Chapter Text
Halte pagi itu dipenuhi banyak orang yang mengantri menunggu kedatangan bus yang ingin mereka tumpangi, sebagian besar dari mereka adalah pegawai dan anak sekolah yang akan memulai aktivitasnya. Dikarenakan hujan turun dengan deras sejak subuh tadi, kondisi jalanan kini cukup chaos. Itu menambah rasa lelah Hana yang berbanding terbalik dengan orang-orang ini, dimana dirinya baru akan menutup hari.
Empat ratus dua puluh tiga hari. Total hari yang dihitung Hana sejak menekuni profesi barunya yang tidak bisa diungkapkan dengan bangga kalau ada yang bertanya mengenai apa pekerjaannya sekarang. Hana rasa tak akan ada orang yang bisa menebak masa depan hidup mereka, kecuali dikaruniai kemampuan indra keenam oleh Tuhan. Begitupun dirinya yang dulu adalah seorang mahasiswa berprestasi dan menjadi kesayangan para dosen, tiba-tiba harus menjalani kehidupan malam yang penuh dengan nafsu dan kebingungan.
Semua bermula dari kabar tetangga sebelah rumahnya yang menelponnya di malam naas itu.
"Halo, Hanasta? Lagi dimana ya? Masih di kampus, nak?" terdengar suara perempuan paruh baya yang tidak terlalu jelas karena tersamarkan kegaduhan di belakangnya.
"Eh iya, halo Tante Kristy. Hana masih di kampus, sebentar lagi kelasnya selesai. Gimana, Tante?" jawab Hana sambil beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang kelas karena berasumsi sinyal telponnya jelek.
"Hanasta tolong pulang sekarang ya. Nanti Tante jelaskan kalo kamu sudah sampai disini," kali ini suara Tante Kristy lebih jelas terdengar dan Hana menangkap suatu isyarat darinya.
"Ada apa ya Tante?" Hana tetap berusaha tenang dan mencoba menepis semua prasangka di otaknya.
"Pokoknya Hanasta pulang dulu ya. Hati-hati di jalan," sambungan telpon seketika diputus sepihak dan membuat Hana tanpa berpikir dua kali langsung meminta izin pada dosennya agar dapat pulang saat itu juga dikarenakan ada kepentingan keluarga yang mendesak.
Berjarak dua ratus meter dari rumahnya, Hana bisa melihat kepulan asap hitam membumbung tinggi bersama dengan percikan-percikan api yang terbang ke langit malam yang ikut memerah saat itu. Suara sirene mobil pemadam kebakaran mulai memekakkan telinga, orang-orang panik berlalu-lalang sambil menangis ketakutan, jalanan basah oleh air baik yang mengalir dari selang hydrant maupun yang dibawa dengan ember-ember seadanya oleh para lelaki yang berusaha sekuat tenaga membantu memadamkan api. Hana sempat tercenung memproses segala sesuatunya, tapi sedetik kemudian ia tersadar dan berlari menuju arah rumahnya. Hana tahu, tapi tidak seburuk ini dugaannya. Tidak ketika Tante Kristy melihatnya dan berhambur menangis sambil memeluknya erat.
"Hanasta, yang sabar ya nak. Sabar ya sayang, semuanya udah gak ada. Hanasta yang kuat, ya."
Lewat kalimat itu, Hana tahu bahwa kedua orang tua dan adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun meninggal dunia karena tidak sempat menyelamatkan diri saat api memakan rumah mereka.
Hana hanya bisa terdiam, lemas menyerang kedua kakinya. Terduduk di jalanan basah sambil masih dipeluki oleh tetangga-tetangganya yang mengenal keluarga mereka dan mengalami nasib yang kurang lebih sama dengannya.
Pembawa berita menyampaikan, bahwa kebakaran besar yang terjadi di komplek perumahan menengah ke atas tersebut diakibatkan oleh korsleting listrik di toko furniture yang letaknya hanya berjarak dua rumah dari kediaman keluarga Hanasta. Selain keluarganya, beberapa korban juga datang dari keluarga lain yang berdekatan tinggal dengan toko tersebut.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hidup Hanasta berbalik 180 derajat sejak itu, walaupun Hana berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan bantuan beasiswa, kenyataan bahwa dia tidak memiliki sanak saudara dan tempat tinggal menjadi tantangan besar baginya.
Mulanya Hana bersama beberapa korban kebakaran lain menjadi penghuni di tempat penampungan sementara yang disediakan oleh pemerintah daerah. Setelah satu tahun sejak kebakaran, bantuan untuk mereka perlahan berkurang dan memaksa Hana agar segera mencari pekerjaan lain dengan penghasilan yang lebih menjanjikan, yang memungkinkan dirinya untuk memiliki tempat tinggal sendiri dan memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa bergantung dari donatur.
Saat sedang duduk melamun di taman, sambil menggenggam roti dan susu coklat pemberian pemilik toko tempatnya bekerja sekarang, tiba-tiba seorang wanita cantik yang Hana tahu berusia jauh di atasnya duduk di sebelahnya. Wanita itu mengajaknya bicara basa basi, yang mana Hana ladeni dengan permintaan maaf bahwa roti dan susu di tangannya adalah makanan pertamanya di hari itu. Hana tidak bisa membagi keduanya karena saat ini dia sangat kelaparan.
Penjelasan lugu Hana membuat wanita cantik itu tertawa geli. Hana salah menilainya, tapi ia tidak salah menilai Hana.
"Anak cantik dan baik, ini kartu nama saya. Hubungi segera ya!" ucapnya sambil mengedipkan mata genit.
Wanita itu lalu berpamitan pergi, Hana memandangi kartu nama yang diberikannya lalu menatap punggung sempit berbalut dress warna lilac itu sampai menghilang dari jarak pandangnya.
"Dulu Mama juga secantik itu," gumam Hana sambil menggigit bibir menahan air di pelupuk matanya agar tidak jatuh.
Berselang seminggu dari pertemuan singkat yang sangat aneh itu, Hana memutuskan untuk menghubungi kontak di kartu nama berwarna hitam yang tertera "Mommy Lena" dengan huruf dan angka yang tercetak dengan warna emas, Hana tunggu dengan sabar dering telponnya untuk diangkat.
"Halooooo.... dengan siapa disana?" suara centil seorang laki-laki terdengar di telinga Hana.
"Halo.. bisa bicara dengan Mommy Lena?" ucap Hana dengan sangat sopan.
"Dengan siapa ini?" jawab lawan bicaranya.
"Umm, ini saya dapat kartu nama Mommy Lena waktu saya sedang duduk di taman kota seminggu yang lalu sekitar jam 8 malam. Mungkin bisa disampaikan begitu saja ya, Kak. Karena saya dan wanita yang memberikan kartu nama ini kemarin belum sempat berkenalan," jelas Hana panjang lebar, dia baru sadar belum sempat bertukar nama pada pertemuan pertamanya dengan wanita cantik itu.
"Oh, gitu? Tunggu bentar deh," Hana mendengar suara gagang telpon yang diletakkan, tak berapa lama gagang telpon tersebut kembali diangkat.
"Halo?" Ahhh akhirnya! Ini dia suara yang Hana kenali.
"Halo? Dengan Mommy Lena? Maaf mengganggu, saya yang seminggu lalu ketemu di taman lagi makan roti dan minum susu coklat sekitar jam 8 malam," Hana kembali mengucapkan identitasnya seperti yang dijelaskan ke pria centil sebelumnya.
"Oh my God! Finally kamu telpon juga! Lama juga kamu ya mikir-mikirnya. Udah kita gak usah ngobrol disini. Yuk ketemuan aja di Kafe Nikmat jam 7, malem ini ya. Dandan yang cantik, ok."
Tutt tutt tutt tuttt..
Belum sempat memberikan jawaban, sambungan telpon sudah diputus. Hana menimbang-nimbang, ini mungkin tawaran bagus. Penghasilan bekerja di toko roti tidak bisa mencukupi kebutuhannya untuk menabung uang sewa kontrakan dan lain-lain. Uangnya sejauh ini hanya cukup untuk transportasi dan makan sehari-hari yang juga kadang dia lewatkan demi usahanya untuk menabung.
Berangkat dari toko roti tempatnya bekerja, Hana mengenakan kemeja berbahan katun ringan berwarna baby blue, yang dia padukan dengan celana jeans senada dan sneakers netral yang mulai belel. Rambut coklatnya dia biarkan dengan style berponi tanpa wax. Wajahnya dia poles dengan sedikit moisturizer dan bibir mungilnya terlihat cukup plump dengan lip gloss peach muda.
Di pertemuan itu, Hana tahu. Hana tahu bahwa mulai sekarang hidupnya akan berubah. Hana tahu akan segala konsekuensi dan risiko atas segala bentuk keputusan yang dia ambil. Hana tahu bahwa keputusannya itu adalah hal yang tidak akan bisa dia sesali di masa depan.
Perkenalan dan obrolan panjang bersama Mommy Lena mengantarkan Hana pada sebuah dunia baru. Dunia dimana ada Hana dan para lelaki muda lainnya yang bekerja di bawah naungan Mommy Lena. Mommy Lena menyebut mereka baby boys, karena baginya Hana dan rekan-rekannya itu adalah anak asuh yang harus dia rawat dan jaga sedemikian rupa.
Mommy Lena adalah seorang muncikari yang mengelola tempat prostitusi berskala high class. Bisnis ini sudah dia geluti sejak 29 tahun yang lalu. Tempat usahanya sudah berkembang sangat pesat. Customer di tempat bernama Fly Me to The Moon itu kebanyakan datang dari kalangan pejabat, pengusaha dan orang kaya yang bosan karena hidupnya berjalan dengan sangat datar atau sekedar ingin menghabiskan uang yang sudah mengendap terlalu lama di rekening.
Setelah lima bulan menjalani masa training, kini tibalah waktu untuk Hana resmi debut sebagai baby boy. Perasaannya campur aduk, rasanya ingin berlari dari sini. Tapi itu tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanyalah meneruskan semua usaha dan kerja keras yang sudah dia lewati untuk sampai di titik ini.
Hari itu, Hana diberi informasi mengenai calon pelanggannya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya. Mommy Lena mewanti-wanti Hana, pelanggan mereka kali ini berbeda dari pelanggan lainnya.
Pelanggan itu bernama Matthias. Nama tidak disamarkan, tapi Hana tidak boleh melihat wajahnya. Ini adalah syarat utama yang diajukan olehnya. Mommy Lena memberi guarantee, bahwa Matthias adalah pria matang yang sehat jasmani dan rohani, ini penting karena bagi Mommy Lena semua baby boys-nya adalah aset yang paling berharga. Terutama Hana, si anak baru yang polos dan lucu. Belum pernah tercoreng dengan hal-hal yang menyesatkan. Hana adalah anak yang pintar, memiliki penampilan yang sangat menarik, bahkan suara yang merdu. Mommy Lena seperti kejatuhan durian runtuh waktu Hana menghubunginya tempo hari itu.
Seluruh pelanggan yang tergabung dalam membership club Fly Me to The Moon harus menyerahkan data pribadi beserta bukti pemeriksaan psikologis dan kesehatan fisik paling up to date. Begitupun calon customer mereka, akan mendapatkan dokumen yang sama mengenai baby boy setelah terdaftar sebagai anggota tetap tentunya.
Dari Mommy Lena, Hana tahu bahwa Matthias adalah seorang duda tanpa anak. Usia mereka terpaut 16 tahun, tentu saja Hana adalah yang lebih muda disini. Pernikahan Matthias dengan sang mantan istri adalah pernikahan berkedok bisnis, istrinya tahu bahwa Matthias tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Selain itu, istrinya juga memiliki kekasih yang tidak dapat dia tinggalkan. Jadi, ketika kontrak bisnis mereka selesai maka berakhir pula pernikahan keduanya.
Matthias mendapatkan informasi mengenai club malam Mommy Lena dari salah satu koleganya yang berkoar-koar menjadi loyal member disana. Modal tanya-tanya iseng, akhirnya Matthias mendapatkan kontak Mommy Lena dan mulai mencari informasi mengenai layanan yang disediakan olehnya. Mommy Lena bilang kalau Matthias mengajukan syarat kedua dimana dia hanya ingin dilayani oleh laki-laki yang masih perjaka, suci dan belum pernah disentuh pria mesum manapun. Sebagai satu-satunya anak yang baru bergabung, Hana otomatis menjadi kandidat utamanya. Saat Mommy Lena mengajukan Hana sebagai opsi untuk Matthias, tanpa banyak kata pria tampan itu menerima. Karena hal ini, Mommy Lena sangat mengagung-agungkan Hana. Bayaran untuk syarat yang diajukan Matthias tidaklah sedikit, mengingat ini pertama kalinya seorang pelanggan mengajukan syarat demikian. Tentu saja sebagai pebisnis handal hal yang harus diutamakan adalah timing dan kesempatan, meraup keuntungan sebesar mungkin merupakan hal yang bijaksana dilakukan sebagai pencegahan atas kerugian yang tidak bisa diprediksi. Itulah yang Mommy Lena lakukan.
Pertemuan antara member dan baby boy pilihan member diatur dengan prosedur standar yang sudah disetujui kedua belah pihak. Pertama, pertemuan tidak boleh dilakukan di kediaman pribadi baik milik member maupun baby boy. Kedua, tidak boleh melakukan hubungan seksual yang mengarah pada kekerasan. Dan yang terakhir, dilarang mendokumentasikan apapun.
Malam itu, sesuai permintaan Matthias, akan menjadi malam pertama mereka bertemu. Mekanisme pertemuan tetap seperti pasangan lainnya, langsung bertemu di kamar yang sudah dipilih sesuai standar selera Matthias dan melakukan aktivitas tanpa melanggar apa yang sudah disetujui dalam kontrak.
Hotel Toronto, Suite Room 1306, pukul 09.00 pm. Begitu isi chat dari Mommy Lena ke Hana.
Tanpa mengetuk pintu, Hana masuk dengan menggunakan kartu akses yang sudah diberikan padanya oleh resepsionis. Suhu kamar tersebut sangat dingin, membuat bulunya meremang. Matanya menelisik, membiasakan pandangan pada ruangan dengan cahaya temaram itu. Disana, di sofa panjang yang berdekatan dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung tinggi pencakar langit, ada sosok pria yang sedang duduk sambil bersilang kaki. Perawakannya cukup besar, Hana menaksir pria itu lebih tinggi darinya.
"Selamat malam, Hana. Saya Matthias. Silakan duduk," suara berat itu terdengar sangat merdu di telinga Hana.
Hatinya berdesir.
"Terima kasih, pak. Perkenalkan nama saya Hana, usia saya 23 tahun," jawab Hana pelan.
Entah mengapa hatinya seperti menciut ketika menyadari ada tirai hitam transparan yang membentang menjadi pembatas antara sofa tempatnya dan Matthias duduk.
"Hmm masih belia banget. Kamu udah dikasih tahu Mommy Lena belum soal peraturan mainnya? Denger-denger ini kali pertama buat kamu," lanjut Matthias dengan tenang.
"B-betul, pak. Ini yang pertama buat saya. Untuk peraturan, yang diinfokan oleh Mommy Lena hanya soal pak Matthias tidak ingin ini menjadi pertemuan tatap muka. Selebihnya belum, pak," Hana berujar sambil berusaha keras menutupi kegugupannya. Bagaimanapun ini adalah kali pertamanya berada pada situasi yang asing seperti ini.
"Kalo gitu langsung aja. Mengenai tatap muka, itu adalah cara saya melindungi diri. Jadi saya mohon pengertian kamu. Untuk pelayanan, malam ini saya mau liat kamu muasin diri sendiri tapi semua atas instruksi dari saya. Semua alatnya udah saya siapin, tinggal kamunya nih. Kamu udah siap belum, Hana?"
Pertanyaan Matthias tentu membuat Hana sedikit gentar, tapi karena sudah menekadkan diri sejak pertama kali bertemu dengan Mommy Lena di malam itu, Hana dengan cepat menganggukkan kepalanya seraya berkata "Saya sudah siap sekali, pak. Apapun mau Bapak, bisa saya lakukan dengan sebaik-baiknya."
"Good. Sekarang kamu kunci dulu pintu depan. Masuk ke kamar utama, disana saya udah siapin baju buat kamu. Saya tahu kamu udah bersih-bersih, jadi langsung aja ganti bajunya. Terus ambil tas hitam yang saya simpan di lemari tengah dan bawa kesini."
"Baik, pak."
"Jangan lupa ambil air minum di kulkas, siapin buat kamu. Kamu pasti butuh itu nanti. Oh, dan satu lagi. Jangan panggil saya, pak. Saya ngerasa masih pantes dipanggil Mas. Kamu juga gak perlu pake bahasa formal ke saya. Ngomong dengan gaya kamu aja, Hana. Saya mau kamu dan saya sama-sama nyaman malem ini."
"Baik, pak. Eh, baik Mas."
"Okay, baby boy. Go on."
