Work Text:
Shua is calling…
Mingyu sedang mengerjakan tugas kuliahnya saat ponselnya bergetar di atas meja–ada sebuah panggilan video yang masuk. Nama yang ia kenal terpatri di sana. Setelah ia ingat-ingat, bukankah seharusnya pria ini sedang memadu hubungan dengan teman satu tongkrongannya? Lantas kenapa?
Ia ambil ponsel itu dan menggeser tombol menerima panggilan, mendekatkan ponselnya ke arah wajahnya.
“Ada apa, Mommy cantik?”
“Mmhh~ hhhahh… uunngghh~” suara lenguhan, tampak Shua yang sedang mengelus-elus perutnya duduk di dekat tempat tidur megah dalam kamarnya. Di belakangnya bahkan samar Mingyu bisa melihat foto pernikahan sang carrier dengan pasangan sahnya, “Mingyu-ya~”
“Mm? Kenapa Mommy sayang? Perutnya sakit, ya?”
“Seokminie… ga bisa dihubungi…” Shua terisak, ia buka coat yang menutupi tubuhnya; memperlihatkan perut besarnya yang mengkilat saat tertimpa cahaya temaram di kamar besar itu. Entah karena susunya yang tidak mau berhenti keluar dari ujung puting atau karena keringatnya yang bercucuran menahan sakit, “Mingyu-ya~ Mommy takut~ sakit banget perutnya… mmnnhh~ huuuuhhh… hufffddd…”
“ Mommy udah telepon ambulans? Udah panggil asisten?”
Shua menggeleng kuat-kuat, ia posisikan ponsel di depannya, sepertinya diletakan di tumpukan baju karena Mingyu bisa mendengar gesekan mikrofon ponsel dengan kain. Sekarang pemandangan yang bisa Mingyu lihat lebih gila lagi; dada montok berisi, perut besar, ditambah dengan memek Shua yang merekah; merah muda, kontras dengan kulit putihnya. Belum lagi ditambah dengan puting kecokelatannya yang mencuat.
Wah, sialan, Seokmin menang banyak.
“ Mommy mau ditemenin ngeden~ hhh… Seokminie nakal~ nggak mau temenin Mommy~ ”
Ah, anjing…
Mingyu meneguk ludah, keringat mulai mengucur melintasi pelipisnya.
“Gyuu~ ssssh~ bayinya nendang-nendang, sayang, liat…” perut besar itu dielus memutar, naik turun, ujung jari Shua mengenai bagian bawah perut sebelum ia elus turun ke bawah, menuju memeknya sendiri, “Gyuu~ ohhh~ dulu Gyu pernah jilat-jilat ini, kan? Nnn~?”
“ Mommy , lagi hamil gini malah tambah cantik banget, sih? Lagi diapain itu memeknya, Mommy ? Coba diteken-teken itilnya yang keras itu, Mommy sayang?”
Mendengar ‘perintah’ itu, Shua menurut, ujung jemarinya kini menyentuh klitorisnya sendiri, membuatnya memekik pelan dan mengeluarkan sedikit lendir dari memeknya. Jemari kakinya melengkung sementara punggungnya membusur, membuat perutnya tampak makin besar di kamera. Tentu saja langsung membuat tangan Mingyu refleks menuju ke celananya sendiri, menurunkan boxer yang ia kenakan sebelum akhirnya mulai mengocok kontolnya naik turun.
“Gyuuuhhh~ ahhh~ sakitnya makin intens~ mmhh~ bayinya Seok nakal banget di perut Mommy ~ ga mau cepet keluarnya. Liat Gyu~ neken-neken memek… liat kepalanya di jalur lahir ya~? Ouuhh~” Shua menekan-nekan bagian atas memeknya, memperlihatkan tonjolan di sana, tanda bahwa si bayi sudah mulai menemukan jalur lahirnya, “Ssshh~ aawhhh~ mmnnggghhh~! Ssshh~ sakit bangethh~ ahhh ahh~ lebih gede… kayak kontol kamu sama kontol Seok masuk barengan ke sini sayangh~ ahh~ Gyuuuhh~”
Mingyu meneguk ludah, tangannya makin cepat memanjakan kontolnya sendiri, memperhatikan bagaimana sang carrier menggerak-gerakkan kakinya, melebarkannya dan mulai menekuk jari-jari kakinya. Kepalanya menengadah sementara coatnya ia lepas seluruhnya sekarang, membuat tangannya dengan leluasa mencubiti dan memilin putingnya sendiri.
“Hhhh~ hukuman buat Mommy karena ga mau punya anak Gyu, malah punya anak dari Seok. Ngeden yang bener! Buat apa yoga kalo ga bisa atur nafas sendiri? Nakal ya Mommy lacurnya Gyu?”
“Gyuhh~ mmhh~ maafin Mommy ~ maaf… tapi Mommy bukan… lac–uuurrrhhh! NNGGHHH~! Oh God, oh God! The head … mmnngggghhhh!”
Cairan keruh merembes keluar bersama darah, bayi dengan rambut hitam itu mulai turun lebih ke bawah, Shua terengah-engah, kesakitan bukan main. Keringat mengucur semakin deras di pelipisnya mengeluarkan keringat sebesar-besar biji jagung.
“Gimana mau keluar kalo diteken gitu memeknya ke lantai, Mommy? Nungging yang bener!”
“Hhhh~ ga bisa… udah ga bisa berubah… OH GODDD ! AAHHGGHHHHHH!” ejanan yang semakin kuat, Shua menengadahkan kepalanya sementara kedua kakinya melebar maksimal dengan pinggul yang terangkat, “Hhhahh ahhh ahhh… ssshhh~ nnggggh~ sakitttthhh!”
Ia praktikan semua yang diajarkan dokter untuk kehamilan pertamanya ini, menekuk dagu sampai ke dada kemudian mengejan sekuat tenaga. Kedua tangannya menahan kedua kaki agar tak menutup dan membuat klitorisnya berdenyut-denyut.
Oh sial! Di saat begini, kenapa libidonya malah naik tinggi-tinggi?
Shua menarik nafasnya, melihat Mingyu yang melenguh dengan posisi kamera bergerak-gerak maju mundur. Ia tahu apa yang anak itu lakukan, terangsang karena melihat prosesnya melahirkan bayi temannya ini.
“Hhhh… ouhhh… hhh… kepalanya… keluar… Gyu… liat rambutnya lebat banget…” Shua mengangkat pinggulnya lagi, dengan genit menunjukan perjuangannya beberapa menit ini, “...pasti makin lebat kalo kena peju Mingyu ya~? Hihi~ di siniihh~ eummhh~ Gyu… Gyu kepalanya… shiitthh!”
Gemetaran, cairan lendir memek Shua keluar bersamaan dengan meluncurnya kepala bayi keluar; membuatnya mendongak gelinjangan karena posisi bahu yang miring tepat mengenai sweet spotnya.
“Mmmnhh~ bahunya… Gyu… ssshh~ Mommy… ga kuathh~”
“ Mommy… hhh… Mommy sayang, kuat ya… Gyu di belakang Mommy ini, liatin Mommy ngeden, puntir-puntirin pentilnya~ pinterrrh~ itilnya juga diteken biar makin rileks ya, ngeden yang kuat… satu dua… pushhhh !”
“Pentilnya… aahhh… ahhh~ pentilnya kaya lagi diisepin Seok~ itilnya dimainin Gyuhh~ aawhh~ hhahhh… aahhhghh~ bahunya… lebarhh~”
“Iya Mommy sayang~ lacur banget ya, lagi ngeden ngebayangin threesome sama brondong-brondongnya? Hn? Gyu aduin ke Seok nanti biar dientot brutal waktu sidang putusan suami Mommy keluar.”
“Janghh~ ahhhhh! AAAARRRRGGGGGHHHH!”
“Nngghh! Fuck!” peju Mingyu meleleh keluar, tepat bersamaan dengan ia melihat bayi Shua semakin terdorong keluar dari lubang memeknya.
Zrassssssh .
“Owwaaaa~! Owwaaa~!”
Kencang, cairan ketuban menyembur keluar bersamaan dengan meluncurnya bahu dan bayi mungil itu dari wilayah selatan badan Shua. Kelojotan dan gemetaran; dengan kepala mendongak dan badan lemas, Shua sempatkan menekan tombol end call dan mengunci ponselnya sebelum melemparnya ke dalam tumpukan baju.
Tentu saja, tangis kencang bayi yang baru saja ia lahirkan langsung memanggil asisten rumah tangga dan asistennya untuk masuk ke dalam kamar.
“TUAN JOSHUA?!”
Entahlah, bagaimana nanti cara Shua membujuk suaminya agar tidak memecat orang-orang ini.
