Chapter Text
“Kamu nggak mau pakai baju dulu?”
Pertanyaan Soobin mendapatkan gelengan. Soobin mendengus, seharusnya dia yang menggeleng karena sudah dua puluh menit yang lalu mereka selesai bercinta, Yeonjun—pacarnya tidak punya keinginan sama sekali untuk sekedar bersih-bersih dan… berpakaian. Tubuhnya polos di atas kasur sambil sesekali tertawa dengan hape di tangannya, enggan memakai selimut karena gerah. “Aku pengen lagi…,” setengah merengek tiba-tiba merangkak mendekati Soobin yang sudah bersih, bersandar di headboard sebelah Yeonjun dengan kacamata bertengger karena harus membaca jurnal untuk tugas kuliah. Seperti tidak peduli, dia ambil laptop Soobin dan taruh pelan di kasur agar perhatian Soobin teralihkan pada dia sepenuhnya, lalu menyamankan diri pada pangkuan Soobin dan mengalungkan lengan di lehernya. “Papa… di bawah situ, basah lagi…”
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
“Foxie… nakal sekali, shh… ah! Ah! Ketat Foxie…” Soobin hanya bisa mendesah ketika Yeonjun menaiki penisnya yang mudah tegang, apalagi jika dihadapkan pada Yeonjun dengan vagina kelaparan yang basah dan selalu minta dipuaskan. Tubuh Yeonjun melonjak naik dan turun seirama gerakan pinggul Soobin yang membantu Yeonjun agar segera orgasme, tangannya meremas dada Yeonjun yang sangat dia suka, berisi dengan puting kecoklatan bengkak karena terlalu sering dia pilin dan hisap. “Papa… cepat lagi papa, Foxie… uh, hm—ahh!! mmph!! Ah—uh!!” Soobin menggila, kata-kata Yeonjun adalah sihir yang mengalirkan kenikmatan lain untuk seluruh tubuhnya. Deru nafas mereka bersahutan, kacamata Soobin berembun dan buram, membuatnya mustahil ketika ingin melihat wajah Yeonjun lebih jelas. Yeonjun dengan keras melarang Soobin melepas kacamatanya, karena dia bilang jika kacamata Soobin adalah manusia maka mereka akan bercinta bertiga.
“Papa… i swear to God! Lain kali kita harus ngeseks di perpustakaan atau, mmhh—ahh!! Hnnggh… shh, kacamata kamu, aku… oh God.” Soobin tersenyum miring, mempercepat tempo pinggulnya pada kemaluan Yeonjun hingga bunyi basah yang cabul menggema di seluruh ruangan kamar Soobin. Nakal, Foxie nya memang nakal. Pernah suatu ketika Soobin merasa bosan di kelas dan Yeonjun terburu-buru mengajak untuk ke kamar mandi, dengan cepat menelanjangi setengah tubuhnya untuk menduduki penis Soobin, lalu kembali ke kelas untuk mata kuliah 2 sks seperti tidak terjadi apapun. Dalam waktu kritis seperti itu pijatan vaginanya selalu menguat dan berdenyut hebat, seperti saat ini. Soobin sempat mengira-ngira sendiri di kepalanya bahwa dalam lima kali hentakan lagi Yeonjun akan orgasme hebat lalu pipis karena overstimulasi, lalu berakhir dengan kegiatan mencuci sprei pada sore hari.
Melihat Yeonjun dengan puncak kenikmatan yang hampir dekat selalu terasa menyenangkan, dia tidak akan memikirkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Saat ini, tangannya yang sedari tadi diam berpegang ke bahu Soobin sudah ribut menarik kasar putingnya dan menggosok klitoris yang menyembul dari bibir kemaluan. “Papa, uhh… shhh, ah—hah! mmph, dikit lagi… aku… aku mau pipis, aku nanti cuci sprei enggak pap—ahh!!!” Muncrat, orgasme Yeonjun sering sekali diiringi dengan air seni yang mengalir membasahi kemaluan mereka yang masih menyatu.
Peluh membasahi keduanya, Soobin baru saja orgasme setelah menambah delapan kali hentakan hingga Yeonjun menggelinjang kegelian. Walaupun begitu vaginanya tetap menjepit dengan erat seolah siap untuk orgasme lagi. Sekarang Yeonjun terkulai lemas dengan kepala bersandar ke bahu Soobin, “papa… gimana kalau, kita coba itu… apa namanya, yang kaya di Fifty Shades of Grey, bdsm ya?” Mata Soobin membulat, bertanya-tanya ide apalagi yang akan muncul dalam kepala mungil kekasih kecilnya yang lucu. “Aku nggak tau kamu… into that kind of things.” Soobin berucap jujur, sepanjang dia hidup tidak pernah terpikir sama sekali untuk bercinta dengan salah satu anggota tubuh terikat atau mata tertutup, Soobin kira dia tipe vanila selamanya.
“Tapi sayang, aku nggak yakin apa kita bakal masuk beneran ke tingkat itu—bdsm. I mean… sebatas yang aku tahu… itu kompleks banget. Itu bukan hanya kita seks terus kamu ngerasa enak dari kita main pakai rasa sakit, tapi juga gimana kamu percaya ke aku sebagai yang mendominasi tubuh kamu, kesepakatan tentang apa aja yang boleh dan enggak boleh aku lakukan dan batas-batas apa aja dari kamu yang beneran nggak boleh aku langgar. Hm… lalu ada safeword, lainnya aku lupa. Masih seperti ini tapi bahkan udah kedengeran kompleks banget, kan? Ingetin aku buat cari di jurnal.” Soobin melihat Yeonjun dengan wajah cemberut yang manja, meletakkan wajahnya pada perpotongan leher Soobin dan menggerutu pelan karena merasa seharusnya tidak perlu diberi kuliah setelah selesai bercinta.
“Iya… iya, papa. Nggak perlu bawa-bawa mau cari di jurnal mentang-mentang kamu pakai kacamata. Aku udah beli, papa… kita tinggal coba aja.” Soobin menghela nafas lemah, tidak yakin apakah Yeonjun benar-benar meminta persetujuan atau sekedar memberi tau, “terserah kamu Foxie, aku nggak keberatan selama ngelakuinnya sama kamu. Mungkin aku bakal suka juga, kalau nggak dicoba nggak bakal tau kan?” Soobin mengedipkan satu matanya, Yeonjum tersenyum riang. Maka Soobin membelai pipi Yeonjun dan membawanya menuju ciuman basah yang hangat, memagut bibir satu sama lain, bertukar ludah dan usapan hangat di tubuh, membagikan afeksi yang tidak akan pernah habis jika perihal mereka berdua setelah bercinta.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
“Kapan kamu beli, Foxie? Aku enggak pernah lihat kamu cari-cari tentang itu… atau seenggaknya bicara ke aku, tiba-tiba kamu bilang kalau kamu udah beli.” Yeonjun menyendok makanannya dengan kaku, pertanyaan Soobin terdengar biasa tapi sejujurnya membuat gugup. Soobin tidak marah, tidak ada konotasi apapun dari nada bicaranya, bahkan Soobin sedang mengunyah sepiring nasi goreng buatan Yeonjun yang selesai dibuat sepuluh menit lalu. “Maaf, awalnya aku cuma iseng lihat-lihat… tapi, mereka kaya bilang ke aku kalo harus beli dan cobain mereka.” Yeonjun tersenyum konyol, menampakkan cengiran lucu dengan tatapan sedikit merasa bersalah. “Mereka? Siapa mereka?” Yeonjun menghela nafas panjang, semoga Soobin tidak berubah pikiran setelah mendengar dan mengetahui benda-benda apa saja yang telah dia beli.
“Nipple and clit clamps, massage candle, feather tickler, spanking paddle.” Yeonjun tidak berani melihat ke arah Soobin walaupun telah mengatakannya seperti orang pemberani, agaknya—takut dihukum. “Wow, aku kira bakal lebih banyak lagi kaya… blindfold, handcuff, jujur itu agak sedikit untuk ukuran kamu… Foxie.” Soobin tersenyum lembut, seolah dapat membaca rasa gugup Yeonjun dan menyampaikan bahwa semua baik-baik saja. “Kalau itu bisa pakai dasi kamu aja, papa. Dasi kamu, ada bau kamu juga di situ. Kamu pastinya tau kalau aku suka sentuh-sentuh sendiri pake barang punyamu, rasanya kaya selalu ada kamu di sekitarku… papa. ” Yeonjun tersenyum miring, sejujurnya Yeonjun tau kalau Soobin duluan yang suka dengan hal seperti itu, bagaimana penisnya selalu cepat mengacung ketika Yeonjun membisikkan ‘papa, papa’ bahkan saat memberikan rangsangan yang terbilang ringan. Soobin suka dengan panggilan papa yang membuatnya memiliki kuasa atas tubuh Yeonjun yang tidak berdaya, dan Yeonjun sendiri tidak keberatan atas itu semua.
“Kita nggak lagi di kasur, sayang. Kamu bisa lepas panggilan itu… tapi kalau masih mau kamu pakai, terserah. I’ll leave it up to you…,” denial, Yeonjun tau Soobin suka, sepertinya Soobin hanya takut kalau-kalau sebentar lagi harus menata ulang kasur hanya karena panggilan papa, atau harusnya mereka lakukan di bawah saja atau bahkan di meja belajarnya. “Nggak fair… kamu panggil aku Foxie, tapi aku nggak boleh panggil kamu papa?” pura-pura kesal, alisnya mengkerut dengan bibir mencebik yang mendapat kecupan dari Soobin, “kurang…” maka Soobin meninggalkan piringnya untuk membujuk rubah kecil yang sedang kesal supaya tidak menjadi lebih imut karena pura-pura marah tentang nama panggilan.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
“Besok hari terakhir ujian ya, kabar baik. Kabar baik lainnya paket mainan yang ku pesan bakal datang, hehe.” Yeonjun bergelung selimut sambil memeluk Soobin, menyamankan tubuhnya di dekapan Soobin yang hangat, kali ini dengan memakai pakaian. Pekan ujian akhir selesai, waktunya libur beberapa bulan dan bercinta tanpa henti. Yeonjun suka berpikir apakah mereka mengalami kelainan hormon yang memiliki korelasi dengan hasrat seksual, terutama Yeonjun yang tidak akan tahan tanpa sentuhan Soobin, karena Soobin sungguh… panas.
“Kabar baik lainnya, kalau sekarang juga kamu jawab Iya… aku bakal bilang ke mama kalo kita pinjem vila beberapa hari buat liburan.” Mata Yeonjun membulat, menatap tidak percaya ke Soobin yang tersenyum ringan sambil mengelus punggungnya pelan. Yeonjun pernah ke sana, vila mama Soobin yang bangunannya sederhana dan classy, ditambah dengan pemandangan laut, vila tepi pantai yang dia idam-idamkan sejak pertama kali melihatnya.
“Soobin… kamu… gimana bisa aku tolak?! Kamu gila.” Yeonjun membawa bibir Soobin pada ciuman yang dalam sebagai wujud bahagia yang dia rasa. “Soobin sayangku, aku nggak tau apa aku beneran deserve kamu perlakukan kaya gini.” Bibirnya mencebik, kepalanya bersandar ke dada Soobin, mendengarkan suara jantung mereka yang berdetak seirama. Ingatannya samar-samar kembali ke beberapa tahun lalu saat awal mereka saling mengenal, tidak terasa bahwa telah banyak hal yang mereka lalui sampai berhasil masuk ke titik ini.
Soobin hanya tertawa pelan, membungkam bibir Yeonjun dengan ciuman lembut yang dia suka berikan ketika Yeonjun sedang merajuk atau minta perhatian. “Foxie… kamu deserve semua hal yang aku kasih ke kamu. Aku cinta sekali sama kamu Foxie… banyak dan besar sekali.” Yeonjun terkekeh, mengusap rambut Soobin dengan jemarinya sebelum mendaratkan sebuah kecupan di dahi dan bersiap untuk tidur. “Kita berangkat setelah submit tugas oke? Kita stay di sana selama yang kamu mau.” Malam itu Yeonjun bermimpi, Soobin menciumnya di hamparan pasir pantai halus dengan suara ombak dari kejauhan yang membelai telinganya, sementara angin sibuk meniup rambut mereka berdua yang sedang bermain asmara.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
Pekan uas itu waktu yang menjemukan, tidak ada kelas dan satu minggu penuh berisi bagaimana cara menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Yeonjun adalah langganan merengek dan demam, kadang akan menangis lirih karena frustasi tentang artikel yang harusnya bisa dikumpulkan tapi harus masuk ke tahap revisi. Pekan uas memang ganas, bahkan Soobin yang notabenenya tenang akan sesekali menggerutu karena matanya lelah namun deadline sebentar lagi tiba, belum lagi mata kuliah lain yang memiliki tugas lebih dari satu jumlahnya. Maka saat minggu yang menyebalkan itu perlahan berlalu, mereka seperti punya cara masing-masing sebagai ucapan perpisahan yang menyenangkan, salah satunya dengan liburan ke vila dan mencoba mainan baru yang sedari pagi sudah Soobin dengar Yeonjun sibuk mengoceh tentang hal itu.
Mereka berangkat jam satu siang dengan mobil papa Soobin, bermodalkan janji bahwa prestasi kumulatif dia semester ini akan tetap tinggi seperti semester-semester sebelumnya. Soobin berpikir tentang hal apa yang akan Yeonjun lakukan kali ini di mobil karena sekarang dia lihat pacar kecilnya itu sedang memandangi jendela dengan senyum tipis membingkai bibirnya yang manis, iya… rasa lip product Yeonjun hari ini rasa coklat, Soobin sudah mencicipi bibirnya tadi sebelum berangkat. Terakhir kali mereka naik mobil hanya berdua, Soobin harus menepi karena Yeonjun tiba-tiba ingin menghisap dan menduduki penisnya. Di perjalanan lain sebelum itu, Soobin terpaksa menepi lagi di tempat yang aman karena Yeonjun bilang putingnya gatal dan Soobin harus menyusu untuk membantunya menghilangkan rasa tidak nyaman yang Soobin tau hanya sebuah kebohongan untuk mengusir rasa bosan. Soobin tidak pernah keberatan, dia tidak pernah keberatan untuk bermain gairah dengan Foxie miliknya yang cantik, bahkan Soobin selalu mendamba Yeonjun dalam setiap mimpi indah dan basah yang dia alami, benar-benar hanya Yeonjun yang dia hasrati.
Mereka tidak membawa bekal makanan sama sekali. Soobin sendiri tidak tau apa yang merasukinya, dalam kepalanya seperti hanya merencanakan sebuah pesta seks yang akan dia dan Yeonjun lakukan dengan bebas, di manapun yang mereka berdua inginkan. Mungkin tema kali ini adalah menguak sisi dirinya yang selama ini tidak diketahui, mungkin sisi lain Soobin sebenarnya sangat berpengalaman mencari kenikmatan dan pandai bermain rasa sakit hingga kesenangan.
“Aku horny papa… celana dalamku rasanya udah basah.” Suara lirih Yeonjun memecah keheningan, semuanya tepat seperti yang sudah Soobin perkirakan. Yeonjun menatapnya dengan gelisah, merapatkan pahanya dengan frustasi. Bukan pertama kali Soobin menghadapi Yeonjun seperti ini, maka dia masih dengan tenang mengemudi, mengira-ngira berapa lama sampai mereka tiba di rest area berikutnya. “Foxie mau apa? Kayanya kita harus tunda dulu karena rest area masih jauh, Foxie okay?” Dari sudut mata, Soobin bisa melihat gelengan pelan Yeonjun dengan pipi menggembung tidak suka. “Foxie mau di mobil saja, papa… papa mainkan jari, di sini…” sial, jari Soobin dia arahkan ke celananya yang sudah basah karena cairan kemaluan Yeonjun seperti tumpah.
“Foxie… let me take care of you, tapi di sini enggak proper sayang. Gimana kalau Foxie nggak nyaman, hm?” Matanya tidak teralihkan, masih tertuju sepenuhnya ke jalan namun jarinya bergerak membelai vagina Yeonjun dari luar celana. “Mau di sini papa… aku… aku bisa, Foxie bisa, ada papa yang bantu Foxie.” Soobin tersenyum, dia suruh Yeonjun menelanjangi dirinya sendiri, lalu duduk dengan paha terbuka lebar sehingga jari Soobin bisa lebih mudah memasukinya. “Papa akan bantu Foxie.” Maka dia langsung masukkan dua jari ke liang kemaluan Yeonjun dan membuat gerakan maju mundur bertempo sedang yang stabil. Matanya tidak bisa melihat Yeonjun sama sekali karena harus terus mengemudi, namun sekilas dia lihat Yeonjun sedang mengulum jari dan memilin putingnya sendiri. Menjadi kekasih Yeonjun berarti harus bisa melakukan dua hal dalam waktu yang bersamaan, harus pintar-pintar membagi waktu dan prioritas contohnya seperti sekarang, tangan kanan dan pandangannya penuh atensi ke jalan sementara tangan kirinya sibuk bermain kemaluan. Pemandangan erotis yang tidak akan dia bagi ke siapapun, walau sekarang sangat mudah bagi orang lain untuk melihat Yeonjun dari balik kaca mobil, melihat Yeonjun yang tidak punya rasa malu dan telah terganti dengan keinginan kuat untuk mendapat rangsangan yang dia inginkan.
“Pap—ah… ah! hah—ah!! Shh, mhhmp… uh, shh…” Setelah mendengar desahan dan suara cabul yang tercipta dari kemaluan Yeonjun, Soobin menarik jarinya untuk fokus menstimulasi area klitoris, area sensitif yang sangat Yeonjun senangi hingga saat disentuh sedikit saja sudah membuat dia meringis. Ternyata tidak ada rest area lagi dan mereka hampir sampai ke pantai vila mama Soobin, namun sebelum sampai, Soobin punya target untuk membuat Yeonjun orgasme pertama di hari itu, maka dia mempercepat gesekan jari di klitoris Yeonjun hingga menjepit organ kecil itu di antara jari telunjuk dan jari tengah hingga Yeonjun memekik kecil.
“A—ah!! Papa, enak pap—ahh, shh… ah! Ah! Lagi papa, lag–ihhh…,” panggilan ‘papa’ dari Yeonjun selalu berhasil membuatnya berdebar, wajahnya seketika panas dengan telinga memerah dan gerakan tangan semakin brutal mengacaukan kemaluan Yeonjun. “Papa… apa Foxie boleh ahh… k–kotori mobil, hmm… uh, shh… ah—ahhh… papa?” Foxie kecilnya yang pintar meminta persetujuan sebelum pelepasannya mengenai mobil Soobin, tidak ada yang membuat Soobin lebih bergairah selain menjadi pemegang kendali atas tubuh yang bahkan bukan miliknya. “Pretty princess… sure, papa bakal bersihkan. Kamu cuma perlu orgasme dengan cantik, cum… cum for papa…,” maka setelah mendapat permisi, seiring dengan gerakan tangan Soobin yang semakin cepat dan berantakan, Yeonjun orgasme, air seninya muncrat ke kursi sampai ke dashboard dan tangan Soobin. Bertepatan dengan itu, keduanya sudah sampai di parkiran dekat vila yang mereka tuju.
Dengan nafas terengah-engah, Yeonjun berusaha menggali sisa kewarasannya yang menghilang. Soobin memarkirkan mobil dengan hati-hati, lalu menepuk kemaluan Yeonjun beberapa kali karena sangat menggemaskan. Targetnya selesai, orgasme pertama Yeonjun. Selanjutnya adalah tentang mainan-mainan itu, yang dia yakin akan membawa keduanya terutama Yeonjun tidak cukup dengan orgasme kedua, Yeonjun akan terus orgasme entah sampai orgasme keberapa.
-to be continued.
