Chapter Text
Minghao merapatkan jaketnya. Udara dingin menerpa kulitnya membuatnya sedikit bergidik. Diliriknya jam di ponselnya yang menunjukkan pukul empat dini hari. Beberapa saat kemudian seorang anak kecil berlari kecil ke arahnya. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Minghao yang melihatnya langsung berkacak pinggang kesal.
"Bagus ya, jam segini baru pulang."
"Maaf, Baba." si anak hanya bisa menunduk.
"Bajunya kemana? Tadi malem kan kamu udah Baba pakein baju."
"Aku lepas. Habis kata Tante Jeonghan tuyul nggak ada yang pake baju."
Minghao menghela nafas. Karena tidak ada tuyul seumurannya di komplek ini, Jay terpaksa bergaul dengan kuntilanak penghuni pohon beringin tidak jauh dari rumah Junhui.
"Dibilangin jangan keseringan main sama Tante Jeonghan. Ngeyel banget sih kamu."
Minghao menarik tangan Jay dan membawanya masuk ke rumah. Bukan tanpa alasan Minghao kurang menyukai kuntilanak tersebut. Pasalnya hantu berambut panjang itu pernah mengerjainya dengan cara berpura-pura jadi pelanggannya. Setelah menghabiskan dua piring cilok dagangannya hantu tersebut langsung terbang pergi tanpa membayar. Sampai saat ini Minghao masih kesal dibuatnya.
Pagi pun tiba. Setelah menyiapkan alat-alat jualannya, Minghao pergi sambil mendorong gerobak ciloknya. Tidak lupa ia melirik kuntilanak penghuni pohon beringin saat ia melewatinya. Ditatapnya hantu itu dengan sinis sementara yang ditatap hanya cekikikan mengejeknya.
***
Sore itu Minghao sedang mengobrol dengan Pak RT setempat setelah seharian sibuk berjualan.
"Mang, saya liat Mang sering banget keluar masuk rumah kosong sebelah kuburan Cina situ."
"Iya, Pak. Saya dititipin sama pemilik rumah buat jagain rumahnya, sekalian bersih-bersih."
Minghao terpaksa harus berbohong. Tidak mungkin kan jika dia bilang dia harus tinggal di rumah itu karena harus mengurus anaknya yang baru dia lahirkan akibat dihamili oleh hantu setempat?
"Emang nggak takut, Mang? Daerah situ angker lho. Saya aja pernah digangguin."
"Digangguin gimana, Pak?"
"Saya pernah diliatin penampakan waktu saya lagi di bawah pohon beringin gede di sebelah rumah itu."
Pasti si kunti tukang ngutang, pikir Minghao. Selain kabur tidak bayar ternyata si kuntilanak ini suka menganggu manusia yang berada di sekitar pohon tempat tinggalnya. Obrolan sore itu hanya diisi oleh curhatan Pak RT tentang kehidupan sehari-harinya. Minghao hanya mengangguk dan mendengarkan curhatannya hingga malam tiba dan Pak RT memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Minghao memutuskan untuk menghitung jumlah uang yang ia dapatkan hari itu sebelum pulang ke rumah Junhui. Tiba-tiba sebuah suara mengangetkannya.
"Mang, beli ciloknya dong."
Minghao menoleh ke sumber suara dimana seseorang sudah duduk di sebelahnya.
"Ah, pasti nggak bakalan bayar," ujar Minghao sambil lanjut menghitung uangnya.
"Maksudnya, Mang?"
"Saya sering liat kamu nongkrong sama Jeonghan di pohon."
"Hehehe. Tau aja, Mang," tawanya lalu berubah ke wujud aslinya.
Setelah selesai menghitung uangnya Minghao pun beranjak dan mendorong gerobaknya. Setan berpunggung bolong yang tadi berniat mengerjainya juga mengikuti di sebelahnya sambil melayang.
"Mang beneran pacarnya Koko Junhui?"
"Iya. Kenapa emangnya?"
"Enggak kenapa-napa, Mang. Cuma dulu pas si Koko masih hidup sering saya godain. Ganteng soalnya, hihihi."
Minghao sedikit merasa cemburu. Kelakuan setan-setan di komplek ini tidak ada yang benar. Setelah kuntilanak yang tidak bayar hutang sekarang ia harus bertemu dengan sundel bolong genit yang suka menggoda pacarnya.
"Pas udah mati udah nggak digodain kan?"
"Kadang-kadang aja sih, Mang. Hihihi."
Minghao merengut kesal dan mempercepat langkahnya. Sesekali kepalanya melirik ke arah si sundel bolong di sebelahnya. Bisa-bisanya Junhui tidak pernah memberitahunya jika ia sering digodai oleh setan lain. Wajar memang karena wajah pacarnya itu tergolong tampan. Tapi tetap saja Minghao kesal. Dengan buru-buru Minghao masuk ke area rumah Junhui sementara si sundel bolong terbang ke arah lain dan menghilang.
"Baba." Suara teriakan Jay terdengar begitu Minghao masuk ke dalam rumah. Si tuyul kecil itu berlari kegirangan dan menghampirinya.
"Pinter. Bajunya dipake." Minghao mengelus kepala anaknya yang kini memakai pakaian lengkap. Minghao tidak ingin anaknya tumbuh seperti tuyul-tuyul di luar sana. Ia ingin anaknya tumbuh sebagai tuyul yang tahu sopan santun.
"Tumben sampe malem, Hao. Biasanya sebelum maghrib udah pulang."
Minghao mendengus mendengar suara Junhui. Ia jadi teringat percakapannya dengan sundel bolong sebelum pulang tadi. Diliriknya Junhui dengan tatapan sinis, sementara yang dilirik hanya memandangnya kebingungan.
"Kok kamu nggak pernah cerita sering digodain si sundel bolong?"
"Hah? Sundel bolong? Oh, si Jisoo?"
"Aku nggak peduli siapa namanya!"
"Ya ampun, Hao. Dia emang sering godain aku, tapi nggak pernah aku tanggepin."
Junhui duduk mendekat di sebelah Minghao. Tangannya mengelus punggung Minghao yang masih kesal. Diusapnya leher Minghao dengan ujung hidungnya. Minghao yang tadinya kesal kini sesekali terkikik karena kegelian. Melihat suasana hati Minghao yang sudah lebih baik, Junhui kemudian mendaratkan kecupan di bibir pacarnya itu.
"Udah nggak marah kan, sayang?"
"Masih. Sedikit."
"Daripada marah-marah mending kita bikin adek buat Jay."
PLAK! Sebuah pukulan mendarat di kepala Junhui.
"Kepala kamu isinya cuma ngentot doang!"
"Ya kan kasian si Jay, nggak punya temen main. Kalo dia punya adek kan dia nggak usah main-main sama si Jeonghan lagi."
Minghao terdiam. Kalau dipikir-pikir ucapan Junhui benar juga. Jay tidak punya teman main seumuran dirinya. Menurutnya Jeonghan membawa pengaruh buruk untuk anaknya. Belum lagi kuntilanak itu berteman baik dengan si genit Jisoo. Minghao jadi memikirkan yang aneh-aneh. Bagaimana jika Jisoo mempengaruhi anaknya dan menggunakannya untuk mendekati Junhui? Minghao menggelengkan kepalanya resah. Sering menonton sinetron rupanya bisa mempengaruhi cara berpikirnya.
"Aku juga mau kasih dia adek. Tapi nggak sekarang, Jun. Aku belum siap hamil lagi."
"Yaudah kita bikin adeknya kapan-kapan. Sekarang ngentotnya aja."
"Ih kamu mah mikirnya gitu mulu!"
"Kamu mau nggak?"
"Ya... mau..."
Junhui mendekat ke arah Minghao dan mulai menciumi bibirnya. Ciuman yang terasa menuntut dan membuat tubuhnya kewalahan. Punggungnya menghantam tembok namun Junhui belum melepaskan ciumannya. Ia terus mendorong dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Minghao. Dada Minghao sesak. Junhui tidak memberinya jeda sama sekali. Dengan susah payah ia mendorong Junhui darinya. Setelah mulutnya terbebas, ia hirup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun tidak dengan Junhui. Ia lanjut menciumi setiap jengkal leher jenjang Minghao, meninggalkan bercak kemerahan akibat hisapannya.
Tangan Junhui mulai menyusup masuk ke balik kaosnya. Jarinya memainkan puting Minghao membuatnya terkesiap dan mengerang. Junhui kembali memasukkan lidahnya tepat ketika Minghao membuka mulutnya. Lidahnya memainkan lidah Minghao. Desahan Minghao tertahan oleh dorongan lidah Junhui di mulutnya dan itu membuatnya frustasi. Kakinya lemas. Ia hampir terjatuh jika saja Junhui tidak menahannya.
Junhui melepaskan pagutannya dan memundurkan kepalanya. Bibir keduanya terhubung oleh untaian air liur yang tercipta. Wajah Minghao memerah. Ia berusaha mengatur nafasnya. Sementara Junhui menyingkap kaosnya dan Minghao reflek mengangkat keduanya tangannya. Junhui menyentuh dan meraba dada Minghao perlahan sebelum menciuminya. Lidahnya menemukan puting Minghao dan menjilatinya. Hisapan di putingnya membuat punggung Minghao melengkung dan mendesah kenikmatan. Junhui melingkarkan kedua kaki Minghao di pinggangnya dan menggendongnya menuju tempat tidur.
Permukaan kasur yang lembut membelai punggungnya. Minghao menggerakkan pinggulnya resah begitu merasakan celananya menyempit karena ereksinya. Junhui menggodanya dengan meremas gundukan yang sedikit basah akibat precum.
"Mhhh... Junahhhhh..."
Junhui menahan kedua tangan Minghao yang berusaha melepaskan celananya. Matanya sayu memandang kekasihnya dengan tatapan memohon.
"Mau kontol aku masuk, sayang?"
"M-mau... hhhh..."
Kalo mau, tangan kamu diem disini. Jangan ngapa-ngapain. Oke?"
"Ta-tapi—"
"Diem, sayang."
Junhui meneruskan kegiatannya menciumi dada Minghao. Bibirnya turun ke perutnya. Lidahnya menjilat pusarnya. Minghao menggelinjang hingga pinggulnya terangkat. Matanya terpejam, mulutnya terbuka, nafasnya terengah. Junhui melirik celana Minghao. Ditariknya celana itu hingga lepas dan mengekspos penis Minghao yang sudah lemas. Cairan putih pekat mengalir dari ujungnya.
"Kamu cum nggak bilang-bilang ya, Hao."
"Hhh... udah nggak kuat, Jun."
Junhui beranjak dari tempat tidur dan melepaskan pakaiannya satu per satu. Setelah itu ia duduk di hadapan Minghao. Tangannya memberi gesture pada Minghao untuk mendekat, lalu menunjuk penisnya yang tegang. Minghao merangkak ke arahnya dengan patuh. Ia masukkan penis Junhui ke mulutnya. Ia cium, jilat, dan hisap. Bisa ia dengar erangan Junhui saat itu mulai menggerakkan kepalanya naik turun.
Penis Junhui berkedut. Minghao makin mempercepat gerakannya. Tidak lama kemudian mulutnya penuh. Sperma Junhui menyembur hingga ke kerongkongannya. Ia berusaha menelan semuanya. Tetesan sperma yang tidak bisa ia telan terlihat mengalir ke dagu hingga dadanya.
"Pelan-pelan, Hao. Nggak usah ditelen semua." Junhui menyeka mulut dan dagu Minghao hingga bersih.
"Mhhh..."
"Masih mau dientot nggak lubangnya?" Minghao mengangguk.
"Pake lube. Di laci." Minghao menunjuk sebuah meja kecil di samping tempat tidur.
Setelah mengolesi pelumas di tangan dan penisnya, Junhui menghampiri Minghao yang sudah berbaring dengan kaki mengangkang. Jarinya yang licin karena pelumas dimasukkannya ke lubang anal Minghao. Satu jari, dua jari, tiga jari. Desahan demi desahan terdengar setiap kali Junhui menambah jumlah jari yang ia masukkan.
"Nghh... Udahhh, Jun. Masukkin... hhhh..."
"Masukkin apa, sayang?"
"Ko-kontol... kamuhhhh..."
Junhui mengeluarkan ketiga jarinya. Gerakannya terlalu cepat membuat Minghao mengerang. Ia angkat kedua paha Minghao. Penisnya ia masukkan perlahan. Lubang anal Minghao yang sempit menghimpit penisnya.
"Sshhh..." Junhui mengerang saat ia merasakan lubang Minghao mengetat.
Junhui mulai menggerakkan pinggulnya, memaju-mundurkannya dengan tempo yang semakin cepat. Ia melakukannya tanpa melepaskan pandangannya pada wajah Minghao. Matanya yang tidak fokus, kadang terpejam kadang terbuka. Mulutnya yang tidak berhenti mengeluarkan desahan dan menggumamkan nama kekasihnya. Tangannya yang terkulai lemas di kedua sisi kepalanya. Ini adalah pemandangan terindah yang pernah Junhui lihat seumur hidupnya... dan matinya.
"Enak, sayang?"
"E-enak... Junnhhhh... hmm... s-situ... disitu—AHH"
Minghao berteriak saat penis Junhui menghantam prostatnya dengan keras. Tubuhnya menggeliat tidak karuan. Tangannya berusaha meraih sesuatu untuk dijadikan pegangan. Hanya bedcover yang saat ini bisa ia pegang. Penisnya berdenyut nyeri, hampir mencapai orgasme. Sementara Junhui terus menerus menghantam titik kenikmatannya. Nafasnya semakin memburu. Orgasmenya sebentar lagi datang. Namun tiba-tiba Junhui berhenti.
"Junnn..." rengek Minghao.
"Kamu yakin nggak mau aku hamilin lagi?"
"Enggak mau." Junhui memasang wajah memelas.
"Padahal aku mau liat kamu hamil lagi."
"Ya nggak sekarang, Jun. Udah, tusuk lagi. Tadi aku udah hampir cum malah nggak jadi."
"Nggak mau ah. Kamunya nggak mau dihamilin."
"Yaudah kalo kamu nggak mau ngentotin aku, aku ngentot sama Pak Seungcheol aja."
Junhui langsung memasang wajah panik begitu mendengar nama lelaki lain disebut.
"Pak Seungcheol siapa lagi?"
"Pak RT disini. Kamu tinggal disini masa nggak tau sih."
"Ya mana aku tau. Aku matinya kan udah lama."
"Berisik ah! Kamu mau lanjut ngentotin aku apa enggak?!"
"Iya, sayang."
Junhui lanjut menggerakan pinggulnya maju-mundur. Ia mengerang keenakan meskipun hatinya masih kesal.
"Awas ya, kalo aku sampe hamil, aku bakal ngentot tiap hari sama Pak Seungcheol."
Junhui semakin cemberut. Ia hantam prostat Minghao dengan lebih keras. Bukannya kesakitan, Minghao malah mendesah keenakan. Rasa kesal Junhui sedikit reda mendengar Minghao yang mendesahkan namanya.
"Aahhh... Junhh... nghhhh..."
Minghao mengalungkan lengannya di leher Junhui, membawa tubuh keduanya mendekat dan saling menempel. Tidak hanya tubuh, kini bibir mereka pun saling bersentuhan. Semakin dekat orgasmenya, semakin liar ciuman yang Minghao berikan. Lumatannya berubah menjadi gigitan. Junhui hanya bisa menyeringai di balik ciumannya dan menikmati setiap gigitan dan hisapan Minghao.
"Aa—AHHHHH."
Orgasmenya datang. Cairan spermanya menyembur mengenai perut dan dada keduanya. Tubuh Minghao terkulai lemas. Matanya terpejam. Nafasnya mulai semakin beraturan. Junhui menyingkap rambut Minghao yang menutupi dahinya. Erangan lemah terdengar saat Junhui mengeluarkan penisnya dari lubang anal Minghao. Junhui kemudian ikut berbaring di samping kekasihnya yang sudah terlelap.
***
"Jun, aku bingung deh."
Keduanya masih berbaring dengan keadaan telanjang. Minghao sesekali memainkan jarinya di dada bidang Junhui.
"Bingung kenapa?"
"Si Jisoo kan cowok ya? Tapi kok dia bisa jadi sundel bolong? Bukannya sundel bolong matinya karena melahirkan?"
"Soalnya pas masih hidup dia dihamilin sama genderuwo penghuni kebun belakang. Lahirannya susah katanya, makanya mati."
"Berarti kalo aku mati pas ngelahirin Jay, matinya aku bakal jadi sundel bolong dong?"
"Iya kali."
***
Sementara itu di sebuah pohon beringin tidak jauh dari sana ada dua makhluk yang menonton kegiatan panas Minghao dan Junhui.
"Duh, coba dulu gue bisa dapet Ko Junhui. Pasti sekarang gue yang dientot kaya gitu."
Jisoo mesem-mesem sendiri membayangkan dirinya disetubuhi oleh Junhui. Sementara Jeonghan di sebelahnya melirik sinis.
"Ah, kaya bisa aja lu dapet si Jun. Yang kaya elu mah kesukaannya genderuwo, bukan setan Cina."
"Sialan lu. Nggak usah bahas-bahas si genderuwo. Masih kesel gue sama dia."
Jeonghan jadi sedikit merasa bersalah sudah menyebut makhluk yang membuat sahabatnya ini mati.
"Gangguin Pak RT aja, yuk!" ajak Jeonghan berusaha memperbaiki suasana.
"Ayo!" jawab Jisoo dengan wajah ceria.
