Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-03-07
Words:
830
Chapters:
1/1
Kudos:
31
Bookmarks:
3
Hits:
466

corporate slave

Summary:

“hari ini masak aja ya, jangan delivery, pengeluaran kita harus ditahan seengganya sampai tanggal 27, oke?”

Jeno memutar bola matanya malas kala mendengar mark berbicara seperti itu, pasalnya, keduanya tidak memiliki skill masak sama sekali. Untuk memasak masakan instan saja selalu gagal. Nugget gosong, kornet gosong, mie kuah yang terlalu banyak airnya, dan masih banyak lagi yang berujung mereka akan melakukan delivery food.

Notes:

my first work ever in here.. it feels awks and fun at the same time. please enjoy :3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di akhir bulan ini, jeno dan mark harus semakin mengetatkan pengeluarannya. Keduanya sangat payah untuk tidak melakukan sesuatu impulsive padahal keduanya adalah budak korporat dengan gaji pas-pasan. ya meskipun kata pas bagi mereka dan sebagian orang berbeda, namun mereka menganggap gaji mereka sangat mepet dengan gaya hidup yang.. yah terlalu hura-hura.

“yang, kata orang twitter, katanya jangan nikah kalau gaji lu pas-pasan.” Mark sedang duduk santai di sofa ruang tamu kontrakan mereka sembari scroll di aplikasi yang bertuliskan X dengan background hitam tersebut.

“twitter anjir bahasa lu, X kali.” Jeno mencibir sang kekasih, dirinya ikut join untuk bersantai bersama di sofa. Melainkan duduk di sebelah mark, jeno sengaja mendudukan dirinya di atas pangkuan sang kekasih. Mark yang selalu sigap dan sudah terbiasa, tangan kirinha ia bawa untuk mengunci pinggang ramping jeno sembari mengelus perutnya dengan lembut. Jeno juga ikut menyamankan dirinya dengan cara menyandarkan badannya pada sang kekasih dan ikut mengintip apa yang sedang mark lakukan dengan gawainya.

“hari ini masak aja ya, jangan delivery, pengeluaran kita harus ditahan seengganya sampai tanggal 27, oke?”

Jeno memutar bola matanya malas kala mendengar mark berbicara seperti itu, pasalnya, keduanya tidak memiliki skill masak sama sekali. Untuk memasak masakan instan saja selalu gagal. Nugget gosong, kornet gosong, mie kuah yang terlalu banyak airnya, dan masih banyak lagi yang berujung mereka akan melakukan delivery food.

“kamu aja tadi masak sarden malah ditambahin air, jadinya hambar dan malah bikin enek tau. Ga kemakan, dibuang lagi, ujung-ujungnya makan roti yang udah kadaluarsa kemarin.” Mark terkekeh mendengar penuturan yang lebih muda, dirinya sungguhan tidak memiliki survival skill dibagian masak-memasak, pun jeno yang sama seperti dirinya.

“ya udah, warteg deh, kita beli ke depan nanti untuk makan siang sama malem sekalian, ya?” jeno mengangguk setuju atas tawaran mark. Meskipun keduanya harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli makanan tetapi tidak apa, setidaknya mereka tidak akan ber-eksperimen dengan makanan yang ujungnya hanya akan menjadi waste food.

 

Jeno dan mark sebenarnya sudah bertunangan sejak 10 bulan yang lalu, keduanya memutuskan untuk langsung tinggal bersama di kontrakan sederhana yang terletak di tengah-tengah padatnya pusat kota jakarta. Alasan untuk tinggal bersama yakni supaya tidak kaget ketika mereka sudah menikah, alasan klasik, padahal keduanya hanyalah budak cinta yang tidak bisa lepas dari satu sama lain.

Dengan penghasilan pas-pasan yang keduanya miliki, mereka cukup bisa bertahan untuk tetap hidup sampai sekarang, meskipun banyak kekurangan yang harus mereka tutupi, keduanya berusaha untuk menjadi support system satu sama lain.

“aku lembur kayanya yang, kalau udah ngantuk jangan tungguin aku ya.” Mark merapikan rambut jeno yang kini sedang memakaikan dasi pada leher mark. Jeno mengangguk sebagai jawaban, masih fokus untuk merapikan dasi sang kekasih.

“tapi aku pengen sourdough yang deket kantor kamu, bawain ya? Untuk besok sarapan deh.” Mark terkekeh geli, hari belum dimulai, namun jeno sudah memikirkan untuk esok hari? Yang benar saja.

“siang aku ojekin aja ga sih yang? Kenapa harus nunggu besok dulu?” Ranumnya mark kecup ketika senyuman lebar jeno tercetak jelas karena berhasil memakaikan dasi sang kekasih dengan rapih.

“sayang ongkos ah, kata kamu kita harus ketatin pengeluaran sampai tanggal 27, masih 5 hari lagi tau.” Jeno mencebikkan bibirnya gemas.

“iya iya, aku beliin buat besok kita sarapan, okay? Yuk berangkat, jangan lupa helm masih ada di ruang tamu ya.” Terakhir sebelum mereka berangkat, mark akan menarik jeno kedalam pelukanmya terlebih dahulu, ritual sederhana yang bisa meningkatkan mood keduanya untuk menjalani hari.

 

Bukan jakarta namanya jika jalanan tidak padat, padahal masih jam 6 lewat 15 tetapi macet sudah melanda jalanan luas yang keduanya tempuh. Sudah terbiasa dengan hal seperti ini, jeno akan dengan senang membuat suasana pagi ini terasa lebih ringan dengan cara memeluk kekasihnya sambil mengajak berbincang dan mengeluarkan jokes yang terdengar garing namun bagi mark itu adalah sesuatu hal yang paling lucu.

Memakan waktu sekitar 35 menit di jalanan, akhirnya mark berhasil untuk menurunkan jeno tepat di depan kantornya. Motor mark ia pinggirkan terlebih dahulu sembari membantu jeno untuk membukakan helm dan merapikan rambut yang lebih muda. “Makasih sayangg, berarti hari ini aku pulang pake TJ ya?” dengan posisi mark yang duduk di atas motor sementara jeno sudah berdiri tepat di depan sang kekasih, keduanya masih sempat untuk mencuri waktu untuk berpacaran.

“kalau kamu mau nunggu aku ya gapapa sih, seneng akunya yang. Tapi kalau engga juga ya gapapa…”

“males lah aku kalau nunggu kamu, bisa sampe jam berapa malem.. mending aku langsung ke rumah sambil beres-beres juga sekalian.”

“yaudaaahhh, nanti langsung live-location aja ya kalau kamu udah naik TJ. Keep me update ya sayang.” Akhirnya keduanya mengakhiri percakapan singkat mereka, dengan mark yang langsung menancapkan gas pada kantornya yang untungnya tidak jauh dari kantor sang kekasih dan jeno tentu tidak akan masuk sebelum dirinya melihat mark pergi dan menghilang dari jarak pandangnya. Hal seperti ini merupakan rutinitas keduanya yang sudah dijalani selama kurang lebih 3 tahun sejak mereka menjalin kasih. Jujur saja tidak ada kata bosan untuk mark melakukan hal repetitive seperti ini, malahan ia sangat bersemangat untuk terus melanjutkan hari dan menjadikan hal remeh seperti ini untuk terus melanjutkan hidupnya.

Notes:

HA… sebenernya masih mau nulis banyak tapi nanti dulu deh, masih seeking some comfort to write in here!! hehe semoga suka :3