Actions

Work Header

Sailing Hearts

Summary:

Di atas kapal Titanic, Mark dan Haechan, dua orang asing dari kelas yang berbeda, terjebak dalam perjalanan yang penuh ketegangan dan gairah. Tapi apakah 7 hari cukup untuk melupakan segalanya?

Notes:

Happy reading! ♡ (no repost & translate)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Southampton, 1912

 

Pelabuhan Southampton penuh dengan keramaian. Orang-orang berlalu-lalang, para buruh pelabuhan sibuk mengangkat barang, sementara troli-troli koper berderak di jalan berbatu. Di tengah semua itu, Titanic berdiri kokoh di ujung dermaga. Kapal besar itu mengesankan, dengan barisan jendela yang seakan tidak ada habisnya.

Mark berdiri di kerumunan, menggenggam koper tuanya. Dia menatap kapal itu, merasa sedikit terintimidasi dengan ukurannya. Tapi ini bukan waktunya untuk ragu. Dengan napas berat, dia ikut dalam antrian menuju kapal, langkahnya terasa lebih berat dengan pikiran yang berantakan.

Di dalam kapal, suasana berbeda. Lorong-lorong sempit dengan dinding kayu putih dan lampu minyak temaram memberi kesan sederhana. Mark melihat tiketnya lagi—Dek E, Kabin 58. Dia berjalan menyusuri lorong, melewati penumpang lain yang sibuk membereskan barang-barang mereka dan bercakap-cakap dengan antusias.

Akhirnya, Mark menemukan kabinnya. Ruangannya kecil, hanya ada ranjang susun, wastafel logam kecil di sudut, dan lampu gantung yang lemah. Tak ada yang istimewa, tapi ini akan menjadi tempatnya selama beberapa hari ke depan. Dia menyelipkan kopernya di bawah ranjang dan duduk, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana kabin yang sempit dan pengap.

Tatapan Mark melayang ke langit-langit. Pikirannya kembali ke semua yang dia tinggalkan—pekerjaan di pabrik, rumah kecil di Birmingham, dan mantan istrinya. Dua bulan lalu, semuanya berubah. Pernikahannya yang selama ini menjadi alasan dia bertahan akhirnya kandas. Sekarang, dia di sini, meninggalkan segalanya, mencoba memulai hidup baru di Amerika.

Tapi duduk di kabin hanya membuat dadanya terasa lebih sesak. Mark bangkit, berjalan keluar tanpa tujuan. Lorong kapal ramai dengan suara langkah kaki dan percakapan dalam berbagai bahasa, tapi dia tak peduli. Dia terus berjalan hingga akhirnya sampai di dek luar.

Angin laut menyapa wajahnya, membawa udara segar yang sedikit menenangkan. Mark berjalan ke sisi kapal, menatap laut yang gelap. Pelabuhan Southampton perlahan menghilang di kejauhan.

Di dek atas, suasananya berbeda. Para penumpang kelas satu bercengkrama santai, mengenakan pakaian terbaik mereka. Di tengah keramaian itu, Mark melihat seorang pria muda yang cukup mencolok. Dengan tuxedo hitam rapi, lelaki itu memegang segelas sampanye sambil mengobrol dengan seorang wanita. Tak ada yang aneh, namun cara lelaki itu bersikap membuat Mark tidak bisa berhenti melirik. Seolah-olah dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, setiap gerakan penuh dengan kepercayaan diri, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Saat mata mereka bertemu sejenak, Mark cepat-cepat menundukkan kepala. Dia mengalihkan pandangannya ke laut, mencoba mengabaikan rasa canggung yang muncul. Tapi entah kenapa, sosok lelaki itu tetap ada di pikirannya.

 

 

 

 

Mark menyantap sup hangat dan sepotong roti malam itu. Ruang makan kelas tiga padat, penuh dengan percakapan riuh dan aroma makanan yang bercampur menjadi satu, membuatnya merasa sesak. Butuh udara segar, Mark memutuskan untuk berjalan ke luar sebelum kembali ke kabinnya.

Dia berjalan menuju dek sekoci, tempat yang jauh dari keramaian. Udara malam terasa menusuk, tetapi angin laut yang dingin memberikan sedikit kenyamanan. Mark memeluk tubuhnya erat, menghirup udara segar, lalu menyandarkan diri pada pagar kapal.

Beberapa menit berlalu sebelum suara langkah mendekat. Mark menoleh dan melihat sosok yang langsung dikenalnya—lelaki yang dia lihat tadi siang. Pria itu mengenakan tuxedo hitam yang sama, tetapi ditambahkan jaket bulu tebal yang melindungi tubuhnya dari angin malam.

Tanpa banyak bicara, lelaki itu berdiri di samping Mark, sama-sama menikmati pemandangan laut. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kotak kecil dan mengambil sebatang rokok. Dengan korek api, dia menyalakan rokok itu, menghembuskan asap tipis yang langsung terbawa angin.

“Mau rokok?” tanyanya santai, rokok di antara jari-jarinya, matanya tertuju pada Mark.

Mark ragu sejenak, menatap rokok itu. Bukan karena dia tidak pernah merokok, tapi rokok ini terlihat mahal—jauh dari jenis yang biasa dia temui. “Aku nggak pernah coba rokok seperti itu,” jawabnya jujur, sedikit canggung.

Lelaki itu menyeringai kecil, seolah sudah menduga jawabannya. “Cobalah. Hidup terlalu singkat untuk selalu main aman,” katanya, menyodorkan rokok lain dari kotaknya.

Mark akhirnya menerimanya dengan ragu. “Makasih,” gumamnya. Begitu dia mengambil hisapan pertama, rasa tajam memenuhi tenggorokannya, membuatnya terbatuk kecil. Dia mencoba menyembunyikannya, tetapi lelaki itu sudah tertawa pelan.

“Bukan rokok murah, kan?” lelaki itu menggoda, menatap Mark yang berusaha terlihat santai.

Mark hanya tersenyum tipis. Keheningan menggantung di antara mereka, hanya suara deburan ombak dan angin malam yang menjadi latar. Mark melirik lelaki di sampingnya, sedikit penasaran tapi enggan bertanya lebih jauh.

“Jadi,” lelaki itu membuka percakapan lagi, menatap Mark sekilas, “Penumpang kelas tiga?” 

Mark mengangguk pelan. “Ya, cuma itu yang bisa kubayar.”

“Perjalananmu jauh?” tanyanya lagi.

“Ya. Birmingham,” jawab Mark singkat.

Lelaki itu mendengar dengan perhatian. “Birmingham, ya? Aku selalu penasaran seperti apa di sana.” Dia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tapi jangan tanya soal London. Membosankan.”

Mark mengangkat alis. “Kamu dari London?”

“Lebih tepatnya, hidupku lebih banyak di jalan daripada di rumah.”

Mark sedikit terkejut. “Kerja?”

Lelaki itu terkekeh kecil, menggeleng sambil menatap laut. “Kamu benar-benar nggak tahu aku, ya?” Dia terlihat menikmati keheningan Mark yang bingung sebelum bertanya lagi, “Lalu kenapa kamu meninggalkan Birmingham?”

Pertanyaan itu membuat Mark terdiam sejenak. “Mencoba hidup baru,” jawabnya singkat, tak ingin memperpanjang pembicaraan soal itu.

Lelaki itu menatapnya, tersenyum samar. “Kadang, meninggalkan memang lebih baik.”

Mark meliriknya, terkejut oleh pemahaman itu. “Kamu juga begitu?”

“Aku hanya ingin menikmati hari-hari di atas Titanic ini,” jawabnya, lalu menghembuskan asap rokok terakhir sebelum mematikannya dengan sepatu.

Mark menjentikkan abu rokoknya, merasa ada sesuatu yang menarik dari lelaki di sampingnya. Di bawah sinar bulan, wajah pria itu tampak semakin memukau. Fitur wajahnya yang sempurna, suara yang terdengar halus, dan gayanya yang santai—semuanya terasa seperti teka-teki yang ingin Mark pecahkan.

“Kamu nggak terlihat seperti tipe orang yang lari dari sesuatu,” ucap Mark tiba-tiba, tanpa sadar melontarkan pikirannya.

Lelaki itu hanya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. “Aku Haechan.”

Mark menatap tangan itu sebelum menjabatnya. “Mark.”

Haechan tersenyum ramah, genggamannya terasa dingin. “Senang bertemu denganmu, Mark.” Lalu dengan nada menggoda, dia menambahkan, “Dan aku juga senang kamu nggak bertanya soal pekerjaanku.”

Mark terkekeh, merasa jauh lebih nyaman. “Haruskah aku bertanya?”

“Nggak perlu,” jawab Haechan. Dia mengancingkan jaketnya, bersiap untuk pergi. “Kamu bakal tahu nanti.”

Sebelum Mark sempat berkata apa-apa, Haechan melangkah pergi, meninggalkan aroma tembakau yang masih menggantung di udara. Mark hanya berdiri di sana, menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, dengan pikiran yang tiba-tiba terasa penuh oleh kehadirannya.

 

 

 

 

Di hari kedua Titanic berlayar, udara dingin semakin menusuk tajam, pertanda kapal mulai memasuki perairan Samudra Atlantik. 

Mark menggigil di tengah antrian panjang kamar mandi kelas tiga, menggosok-gosok tangannya untuk sedikit menghangatkan diri. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dia bisa masuk dan mandi dengan air dingin yang membekukan. Tubuhnya bergetar hebat, tetapi rasa segar setelah mandi membantu menghilangkan sedikit rasa kantuk.  Hari ini, Mark mengenakan jaket tweed cokelat yang mulai pudar, celana katun hitam, dan topi kain sederhana—penampilan yang cukup rapi, meskipun biasa saja. 

Saat rasa lapar mulai menyerang, Mark berjalan menuju ruang makan. Aroma sup daging dan roti langsung menyerbu indra penciumannya begitu dia memasuki ruangan. Namun, langkahnya terhenti sejenak. Matanya terpaku pada sosok di tengah ruangan: Haechan.  

Pria itu berdiri dengan nampan kosong di tangannya, matanya mengitari ruangan dengan tatapan bingung. Penampilannya benar-benar mencolok di tengah suasana kelas tiga yang sederhana. Kemeja putih polos yang bersih dan rapi, rompi abu-abu gelap, dan celana bahan navy yang tampak seperti keluaran butik mahal membuatnya terlihat tidak pada tempatnya. Mark memandangnya, bingung sekaligus takjub.  

Beberapa penumpang lain juga terlihat memperhatikan Haechan. Bisik-bisik mulai terdengar, bahkan beberapa orang menoleh lebih dari sekali untuk memastikan apa yang mereka lihat. Kehadiran seseorang dengan penampilan seperti itu di ruang makan kelas tiga adalah sesuatu yang tak biasa.  

“Mark!” seru Haechan tiba-tiba. Suaranya yang ceria membuat Mark terlonjak. Wajah pria itu langsung cerah saat melihatnya.  

“Haechan?” Mark menghampirinya dengan ekspresi bingung. “Kenapa kamu di sini?”  

“Aku nyari kamu,” jawab Haechan, seolah-olah mencari Mark di ruang makan kelas tiga adalah hal yang sepenuhnya wajar.  

Mark hanya menatapnya, bingung sekaligus curiga. Dia mulai menyadari tatapan intens dari para penumpang lain di sekitar mereka. “Orang-orang kelihatan kaget ngeliat kamu,” ujarnya sambil melirik ke sekitar. “Kayaknya mereka mikir kamu bukan dari sini.”  

Haechan hanya tersenyum manis, tidak memberikan penjelasan apa pun. “Mungkin mereka nggak biasa lihat orang seperti aku.”  

Jawaban itu tidak membantu mengurangi rasa penasaran Mark, tetapi dia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Sebaliknya, dia mengajak Haechan duduk di salah satu meja kosong, dan mereka mulai mengambil sarapan. Hidangan sederhana berupa sup daging, roti kasar, dan teh panas tersaji di depan mereka.  

Saat mereka makan, Mark mencoba mencari tahu lebih banyak. “Jadi,” dia memulai, menatap Haechan yang sedang menyendok supnya, “Kenapa kamu nyari aku?” Nada suaranya penuh rasa ingin tahu.  

“Memangnya kenapa?” Haechan meletakkan sendoknya sejenak, lalu meneguk teh panas dari gelasnya. “Nggak boleh?” dia tersenyum menggoda, nadanya terdengar bercanda.

Mark sedikit kelabakan. “Bukan begitu,” katanya cepat, mencoba merangkai alasan. “Makanan di tempat ini pasti nggak seenak di tempatmu.”  

Haechan mengangguk kecil, tampak setuju. “Memang,” dia mengakui tanpa ragu, “Tapi di sana aku nggak punya teman buat makan bareng.” Senyumnya mengembang ketika melihat ekspresi terkejut Mark. “Di sini ada kamu. Kita kan sudah kenalan semalam, apa itu nggak cukup buat jadi teman?”  

Mark terdiam, tidak tahu harus merespons bagaimana. Pertemuan mereka semalam terasa seperti kebetulan belaka—dua orang asing yang bertukar rokok dan berbicara singkat. Dia tidak pernah menyangka mereka akan bertemu lagi, apalagi dalam situasi seperti ini.  

Melihat Mark diam, Haechan melanjutkan dengan nada lebih pengertian, “Kalau kamu merasa nggak nyaman, aku bisa pergi.”  

“Aku nyaman,” jawab Mark cepat, hampir refleks. Dia terkejut dengan dirinya sendiri. “Maksudku,” Mark meralat, “Aku cuma kaget saja. Apa nggak masalah orang seperti kamu ada disini?”  

Haechan memiringkan kepalanya, seolah berpikir serius, lalu terkekeh. “Selama nggak ada yang mengusir aku, sepertinya nggak apa-apa.” Dia kembali mengambil sendok dan melanjutkan sarapannya dengan santai.  

Mark hanya bisa menatapnya, masih bingung sekaligus terpesona. Ada sesuatu tentang Haechan yang membuatnya sulit untuk tidak memperhatikan—cara dia berbicara, senyumnya yang tenang, dan keberaniannya yang tampak tak tergoyahkan. Untuk pertama kalinya setelah perceraian yang pahit, Mark merasa tidak kesepian.

 

 

 

 

Haechan ingin melihat-lihat area khusus penumpang kelas tiga, jadi Mark mengajaknya berkeliling. Salah satu tempat yang mereka datangi adalah ruang umum—ruangan yang selalu penuh dengan kehidupan. Suara tawa, percakapan hangat, dan bunyi kartu yang dikocok memenuhi udara, menciptakan suasana yang begitu khas. Beberapa kelompok tampak duduk melingkar di lantai, sibuk bermain kartu, sementara yang lain terlibat obrolan seru tentang kehidupan mereka masing-masing.

Haechan menarik perhatian sejak pertama kali masuk. Penampilannya yang berbeda jelas mencolok di antara para penumpang lain, membuat orang-orang menoleh. Tapi, dengan senyum lebarnya dan keramahan yang alami, dia dengan cepat mencairkan suasana. Tak butuh waktu lama, dia sudah bergabung dengan sekelompok pria yang bermain kartu, meminta izin dengan gaya santai yang membuat orang lain langsung merasa nyaman.  

Mark memilih duduk di dekatnya, mengamati dari pinggir. Dia kagum melihat bagaimana Haechan dengan mudahnya membaur, bercanda, dan tertawa seolah-olah sudah lama mengenal mereka. Keberadaan Haechan seakan-akan memancarkan kehangatan yang sulit untuk diabaikan. 

Ketika Haechan mulai memenangkan beberapa putaran permainan, suasana semakin riuh. Sorakan kecil dan tawa keras memenuhi ruangan setiap kali dia membalik kartu yang membuatnya unggul. Haechan terlihat begitu menikmati momen itu, dan tanpa sadar Mark pun tersenyum kecil, merasa terpana.

“Tadi seru banget,” ucap Haechan sambil tersenyum lebar ketika mereka akhirnya meninggalkan ruang umum. Hari telah berganti malam, dan mereka kini duduk di salah satu kursi kayu di dek terbuka. Langit malam bertabur bintang menjadi latar belakang yang tenang setelah keramaian sebelumnya.

Mark ikut tersenyum. “Nggak capek?” tanyanya. Dia sendiri merasa lelah meski hanya menonton, apalagi Haechan yang berkali-kali diajak bermain.

“Capek sih, tapi aku senang,” jawab Haechan.  

“Tujuanmu naik kapal ini memang untuk liburan, kan?” Mark bertanya, mencoba menggali lebih dalam.  

Haechan mengalihkan pandangannya ke Mark, tatapannya lembut tapi sulit ditebak. “Orang-orang sangat mengidamkan untuk naik Titanic. Katanya, ini adalah kapal impian. Dan karena ini adalah perjalanan perdananya, aku nggak mau ketinggalan. Aku harus merasakannya, meskipun aku nggak tahu apa yang bakal aku lakukan saat sampai di New York nanti.”  

Mark terdiam sejenak, mencerna kata-kata Haechan. “Kapal impian, ya? Memang, ini impian buat orang-orang kelas atas yang mau liburan, juga impian buat mereka yang dari kelas bawah untuk memulai hidup baru,” gumamnya tanpa sadar. Namun, begitu kata-katanya keluar, dia langsung merasa sedikit bersalah melihat Haechan terdiam. “Maksudku… ini terasa seperti liburan juga buatku,” tambahnya cepat.  

Hening sesaat. Haechan memandangi laut di depannya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.  

“Aku sendirian, Mark,” ujar Haechan tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh makna. Dia tersenyum kecil, tapi senyum itu tampak lelah. “Aku nggak punya keluarga, tapi ada beberapa orang yang setidaknya bisa membantuku saat aku kesulitan.”  

Nada melankolis dalam suaranya membuat Mark merasa tertegun. Ini adalah sisi lain dari Haechan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya—jauh dari sosok ceria yang dia lihat dari kemarin.

“Tapi aku nggak terlalu sedih soal itu,” lanjut Haechan. “Aku sudah biasa sendirian. Dan aku di sini bukan untuk lari dari apa pun, tapi untuk melanjutkan hidup. Liburan ini adalah caraku melepaskan penat setelah pekerjaan yang melelahkan.”  

Mark terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat, dia menghela napas panjang, memutuskan untuk berbagi sesuatu yang selama ini hanya dia pendam sendiri. “Aku baru saja bercerai,” katanya pelan.

Haechan menoleh, menatap Mark dengan penuh perhatian.  

“Dua bulan yang lalu,” lanjut Mark. “Kami menikah setahun yang lalu, tapi ternyata hubungan itu nggak berhasil bertahan. Aku nggak mau mempertahankan pernikahan kalau masalahnya adalah orang ketiga. Jadi, ya… sekarang aku di sini. Lari ke Amerika untuk memulai hidup baru.”  

Untuk beberapa saat, Haechan tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, dia tersenyum tipis. “Kadang, kita memang perlu menenangkan pikiran sejenak dan… ya, lari dari kenyataan,” ujarnya lembut.  

Mark mengangguk pelan, tampak setuju. “Ya.”  

Haechan mencoba meringankan suasana dengan bertanya, “Berapa umurmu, Mark?”  

“Tahun ini aku 35,” jawab Mark.

Haechan membulatkan matanya. “Aku nggak nyangka kamu jauh lebih tua! Tahun ini aku 25.”  

Mark tertawa kecil, sedikit terkejut. “Umur 25 dan punya tiket kelas satu di Titanic? Hidupmu pasti sangat sukses di usia muda,” puji Mark tulus.  

Haechan hanya tertawa kecil, tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. “Kamu berlebihan.”  

Hening kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini terasa lebih nyaman. Angin malam yang dingin menyapu wajah mereka, tapi kehangatan percakapan tadi tetap terasa.  

“Mau jalan-jalan bareng lagi besok?” tanya Haechan, tersenyum manis. “Aku suka jalan bareng kamu.”  

Mark memandang Haechan, dan untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dadanya berdebar, dan perasaan gugup yang asing mulai muncul. Dia tidak mengerti kenapa, tapi ada sesuatu tentang pria ini—senyumnya, tatapannya, atau caranya bicara—yang terasa berbeda. Mark buru-buru mengalihkan pandangannya ke lautan, mencoba mengabaikan rasa aneh yang melanda dirinya. Sesuatu yang baru, sesuatu yang membingungkan, tapi juga tak bisa diabaikan.  

“Boleh,” jawab Mark akhirnya.

 

 

 

 

Menghabiskan waktu bersama orang asing bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan Mark—dia lebih suka menyendiri, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Seharusnya, perjalanan ini menjadi sesuatu yang menyesakkan, penuh emosi, dan tidak diinginkan. Namun, entah bagaimana, sejak bertemu Haechan, perasaannya perlahan berubah. Sejenak dia lupa akan kehidupannya di Birmingham—mantan istrinya, pekerjaannya, dan semua yang telah dia tinggalkan. Untuk pertama kalinya, dia tidak sabar untuk mengelilingi kapal ini.

Mark bahkan tidak perlu mencari Haechan, karena dia tahu lelaki itu akan menemukannya setelah jam makan siang, menarik tangannya dengan santai, dan berkata dengan penuh semangat, “Mark, ayo kita keliling kapal!”

Awalnya, Mark mengira mereka hanya akan berjalan santai di dek atau menjelajahi bagian lain dari kelas tiga. Tapi begitu Haechan mulai menuruni tangga, membawa mereka semakin dalam ke bawah kapal, Mark mulai curiga.  

“Kita mau ke mana?” tanyanya.  

Haechan hanya tersenyum misterius, jemarinya masih menggenggam erat lengan Mark. “Pokoknya ikut aja.”

Mereka melewati beberapa lorong yang terasa lebih sunyi dibandingkan bagian kapal lainnya, menghindari tatapan para awak kapal yang berlalu-lalang. Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Haechan melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang memperhatikan, sebelum melangkah mendekati seorang kru kapal—seorang stok batu bara yang jelas sudah diajak bicara sebelumnya.  

Pria itu menatap Haechan dengan ekspresi yang sulit ditebak sebelum akhirnya mengarahkan dagunya ke pintu. “Jangan lama-lama.”

Mark tertegun, dengan cepat menarik Haechan berhenti sebelum mereka melangkah masuk ke dalam. “Tunggu, kita mau masuk ke ruang mesin?”

Haechan mengangguk, matanya berbinar penuh antusias. “Kapan lagi kita bisa lihat bagian dalam kapal ini?”

Mark ingin menolak. Ini jelas bukan tempat untuk sembarang orang, apalagi penumpang. Dia tidak mengerti, seberapa pentingnya sosok Haechan sampai bisa mendapatkan akses seperti ini. Namun, sebelum dia bisa mengatakan apa pun, Haechan sudah menariknya masuk, meninggalkannya tanpa pilihan selain mengikuti langkah lelaki itu ke dalam ruang mesin kapal Titanic.

Begitu mereka melangkah masuk, gelombang panas langsung menyergap, jauh lebih menyengat dibandingkan udara di dek atas. Bau minyak, asap, dan logam yang terbakar memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer berat yang dipenuhi dengung mesin.  

Pemandangan di depan mereka begitu mengagumkan sekaligus menakutkan. Mesin-mesin raksasa bergerak, roda gigi terus berputar, dan pipa-pipa uap berdesis, mengeluarkan panas yang semakin memperberat udara. Di satu sisi, para stok batu bara bekerja tanpa henti, menyendok batu bara ke dalam tungku menyala terang yang menjadi sumber tenaga kapal. Cahaya oranye kemerahan dari bara api memantul di permukaan logam, menciptakan bayangan bergerak di dinding.  

Haechan tampak terpukau, matanya berbinar saat mengamati mesin-mesin raksasa yang bergerak naik turun dengan kekuatan luar biasa. “Gila... ini keren banget.”

Di sisi lain, Mark berdiri kaku. Matanya mengikuti pergerakan mesin dengan ekspresi yang berbeda—bukan sekadar kagum, tapi seakan memahami setiap detail yang ada. Tanpa sadar, dia bergumam, “Struktur bajanya luar biasa... pasti pakai baja terbaik untuk menyangga beban sebesar ini.”

Haechan menoleh dengan ekspresi terkejut. “Lho? Kamu paham beginian?”

Mark tersentak, baru sadar kalau dia berbicara tanpa berpikir. Haechan menatapnya dengan rasa ingin tahu, menunggu jawaban.  

Mark menggaruk belakang lehernya, lalu akhirnya menghela napas sebelum menjawab, “Sebelumnya, aku bekerja di pabrik baja di Birmingham. Kami bikin besi besar... mirip kayak yang dipakai di sini.” 

Haechan terdiam sejenak, tampak terpukau. “Kamu ngerti soal mesin juga?”

Mark mengangkat bahu. “Sedikit. Aku nggak bisa bikin mesin, tapi aku tahu gimana baja dibuat, gimana logam ini bisa bertahan di tekanan tinggi. Buat orang lain mungkin ini cuma sekedar besi biasa, tapi aku ngerti kerja keras di baliknya.”

Haechan menatapnya lama, senyumnya perlahan melebar. Ada sesuatu dalam caranya melihat Mark—sebuah kebanggaan yang sulit dijelaskan.  

“Mark, kamu sadar nggak kalau kamu ini keren banget?”

Mark menundukkan pandangannya, tiba-tiba merasa canggung. Pipinya bersemu samar saat dia bergumam, “Biasa aja.”

Saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, Haechan terlalu sibuk mengagumi sekeliling hingga tak sadar melangkah terlalu dekat ke salah satu mesin yang berputar cepat.  

Mark, yang sejak tadi mengawasinya, refleks menarik pinggang Haechan ke dalam pelukannya, menjauhkannya dari bahaya.  

Sesaat, Haechan membeku dalam dekapan Mark. Meski udara di ruang mesin terasa panas dan lembap, Mark bisa merasakan kehangatan tubuh Haechan dengan begitu jelas.

Mark mendesah, suaranya terdengar berat. “Hati-hati. Kamu mau pulang tanpa tangan?”

Alih-alih merasa terganggu, Haechan justru terkikik kecil, tapi tak segera menjauh dari dekapan Mark. “Berkat kamu, tanganku tetap dua.” Godanya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.  

Menyadari betapa dekatnya posisi mereka, Mark langsung melepaskan tangannya dari pinggang Haechan. Jantungnya berdegup kencang, dan dia tidak suka betapa anehnya itu terasa. Seorang lelaki, ada di dalam dekapannya, begitu dekat hingga dia bisa mencium wangi khasnya—bersih, segar, tapi tetap maskulin. Jika Haechan adalah seorang wanita, mungkin dia sudah jatuh cinta.  

Haechan masih menatapnya, seolah menunggu respons lebih lanjut. Mark berdehem, mencoba mengalihkan perhatian. “Jangan terlalu dekat melihatnya kalau nggak mau bajumu kotor.”

Haechan hanya tersenyum, “Tinggal beli baju baru.” Tapi kali ini, dia menurut dan mulai lebih berhati-hati.  

Tak lama setelahnya, mereka memutuskan untuk pergi sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka. Begitu melangkah keluar, udara sejuk menyambut mereka, kontras dengan panas yang tadi membakar di dalam.  

Haechan menoleh ke arah Mark dengan ekspresi menggoda. “Jadi, kalau aku mau bikin kapal pribadi, bisa nggak aku panggil kamu?”

Mark refleks tertawa, masuk ke dalam alur candaannya. “Tergantung. Kamu berani bayar berapa?”

Haechan berpikir sejenak sebelum tersenyum jahil. “Kalau aku bayar pakai kecantikanku, cukup nggak?”

Mark langsung terdiam.  Bukan karena lelucon itu aneh—tapi karena Haechan, dengan percaya diri, menyebut dirinya sendiri cantik. Seharusnya terdengar absurd, mengingat ini keluar dari mulut seorang pria. Tapi anehnya, Mark tidak bisa menyangkalnya.  Namun, mengakuinya adalah batas yang tak seharusnya dia lewati.  

Alih-alih membalas, Mark berucap singkat, “Kayaknya, aku perlu balik sekarang.” 

 

 

 

 

Sore itu, Mark memutuskan untuk beristirahat lebih awal. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian bersama Haechan. Di dalam kabin, para penumpang lain masih sibuk mengobrol, tapi Mark memilih untuk membiarkan dirinya tenggelam dalam kantuk, berharap bisa beristirahat dengan tenang.  

Namun, tidurnya justru membawa mimpi yang aneh.  Tidak ada suara bising dari mesin kapal. Tidak ada keramaian penumpang. Yang ada hanya dirinya, berdiri di suatu tempat yang asing. Mungkin itu dek kapal yang sepi, mungkin juga ruangan kosong yang hanya ada dalam mimpinya—Mark tidak yakin.  

Di hadapannya, seorang lelaki berdiri. Haechan.  

Dia mengenakan pakaian mewahnya, berdiri tenang sambil menatap Mark. Senyumnya lembut—bukan seringai menggoda seperti biasanya, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih intim. Tatapan itu seakan menelanjangi Mark, seolah mengajaknya masuk ke dalam sesuatu yang tidak bisa dipahami.  

Ada sesuatu di dalam dada Mark. Perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena ketakutan—melainkan sesuatu yang lain.  

Haechan melangkah mendekat.  Mark ingin mundur, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Napas Haechan terasa hangat saat jarak di antara mereka semakin menipis, dan ketika lelaki itu mengangkat tangannya, menyentuh wajah Mark dengan ujung jarinya, tubuhnya seketika menegang.  Sentuhan itu ringan. Tapi entah kenapa terasa membakar.  

“Mark…” Suara lembut Haechan bergema di telinganya.  

Mark terbangun dengan nafas memburu. Dadanya naik turun, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia menatap langit-langit kabin yang remang-remang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.  

Mimpi itu terasa nyata. Terlalu nyata.  Dan yang lebih mengganggunya—kenapa dia bermimpi tentang Haechan?

 

 

 

 

Seharian ini, Mark tidak melihat Haechan. Terlepas dari mimpi membingungkan yang menghantuinya semalam, dia tetap ingin menghabiskan waktu bersama Haechan—itu sudah menjadi rutinitas mereka selama dua hari terakhir. Namun, sejak pagi hingga menjelang sore, sosok itu tak juga muncul.  

Saat sarapan, Mark sengaja memperlambat suapannya, berharap Haechan akan datang seperti biasa, menarik lengannya tanpa izin dan menyeretnya berkeliling kapal. Ketika mampir ke ruang umum kelas tiga, di mana orang-orang sibuk bercengkerama dan bermain kartu, matanya terus melirik ke arah pintu, menanti kemunculan Haechan—tapi yang dia tunggu tak kunjung tiba. Bahkan di dek sekoci, tempat pertama kali mereka bertemu, Mark hanya ditemani semilir angin laut yang dingin.  

Ini aneh. Biasanya, Haechan selalu ada. Entah dari mana datangnya, lelaki itu selalu berhasil menemukan Mark dan menyeretnya ke sudut-sudut kapal yang bahkan tak pernah terpikir olehnya. Mark tidak pernah menolak—lebih tepatnya, dia tidak mau menolak. Ada sesuatu dari kebersamaan mereka yang terasa menyenangkan, meski dia sendiri masih enggan mengakuinya.  

Seharusnya, dia tidak perlu ambil pusing. Haechan adalah penumpang kelas satu, seseorang yang berada di kapal ini untuk menikmati perjalanan, bukan untuk menghibur seorang Mark. Mungkin, Haechan akhirnya sadar posisi mereka dan memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kaki di area kelas bawah. Mungkin, dia menemukan teman baru di kelas satu—teman yang lebih sepadan dengannya. Atau mungkin, Haechan hanya kehilangan minat setelah Mark meninggalkannya kemarin di ruang mesin. Dari semua kemungkinan yang ada, Mark berharap alasan terakhir itu tidak benar.  

Mark bukan tipe orang yang suka melanggar aturan. Sepanjang hidupnya, dia selalu berjalan lurus, taat, dan berusaha tidak mencari masalah. Tapi untuk pertama kalinya, dia membiarkan dirinya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan—menyelinap ke area kelas satu.  

Koridor yang luas dan megah itu terasa asing baginya. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal menggantung, karpet tebal meredam setiap langkah kakinya, dan udara di sana lebih hangat, lebih nyaman. Ini baru terasa seperti Titanic, kapal impian orang-orang.

Sesekali, dia berhenti sejenak, berusaha menghindari tatapan awak kapal yang berpatroli, berpura-pura menjadi salah satu penumpang kelas atas. Untungnya, hari ini dia mengenakan pakaian terbaik yang dia punya—meski tetap jauh dari kata sepadan dengan jas mahal yang dikenakan para pria di sekelilingnya.  

Masalahnya, Mark tidak tahu harus mencari ke mana. Kelas satu ternyata sangat luas dan membingungkan, dengan lorong-lorong yang bercabang ke berbagai arah. Dia tidak tahu di mana kabin penumpang, ruang makan, ruang bersantai, atau tempat mana pun yang mungkin bisa mengantarnya ke Haechan. Hingga akhirnya, dia melihat sekelompok wanita kelas satu berjalan ke suatu arah, wajah mereka tampak antusias. Mark memutuskan untuk mengikuti mereka.  

Langkahnya membawanya ke sebuah ballroom yang megah. Ruangan itu luas, dengan meja dan kursi penuh tamu yang tengah bercengkerama, sementara makanan-makanan mahal tersaji di sudut ruangan. Di depan, sebuah orkestra bermain, memenuhi ruangan dengan dentingan musik. Lalu, suara itu terdengar.  

Sebuah melodi mengalun, tinggi dan jernih, menyatu sempurna dengan iringan musik. Mark tidak tahu lagu apa itu—opera bukanlah sesuatu yang pernah dia dengarkan sebelumnya. Tapi suara itu terlalu indah untuk diabaikan. Dan disanalah Mark melihatnya.  

Haechan berdiri di atas panggung, mengenakan pakaian yang jauh lebih mencolok dari biasanya. Tuxedo putih, dasi kupu-kupu, sarung tangan putih, dan sepatu kulit yang mengkilap. Bahkan, wajahnya terhias rapi—bibirnya sedikit lebih merah dan pipinya bersemu dengan blush orange tipis. Posturnya tegap, ekspresinya tenang, tetapi suaranya menggema, memecah keramaian, menawan setiap orang yang mendengarnya. Termasuk Mark.  

Dia terpaku. Matanya tak bisa lepas dari sosok di panggung itu. Suara Haechan begitu tinggi, penuh emosi, dengan vibrato yang mengalun sempurna—seakan bukan suara manusia biasa. Nada-nada itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang tidak Mark mengerti.  

“Tidak perlu diragukan lagi,” suara seorang wanita terdengar di sebelahnya. “Penyanyi opera Haechan.”  

Jadi ini yang disembunyikan Haechan. Ini alasan mengapa lelaki itu begitu berbeda dari penumpang kelas satu lainnya. Mark tidak hanya terhipnotis oleh suaranya, tetapi juga oleh kehadirannya.  

Malam ini, Haechan tidak hanya terdengar indah.  

Dia terlihat cantik.

 

 

 

 

Begitu Haechan selesai dengan penampilannya, Mark memutuskan untuk pergi. Namun, setelah melihat sosok Haechan yang tampak begitu berbeda, Mark merasa bahwa Haechan bukanlah seseorang yang mudah dijangkau. Tidak hanya Mark yang ingin menghabiskan waktu bersamanya—semua orang di ruangan ballroom ini tampak tertarik untuk mendekatinya. Dan seharusnya memang demikian, Mark merasa bersyukur bahwa Haechan masih bersedia berteman dengannya, meskipun hanya untuk beberapa hari. 

Mark berjalan menuju pintu, melangkah keluar, namun dadanya terasa berdebar. Dia merasa bingung, tak mengerti apa yang sebenarnya diinginkannya. Bayangan Haechan terus menghantui pikirannya—sosok yang berdiri dengan percaya diri di depan banyak orang, menyanyikan lagu dengan merdu, dan memukau seluruh ruangan. Mungkin, Mark sudah kehilangan akal sehatnya. Bisa-bisanya dia merasa bahwa Haechan itu cantik, bisa-bisanya dadanya berdebar saat melihatnya, bisa-bisanya matanya terus mencari Haechan—dan bisa-bisanya dia tertarik pada seorang pria, di antara banyaknya wanita di kapal ini. Ini gila. 

Namun, sebelum Mark bisa benar-benar meninggalkan area kelas satu, seseorang menahan tangannya dari belakang. Dia menoleh dan mendapati Haechan berdiri di depannya.

“Mark?” Haechan memanggilnya, dan entah mengapa, Mark merasa rindu mendengar namanya dipanggil seperti itu. Haechan tersenyum, tangan masih menggenggam lengan Mark. “Aku nggak nyangka kamu berani menyelinap ke sini.”

Mark gelagapan, terkejut. Tentu saja, wajar jika penumpang kelas bawah tak biasa berada di tempat mewah seperti ini. “Aku—maaf, aku itu…” kata-kata terhenti, saking gugupnya.

“Aku bercanda,” Haechan tertawa ringan, melepaskan genggamannya dengan lembut, seolah menenangkan Mark. “Kenapa kamu langsung pergi setelah nonton aku? Kita bahkan belum bicara sama sekali.” Wajahnya sedikit merengut, tampak kecewa.

Mark merasa sedikit lebih tenang, bahkan lega. “Oh… aku pikir kamu bakal sibuk.” Matanya menunduk, masih menikmati sentuhan ringan tangan Haechan tadi.

Haechan tertawa kecil, lalu mengalihkan tangannya. “Mau minum-minum?” katanya sambil menggiring Mark menuju salah satu bar mewah di sudut. Bar itu terletak di pinggir kapal, menghadap lautan, dengan udara dingin yang bebas masuk ke dalam ruangan.

“Jadi, apa kamu kaget?” Haechan membuka percakapan sambil menyeruput cocktail, jaket tuxedonya terlempar begitu saja ke kursi meskipun udara terasa sangat dingin.

Mark sebenarnya ingin menolak, dia tahu betul seberapa mahal minuman di sini. Namun, Haechan memberitahunya bahwa minuman di sini sudah termasuk biaya layanan. Tapi, masalahnya, Mark bukanlah penumpang kelas satu. Haechan akhirnya memilihkan wiski untuk Mark, dan Mark hanya diam saat melihat Haechan diam-diam menyelipkan uang ke bartender.

“Ya, ternyata kamu seterkenal itu,” ujar Mark dengan jujur. Wiski itu terasa enak, hangat menyusup ke tenggorokan Mark. Dia tak menyangka bisa menikmati minuman semahal ini di atas kapal. “Sekarang aku paham kenapa semua mata tertuju padamu.” Mungkin kata-katanya agak terdengar puitis, tapi Mark sulit mendeskripsikan perasaan lainnya.

Haechan tertawa, sedikit merona. “Sebenarnya, kemarin aku mau nyuruh kamu buat menyelinap ke sini, tapi kamu sudah keburu pergi.”

Mark tertegun. Seharusnya dia tidak asal meninggalkan Haechan kemarin. “Oh.”

“Seharian ini aku nggak sempat datang karena mempersiapkan penampilan tadi. Untunglah, kamu berani nyari aku.” Haechan tampak sangat senang, lalu melanjutkan, “Gimana penampilanku tadi? Bagus nggak?”

“Aku nggak nyangka kamu punya suara sebagus itu,” Mark menjawab tanpa menatap Haechan, matanya tertuju pada gelas wiski yang dia pegang. “Ini gila… aku berteman dengan orang terkenal.”

Senyum Haechan semakin lebar. “Mark, kamu nggak pernah nonton pertunjukan opera?”

Mark menggeleng, meski tidak merasa tersinggung. “Aku nggak punya waktu untuk menikmati seni. Setiap hari aku kerja.”

Mendengar itu, Haechan tampak sedikit bersalah. “Kalau aku nanti ngundang kamu buat nonton penampilanku, mau nggak kamu datang?”

“Kalau suatu saat aku kembali lagi ke Inggris, aku pasti akan datang, Haechan.” Jawaban dari Mark membuat suasana tiba-tiba terasa lebih berat. Mark tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena kenyataannya, dia memang akan memulai hidup baru dan mencari pekerjaan di Amerika, sedangkan Haechan mungkin akan kembali ke Inggris setelah liburan ini. 

Seketika Mark ingin merokok. Dia mengeluarkan dua batang rokok dari sakunya, menyalakan dengan korek api, lalu memberikan satu batangnya untuk Haechan sebelum menghisap rokok miliknya.

Ketika Mark menoleh ke samping, Haechan masih menatapnya, dengan tatapan sedih. Jemarinya memegang rokok yang menyala, dan Mark mendengar suara Haechan yang pelan. “Begitu ya?”

Mark tidak menjawab, tetapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Haechan. Matanya menyusuri garis wajah Haechan, berhenti sejenak pada bibirnya yang merah. Ini gila. Mark merasa semakin bingung dengan dirinya sendiri. Kalau saja Haechan seorang wanita, mungkin Mark tak akan berpikir panjang untuk mendekat. Tapi ini berbeda—Haechan adalah seorang pria. Ganteng, cantik, penuh pesona, dan menarik. Dan Mark selalu menyadari, tatapan Haechan selalu terasa aneh, seolah mengandung makna lebih, sesuatu yang tak biasa.

Rokok Mark sudah habis, dan ternyata Haechan juga sudah menghabiskan rokoknya. Udara di sekitar mereka dipenuhi asap, tapi tidak ada yang keberatan. Sekarang, sudah lewat tengah malam, minuman mereka semakin berkurang seiring berjalannya waktu dan orang-orang di sekitar mulai kembali ke kabin.

Wajah Mark memerah, efek dari wiski yang mulai bekerja, pikirannya tak jernih. Haechan juga memandangnya, situasinya sama. Mungkin, mereka berdua telah mabuk dan sudah seharusnya kembali ke kabin masing-masing. Tapi tiba-tiba, Mark berbicara dengan sangat pelan, seolah berbisik, “Sepertinya ada yang salah dengan diriku.”

Haechan menunggu, penuh perhatian. “Apa yang salah?”

Entah datang dari mana keberanian itu, mungkin karena alkohol, Mark melanjutkan, “Aku nggak bisa berhenti ngeliatin kamu.” Matanya tetap terkunci pada Haechan. “Aku harus gimana?”

Haechan tampak terkejut, wajahnya memerah lebih dalam. Kemudian dia berkata dengan lembut, membuat jantung Mark hampir berhenti berdetak, “Jangan berhenti. Tetap lihat aku, Mark.”

Satu hal yang Mark sadari detik itu—Haechan juga sama seperti dirinya.

 

 

 

 

Seorang awak kapal mengumumkan melalui pengeras suara bahwa Titanic mulai mendekati daratan Amerika. Dalam dua hari, mereka akan tiba di New York. Pengumuman itu menggema di seluruh dek saat Mark dan Haechan menikmati kue manis dan kopi panas di salah satu kafe kelas satu siang itu.  

Hari kelima di atas Titanic, Mark semakin berani, terutama dalam menyelinap ke area kelas satu. Semalam sebelum berpisah, Haechan memintanya untuk datang lagi agar mereka bisa berkeliling ke tempat-tempat yang belum sempat Mark jelajahi. Dan meskipun rasa malu masih menyelimuti Mark akibat perkataan yang dia lontarkan saat mabuk, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Haechan.  

Dan hari ini, Haechan tampil lebih santai dengan turtleneck rajut berwarna krem dan mantel abu-abu tebal. Dia duduk di sebelah kiri Mark, menyeruput kopinya dengan tenang. Tidak ada yang aneh dengan itu—kecuali satu hal. Tangannya yang lain diam-diam bertumpu di atas tangan Mark, tersembunyi di bawah meja.

Mark menelan ludah, merasakan kehangatan  akibat sentuhan kecil itu. Dia melirik ke arah Haechan, tetapi lelaki itu hanya tersenyum tipis, seolah sengaja membiarkan Mark tenggelam dalam kebingungannya sendiri.  

Menarik napas dalam-dalam, Mark menatap ke luar jendela kafe di mana laut terbentang luas, tak berujung. Tangannya masih berada di bawah tangan Haechan dan dia tidak menariknya.  

“Ini aneh,” ucap Mark tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam dalam riuh rendah kafe.  

Haechan mengangkat alis, menyantap kue dengan santai. “Apanya yang aneh?”

Mark menggigit bibirnya, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Aku merasa… nyaman.”

Sejenak, Haechan hanya mengamatinya tanpa berkata apa-apa, tatapannya sulit diterjemahkan. Tidak ada reaksi berlebihan, tidak ada keterkejutan—hanya keheningan yang terasa nyaris menantang.  

“Nyaman kenapa?” tanyanya akhirnya, nada suaranya ringan, namun ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuat Mark yakin bahwa Haechan sudah tahu arah pembicaraan ini.  

Mark berdeham, mencoba terdengar lebih tenang. Dia menunduk, menyorot posisi mereka—dua tangan yang masih bersentuhan di bawah meja. “Karena… ini.”

Haechan tersenyum miring, jemarinya memberi satu usapan pelan di punggung tangan Mark. Untung mereka duduk di pojok ruangan, jauh dari perhatian orang lain. “Ini apa? Duduk berdua, minum kopi, atau ngobrol santai?”

Mark menggeleng, telinganya memerah akibat sentuhan itu. “Berdua… sama kamu.” Dia menatap Haechan, dan dalam sekejap, dadanya terasa sesak.  

Haechan tidak langsung menjawab. Jarinya yang berada di bawah meja kembali bergerak, mengusap punggung tangan Mark dengan gerakan lembut yang menenangkan sekaligus menggoda. “Mark,” katanya pelan, menatap Mark dengan intens. “Kenapa berdua sama aku terasa aneh?”

Mark tidak langsung menjawab, pikirannya berkecamuk, dan dia tahu Haechan bisa merasakannya.  

Haechan menggeser sedikit jemarinya, menggenggam tangan Mark, lalu bertanya dengan suara yang nyaris berbisik, “Karena aku laki-laki?”

Mark menahan napas. Pertanyaan itu menggantung di udara, menantinya untuk memberi jawaban yang bahkan dirinya sendiri belum siap untuk mengakui.  

“Aku… nggak tahu.” Suara Mark terdengar lebih pelan dari sebelumnya, nyaris kalah dengan denting cangkir dan bisikan orang-orang di sekitar. Tapi Haechan mendengarnya—tentu saja dia mendengarnya dengan sangat jelas.

Haechan menatap Mark dengan mata yang lebih lembut dari sebelumnya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. “Kamu nggak perlu tahu sekarang.”

Mark mengerjap, sedikit terkejut dengan jawaban itu. “Tapi—”

“Nggak apa-apa, Mark.” Haechan kembali bergerak, perlahan menyatukan jemari mereka. “Kalau kamu nyaman, ya sudah, nikmati saja.” 

Mark menelan ludah, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menunduk, memperhatikan tangan mereka yang bersatu di bawah meja. Mungkin, untuk saat ini, dia bisa membiarkan dirinya tenggelam dalam keraguan itu—tanpa terburu-buru mencari jawaban.

“Gimana kalau kita jalan-jalan sekarang?” 

 

 

 

 

Setelah menghabiskan waktu di kafe, Mark dan Haechan kembali mengeksplor bagian lain dari kapal. Koridor yang mereka lewati memancarkan kemewahan dengan lampu gantung kristal berkilauan, karpet tebal yang meredam langkah kaki, dan jendela-jendela besar yang menampilkan lautan luas. Para penumpang kelas satu berlalu-lalang dalam balutan pakaian terbaik mereka, seolah setiap momen di Titanic adalah pertunjukan eksklusif.

Sepanjang perjalanan, Haechan melontarkan candaan ringan, mengomentari gaya pakaian orang-orang atau membisikkan lelucon yang hanya bisa didengar Mark. Mark lebih banyak mendengarkan, sesekali mengangguk atau terkekeh kecil. Meski enggan mengakuinya, berada di sisi Haechan terasa begitu alami—dan menyenangkan.

Akhirnya, mereka tiba di ruang santai kelas satu, tempat yang jauh lebih tenang dibanding ballroom atau ruang makan. Ruangan ini luas, dihiasi perapian besar yang memancarkan kehangatan, sofa empuk berwarna krem yang tersusun rapi, serta rak buku berisi literatur dari berbagai belahan dunia. Beberapa penumpang duduk santai, sebagian membaca, sementara yang lain berbincang pelan.

Mark mengambil koran yang tergeletak di atas meja bundar, membacanya sekilas. Berita tentang ketegangan politik, perkembangan industri, dan kabar terbaru dari Amerika memenuhi halaman-halamannya. Salah satu artikel menyoroti Titanic sebagai simbol kemewahan dan harapan bagi banyak orang. Di sisi lain, Haechan menyusuri rak buku dengan jemarinya sebelum akhirnya mengambil sebuah novel klasik, tersenyum tipis saat membaca sampulnya.

Mereka memilih duduk di sofa dekat perapian, membiarkan diri tenggelam dalam bacaan masing-masing. Suasana di ruangan itu cukup hening, hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik dan percakapan lirih di kejauhan. Api di perapian menyala terang, memberikan kehangatan setelah perjalanan mereka di udara dingin luar.

Setelah beberapa waktu dalam keheningan yang nyaman, Haechan menutup bukunya dengan suara pelan dan menatap Mark dengan senyum jahil. “Aku bosan. Gimana kalau kita main?”

Mark menurunkan korannya sedikit, menatapnya dengan alis terangkat. “Main apa?”

Haechan menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya berkilat penuh ide. “Saling tanya sesuatu. Aku nanya, kamu jawab, dan sebaliknya. Tapi harus jujur. Gimana?”

Mark mendesah ringan, lalu menutup korannya, menerima tantangan itu. “Oke. Kamu duluan.”

Haechan berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Ini mungkin agak sensitif buatmu, tapi aku penasaran. Apa kamu masih cinta sama mantan istrimu?”

Mark terdiam. Pertanyaan itu lebih dalam dari yang dia duga, tetapi bukan sesuatu yang sulit dijawab lagi. Dia menarik napas, menatap perapian sejenak sebelum akhirnya berkata, “Sepertinya, rasa cinta itu hilang begitu saja di hari aku tahu dia selingkuh.”

Haechan tidak langsung menanggapi, hanya mengangguk pelan, seolah memahami. “Oh, begitu.”

Mark menggulirkan pikirannya ke pertanyaan balasan. “Sekarang giliranku.” Dia menoleh ke arah Haechan, sedikit ragu sebelum bertanya, “Kenapa kamu selalu sendirian?”

Senyum Haechan sedikit luntur, meskipun ekspresi santainya tetap bertahan. “Aku pernah bilang, kan? Aku nggak punya siapapun.” Suaranya lebih tenang dari biasanya, seolah sedang mengungkapkan sesuatu yang sudah lama disimpan sendiri. “Aku ninggalin keluargaku karena mereka nggak mendukung impianku. Katanya, aku nggak bakal sukses. Nyatanya, lihat seberapa besar aku sekarang.” Dia tertawa kecil, tapi ada nada getir di baliknya. “Tapi nggak apa-apa, aku sudah terbiasa sendiri.”

Mark tidak tahu harus berkata apa. Di balik kepercayaan dirinya yang hampir selalu tampak tak tergoyahkan, Haechan menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam. Seorang pria muda yang sukses, penuh pesona, dan terlihat seperti memiliki segalanya, ternyata tidak sesempurna yang terlihat.

Namun sebelum Mark bisa berkata sesuatu, Haechan sudah kembali melontarkan pertanyaan berikutnya, kali ini dengan suara lebih pelan—seolah hanya ingin Mark yang mendengarnya. “Semisal… ini normal,” dia menyorotkan pandangannya pada mereka berdua, “Kamu mau ikut bersamaku?”

Jantung Mark berdetak lebih cepat. Ajakan itu terdengar begitu asing, begitu aneh, tetapi entah kenapa, sesuatu dalam dirinya terasa tenang mendengarnya. Hidup bersama Haechan—sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia tidak langsung menjawab, hanya melirik Haechan yang masih menunggu dengan ekspresi penasaran. Setelah beberapa detik, Mark akhirnya berkata dengan suara lebih berat dari sebelumnya, “Kamu… percaya banget sama orang asing.”

Haechan menatapnya lama, lalu senyumnya merekah, lembut dan tulus. “Kalau orangnya kayak kamu, kenapa nggak percaya?”

Mark menelan ludah, pikirannya berputar mencari jawaban yang masuk akal. “Kamu sukses dan masih muda… hidupmu akan sia-sia bersama orang kayak aku.” Perkataannya terdengar dingin, tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu itu tidak benar-benar mencerminkan keinginannya. Dia mengalihkan pandangan ke perapian, membiarkan cahaya api membakar kebimbangan yang perlahan menyelimuti hatinya.

“Yang nentuin sia-sia atau nggaknya itu aku, bukan kamu.”

Hening menggantung di antara mereka. Api perapian memancarkan panas yang semakin terasa, bayangannya menari di wajah Haechan yang tetap menatap Mark dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan—hanya sebuah pertanyaan yang menggantung, menunggu jawaban yang belum pasti.

Mark menghembuskan napas pelan, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Sejak bertemu Haechan, dunianya berubah drastis, seolah keluar dari jalur yang selama ini dianggap normal. Ada sesuatu dalam diri Haechan yang menariknya begitu kuat, membuatnya ingin tetap berada di sisinya, meskipun logikanya berkata sebaliknya.

“Haechan…” Mark membuka mulut, tetapi suaranya menguap begitu saja. Dia tak tahu harus berkata apa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa nyaman dengan seseorang—namun bersamaan dengan itu, terasa menakutkan. “Sejak kapan kamu tahu kalau kamu… begini?”

Haechan mendekat, hingga jaraknya hanya sejengkal dari Mark. Suaranya turun menjadi bisikan yang menyapu telinga Mark, membuat tubuhnya meremang. “Maksudmu, sejak kapan aku tahu kalau aku suka laki-laki?”

Mark menelan ludah, menggigit bibirnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ucapan Haechan begitu tepat sasaran—berani, terang-terangan, dan tanpa ragu sedikit pun.

Haechan menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya menerawang ke arah perapian, lalu suaranya terdengar pelan. “Sejak aku ngerti apa itu cinta, aku tahu aku nggak pernah tertarik sama wanita.” Dia melirik Mark, seolah mencari sesuatu di wajahnya. “Dan aku nggak pernah menyesal.”

Mark menatapnya lama, mencoba memahami keteguhan hati Haechan. Seolah bisa membaca pikirannya, Haechan tersenyum kecil. “Jangan takut, Mark.”

Mark menoleh, menatapnya dengan mata yang dipenuhi kebingungan.

“Aku ngerti kamu masih bingung,” lanjut Haechan, nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi nggak usah terlalu mikirin itu. Sekarang, biarin aku ngajak kamu buat senang-senang.”

Mark menelan ludah, hatinya masih berdebar tak karuan.

“Yang terjadi di Titanic, biarin tetap di Titanic.”

 

 

 

 

Setelah percakapan mereka yang penuh ketegangan, Haechan memutuskan untuk mengajak Mark bersenang-senang dengan cara yang tak biasa. Malam itu, ballroom kelas satu dipenuhi para tamu yang hadir untuk menikmati acara dansa. Para wanita mengenakan gaun indah berlapis renda, sementara para pria tampil gagah dengan jas mereka yang rapi. Musik orkestra memenuhi ruangan, mengiringi langkah-langkah lincah di lantai dansa.

Haechan menyenggol lengan Mark dengan senyum penuh arti. “Tunggu disini sebentar,” bisiknya. “Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Mark hanya bisa mengangguk, meskipun bingung dengan maksudnya. Haechan kemudian pergi, menghilang di antara kerumunan, meninggalkan Mark sendirian di sudut ballroom yang megah. Dia bersandar pada salah satu meja, mengamati orang-orang yang bergerak lincah di atas lantai dansa. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Haechan yang pergi entah kemana.

Beberapa menit berlalu, dan Mark masih menunggu di tempatnya, mulai merasa resah berada di tengah kemewahan yang tidak biasa baginya. Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mengejutkannya. Sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang, membuat tubuhnya sontak menegang.

Mark refleks berbalik, dan menemukan seorang wanita dalam balutan gaun mahal berdiri di hadapannya. Gaun itu berwarna putih dengan bahan sutra yang mengalir indah, topi lebar menutupi sebagian wajahnya, dan sarung tangan putih menambah kesan anggun. Mata Mark membelalak saat wanita itu mengangkat sedikit topinya, memperlihatkan sebagian wajahnya.

Napas Mark terhenti oleh keterkejutan. Itu bukan wanita biasa. Itu—

“Haechan?” Suaranya nyaris tenggelam di antara dentingan musik ballroom.

Haechan tersenyum kecil, bibirnya melengkung penuh arti. “Dua pria berdansa bakal terlihat aneh,” bisiknya pelan, nada suaranya terdengar penuh tantangan.

Mark masih terpaku. Haechan berdiri di hadapannya dengan dandanan yang begitu berbeda, begitu anggun, begitu mengejutkan—begitu cantik. Topi besar itu memang menyembunyikan sebagian wajahnya, tapi Mark bisa melihat matanya yang familiar, menatapnya dengan kilatan nakal.

“Ayo menari, Mark,” kata Haechan, menyodorkan tangannya dengan percaya diri.

Mark menelan ludah, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyadari bahwa tak ada jalan keluar dari permainan ini. Dengan nafas sedikit tertahan, dia meraih tangan Haechan—dan untuk pertama kalinya, dia melangkah ke lantai dansa bersama seseorang yang begitu mengguncang dunianya.

Malam itu, malam yang tidak pernah Mark pikirkan akan terjadi dalam hidupnya, malam yang berdebarkan. Suasana ruang dansa begitu memikat dengan cahaya lembut dari lampu gantung seolah-olah memberikan sentuhan magis ke setiap sudut ballroom. Musik mengalun pelan, iramanya mungkin tidak familier buat Mark, tapi entah kenapa terdengar indah, seakan menyuruh mereka untuk bersatu dalam tarian.

Haechan, dengan penampilan yang begitu menawan, berdiri di hadapan Mark. Gaun putih panjang yang dikenakannya berkilau di bawah cahaya, berpadu sempurna dengan langkahnya yang anggun. Kainnya melambai lembut setiap kali Haechan bergerak, menambah aura elegan dan memikat. Wajahnya yang memukau tertutup topi, membuat penampilannya semakin terlihat menggoda.

Mark terpana, matanya tidak bisa lepas dari sosok Haechan yang kini seperti bintang yang bersinar di hadapannya. Haechan melangkah mendekat, membiarkan tubuh mereka menyatu dalam tarian yang begitu indah, penuh ketegangan yang mulai terasa di udara. Haechan memeluk leher Mark dengan tangan yang penuh kelembutan, namun ada sedikit kekuatan dalam pelukannya. Tatapannya penuh makna, menantang, dan membuat jantung Mark berdegup lebih cepat.

Mereka bergerak mengikuti irama musik yang mengalir, tetapi seiring berjalannya waktu, Haechan semakin mendekatkan tubuhnya pada Mark, seolah ingin membuat detik-detik ini terasa lebih intim. Ketegangan semakin terasa, dan setiap gerakan mereka semakin dekat, seperti tarian yang tak hanya melibatkan tubuh, tapi juga hati dan perasaan yang tak terucapkan.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, Haechan mencondongkan tubuhnya ke arah Mark, mendekatkan wajahnya dengan penuh godaan. Haechan bisa merasakan detak jantung Mark yang semakin cepat, tapi dia tidak berniat untuk membuatnya kabur. Sebaliknya, Haechan ingin menjadikannya lebih dekat, lebih intens.

Dengan suara lembut, namun menggoda, Haechan mulai bernyanyi, suara merdu itu terdengar begitu dekat di telinga Mark. “Ku ingin tahu, apakah kamu merasakannya juga…” Haechan menyanyikan setiap kata dengan ketulusan, namun nada suaranya penuh dengan godaan. “Apakah kamu... menginginkanku?”

Suara Haechan seperti bisikan yang menghangatkan telinga Mark, membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang lebih dari sekadar tarian ini. Setiap kata yang keluar dari bibir Haechan membuat suhu tubuh Mark meningkat, dan seiring berjalannya waktu, rasa cemas dan ketegangan itu semakin kuat.

Mark bisa merasakan betapa dekatnya mereka—bau harum parfum Haechan semakin memenuhi inderanya, dan sentuhan lembut tangan Haechan di lehernya hanya membuat semuanya terasa semakin nyata. Wajah Haechan semakin mendekat, dan sejenak, Mark bisa merasakan nafasnya yang hangat.

Haechan menyanyikan kata-kata itu dengan penuh arti, seakan mengajukan pertanyaan besar yang sulit untuk dijawab. Mark merasa tubuhnya kaku, hati bimbang. Rasa takut mulai menguasai, tetapi ada dorongan lain yang tak bisa dia hindari, dorongan untuk mengikuti kata hati dan perasaan yang semakin menguat.

“Tunggu… Haechan,” Mark mengucapkan kata itu, suara berat dan sedikit bergetar. Rasa takut dan kebingungannya semakin jelas di wajahnya. “Aku nggak tahu harus gimana…”

Haechan tersenyum manis, namun ada sesuatu di balik senyuman itu. “Bukannya udah aku bilang buat jangan takut?” tanyanya santai.

Mark tidak bisa menjawab. Dia merasa terjebak dalam permainan yang dimainkan Haechan, di antara godaan dan rasa ingin tahu yang semakin besar. Tapi saat Haechan mendekat lebih jauh lagi, Mark merasakan ketegangan itu semakin membara.

Tiba-tiba, Mark menarik Haechan, membawanya secara perlahan keluar dari ballroom, meninggalkan keramaian di belakang mereka. Suasana sepi, hanya ada suara langkah kaki mereka yang terdengar jelas di koridor yang gelap. Mark menatap Haechan, bibirnya sedikit terbuka, masih mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya.

Mereka berhenti di ujung koridor, jauh dari keramaian. Mark merasa detak jantungnya semakin kencang, semakin terasa panasnya udara di sekitarnya. Haechan masih tersenyum dengan tatapan yang penuh arti, matanya memancarkan rasa ingin tahu dan tantangan.

“Kenapa kamu bawa aku ke sini, Mark? Kita mau ngapain?” tanya Haechan, suara lembutnya begitu menggoda.

Mark menatap wajah Haechan, matanya mencari jawaban di sana. Perasaan yang dia rasakan begitu rumit, tetapi hatinya sudah membuat keputusan. Dengan keberanian yang semakin membesar, Mark akhirnya berkata dengan suara yang tak terduga, “Aku nggak mau ragu lagi, Haechan. Aku… nggak mau takut lagi.”

Dengan gerakan yang penuh tekad, Mark melepas topi Haechan dan menjatuhkan ke lantai, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Haechan. Ada getaran dalam dadanya, tapi dia tahu ini saat yang tepat. Dengan perlahan, Mark mengecup bibir Haechan, lembut namun penuh hasrat, membiarkan perasaan yang selama ini terpendam mengalir begitu saja.

Ciuman itu membuat waktu seakan berhenti. Setiap detik terasa begitu panjang, dan dalam ciuman itu, mereka menyatukan perasaan yang selama beberapa hari ini tak terucapkan. Mark bisa merasakan kehangatan tubuh Haechan, bagaimana ciuman itu semakin mendalam, dan akhirnya semua keraguan itu menghilang begitu saja.

Haechan membalas ciuman itu, dengan penuh gairah, seolah ingin menunjukkan bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Setelah beberapa detik, mereka terpisah, napas mereka terengah-engah. Haechan menatap Mark dengan senyum yang lebar, penuh kepuasan.

“Akhirnya kamu ngikutin kata hatimu,” kata Haechan dengan suara penuh arti.

Mark hanya bisa tersenyum canggung, matanya masih tak bisa lepas dari bibir Haechan yang kini begitu dekat. Momen itu terasa begitu sempurna, seperti dunia mereka berdua yang baru saja dimulai.

 

 

 

 

Mau bagaimanapun, Mark seharusnya merasa tidak nyaman. Terlebih karena dia bukan bagian dari dunia ini—dunia orang-orang kelas atas yang, bahkan di tengah lautan, masih bisa menikmati kemewahan air panas seolah-olah tidak sedang diombang-ambing oleh samudra yang luas. Namun, Haechan, dengan segala keberaniannya, selalu berhasil menyeret Mark masuk ke dalam dunia itu.

Sore itu, setelah seharian menikmati pemandangan laut di dek, Haechan mengajaknya ke pemandian air panas yang terletak di salah satu bagian eksklusif kapal. Ruangan itu dipenuhi uap tebal dengan cahaya remang-remang, menciptakan suasana yang terasa seperti mimpi. Tidak ada orang lain di sana, karena kepopuleran Haechan memberinya akses untuk berendam di sana sendirian.

“Aku nggak yakin boleh berada di sini,” gumam Mark, menatap setiap sudut pemandian.

Haechan sudah lebih dulu melepas bajunya dan masuk ke dalam air panas, bersandar santai di tepi kolam, tubuhnya tenggelam hingga sebatas dada. “Mark, kamu udah berani nyelinap berkali-kali.”

Mark berdiri di pinggir kolam, masih mengenakan pakaian lengkap. “Tapi aku nggak bawa baju ganti.”

“Untuk apa baju ganti?” Haechan mengangkat alis, menggoda. “Kamu tinggal lepas bajumu, kayak aku.”

Mark merasa wajahnya memanas, bukan karena uap air. “Oh.”

Haechan terkekeh. “Lepaslah, aku nggak bakal ngintip.”

Mark melirik ke pintu dan memastikan lagi tidak ada orang lain yang masuk. Keberadaannya di sini jelas merupakan pelanggaran—sebagai penumpang kelas tiga, fasilitas ini terlalu mewah untuknya. Namun, Haechan sudah berkali-kali meyakinkan bahwa sore ini pemandian hanya untuk mereka berdua.

Dengan rasa malu-malu, Mark melepaskan bajunya dan menaruhnya di bangku terdekat, lalu melangkah masuk ke dalam air. Begitu tubuhnya merasakan kehangatan itu, rasa lelah di otot-ototnya mencair begitu saja.

“Enak, kan?” Suara Haechan terdengar puas.

Mark mengangguk setuju. “Dari semua tempat, kenapa kita harus ke sini?”

Haechan mencondongkan tubuh sedikit, uap air membingkai wajahnya dengan sempurna. “Karena aku mau berduaan sama kamu.”

Mark merasakan dadanya berdebar. Semalam masih terasa seperti mimpi—Haechan mengenakan gaun, perasaannya terhadap Haechan, dan ciuman panas mereka. Semuanya terasa begitu tidak nyata.

Haechan tersenyum, mengangkat satu tangannya dan mencipratkan sedikit air ke arah Mark. “Jangan tegang-tegang, Mark.”

Mark mengerjap, lalu menghela napas. “Aku nggak tegang.”

“Oh?” Haechan bersandar lagi, ekspresinya nakal. “Jadi kalau aku mendekat, kamu nggak bakal panik kan?”

Mark menelan ludah. “Haechan—”

Namun, Haechan sudah bergerak, mendekat dengan mudah di dalam air, hanya beberapa inci dari Mark. Mark bisa mencium aroma sabun dari kulitnya, dan melihat bulir air yang menetes dari rambutnya, jatuh ke garis rahangnya.

“Apa?” Haechan bertanya dengan nada main-main. “Aku cuma mau ngobrol lebih dekat.”

Mark merasa pipinya memerah, malu tapi tidak menolak. “Bukannya ini terlalu dekat?”

“Tapi aku suka,” Haechan tersenyum, dan ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat perut Mark terasa penuh kupu-kupu.

Mungkin seharusnya dia takut. Mungkin dia seharusnya mundur. Namun, Mark tidak melakukannya. Sebaliknya, tangannya bergerak sendiri, melingkar di pinggang Haechan dan menariknya lebih dekat. Haechan terkejut sesaat, namun segera tersenyum menggoda.

“Siapa yang udah mulai berani?” gumam Haechan, suaranya rendah seperti bisikan.

Mark menatap matanya dalam-dalam. “Kamu yang ngajarin.”

Haechan tertawa pelan, lalu menyandarkan kedua lengannya di bahu Mark dengan santai. “Aku nggak keberatan.”

Mereka begitu dekat sekarang, napas Haechan menghangatkan kulit Mark. Jantung Mark berdebar kencang, tapi dia tidak ingin melepaskannya. Tidak sekarang. Tidak ketika Haechan ada di sini, dalam genggamannya.

Mark tidak tahu apakah itu karena air panas yang mengelilingi mereka, atau karena sentuhan Haechan yang begitu nyata di kulitnya, tapi tubuhnya terasa terbakar. Setiap detik yang berlalu semakin memadatkan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tiba-tiba, Haechan melepaskan tubuhnya dari Mark, senyumnya terlihat sedih. Dengan hati-hati, dia berkata, “Mark... besok kapal bakal sampai.”

Kata-kata itu memecah keheningan dan menghantam dada Mark. Dunia seakan runtuh. Semua perasaan yang sempat dia coba sembunyikan, semua kebahagiaan yang didapatkan di kapal ini, terasa rapuh. Mark baru menyadari bahwa perjalanan ini akan segera berakhir. Besok, saat kapal Titanic tiba di New York, semuanya akan berubah. Mark harus melangkah ke kehidupannya yang baru—mencari tempat tinggal, pekerjaan, dan memulai segalanya tanpa Haechan. Tanpa pria itu yang telah mengisi hari-harinya. Haechan, dengan segala kemewahan dan dunia yang jauh berbeda, mungkin akan kembali ke Inggris dan melanjutkan karirnya di dunia yang tak dapat dijangkau oleh Mark. Semua yang mereka miliki di sini akan segera menjadi kenangan yang perlahan akan dilupakan.

“Aku... nggak mau pisah,” bisik Mark, suaranya rapuh, penuh keputusasaan.

Haechan mengangkat tangan dan meraih pipi Mark dengan lembut, seakan ingin menyampaikan sesuatu lebih dari sekadar kata-kata. “Gimana kalau kita lari bersama?” ujarnya pelan, matanya penuh harapan. “Kita bisa mulai hidup baru, jauh dari semua yang menahan kita di sini. Aku nggak mau pisah sama kamu, Mark. Aku mau kita berdua pergi ke tempat baru, jauh dari ini semua.”

Mark menatap Haechan dengan keraguan di matanya. “Haechan, kamu tahu kan itu nggak mungkin?” Suaranya terdengar putus asa. “Kamu punya sesuatu yang nggak bisa kamu tinggalin. Kamu... penyanyi terkenal, ada banyak orang yang bergantung sama kamu. Sedangkan aku cuma orang biasa. Aku nggak bisa minta kamu buat ninggalin semuanya.”

Haechan mendengus pelan, tampak kesal dengan kenyataan yang Mark ungkapkan. “Aku nggak peduli, Mark. Aku lebih peduli sama kita. Kenapa kita nggak coba?” Suaranya sedikit lebih tinggi, penuh emosi.

Mark menggeleng pelan, matanya penuh perasaan yang bercampur aduk. “Aku... aku juga nggak mau pisah, Haechan. Tapi kita nggak bisa terus kayak gini. Kita berasal dari dunia yang beda. Aku nggak mau kamu menyesal ninggalin semuanya karena terbawa suasana.”

Ada hening sejenak di antara mereka, hanya suara uap air yang terdengar. Haechan menatap Mark dalam diam, mencoba menyaring setiap kata yang baru saja diucapkan. “Jadi, kamu benar-benar yakin kita nggak bisa bersama? Mungkin kita nggak bisa sekarang, tapi apa kamu nggak mau coba?”

Mark menarik napas dalam-dalam, menatap Haechan dengan tatapan serius, tapi ada sesuatu di matanya yang tampak rapuh. “Haechan, aku nggak tahu. Tapi aku nggak bisa lihat kamu kecewa karena memilih aku, apalagi kalau itu berarti kamu harus ninggalin semuanya.”

Haechan menghela napas berat, perasaannya tertahan di dadanya. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Mark,” ucapnya akhirnya, lebih lembut, dengan ekspresi yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi aku juga nggak bisa maksa kamu buat ikut ke dunia yang aku jalani. Aku berharap kita punya waktu lebih banyak.”

Mark merasakan hatinya terasa berat. “Aku juga,” katanya pelan, “Tapi dunia kita nggak akan pernah cocok. Aku... aku nggak bisa bawa kamu ke tempat yang kamu mau. Aku nggak bisa kasih kamu apa-apa yang layak kamu dapatkan.”

Mereka terdiam sejenak, saling menatap dalam hening, merasakan kedalaman perasaan yang terpendam tanpa berani mengungkapkannya. Tidak perlu kata cinta untuk mengetahui bahwa keduanya saling menginginkan lebih, meskipun sadar bahwa kenyataan takkan pernah bisa diubah.

“Mark?” Haechan memecah keheningan, tatapannya penuh makna. “Jika dunia kita memang harus beda, biarin malam ini jadi milik kita.”

 

 

 

 

Kabin Haechan terletak di bagian kapal yang lebih eksklusif, memberikan kesan mewah sejak pertama kali memasuki ruangan. Dinding kayu berwarna gelap dengan ukiran halus menghiasi setiap sudut, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya lembut yang menambah nuansa elegan. Di sudut kabin, terdapat jendela besar yang menghadap ke laut, dengan tirai tebal yang bisa ditarik untuk menjaga privasi. Lantai kayu yang halus dilapisi karpet tebal berwarna merah marun, menciptakan kesan nyaman namun tetap berkelas.

Di tengah ruangan, tempat tidur besar dengan sprei putih bersih dan bantal empuk menyambut siapa pun yang ingin beristirahat. Meja rias dan lemari kayu berada di pinggir tempat tidur, menambah kesan rapi dan terorganisir. Sudut kabin dihiasi dengan pot tanaman hijau yang segar, memberikan kontras alami yang menyegarkan di tengah kemewahan ruangan. Kabin ini terasa seperti tempat perlindungan pribadi yang tersembunyi, terisolasi di tengah samudra yang luas.

Haechan, yang masih mengenakan jubah mandi, duduk santai di pinggir kasur. “Kenapa berdiri saja?” tanyanya sambil menepuk posisi kosong di sebelahnya, mengundang Mark untuk duduk.

Mark memandang Haechan sejenak, masih terpesona oleh kenyamanan kabin yang terasa begitu jauh dari dunia luar. Namun, tatapan Haechan yang penuh ajakan itu membuat Mark akhirnya melangkah mendekat dan duduk tepat di sebelah Haechan. Udara malam itu terasa berat, hangat, dan dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan.

Haechan mendekat sedikit, tubuhnya yang masih hangat setelah mandi seolah semakin memanaskan ruang di antara mereka. “Mark,” panggil Haechan dengan suara rendah yang penuh arti. “Aku nggak mau malam ini berlalu begitu saja.”

Mark menelan ludahnya, tangannya sedikit gemetar saat meraih pipi Haechan, memperhatikan lelaki itu menutup matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan. Mark tahu betul ke mana arah ini akan membawa mereka. 

“Haechan…” ucapan Mark terhenti, jemarinya masih melayang lembut di wajah Haechan. Haechan hanya berdehem pelan, tidak membuka matanya. “Aku... nggak pernah ngelakuin ini… sama laki-laki sebelumnya.”

Mata Haechan terbuka seketika, dia tersenyum lebar sebelum berdiri, membiarkan tangan Mark terlepas dari dirinya. Tanpa memberi peringatan, Haechan langsung duduk di pangkuan Mark, membuat Mark terkejut setengah mati. “Mau aku yang mimpin?” ujar Haechan dengan nada menggoda.

Belum sempat Mark mengangguk, Haechan sudah menyatukan kedua bibir mereka. Ciuman itu begitu lembut namun penuh gairah, membuat Mark kehilangan kendali. Semua keraguan, ketakutan, kebimbangan, dan masalah yang ada seakan hilang sejenak, tergantikan oleh bibir merah Haechan yang terus bermain dengan penuh hasrat.

Kedua tangan Mark merangkul pinggang Haechan, secara naluriah menarik tubuhnya lebih dekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Mark bukanlah sosok yang kurang berpengalaman—dia tahu betul bagaimana cara membuat semuanya terasa lebih intim, lebih panas, dan lebih memuaskan. Tapi untuk saat ini, dia lebih suka melihat Haechan mengambil kendali atas dirinya.

“Sentuh aku, Mark,” lirih Haechan penuh nafsu, membawa tangan Mark pada dadanya yang berlapis jubah mandi. 

Mark sudah melihat Haechan bertelanjang dada saat berendam di air panas tadi, dan kini, ketika jubah mandi itu akhirnya jatuh ke lantai, dia bisa merasakan kulitnya yang mulus tanpa bulu, dadanya yang sedikit berisi, dan putingnya mengacung tegak. Baru satu belaian, Haechan berjengit seperti tersengat aliran listrik, mengeluarkan desahan manja ke telinga Mark, berhasil mendorong lelaki itu untuk menyentil, memijat, dan memilin kedua puting itu hingga memerah.

Haechan terlihat keenakan—kepalanya mendongak, bibirnya terbuka, kakinya mengangkang, dan badannya membusung. Mark semakin terangsang, matanya tidak lepas dari dada Haechan.

“Jangan bandingin sama punya mantan istri kamu.” Haechan merengut, seakan dapat membaca pikiran Mark, wajahnya sudah merah padam.

Mark tergelak, merasa tingkah Haechan sangat manis. “Siapa yang mikirin?” Dia bahkan sudah nggak memikirkan mantan istrinya semenjak bersama Haechan. Menangkup wajah Haechan yang masih merengut, Mark berkata dengan jahil, “Aku suka dada yang kecil.” Lalu membawanya kembali ke dalam ciuman. Kali ini dia tergesa-gesa, bibirnya menghisap, gigi mereka terantuk, air liur bercampur, dan lidahnya bermain di rongga mulut Haechan.

“Hmph,” Haechan mendesah di tengah-tengah ciuman, terlebih ketika tangan Mark yang lain mulai turun hingga ke bagian dalam pahanya, mengusap-usap halus di sana. 

Suara cumbuan yang memenuhi kabin malam itu, terdengar erotis. Mark sudah lama tidak setegang, senafsu, dan senakal ini bersama seseorang. Bersama seorang laki-laki cantik yang nakal dan selalu seenaknya sendiri, tapi Mark tidak pernah bisa menolak. Dia menyukai setiap hal yang Haechan lakukan—“Ahngh,” satu erangan hebat meluncur dari bibir Mark, dia merasakan jemari Haechan menyusup hingga ke celana dalam, memegang penisnya yang ereksi.

Menarik celana dalam Mark sebatas buah zakar, Haechan menyaksikan penis itu melengkung ke atas, lalu berkomentar dengan napas tertahan, “Punya kamu besar.”

Mark merasakan wajahnya terbakar rasa malu. Sekarang, Haechan sudah melihat semuanya—kebingungan, kerapuhan, dan kelemahannya. Karena setelah itu, tangan Haechan mulai mengurut penis Mark, mengamati bagaimana pinggang Mark bergetar dibawah kontrolnya. Dia meludahi kepala penis Mark, melumasi batangnya yang kering itu lalu mempercepat irama kocokan—rasanya enak, Mark tidak ingin ini berhenti, ingin selamanya merasa keenakan sampai bodoh.

“Mark, sentuh punyaku juga.” Bisik Haechan, tangannya masih memuaskan Mark.

Ini adalah yang pertama kalinya buat Mark, melihat penis laki-laki lain. Rasanya asing, tapi Mark tidak bisa berhenti berdebar. Ukurannya tidak jauh berbeda dari Mark, dan kini, berdiri tegak. Saat Mark menyentuhnya, tubuh Haechan meremang hebat. Pinggang Haechan terangkat kepada Mark, menyuruh lelaki itu untuk menyentuhnya dengan lebih kuat. Dan Mark, menikmati bagaimana Haechan melemah dibawah kocokannya.

Mereka tenggelam dalam kenikmatan masing-masing, beradu desah tanpa rasa malu. Akal sehat seperti hilang begitu saja, tergantikan oleh Mark yang telentang di ranjang, dan Haechan yang berada di atasnya, menggoyang penis Mark dalam lubang analnya. Haechan tidak terlihat seperti amatir—goyangannya sanggup membuat Mark mabuk kepayang.

“Enakan aku atau mantan istri kamu?” tanya Haechan, bulir keringat dari pelipisnya jatuh ke rahang, pantatnya bergerak naik turun tidak beraturan, penisnya meloncat mengenai perut.

Jika Mark tidak lagi di kondisi seperti ini, dia pasti akan tertawa. Kapan terakhir kali dia menghabiskan malam dengan mantan istrinya saja, Mark tidak ingat. Dalam pikirannya hanya ada Haechan, dan dalam genggamannya hanya ada pantat berisi Haechan yang dia pegang sebagai pelampiasan. 

“Enakan Haechan.” Mendengar jawaban Mark, Haechan mempercepat goyangan pantatnya begitu juga kocokan pada penisnya sendiri, mengejar klimaks yang sebentar lagi meletup. Matanya memutar ke belakang, bibirnya terbuka lebar, pinggangnya bergetar hebat. Tidak perlu waktu lama buat Haechan mencapai pelepasannya, air mani muncrat hingga mengenai wajah diikuti lengkingan erotis yang memenuhi kabin. Badannya lemas dan tak berdaya, jatuh ke dalam pelukan Mark.

Di satu sisi, Mark yang sudah diujung, langsung mengubah posisi keduanya, membiarkan Haechan telentang di atas ranjang dengan kaki yang terbuka lebar. Tanpa memedulikan Haechan yang masih sensitif, dia membawa dirinya masuk untuk mengejar kepuasan batin—keluar masuk berulang kali hingga dirasa gelombang orgasme akan menghantam tubuhnya, Mark langsung mencabut penisnya, mengocok kuat berkali-kali, dan mengerang keras ketika air maninya tumpah di atas perut Haechan. Mark  langsung tumbang ke sebelah Haechan.

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat, keduanya menikmati ketenangan setelah seks yang penuh gairah. Haechan menjadi yang pertama sadar, kemudian dia memeluk Mark dari samping, tubuhnya basah oleh keringat dan air mani. Suaranya terdengar serak saat dia memecah keheningan, “Kayaknya... aku nggak bakal bisa ngelupain kamu, Mark.”

Mark menatap Haechan dengan intens, hatinya dipenuhi perasaan yang sulit diungkapkan. Dia membalas pelukan itu dengan lembut, menundukkan wajahnya dan memberikan ciuman di bibir Haechan, “Aku juga... aku bakal kangen kamu lebih dari yang kamu tahu, Haechan.”

 

 

 

 

Pagi itu, Mark terbangun di kabin Haechan. Cahaya matahari menembus jendela, menyapu tubuh mereka yang masih bersandar satu sama lain. Haechan masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai—pemandangan yang mungkin tidak akan pernah Mark lihat lagi.  

Hari ini adalah hari terakhir mereka di atas Titanic. Begitu kapal merapat di pelabuhan New York, mereka akan berpisah, meninggalkan semua yang terjadi di sini sebagai kenangan yang perlahan memudar.  

Dengan hati yang terasa berat, Mark perlahan bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi pribadi Haechan untuk membersihkan diri, membiarkan air hangat mengalir di kulitnya sementara pikirannya terus berkelana. Ketika dia keluar, Haechan sudah terjaga, duduk di tepi ranjang, selimut putih masih membungkus tubuhnya. Tatapan mereka bertemu—dan hening.  

“Mau pergi?” tanya Haechan kemudian, suaranya serak.  

Mark menelan ludah, lalu mengangguk. “Aku harus balik ke kabin.”  

Senyum kecil muncul di bibir Haechan, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sulit Mark pahami. Dengan langkah pelan, dia bangkit dari tempat tidur, masih berbalut selimut, lalu mendekat. Jemarinya yang hangat menyentuh wajah Mark dengan lembut, seolah ingin menghafalkan setiap lekuknya.  

“Senang mengenalmu, Mark,” bisiknya.  

Mark ingin mengatakan bahwa dia juga sangat senang mengenal Haechan, bahwa pertemuan ini telah mengubahnya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah ciuman singkat di kening Haechan sebelum dia melangkah pergi dari kabin Haechan—dan keluar dari hidup lelaki itu.

 

 

 

 

Mark kembali ke kabin kelas tiga, membereskan barang-barangnya tanpa benar-benar berpikir. Tangannya bergerak otomatis, sementara pikirannya masih tertinggal di kabin Haechan. Dadanya terasa berat, seakan sesuatu dalam dirinya menghilang.  

Dia duduk di ranjang, menatap langit-langit kabin dengan kosong. Titanic, kapal yang katanya menjadi impian banyak orang, mungkin memang benar adanya. Bukan karena kemegahannya, tapi karena di sinilah Mark bertemu Haechan. Sosok yang datang tanpa diduga, menjadi impian indah yang terasa pahit untuknya.

Mark menghembuskan napas panjang. Setelah tiba di Amerika, hidupnya akan kembali seperti biasa. Mencari tempat tinggal murah, bekerja di pabrik, dan menjalani hari-hari tanpa arah—sendiri, seperti sebelum ini. Sendiri, setelah perceraiannya. Dan sekarang, sendiri, setelah bertemu Haechan.  

Bohong jika dia tidak tergoda dengan kata-kata Haechan yang ingin pergi bersamanya. Sesuatu dalam hati Mark tergerak, ingin percaya bahwa mereka bisa menghadapi dunia bersama. Tapi nyatanya, Haechan terlalu bersinar untuk seseorang seperti dirinya yang sudah lama tenggelam dalam kegelapan. Dia tidak bisa menghidupi Haechan, malah mungkin hanya menjadi beban lelaki itu. Dan dua pria yang tinggal bersama di tengah masyarakat seperti ini, hanya akan memperumit segalanya. Mark sadar kalau semua ini hanya euforia sesaat, bahwa mereka terlalu terbawa suasana di atas kapal dan lupa berpikir jernih. Mengikuti orang asing mungkin bukanlah pilihan yang logis—tapi kenapa hidup bersama Haechan terdengar begitu menyenangkan?  

Dia mengusap wajah, merasa sesak. Pikirannya berputar tanpa henti, bertarung dengan keinginan hatinya. Mark butuh udara segar. Butuh rokok pahit untuk menyadarkan akal sehatnya.

Mark meraih kopernya dan berjalan ke dek terbuka, meninggalkan kabin yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempatnya beristirahat. Angin laut menerpa wajahnya saat dia mencari sudut yang sepi. Di sana, dia meletakkan kopernya di dekat kaki, menyelipkan tangan ke dalam saku, mencari kotak rokok. Namun, sesuatu yang lain terjatuh—selembar kertas terlipat.  

Dahi Mark berkerut saat mengambilnya. Dia membuka lipatan kertas itu dan menemukan tulisan tangan yang begitu asing.  

“Untuk Mark, lelaki tampan yang menghabiskan hari-hari di atas kapal bersamaku.”

Napas Mark tercekat.  

“Aku ingat pertama kali melihatmu di dek bawah, berdiri sendirian di antara kerumunan kelas tiga, terlihat linglung seolah kehilangan arah. Kamu, lelaki yang menarik perhatianku, membuatku melangkah ke penjuru dek hanya untuk menemukanmu lagi menatap laut di dek sekoci. Malam itu menjadi awal segalanya, ditemani asap rokok yang mengudara.”

Haechan benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Setiap kata terasa seperti belati yang menusuk dadanya, membuat Mark mengeratkan pegangan pada pagar dek.  

“Aku suka hari-hari kita berkeliling kapal, melihat sisi lain Titanic, dari kelas tiga sampai ke ruang mesin. Meskipun kamu masih malu dan ragu dengan orang asing sepertiku, nyatanya kamu nggak pernah benar-benar menolak apa pun yang aku katakan.”

Mark menelan ludah. Memang benar. Dia tidak pernah bisa menolak Haechan. Pesona lelaki itu terlalu kuat, senyumnya terlalu memabukkan, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya selalu berhasil membuat Mark ingin memenuhi apapun keinginannya.  

“Aku suka saat kamu menyelinap diam-diam untuk menonton penampilanku. Hari itu, kamu akhirnya tahu siapa aku sebenarnya. Keraguanmu menghilang, mungkin karena alkohol, mungkin karena aku. Dan malam itu, ketika kamu bilang kamu nggak bisa berhenti menatapku—rasanya aku mau terbang saking senangnya.”

Mark mengusap wajahnya, hatinya terasa terlalu penuh.  

“Aku tahu kamu bimbang dengan banyak hal. Di antara waktu yang kita habiskan bersama, kamu menyadari sesuatu yang asing dalam dirimu. Meskipun dunia mungkin menolak, kamu harus tahu kalau aku di sini, sama seperti kamu. Dan tentang aku dalam balutan gaun saat kita berdansa, aku nggak pernah menunjukkan sosok itu di depan lelaki mana pun—cuma kamu. Bersyukurlah. Tapi aku penasaran, siapa yang lebih cantik, aku atau mantan istrimu?”

Mark terkekeh kecil, meskipun matanya mulai terasa panas. Sampai kapan Haechan akan cemburu seperti ini? Haechan itu cantik. Tampan. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengannya, apalagi mantan istri Mark.  

“Aku menulis surat ini setelah malam panas yang kita lewati. Mungkin, aku nggak akan pernah bisa melupakan sentuhanmu di kulitku, suara nafasmu di telingaku, dan caramu memanggil namaku seolah-olah aku adalah segalanya bagimu. Meskipun segalanya harus berakhir di atas kapal ini, kamu harus tahu kalau aku nggak pernah menyesal bertemu denganmu. Aku akan selalu ingat semua yang terjadi di antara kita.”

Tangan Mark bergetar. Seberapa panjang sebenarnya surat ini? Seberapa besar keinginan Haechan untuk menyiksa perasaannya?  

“Terakhir, selamat menjalani hidup baru di Amerika, dan jangan terlalu sedih. Karena suatu hari, kalau aku mau membuat kapal pribadi, aku akan mencarimu—bahkan sampai ke ujung dunia, Mark.”

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya.  

“Dari Haechan, lelaki yang jatuh cinta padamu dalam pandangan pertama.”

Mark meremas surat itu dengan erat. Jantungnya berdebar keras, tubuhnya terasa panas oleh dorongan yang tidak bisa dia tahan lagi. Dengan satu tarikan napas, dia meraih kopernya dan berlari.

 

 

 

 

New York, 1912

 

Kerumunan orang memenuhi dek Titanic saat kapal akhirnya merapat. Hiruk-pikuk suara penumpang yang bersiap turun bercampur dengan teriakan petugas, derap langkah tergesa-gesa, dan gemuruh mesin kapal yang mulai melepas kendali.  

Mark terhimpit di antara gelombang penumpang kelas tiga yang berebut keluar. Langkahnya tersendat oleh koper-koper besar, tubuh-tubuh yang saling bertabrakan, dan suasana kacau yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Penumpang kelas satu sudah lebih dulu turun, berjalan anggun dengan koper mahal mereka, meninggalkan kapal megah ini tanpa pernah menoleh ke belakang. Tapi Mark tidak peduli.  

Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah Haechan.

Matanya menyapu lautan manusia dengan gelisah, jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Di mana Haechan? Apakah dia sudah turun? Apakah dia sudah pergi?

Dengan sisa tenaga, Mark menerobos maju, mendorong tubuhnya melewati kerumunan, berlari tanpa memedulikan teriakan protes orang-orang di sekitarnya. Napasnya memburu, keringat menetes di pelipisnya, tetapi langkahnya tak berhenti.  

Lalu, di tengah riuhnya pelabuhan, dia melihatnya.

Haechan berdiri di antara penumpang kelas satu, mantel panjang berwarna hitam membalut tubuhnya, rambutnya tertata sempurna, ekspresinya netral—hampir seperti orang asing. Tapi Mark mengenalnya. Mata itu. Postur itu. Cara Haechan berdiri dengan anggun, seakan dunia adalah panggungnya. 

Tanpa pikir panjang, Mark berlari.  

Tangannya meraih pergelangan Haechan, menggenggamnya erat, seakan nyawanya tergantung di sana.  

Haechan tersentak, matanya melebar saat melihat Mark yang terengah-engah di hadapannya.  

“Jangan pergi.”

Suara Mark pecah, putus asa, emosinya meluap tanpa bisa dikendalikan lagi.  

“Izinkan aku ikut bersamamu.”

Haechan masih terdiam, tetapi Mark tidak bisa berhenti bicara. Tidak sekarang.  

“Mau di Amerika, mau di Inggris, aku nggak peduli.”

Matanya liar, penuh kepanikan, penuh ketakutan.  

“Aku bakal kerja keras. Aku bakal ngelakuin apa pun, meski harus mulai dari nol, meski aku harus tidur di jalanan dulu, meski aku harus menghadapi orang-orang yang nggak suka kita—aku nggak peduli.”

Suaranya semakin bergetar, napasnya semakin berat.  

“Aku nggak peduli kalau dunia menentang kita. Aku cuma peduli satu hal—aku maunya kamu.”

Dadanya terasa sesak, pikirannya kacau.  

“Aku nggak tahu bagaimana hidup tanpamu lagi.”

Suara Mark pecah di akhir kalimat, hampir seperti bisikan putus asa. Napasnya tersendat, tubuhnya gemetar. Dia tahu dia seharusnya mengatakan ini lebih cepat, jauh sebelum kapal mencapai pelabuhan, sebelum Haechan melangkah pergi.  

“Sepertinya… aku juga jatuh cinta sama kamu, Haechan.”

Hening.

Tatapan Haechan kosong sejenak, seakan otaknya masih berusaha memproses kata-kata Mark. Lalu, bibirnya terbuka, tetapi yang keluar bukanlah kata-kata, tapi tawa lirih.

Tawa yang bergetar, penuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebahagiaan—kelegaan. Dan lalu, air mata turun. 

Haechan tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.  

Mark tertegun, tetapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, Haechan sudah menutup wajahnya dengan satu tangan, bahunya bergetar.  

“Bodoh.” Suaranya pecah di antara isakan kecil.  “Kamu bikin aku nangis di tempat umum, dasar bodoh.”

Mark menghembuskan napas tajam, seluruh tubuhnya terasa lemas oleh emosi yang bercampur aduk.  

Haechan masih tertawa kecil di tengah tangisnya, dan entah bagaimana, itu adalah suara terindah yang pernah didengar Mark. Lalu, Haechan menariknya dalam pelukan erat.  

Mark menutup matanya, tenggelam dalam kehangatan yang selama ini dia pikir akan hilang selamanya.  

Tubuh Haechan terasa rapuh dalam dekapannya, tetapi genggamannya begitu kuat—seakan dia juga tidak ingin melepaskan Mark lagi.  

Lalu, suara lirih Haechan terdengar di telinganya, “Jangan pernah berhenti ngelihat aku lagi… atau aku bakal benar-benar nyari kamu sampai ke ujung dunia, Mark.”

Mark tersenyum kecil, matanya masih basah, jemarinya mencengkram kuat mantel Haechan.  “Aku nggak bakal biarin kamu nyari terlalu jauh, Haechan.”

Di tengah hiruk-pikuk pelabuhan, di antara ratusan manusia yang sibuk dengan hidup mereka masing-masing, kedua lelaki itu akhirnya menemukan rumah mereka dalam satu sama lain.

Notes:

Thank you for reading! ♡ (no repost & translate)

X/Twitter: @haechansssi