Work Text:
Hari ini Chenle pulang kerumah masa kecilnya, mungkin sekitar 1km lagi pemandangannya sudah bukan sawah melainkan sebuah rumah usang yang penuh cerita. Semilir angin khas desanya ini menemani dan membawa ia kepada memori masa kecilnya. tepat di tanah yang ditanami padi ini, ada satu memori yang ia ingat dan baru menyadari arti malam itu.
Flashback
Suara anak kecil berlarian
"Chenle, Ayo pulang!" teriak sesosok lelaki diseberang sana dengan topi caping dan sepatu boot khas seorang petani.
"Aku pulang dulu ya, dadah!" Chenle kecil berpamitan dengan sahabatnya.
Kini baba dan anak itu berjalan dibawah jejeran pohon kelapa yang sengaja ditanami dipinggir jalan.
"Baba cape ga? Chenle cape deh lari-larian sama Jisung dan Ningning" Chenle mengangkat kepalanya untuk melihat apakah lelaki yang berjalan disampingnya itu merasakan lelah sepertinya?
"Engga dong, baba kan kuat" dengan sebuah senyum simpulnya, Renjun mencoba membuat Chenle tak melihat seberapa lelahnya dia.
Seandainya saja sadar bahwa setetes keringat yang keluar dari pelipis Renjun adalah jawaban dari pertanyaannya. Namun apa yang bisa diharapkan Renjun dari seorang anak kecil.
Terdengar ada suara motor tua memasuki perkarangan rumahnya, Chenle pun langsung berlari keluar.
"Baba!!! Ayah pulang! Ayah pulang!!" Seolah memberitahu yang didalam walaupun sebenernya sudah tau.
"Ayah! Chenle kangen Ayah, gimana ibukota Ayah? Ayah cape ga?" Entah lah mengapa ia suka sekali bertanya seperti itu dulu.
Haechan dan Chenle sudah masuk kerumah dan langsung mengarah ke meja makan karena kini Renjun sudah menyiapkan masakan yang akan disantap malam ini. Kini Renjun sedang menata lauk serta piring dimeja makan.
"Ya engga dong, Ayah kan juga kuat kayak Baba, ya kan sayang?"
"Iya dong, emangnya Chenle yang baru main sebentar aja sudah ngeluh cape" ucap Haechan yang tangannya juga ikut mengejek Chenle dengan menyentuh hidungnya lalu beralih mencium kening Renjun sebagai bukti bahwa ia kini sudah pulang.
"Chenle juga mau kuat kayak kalian ah biar ga diejek Jisung dan Ningning mulu soalnya Chenle suka bilang cape kalo lagi main"
"Nah, biar Chenle kuat sekarang makan yang banyak ya biar cepet kuat kayak Baba sama Ayah" Renjun berkata sambil menaruh nasi dipiring Chenle.
Keluarganya setiap malam selalu berkumpul sehabis makan dibawah gelapnya langit malam dibelakang rumah. Seakan-akan malam menjadi waktu mereka berpelukan dan beradu lelah dengan hela nafas mereka yang berat. Namun apa lah yang Chenle tau arti dari semua itu.
Balik lagi kemasa sekarang
Setelah memori itu muncul kini Chenle mengerti bahwa malam menjadi waktu mereka melepas wajah kuatnya dan sekarang ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Sejujurnya kepulangannya ini tidak diketahui oleh Haechan ataupun Renjun. Dan bisa dikatakan bahwa kepulangannya ini hanya sebuah pelarian untuk mencari kekuatan sehabis dijatuhkan oleh nasib dan keadaan di ibukota.
Chenle telah memasuki rumah dan hal pertama yang ia lihat adalah jajaran foto-foto yang disusun rapih mulai dari foto potret dirinya yg tengah di gendong Haechan, dirinya yg ditatah saat kecil oleh Renjun, serta foto mereka bertiga di dlm saung sawah milik Pak Haji yang membuat Chenle tertawa kecil mengingat bayangan masa kecilnya yang tidak punya beban sama sekali.
Setelah puas melihat dan mengenang foto-foto kecil, kini ia memfokuskan matanya kepada frame yang paling besar yaitu foto pernikahan Haechan dan Renjun hingga mungkin yang ia liat sekarang bukan lagi senyuman Haechan dan Renjun tapi bayangan dirinya di kaca frame itu.
Chenle kini tersadar waktu telah mengikis umur mereka tanpa ragu.
Detik itu juga Chenle langsung mengangkat tangannya untuk meminta kepada Sang pemberi waktu
"Tuhan, aku tau, aku adalah si pendosa yang sombong, yang hanya bertemu dan meminta kepada Mu saat ada mau nya saja. Tapi, Tuhan bolehkah seorang hamba yang penuh dosa dan sombong ini meminta agar mereka selalu bahagia sampai waktu benar-benar terkikis dan menguburnya dalam bumi Mu?"
Tidak lama sesosok laki-laki tua pun muncul dari arah dapur dan menghampirinya. Sadar dengan kehadiran lelaki tua itu, Chenle pun dengan cepat menutup permintaan itu dengan kata aamiin dan mengusap air matanya yang tanpa sadar telah berjatuhan.
"Ayah! Chenle pulang!" Kini tangannya kembali diangkat namun bukan untuk meminta kepada Sang pemberi waktu tapi untuk meminta sebuah pelukan kecil yang selalu ia rindukan.
Laki-laki tua itu pun memberinya sebuah pelukan dan senyuman yang sama seperti dulu namun sekarang dari wajah keriputnya.
"Jagoan Ayah pulang kenapa ga bilang-bilang?" Peluk itu berubah jadi sebuah rangkulan yang menuntunnya ke dapur.
"Ayo masuk kita makan siang dulu, kebetulan Baba kamu masak kesukaan Ayah sama kamu"
"Wahh pas banget Chenle laper, cape juga 3,5jam dikereta cuman makan angin"
"Kamu ini ada-ada aja"
Sambil berjalan kedapur dan masih didalam rangkulan Haechan Chenle kembali menengok frame itu dan berkata "Chenle janji, akan mengubah waktu malam bukan untuk saling mengadu lelah lagi setelah ini, dan saat kembali ke ibukota nanti, Chenle akan pulang lagi buat ngasih kekuatan kayak yang biasa kalian kasih ke Chenle."
