Actions

Work Header

Casablanca Sweetheart (Literally)

Summary:

“You silly.” Cibir Wooyoung, senyum tipis terpatri di wajahnya menyadari gelagat San yang memang terkadang memujanya tiba-tiba, seolah Wooyoung adalah Aphrodita dalam raga pria.

“For you? Been forever.”

Notes:

aku tulis ini waktu ateez lagi di casablanca tahun 2022 wkwk

Work Text:

Jika kau bertanya pada San bagaimana sarafnya akan menguraikan rasa kala indranya merengkuh Wooyoung, ada banyak hal yang bisa ia alegorikan.

Kekasih kecilnya itu secara umum terasa seperti lemonade segar yang didambakan oleh dahaga setelah sepanjang hari yang sibuk di bawah terik mentari. Menenggaknya tak begitu membantu haus, tetapi dengan cara yang menyenangkan, enggan berhenti, seperti rasa yang tak akan pernah cukup di lidah. Elusif yang menyenangkan.

Mengamati Wooyoung terasa seperti menyelami lanskap ibu bumi. Terkadang memerangkap San dengan rasa seolah dirinya dipeluk oleh lekuk-lekuk Grand Canyon yang agung nan gagah. Lain waktu, membuatnya seolah dihipnotis oleh terjangan lembut ombak yang disiram oleh jingganya mentari, kala petang di pantai Harbour yang merah muda. Ia kemilau yang menawan indah. Lalu, kadang membuatnya merasa diperangkap oleh syahdanya jatuh air terjun dari tebing-tebing tinggi di gua bawah tanah Trummelbach. Wooyoung adalah wujud raga dari ekshibisi sugestif yang memikat setiap jiwa.

Dan San terkadangsedikit banyakgila karenanya. Sebab kegilaan itulah terkadang nalarnya korslet sendiri kala rasa puja atas Wooyoung menyerang akal sehatnya tanpa ampun. Seluruh indranya seolah berteriak ingin Wooyoung. Dari sekadar genggaman sejenak atau sedikit sentuhan pada Wooyoung, hingga untuk memeluk atau membawa pria kecil itu hilang bersamanya di tengah-tengah nirwana. Jika perasaan itu mendobrakkan buncahan tak sabarnya kala mereka tengah diamati langsung oleh jutaan mata dunia, San akan bersabar untuk sekadar tepukan di pundak, atau rangkulan singkat. Terserah yang mana saja, apa pun yang dunia izinkan untuk ia lakukan saat itu juga pada Wooyoung.

Sulit bagi San untuk menjaga akal sehatnya agar tak lepas jika itu tentang Wooyoung.

Jadi, ketika matanya menangkap Wooyoungdengan kaos longgar tipis yang hanya mampu menutup tubuh atasnya dengan baik, kakinya yang padat dengan otot tampak telanjangtengah duduk meringkuk, terlihat tenggelam di single sofa di dekat jendela yang kacanya terbuka, ia tak bisa tak terpesona bahkan ketika ini tampak sederhana dan biasa di mata orang lain. Ia menolak sependapat dengan orang lain saat sepoi angin Atlanta bermain di rambut Wooyoung, meniup surai itu lembut seolah menyepakati San bahwa indahnya layak dipuja.

Kecilnya yang indah memikat itu terlalu tenggelam oleh ponsel di tangannya. Tak menyadari San telah usai dari urusan toiletnya, kini sibuk terpaku kesekian kalinya. Dunia sedang tak berpusat pada mereka, maka tak ada alasan bagi San untuk tak merelakan diri, jatuh pada stase memuja pada pemuda yang hanya berjarak beberapa meter di hadapannya, dunianya.

Lalu San memangkas jarak, melangkah dengan pelan seolah akan berdosalah ia jika mengganggu dewa kecantikan yang sedang terdiam menikmati waktunya, memberkati San dengan mengizinkan dirinya menikmati sosoknya yang tengah diam.

Usahanya berhasil hingga ia akhirnya duduk di lantai di hadapan Wooyoung. Menyilangkan kakinya dengan nyaman, menyadarkan pria itu akan kehadiran San.

Oh? Udah mandinya? Mau balik ke kamarmu?

San menggeleng. Masih bertahan dengan tatap penuh pujanya pada Wooyoung. Sedang yang dipandang hanya bertingkah biasa, itu pikirnya, tidak tahu saja pemuda di hadapannya sedang tergila-gila.

Terus ngapain duduk di bawah?” Wooyoung kembali memusatkan perhatiannya pada entah tayangan apa di ponselnya. Tak begitu memerhatikan bahwa San hanya diam saja. Pun membiarkan saja saat satu tangannya diraih oleh yang lebih tua dengan lembut. Atensinya baru pecah saat dirasanya punggung tangannya itu dikecup seseorang. Dikecup dengan lembut oleh San dengan mata terpejam.

Wooyoung mengerjap sedikit kebingungan. Sesuatu barulah terpetik di kepalanya saat mata San terbuka, kembali menatapnya dengan mata memuja itu sembari menahan telapak tangan Wooyoung di pipinya, sesekali membauinya.

You silly.” Cibir Wooyoung, senyum tipis terpatri di wajahnya menyadari gelagat San yang memang terkadang memujanya tiba-tiba, seolah Wooyoung adalah Aphrodita dalam raga pria.

For youBeen forever.” Sanggah San dengan senyum lembut yang menurut Wooyoung tampak bodoh sebab ini hanya dirinya. Wooyoung memutar bola matanya dengan malas. Here his man, San, the sweet talker.

Bohong jika Wooyoung tak senang. Tetapi ia juga kadang terbingung, sebab ia hanya Jung Wooyoung. Wooyoung tahu persis ia memang rupawan, tapi masih tidak begitu paham mengapa pemuda Namhae ini memujanya mendekati gila.

Enggan mendebati prianya, Wooyoung berujar, “Duduknya di sini aja. Aku mau dipangku.

San, yang masih bertelanjang dada serta hanya bermodal handuk yang menutupi daerah privasinya, merasa tak perlu repot-repot memakai baju terlebih dahulu yang sejatinya hanya berjarak beberapa langkah dari sana, tergeletak sia-sia di atas kasur. Sebab pinta Wooyoung adalah yang utama.

Kamar hotel ini temaram oleh pencahayaan yang memang disengaja demikian. Tetapi cahaya gedung-gedung tinggi kota yang terbias jatuh pada Wooyoung, pada kulit tubuhnya yang nampak, pada wajahnya yang indah tanpa usaha, membuat San mau tak mau mengalah pada kegilaan perasannya.

Ia berbisik rendah dengan netra yang tak putus mengamati Wooyoung yang kini terduduk di pangkuannya, “Pretty peach, may I kiss you?”

Detik berlalu kala Wooyoung dengan jenaka di wajahnya, memasang raut menimbang-nimbang. Tak masalah, San sedang menikmati, mematri lebih banyak ekspresi wajah Wooyoung di kepalanya. Mencium Wooyoung hanyalah salah satu dari banyak bentuk bonusnya, memuja dan menyayangi keindahan pria ini adalah tugas mutlaknya.

San bahkan telah lupa pada permintaannya sendiriterlalu sibuk memuaskan pandang dan seluruh sel di sarafnya akan keindahan Wooyoungkala ranum tebal yang lembut itu menjumpai bibirnya. Singkat saja. Hanya sebuah kecupan lembut yang menyapa ranumnya sebentar.

There. A kiss. Mau dapat apa lagi?” Tanya Wooyoung jenaka. Bibirnya mengukir tipis senyum miring yang terasa seperti madu yang memabukkan di kepala San.

Cium lagi, boleh? Aku yang cium.” Lirih San bertanya. Tangan kirinya melepaskan diri dari tautan lengannya yang merangkul pinggang Wooyoungmenjaga sosok itu aman di pangkuannyademi bergerak menyisipkan helai rambut Wooyoung ke belakang telinga pria kecil itu.

Air muka Wooyoung nampak menimbang kembali, tangannya bergerak mengalungkan diri pada leher San, “Hmm ... Abis ituwhat do I get after?” Dua bola cemerlangnya menatap San selayaknya orang yang benar-benar tengah berniaga.

“Emang mau apa?” San balik bertanya, membawa tangan kirinya bertaut kembali merangkul pinggang ramping Wooyoung dengan tenang.

Gendong! Cari jajan! Mau jalan-jalan sebentar.” Serunya dengan senyum manis yang mustahil San tolak. Oh, ayolah. Tanpa senyum itu sekalipun San akan rela-rela saja menggendong Wooyoung ke manapun hatinya ingin.

Diliatin orang nggak papa?” Ia hanya perlu memastikan Wooyoung nyaman terlebih dahulu.

Nggak masalah! ‘Kan bukan di Korea.

Jawaban riang itu San anggap cukup sebagai bentuk bulat keinginan Wooyoung, dan ia hanya perlu menurutinya. “Alright, anything, Peach, anything.”

Dengan itu, San tak lagi membuang waktunya. Dijumpainya bibir Wooyoung dengan kecupan pelan yang ditahan beberapa detik. San ingin merasakan Wooyoung sebaik mungkin. Matanya ikut memejam perlahan kala kelopak Wooyoung mulai menutup. Mengecap rasa ranum Wooyoung pada bibirnya yang mulai ia sesap dengan lembut.

Wooyoung selalu terasa seperti jeli paling kenyal yang menyenangkan di bibirnya. Seperti hangat pai manis yang ia nikmati saat salju pertama. San melumat bibir itu selembut yang rasa cintanya bisa. Sebab perasaan itu meluap-luap, sebisa mungkin ia salurkan dengan tenang, inginnya Wooyoung merasakan betapa lembut kasihnya terhadap lelaki kecil itu.

Saat Wooyoung menjilati bibirnya, dengan sukacita ia loloskan lidah menjumpai kenyal lidah Wooyoung. Ia dapat merasakan jejak susu manis yang masih terasa di sana. San yakin bekas dari susu pisang yang tadi diminum kekasihnya. San menyukai hal-hal yang manis. Dan mencumbu Wooyoung dengan rasa manis susu pisang di lidahnya adalah bentuk adiksi barunya kini. Lidahnya berdansa merasai Wooyoung. Ia mendamba rasa itu melekat di bibir dan lidahnya, selamanya jika berdasarkan ingin San. Tetapi, kekasihnya yang terengah membutuhkan napas mau tak mau membuatnya menarik diri.

Hanya saja San termakan adiksi.

Cumbuannya beralih menggerilya di sepanjang rahang tegas Wooyoung. Lidahnya menari hingga ke leher jenjang yang selalu ia puja. Aroma black orchid yang telah merasuki indra penciumannya sedari tadi kini terasa membanjiri seluruh sarafnya. Eksotis yang menyiksa nalar San.

Desahan dan lenguhan tertahan yang terputus-putus dari ranum kekasihnya bergema di kepala San. Suara indah yang seolah menuntun hasratnya untuk mencumbu tubuh di pangkuannya lebih jauh. Remasan Wooyoung pada helai rambutnya turut memacu nafsu dalam diri San untuk bertahta sesuka hati. Didikte nafsu, ia mulai menggerayangi Wooyoung, mengangkat baju longgar yang menutupi tubuh tan-nya. Mencumbu kulit halus nan harum itu dengan jilatan dan sesapan basah di sepanjang dadanya.

San tak bisa untuk tak menyusu di dada yang berkilat karena peluh dan saliva di hadapannya. Desahan yang tak henti Wooyoung alunkan juga tak membantu nafsunya agar diam. Maka, kala netranya mendapati Wooyoung yang memandangnya dengan obsidian yang berair karena terangsang, rona menjalar di pipi hingga telinga kala ia mengangguk memberi izin, San tak bisa mendiamkan hasratnya yang meletup-letup karena ingin.

Lidahnya menjamah dada padat berotot di hadapan wajahnya. Menyesap puting merah kecokelatan itu dengan pagutan lembut. Tangannya enggan diam, kanannya mengelus pinggang ramping kekasihnya yang ia rangkul erat, sementara kirinya sibuk meremas dada kiri Wooyoung. Menit yang berlalu menjadi saksi atas lidah San yang menjilati habis seluruh permukaan dada Wooyoung. Dua puting mencuat tegang itu bergantian ia serang dengan hisapan kuat. Menyusu di sana seolah dahaganya hanya akan terpuaskan oleh dada Wooyoung. Gigitan kecilnya menggetarkan tubuh kekasihnya berkali-kali.

Saat salah satu tangan Wooyoung mulai turun melonggarkan kaitan handuk di pinggulnya, San sedikit menarik diri.

Sayang ...” San berbisik di leher Wooyoung, tetap menebar sesapannya di sana-sini, “Itu kalau dilepas, jalan-jalannya kayaknya ditunda dulu?

Wooyoung bergerak meminta jarak. Kedua tangannya mendorong bahu lebar San agar bersandar pada sofa sebelum ia sendiri memperbaiki posisi duduknya. Menduduki San dengan lebih tepat, tepat di atas penis, membuat bongkahan pantat sekalnya menindih benda yang mulai mengeras itu.

Nggak. Tetep jadi,” Pinggul lelaki kecil itu mulai bergerak, menggesekkan dirinya pada penis San, “... Bisa kok. ‘Kan aku digendong.” Riang sekali nada bicaranya. Seolah ia tak sedang membangunkan penis seseorang dengan gesekan bokongnya. Seolah tangannya tidak sedang mengalung pada leher San, menarik pria itu mendekat merapatkan tubuh, “Come, suck me more, Choi San.”

Netra San bergulir, memandang dada di hadapan wajahnya lalu menatap Wooyoung tepat di matanya. Jenaka tipis timbul di wajahnya yang rupawan, “What do I get after, Pretty peach?”

Ia mengembalikan permainan kekasihnya. Mengundang kikikan kecil dari sosok yang setia sibuk memainkan pinggulnya itu.

“Hmm ... I’ll ride you goodWhat do you say, Choi?”

Deal. An angel riding me sounds pretty tempting, a lot.

Dengan itu, wajahnya ia tenggelamkan pada dada Wooyoung. Mencumbu dan menyesap otot-otot di sana yang menegang karena jilatannya. Menghabisi puting memerah yang terasa manis di lidahnya sebab ini Wooyoungnya. Dan nama San bergema bersama desahan, bagai nyanyian penuh dosa yang memenuhi udara kamar mereka. Menari bersama angin sepoi Atlanta dari jendela, turut menjadi saksi peraduan cinta dua anak adam yang bersembunyi dari dunia.