Chapter Text
Jaemin is 27 years old, living his life as an alpha. Moving to a super small village in this country because he wants to live a peace life without the hustle and bustle of the main town.
Awalnya, keputusannya untuk pindah sempat menjadi pertanyaan besar oleh satu-satunya teman yang ia punya--Haechan, apalagi pindah ke desa yang letaknya sangat jauh dari tempat ia tinggal sebelumnya. Jaemin berhasil meyakinkan Haechan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan berjanji akan sering menghubunginya di waktu-waktu senggang.
His grandparents used to live this before they passed away, mereka memiliki rumah sederhana yang masih sangat terawat dengan baik hingga sekarang, dan sekarang Jaemin lah yang akan menempati rumah itu sendirian.
Desa ini sangat kecil dan jauh dari desa lainnya dan juga kota, sangat terpencil dan tradisional. Rumah Jaemin dikelilingi banyak pohon-pohon besar, dan rumah antara penduduknya berjarak cukup berjauhan. Mata pencaharian penduduk setempat yang Jaemin amati adalah petani, banyak jenis tanaman yang Jaemin baru temui di desa ini.
Sudah satu minggu Jaemin tinggal di desa ini, apakah keputusannya sudah benar?
*****
Sekarang sudah pukul 7 malam dan keadaan desa sudah sangat sepi, selalu sepi, dan jarang terlihat orang berlalu-lalang. Jaemin bingung awalnya dengan suasana ini. Dia belum pernah mendengarkan cerita apapun mengenai desa ini selain neneknya yang menceritakan betapa sejuknya desa ini.
Jaemin menegakkan tubuhnya di sofa saat indra penciumannya menangkap bau yang sangat tajam, bau yang selalu ia cium sejak hari pertama menempati rumah ini, bau yang datang saat jam menunjukkan pukul 7 malam dan akan terus ada di sekitarnya hingga pagi menjelang. Seperti mencoba untuk memerangkapnya.
Jaemin is an alpha, and he knows this smell stronger than alpha, and tonight, it's getting stronger.
BRAKKK
Tubuhnya bergetar hebat saat pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sosok laki-laki berbadan besar yang menatapnya tajam dengan mata merah darahnya.
Jaemin is an alpha, he should not feel this scared.
Laki-laki itu menutup pintu yang sudah rusak di belakangnya, berjalan mendekati Jaemin dan berhenti 5 langkah di hadapannya.
"Kamu siapa?! Enggak bisa seenaknya merusak pintu rumah orang!" teriak Jaemin, memegang vas bunga yang siap untuk dilempar.
"Me? Jeno, I am your alpha."
"The fuck? I am an alpha! There is no way are my alpha, asshole!"
Jeno mengeluarkan dengusannya, memandang Jaemin remeh. Tubuhnya secara sengaja mengeluarkan aroma yang ia tujukan untuk melemahkan Jaemin, melemahkan sosok yang kini sedang meremang di atas sofa bulu cokelat di hadapannya.
"S-ttop!!"
"I do nothing."
Jaemin mencoba menutup hidungnya, berusaha untuk tidak menghirup bau di sekitarnya yang entah kenapa membuat tubuhnya panas dan lemas. Percobaan itu sia-sia saat Jeno mendekat dan berjongkok di hadapannya, menarik paksa kepala Jaemin untuk ia tenggelamkan di dalam cerukan lehernya, dimana letak pusat aroma itu berada.
Jaemin memberontak sebisanya, bau ini membuatnya hilang kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Jaemin memukul dada Jeno untuk melepaskan kepalanya yang dipaksa terus bertahap di leher pria itu, Jaemin dipaksa untuk menghirup aroma pria itu sebanyak-banyaknya.
"Lepas..."
Adalah kalimat terakhir Jaemin sebelum kesadarannya direnggut.
*****
Jaemin membuka matanya perlahan. Tubuhnya lemas bukan main, dan dia sadar ini bukanlah rumahnya, bukanlah kamarnya.
Mengingat kejadian sebelumnya, Jaemin buru-buru mendudukan dirinya di atas ranjang berseprai putih ini. Ruangan ini penuh dengan bau pria brengsek itu, bau yang membuat sekujur tubuh Jaemin meremang tak nyaman, yang menyadarkannya bahwa kini ia menganakan dress tidur putih yang hanya menutupi setengah pahanya, pakaian yang tidak pernah dimiliki atau dikenakan Jaemin sebelumnya.
"Shit." pria berkulit putih susu itu buru-buru turun dari ranjang, bertepatan dengan Jeno yang masuk ke kamar dengan membawa sebuah botol bening berisikan cairan berwarna hijau pekat.
Jaemin tidak tahu apa yang salah dari tubuhnya. Dia adalah seorang alpha yang memiliki tubuh kuat, tidak seharusnya dia merasa lemas dan lemah saat matanya bertatapan dengan mata merah pria di hadapannya.
Jaemin berdiri, berjalan melewati Jeno untuk keluar dari kamar ini hingga pekikan keluar dari mulutnya saat Jeno menarik tangannya kasar dan melemparnya kembali ke atas ranjang.
"Kamu ngapain? Lepasin aku sebelum aku teriak!"
Jeno ikut menaiki ranjang dan menindih Jaemin dengan tubuhnya yang lebih besar, "Teriak? Cobalah. Kamu percaya diri sekali bahwa warga desa ini akan membantumu. They don't care."
"LEPAS BRENGSEK!!"
Jaemin teriak dan berusaha mendorong tubuh besar Jeno saat Jeno mendekatnya wajahnya dan mencium bibir Jaemin dengan kasar, digigitnya bibir itu agar terbuka dan ia lesakkan lidahnya ke dalam mulut si yang lebih kecil.
Jaemin berontak saat Jeno menurunkan tali dressnya hingga terpampang jelas dadanya di hadapannya pria itu.
PLAK!
Satu tamparan kencang Jaemin dapat di pipi kanannya, membuatnya terdiam dan lost sesaat yang mana hal itu menjadi kesempatan Jeno untuk mengikat kedua tangannya ke kepala ranjang dengan menggunakan tali.
"Omega, my omega."
Kepala Jaemin rasanya berputar saat mendengarkan Jeno memanggilnya dengan sebutan omega. Apa pria ini gila tidak bisa mencium bau alphanya?
"Ah!"
Desahan keluar dari mulutnya saat mulut dan jari Jeno memainkan putingnya. Mulut pria itu menghisap puting kanannya dengan kencang, membuat tubuh Jaemin bergerak tak beraturan karena merasakan ngilu dan sensitif yang luar biasa.
Kenapa tubuhnya jadi seperti ini?
"Wha--what nghh... what did you do to my body?!"
Jeno melepaskan puting Jaemin yang sudah memerah dari mulutnya, tubuhnya kembali duduk tegap menindih tubuh kecil Jaemin.
"Me? I am claiming you, omega."
"I AM NOT OMEGA! I AM ALPHA!!"
Jeno tersenyum, mengelus sisi tubuh Jaemin hingga ke pahanya, "Alpha? Sebentar lagi kamu bakalan berubah menjadi omega. I am an enigma, I can change you into omega, my omega."
"Bullshit, stop bicara hal-hal yang enggak masuk akal!"
"Just watch, and feel it."
Watch, and feel it.
Jeno membuka baju dan celananya, membuat pria itu kini full naked di atas tubuh Jaemin yang sudah berantakan. Pria bertubuh besar itu membuka lebar kedua kaki Jaemin, menahannya dengan kuat yang pasti akan memunculkan memar kebiruan esoknya.
"Wait, stop! Aku mohon, berhenti!"
Jaemin memohon dengan sisa tenaga yang dia punya. Tubuhnya sudah lemas bukan main, ruangan yang penuh dengan bau Jeno tidak membantu sama sekali. Tubuhnya panas, sangat panas. Dia hanya bisa melakukan perlawanan sia-sia dan berakhir tetap tergelatak di atas ranjang, di bawah kuasa sang enigma.
Air matanya mengalir saat ia melihat Jeno mengocok penis besar dan panjangnya, meludahi lubang anal Jaemin, kepala penis itu ia masukkan dan berhasil membuat Jaemin berteriak dan menendang pinggang Jeno.
"SAKIT! KUMOHON, LEPASKAN AKU, PLEASE, JENO!"
Bagaikan omongan tak penting, Jeno mengabaikannya, ia memasukkan penisnya dengan sekali dorongan cepat hingga berhasil masuk seluruhnya ke dalam lubang anal Jaemin yang kini memerah.
"ARRGGHHHH!!!"
Lubangnya melebar diluar kapasitasnya. Jaemin adalah alpha, lubangnya tidak elastis seperti omega, atau belum.
Tanpa ampun, Jeno mulai menggerakkan penis keluar masuk lubang rapat Jaemin, mengabaikan pria di bawahnya yang sedang menangis keras.
Jaemin pasrah, tenaganya sudah habis terkuras, pikirannya mulai berkabut dengan aroma kuat yang keluar dari tubuh Jeno, tubuhnya bergetar hebat.
"Ngghh.. ah!" desahannya keluar saat penis Jeno menabrak prostatnya kencang.
Jeno menurunkan tubuhnya untuk kembali menghisap puting Jaemin, hentakan pinggangnya semakin kencang, membuat Jaemin kalang kabut mendapatkan stimulasi dimana-mana.
Jaemin melempar kepalanya ke belakang saat satu tangan Jeno meraih lehernya dan mengelus scent glands miliknya. Kedua kakinya yag bergetar hebat secara tidak sadar melingkari tubuh Jeno, membuat penisnya masuk semakin dalam.
"Ah ah... Jen--"
Jeno membawa kedua kaki Jaemin naik ke pundaknya dan menahannya di sana, ia bawa kepalanya menunduk, menonton bagaimana penis besarnya keluar masuk lubang sempit itu yang kini mulai mengeluarkan cairan secara alami, membuat Jeno tersenyum bangga.
Jaemin menggeleng-gelengkan kepalanya saat rasa aneh mulai muncul di perut bagian bawahnya, ia hampir sampai, dan Jaemin mencoba menahannya, tidak mau membuat pria di atasnya merasa menang. Namun sayang, hal itu malah membuatnya semakin mengetatkan lubangnya, membuat Jeno menggeram hebat saat merasakan penisnya dijepit oleh lubang Jaemin.
Jeno turunkan kedua kaki Jaemin dan ia tahan di kedua sisi tubuhnya. Prostat Jaemin kembali menjadi incarannya, ia tubruk secara terus menerus yang akhirnya membuat Jaemin tidak dapat menahan pelepasan pertamanya. Keluar cairan putih dari penisnya yang sedari tadi tidak tersentuh, he came untouched, and as an alpha, it hurts his pride.
"AHH!! Stop! Udah, aku mohon!"
Prostatnya terus disentuh oleh ujung penis Jeno dengan kencang, membuat pelepasannya tak berhenti. Cairan bening mulai ikut keluar dari penisnya. Jaemin squirted.
Penis Jeno dijepit kuat oleh lubang Jaemin, pelepasannya sudah sangat dekat. Jeno menciumi scent glands Jaemin, menjilatinya.
"Ahh... nghhhh!! What are---ahh!"
Jaemin kembali kalang kabut saat merasakan penis Jeno membesar di dalam lubangnya. Knot Jeno mulai muncul untuk mengunci pergerakannya.
Jeno meraih botol bening yang sebelumnya ia letakan tak jauh dari kepala Jaemin. Pinggangnya masih terus bergerak tak masuk akal cepatnya, tangannya membuka tutup botol itu, dan mulutnya kembali sibuk menghisap scent glands pria di bawahnya.
Saat knotnya sudah bengkak secara sempurna dan penisnya mulai mengeluarkan sperma ke dalam tubuh Jaemin, Jeno menggigit scent glands jaemin dengan taringnya sedalam mungkin, membuat Jaemin di bawahnya berteriak kencang dengan tubuh bergetar tanpa ampun, merasakan tubuhnya dipermainkan oleh pria besar di atasnya, oleh Jeno, oleh alphanya, oleh enigmanya.
Pikiran Jaemin yang sudah berkabut membawanya kembali ke kehidupannya di kota bersama teman dekatnya--Haechan. Kehidupannya yang normal sebagai alpha. Bukannya seperti ini, tergeletak pasrah di bawah kukungan seorang enigma yang menyutubuhi dan mengclaimnya sebagai miliknya.
Jeno menjilat spot di leher Jaemin yang sudah ia gigit tadi, tangan kirinya menahan dagu Jaemin untuk ia buku mulutnya pasrah dan sebelum Jaemin dapat memberontak, Jeno masukkan ujung botol bening berisi cairan aneh itu ke dalam mulut Jaemin, memaksa pria itu untuk menelan cairan itu hingga habis.
Jaemin tersedak, tak dapat menolak saat cairan hijau dengan rasa pahit itu masuk ke mengalir ke dalam tubuhnya. Saat sudah habis, Jeno melempar botol itu sembarangan, membuka ikatan tali di tangan Jaemin, memutar tubuh mereka menjadi Jeno yang di bawah dengan Jaemin tengkurap di atasnya dengan lubangnya yang masih tersumpal oleh penis Jeno dengan knotnya yang masih bengkak.
Jaemin menangis, ia merasakan tangan Jeno mengelus punggung telanjangnya yang sudah tidak terhalang dress putih yang sebelumnya ia kenakan. Jaemin tak dapat berbuat apa-apa sekarang. Hanya enigma yang dapat merubah seorang alpha menjadi omega, dan Jaemin tahu betul cairan apa yang tadi Jeno paksakan untuk ia minum. Hanya tinggal menunggu jam, dan tubuhnya akan berubah.
"You are mine now, Jaemin. You are my omega."
