Work Text:
Sebagai orang yang terbilang mandiri karena mutusin buat merantau keluar kota sejak SMA, Binar termasuk cowok yang mampu kalau disuruh angkat barang. Belum lagi pengalaman beberapa kali berkarir di divisi Perkap, jelas menjadi salah satu patokan kalau cowok itu kuat untuk sekadar angkat galon ke dispenser. Tapi pribadinya yang caper selektif ketika tau apa yang dia inginkan, Binar lebih milih melancarkan aksinya yaitu cari perhatian sama si pengantar galon yang tiap seminggu sekali mampir buat antar air galon isi ulang.
"Udah sepi nih kosannya. Udah libur semester ya?"
Tuh kan, entah memang sengaja atau udah jadi kebiasaan si pengantar galon—Galang, yang akrab dipanggil Mas Gal sama Binar—itu nyugar rambutnya ke belakang. Kesannya emang kayak lagi tebar pesona, tapi Binar gak protes karena di situlah dia ketampar sama pesonanya. Meskipun Binar tau kerjaan Galang ini gak bisa dibilang ringan karena harus antar galon ke sana dan ke sini, belum lagi kalau dimintai tolong buat angkat-angkat segala. Itu semua gak senantiasa membuat Galang kelihatan jadi lusuh. Mungkin dasarnya udah ganteng, jadi mau diapain juga tetap ganteng. Atau emang Binar yang udah kepalang naksir, ini salah satu alasan paling kuat.
Binar mengangguk. "Iya, tinggal aku dan ada beberapa yang sengaja ambil semester pendek, jadi gak pulang."
Binar nyembunyiin kedua tangannya di belakang punggung, gak lupa menyunggingkan senyum paling manis yang dia bisa. Matanya kedip-kedip dengan maksud berikan atensi berlebihan, sambil goyangin badannya centil; sok ceria gitu. Memperhatikan Galang yang sibuk ngelap galonnya pakai tisu basah beralkohol sampai bersih sebelum dia angkat dan pasang ke dispenser. Lengan yang jelas keliatan besar karena Galang cuma pakai kaos oblong yang dia gulung ke atas, belum lagi otot-otot yang kebentuk karena kerja keras itu mengilap karena keringat tipis yang muncul akibat angkat galon dari parkiran ke kamar Binar. Hal itu jadi unsur utama Binar gak bisa nyembunyiin ekspresi bengongnya. Kalau boleh, Binar mau banget gelayutan di lengan Galang.
"Mas Gal."
"Iya, Binar?"
Suara berat Galang bisa Binar tebak bakal enak banget buat diajak telfonan itu seakan menyihir dirinya sendiri untuk semakin terperosok dalam pesonanya.
"Mas Gal, udah punya pacar belum?" Binar dengan segala skill dalam berkomunikasi emang gak diragukan, walaupun mungkin bakal kedengaran ugal-ugalan, pertanyaannya juga gak pakai basa-basi.
Bukannya kasih jawaban, Galang malah terkekeh, terus tangan besarnya itu mendarat di pucuk kepala Binar. Diusaknya rambut Binar—yang omong-omong Binar lupa kapan terakhir keramas—dengan gemas. "Emang kenapa tanya gitu? Mau jadi pacar Mas Gal?"
Seperti menemukan counter yang gak pernah Binar bayangkan, bibir yang biasanya paling mudah nyerocos itu kini bungkam, pipinya yang sudah kemerah-merahan itu makin merah sebagai efek obrolannya sama Galang.
"M-ma—"
Kan, udah kayak gak ada lagi rasa malu dan harga diri. Tapi sayang, Galang buru-buru pamit karena dia masih banyak kerjaan untuk antar galon ke rumah-rumah lainnya.
"Hahaha, kapan-kapan aja jawabnya, aku balik anter galon lagi. Kalau mau lanjutin ngobrol, boleh kok, itu nomor whatsappku pribadi. Pergi dulu, Binar." Galang menyodorkan selembar kartu nama berisi toko galon tempatnya bekerja beserta nomor telfon, lalu gak lupa kasih Binar tanda kalau nomor pribadinya ada di balik kartu tersebut sembari pamerkan senyum jahil.
Binar cuma bisa melongo. Demi apapun Galang emang luar biasa ganteng dan Binar bisa aja tarik lengan cowok itu pakai alasan hiperbola lain yang udah ada di dalam isi kepalanya. Tapi yang bisa dia tunjukkan cuma raut wajah pasrah serta senyum yang dipaksakan.
Dengan diberikannya nomor telfon Galang beberapa hari yang lalu, Binar jadi lebih leluasa untuk melancarkan rencana pedekatenya sama cowok tersebut. Belum lagi balasan Galang yang cukup nyambung bikin Binar semakin semangat pantang mundur. Meskipun balasan Galang gak segercep itu, tapi seenggaknya lebih dari cukup buat menuhin ego Binar.
Sesekali tukar kabar disertai selfie satu sama lain jadi pertanda untuk Binar kalau usahanya udah oke sejauh ini. Bahkan gak jarang Galang yang lebih dulu melempar pertanyaan, gak lupa cowok itu juga selipkan satu foto selfie ganteng sebagai bonus khusus untuk Binar.
Tinggal sekarang Binar mencari cara supaya bisa ketemu sama tukang galon ganteng tersebut tanpa harus pakai alasan mengantar galon seperti biasanya. Dan Binar gak perlu memutar otaknya terlalu jauh. Melalui keran di kamar mandinya yang tiba-tiba aja rusak, ide brilian itu otomatis muncul.
"Mas Gal, bisa gak ya kalau ngebetulin keran air?" Melalui sambungan telfon, pertanyaan itu dilontarkan Binar dalam upaya menarik simpati Galang.
Pada dasarnya, alasan Binar masih masuk akal yaitu keran air di kamar mandinya rusak. Yang perlu digarisbawahi adalah keengganan Binar buat usaha sendiri dan lebih memilih untuk minta tolong Galang karena ia kepengin ketemu cowok itu secepatnya.
Binar juga gak lupa kasih sedikit bumbu hiperbola pada Galang kalau ia udah mati-matian buat menyumpal keran tersebut pakai kain dan gak berhasil. "Aku udah coba buat sumpel pakai kain tapi tetep aja, Mas… Gimana ya?"
Si Gemini dengan beribu alasan dan lihainya mulut manis demi wujudkan harapan. Binar menganggap cowok yang biasa dimintai tolong untuk memasang galon ke dispenser itu juga mampu memperbaiki keran rusak.
"Oh, boleh, hari ini aku gak nganterin galon kok." Galang bersedia untuk datang ke kos Binar. "Coba sementara kamu sumpelnya pakai sesuatu yang bahannya karet gitu, jangan cuma kain ya. Aku otw, Binar."
Senyum lebar tersungging di bibir tipis Binar setelah menutup telfon, sesuai dengan perhitungannya, Galang menyanggupi permintaannya itu dengan mudah.
Binar gak perlu menunggu sampai tiga puluh menit untuk menyambut Galang di gerbang kosnya dengan senyuman paling ramah yang ia miliki.
"Oooh, ini udah rapuh, makanya jadi kendor terus bocor deh." Sambil mengecek titik permasalahan, Galang langsung mengomentari objek yang menjadi bintang utama mereka siang itu. "Sebentar ya."
Whatever you said lah ganteng, batin Binar yang (aslinya) gak begitu peduli dengan keran air dan cuma angguk-angguk antusias. Galang yang biasanya dibalut seragam kerja berupa kaos polo warna hijau botol, hari ini kelihatan makin ganteng dibalut kaos hitam polos yang agak press body dan celana jeans. Galang masih keliatan sederhana tapi memukau. Binar menatap Galang dengan mata berbinar, di benaknya kalau gak ada cowok itu mungkin kamarnya bakal banjir atau apalah.
"Binar?"
Kedapatan bengong, Binar menyahut panggilan Galang, sedikit gelagapan. "Oh, iya, ini sambil aku pegangin, Mas," dia mengambil alih sementara yang tadi dikerjakan oleh Galang. Menahan lubang keran tersebut yang terus memancarkan air dengan telapak tangan. Kaos putih yang dikenakan Binar udah gak berbentuk karena basah.
"Eh, aduh, bajumu…"
Kalau Binar gak salah lihat, Galang sempat menelan ludah. Begitu jelas karena jakunnya bergerak gusar dan Binar tersenyum puas.
"Aman aja, Mas, lanjuuut." Binar cuma nyengir. Mungkin di mata orang lain penampilannya udah mirip kucing putih kecebur kolam ikan, tapi Binar merasa dirinya cukup seksi karena kaosnya sukses nyeplak tubuhnya sana sini. Binar harap Galang beranggapan serupa.
Tiap kali tangan cekatan Galang memasang keran air baru dan menutupnya dengan selotip khusus keran, di sisi lain ada Binar yang juga berkali-kali terpesona.
"Nah, ini udah beres, semoga gak bocor lagi… Kalau emang bocor lagi, kamu lapor aja sama yang jaga kos."
Nah, itu dia.
Binar bangkit dari posisinya untuk berdiri di hadapan Galang. Binar berani sumpah yang satu ini bukan bagian dari rencananya. Tubuhnya terhuyung karena kakinya kesemutan, ditambah lantai kamar mandi yang jelas licin. Dan yap, Binar terpeleset.
Beruntung cowok di hadapannya memiliki refleks yang sangat baik. Jerit Binar tertahan ketika tubuhnya justru jatuh dalam pelukan kokoh Galang.
"Wah… Mas Gal—Astaga… Huah… Ya ampun…" Kedua lengan Binar otomatis melingkari bahu sampai leher Galang.
"Hati-hati, Binar… Kamu daritadi mikirin apa sih?" Kini giliran Galang bertanya dengan raut wajah cemas. Bahkan cowok itu gak peduli ketika kaosnya ikut basah karena menangkap tubuh Binar.
Binar mengusap dadanya berkali-kali, salah satu tangannya masih pegang bahu Galang, sedikit gemetar. "Maaf, Mas Gal… Yah, bajunya basah… Makasih, Mas Gal..." Antara bibir dan isi kepala Binar jadi gak sinkron. Selain masih panik, dia juga merasa tertangkap basah karena gak fokus dari awal Galang datang.
"Pelan-pelan aja ngomongnya."
Rasanya Binar mau kabur, apalagi waktu matanya saling bertubrukan sama milik Galang yang tengah menatapnya dalam. Binar rasa mungkin dia udah gila atau jatuh cinta…?
Gak kunjung mendapat respon dari Binar, Galang bawa dagu cowok cantik itu untuk beradu tatap dengannya. Berdiri dengan jarak sedekat ini bukan hal yang baru bagi Galang, apalagi dia paham kalau Binar menaruh perasaan lebih padanya.
"Kamu… Daritadi mikir jorok ya?" Niat awal Galang cuma iseng tapi rautnya jadi berubah waktu menyadari pipi Binar yang bersemu sampai ke telinga. "Sebenernya bukan cuma keran airnya yang bocor ya, Binar? Kamunya juga. Makanya kamu telfon aku."
Tebakan Galang kedengaran ngasal dan Binar ingin mengubur diri saat itu juga.
Tangan yang sebelumnya keliatan cekatan saat memperbaiki keran kini berpindah tempat, menahan kedua paha Binar. Galang cuma bisa geleng-geleng kepala waktu liat ekspresi Binar yang keliatan banget minta diapa-apain. Belum lagi kaos putih Binar yang basah total itu nyeplak, memperlihatkan kulitnya dengan jelas. “Sengaja banget minta tolong tukang galon favoritnya buat mampir, padahal bisa benerin keran airnya sendiri."
Galang gak benar-benar protes, lagian pelanggan yang beberapa minggu terakhir ini berubah gelar jadi rutinitas-harian memang menarik perhatiannya. Jadi, ketika Binar terus menunjukkan gerak-gerik sejelas itu, Galang akhirnya memberikan respon setara.
"Sengaja pakai kaos putih setipis ini, celana gemes begini… Emang bener mau godain aku?"
Binar belum mampu menjawab apapun melainkan meremas kuat kedua bahu Galang seraya menatap cowok itu dengan tatapan memohon. "Mau ketemu Mas Gal," Binar gigiti bibirnya sendiri, jari-jari tebal Galang udah bergerak asal dari luar celana pendeknya. Menggoda belahan bibir bawahnya naik turun nyiptain friksi yang bikin Binar lupa diri.
"Ya iya, mau ketemu sama Mas Gal-nya biar diapa-apain."
“Ah–Mas Gal-aah… Jangan digituin.” Binar cuma bisa desah sambil sesekali tahan tangan Galang tapi gak ada niatan buat nyuruh cowok itu berhenti.
Harapan dari misi akal-akalan Binar minta tolong Galang buat perbaiki keran bocor gak dia sangka bakal jadi sejauh ini. Mungkin Binar bakalan disangka orang aneh karena bersyukur nyaris kepeleset di kamar mandi secara dramatis (ditangkap cowok ganteng—mirip di sinetron-sinetron).
Galang pikir semua ini udah kepalang tanggung, dia menghampiri kos mahasiswa semester pertengahan ini juga atas undangan yang bersangkutan. Galang kira udah ada konsen yang tercipta di antara mereka berdua.
"Ini bagian dari rencana kamu?"
Binar menggeleng tapi kemudian mengangguk setelahnya, bibirnya mengerucut lucu. "Bisa iya, bisa enggak. Tapi kalo Mas Gal ninggalin aku pas udah kayak begini, mendingan aku nangis aja."
Galang masih sempat tertawa pelan. Akhirnya dia lepas semua kain yang menghalangi akses tangannya dari tubuh Binar. Menyisakan sepotong celana dalam yang udah basah kuyup, karena keran air tadi.
“Oalah, beneran bocor." Galang ketika melepas perlahan celana dalam Binar dan benar aja anak itu emang udah becek total. Entah apa yang ada di dalam pikiran Binar sewaktu dirinya betulkan keran air. Kalau boleh jujur, Galang juga sempat hampir hilang kendali saat matanya menotis tubuh Binar dari balik kaos putih tipis basahnya.
"Mas Gal…" Binar merengek manja, selangkangannya udah kebuka lebar nunjukkin seberapa becek kemaluannya juga kaos yang udah naik sampai ke dada. Sengaja pamerin perutnya yang rata, bikin Galang nafsu setengah mati. "Lepas juga bajunya…"
Napas Binar otomatis tertahan ketika Galang langsung menuruti perkataannya dengan menghujani tubuhnya oleh ciuman acak. Merasakan betapa hangat dan lembutnya ciuman Galang di perutnya, bikin Binar jadi salting mampus.
Kepala Binar makin pening sewaktu Galang mulai buka lipatan vaginanya pakai jari, kemudian diselipkannya dua jari tebal tersebut dalam liang kawinnya. "Massh-Gal—aah!" Lalu daging gak bertulang itu juga godain biji klentit Binar. Lidah Galang jilat bagian itu berulang kali, dia godain sampai cairan lengket Binar ngalir perlahan lalu cowok itu ratain beceknya sampai bagian luar.
"Jari Mas Gal seenak itu, Binar? Bukannya berhenti malah makin bocor. Ganjen banget, kayak lonte." Gak berhenti sampai di situ, kedua jari Galang yang masih menjamah bagian dalam dinding vaginanya terus bergerak keluar masuk. Sukses membuat pinggul Binar makin naik, hingga harus Galang tahan dengan tangan kirinya. "Kalau temen-temen kos pada tau gimana tuh, Binar?"
Peduli setan, Binar sama sekali gak peduli kesan apa yang akan dia dapatkan dari orang lain. Kepalanya cuma mau Mas Gal, Mas Gal, Mas Gal aja kayak orang bego. "Bi—biariiin. Mmnh," sebab kewarasan Binar udah luruh bersamaan dengan cairan bening yang terus mengalir di paha dalamnya.
Upaya awal Galang menghentikan keran bocor seakan gak ada artinya karena keran yang satu ini malah dia colok asal-asalan.
“Suka ya diginiin? Sesuai gak sama bayangan kamu yang mupeng tiap kali liat jari saya ngusap tisu basah ke galon?”
Binar angguk-angguk aja tanpa beri jawaban. Mulutnya cuma sebut nama Galang diselingi ah-ah-ah minta dicolek lebih dalam.
Jari Galang gak cuma sebatas keluar masuk, tapi juga sesekali dia tekuk, buat Binar makin kelimpungan karena tepat ngenain bagian enaknya. Dindingnya ngejepit jari-jari Galang yang masih betah ngacak-ngacak bagian paling dalam.
"Hmm, sempit begini emangnya masih sanggup digenjot kontol?"
Binar ngangguk heboh, dia dengan sukarela menyanggupi ukuran Galang yang dia sendiri belum tau pasti. "MAu—mau, sanggup. Ngh-hhh!" Ucapan Binar mulai ngasal, perutnya makin ngilu. Imajinasi tentang dientot Mas Gal selama ini bikin kewarasannya menguap hilang.
Dengan tenaga yang timbul tenggelam, tangan Binar coba gapai bahu tegap cowok di hadapannya dengan frustasi. Pahanya terbuka makin lebar dengan Galang yang masih sibuk mengacak-acak di bawah sana. Binar berusaha tahan tangan Galang sebelum dia betul-betul sampai. "Mas Gal—akh! Pipis, mau pipisss."
Galang sengaja dekatkan bibirnya di telinga Binar, membisikkan rayuan mematikan. "Keluarin aja, basahin tanganku, muncratin semuanya, Binar cantik."
Katakanlah Binar lemah dan murah, cuma dipuji cantik bisa bikin dia muncrat seketika. Punggung Binar melengkung, kakinya yang gemetar sampai harus Galang tahan beberapa saat. Wajah Binar udah gak karuan, meski begitu masih keliatan menawan di mata Galang.
Galang gak biarin Binar turun sejenak dari euforia orgasmenya. Setelah melucuti pakaian serta celananya sendiri, Galang menempatkan diri di antara selangkangan Binar. Yang Binar respon dengan menggoyangkan pinggulnya gak sabar, vaginanya berkedut gak tau malu setelah mendapati Galang kocok batang penisnya beberapa saat lalu.
"Binar, Binar, gak bisa ya kalau memeknya kosong sebentar."
Binar cuma tau ngangguk dan ngangkang. Terima perlakuan Galang yang mulai gesek ujung penisnya di permukaan lubang beceknya itu berulang kali. Lalu Galang sundul klitoris Binar yang merona membengkak sempurna, membuat Binar menggeliat seksi di bawahnya. Galang rasa-rasanya berniat buat setubuhi Binar sampai besok pagi.
"Mas Galang!" Binar meredam jeritnya dengan kedua telapak tangannya sendiri, ini bukan menjadi kali pertama untuknya. Namun, ukuran setebal ini cukup mengejutkan Binar.
Galang mendorong penisnya setengah jalan tanpa aba-aba, seolah-olah membelah Binar sekaligus kewarasannya sekaligus. Kuku-kuku panjang milik Binar menancap lengan dan bahu Galang yang lambat laun menyisakan kemerahan di atas kulitnya.
"Sempit banget, aah—mmh. Kalem Binar, aku pelan-pelan, oke?"
Binar menurunkan telapak tangannya dari mulut, mulai merasakan betapa penuh liang senggamanya oleh penis milik Galang yang menumbuk perlahan.
"Mentokin please…"
Lalu Galang kembali dorong sisa batang penisnya hingga benar-benar tenggelam ditelan vagina Binar, dindingnya kayak diempet-empet bikin Galang gak mau kalah buat genjotin Binar lebih kencang.
"Akh-gila… enak, enak banget, Mas Gal."
Pinggul Galang terus bergerak secara konstan, sesekali dia hentak cukup kuat sampai tubuh Binar terlonjak. Rintihan Binar timbul tenggelam dengan lenguh nikmat tiap kali Galang sentuh titik enaknya. Gak pakai menunggu lama, kaki Binar udah ngelingkarin tubuh Galang.
"Aduh, enak banget anjing. Pelan-pelan, Binar, jangan disempitin… Mmh." Bisa-bisa Galang bucat saat itu juga.
Selain desah serta lenguh yang memenuhi seisi ruangan, ada juga suara intim kulit ketemu kulit yang bikin suasana makin terkesan erotis. Tapi semuanya jadi berasa worth it karena pada akhirnya keduanya saling kejar puncak bersamaan.
Gak cuma Galang yang merojok vagina Binar berulang kali, tapi Binar ikut gerakin pinggulnya supaya makin mentok lagi. Ciuman demi ciuman juga mereka selipkan di antara persetubuhan duniawi tersebut.
"Mas Galang, enak, ngh—enak banget. Kontolnya Mas Gal, enaaakh."
Genjotan Galang makin lama makin berantakan tapi gak kelewatan buat ngenain titik enaknya Binar berkali-kali. Berhasil bikin Binar kelojotan, cairannya muncrat-muncrat tiap penis Galang keluar masuk di lubangnya yang udah ngowoh.
Binar bisa ngerasain batang penis Galang yang mulai membesar di dalam vaginanya, dicengkeram kuat sama dinding vagina yang kian menyempit. Keduanya hampir sampai putih masing-masing.
"Ahh—Binar… Aku dikit lagi keluarrh…"
"Barengan…"
Rasa hangat dan penuh hanya bisa Binar rasakan selama beberapa saat, karena Galang sambil keluarin penisnya perlahan dari dalam sana. Cairan Binar dan milik Galang mengalir mengisi ruang kosong liang kawinnya hingga paha dalam. Binar juga gak bosan buat kagumi wajah ganteng keenakan milik Galang waktu cowok itu masih iseng tampar-tampar batang penisnya ketika menumpahkan sisa-sisa benih di atas permukaan kemaluan dan perut Binar.
"Mas Gal…"
Binar membuka lengannya lebar, dia udah ngebet banget buat peluk dan cium Galang ke sekian kalinya. Galang jadi dua kali lipat lebih ganteng dengan peluh yang menghiasi wajah rupawannya itu. "Makasih udah benerin keran airnya."
"Sama-sama," Galang cium pipi Binar, kanan dan kiri. “Tapi Binar, lain kali jangan minta aku benerin keran bocor lagi deh. Aku jagonya bikin kamu bocor.”
Yang kemudian dijawab Binar tanpa ada lagi rasa malu. “Iya, mau, mau lagi. Mau dibikin bocor lagi.”
