain yang menjelaskan kondisi teman kuliahnya itu. Mingyu sedang mabuk sendiri di bar dan hampir membuat kekacauan. Dengan terpaksa Wonwoo mengambil jaket untuk datang menjemput temannya itu sebelum keadaan semakin memburuk. 

Yang Wonwoo tahu, sore tadi Mingyu berpamitan untuk menemui kekasih cantiknya yang mengajak bertemu setelah beberapa waktu menghilang. Memang sudah tampak hubungan mereka tak akan bisa lagi diselamatkan. Beberapa hari lalu juga Wonwoo melihat si gadis populer di kampus itu sedang berciuman dengan ketua BEM fakultas di toilet kampus. Tapi Wonwoo enggan memberitahu Mingyu karena ia merasa itu bukan masalahnya. Ia juga tak mau dianggap memanfaatkan kesempatan demi meluluskan perasaannya sendiri. 

Semenjak keluar bar hingga perjalanan pulang Mingyu terus mengumpat dan memaki gadis yang baru tiga bulan ia pacari itu. Tukang selingkuh, wanita jalang, lonte murahan, begitu Mingyu menyebutnya. Hingga akhirnya Mingyu tertidur akibat kelelahan berteriak. 

Sampai di parkiran apartemen Wonwoo membangunkan Mingyu untuk mengajaknya naik ke unit sewaan mereka. Wonwoo tidak mungkin menggendong tubuh besar Mingyu hingga ke lantai 5. Walau secara ukuran mungkin tidak jauh berbeda, tetap saja Mingyu lebih berotot dari Wonwoo. 

"Gyu, bangun Gyu. Udah nyampe, ayo naik. Gue nggak kuat kalau harus gendong elo." 

Mingyu perlahan membuka mata walau mulutnya masih menggumamkan hal tidak jelas. Dia tak tampak terkejut melihat wajah Wonwoo yang berjarak 2 jengkal dari dirinya. Malah matanya berusaha fokus mengumpulkan gambaran orang di hadapannya. 

"Oh? Ada cewek cantik." Mingyu mengigau dengan senyum bodohnya. Tangannya beranjak membelai rambut Wonwoo yang memang sudah panjang di bawah telinga itu. 

"Rambut kamu panjang banget, cantik. Mau kencan sama abang nggak?" Wonwoo sempat bergidik ngeri melihat Mingyu yang sedang dalam pengaruh alkohol ini. Wonwoo jelas-jelas seorang laki-laki. Bagaimana Mingyu bisa melihatnya sebagai perempuan? Ke gym saja mereka suka pergi bersama. Sepertinya sihir jahat dari perempuan jalang itu masih menempel padanya. 

"Gyu, naik dulu ya. Disini dingin, kalau lo keburu pingsan gue juga yang susah." bujuk Wonwoo lagi. Dia sudah berdiri di luar menarik Mingyu yang masih senyum-senyum tidak jelas. 

"Hmm… Gadis manis nggak sabaran banget. Kamu cewek nakal juga ya? Kayak perek tadi? Mau morotin duit abang juga kamu ya?" 

Wonwoo membanting pintu mobil setelah berhasil membawa Mingyu bergelayut padanya. Dalam hati Wonwoo terus mengumpati teman kuliahnya itu. Dari awal Wonwoo sudah memperingatkan kalau Rena bukan gadis yang baik. Reputasi jeleknya sudah sampai kemana-mana. Tapi Mingyu bak pahlawan kesiangan berkata dengan yakin bahwa cinta tulusnya bisa mengubah gadis itu. Nyatanya pada akhirnya Mingyu hanya menjadi salah satu korban kebusukannya. Dasar bodoh. 

Dan pria bodoh itu kini masih terus bertarung bibir dengan Wonwoo yang pasrah meladeni sang kawan yang tak melepaskannya sedari tadi. Toh Wonwoo juga menikmatinya. Kapan lagi dia bisa merasakan ciuman dahsyat dari kawan yang padanya Wonwoo sudah menyimpan rasa suka sejak awal mereka menjadi housemate. Bibir dan lidah terus saling menari bertukar saliva hingga airnya menetes di ujung bibir. 

"Si cantik jago banget ciumannya. Udah sering, ya? Enak banget bibir kamu." Mingyu lanjut menjilat rahang menuju leher jenjang Wonwoo. 

Sebelum kenal Mingyu, Wonwoo sudah beberapa kali berpacaran. Dengan perempuan dan juga lelaki. Iya, Wonwoo itu Bi. Karenanya ia masih menyembunyikan rasa sukanya pada Mingyu karena yang Wonwoo tahu Mingyu hanya berkencan dengan para gadis. Ia tidak yakin apa Mingyu juga sama dengan dirinya. Seorang gay. 

Setengah mati Wonwoo menahan erangan saat bibir Mingyu mulai berani melumat leher hingga ke cuping telinganya. Mereka masih berdiri di balik pintu apartemen. Wonwoo mencengkram pundak keras Mingyu menyalurkan sensasi menggelitik menyenangkan akibat ulah si bongsor yang menyesap pangkal lehernya hingga terasa perih.  

Wonwoo tahu seharusnya ia menghentikan perlakuan Mingyu padanya. Lelaki itu sedang tidak dalam kesadaran normal. Semua kegiatan ini termasuk pelecehan kepadanya. Tapi pelecehan terjadi kalau pihak korban tidak menyetujui perlakuan yang diterimanya. Dan di sini, Wonwoo memberikan consent penuh untuk itu. Untuk Mingyu sampai menancapkan gigi dan memberikan hisapan kuat pada ceruk lehernya yang putih. Besok pasti meninggalkan bekas. 

Wonwoo menelan ludah karena akibat rasa nikmat dari semua rangsangan itu ada yang bangun di bawah sana. Tapi Wonwoo tidak cukup gila untuk melanjutkan semua kesalahan ini. Ia melepaskan Mingyu dari tubuhnya dan berusaha mendorongnya hingga sampai ke kamar pria itu. Ditemani racauan Mingyu yang semakin kacau Wonwoo berhasil mendaratkan tubuh temannya di atas kasur besarnya. 

Mingyu telentang dengan mulut yang kembali menyumpahi mantan kekasihnya. Kaos yang dikenakannya tersingkap memperlihatkan perut atletisnya. Tampak juga gundukan besar di balik celana jeans yang ketat. Membuat Wonwoo menjadi besar kepala. Berciuman dengannya juga bisa membuat Mingyu tegang begitu. Bagaimana kalau yang lain? 

Wonwoo berusaha membuang pikiran ngawurnya itu dan lanjut mengurusi sang teman yang hanya terkulai tak berdaya. Ikat pinggang Mingyu dilepas kemudian lanjut dengan sepatu dan kaus kakinya. Semua agar Mingyu bisa tidur dengan nyaman dan mungkin akan melupakan yang telah ia perbuat pada Wonwoo di depan pintu tadi. Begitu Wonwoo berharap. 

Tapi baru saja Wonwoo hendak beranjak dari sana ia mendengar Mingyu yang mulai menangis. Benar-benar menangis melihat air mata yang keluar dari sudut matanya. Wonwoo yang prihatin batal melanjutkan perjalanannya dan duduk di sebelah Mingyu. Ia menenangkan Mingyu dengan mengelus rambut tebalnya perlahan. Memberikan kalimat penghibur dan berharap agar Mingyu segera tidur saja. Tentu harapan itu tak terwujud semudah itu, namanya juga skenario fiksi. 

Mingyu tiba-tiba menarik Wonwoo dan memerangkap tubuh si ramping dalam pelukan erat. Wonwoo berusaha melepaskan diri dari atas Mingyu tapi menjadi iba melihat air mata di pipi pujaannya itu. Mungkin Mingyu memang benar sedang merasa sakit karena patah hati. 

"Tega banget kamu. Aku beneran sayang kamu, Rena. Kamu jahat." 

Sebenarnya Wonwoo mau saja menemani Mingyu meluapkan kesedihannya itu. Toh mungkin tak akan lama sampai cowok itu benar-benar tertidur akibat pengaruh alkohol dan kelelahan. Masalahnya posisi mereka sekarang yang membuat Wonwoo justru merasa kesulitan. 

Saking dekatnya, helaan nafas Mingyu terus menggelitik bawah telinganya yang membuat darah Wonwoo terus berdesir. Itu tempat paling sensitifnya. Belum lagi dadanya yang menempel dengan Mingyu dipeluk erat oleh lengan kekar Mingyu yang juga tak henti mengelus punggung hingga atas bokongnya. 

Dan juga gundukan selangkangannya terjepit menempel pada paha Mingyu yang tak bisa diam terus menggeliat. Menimbulkan gesekan pada ereksinya yang mulai basah. Wonwoo sampai menggigit bibirnya sendiri agar tidak keluar suara surga dari mulutnya. 

"Lo mending tidur, Gyu. Lupain dia. Tuh cewek nggak pantes lo tangisin." 

Mingyu seakan baru sadar ada orang lain yang sedang bersamanya sekarang. Dengan mata sembab ia melihat wajah Wonwoo di bawah temaram kamar yang memang belum sempat dinyalakan lampunya. Dilihat intens begitu Wonwoo makin deg-degan. 

"Eh, cewek manis lagi. Masih di sini kamu? Temenin aku ya sayang." 

Seakan sudah sadar total tiba-tiba Mingyu membalik posisi mereka hingga tubuh Wonwoo memantul di bawah kuasanya. Mata sembab itu menelusuri tubuh Wonwoo dari atas sampai bawah dengan senyum lapar. Wonwoo makin gelisah. 

Mungkin setan sudah menguasai Mingyu saat ia kembali melahap habis bibir Wonwoo dengan lebih beringas dan kasar. Tangannya juga meraba dada berotot Wonwoo yang sesekali diremas kasar. Tak bisa menahan akhirnya lenguhan khas itu keluar dari mulut Wonwoo. 

"Hhmmmphhhhh…." 

Suara basah dari pergulatan mulut dan lidah keduanya semakin nyaring. Posisi Mingyu juga sudah di antara selangkangan Wonwoo yang kakinya reflek diangkat sebelah. Remasan pada anak rambut di tengkuk seakan jadi tanda untuk Mingyu melanjutkan aksinya. 

"Manis. Cantik. Wangi." puji Mingyu sebelum kemudian menjilat telinga Wonwoo. Bibirnya Mingyu mengatup seperti sedang menikmati es krim. Diemut dilumat seperti buah jeruk yang manis. Sambil sebelah putingnya ikut dipelintir, Wonwoo mendesahkan nama Mingyu yang menghisap leher tepat di bawah telinganya. 

"Ahhhh Gyuuhhhh…." hisapannya kuat sampai terasa perih. Bertambah lagi bekas cupangnya. 

Hisapan lain dibubuhkan Mingyu sampai beberapa kali di berbagai sudut leher Wonwoo. Pinggulnya menggeliat nikmat menggesekkan selangkangan pada gundukan lawannya yang juga seperti sengaja terus menekan di sana. 

"Ah, FUCK!" tangan Mingyu sudah sampai bahkan meremas kontol Wonwoo yang tegang maksimal. 

Mingyu juga tampak kaget pada fakta itu. Dalam pikirannya dia hendak mengusap selangkangan memek yang basah. Ternyata malah daging panjang menonjol seperti miliknya yang juga sama bengkaknya. 

"Cantik punya kontol?" 

"Karena emang gue cowok, kayak lo. Ahhhh… " keheranan tapi tangan Mingyu tidak lepas dari memainkan ereksi Wonwoo. 

"Nice. Aku udah lama nggak ngentotin bool cowok. Ngentot sama aku ya, manis?" 

Gila. Udah sengaceng ini masak gue tolak. Pikir Wonwoo yang matanya sudah merem melek akibat elusan dan remasan Mingyu. Terlebih kini ia tahu Mingyu berorientasi sama dengannya. This big man is a gay. Wonwoo girang dalam hati. 

"Let's get naked then." 

Seakan sedang diburu waktu keduanya melucuti pakaian masing-masing sampai sama-sama bugil. Mingyu berdiri gagah di pinggir kasur telanjang sempurna. Ukiran tubuhnya tergambar samar terkena sorot lampu kota menembus jendela lebar kamar yang terbuka tirainya. Wonwoo di atas ranjang menikmati pemandangan yang didamba itu. 

"Like what you see, huh?" 

Mingyu bertanya begitu sambil mengelus kontolnya yang tampak panjang dan besar. Lewat kacamatanya Wonwoo bisa melihat jelas bentuk perkasa yang menggiurkan itu. Lagi-lagi tenggorokannya menelan berat air ludahnya yang mengalir deras. 

"Punya kondom sama pelumas, kan?" 

"Of course, baby. Nggak sabaran ya sayang?" 

"Kontol kamu gede. Aku suka." 

Mingyu tergelak mendengar pujian atas kejantanannya. Sambil ia menyalakan bed lamp untuk mencari stok pelumas dan kondom di nakas sampingnya. Dua benda itu dilempar ke samping Wonwoo lalu tubuh besarnya menyusul. Langsung kembali melahap bibir Wonwoo sambil melepas kacamatanya. Dilempar ke atas karpet di bawah. 

"Aku suka yang nggak sabaran." 

Lampu tidur di belakang Mingyu yang tengah membuka botol pelumas menambah kesan dramatis di pandangan Wonwoo. Dinginnya cairan lengket beraroma wangi langsung menyapa kontol Wonwoo lewat genggaman Mingyu. Dikocok perlahan namun dalam genggaman kuat. 

Yang dienakin langsung mendongak dan mendesah tanpa malu. Pinggang rampingnya melengkung ke ke depan bertumpu pada kedua tangannya sendiri. Mulutnya terbuka sambil meneriakkan nama pemilik kamar yang sedang menyeringai senang dengan pemandangan indah di hadapannya. 

Di antara kaki Wonwoo yang sudah mengangkang Mingyu menyatukan kontolnya dengan punya Wonwoo. Dikocok bersama dalam satu genggaman tangannya yang memang besar. Terasa sedikit perbedaan di antara dua batang ngaceng itu. Milik Mingyu lebih tebal tapi kontol Wonwoo tak kalah panjang. Sama-sama sudah tegang dengan cairan precum merembes dari lubang masing-masing. 

Satu tangan Mingyu lain mencengkram tengkuk Wonwoo dan mereka saling berpandangan penuh nafsu. Walau dalam gelap kedua mata mereka bisa saling menatap dengan gairah yang sama besarnya. Saling mendambakan satu sama lain. 

Wonwoo juga semakin mengagumi Mingyu yang dari siluetnya saja terlihat begitu mempesona. Hatinya begitu berbunga dan semakin jatuh hati pada pemuda itu. Persetan kalau esok hari Mingyu akan lupa dengan semua kegiatan mereka ini. Setidaknya Wonwoo bisa melihat bagaimana wajah Mingyu menikmati adu kelamin dalam ketelanjangan ini. 

"Hahhh... Hahhhh… Mingyu, I'm close." wajah tampan Mingyu membuat Wonwoo semakin dekat ke puncak. Kondisinya juga tak jauh beda dengan si atas yang memang sudah ngaceng sejak mencumbu Wonwoo di depan pintu tadi. Dua tangan Mingyu bekerja bersama mengocok dua kontol yang bersaing untuk menyembur terlebih dulu. 

"Kita barengan sayang. Akuhh jugahh hahh hahhh" 

Pinggul Wonwoo menghentak menyemburkan cairan putih membasahi tangan Mingyu hingga mengenai perut atletisnya. Tak lama Mingyu menyusul menambahkan banjirnya semen di atas perut Wonwoo. Keduanya terengah puas atas pelepasan yang mampu membawa angan ke nirwana. Kocokan Mingyu semakin memelan menemani Wonwoo yang tubuhnya melengkung indah, mata sipitnya memejam syahdu dan mulutnya menganga melepaskan alunan merdu. 

Begitu indah dan menakjubkan. Mingyu sampai tersihir dibuatnya. 

Wonwoo ambruk ke belakang dengan paha terbuka lebar. Kontolnya lemas terkulai di atas perutnya yang rata. Dadanya kembang kempis setelah nafas yang memburu.

"Thank you." ujar Wonwoo yang kemudian tercekat melihat Mingyu tengah menjilati tangannya yang berlumur semen mereka yang hangat. Pemandangan yang cuma ada di bayangan Wonwoo selama ini. Tapi kini nyata dalam temaram lampu tidur. 

"Kamu manis, kayak mukanya. Boleh icip lubangnya ya? Pasti lebih manis dari ini." 

Tanpa memberi jeda, Mingyu yang duduk di bawah selangkangan Wonwoo langsung mengangkat tinggi pinggulnya. Sampai lubang Wonwoo sejajar dengan mulutnya yang sudah berliur tak sabar. Punggung Wonwoo ditekuk, kedua kakinya melayang di atas ditahan lengan berotot Mingyu. 

"Ahhh anjing hhhhnghh…." 

Lidah Mingyu begitu tebal dan kuat. Satu jilatan langsung bisa membuat sekujur tubuh Wonwoo meremang. Daging tak bertulang itu menyapu naik turun dan memutar di sekitar kerutan Wonwoo yang berkedut makin intens. Mulut tebalnya juga tak mau tinggal diam. Sambil menjilat Mingyu juga melumat dan sesekali menggigit bokong kenyal Wonwoo. 

Beruntungnya Mingyu karena kebetulan hari Wonwoo sedang begitu rajin bebersih sampai ke dalam analnya. Bisa dipastikan lubangnya bersih luar dan dalam. Hingga tak merasa risih saat Mingyu menghisap lubangnya seperti mencari sesuatu. Mungkin madu atau susu. Padahal tidak akan ada yang keluar dari sana kecuali tai. 

Lidah Mingyu yang dibuat kaku ditusuk ke dalam lubang yang sudah sedikit terbuka. Sisa peregangan Wonwoo saat bebersih. Lubangnya masih ketat dan sempit. Belum banyak kontol yang pernah memasukinya. Mungkin nanti Mingyu orang kedua yang merasakan ketat jepitannya. Ujung lidahnya sudah membuktikan itu, kesulitan berusaha mendobrak lebih dalam. Mingyu butuh yang lebih kuat dan tegang. 

Kelihaian lidah Mingyu juga sampai menjamah dua bola Wonwoo. Diraup seakan sedang memakan buah terlarang di surga. 

Hhmmmhhhhhh…. 

Itu suara Mingyu, menggambarkan betapa ia menikmati kegiatan dan santapannya. Matanya yang memejam hikmat lalu menatap Wonwoo yang tampak begitu puas dengan pelayanannya. Mata sayu Wonwoo di antara suara emutan dan kecupan pada zakarnya, ditambah erangan frustasinya merasakan euforia dari setiap aksi kawannya itu. Wonwoo tampak berkali lipat erotisnya. Mingyu semakin lapar. 

Mingyu menurunkan pantat Wonwoo setelah puas menikmati hidangannya. Andai lampu kamar menyala pasti terlihat kilatan air ludah yang membasahi mulut dan dagunya. Mingyu begitu rakus padahal baru pertama mencicipi Wonwoo. Ia langsung kecanduan. 

"Kamu produksi alkohol dari bool ya? Aku langsung mabuk kepayang, sayang." 

Lo kan emang lagi mabuk, tolol. Wonwoo hanya bisa membatin. 

"Sekarang kita cari harta karun di dalam sana." 

Terdengar suara becek Mingyu melumuri jarinya sendiri. Dua ujung jari terasa meraba pinggiran lubang Wonwoo seakan menggodanya. Salah satunya mulai ditusuk-tusuk lembut ke bibir lubangnya. Ia merasa seperti sedang dipermainkan. Tapi Wonwoo tetap saja deg-degan menantikan lubangnya dijamah pria pujaannya. 

Satu jari Mingyu masuk dengan lancar. Reflek Wonwoo mengetatkan lubang merasakan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan ini. Mingyu tersenyum senang melihat pria indah di bawahnya yang menggeliat tak sabar hanya dengan tusukan satu jarinya. 

"Aku masukin dua ya." 

"Pelan-pelan, sayang. Udah lama nggak dimasukin. Ahhhhh…." jari kedua terasa agak sempit tapi juga bisa masuk dengan lancar. Wonwoo kembali merinding saat kata sayang meluncur dari mulutnya. Berharap Mingyu sungguh-sungguh bisa menangkap maksudnya itu. 

Jari Mingyu diputar sambil keluar masuk dengan perlahan. Tujuannya menyiapkan Wonwoo agar siap menerima kontolnya. Jadi Mingyu dengan teliti membuka jalan masuk itu di setiap sudutnya. Dilebarkan dengan seksama dengan dibuka dua jarinya sambil juga ditekuk mencari titik tujuannya. 

"Tambahin, please. Biar cepet ngewenya." 

Terdengar kekehan Mingyu yang tampak senang dengan ketidak sabaran partner bawahnya. Ia kembali memencet banyak pelumas untuk dilumurkan ke ketiga jarinya yang gemuk dan panjang. 

Di buku jari kedua Wonwoo sempat menjerit dan lubangnya mengetat. Terdengar juga rintihan namun tak sampai terisak. Mingyu menunggu dengan sabar lalu melanjutkan tusukan jarinya setelah mendapat lampu hijau. Perlahan sampai tiga jarinya tenggelam di dalam Wonwoo. 

Pemuda yang sehari-hari berkacamata itu mengatur nafas sambil berusaha merilekskan lubang yang malah tampak tak sabar karena terus berkedut. Kontolnya sendiri yang dari tadi sesekali dielus Mingyu juga sudah kembali menegang sempurna. 

"Lubang kamu ngga sabaran banget, sayang. Pengen banget kontol ya?" 

"ACK!!! AHHHHH" teriakan itu disertai jepitan kuat pada tiga jari Mingyu di dalam. Juga pinggul Wonwoo yang menyentak tinggi. Mingyu berusaha mengingat titik itu. 

Mingyu meletakkan satu bantal di bawah pinggang Wonwoo. Biar posisi mereka lebih enak dan Wonwoo tak perlu pegal badannya tertekuk lagi. Si pemilik lubang mengangkang lebar sambil memperhatikan Mingyu yang memasang kondom pada senjata tempurnya. Wonwoo menunggu dengan antusias. Tak lupa juga pelumas dimasukkan ke dalam dan bibir lubang Wonwoo agar tak sakit. 

"I'm coming in." 

Kepala kontolnya saja sudah cukup membuat gila karena terasa betapa besarnya batang itu. Wonwoo tak ingin melewatkan satu pun ekspresi Mingyu yang tengah mendobrak lubangnya dengan kontol besarnya. Sambil menahan sakit yang luar biasa Wonwoo menikmati setiap mili batang Mingyu mengisi kekosongannya. 

Menghembuskan nafas lega bersamaan, Mingyu tertanam sempurna di dalam Wonwoo. Si bawah menarik atasnya untuk berciuman menyalurkan segala rasa yang ada. Tubuh mereka kembali menempel, kali ini bersama dengan kuncian kelamin di bawah sana. Kaki Wonwoo juga reflek menekan pinggul Mingyu hingga menusuk semakin dalam. 

"Gerak sekarang, Gyu. Have me." 

"With my pleasure." 

Pinggul Mingyu bergerak tidak lembek. Temponya masih santai tapi begitu kuat sampai dalam. Tubuh Wonwoo melonjak saking kencangnya tubrukan Mingyu menabrak pantatnya. Kakinya masih mengunci di pinggang yang lebih besar. Tangannya mengalung mencakar punggung si coklat tan. 

"aaahhh cepetin sayanghhhh…" 

Mingyu pun menurut. Tangannya menahan tubuhnya mengukung Wonwoo yang menjambak rambutnya sendiri. Frustasi saking nikmatnya lubang boolnya kembali terisi kontol besar yang begitu pas baginya. 

Mulut Wonwoo tak henti mendesahkan nama Mingyu dengan suaranya yang dalam dan seksi. Tangan Wonwoo meraba sebelah pentilnya sendiri yang mengacung padat. Mingyu jadi ikut tergoda. Bagian itu belum ia jamah sama sekali dari tadi. 

Mengubah sedikit sudut tusukannya, Mingyu sambil melahap sebelah puting Wonwoo dan langsung disedot kuat. 

"iyahh di sanahh… Good boy hahhhh…."

Mingyu tepat sasaran. Lubang Wonwoo mengetat begitu kuat dan semakin cepat. Seiring dengan tusukan Mingyu yang dalam kecepatan seperti kuda liar. Tepat pada titik prostat yang membuat Wonwoo semakin gila. Apalagi disertai jilatan dan gigitan Mingyu pada putingnya. 

Tangan Wonwoo sedari tadi juga susah payah mengocok sendiri kontol ngaceng yang isinya tidak sabar untuk tumpah lagi. Mingyu yang memang peka pilih kembali menegakkan tubuhnya, melepas acara menyusu yang mulai ia nikmati. 

Ia tidak menurunkan kecepatan genjotan walau sambil mengocok kontol Wonwoo yang sudah membiru. Satu tangannya mencengkram paha ramping Wonwoo sebagai pegangan. Tubuhnya melengkung ke belakang dengan mata terpejam. Dari bawah sini Mingyu tampak begitu gagah dan seski. Wonwoo dalam hati merasa bangga bisa membuat Mingyu seperti itu. 

Tampilan Mingyu yang tampak seperti artis porno profesional membuat birahi Wonwoo meningkat dan ujung sarafnya tak terbendung lagi. Hanya beberapa urutan kemudian semen Wonwoo kembali menyembur tanpa terbendung. Kontol Mingyu terasa mau putus akibat lubang Wonwoo yang mengetat hebat dalam orgasmenya. 

Semakin terpacu ereksinya untuk ikut meledak sehingga semakin cepat Mingyu mengejar putihnya sendiri. Tangan belepotan sperma itu mencengkram paha Wonwoo yang lain dijaga biar tetap mengangkang. Berpegangan kuat menghajar lubang yang melahap nikmat jantannya. Dan Mingyu berhasil ejakulasi dengan menyemburkan banyak sekali krim putih di dalam kondomnya. 

Mingyu kembali mencari bibir Wonwoo. Bibir tipis itu menjadi candu baru baginya. Wonwoo juga begitu jago mengimbangi ciumannya yang sering membuat para wanita kewalahan. Mingyu mendapat lawan yang sepadan sekarang. 

"I love you, Mingyu. I love you." bisik Wonwoo disela ciuman dan nafasnya yang masih memburu. 

"Love you too, pretty. My pretty." 

Wonwoo tersenyum manis menikmati wajah tampan Mingyu di atasnya. Tampak mata Mingyu kembali sayu memandang tak fokus ke arahnya. Tangan Wonwoo mengelus wajah keras yang berlumur keringat itu dengan sayang. Telapak tangannya diraih untuk dikecupi buku jarinya oleh Mingyu. Dada Wonwoo kembali penuh dengan perasaan bahagia. Seakan Mingyu sungguh menyayanginya sebanyak ini. 

"Tapi sayang, siapa nama kamu? Kita belum kenalan dari tadi." tampak Mingyu semakin tak bisa membuka mata dengan benar. 

"Wonwoo, gue Wonwoo, Gyu. Housemate elo." 

Lalu tubuh Mingyu ambruk di atas Wonwoo. Tak lama terdengar dengkuran halus dari mulut Mingyu yang tertidur. 

"Kalau mau tidur minimal cabut dulu kontol lo, dasar bego." 

Wonwoo membalikkan tubuh Mingyu yang lemas tak sadar. Lalu mencabut kontol Mingyu dari lubangnya yang langsung merasa kosong itu. 

"Padahal udah lemes tapi masih gede aja." Wonwoo menyentil kontol yang baru saja memberikan surga padanya itu. 

"Thank you sayang buat malam ini. Kalau besok ternyata lo nggak inget, gue anggep ini cuma kehaluan gue yang jadi kenyataan. Sleep well, manis." 

Kecupan lembut di keningnya mengantar Mingyu ke alam mimpi yang membuat sepanjang malam bibirnya tersenyum senang. 

 


Paginya Mingyu bangun saat matahari sudah sangat tinggi. Matanya mengerjap mengatur cahaya yang menyelinap dari balik tirai yang tertutup. Kepalanya terasa ringan karena telah lama Mingyu tidak merasakan tidur senyenyak ini. Tapi anehnya pinggang ke bawah terasa begitu pegal dan lelah. 

Mingyu turun dari kasur dan berjalan perlahan untuk membuka tirai. Kesibukan kota sudah berjalan di bawah sana. Saat ia berbalik hendak ke toilet tak sengaja kakinya menginjak sesuatu. Mingyu mengambilnya dan sempat mengernyit heran karena merasa ia tak punya kacamata seperti itu. 

Kemudian Mingyu ingat kalau itu kacamata Wonwoo yang dipakai saat ia berpamitan mau pergi kemarin malam. Seketika ingatan tentang semalam langsung kembali ke dalam otaknya, seperti film yang berkelebat cepat. Tentang dia yang menangis di bar. Tentang Wonwoo yang membopong ia sampai ke kamar. Dan setiap adegan yang terjadi setelahnya. 

Namun yang paling membekas ialah senyum Wonwoo yang begitu indah menatapnya dengan tulus dari bawah kungkungannya. Juga desahan namanya dari bibir tipis yang cantik saat tersenyum itu. Semua jelas terbayang sebelum akhirnya ia memejam dan tertidur tak sadar. 

Mingyu memandang tubuhnya yang terbalut baju lengkap berbeda dengan semalam. Sepasang kaos rumahan dengan celana basketnya. Juga spreinya yang sudah berbeda dengan yang ia pasang kemarin siang. Ah sial. Mingyu memukul kepalanya sendiri sambil mengutuk dalam hati. 

Saat keluar kamar reflek ia terkejut lantaran ada Wonwoo yang sedang duduk tenang di sofa depan TV. Menikmati secangkir kopi dengan ponsel di sebelah tangannya. Ia juga sudah tampak rapi, bersih dan tampan. Tercium juga sekilas aroma parfum yang memang sering dipakai pemuda itu. 

"oh, udah bangun lo? Gue udah pesen bubur buat sarapan bentar lagi nyampe. Lo cuci muka dulu aja." wajah Wonwoo begitu tenang seakan yang ada dalam ingatan Mingyu hanya mimpi semata. 

Namun ia menjadi yakin saat terdengar panggilan delivery dan Wonwoo berdiri untuk mengambilnya. Terlihat cowok itu berjalan sedikit kesusahan menuju pintu. Dan saat lewat tepat di depan Mingyu terlihat bekas keunguan memenuhi leher putihnya. Mingyu tidak salah ingat. 

Di meja makan Wonwoo menikmati sarapannya tanpa beban. Seperti biasa, buburnya estetik tanpa diaduk. Si kurus makan sambil sesekali memeriksa ponselnya, entah ada apa di sana. Sementara Mingyu masih cemberut sambil mengaduk buburnya sampai tak berbentuk dan hanya disuap sesekali ke dalam mulutnya. Ia bingung harus mulai bicara dari mana. 

"Won." 

"Hm?" Wonwoo mengalihkan pandangan dari ponsel untuk menatap Mingyu lebih cepat dari kilatan petir. 

"Ini, kacamata lo." 

Dalam bayangan Mingyu temannya itu akan terkejut lalu gugup sampai tersedak dan adegan dramatis lainnya. Yang tak ia sangka, Wonwoo malah dengan santai dan sambil tersenyum mengambil kacamata itu dari tangan Mingyu. 

"Thanks. Semalem gue cari nggak ketemu. Mau nyalain lampu takut lo kebangun. Udah ngorok gitu, pasti lo capek banget." 

Entah kenapa kalimat itu justru terdengar seperti ledekan bagi Mingyu. Harga dirinya menyeruak tak terima seakan diremehkan. 

"Gue juga inget semua yang semalem. Yang udah kita lakuin di sana. Semuanya." 

Berhasil. Mingyu bisa melihat ekspresi Wonwoo yang tadi santai tanpa beban berubah tegang dengan mulut terkatup rapat. Tapi tak lama sampai senyum licik itu kembali tergurat di bibirnya. 

"Oke. Good kalo gitu. Jadi kita bisa langsung clearin sekarang aja. Ja-?" 

"Gue mau minta maaf sama lo." 

Wonwoo agak kaget dengan Mingyu yang memotongnya dengan kalimat pertama itu. Dalam hati ia juga jadi gugup kalau-kalau yang di takutkan benar kejadian. "Maaf buat apa?" 

"Karena gue udah kurang ajar sama lo. Gue mabuk dan malah maksa lo buat ciuman. Dan sampe kayak semalem. Maafin gue."

Wonwoo terdiam sejenak mendengar pernyataan dari Mingyu. Setelah semua yang mereka lakukan semalam dan semua ingatannya, akan sangat memalukan bagi Wonwoo kalau ternyata teman sexnya itu menganggap ini semua sebuah kesalahan. Lalu menyesal dan mungkin malah akan menyalahkan dirinya. However, Wonwoo juga ada andil dalam kesalahan ini kan? 

"Jadi- lo nyesel sama yang kejadian semalem?" tembak Wonwoo langsung. 

Mingyu yang tadi menunduk ketakutan seketika mendongak tidak menyangka malah mendapat pertanyaan seperti itu. Dia sudah bersiap kalau Wonwoo mau memaki dan menghajarnya saat itu juga. Walau ia tahu Wonwoo bukan pria tempramen. 

"Ng-gak. Gue ga nyesel. G-gue… gue suka. Gue suka sama yang udah kita lakuin semalem. Gue inget semuanya and the excitement is clear and real. Sampe sekarang. I love it all. Gue cuma nggak enak aja. Karena ngelakuinnya pas mabuk, takut lo kecewa atau marah." 

"Bagus deh, soalnya kalau lo sampe bilang nyesel gue udah siap buat ngebogem lo sekarang juga. Tendangan gue ga main-main." 

Mingyu menelan ludah takut. Ia pernah mendengar tentang prestasi Wonwoo di cabang itu. Dan ia tak berani berurusan dengan Wonwoo kalau soal itu. 

"Jujur, gue juga suka sama yang semalem. Gue enjoy dan gue puas. You was really good. Udah lama gue ga ngesex enak kayak semalem. Thanks for the service btw. Tapi-" 

Kenapa ada tapi? Apa gue kurang jago? Batin Mingyu. 

"Gue juga ada andil mengenai consent dari lo jadi gue juga mau minta maaf. Bukannya gue nyetop lo tapi malah keterusan dan keenakan. Jujur disini gue juga jadinya manfaatin ketidaksadaran lo. Karena gue… emang suka sama lo." 

Mingyu tidak tahu harus berapa banyak fakta yang dia dapat di Sabtu pagi yang cerah ini. Dia yang habis ngewein housematenya. Dan Wonwoo yang ternyata suka sama dia. Jadi kalimat I love you semalem itu?

"I was sincere with the 'I love you' last night. Jadi jangan ngerasa bersalah. Kita mungkin emang sama-sama salah tapi juga sama-sama enjoy dan puas. So, kita impas kan?" 

Apa reaksi yang diharapkan saat kamu mengkonfrontasi kegiatan sex semalam sekaligus mengungkapkan isi hatimu yang sesungguhnya? Reaksi melongo, terdiam dan tak mampu berkata-kata merupakan sangat normal seperti yang ditampakkan Mingyu sekarang. Sedikit banyak Wonwoo jadi merasa bersalah. Juga sebenarnya takut kalau semua ini berakhir dengan hubungan mereka yang merenggang atau bahkan Mingyu tak mau mengenalnya lagi untuk selamanya. 

Tapi mau bagaimana? Semua sudah terjadi. Dan di situasi yang awkward setelah semalam akan lebih bagus kalau semua dijelaskan sampai tuntas agar tidak perlu menyimpan beban yang mungkin bisa lebih memberatkan di masa depan. 

Wonwoo melihat jam tangannya, sudah jam 8 lewat. 

"Gue harus ke kampus sekarang, ada kelas tambahan. Lo nggak perlu terbebani sama confess gue barusan. Lo juga ga perlu bertanggung jawab sama perasaan gue. Gue cuma mau jujur biar semuanya clear. Apapun nanti keputusan lo gue terima. Ngobrolnya lanjut nanti aja kalau gue udah balik. Sorry ya Gyu."

Itu tiga kata terakhir yang diucapkan Wonwoo sampai akhirnya menghilang di balik pintu apartemen. Mingyu merasa semakin pusing, selain karena efek alkohol masih tersisa ditambah dengan rentetan fakta yang baru saja dia terima. Seketika langsung menghapus kesedihan dan rasa kecewa yang ia rasakan tentang mantannya semalam. 

Kini isi kepalanya hanya ada Wonwoo. Wonwoo teman kuliahnya, housematenya, Wonwoo dan pengakuannya, serta Wonwoo yang semalam mengangkang untuknya. Begitu indah dan menyihirnya. Apakah Mingyu sudah jatuh cinta?

 

Notes:

Leave me nice comments ya yeoreobun. Biar makin semangat nulis lagi nih nanti

Series this work belongs to: