Work Text:
Pencuri benih api, Flame Reaver– sosok bertopeng di balik misteri yang menganggu misi dari Chrysos Heir, merebut benih api dari Titan dan “Mereka” yang telah menjadi “setengah dewa”. Karena peristiwa gelombang hitam memporakporanda Amphoreus, menodai segalanya menjadi kerusakan abadi, bahkan Titan Pertikaian– Nikador, ikut terjatuh dalam malapetaka, hingga mengacaukan segalanya.
Grove of Epiphany, tempat bernaung Titan Rasionalitas berada, Cerces, ratusan atau ribuan sarjana berusaha melindungi mati-matian tempat mereka, melindungi sesuatu yang berharga tak jauh dari kebajikan dan ilmu pengetahuan, walau profesor Anaxagoras– atau Anaxa menentang dengan keberadaan makhluk dengan entitas tidak diketahui, dia hampir tidak berdaya ketika dirinya dihadapi sosok monster berwujud hitam di depannya.
Anaxa tidak takut kala menghadapi sosok monster itu, tanpa gentar sedikitpun senjatanya dikerahkan tak peduli luka dan goresan tersayat di kulitnya, bahkan mantel pakaiannya dia lemparkan sembarang arah. Namun sosok di hadapannya tak kewalahan sekalipun, memojokkan Anaxa terus menerus hingga dirinya nyaris tak bisa meloloskan diri.
Perutnya kemudian dihantam kuat, membuat Anaxa terpekik. Satu tangannya dia tarik untuk melawan makhluk tersebut, sedikit mengenai tudung mantel monster itu, namun gerakannya tertahan oleh sesuatu yang lengket, tunggu– Anaxa sendiri tidak ingat monster tersebut bisa mengeluarkan benda lengket menyerupai tentakel hitam di sekitarnya. Pedang yang dihunuskan ke leher Anaxa, monster itu bergumam samar, menatap Anaxa dan menarik dagunya seolah mengamati mangsa di hadapannya.
“Lepas- nngh!!” Mulutnya dibungkam oleh tentakel lengket makhluk itu, menerobos paksa ke pangkal tenggorokan Anaxa. Pergelangannya ditahan dan senjatanya dijatuhkan, tentakel-tentakel lain ikut merambat melilit badan Anaxa. Tiap sentuhan benda lengket mengenai kulit telanjang Anaxa, pria tersebut merasakan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rasanya sesak, dia kesulitan bernafas. Semakin Anaxa melawan pergerakkan tentakel di tubuhnya, semakin kuat cengkeraman makhluk ini, seolah tentakel menjijikkan ini terus menerus menyerap energi miliknya.
Dia tidak bisa bergerak bebas, terlebih lagi tentakel-tentakel tersebut memaksa dirinya berpose memalukan seperti ini dengan posisi kedua kakinya terbuka lebar.
Sayup, Anaxa bisa mendengar monster tersebut berderum. Wajahnya begitu dekat, tak peduli Anaxa yang kewalahan mencoba mengambil nafas nyaris berlinang air mata.
Pantulan netra biru samar-samar dari balik topeng, sosok familiar yang Anaxa begitu kenali.
Iris Anaxa terbelalak kala monster tersebut merobek kuat kain yang menutupi tubuhnya, memperlihatkan kemaluannya yang menyembul keluar.
Oh tidak, Anaxa tidak suka ini. Pria itu menggelengkan kepalanya kuat, meronta-ronta meminta makhluk tersebut berhenti. Dia tak bisa berbicara, mulutnya dibungkam dan ujung tentakel itu terus menghujam pangkal tenggorokannya hingga saliva tidak berhenti menetes.
“Mmhh–!!” Pupil Anaxa membeliak, lubang anusnya diisi jari-jari monster tersebut. Tentakel lain memijat pipi bokongnya, mencoba melebarkan lubang anus Anaxa yang menganga kemerahan. Sakit. Rasanya sakit. Anaxa merintih karena lubangnya masih kering dan dimasukkan jari secara paksa, dia merasakan perih ketika jari monster didorong kasar hingga menimbulkan luka gesekkan.
Sesuatu yang lengket masuk ke dalam mulutnya, mengalir panas menuju kerongkongan. Anaxa dipaksa menelan cairan tersebut. Tak hanya itu, lubang anusnya berkedut panas merasakan sensasi yang sama.
Tentakel yang membungkam mulutnya dijulur kembali, Anaxa terbatuk-batuk meraup udara yang nyaris terkikis di sekitarnya, dia tak lagi memberontak seperti tadi. Namun, dirinya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh– kalau monster tersebut dia menahan kedua pahanya.
Sadar akan situasi yang semakin darurat, Anaxa menoleh ke bawah menatap horor. Ukuran penis yang terlalu besar– bahkan nihil untuk masuk ke lubang miliknya. Anaxa menelan ludah berat.
“J-Jangan– Jangan kau masukkan benda ukuran itu di dalam–”
Monster itu tidak peduli, menggesek-gesekkan kepala penisnya di sela-sela lubang cincin anal Anaxa, memaksa masuk ukurannya di lubang yang kecil.
Hingga Anaxa berteriak, terpekik kuat. Jarinya meremas bahu monster itu, air matanya tidak bisa berhenti.
Harga dirinya diinjak begitu saja. Dia tahu monster ini bukan tandingannya. Dia lebih memilih mati dibunuh daripada diperkosa monster menjijikkan ini. Anaxa seolah pasrah ketika lubang miliknya dipaksa untuk menerima ukuran penis raksasa yang bahkan merobek lubang rektumnya. Ini penghinaan, tidak salah lagi.
Tapi tidak bisa. Tubuhnya seolah tak mendengar keinginannya. Bagaimana penis raksasa tersebut masuk ke liang miliknya lantas sekejap mengubah dirinya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya perlahan tercipta nikmat. Acap kali umpatan dia lontarkan perlahan menjadi desahan syahwat.
Ukurannya terlalu besar, dari perut Anaxa tercetak jelas ukuran penis monster tersebut menyembul menghantam titik nikmat Anaxa berkali-kali.
Tubuhnya merinding, Anaxa dibuat mabuk olehnya. Tanpa sadar kedua lengannya dikalungkan, membiarkan monster tersebut menciumnya dalam-dalam. Lidah panjangyang dijulurkan mengeksplorasi rongga mulut Anaxa, bagaikan cairan lengket bak afrodisiak yang terasa manis, Anaxa terus menerus mendesah nikmat.
Dia menikmatinya, diperkosa makhluk ini. Mungkin tidak apa-apa.
“Ngh– Hah.. J-Jangan berhenti..” racau Anaxa saat tempo gerakannya semakin cepat. Berkali-kali Anaxa ejakulasi mengenai perutnya, namun lubangnya tak henti-henti diisi. Rasanya penuh, bahkan rasa di perutnya terasa panas, seolah dirinya akan dibuahi sebentar lagi.
Pikirannya berkabut, tidak lama diirinya kehilangan akal sehatnya.
Anaxa hampir mencapai batasnya.
Kepalanya terasa pusing dan kesadarannya sudah hampir hilang, namun rasanya monster tersebut tidak berhenti menyemburkan cairan mani di dalam lubangnya, terlalu banyak hingga perutnya menggembung dan menetes mengalir dari pangkal pahanya.
Ah…
Gawat..
Anaxa sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Bagaimana cara dia melaporkan hal ini ke anggota Chrysos Heir yang lain? Terutama perempuan itu, uh– dia sudah cukup sakit kepala jika harus bertemu perempuan yang tak.punya kemanusiaan itu lagi.
‘Sepertinya kalian harus mencari Chrysos Heir yang lain sebagai penggantiku .’
Kelopak matanya berat, pikirannya kini teringat wajah Phainon yang tersenyum dengan iris laut biru sejuk itu.
