Work Text:
Tinggal 20 hari menuju UTBK, tapi otak Youngjae tiba-tiba tidak bisa diajak kerja sama. Sudah nyaris sejam kalimat-kalimat di hadapannya mengawang tidak jelas. Disuruh mencari kalimat efektif, tidak ada satupun dari kalimat-kalimat tersebut masuk akal buatnya. Barangkali dia yang sudah tidak masuk akal, diporak-poranda oleh kehadiran sesosok mahasiswa asal Bandung yang tiba-tiba mengabari sudah di depan rumah padahal kemarin masih di Tasik merayakan hari raya dengan keluarganya.
“Susah soalnya?” Shinyu, di atas kasurnya, bertanya setelah Youngjae menggaruk rambut.
“Iya, lumayan.”
Jawaban dari yang lebih muda mendorong mahasiswa itu untuk mencondongkan badannya guna mengintip soal yang sedang dikerjakannya. Melihat paragraf panjang di atas layar dari samping cukup membuat Shinyu bergidik ngeri.
“Literasi ya? emang anjing itu soalnya. Skip ajalah Jae ke PM sini aku bantuin.” Shinyu terkekeh, menepuk area kosong dihadapannya.
Youngjae tadinya mau menolak ajakan kakak kelasnya itu, tapi kala melihat Shinyu membenarkan posisi kacamatanya, dia jadi berfikir dua kali untuk bilang tidak.
Shinyu dan kacamata hitamnya. That goddamn glasses yang sukses buat Youngjae susah konsentrasi. That goddamn glasses that makes Shinyu looks a hundred times sexier.
Youngjae menelan ludahnya. Duduk berhadap-hadapan dengan Shinyu kayak gini malah buat hatinya bergetar hebat. Dia gak yakin imannya kuat dituntun pelan-pelan untuk menyelesaikan soal oleh Shinyu dan kacamatanya. Youngjae merasa seperti bunuh diri. Kenapa sih sampai hari ini dia masih salting sendiri?
“Ini sisi depan, ini alas, berarti nyari miringnya pake sin?”
“Gak usah dong.” Shinyu mengetuk gambar anak tangga di soal. “kan nyari lebar sama tinggi anak tangganya cukup pake tinggi sama alas segitiga. Tinggal dibagi peranak tangga aja.”
Youngjae mengangguk, kacamatanya sendiri turun nyaris ke ujung hidung. “oh iya juga.”
“Jae bentar.” Shinyu yang sadar kacamata Youngjae sebentar lagi jatuh buru-buru mendorong pundaknya pelan. Sementara posisi kacamatanya dibetulkan, tubuh Shinyu yang maju membuat Youngjae dapat melihat pemandangan di depannya semakin jelas.
Youngjae gak yakin dia bisa kuat lanjut menghitung banyaknya ubin pada sepuluh anak tangga yang tingginya 1.5 meter itu. Shinyu dan kacamata hitamnya. Shinyu dan kacamata di kamarnya. Shinyu dan kacamata di atas kasurnya, hanya mereka berdua saja. Di rumah yang besar ini hanya ada mereka berdua yang memilih untuk duduk berhadapan di atas kasur dan dihalangi oleh tabnya yang enggak seberapa itu. Youngjae punya dua pilihan antara lanjut ngerjain soalnya atau membiarkan impulsifnya menang. Akal sehat Youngjae nyaris membuatnya sadar kembali jika saja —
“ngeliatin mulu Jae kenapa sih?”
— pancingan setan dari mulut pacarnya yang kurang ajar itu menutup bibirnya sendiri.
“Jelek ya aku pake kacamata?” Youngjae menggeleng.
“Enggak kak apaansih siapa coba yang bilang begitu.”
“Abisnya kamu dari tadi engga fokus banget ngerjainnya. Takutnya keganggu sama aku.”
“Engga kok bukan gara-gara kakak.”
“Oh ya?” Di tahap ini Youngjae buru-buru meraih pen tabletnya lagi, tetapi sayang tangan Shinyu kepalang cepat mencegal. Ditautkannya jemari keduanya dan jempolnya mengusap permukaan tangan Youngjae dengan seduktif.
“Terus kenapa gak bisa fokus, Jae?”
Mau malu juga kepalang ketahuan. Youngjae menoleh sekilas ke arah pintu yang tertutup. Dari samping telinganya kelihatan jelas sudah memerah.
“Kita cuman berdua sih kak.” Kemudian pandangannya kembali di arahkan ke hadapan Shinyu. “Kalo kelamaan Mama sama Papa keburu pulang.” Dia meringis sendiri mendengar ucapannya. Maklum lah ini pertama kalinya Youngjae yang dengan gamblang memberi lampu hijau. Biasanya Shinyu yang memulai sementara dia menolak sampai telak. Kali ini Youngjae sudah tidak kuat kalau masih harus meladeni Shinyu.
“Gemes banget anjing.” Youngjae tidak mendengar ketika Shinyu mendesis sembari menyingkirkan tab ke nakas di samping kasur dengan tangannya yang menganggur sementara yang bertaut menarik Youngjae mendekat.
Dikecupnya leher jenjang Youngjae dari perpotongan pundak sampai belakang telinga. Dari area itu Shinyu bisa menghirup lagi wangi segar yang selalu membuatnya mabuk kepayang seperti alkohol yang memintanya mengejar lebih. Tangan Youngjae gelagapan berkeliaran dari dada, pundak, sampai menemukan tempatnya di ujung rambut Shinyu. Ditariknya rambut panjang itu sampai Shinyu mendongak.
“Jangan di leher terus.” Youngjae mencebik. Seluruh wajahnya merona.
“Terus aku harus cium di mana lagi, Sayang?”
Keburu sebal, dia tarik sekali lagi ujung rambut itu, kali ini dengan tenaga lebih membuat Shinyu memekik.
“Bibirku udah nganggur tiga bulan, please dont make me ask for it.”
Terbuai dalam suasana panas, baik Shinyu maupun Youngjae lupa kalau sekarang dua-duanya memakai kacamata. Baru ketika wajah keduanya mulai mendekat mengejar nikmat itu, suara dua plastik kokoh beradu dan keduanya menjerit kala penopang hidung kacamata masing-masing menusuk ujung mata mereka.
Shinyu menggeleng kepalanya merasa konyol dengan kejadian barusan. “Sialan.” Baru saja dia hendak membuang kaca mata miliknya jauh-jauh, Youngjae buru-buru mencegahnya. Kaca mata bening miliknya entah sudah hilang kemana.
“Punya kamu stay. That’s the one that started this.” Sebelum kembali menarik tengkuk Shinyu dan menyatukan bibir keduanya.
Youngjae bisa bersumpah Shinyu tersenyum lebar dalam ciumannya.
Beberapa minggu lalu di tengah kebosanan mendengarkan pembahasan soal TO, seorang teman pernah bertanya kepada Youngjae, seperti apa rasanya punya pacar yang lebih tua? Youngjae menjawab dengan pukulan di kepala dan satu gelengan kecil. Biasa aja.
Saat itu baik Youngjae maupun Shinyu sedang sibuk-sibuknya, mereka sama-sama tidak punya waktu untuk saling mengabari apa lagi bermesraan. Tapi kalau dia ditanya lagi sekarang, seperti apa rasanya punya Shinyu sebagai kekasihnya, Youngjae akan berteriak dengan keras bahwa rasanya seperti menjadi ikaros.
Setiap friksi sentuhan Shinyu di kulitnya terasa seperti hangatnya matahari memeluk tubuh ikaros di langit. Tangannya mempererat pelukannya di pinggang, perlahan memindahkan Youngjae untuk duduk di atas pahanya. Sedetik kemudian telapak lebar itu sudah menyelinap masuk ke dalam kaos putih Youngjae, mengusap punggungnya naik turun, kemudian menekan putingnya usil buat yang lebih muda mendesah dalam ciumannya.
Setiap cumbu yang saling mengejar membuat Youngjae paham kenapa Ikaros tak lelah terbang di antara awan. Shinyu menciumnya dengan tergesa-gesa, seolah takut waktu akan merebut sisa-sisa hari yang mereka punya. Kali ini Youngjae yang tersenyum di sela-sela pagutan. Ternyata Shinyunya yang terkenal akan eksposur diri yang tenang itu bisa hilang kendali jika dihadapkan dengan nafsu. Youngjae suka setiap kali Shinyu yang mengendalikan kegiatan mereka. Gerakan laki-laki itu selalu berantakan, tapi berusaha lembut di saat yang sama, seakan takut melewatkan sedetikpun gairah keduanya tanpa mau menyakiti yang lebih muda.
Dalam satu hentakan dibawa lebih dekat lagi Youngjae kepada Shinyu bersamaan dengan lidah yang mengetuk deretan giginya. Telapak Shinyu semakin gencar menggerayangi tubuh kurus Youngjae. Pada satu titik, kaosnya sudah diangkat membuka dadanya telanjang. Youngjae setahun yang lalu pasti masih malu-malu tiap kali dipaksa memperlihatkan badannya, tapi Youngjae yang sekarang tahu lebih baik untuk cepat-cepat menanggalkan seluruh bajunya dan mengejar pujian dari si kakak.
“Cantik.” satu kecupan di leher.
“Cantik banget.” Satu kecupan di tulang selangka.
Permukaan dingin plastik dan kaca yang ikut bersentuhan dengan kulit menambah sensitifitas dirinya. Semakin keras lumatannya, semakin keras pula desahan dan cengkramannya pada punggung Shinyu.
Lama kelamaan lidah milik Shinyu bermain semakin turun hingga jalanan basah yang di buatnya bermuara ke ujung puting Youngjae yang sudah mengeras. Digigit pelan ujungnya yang merah buat Youngjae sukses mendesah kepayahan.
“Kak, ah — jangan, please — ”
Jambakan di rambutnya seolah tak terasa sakit sama sekali karena alih-alih menjauh, Shinyu malah semakin keenakan menjilati puting kanan pacarnya sementara puting kirinya disentil pakai jari-jari panjangnya. Rasanya geli dan tidak nyaman. Namun Youngjae gak bisa munafik kalau dia juga mau lebih.
Makanya ketika Shinyu beralih ke putingnya yang satu lagi, Youngjae memajukan pinggangnya, membuat dua gundukan itu beradu friksi. Entah Shinyu sudah kepalang sibuk dengan lidahnya di dada Youngjae atau dia sengaja tak acuh, Youngjae pikir dia juga harus melakukan sesuatu untuk kekasihnya.
Tangan kanannya yang semula bertengger di pundak Shinyu kini turun ke bawah meremat kejantanan pacarnya yang masih dibalut celana. Gerakan dua-duanya sama buru-buru. Awut-awutan. Baik cecapan Shinyu di puting Youngjae maupun usapan Youngjae di bagian selatan Shinyu. Mungkin beginilah rasanya ketika Ikaros berjalan bolak-balik di menara ayahnya tak sabaran ingin cepat-cepat melenggang di udara.
Bibir Shinyu naik lagi ke atas, kali ini ke daun telinganya dan berbisik sesuatu yang dijawab anggukan lemah oleh Youngjae.
20 menit kemudian timer di layar ponsel Youngjae masih berjalan menunjukan waktu 2 jam 16 menit 35 detik, 20 menit kemudian keduanya masih sama-sama mengejar putih dengan kejantanan mereka saling bergesekan dibalut oleh dua tangan lentik, 20 menit kemudian bibir keduanya kembali bertaut dengan lidah memenuhi rongga mulut satu sama lain.
Ketika cairan bening itu keluar bersamaan mengotori perut Youngjae dan kaos Shinyu barulah kepala keduanya menjauh. Shinyu mengecup pipi Youngjae penuh afeksi sebelum menyatukan lagi bibir keduanya. Kali ini ciuman itu terasa lembut dan hati-hati. Yongjae pikir, mungkin beginilah rasanya ketika Ikaros jatuh ke laut. Dia sudah mencicipi nikmatnya dunia di ujung matahari, tentu saja dia juga ingin merasakan lembutnya dunia dari sisi laut terdalam.
Youngjae ingin Shinyu juga merasakan nikmat yang dia rasakan. Selama ini Shinyu selalu menahan demi kenyamanan Youngjae sendiri. Namun tahun ini dia sudah 18 tahun, sudah cukup dewasa untuk mengambil risiko. Makanya ketika Shinyu berusaha meraih tisu di nakas, Youngjae melepaskan celananya yang masih tersangkut di lutut. Shinyu masih belum sadar waktu Youngjae mendorong pelan badannya sampai dia telentang di kasur dan Youngjae mengurungnya dari atas dengan tubuhnya yang sudah telanjang bulat.
“Youngjae, hei, kenapa?” Wajah Shinyu mengerut khawatir. Wajah kecilnya masih dihiasi kacamata yang sukses besar buat Youngjae menggila hari ini.
“I know I’ve never tried this my self before. I was scared. Tapi sekarang ada kamu, jadi kupikir gapapa.” Youngjae menarik napas panjang. Memantapkan dirinya.
Kemudian dia ambil telapak Shinyu dari pinggangnya dan dia bawa jemari itu untuk menyentuh lubangnya yang masih perawan.
“Do me gently, will you?”
Hal berikutnya yang Youngjae tahu, timer di ponselnya masih terus berjalan tanpa ada soal baru yang terjawab, 3 kondom terikat di tempat sampah, dan badan hangat Shinyu yang memeluk dirinya dalam lelap.
