Work Text:
“Maksudnya ‘gimana? Coba kamu jelasin lagi.”
Kamu tersentak tatkala laki-laki di hadapanmu ini menaikkan satu oktaf nada suaranya. Tercetak jelas urat di dahinya menunjukkan amarahnya yang tertahan. Tunggu, kata anak-anak, Mas Nanami ini lagi enggak gigit, kenapa giliran sama kamu ngomongnya tiba-tiba ngegas begini?
“Maksud saya … saya cuma mau Mas Nanami tampil aja buat penjualan produk kita, sih, mas,” balasmu, terlewat pelan.
Begini, begini … di meeting tadi pagi, kamu baru saja mengajukan ide menampilkan muka Pak Bos di konten. Pak Bosnya, ya, Mas Nanami. Iya, siapa lagi kalau bukan beliau. Menurutmu, wujudnya yang bagaikan pahatan dewa-dewa Yunani itu rasanya terbuang sia-sia kalau nggak dimanfaatkan demi kemaslahatan meroketnya engagement. Idenya memang terkesan asal bunyi, tapi selagi itu bekerja, ya, kenapa tidak? Lagian ini, kan, memang tugasmu sebagai social media specialist. Apalagi coba tugasmu kalau bukan berpikir kreatif dan di luar nalar?
Pasalnya, Mas Nanami pagi tadi mood-nya bisa dibilang masih bagus. Jadi, kamu merasa aman saat beliau setuju untuk tampil. Namun, dalam kurun waktu beberapa jam, kestabilan mood-nya hilang bagai gaji kamu yang cuma menumpang lewat itu. Usut punya usut, beliau ini memang lagi tantruman beberapa hari ini. Lho, tapi bukannya Pak Bos ini integritasnya terhadap profesionalisme ini sangat tinggi? Memang, sangat tidak salah. Tetapi, bukankah Mas Nanami ini juga manusia? Betul atau betul?
Manusia, sih, manusia, tapi kenapa tantrumnya ke gue?!
Rumor has it, Mas Nanami ini lagi diuber-uber sama Mamanya untuk segera menikah. Sebenarnya sudah bukan rumor kalau Mamanya sampai datang ke kantor. Kalau Mamanya Pak Bos datang, anak-anak di kantor seketika langsung diam seribu bahasa dan pura-pura sibuk dengan yag mereka kerjakan. Kadang, percakapan di antara keduanya sampai kedengaran satu kantor soal Mamanya yang nekat mau jodohin Si Pak Bos kalau belum menemukan jodoh di penghujung tahun.
Jari-jarimu menggenggam erat tablet. Keringat seketika menjalar dari tubuhmu meskipun ruangan Mas Nanami terbilang dingin. Kamu yakin rasa percaya dirimu yang kamu pamerkan ke teman-teman kerjamu bakal turun drastis kalau kamu buka mulut. Lidahmu kelu kalau lihat tatapan tegas laki-laki berusia 35 tahun ini. Pesonanya memang luar biasa, tapi nasibmu sekarang di antara hidup dan mati.
“Maksud saya, pakai sound TikTok itu, mas …” ujarmu dengan suara setengah bergetar. Nggak, nggak boleh menangis. Masa hanya karena ini penyakit cengengmu itu kumat?
“Sound yang bagaimana—” ucapan Mas Nanami terputus ketika bunyi dering telepon menginterupsi. Kamu mencuri lihat sedikit, ternyata Mamanya lagi. Tangan Mas Nanami memberi gestur menyuruhmu menunggu, sebelum ia beranjak dari kursinya, ke ruangan meeting untuk mengangkat telepon.
Gentleman, sih, gentleman, tapi sekarang kamu terkurung sampai beliau memutuskan kamu bisa keluar dari ruangannya nanti atau tidak. Kamu menghelas napas dan menariknya lagi sekuat tenaga yang kamu punya. Bisa, kamu pasti bisa menggaet bos kamu itu ke dalam konten!
Bunyi pintu yang tertutup membuatmu terperanjat sedikit. Cepat banget teleponnya, ujarmu dalam hati. Demi dewa, kamu betul-betul mau menangis kalau lihat suasana ruangan yang agak mencekam ini.
Mas Nanami kembali ke kursinya. Sorot matanya tidak menunjukkan adanya kelembutan saat ini. Nyalimu menciut untuk menatap balik matanya. Jari telunjuk Mas Nanami mengetuk meja, mengisyaratkanmu untuk duduk di hadapannya. “Duduk dulu. Kamu coba jelasin lagi ke saya.”
Dan mulailah kamu menjelaskan ide-ide kontenmu dengan suara dan jari-jari yang gemetar.
•••
“Enggak sekalian sama sound jedag-jedugnya, Mas?” celetukmu asal selepas pengambilan video konten.
“Enggak,” balas Mas Nanami agak ketus yang membuatmu menahan tawa. Kamu buru-buru menggigit pipi dalammu agar tidak terlihat kalau kamu baru saja mengusili bosmu.
“Ketawa kamu?” tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya di meja dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Tuhan, kalau kamu bisa bayangkan, dunia pun bisa runtuh akibat ketampanan Nanami Kento ini.
Kamu menggelengkan kepala kala melihat wajah cemberut Mas Nanami. “Nggak. Maksud saya, itu … hm … yang sound ‘I’m looking for a finance, trust fund’, kan … bagus, Mas. Bisa lah kita tambah beberapa sound lagi,” kelakarmu sambil menggaruk pipimu yang tidak gatal itu. Duh, jadi, canggung tipis-tipis, ya.
“Boleh, tapi ada syaratnya,” ucap Mas Nanami. Kamu menangkap sudut bibirnya yang terangkat dalam bentuk seringai.
Aduh, mau ngapain beliau satu ini …
“Kalau saya boleh ngomong, ini Mas Nanami enggak memanfaatkan power dynamic di antara kita, kan?” celetukmu.
“Enggak kok. Mana ada saya begitu,” balasnya dengan tawa kecil.
Nah, kan, tadi gerutu, sekarang tawa-tawa …
“Ya … saya enggak tahu Mas Nanami aslinya bagaimana. Maafkan saya, tetapi betul adanya bahwa hubungan kita sebatas profesionalisme saja,” ucapmu mendramatisir dilengkapi dengan kedua tangan yang menyatu depan dada layaknya emoji.
“Drop the act, sweetheart.”
Excuse me? Nani kore?
Matamu mengerjap beberapa kali. Indra pendengaranmu rasanya jadi lebih jernih beberapa kali lipat sampai suara semut jalan saja mungkin bisa kamu dengar. Ini enggak salah dengar atau memang sepertinya kamu yang kesurupan atau memang Pak Bos yang ketempelan?
“Y-ya?” adalah satu kata yang keluar dari mulutmu. Mematung merupakan gestur salah tingkah paling solid jika seorang anak gadis baru saja dipanggil dengan panggilan sayang.
Mas Nanami bangun dan berjalan ke arahmu. Harum parfumnya memenuhi indra penciumanmu kala ia berdiri di samping.
“Saya tanya, sound TikTok mana lagi yang mau kamu coba sama saya?”
Boleh enggak, sih, teriak?
