Work Text:
SMA Pelita Semesta adalah salah satu sekolah internasional di Indonesia yang saban tahun selalu menjadi incaran orang-orang elit dari golongan atas. Murid-murid mereka terdiri atas anak-anak dari kelompok penting dan terkemuka, seperti Alex Claremont-Diaz—anak seorang politisi yang menjabat sebagai ketua umum sebuah partai besar—dan Henry Fox—keturunan keluarga kerajaan Britania Raya, tetapi disembunyikan di Indonesia dan marga Mountchristen-Windsor tidak disematkan padanya karena ia merupakan anak haram.
Mereka berdua menempuh pendidikan di SMA Pelita Semesta yang memang banyak dipilih sebab selalu berhasil memproduksi lulusan yang cerdas dan berkualitas, serta siap untuk mendaftar ke universitas favorit. Biarpun demikian tujuannya, seperti halnya dalam produksi barang, kadang-kadang ada hasil samping yang tak terduga. Ciuman panas antara Alex dan Henry adalah salah satunya. Bahkan, kejadian ini tak sekalipun pernah terlintas dalam pikiran Alex saat Henry tiba-tiba mengajak Alex pergi ke toilet setelah ekskul usai dan mendorong bahu Alex masuk ke suatu bilik.
Cepat tanggap, Alex membalas ciuman Henry dan mereka saling beradu dominasi. Walaupun sering melontarkan godaan dan candaan tak senonoh, Henry jarang-jarang menginisiasi sentuhan atau aksi. Mana mungkin Alex menolak ketika pacarnya jadi aktif begini, justru ia suka.
Gulat lidah antara keduanya membuat Henry kehabisan napas dan harus mengakui kekalahan saat memukul pelan Alex pada akhirnya. Kala bibir mereka berpisah, seutas benang saliva terbentuk. Kali ini, paru-paru mereka berlomba merebut oksigen.
"Maaf," Henry mengucap, masih terengah-engah. "aku bikin kaget ya?"
Alex terkekeh. "Tapi aku suka kok. Is there something, babe? Tumben agresif gini."
Henry melempar pandangan. Ragu dan malu untuk menjawab. "Hmm ..., ada rumor kalau kamu sama adek kelas yang anggota cheerleader itu pacaran. Anak basket sama cheerleader. Cocok, kata mereka."
"Ooh, cemburu nih?" Seringai tersungging di muka anak ketua partai itu sehingga Henry pun mengerucutkan bibir.
"Memang."
"Ututu, lucunya." Alex mencubit pipi pacarnya. "Tenang aja. I'm yours, sweetheart. Only you in my heart."
"But, she likes you, isn't she?"
"I don't care about her, sweetie. Never once I lay my eyes on her," tegas Alex sembari mengusap punggung tangan Henry.
Mata Henry tertuju pada belaian Alex; ia suka belaian sang kekasih. Apalagi, saat pemuda berjiwa politik itu mengangkat tangan Henry dan mengecup punggung tangannya. Henry bersyukur jantungnya tidak benar-benar meledak ketika Alex melakukan aksi yang menurutnya amat romantis itu.
"...Thank you. I love you, Alex." Henry akhirnya berucap.
"Love you too, babe."
Mereka pun saling bertatapan tanpa bertukar kata selama beberapa saat sebelum Alex perlahan mendekat dan mengecup lembut bibir Henry. Mulai dengan kecupan lembut sampai beranjak ke ciuman yang penuh gelora muda seperti tadi.
Di bilik toilet sekolah yang tertutup, pada sore hari itu, hanya berdua. Mereka seolah-olah berada di semesta mereka sendiri. Masa bodoh dengan gelar, jabatan, ataupun marga. Masa bodoh dengan pendapat sosial, komentar publik, dan akal budi.
Behind the closed door, they're in love and capable to love themselves.
