Work Text:
Chan tak akan pernah lupa, hari dimana Minho pertama kali membawa seekor kucing kecil dalam buntalan kain syal merah pada pelukannya. Dalam perjalanan mencari bus terakhir di musim dingin bulan Januari. Dalam rintikan hujan salju menutupi tenggelamnya sinar matahari. Tiga belas tahun Lee Minho menghilang, terlepas dari genggaman tangan, dan berlari menjauh tanpa peduli sahutan dari Chan.
Jika saja tak ada tumpukan salju di tanah, maka Chan sudah berlari, tanpa takut bokongnya akan sakit akibat terpeleset. Bukanya justru hanya berteriak, sampai suaranya menjadi serak. Ia tak suka musim dingin, ia benci dengan salju. Semua hal dari bulan November hingga Februari adalah masalah besar bagi Chan. Yang ingin ia lakukan hanyalah berdiam diri di rumah dengan coklat panas dan selimut tebal. Bukannya harus terjebak di hujan salju sehabis les piano dan mendapati Minho menghilang dalam perjalanan pulang.
Tangan Chan sudah memerah akibat kedinginan saat Minho kembali, dengan satu buntalan syal berisi kucing kecil berwarna oranye. Ia menganga karena kaget dan kesal, tapi Minho justru tersenyum lebar sambil mengangkat kucing kecil tepat di hadapan.
“Lihat, namanya Soonie.”
PIM PIM
Pada akhirnya Chan harus terpaksa berlari di jalan bersalju sejauh seratus meter untuk mengejar bus terakhir di sore hari bulan Januari.
____
Chan, namanya Soonie, s-o-o-n-i-e. Bukan sumi, sunyi, apalagi kucing jelek!
“Meow.”
“Berisik, kucing brengsek!”
Chan memijat keningnya yang berkedut akibat pusing. Ia baru saja tidur satu jam yang lalu dan seekor kucing sudah membangunkannya dengan mengeong tak mau berhenti. Buruk sekali, di luar hujan salju terus turun. Mungkin sekarang sedang terjadi badai, tapi Chan terlalu malas untuk peduli.
Selimut tebal kembali Chan naikkan, berusaha untuk kembali memejamkan mata. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, tapi Chan butuh tidur siang akibat hidupnya yang seperti kelelawar. Bahkan walau suara ngeongan kucing di bawah ranjang semakin terdengar keras, ia memilih untuk menenggelamkan seluruh tubuhnya, alih-alih terbangun untuk sekedar memberi simpati.
Lima menit berlalu suara ngeongan berhenti, Chan pikir setelah ini ia akan dengan segera mencapai dunia mimpi. Hampir, sebelum sebuah beban berat melompat ke arah tubuhnya, membuat Chan terlonjak kaget dan bangun dengan segera. Buntalan hewan berwarna oranye di atas dada mengeong kecil, mendengus dagu Chan mencari atensi.
“Meow.”
Mata Chan terpejam menahan emosi. “Mau mu apa sialan,” desisnya marah.
Soonie berkedip menatap Chan. Ia mendengkur, semakin gencar mendengusi dagu milik sang tuan. “Meow.”
Satu tangan Chan hentakkan, membuat Soonie terjatuh, tersungkur di lantai dengan suara ngeongan keras. Ia bangkit, terduduk dengan sedikit susah payah dan menatap Chan masih dengan pandangan yang sama.
“Berhenti menatapku seperti itu sialan, kamu membuat ku muak.”
Kamu membuatku teringat dengan seseorang
Tapi Soonie mungkin tidak memahami situasi. Ia mendekat ke arah kaki Chan yang terjulur di lantai, lalu bermanja di sana. Kembali bermaksud untuk mendapatkan atensi, atau setidaknya sebuah tepukan hangat di puncuk kepala. Bukannya justru mendapat sebuah tendangan yang membuatnya kembali tersungkur ke belakang.
Chan menggeram frustasi sambil mengacak rambutnya yang berantakan. Membuat Soonie meringkuk, dan memandangnya dengan mata ketakutan.
“Meow.”
“Jangan ganggu aku!”
Pada akhirnya Chan memilih bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju Soonie dan mengangkatnya dengan sebelah tangan. Membawa si buntalan bulu menuju pintu dan meletakkannya di luar kamar. Mengabaikan bagaimana Soonie mengeong keras tak ingin berpisah dengan Chan.
“Jangan berani masuk ke kamar lagi.”
Pintu kamar dibanting keras. Sengaja dikunci dari dalam walaupun Soonie pun tetap tak akan bisa masuk tanpa itu. Chan telak mengabaikan suara ngeongan dan cakaran pada pintu kayu dari arah luar. Ia mendengus saat suara ngeongan semakin keras dan terdengar frustasi.
Chan, jangan kasar-kasar dengan Soonie!
Rambut sewarna arang Chan usak kasar. Ia banting tubuhnya ke arah ranjang dan mengeram dalam.
“Sialan, aku tidak bisa tidur lagi.”
_____
knock knock knock
“Chan, buka pintunya!”
“Chan!”
Chan lagi-lagi mengeram dalam tidurnya. Sial, kenapa semuanya seakan-akan senang sekali mengganggu waktu tidurnya yang berharga. Entah itu kucing atau manusia, sama saja. Suara gedoran pintu dari arah luar kamar semakin keras, bahkan Chan yakin bahwa pintunya sekarang tengah ditendang dengan brutal. Tapi ia tetap tidak peduli.
“BUKA PINTUNYA, ATAU AKU DOBRAK!”
“Ck, iya sebentar!”
Chan dengan hati kesal setengah mampus akhirnya turun dari ranjang. Berjalan menuju pintu kamar dengan kaki dihentakkan. Lalu membuka pintu dengan kasar membuat pria di sisi yang lain terlonjak kaget.
“APA?” Tanya Chan.
“Bikin kaget saja.”
Kim Seungmin mengelus dadanya yang masih berdebar akibat serangan rasa kaget. Sebelum ia mendongak untuk menatap Chan yang kini memasang wajah kesal dengan kerutan di dahi. Sedetik kemudian ia kembali mengelus dadanya, merasa prihatin.
“Serem, berapa lama nggak tidur?”
Chan berdecak, membuat wajahnya semakin terlihat buruk di mata Seungmin. Ia sangat kacau, dengan lingkar mata hitam, wajah kusut, dan rambut lepek entah berapa lama tidak keramas.
“Aku berniat tidur lima jam, kalau kamu tidak mengganggu ku sialan.”
“Oke, aku minta maaf untuk itu. Tapi,–” Seungmin sengaja menjeda untuk mengambil nafas dalam sebelum kembali bersuara.
“Kapan terakhir kali kamu kasih makan Soonie?” Entah Chan yang salah dengar atau suara Seungmin memang menjadi lebih dalam saat mengatakannya.
Chan mengernyitkan dahi, mendongak untuk berpikir. Butuh waktu lama baginya untuk menjawab, membuat Seungmin yang menunggu kehabisan kesabaran.
“Lupa.”
15 detik Seungmin menunggu dan hanya mendapatkan jawaban menyebalkan. Ia menggeram kesal, menahan dirinya untuk tidak menghadiahi kepala Chan dengan pukulan tangan. Setidaknya Seungmin masih memiliki kontrol diri dengan hanya berteriak mengumpat di depan Chan.
“TOLOL!”
Wajah Chan mengkerut, siap mengajukan protes. Sebelum Seungmin kembali berucap tanpa memberinya waktu berbicara.
“Soonie tidur di depan mangkuknya yang udah kosong. Dia kelaparan tolol. Demi Tuhan, kamu tinggal menuangkan makanan di mangkuknya saja, tidak perlu susah payah menerobos hujan salju untuk membawakannya makan.”
“Dia membuat ku kesal,” Chan berbisik.
“Hah?”
“Dia selalu mengingatkan ku dengan Minho!”
Seungmin lagi-lagi harus menahan hasratnya untuk tidak menghadiahi kepala Chan dengan pukulan tangan.
“MEMANGNYA KENAPA, DASAR PAK TUA GAGAL MOVE ON.”
____
“Kak Minho akan marah kalau dia tahu kamu menelantarkan Soonie seperti sekarang.”
Satu mangkuk sup ayam Seungmin letakkan di hadapan Chan. Ia menghela nafas, sebelum kembali berbicara.
“Bukannya kak Minho sangat menyayangi Soonie? Kalau kamu sayang dengan kak Minho, seharusnya kamu juga sayang dengan Soonie.”
Chan memakan supnya dalam tenang, merasa malas dengan ocehan yang lebih muda.
“Kalau kamu peduli, bawa aja Soonie ke rumah mu- ouch!”
Satu pukulan dari sendok makan, Seungmin hadiahkan ke kepala Chan.
“Kalau Changbin tidak alergi bulu kucing sudah ku bawa sejak dulu.”
Seungmin menghela nafas, ia pandang sosok Soonie yang kini tengah tidur melingkar di atas karpet.
“Tapi walaupun Changbin nggak alergi bulu kucing pun, Soonie memang seharusnya dirawat sama kamu kak,” Seungmin kembali berucap, kali ini dengan suara yang lebih lirih.
Satu sendok terakhir dari sup buatan Seungmin Chan habiskan. Ia bergeming, menatap dalam diam. Tak tahu harus merespon bagaimana.
Maka setelah keheningan panjang, Seungmin kembali bersuara.
“Kasih makan Soonie yang teratur.”
“Ya.”
“Mandiin jangan lupa.”
“Iya.”
“Buang kotorannya.”
“Ya.”
“Ajak dia main.”
“Hmm.”
Seungmin menghela nafas. Kemudian menatap Chan dengan senyum kecil dan tatapan sendu yang tak dapat Chan abaikan.
“Kalian satu-satunya keluarga yang kak Minho punya. Kak Minho pasti akan senang kalau kamu mau merawat Soonie dengan baik,” Seungmin bangkit dari duduknya, berniat untuk pulang. Ini sudah sore, Changbin pasti sedang menunggunya di rumah.
“Aku tahu,” jawab Chan dengan suara lirih yang membuat Seungmin kembali tersenyum kecil.
“Aku pulang kak. Jaga dirimu, jangan buat kak Minho sedih.”
___
Barangkali memang Chan yang terlalu membenci keadaan. Terjebak di dalam kesedihan yang berlarut tanpa berniat untuk berdamai dengan perasaan. Ia seperti mati rasa, semuanya seolah telah selesai. Chan tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tidak, setelah Minho pergi meninggalkannya.
Ia merindu, sangat. Dan kehadiran Soonie di sekitarnya justru membuat keadaan semakin buruk. Melihat Soonie hanya akan membuat Chan semakin sakit. Semua kenangan tentang Minho dalam hidupnya tak luput dengan kehadiran Soonie. Chan tak membencinya, sungguh. Tapi mereka tak bisa bersama. Tidak,
ketika mereka sama-sama tengah merindu.
“Sepertinya dia membenci ku”
Minho mengernyit, tak terima dengan ucapan dari Chan.
“Tidak mungkin, Soonie terlalu baik buat membenci orang,” badan gemuk Soonie Minho angkat dengan kedua tangan. “Lihat, wajahnya saja seperti malaikat.”
“Terlihat seperti buntalan bulu di mata ku.”
Lalu satu pukulan di paha Chan dapatkan.
“Coba kamu panggil namanya. Kalau Soonie mendekat, berarti dia suka dengan kamu,” Minho tersenyum lebar, hingga kedua matanya ikut tenggelam. Terlihat sangat manis, sampai Chan merasa sungkan untuk menolak.
Chan tersenyum kecil, memberikan usakkan lembut di puncuk kepala sang terkasih. “Oke, aku coba,” ia memang tak akan bisa untuk menolak permintaan Minho.
“Hey, Soonie.”
Percobaan pertama dan Soonie hanya bergeming tanpa menoleh ke arah sumber suara.
Chan mengangkat pundaknya dan menatap ke arah Minho. “Lihat, dia tidak mau menurut.”
Tapi Minho tetap yakin dengan perkataannya. Ia menggelengkan kepala, meminta Chan untuk melakukannya lagi.
“Soonie tidak mungkin membenci orang yang aku cintai Chan.”
Oke, sekarang pipi Chan menjadi merona karena ucapan Minho. Ia merasa malu.
“Soonie, ayo kemari,” Chan menepuk pahanya berniat membuat si kucing mendekat. Tapi sepertinya percuma, karena Soonie tetap bergeming di tempat.
“Jangan menyerah!” Ucap Minho menyemangati. Bahkan tangannya ikut mengepal di udara.
Sayangnya hingga percobaan ke delapan, Soonie masih pada pendiriannya untuk mengabaikan panggilan dari Chan.
“Sekali lagi, ya. Coba sekali lagi.”
Chan menghela nafas, mengangguk ke arah Minho dan bersiap untuk memanggil Soonie mendekat ke arahnya lagi.
“Soonie, sayang. Ayo kemari.”
Agaknya Chan sedikit merutuki suaranya yang terdengar mendayu.
“Meow.”
“Dia mendekat!”
Chan tak pernah merasakan sebelumnya bagaimana pahanya menjadi bantalan seekor kucing. Ini terasa lembut, dan hangat. Seperti memangku sebuah bantal berbulu yang mendengkur. Tangan Chan terjulur, mengelus kepala Soonie yang berada di pangkuannya. Rasanya nyaman, sama seperti ketika ia membawa Minho dalam pelukan.
“Kemari,” ucap Chan kepada Minho untuk mendekat ke arahnya.
Minho menurut, berjalan ke arah Chan kemudian menubruknya dengan pelukan dari samping. Membawa kepalanya untuk disandarkan di bahu Chan.
“Lihat, Soonie baik kan?”
Kening Minho kemudian dibubuhi dengan kecupan. Chan tersenyum, mengusak puncuk kepala sang kekasih karena gemas.
“Ya.”
Chan menatap nanar pada tumpukan salju di depan gerbang rumahnya. Kepalanya terasa pusing, dan perasaan bersalah menyeruak, tanpa ampun membuat tangannya gemetar. Dinginnya salju tak lagi Chan rasakan, ia terduduk merasa lemas tak kuasa menahan perasaan membuncang.
“Minho, apa yang sudah aku lakukan.”
___
“Halo, kenapa kak?”
“S-seungmin bantu aku.”
Suara Chan terdengar bergetar, sontak membuat Seungmin merasa khawatir di seberang sana.
“Ada apa?”
Tarikan nafas berat Chan lakukan, sebelum ia menjawab pertanyaan Seungmin.
“Soonie-,”
Jeda sebentar sebelum Chan kembali melanjutkan.
”-aku membuangnya.”
“APA? Kak apa yang kamu lakukan!”
Chan menggeram frustasi, tahu bahwa Seungmin akan meledak.
“Aku marah Seung. Dia menjatuhkan foto Minho. Jadi aku meninggalkannya di luar, di depan gerbang rumah.”
“KAK NANTI MALAM ADA BADAI SALJU”
“AKU TAHU!”
Chan bahkan tak sadar bahwa air matanya kini sudah mengalir, membasahi pipi.
“Aku tahu Seung, makanya aku berniat membawanya ke dalam lagi. Tapi dia sudah nggak ada di sana,” Chan tersedak, tak kuasa menahan tangisnya.
“Apa yang harus aku lakukan Seung. Minho pasti membenci ku sekarang.”
“Oke, tenang dulu ya kak. Aku sama Changbin bakal bantu nyari Soonie. Kita cari sama-sama oke?”
“Minho akan marah Seung, dia membenci ku.”
“Tidak kalau kita berhasil nemuin Soonie. Jadi sebelum malam, ayo kita cari Soonie. Oke?”
____
Yang Soonie tahu dalam hidupnya adalah bahwa ia tengah menunggu Minho untuk kembali. Kembali memeluknya, kembali menggendongnya, kembali untuk datang memberinya kasih sayang. Ia kesepian, kendati ada Chan bersamanya, itu bahkan tak membantu sama sekali. Ia merindukan Minho. Pemiliknya. Seseorang yang membawanya kepelukan dalam dinginnya hujan salju.
Maka ketika mata Soonie melihat sosok sang tuan terpasang apik di dalam frame foto, ia melompat kegirangan, dalam maksud ingin membawa dalam pelukan. Bukanya justru terjatuh dengan suara pecahan kaca dan teriakan Chan dari arah belakang. Atau bahkan berakhir dengan tendangan ke luar pada dinginnya gundukan salju di depan pintu gerbang.
Soonie hanya ingin Minho kembali. Atau setidaknya, ia ingin mendapat kasih sayang lagi.
Dinginnya salju di luar sedikit banyak membuat Soonie menggigil dan meringkuk di depan gerbang. Ia masih menunggu, mungkin Chan akan berbaik hati untuk membukakan pintu sesaat lagi. Atau mungkin, Minho secara ajaib akan pulang dan memeluknya kembali. Ia tak kemana-mana, masih setia berdiam diri. Karena pada dasarnya, yang Soonie lakukan selama ini hanyalah menunggu.
“Meow.” Sesekali ia akan mengeong, dengan suara bergetar karena takut dan kedinginan.
Aku ingin masuk. Ini dingin.
Soonie menjilat telapak tangannya, saat ia merasakan bahwa pawnya terasa membeku. Tapi itu tidak membawa banyak perubahan, ia masih kedinginan.
“MEOW.”
Aku ingin Minho kembali.
Kring Kring
Sebuah sepeda berjalan melewati Soonie yang masih duduk terdiam. Ia menatap, sebelum kemudian teringat sesuatu.
Minho suka menaiki sepeda.
“Meow.”
Sepeda Minho berwarna biru, mirip dengan sepeda yang masih berjalan tak jauh di depannya
“MEOW!”
Itu pasti Minho!
Kaki mungil Soonie sontak berlari, mengejar sepeda yang sudah berjalan jauh mendahuluinya. Ia terus mengeong, seolah memanggil nama Minho dalam setiap ucapannya. Bahkan dinginnya salju tak lagi Soonie hiraukan. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana mengejar sepeda di depannya dan mendapati kembali Minho dipelukannya.
Bahkan walau ia terjatuh berkali-kali. Walau bulunya sudah ternodai dengan tanah dan darah, Soonie terus berlari. Sampai ia sadar, jika sepeda yang ia kejar sudah tak lagi terlihat di pandangan. Dan ia tersesat, tak tahu jalan untuk pulang.
“Meow.”
Minho, dimana kamu?
_____
Chan mungkin terlihat seperti orang gila karena terus berlari di sepanjang jalan bersalju. Lebih dari itu, bagaimana ia menanyakan kepada setiap orang yang ia lewati mengenai Soonie dengan wajah frustasi membuatnya terlihat lebih mengkhawatirkan. Salahkan saja mobilnya yang tiba-tiba mogok akibat lupa dimasukan garasi. Mungkin mesinnya membeku karena terlalu lama diterjang hujan salju.
Matahari akan tenggelam dalam waktu tak lama, dan suhu udara semakin turun seperti biasanya. Chan dapat merasakan bagaimana pandangannya mulai memburam dengan nafas tak beraturan. Mungkin setelah ini ia akan terkena demam. Tapi Chan memilih untuk tidak peduli, sebelum ia menemukan Soonie, maka ia akan tetap berlari.
Pikirannya tertuju pada hari dimana Minho pertama kali menemukan Soonie. Itu adalah hari bersalju, dengan suhu minus 3 derajat. Chan yang masih seorang bocah harus menenangkan Soonie yang ingin kabur dari dalam bus karena ia ketakutan. Sedangkan Minho justru menangis, di pipinya terdapat bekas merah cakaran kucing memanjang. Untung bus yang mereka naiki adalah bus terakhir, dimana penumpang sudah sangat sepi. Chan bisa saja langsung membuang Soonie saat itu juga, tapi melihat bagaimana Minho tetap membawa si kucing dalam pelukan walau pipinya telah dicakar membuatnya berubah pikiran.
Nyatanya, Soonie memang membawa kebahagiaan bagi Minho. Begitu pula dengan Chan.
“SOONIE!”
Nafas Chan masih terengah. Ia terus berteriak memanggil nama Soonie. Keadaan sekitar sudah mulai sepi, matahari akan tenggelam tak lama lagi. Sebuah batu kecil di trotoar jalan tak sengaja Chan tabrak, ia terjatuh, menghantam gundukan salju membuat telapak tangannya tergores berdarah. Rasa panik benar-benar membuat pikiran Chan menjadi tidak waras. Ia terduduk, masih belum berniat untuk berdiri dari tempatnya terjatuh.
Chan mendongak, hujan salju sudah mulai turun. Ponsel dalam sakunya terus berdering, ia pikir mungkin itu adalah Seungmin yang menyuruhnya untuk berhenti mencari terlebih dahulu. Nafas panjang Chan keluarkan, bersamaan dengan uap tebal keluar dari mulutnya.
“Minho, maaf kan aku.”
Tetesan salju yang mengenai goresan luka di telapak tangannya membuat Chan meringis kesakitan. Darahnya sudah berhenti karena membeku, tapi itu justru terasa semakin nyeri baginya.
Chan menghela nafas, pandangannya kosong ke bawah. Ia menunduk dalam, membiarkan hujanan salju mengenai tengkuk telanjangnya. Ia mungkin benar-benar akan menyerah dalam mencari Soonie. Atau mungkin, ia akan menyerah untuk kembali bangun dan tetap berdiam diri. Di sini, di trotoar jalan, dengan hujan salju yang semakin lebat, satu tetes air mata Chan turun membasahi pipi.
“Minho, aku merindukanmu. Aku sungguh merindukanmu.”
Isakan Chan terdengar pelan.
“Maaf kan aku.”
Pandangan Chan semakin memburam. Nafasnya terasa panas dan telinganya berdengung. Ia sepertinya benar-benar terkena demam. Dalam pikirannya sudah terbayang, mungkin sebentar lagi ia akan pingsan. Mungkin ia akan terjebak dalam badai salju malam ini. Atau terparah, mungkin ia akan mati membeku akibat kedinginan.
Chan mendengus kecil. Telinganya yang berdengung samar mendengar suara seseorang memanggilnya.
“Kak, bangun!”
Minho?
Suara derap langkah kaki semakin terdengar kentara. Chan terdiam, ingin mengabaikan, tetapi siluet sosok pendek tepat di hadapan membuatnya terbelalak kaget.
“Kak, jangan tidur di sini!”
Minho kecil. Di hadapannya adalah Minho kecil dengan syal warna merah melingkar di sekeliling leher. Nafas Chan tercekat, ia lupa bagaimana caranya mengambil udara.
Sepersekian detik waktu seolah berhenti, Chan bisa merasakan dentuman tidak wajar pada rongga dada di dalam tubuhnya.
“Demam bisa buat orang berhalusinasi ya?”
“HYUNJIN, KAKAKNYA MASIH HIDUP. DIA BISA NGOMONG!”
Mata Chan sontak berkedip dengan cepat.
Hyunjin? Siapa?
“SERET, SERET ORANGNYA KE SINI!”
Samar-samar dari seberang jalan, seorang bocah dengan balutan mantel putih berteriak, membuat kesadaran Chan semakin terkumpul.
“MANA BISA BEGO!”
“Shhtt ouch,” Chan meringis, anak itu berteriak tepat di samping telinganya yang berdengung.
“Eh, aduh maaf kak nggak sengaja. Kakak masih bisa jalan kan? Aku nggak mungkin nyeret kakak, badan kakak terlalu gede. Hyunjin juga nggak mau nolongin, katanya dia jagain kucing. Tapi kan kucingnya bisa ditaruh dulu, terus bantuin aku. Dasar Hyunjin sialan, dia mau enaknya doang. Eh, aku kebanyakan ngomong ya kak. Aduh maaf, ayo menepi ke halte dulu, hujannya makin lebat nanti kakak demam.”
Chan kembali meringis, anak ini terlalu cerewet. Chan bahkan tak terlalu mendengar sebagian besar dari apa yang ia katakan. Terdengar seperti ucapan super cepat berisi omong kosong. Tapi setidaknya setelah mendengar kalimat si bocah, Chan menjadi kembali sadar.
“Aku bisa jalan,” ucap Chan. Ia berdiri, sedikit limbung membuat si bocah kembali beriak.
“Sini kak aku gandeng, biar nggak jatuh. Sebentar lagi bus terakhir mau lewat, jangan sampai ketinggalan nanti kita nggak bisa pulang.”
'Chan buruan, nanti ketinggalan bus terakhir'
Sialan, kenapa semua hal di dunia seolah mengingatkan Chan terhadap Minho.
Genggaman tangan mereka terlepas, saat si bocah mendudukkan dirinya di kursi halte. Diikuti oleh Chan sesudahnya.
“Omong-omong kak, nama ku Jisung,” ia menjeda untuk menunjuk bocah lain di samping kanannya. “Yang sedang gendong kucing itu, namanya Hyunjin.”
“Nama ku Chan, panggil aja kak Chan.”
Tidak tunggu, kucing?
“Meow.”
Kepala Chan dengan kaku menoleh ke kanan, sebelum sebuah buntalan berbulu melompat ke arahnya dalam sekejap kedipan mata. Soonie telah berada di dalam pelukannya.
“Eh kucing, jangan nakal ke kakaknya!”
Bocah di samping berteriak panik. Mencoba mengambil si kucing dari pelukannya pada tubuh Chan. Tapi yang punya tubuh justru balas memeluk, lalu terisak keras.
“Ya Tuhan, Minho, Soonie. Ya Tuhan…,” racau Chan dengan suara tidak jelas.
Hyunjin dan Jisung saling bertukar pandang, lalu berkedip bingung. Mereka masih menatap Chan yang terisak hebat. Merasa tak yakin dengan apa yang harus dilakukan.
“Itu kucing kakak?” Bocah yang lebih tinggi mencoba bertanya.
Chan mengangguk, memberikan senyum lebar walau air matanya masih mengalir deras. Soonie dalam pelukannya mendengkur, mencari kehangatan dalam tubuh Chan.
“Ya, terimakasih udah nemuin dia.”
Si bocah balas mengangguk, kemudian mendekat ke arah Chan.
“Udah jangan nangis kak.”
Chan terkekeh kecil. Malu sekali rasanya ia ditenangkan oleh seorang bocah.
“Iya Jisung.”
PIM PIM
Bus terakhir di sore hari bulan Januari. Sama seperti sepuluh tahun lalu, sama seperti dinginnya udara pada kaca berembun salju. Pada bangku nomor dua dari belakang, Chan membawa tubuh Soonie dalam pelukan, dalam tetesan air mata yang tak juga hilang. Rasanya sedikit berbeda, lebih dingin dan menyakitkan. Tetapi setidaknya, Chan tidak merasa kesepian.
“Jangan tinggalkan aku lagi.”
____
“Meow meow meow!”
Chan kontan menjauhkan ponselnya dari Soonie yang tiba-tiba melompat dari bawah sofa. Si kucing terus mengeong, bahkan suara televisi di depan menjadi terdengar samar. Chan mengernyit, merasa bingung dengan tingkah si kucing.
“Kamu mau apa?”
Soonie berjalan mendekat. Cakarnya terangkat, menggaruk ponsel Chan yang masih dalam genggaman. Kemudian ia mengeong semakin keras saat melihat tampilan layar ponsel Chan.
Chan menghela nafas, mendengus geli melihat Soonie yang kini menggigit ujung ponselnya dengan gigi depan yang tajam. Potret Minho tengah tersenyum lebar terpampang apik di dalam layar, membuat Soonie terus mendengusi, mencoba mengaisnya untuk keluar.
Chan mengangkat tubuh Soonie ke atas, menjauhkan dari ponselnya yang sudah tergeletak di atas sofa. Membuat si kucing mengeong protes, ia masih ingin bermain dengan foto Minho. Tapi Chan justru terkekeh, ia bawa Soonie dalam gendongan.
“Kamu kangen Minho ya?”
Seharusnya Chan tak perlu bertanya.
“Meow!”
“Oke, ayo beli bunga dulu,” Chan bangkit dari duduknya setelah mematikan televisi. “Terus baru kita ke makam Minho.”
“MEOW!”
“Hei, kamu terlalu bersemangat kawan.”
Chan dan Soonie sama-sama merindu. Kepada sosok yang sama, dengan perasaan sesak yang sama. Tapi setidaknya, mereka tak lagi merasa kesepian.
“Ayo bertaruh, siapa yang akan melepas rindu dengan Minho terlebih dahulu.”
“Meow!”
Fin
