Actions

Work Header

Hurt

Summary:

Keduanya mengetahui jika Tooru sedang heat. Aroma omega birahi bercampur ketakutan menebar di seluruh mobil. Pertahanannya runtuh, Tooru menangis. Tangisan yang ia tahan sejak para alpha itu menyentuh tubuhnya. Ia meringkuk di samping Shigeru, mencoba membuat dirinya kecil.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tooru berlutut di lantai dingin kamar mandi, wajahnya menghadap kloset, setidaknya sudah lima menit ia seperti itu. Memuntahkan isi perutnya walau tak ada lagi yang bisa ia keluarkan. Tooru mengerang meremas perutnya. Ia tidak merasa sakit, namun sejak tiga hari lalu ia selalu merasa mual dan tubuhnya sangat lemah.

Tooru perlahan berdiri, menyiram kloset, lalu berjalan ke wastafel membersihkan mulut serta wajahnya. Seketika air dingin membuatnya kembali segar. Ia memandang dirinya di cermin, rambutnya mencuat berantakan dengan kulit leher dan wajah yang memerah. Sang alpha menyarankan jika tak ada perubahan hari ini mereka akan ke dokter untuk memeriksa kondisi Tooru.

Tooru membuka lemari di atas wastafel mengambil obat pereda mual, meminumnya dengan gamang. Ia yakin ini bukan gejala kehamilan atau sesuatu seperti itu, selama mereka berhubungan Hajime selalu memakai pengaman, dan ia juga minum pil jadi tak mungkin ia hamil. Tooru menghela napas, tubuhnya bergetar gelisah. Kegelisahannya disebabkan tanpa sebab. Sampai tanpa sadar ia mengeluarkan rengekan.

Selain itu ia sangat mendambakan alphanya. Ia ingin menghirup feromon Hajime, meminumnya rakus hingga mabuk dan seluruh tubuhnya berbau seperti sang alpha.

Atau kegelisahannya disebabkan ketiadaan Hajime di sisinya? Namun, apa yang terjadi? Hal seperti ini hanya terjadi saat ia sedang hamil atau sedang mengalami siklus. Tooru mengerutkan kening. Siklus? Pasca melahirkan siklusnya belum kembali, dokter berkata butuh enam bulan sampai siklusnya kembali seperti semula. Tapi sekarang baru bulan kelima sejak ia melahirkan. Jadi tidak mungkin siklus datang.

Tooru menggigit bibir. Ia menggeleng. Bukankah sudah sewajarnya jika omega menginginkan alphanya? Mungkin  ia hanya kelelahan. Tooru menghela napas berjalan ke luar. Berharap sebelum Hajime pulang ia sudah lebih baik.

"Wah, Tattchan sudah bangun? Bagaimana tidurmu?" Tooru terkekeh memandang anaknya berceloteh, lalu mengangkatnya ke dalam pelukan. Sang bayi meraba dadanya, menenggelamkan wajahnya di sana. "Tattchan lapar ya, baik baik ini dia." Tooru menimang sang buah hati, membuka bajunya sampai dada lalu memberikan putingnya pada sang anak yang langsung menghisapnya lahap.

Tooru  duduk di pinggir ranjang memerhatikan sang buah hati yang lahap meminum susunya.  Ia mengusap pipi gembil anaknya gemas. Lalu ia kembali merengek begitu anaknya menggesek putingnya dengan gusinya. "T-Tattchan jangan terlalu keras—sakit." Ia sudah biasa dengan sakit saat Tattchan terlalu keras menghisap putingnya tapi kali ini rasa sakitnya tak tertahankan, ia terus meringis menahan denyutan di putingnya. Tak banyak yang dapat Tooru perbuat selain menahan sakit sampai dahaga anaknya terpuaskan. Tooru menghela napas lega begitu sang anak melepas putingnya, hasilnya membengkak dan memerah. Sang omega mengerang, putingnya begitu sensitif saat bra menggesek bagian itu.

Sementara Tattchan hanya menatapnya polos tanpa dosa. Gemas, Tooru mencium pipi anaknya.

Lalu terpikirkan lebih baik ia mencari udara segar, mungkin tak ada salahnya ia  berbelanja. Sudah lama Tooru tidak pergi keluar.

"Tattchan, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Temani Mama belanja ya?" Bagai mengerti, bayi itu mengoceh dan tersenyum senang. Dengan gembira Tooru mempersiapkan segalanya. Susu yang telah ia persiapkan di dalam botol, dan berganti pakaian. Tubuhnya kini telah seperti semula. Pinggang ramping dengan pinggul yang sedikit lebar membuat sang alpha terus mengaguminya. Hajime tak habis pikir bagaimana mungkin dengan pinggang dan pinggul sekecil itu Tooru dapat melahirkan anaknya. Sebuah pujian yang membuat omega dalam dirinya bersolek bahagia.

Menimbang sebentar pakaian apa yang mau dipakai, Tooru memutuskan memakai kaus berlengan panjang dengan  cardigan biru  berpadu dengan rok panjang berwarna senada. Ia merasa dirinya lebih cantik memakai rok.

Setelah semuanya siap Tooru memasang baby wrap di pundak dan menggendong sang anak menghadap dadanya karena cuaca masih sedikit dingin, tak lupa ia memakaikan topi rajutan.

Tooru bersenandung gembira begitu kakinya melangkah keluar. Angin sepoi-sepoi membelai wajahnya lembut, Tattchan digendongannya pun merasa tenang.

"Rasanya seperti bertahun-tahun aku tidak keluar rumah." Omega itu bergumam. Memastikan  pintunya telah terkunci, Tooru berjalan menuju supermarket terdekat. Hanya perlu lima belas menit berjalan kaki. Hajime sengaja membeli rumah selain aksesnya mudah  juga karena sekelilingnya banyak pepohonan rindang dengan daun berwarna-warni. Menatap sesuatu yang indah akan membuat siapapun menjadi bahagia, dan sang alpha ingin membahagiakan omeganya. Namun karena musim, belum ada dari pohon-pohon itu yang berbunga.

"Tattchan kalau pohon ini mekar, ayo kita ajak Papa jalan-jalan bersama." Tooru berbicara riang meski tahu tidak mendapatkan  jawaban dari sang anak.

Suasananya begitu nyaman, membuat keadaan Tooru menjadi lebih baik. Sesampainya di supermarket, ia membeli apapun yang menjadi kebutuhannya. Mengingat Tooru hanya sendirian ia memutuskan untuk tidak membeli banyak barang selain popok Tattchan, coklat batangan, dan snack rasa jagung favoritnya.

"Biskuit untuk Tattchan." Sang omega mengambil biskuit bayi, setelah dirasa cukup ia membawa belanjaannya ke kasir. Sementara menunggu ia menyeringai melihat kondom di rak hadapannya. Tanpa malu-malu Tooru mengambil dua bungkus lalu menyerahkannya ke meja kasir.

"Semuanya jadi 1.400 yen." Tooru menyerahkan uangnya, seraya mengucapkan terima kasih. Kehangatan dari mesin penghangat tergantikan dengan dinginnya udara musim dingin. Tooru mempererat sang buah hati dalam dekapannya agar tetap hangat, sekarang bocah gembil itu kembali tidur.

Tooru berjalan kembali ke rumah, membayangkan ia menonton film Alien Wars III dengan camilan-camilan yang dibelinya.

Namun,  rasa sakit tiba-tiba datang. Perutnya seperti  dicengkeram, kepalanya berdenyut menyakitkan, dan dadanya terasa begitu berat. Mengerti peringatan yang diberikan tubuhnya, Tooru berhenti sejenak. Ia hampir limbung tapi dengan cepat ia menyambar tembok trotoar sebagai penopang. Sang omega mendesah, memejamkan mata mengatur pernapasan.

Tidak, jangan di sini kumohon, jangan di sini. Setidaknya sampai Tattchan aman di tempat tidur.

Tooru berdoa dalam hati, ia mencoba mengatur pernapasannya, mensugesti jika ia tak merasakan apapun dan mencoba fokus kepada anak dalam dekapannya. Tetapi tubuhnya tidak mau berkompromi, rasa sakit itu terus menyerangnya, ia seperti bola panas yang akan siap meledak.

Saat itu ia tersadar jika sekelilingnya begitu sepi, karena jelas saja  orang-orang berada di kantor atau di dalam rumah pada pukul sepuluh. Tidak ingin dikalahkan oleh rasa sakit, Tooru memutuskan untuk berjalan. Rasa sakit tidak mampu membuatnya berpikir untuk memanggil bantuan, Tooru hanya berfokus pada Tattchan, memeluk anaknya dengan aman.

Ia tertatih selangkah demi selangkah. Dalam kondisi normal seharusnya hanya butuh lima belas menit sampai tiba di rumah, namun sekuat apapun Tooru berjalan ia merasa hanya berjalan di tempat. Kondisi cuaca yang dingin tanpa adanya bantuan membuat sang omega semakin panik. Sakitnya semakin menusuk seiring langkahnya berjalan. Kini tubuhnya seperti anomali. Tooru merasa begitu kepanasan di tengah dinginnya cuaca.

Sang omega tidak menyadari jika ia tiba di depan sebuah gang di sisi kiri trotoar. Tooru menoleh dan betapa leganya ia menemukan tiga— tidak,  empat orang sedang duduk di sana.

Otaknya dipenuhi kabut sehingga Tooru tidak memikirkan siapa yang ada di hadapannya, ia hanya ingin meminta pertolongan agar dirinya dan anaknya tiba di rumah dengan cepat.

"T—tolong." Tooru berjalan memasuki gang menghampiri orang-orang itu. Seharusnya Tooru tahu jika mereka bukan orang yang tepat untuk dimintai pertolongan. Dilihat dari penampilan mereka seperti gelandangan dan tukang mabuk yang tidak punya rumah.

Mendengar rintihannya sontak keempat orang itu menoleh. Desiran angin membawa aroma apel yang telah matang  berpadu dengan madu. Seorang Beta sekalipun pasti akan tahu jika ia sedang memasuki siklus.

Tooru tidak tahu jika tiga dari orang itu alpha. Sontak keempatnya saling lirik sebelum tatapan mereka berubah menjadi predator. Mereka menghampiri Tooru yang masih berjalan  sambil memeluk anaknya. Keempatnya mengelilingi Tooru, mereka semua berperawakan tinggi besar. "Apa kau perlu bantuan, omega?"

Mendengar suaranya, baru ia sadar dengan siapa ia berhadapan. Hidung omeganya mengendus aroma busuk alpha. Namun ia tak dapat menolaknya, suara itu menyuruhnya untuk patuh dan menjadi baik. Tanpa dapat dicegah suara rengekan keluar dari bibirnya dan melepaskan belanjaan dari tangannya.

Oh tidak, tidak! Lari, harus lari!

Keempatnya tertawa mendengar itu. Tooru ingin lari tetapi kakinya seperti tertancap di tanah. Ia bergerak gelisah, satu-satunya alpha yang ia inginkan adalah Hajime. "Dimana alphamu, cantik? Membiarkan omeganya yang sedang birahi berkeliaran seperti ini."  Napas Tooru tercekat saat mereka serempak mengeluarkan feromon.

Tooru menggeleng, kakinya bersiap untuk mundur. Tahu apa yang ingin Tooru lakukan, salah satu dari mereka mencengkram tangannya. "Kami akan membantumu. Kau terlihat kesakitan." Melihat keberanian temannya, yang lain turut menyentuh pundak dan pinggang Tooru.

"T—tolong lepaskan, aku punya alpha dan bayi. Tolong lepaskan." Tooru menggeram. Ia membungkuk melindungi anaknya dengan satu tangan, tanpa sadar ia mengeluarkan taring sebagai tanda peringatan, di bawah sinar matahari samar mata coklatnya seperti terbakar. Jika sudah terpojok, omega akan berbuat apapun. Sakitnya masih tidak tertahankan, namun pikirannya masih waras untuk melihat bahaya.

"Lihat, dia mulai berani." Para alpha itu tertawa. Bukannya mundur mereka semakin nekat. Bahkan ada yang berani menyentuh wajah Tooru.

"Lepaskan!" Tooru berteriak. Teriakannya membangunkan sang anak di dalam gendongannya. Seperti mengerti jika sang ibu sedang kesusahan dan dalam bahaya, Tattchan mulai menangis kencang. Mereka yang terkejut melepaskan cengkeramannya, melihat sang anak yang ketakutan Tooru kembali memeluknya menenangkan. "Mama di sini sayang, Mama di sini."

"Cepat seret dia sebelum ada yang dengar." Melihat keuntungan ada di pihak mereka. Dua orang mengapit Tooru dan memaksanya berjalan.

"Tidak! Aku akan melaporkan kalian—" Suaranya gemetar sementara tangis Tattchan semakin kencang.

"Alphamu tidak lagi peduli pada kalian, sakitmu akan hilang jika ikut kami." Mata Tooru terbelalak. Omeganya bergantian mengambil alih. Mendengar alpha-nya tidak lagi peduli, Tooru menggeram marah dan frustasi. Hajime masih peduli dengan mereka, Hajime selalu ada untuknya.

Sekali lagi tubuhnya diseret. Di ambang batas kesadaran, samar-samar ia masih mendengar Tattchan menangis. Ia harus menenangkannya. Ia harus menenangkankan Tattchan. Tetapi tubuhnya tak berdaya.

Lalu sebuah suara mengagetkan mereka. Tooru menoleh, pandangannya yang buram menemukan dua orang sedang berlari menuju mereka. Suaranya terdengar akrab dan aromanya begitu baik sampai ia dapat bernapas dengan benar.

"Tooru! Apa yang kau lakukan di sini?" Omega berambut coklat muda menarik siku Tooru menjauh. Dengan cepat ia membereskan barang belanjaan yang ia yakini milik Tooru sebelum bergegas membawa Tooru pergi.

"Kejar dia!"

"Kau mau apa, sialan?" Satu orang bersama omega itu adalah seorang alpha. Geramannya mengancam. Saat salah satu dari mereka ingin mengejar, alpha itu memelintir tangannya dan menjatuhkannya ke tanah. Bunyi tulang patah dan teriakan mengerikan menggema di gang sepi itu. Melihat kawannya dijatuhkan dengan mudah, ketiganya mulai panik.

"Sampah seperti kalian harus mati!" Sang alpha penyelamat melayangkan tinju hingga hidung salah satunya patah mengeluarkan darah.

Dari kejauhan ia mendengar pasangannya berteriak. "Ken sudah! Cepat ke sini!"

Kedua penyelamat itu membawa Tooru memasuki mobil. Kali ini Tooru menurut karena ia yakin ia aman dengan mereka.

"Shigeru?" Shigeru mengangguk. Ia duduk di samping Tooru. Di depan, Kentarou siap menyalakan mobil.

"Biar kubantu menggendong Tattchan." Tooru menyerahkan anaknya. Shigeru menepuk punggung Tattchan menenangkan sang anak.

Keduanya mengetahui jika Tooru sedang heat. Aroma omega birahi bercampur ketakutan menebar di seluruh mobil. Pertahanannya runtuh, Tooru menangis. Tangisan yang ia tahan sejak para alpha itu menyentuh tubuhnya. Ia meringkuk di samping Shigeru, mencoba membuat dirinya kecil. Ucapan alpha tentang Hajime yang tak peduli padanya membuat Tooru semakin menangis.

"Kau sudah aman, Tooru. Kami akan menemanimu sampai Iwaizumi-san datang." Shigeru menepuk punggung Tooru. Matanya juga berkaca-kaca, tak percaya jika Tooru nyaris diserang oleh para alpha.

"Tattchan hebat tadi membantu Mama... Jika Tattchan tidak menangis kami tidak akan tahu kalian di sana." Shigeru mengecup pipi bayi itu. "Apa yang kau lakukan di sana dalam kondisi seperti ini, Tooru?" Shigeru bergumam. Tangannya yang bebas masih mengusap punggung Tooru.

Tangisan Tooru berubah menjadi rengekan. Panas itu kembali menjalar dan sakitnya tak tertahankan. Selain melahirkan belum pernah Tooru merasa sakit seperti ini.

"Nng Hajime— S—sakit. H—Hajime." Tooru meringkuk memegangi perutnya, tak sadar jika cairan keluar dari sela pahanya.

"Sepertinya gelombang berikutnya datang. Ken, cepat!"

Tubuh Tooru bergetar. Feromonnya semakin kuat, kewarasan terenggut dari tubuhnya. Kelenjar aromanya berdenyut-denyut begitu pun penisnya. Ia ingin diisi oleh penis alpha, mengisi rahimnya dengan sperma dan menjadi kenyang.

"A—alpha t—tolong. Sakit sekali."

Beruntung, mereka cepat tiba di rumah Tooru. "Ken, pegang Tattchan dan tolong hubungi Iwaizumi-san. Terus hubungi sampai dia mengangkat panggilanmu dan beritahu kondisi Tooru." Kentaro menggendong Tattchan kaku sementara Shigeru membantu Tooru menuruni mobil.

"Ayo Tooru, kau akan berada di sarangmu. Dimana kuncimu, sayang?" Shigeru memapah Tooru yang begitu lemah.

Tooru merogoh saku dan menyerahkannya pada Shigeru. Mereka masuk ke dalam. Kehangatan dan aroma yang akrab membuat Tooru mendengkur. Ketakutannya sirna begitu feromon alphanya menggelitik hidung. "H-Hajime?" Ia berbisik penuh harap, panasnya semakin menjadi-jadi.

"Hajime-san akan segera pulang. Ayo ke kamar Tooru." Dengan susah payah Shigeru membawa Tooru ke kamar. Ia membaringkan omega ke ranjang, dan mencari pakaian di dalam lemari. Ia mengacak apapun yang dapat digunakan Tooru dalam membuat sarang.

Kesadarannya telah lenyap saat Shigeru memberikan pakaian alpha-nya. Ia memeluk kaus Hajime, menghirup aroma feromon yang tertinggal di sana. Tidak peduli pada Shigeru, Tooru membuka baju, melepaskan rok sekaligus celana dalam yang mengganggu.

"T—tidak mau terbuka." Tooru menangis, kaitan bra-nya tidak mau terbuka. Putingnya mengeras, berdenyut menyakitkan. Ia ingin membebaskan tubuhnya dari kain yang membuatnya kesakitan.

"Biar kubantu." Shigeru mendekat, melepaskan pengaitnya. Sekarang Tooru sepenuhnya telanjang. Ia membuka lebar kakinya, mempersilahkan alpha untuk masuk ke dalam dirinya. Cairan bening terus keluar dari celahnya.

Merasa ini bagian dari privasi Tooru, Shigeru segera keluar. Di luar suaminya menunggu bersama Tattchan yang melihatnya ketakutan. Seharusnya itu kejadian yang lucu, tapi ia hanya tersenyum membawa Tattchan kembali ke gendongannya.

"Bagaimana? Iwaizumi-san dapat dihubungi?"

Kentaro mengangguk, alisnya menyatu. "Dia mematikan telepon saat kubilang Oikawa hampir diserang."

Shigeru menatap alpha-nya tak percaya. Bagaimana bisa ia memilih alpha sebodoh ini?

"Ken bodoh! Kenapa kau langsung memberitahunya? Bilang saja Tooru-san sedang heat, saat dia sampai baru kita beritahu. Dia pasti menancap gas seperti orang kesurupan. Itu bahaya!"

Dan benar saja suara mobil meraung-raung di luar. Kentaro sendiri merasa takjub karena ia baru memberitahu sang alpha sepuluh menit yang lalu. "Astaga bahkan secepat ini?"

Belum sempat mereka bereaksi, Hajime telah berdiri di ambang pintu. Wajahnya merah padam menahan amarah, reflek Shigeru melangkah mundur ke belakang tubuh suaminya.

"Kyoutani, bisa kau jelaskan maksudmu tadi?" Tanpa basa-basi Hajime langsung bertanya, suaranya bergemuruh, alpha-nya siap bangkit dalam amukan.

Kentaro balas menggeram.  Hajime adalah salah satu orang yang paling ia hormati, tapi suaranya menakuti omeganya walau tahu ia tidak marah pada mereka.

"Tenangkan dirimu. Tadi kami menemukan Oikawa dikerubungi para alpha dalam keadaan heat. Kami tidak tahu apa yang dilakukannya di sana, kebetulan kami berada di restauran dekat gang itu dan mendengar anakmu menangis. Dia sangat kesakitan." Mati-matian Kentaro tidak mengeluarkan suara alphanya. Kali ini Shigeru berhadapan dengan Hajime.

"I—Iwaizumi-san tolong lihat Tooru-san. Sepertinya siklusnya sedang tidak baik-baik saja. Maaf kami telat membantunya." Shigeru mencicit ketakutan. Ia memeluk Tattchan sebagai pertahanan.

Erangan frustasi keluar dari Hajime. Ia berjalan mendekat, Shigeru mencoba mundur kembali namun ia urungkan begitu Hajime menunduk memandang anaknya. "Apa anakku baik-baik saja?"

"Tattchan baik-baik saja. Tangisannya yang membuat kami sadar keberadaan Tooru. Dia penyelamat ibunya." Sang bayi tersenyum melihat ayahnya. Hajime menghela napas lega, ia mengecup pipi gembil Tattchan dan mengusapnya lembut. "Tattchan pasti menjadi pelindung Mama jika sudah besar nanti kan?" Hajime bergumam, rasa takut itu menjalar hingga tulang punggung. Tidak menyangka jika gejala yang dirasakan Tooru sebelumnya adalah gejala heat.

"Iwaizumi-san, kami akan menjaga Tattchan sementara waktu. Kau cepatlah lihat Tooru-san, dia memanggil namamu."

"Terima kasih banyak Shigeru. Kau ambil peralatan Tattsun di kamarnya, susu dan segala macam berada di dapur. Sekali lagi terima kasih karena telah menyelamatkan omegaku." Sejatinya ia ingin sekali mencari para alpha itu dan membunuhnya, namun sekarang yang paling penting adalah Tooru. Dari jarak ini ia bahkan dapat mencium aromanya  yang begitu berat.

 

Begitu sang alpha membuka pintu, aroma pekat menghujam indranya. Benar-benar aroma omega yang sedang birahi, dan kesakitan. Samar ia juga dapat mencium aroma ketakutan. Sial, kali ini ia tidak dapat mengampuni siapapun yang menyentuh miliknya. Dengan pelan ia kembali menutup pintu.

Hajime berjalan perlahan agar tidak mengejutkan sang omega, dalam sekejap tubuhnya mulai memanas, feromon Tooru memanggil-manggilnya untuk mendekat. Di ranjang ia menemukan sang omega meringkuk tanpa sehelai benang, matanya terpejam dan ia terisak-isak. Tubuhnya memerah karena gelombang heat, jelas sekali sang omega kesakitan. Tooru mencoba menyamankan diri di sarang yang sepertinya dibangun terburu-buru, tanpa persiapan.

Hajime melepaskan dasi, membuka tiga kancing kemeja dan menggulung lengan kemejanya, ia duduk di pinggir ranjang mendekati Tooru. Dari jarak sedekat ini ia dapat mendengar sang omega memanggil namanya di sela isak tangisnya. "H—Hajime— S—sakit— tolong."

"Sayang, aku di sini." Hajime mengeluarkan suara alphanya, dalam dan penuh kelembutan. Ia mengusap rambut Tooru, juga mengeluarkan feromonnya guna menyadarkan sang omega.

"Tooru." Hajime membungkuk, berbisik di telinga Tooru. Mendengar suaranya, sang omega mengerang, perlahan ia membuka matanya. Iris coklatnya berkaca-kaca saat ia melihat  sosok alphanya. Bibirnya gemetar karena isak tangis. "H—Hajime? H—Hajime." Tangisnya pun pecah. Tidak perlu penjelasan untuk melihat  bahwa omeganya telah mengalami hal berat.

Tooru mencoba bangkit, dengan sigap Hajime menopang punggungnya. Ia mengulurkan kedua tangan meminta alphanya mendekat. Kali ini ia ingin alphanya memeluknya erat, pikirannya masih tertuju pada alpha yang tadi menyentuhnya.

Sang omega mengalungkan tangannya di leher Hajime. Sementara sang alpha membawa Tooru ke pangkuannya dan  memeluk tubuh telanjangnya erat, mencari  posisi nyaman. Tubuh Tooru sangat hangat, ia juga merasakan kain celananya basah karena cairan Tooru.

Hajime mengusap punggung omeganya lembut, ia mendekatkan wajahnya di kelenjar aroma Tooru, mengecupnya berkali-kali berharap itu dapat menenangkannya.

"Aku di sini, kau aman bersamaku."

Hajime membiarkan Tooru menangis di pundaknya. Ia menekan alpha di dalam dirinya untuk tidak mengeluarkan amarah. Jika tidak memikirkan omeganya, saat ini juga ia akan menghampiri para bajingan itu dan membunuhnya.

"H—Hajime...."

Tooru merintih. Ia mulai bergerak gelisah, gelombang heat-nya kembali menyerang. Namun sebelum ia hanyut dan omeganya mengambil alih ia ingin memastikan sesuatu.

"Ya, Tooru."

Sang omega menengadah menatap alphanya. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Hajime mengecup bibir merahnya sekilas. Mata Tooru dengan sedih memandang Hajime. "M—mereka bilang, Hajime tidak lagi peduli p—padaku." Kata-kata mereka masih  menyengat Tooru sampai sekarang. Air matanya kembali  meleleh, hidungnya memerah. Seandainya keadaan tidak seperti ini, Hajime pasti sudah tertawa melihat wajah menangisnya.

"Hei, hei  tidak mungkin aku tidak peduli padamu. Lihat, aku di sini, bersamamu. Aku selalu mencintaimu, juga Tattsun. Kau percaya kan?" Tooru mengangguk, jika tersadar ia pasti malu bertanya seperti itu.

Sang omega kembali merengek. Sekujur tubuhnya kembali dihantam sakit. Putingnya yang mengeras juga sakit bergesekan dengan kemeja Hajime.

Kali ini ia tidak kuat lagi menahannya. "S—sakit— H—Hajime tolong berbuat sesuatu. K—kenapa tubuhku sakit—" Tooru menggeliat tak nyaman, ia benci rasa sakit, sakitnya selalu pergi dan datang dengan cepat. Jika Hajime tak berada di sini, ia tak yakin mampu menghadapinya sendiri.

"Shh aku paham sayang." Dengan mudah Hajime mengangkat tubuh Tooru lalu membaringkannya di kasur. Payudara montoknya menantang, dan kakinya reflek terentang terbuka memperlihatkan penis kecilnya yang telah bocor dan anusnya yang tak berhenti mengeluarkan cairan.

Hajime memposisikan dirinya di atas sang omega. Tooru meraih kemeja depan Hajime dan menariknya. "B-buka..." Tanpa disuruh dua kali sang alpha membuka kemeja sekaligus pakaian dalamnya. Otot yang dibalut kulit kecokelatan itu terpampang. Meski tak lagi sebagai atlet, Hajime masih rutin pergi berolahraga hingga tubuhnya tetap tidak berubah. Ia membungkuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah sang omega, sementara Tooru mengalungkan kakinya di pinggang Hajime, menggesek penisnya yang telah ereksi mencari pengalihan rasa sakit.

Hajime menggeram, ereksinya yang masih dibalut celana berdenyut menyakitkan. Sebelum berbuat lebih jauh ia menempelkan bibirnya di bibir Tooru, bibir omeganya merah dan membengkak. Tangannya yang besar menangkup payudara Tooru, meremasnya lembut. Tetesan susu masih mengalir dari sana. Rengekan teredam dari sela bibir mereka.

Sementara Hajime fokus menjelajah mulut Tooru, lagi sang omega menggesek penisnya dengan penis sang alpha yang masih terbalut kain. Namun kali ini rasanya tak sama, sontak Tooru melepaskan ciumannya, berteriak kesakitan. Baik pinggul dan penisnya begitu sakit saat stimulasi itu menyerang. Ia kembali menangis. Hasrat yang muncul kembali padam, tergantikan rasa sakit. Tubuhnya seperti terbelah, walau feromon dan kehadiran alpha sedikit menenangkan, rasa sakitnya semakin meningkat.

Hajime terdiam, mengehentikan kegiatannya dan memejamkan mata. Tanda perkawinan di tengkuknya mulai bereaksi. Seketika ia merasakan sakit, tidak secara fisik dan tidak dapat dijelaskan, namun sakit itu benar-benar membuatnya gelisah. Tanda itu bereaksi dengan Tooru, omeganya, pasangannya. Kesakitan yang dialami sang omega dapat sepenuhnya ia rasakan. Lebih kuat dan menyesakkan.

Ia merasakan omega di bawahnya meringkuk, tangannya memeluk selimut ke dalam dekapannya. Air mata tak henti mengalir dan bibirnya memanggil alpha, mencari pertolongan.

Penciuman sang alpha kini mengendus perubahan aroma omega, manisnya apel kini berganti masam. Memang belum dalam tahap mengkhawatirkan seperti waktu itu, tapi Hajime mewanti-wanti.

Instingnya yang lapar berhenti seketika, tak ada lagi napsu dalam kondisi omeganya yang seperti ini. Dengan cepat ia menyambar telepon genggam di saku celananya, dan memanggil seseorang.

Hanya butuh tiga nada sambung sampai suara seseorang menyapanya. "Ennoshita. Aku butuh bantuanmu. Tolong ke rumah, Tooru membutuhkan pertolongan. Masuk saja, pintu tidak terkunci." Tanpa penjelasan lebih lanjut Hajime memutuskan sambungan. Ia yakin dokter itu akan paham dan segera datang.

 

Seraya menunggu, Hajime harus menenangkan Tooru. Membantu setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya di lekuk leher Tooru, bertemu dengan kelenjar aromanya. Tubuh Tooru memberi respon positif walau tangis dan gumaman menyakitkan masih keluar. "Tooru, aku di sini sayang. Aku akan menghilangkan sakitnya." Hajime bergumam. Ia mengusap ibu jarinya di kelenjar aroma sekaligus ikatan perkawinan mereka, memijatnya perlahan mencoba menyadarkan sang omega akan keberadaannya di sana.

Hajime mengubah posisi. Ia berpindah ke belakang sang omega. Dada bidangnya bertemu punggung Tooru. Ia menempelkan dadanya, mencoba membuat omeganya menyamai detak jantungnya. Ibunya sering melakukan ini saat ia masih kecil. Saat ia menangis atau ketakutan, sang ibu akan menempelkan dadanya ke punggung kecilnya. Ritme detakan itu menenangkan hingga detak jantungnya sendiri berangsur mengikuti ritmenya. Dan ia mencoba cara yang sama.

Tangan besarnya merengkuh pinggang Tooru. Ia memberi kecupan ringan di bahu sang omega. "Tooru. Aku di sini. Aku bersamamu." Omega itu merengek di sela-sela tangisnya. Napasnya memburu seolah ia lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.

Hajime kembali bergumam di telinganya. "Kembalilah padaku, sayang. Ikuti pernapasan dan detak jantungku. Kau omega yang sangat baik. Omega-ku yang berharga. Tooru ikutilah kata-kataku, bernapaslah." Perlahan Hajime mengatur tempo pernapasannya, berharap metode ini akan tersampaikan. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tooru, menghisap ikatannya dan terus mengatur pernapasannya.

"Ikuti caraku, sayang. Bernapas perlahan." Hajime mengusap pinggul Tooru, memberi dukungan. Dan akhirnya Tooru mengikutinya. Terdengar menyakitkan tetapi sang omega masih mendengar kata-katanya.

"Benar, teruslah seperti itu sayangku." Dua puluh menit Hajime terus melakukannya sampai ia dapat merasakan kehadiran seseorang. Ia terlalu fokus sampai lupa jika Ennoshita seharusnya sudah berada di sana.

Pernapasan Tooru jauh lebih stabil. Tubuhnya berhenti menggigil, hanya tersisa isakan. Hajime mengambil telepon genggam dan menelepon Ennoshita untuk masuk ke kamarnya. Pintunya terbuka, sosok Beta berperawakan sedang masuk.

Mengetahui ada orang yang memasuki teritorinya, tubuh Tooru kembali menegang. Suara geraman dari dadanya terdengar mengancam. Ingatan para alpha yang menyentuhnya kembali hadir, namun kini ia siap melawan.

Hajime menatap Ennoshita, tatapannya menyiratkan sesuatu. Sementara ia mendekap Tooru lebih kuat. "Tenang sayang, dokter ingin menyembuhkanmu. Tidak ada yang berniat menyakitimu, aku akan melindungimu, Tooru."

Dokter itu mendekat, matanya bertanya kepada sang alpha. "Siklus Tooru menyakitinya. Dokter bilang ia baru bisa kembali ke siklus biasa setelah enam bulan pasca melahirkan. Tapi tiba-tiba panasnya datang menyakitinya seperti ini." Hajime menjelaskan pelan. Tangannya kini sibuk menutupi bagian privat sang omega.

Dokter itu menghela napas. Kejadian seperti ini bukan sekali saja pernah ia tangani. "Sekarang bagaimana kondisinya?"

Hajime bangkit sedikit memeriksa kondisi omeganya, yang kini tertidur kelelahan. "Sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Siklusnya sangat berbeda dari biasanya. Kadang-kadang menggebu-gebu lalu meredup tergantikan sakit." Sang alpha duduk, ia menghela napas berat.

"Apa terjadi sesuatu dengan omega-ku?"

Ennoshita tanpa ragu menggeleng. "Kasus ini menimpa hampir setengah dari omega pasca melahirkan. Awal siklus dapat datang tiba-tiba seperti ini. Kedatangan yang tiba-tiba membuat sistem tubuhnya terkejut setelah tidak merasakannya selama berbulan-bulan. Hormon Tooru-san juga pasti memperparah kondisinya."

Sang dokter mengambil tas kerjanya, mengeluarkan beberapa perlengkapan. Ia memandang sang alpha, memohon izin. "Bolehkah aku memeriksa Tooru-san?" Hajime mengangguk. Ennoshita mengeluarkan stetoskop, memasang di telinganya. "Tolong turunkan selimutnya sedikit." Dengan patuh Hajime menurut. Ennoshita mengangguk berterima kasih dan menempelkan lempengan dingin itu ke dada sang omega.

"Detak jantungnya cepat. Apa dia sempat mengalami hiperventilasi?" Hajime mengangguk. Sesaat ia bersyukur metodenya berhasil, tak dapat dibayangkan apa yang terjadi jika itu gagal. "Aku menyiapkan beberapa obat pereda nyeri. Siklusnya mendadak paling lama bertahan sampai tiga hari namun tidak akan terlalu menyakitinya. Semua tergantung pada caramu memperlakukannya."

Ennoshita meracik dan membungkus dua kantung obat dan menyerahkan kepada sang alpha. "Begitu dia bangun, segera berikan obat ini."

Hajime mengangguk, menghela napas. Sedikit lega mengetahui hal ini tidak seburuk yang ia pikirkan. "Jika ada keanehan pada siklusnya setelah meminum obat, segera bawa ke rumah sakit. Ada yang ingin kau tanyakan?"

Sang alpha menggeleng. Ennoshita pun mengangguk dan pamit pergi. Ia menoleh ke omeganya yang tertidur pulas. Hajime mengecup dahi Tooru penuh sayang. Penyesalan menyergap dadanya, menusuk jantungnya seperti jarum. Ia tidak bisa melindungi omeganya. Dan bagaimana jika hal itu akan terjadi lagi saat ia tidak ada?

Hajime menggeleng. Tidak, tidak akan ada hari seperti ini. Ia berjanji pada Tooru bahwa ia akan melindunginya seumur hidup.

Sang alpha kembali berbaring, ia menyamakan posisinya berhadapan dengan Tooru. Napas hangatnya yang teratur menyapu wajahnya lembut. Hajime mengusap rambut Tooru yang menutupi wajahnya, wajah cantik itu kini damai.

Kedamaian Tooru dan kelelahan yang ia rasakan membuat Hajime juga menutup mata.

 

FIN.

Notes:

Haloha! Aku kembali setelah sekian lama~ akhirnya bisa post series ini lagi >_< Entah apa yang ada di pikiranku pas nulis ini :") Tapi akhirnya aku bisa melewati masa-masa writer block. Aku juga lagi garap chapter berikutnya dari Wet Grass Scent dan ada kejutan nanti di work berikutnya hehehe.

 

Tapi semoga suka yahh!! Jangan lupa kasih kudos dan komentar biar aku semakin semangat nulis!

 

Sampai jumpa di fic iwaoi lainnya 4️⃣1️⃣❤️

Series this work belongs to: