Actions

Work Header

bitter cure.

Summary:

“Lelah dengan malam yang terus datang,” Ivan bernyanyi, Till menatapnya sendu. Kedua pandangan mereka terkunci dalam ajang penentuan hidup dan mati itu, “Hanya untuk berkutat dalam keheningan yang senyap...”

Lantas, kita harus apa sekarang?

Notes:

hi, this is my very first (published) ivantill fic :D this fic is heavily inspired by the pic of beta round 6.

also, i tried to translate the cure lyrics into indonesian! sorry if its weird soalnya aku tidak punya pengalaman apapun menjadi penerjemah lirik atau pembuat lirik 😅 terimakasih sudah mampir!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Peluh membanjiri seluruh tubuh lelaki yang baru saja menyelesaikan babak perdananya itu. Di kehidupan di mana manusia harus mengais kehidupan dari kematian yang akan segera datang dari mana saja, Till hanya bisa bergantung pada suara dan gitarnya.

Dari kejauhan lelaki dengan pakaian serba hitam menatapnya dengan perasaan lega, mereka berpelukan dalam hening yang mencekam. “Kerja yang bagus, sayang.” 

Till menghela napasnya lamat-lamat. Syukurlah. Ia bahkan tak mampu berucap, seluruh kejadian di depan matanya bak mimpi panjang belaka. Ivan hidup, dirinya hidup, itu lebih dari cukup. 

Tidak peduli dunia akan berjungkir balik seperti apa, asalkan mereka berdua, semua akan baik-baik saja. 

“Kita harus bersiap,” Ivan menatapnya lembut, menangkup pipi Till yang sedikit tirus. Persiapan babak pertamanya membuat lelaki itu tidak tidur bahkan tidak makan, wajar saja berat badannya menurun. “Istirahatlah, aku akan mengantarmu sebelum para segyein datang.” 

Till mengangguk sebelum Ivan mengantarnya pada tempatnya singgah. Ia tersenyum sebelum lelaki dengan pakaian serba hitam itu melenggang pergi. Ivan dan dirinya sudah menjalin hubungan beberapa tahun setelah mereka memasuki Anakt. 

Ivan tidak begitu paham tentang perasaannya, sedangkan Till memang hidup untuk dicintai. Itu semua terjadi begitu saja, mereka berdua sama-sama berlari untuk menghindari kematian yang mengejar sejak awal mereka memasuki neraka ini. Ivan belajar untuk mencintai, dan Till belajar untuk menerima cinta yang tak bisa diutarakan oleh lelaki itu. 

Begitulah. Anakt adalah awal mula ajang yang mempermainkan hidup dan mati seseorang dengan mudah, selanjutnya, di panggung megah dan beribu-ribu pasang mata makhluk menjijikkan itu, mereka dipaksa berjuang mempertahankan alasan kenapa salah seorang harus hidup dengan suara mereka. 

Till akhirnya bernapas lega, hanya untuk malam ini saja, tentunya. Ia tertawa miris, seandainya saja malam seperti ini akan terus datang.

🤍

Ketika terbangun, Till diseret keluar oleh guardiannya, Urak, untuk menuju ke tempat di mana babak selanjutnya akan diumumkan. Seluruh penghuni Anakt memperhatikan layar hologram yang terpampang jelas di depan hall. Urak menyeretnya, memaksanya untuk mendongak, menatap layar itu. 

Till terbelalak, seluruh darah di tubuhnya bak dikuras habis dalam sekejap. Wajahnya.... dan Ivan.... 

Tidak. Tidak. Tidak. Tidak!!!! 

“Ini tidak benar! Kau...!” Till memberontak dari cengkraman Urak, matanya menelisik dari sekian orang yang memandanginya, mencari-cari orang yang seharusnya ia tanyai keadaannya. Ivan-nya

Namun, belum sempat Till menemukannya, Urak membenturkan kepalanya ke lantai. Napasnya tertahan dengan rasa sakit dan merah yang mengalir dari pelipisnya. Semua orang yang ada di sana menjerit tertahan, mundur beberapa langkah dari kejadian itu. Urak mengambil collarnya, menaruhnya di mulut peliharaannya itu seolah menyuruhnya diam. Till seolah-olah tak peduli, lelaki dengan rambut teal itu tetap sibuk mencari Ivan, di mana dia? Apa dia tahu soal babak ini? 

Seseorang menerobos masuk ke kerumunan, itu adalah Ivan. Till tersenyum lega di balik pengait yang membelenggunya. Urak menarik kakinya bak dirinya adalah sebuah boneka yang tak memiliki nyawa, membawanya keluar dari kerumunan dengan jejak darah samar tercipta di lantai. Ivan ingin meraihnya, namun Urak adalah musibah besar jikalau lelaki itu berani ikut campur. Ivan menggigit bibirnya pelan, menatap kekasihnya yang berlumuran darah diseret pergi dengan cara yang menyedihkan seperti itu. 

Namun, pada akhirnya, ia hanya bisa membisikkan sesuatu dengan gerakan bibir yang lebar agar Till bisa membaca pergerakan bibirnya. 

“Semua. Akan. Baik. Baik. Saja.”

🤍

Tapi kenyataannya, semua tak baik-baik saja. 

Till baru menyadari betapa sakit pelipisnya saat dilempar ke ruang pelatihan. Ada beberapa segyein lain yang memang ditugaskan untuk menjaga dan melatih orang-orang Anakt sebelum diperlombakan. Ia mengernyit dengan collar yang masih membelenggu mulutnya, ada Unsha di ujung ruangan—guardian milik Ivan—yang sibuk berbicara dengan penjaga di sana dan juga Urak. Setelah beberapa saat, Ivan datang dengan tergesa. Pintu langsung tertutup, menyisakan suasana mencekam antara penghuni ruangan itu dan dua pasangan yang tak melepaskan pandangan mereka satu sama lain. 

Till memiliki banyak hal yang harus ia utarakan, tetapi belenggunya melarangnya. Urak sangat tempramental, akan sulit membuatnya melepaskan hal sialan ini. Ivan, tak sepertinya, nampak tak berekspresi. Till tahu betul bahwa lelaki itu sejak dahulu memang sulit mengutarakan hal yang ia pendam, pandangan dan ekspresinya selalu setenang lautan—yang membuatnya kadang kesulitan mengerti apa yang diinginkan lelaki itu. 

Setelah kedua guardian mereka meninggalkan ruangan, Ivan langsung menghampiri Till yang terduduk di ruangan itu. Ivan menyingkap rambut lelaki itu yang berlumur peluh dan darah yang telah mengering. Lelaki dengan rambut teal itu menatap pada iris merah Ivan yang bergetar bersamaan dengan tangannya yang masih memegangi rambutnya. Kekhawatiran sekarang nampak jelas di pandangannya walaupun wajahnya nampak tak berekspresi, Till berusaha meyakinkan lelaki itu dengan memberitahu lewat pandangannya—ini bukanlah masalah

Salah satu segyein menghampiri mereka berdua, menyerahkan dua kertas masing-masing pada mereka, yang satu berisi partitur lagu dan yang satu lirik. Till memegang tangan Ivan yang enggan lepas dari bekas lukanya, berusaha meyakinkan kekasihnya itu bahwa ia tak apa. Ia melirik pada kertas yang diberikan itu, Round 6 : Cure. Begitulah judul yang terpatri di barisan paling atas. Ivan yang mulanya enggan pun akhirnya melepaskan tangannya dan menatap kertas itu. 

Hah

Ia hampir tertawa miris, dari sekian banyak judul lagu—mengapa? Siapa yang akan terobati dengan adanya babak penyisihan antara mereka berdua? Ini semua tidak adil. 

Ivan memang kesulitan mengutarakan perasaannya sejak kecil. Hidup dan dihidupi oleh guardian seperti Unsha yang mendidiknya untuk tak mengecewakannya karena harga yang ia miliki membuatnya mati rasa akan segala hal. Tapi, Till datang dalam hidupnya. Lelaki itu—pada dasarnya memang hidup untuk dicintai, Ivan langsung merasa terikat padanya. Ia tak akan membiarkan lelaki itu mati di depannya. 

Setidaknya, itu adalah harapannya. 

Ia tak punya rencana, ia tak punya apapun untuk ditukarkan selain nyawanya sendiri. Apapun demi Till hidup, ia akan tetap melakukannya. Meskipun ia harus menyerahkan nyawanya sendiri. 

Till menatap partitur itu dengan ragu. Biasanya, ia pasti langsung akan mempraktekkan nada lagu itu dengan membayangkan dirinya sedang memegang gitar. Tetapi, ia tak memiliki motivasi sama sekali untuk keluar sebagai pemenang. Menjadi pemenang berarti harus membunuh lawanmu, lawannya kali ini adalah Ivan. Bagaimana bisa ia membunuh kekasihnya sendiri? 

“Till, sayang,” Ivan berbisik, menyandarkan kepalanya pada lelaki yang lebih muda, mengabaikan pandangan para segyein di depannya. “Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.” 

Till ingin berteriak, ingin marah. Bagaimana bisa kau menyuruhku tenang?! Ini adalah pertaruhan antara hidup dan mati mereka, Till tidak bisa memikirkan hal untuk kabur atau semacam itu, mereka benar-benar dipantau sampai seujung kuku. Bagi para segyein, ini adalah permainan. Bagi mereka berdua, ini adalah ajang hidup dan mati. 

Lelaki itu bergetar, Ivan sendiri bisa merasakannya karena kepalanya bersandar di pundaknya. Biarlah semuanya seperti ini terlebih dahulu, Till meyakinkan dirinya sendiri, semoga semua akan menemukan jalan keluarnya. 

🤍

Mereka hanya punya waktu dua hari, keesokan harinya, belenggu milik Till baru dilepas agar ia bisa berlatih menyanyi. Celakanya lagi, Till baru menyadari antar kontestan pasti akan mendapat ruang terpisah untuk berlatih sendiri—untuk mencegah terjadinya huru-hara di tengah pelatihan. Lagipula, siapa yang bisa berpikir jernih di tengah pertandingan yang mempertaruhkan hidup dan mati mereka? 

Till bersandar pada dinding putih yang bak tiada ujungnya, kertas lirik miliknya sudah lusuh—suaranya seperti habis tidak ingin keluar. Ia ingin bertemu Ivan, apa Ivan memiliki rencana untuk keluar dari situasi ini? Ia harus apa? 

Tentu saja Till tidak ingin mati. Tapi, ia juga tidak ingin Ivan harus mati. Keinginan yang egois, namun, ia bisa apa? Dirinya dan Ivan hanyalah dua entitas yang sama-sama mencari kehidupan di balik neraka bernama kehidupan ini. Ia melirik kertas lagunya lagi, cure. Siapa yang akan terobati dengan lagu ini? Penyanyinya? Hah. Konyol. 

🤍

Till hanya bisa menahan napasnya saat wajahnya dirias oleh para segyein. Pakaiannya sudah rapi, baju berwarna hitam yang membalut erat tubuhnya dan juga jas se-pinggang berwarna kecoklatan yang senada dengan celananya. Ia menggigit bibirnya, dua hari tanpa tidur menjadikan pandangannya mengabur. Ia bisa gila, stadium sudah ramai, sorak sorai penonton yang bersiap dengan penampilan mereka membuatnya mual. 

Mereka berusaha untuk hidup—dan mereka hanya menganggap semua ini permainan belaka. 

Till hanya tertawa tanpa suara, melihat layar hologram di depan stadium yang menampilkan fotonya dan Ivan besar-besar. Ia meninju fotonya sendiri, meluapkan kekesalan yang tak bisa ia utarakan. Napasnya satu dua, apa yang sebenarnya ia harapkan? Dari awal dirinya diseret ke Anakt, hidupnya memang sudah didedikasikan untuk ajang berdarah ini. Ia hanya egois, itu saja. 

Dua hari ia tak melihat Ivan, berusaha mencuri waktu untuk menyusup pun sulit, Urak memergokinya hampir keluar dari tempatnya kemarin, makhluk itu hampir menghajarnya lagi. Till selamat hanya karena hari pertandingannya sudah dekat, dan Urak tidak mau menyia-nyiakan bakat peliharaannya itu dengan bogem mentah miliknya. 

Salah satu segyein menyeretnya, menandakan bahwa babak pertandingannya melawan Ivan akan segera dimulai. Ia merasakan perasaannya semakin carut-marut. Tolong, pandangannya semakin mengabur kala panggung yang harusnya ia dan Ivan tempati nampak semakin dekat dari langkahnya. Selamatkan. Aku. Dan. Dia. 

Mikrofon yang terpasang padanya berdenting, menandakan suaranya akan terdengar dari seluruh stadium jika ia nekat berteriak dan memberontak saat ini. Sorak sorai penonton terasa gaung di depannya, seluruh tubuhnya bergetar karena perasaan takut. Belum pernah ia merasa setakut ini, dalam seumur hidupnya. 

Ivan tidak juga muncul, biasanya, kedua lawan akan naik panggung bersamaan. Kemana dia? Apa Ivan punya rencana? 

Till menghela napasnya, segyein yang ada di pinggir panggung menunjukkan aba-aba musik akan segera dimulai. Indikator lampu penanda detak jantung yang berwarna merah di telinganya menunjukkan betapa takutnya ia saat ini. 

Musik berbunyi, kakinya terasa lemas. 

“Izinkan aku, memiliki tiap sentuhan jarimu. Izinkan aku memilikimu sampai ujung kakimu.”

Napasnya bergetar, bibirnya bergerak dengan sendirinya mengikuti alunan lagu yang familiar ia dengarkan dua hari dua malam ini. “Tolong izinkan aku untuk terbuai oleh pandangan matamu, karena aku tak ingin kau pergi.” 

Ivan tak kunjung muncul, apakah ini rencananya? Apa maksudnya? 

Till terus bernyanyi sampai telinganya terasa gaung, chorus akan segera ia nyanyikan, Ivan tetap tak muncul juga. 

“Sampai bintang yang jatuh ini tenggelam oleh waktu yang terus berdentang,” Ivan. Tolong. Di mana kamu? “Tolong bacalah jiwaku, ooh—ooh...” 

Till bernyanyi seolah lirik itu adalah perasaannya yang sesungguhnya, bukan sekedar tulisan acak yang diberikan oleh para segyein padanya. 

“Tolong dengarkanlah laraku, dan sembuhkan aku dengan segera.” Karena pikirannya yang carut-marut, Till sampai tidak sadar ada seseorang yang memegang tangannya dari sampingnya, figur itu—napasnya terasa sesak. Ivan, dengan baju putih yang melingkupi tubuh tegapnya, menatapnya dengan senyum yang indah. Till terperanjat, lelaki itu bingung harus berujar apa kala Ivan menarik kedua tangannya, ia mengajaknya berdansa. 

Berdansa. Alunan lagu bak tempo yang mengejar waktu mereka. Till bergetar di bawah rengkuhan lengan Ivan yang memegang pinggang dan pergelangannya. Mereka berputar, Ivan tak berujar satu patah katapun. Lelaki yang lebih muda menatapnya dengan iris yang bergetar, berusaha membisikkan sesuatu tanpa suara, “Kita. Harus. Apa?” 

Ivan berbisik juga tanpa suara, menimpali lelaki itu. Berbicara seolah-olah ia tahu sesuatu, padahal, Ivan sibuk mencari jawaban yang tak ada selama dua hari ini. “Skor. Lihat. Harus. Sama.” 

Till melirik pada hologram yang menampilkan skor mereka, sejauh ini, skor mereka masih sama. Jadi begitu. Mereka tidak meraih skor tertinggi, tetapi mereka menyamai satu sama lain. 

Ivan bernyanyi, Till terbuai dalam figurnya yang indah—seluruh makhluk yang menontonnya bak menghilang dari pandangannya. Tangan mereka, bertautan dengan indah. Till melirik skor lagi, betapa terkejutnya ia bahwa tiba-tiba perbandingannya melonjak drastis, Ivan ada di atasnya beberapa poin sekarang. Gilirannya untuk bernyanyi masih jauh—ide Ivan mungkin cukup menenangkannya, tetapi, tidak ada yang tahu bagaimana cara penilaian dari pertunjukan berdarah ini. 

“Lelah dengan malam yang terus datang,” Ivan bernyanyi, Till menatapnya sendu. Kedua pandangan mereka terkunci dalam ajang penentuan hidup dan mati itu, “Hanya untuk berkutat dalam keheningan yang senyap...” 

Lantas, kita harus apa sekarang? 

Lirik lagu yang mereka nyanyikan bak melodi yang mengejek kebingungan keduanya. Till memiliki satu giliran untuk bernyanyi, setelahnya—lagu berakhir. 

Ivan, anehnya tak bergetar sekalipun. Yang lebih muda terus-terusan menatapnya untuk mendapatkan afirmasi bahwa mereka akan baik-baik saja. Till membuka mulutnya, bersiap untuk bernyanyi lagi. 

“Pada melodi yang tiada habisnya ini,” Ivan menatapnya, membalas nyanyiannya dengan suara yang indah juga sembari mereka berputar bersama. “Kita berdansa dengan menatap wajah satu sama lain.” 

Till menatapnya takut, dua syair lagi. Lalu, apa rencana Ivan sekarang? 

“Dan cerita kita—,” 

Ivan menariknya mendekat, tangannya yang semula melingkupi tangannya beralih ke tengkuk lelaki yang lebih pendek dalam rengkuhannya. 

“Akan terperangkap hilang dalam pelukan waktu selamanya.” 

Ivan menarik jarak di antara mereka, Till terkejut, Ivan meraup bibirnya dengan senyum terpatri dengan jelas. Lelaki yang dicium jelas kebingungan, hal seperti ini tidak pernah ada dalam seumur mereka hidup. Tetapi, Ivan tak bergeming, ia meraup bibir Till dengan pelan—melumatnya perlahan sembari memegangi tengkuknya seolah-olah lelaki itu akan hilang dari pelukannya jikalau Ivan mengendurkan pegangannya sedikit saja. Till yang kebingungan hanya bisa menerima, memejamkan matanya, menikmati cecapan bibir kekasihnya dengan meremang. 

Ivan melepaskan ciumannya, menatap Till dengan napas tersengal-sengal. Melupakan fakta bahwa mereka ada di panggung dengan ribuan makhluk hidup menonton mereka berdua. Ivan masih memegang tengkuk kekasihnya, menyatukan kedua dahi mereka dengan senyum yang tak kunjung pudar. 

“Tenang saja,” Ia berujar, tidak ada kegoyahan dari tiap ucapannya. “Semua akan baik-baik sa—,” 

Dor! 

Bising timah memotong suara lelaki berambut hitam legam itu, Till terperanjat ketika mengetahui cipratan merah di wajahnya adalah dari seseorang yang merengkuhnya. Timah itu menembus dadanya. 

Ah. Ah.... AHHHHHH!!!!!!!!! 

Keduanya terperanjat, Ivan menatapnya dengan pandangan terkejut juga, seolah tidak seharusnya semuanya begini. Tubuhnya oleng, disusul dengan bunyi bruk. Till terdiam di tempatnya, kesulitan memproses kejadian yang terjadi di depannya. Wajahnya masih berlumur merah darah, ia menatap ke bawah, putih milik Ivan perlahan dibasahi oleh pekatnya merah yang mengalir. 

Tidak. Tidak. Tidak. Tidak!!!!! 

Napasnya tersengal, ia terduduk karena pijakannya goyah. Ini bohong, ini semua kebohongan belaka!!!! Ivan memiliki rencana, Ivan punya rencana agar mereka selamat! Ia melirik papan skor, 89/70. Sejak kapan semua begitu jauh? Bohong. Bohong. Bohong!!! 

Semburat merah yang membasahi mereka berdua bak mengejek lara yang dimiliki oleh Till, segyein menyeretnya pergi—ia memberontak dengan kuat. Mereka menyuntikkan sesuatu padanya, pandangannya memburam—telinganya berdengung sampai-sampai ia tak menyadari suara jeritan yang terdengar samar adalah suara yang keluar dari tenggorokannya sendiri. 

Semuanya gelap, mereka menyeretnya pergi—menyisakan cerita mereka yang terperangkap dalam jerat waktu selamanya dan tak memiliki penawar untuk menyembuhkannya. 

Round 6 : Cure. Till Win! 

 

🫀

Notes:

terimakasih sudah baca, maaf jikalau mengecewakan. :P also im on twitter @blossomincs kalau ada kesan pesan hihi thankyou ❤️