Work Text:
Teruntuk Papa Emeritus Terzo dan dunia yang tercipta dari rangkai tangan-tangan kita sendiri. Serta merta menetas mentari dari tetes air mata. Ia menumbuhkan tunas-tunas dalam nadimu, berbunga di antara bilah paru-parumu, membubuhi tubuhmu dengan rintik puji-pujian karena seluruhmu adalah layak untuk dihujankan keindahan.
Lalu, katakanlah, bila aku mendekapmu cukup lama, apakah bebungaan itu akan turut bertumbuh dalam hampar kosong jasadku?
Keindahan yang semestinya untuk ditakuti, kata mereka.
Keindahan yang mengundang marabahaya masuk ke dalam rumah, keindahan yang haus darah–karena kamu memanggul nama Setan di atas kedua pundak dan ruahkan puja bersembah. Kamu mengucapkan namanya dengan khidmat dan bukannya sebagai sumpah serapah.
Kendati demikian, aku hanya ingin bersimpuh dalam teduh keindahanmu sebanyak ia pun menginginkanku. Bahwa ternyata keelokanmu mendamba bagian dari diriku, dan bagaimana aku bisa meledek, kamu sangatlah tamak , bila pada akhirnya kamu membuatku melihat rupa diriku melalui kedua matamu?
Tuhan, Tuhanku yang cantik, yang elok bagai tersemat karangan daun salam di kepalanya, kamu sering membawaku ke hadapan cermin besar di kamar tidurmu. Kamu menggandeng tanganku erat dan berdiri di belakang, hangat tanganmu ketika diletakkan di pinggangku. Bibirmu menempel pada daun telingaku, lalu keluarkan bisik yang mengantar gelitik, “Lihat, cara. Lihatlah dirimu.”
Yang memandang balik adalah hamba yang telah dicampak oleh mantan Tuhannya. Kadang kala aku berharap agar cermin turut sangkal kehadiranku, tidakkah ia malu pertontonkan refleksi rusak dan borok yang menapak raga?
“Betapa cantik dirimu, Sera.”
Namun kamu tak ubahnya menjadi bumi yang tenggelam dalam kerinduan luruh gemintang, memandang bolong-bolong raga surgawi yang menyalak merah sembari terperangah, seolah reguk nanah di lidah terus mengingatkan bahwa kamu selalu menjadi cita rasa rumah favoritku. Kamu masih memandangku dengan rasa lapar yang sama.
Papa, aku tidaklah cantik. Namun aku telan kata-kata itu karena bila aku berujar lantang, kamu akan beri hardikan lembut tanda tidak terima. Maka aku mengingkar diri dan kembali berkarang sepi. Keelokan dalam diriku mungkin hanya pernah sejemang bersua, lalu cela melalap semua. Janganlah tatap aku selayaknya peziarah di hadapan altar palsu, oleh sebab aku tidak bisa meredakan laparmu.
Dan kamu selalu bisa menemukan cara untuk mengupas getir dari kulit.
“Lihat betapa cantik lengan yang setiap pagi temukan persinggahan pada leherku, lihat ruah bibirmu berseri bagai pelataran sanggar di mana kamu menggelar cinta di tiap-tiap ucapanmu, bagaimana lentik jemarimu meracik adonan di atas periuk."
Tidak cukup cantik. Lengan-lenganku kurus dan ceking, wajahku berlintang dilecut ujung belati.
“Jangan dicari,” kamu masih berbisik dalam telinga, seolah isi pikiranku terbaca olehmu. Suara lembutmu seperti mendendangkan irama samar di ujung lidah. “Tidak akan ketemu, tesoro . Kalau kamu mencari keindahan, kamu hanya melihat refleksi dari apa yang ingin kamu lihat.”
“Lihat betapa cantik cintamu.”
Aku selalu merindu akan tanah dan hangat dekapnya membelai kulit, hanya untuk menyadari bahwa ia menguburku terlalu dalam. Sentuh hangatmu menyepuh cahaya dari runtuhanku yang mengabu. Untuk pertama kali, kamu membuatku tidak membenci akan pantulan diri. Pecah tawaku rekahkan senyum pada parasmu.
Kamu membelai parut di sisi wajahku dengan jemarimu yang terkikis usia dan berukir luka. Lalu kamu menarik tanganku ke atas kepala dan menuntunku berputar perlahan di depan cermin. “Andai saja kamu bisa melihat dirimu seutuhnya, tesoro, dari setiap sudut, sebagaimana aku melihatmu; kamu sangatlah cantik bahkan dengan cara yang tidak pernah diungkapkan oleh cermin.”
Tanganmu berjumpa pada lekuk pinggangku dan kedua pasang kaki berdansa pada lantai pualam beratasnamakan segala hal-hal yang indah, berdansa disaksikan cermin yang pantulkan kebenaran; bahwa aku bukanlah noktah dalam hidupmu, benar ‘kan, Tuhanku?
Gaung ketukan-ketukan sol sepatu kita mencapai henti dan heningnya seolah merengek agar kita terus berdansa. Meskipun tidak ada hadirin yang memberi aplaus, aku yakinkan bahwa di bawah pohon angsana yang sering kita lewati ada sepah rasa yang menyorai berbahana.
Tuhan, Tuhanku yang mulia. Selayaknya dua manusia yang saling mencinta, kita ialah pengrajin kasih, sebagai perkakas kita gunakan bilah bibir yang mencipta rumah dari tiap-tiap napas yang berdesah. Rumah yang mempersinggah luka-luka untuk berpuisi, tiap parut-parut punya tempat di meja makan, lalu kita nyanyikan lagu pengantar tidur kepada borok-borok sebagai tanda bahwa rumah kita terima setiap cita bahagia pun lara berduka.
Jika rumah kita, rumah kita yang indah, dapat berbicara, apakah suaranya akan seperti aku atau dirimu?
“Selamat seratus hari bersama,” aku berbisik, hembus napasku bermekaran dalam ceruk lehermu yang masih aku panggil rumah. “Terima kasih sudah menerima cintaku apa adanya.”
Terima kasih telah menyadur bahasa keindahan untuk diriku.
Kedua lenganmu memeluk erat tubuhku. Hangat menyeruak saat kamu cium keningku lalu berbisik lembut pada telinga. “Semoga kita abadi dalam rahim keindahan.”
