Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-09
Words:
1,200
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
18
Bookmarks:
1
Hits:
502

What if

Summary:

Sometimes i wish that our paths will cross again someday.

Notes:

*Ide nulis ini muncul ketika sedang dengerin lagu EXO - What if. Jadi yaaa disarankan sambil baca sambil dengerin ya hehe tapi kalaupun ga dengerin juga gapapa. Enjoy~~

Work Text:

**Character names: Heli as Heeseung, Sunny as Sunoo, and Sagara as Sunghoon

 

Those eyes..sepasang mata yang dulu sering kupandangi kukagumi, mata yang selalu berbinar ketika ia bercerita tentang kedai makanan enak yang baru ia temukan, atau resep masakan yang baru ia tonton dari tiktok dan ingin ia coba, atau tentang film-film animasi yang baru selesai ia tonton.

Mata yang selalu berlinang air mata ketika menonton film sedih or when we had a steamy night (oh shitt i shouldn’t think about this right now), mata yang sayu ketika ia melihat tumpukan tugas-tugas kuliah yang tak pernah kelar, kalau kata dia tugas-tugas kuliahnya itu mengalir deras seperti air dalam pipa rucika. Jangan lupakan juga bulu matanya yang panjang dan cantik itu.

Sayangnya, mata indah yang selalu terlihat damai dan menenangkan itu kini tak bisa bebas kupandangi lagi.

Those beautiful lips and his smile are my favorite. . I can be his clown and do silly things just to see those smiles. Senyum yang selalu memberiku rasa damai. No matter how rough my day, but when I see those smiles I will forget anything behind. 

 

 

Melihat dia tersenyum seperti sekarang ini membuat hatiku penuh akan berbagai macam emosi. Aku bahagia melihatnya tersenyum begitu cantiknya, tapi di sisi lain aku sedih karena bukan aku yang ada di balik senyum indah itu, tapi lelaki di sampingnya lah yang membuatnya tersenyum kali ini. No…don’t get me wrong, I don’t hate him and I never hate him, he is so kind and loves my baby so much, (but not as much as I do).

Ketika Sunny bilang bahwa ia akan dijodohkan dengan lelaki itu, dia menangis dan memintaku untuk membawanya pergi. Bukannya aku tidak mau, aku sangat ingin membawanya pergi jauh. Sungguh aku ingin egois dengan memilikinya hanya seorang diri. Tapi aku tidak bisa egois seperti itu. I know since the day one we met, we will never make it till the end. . His parents will never give their beautiful son to someone like me, dan aku tidak ingin membebani Sunny untuk itu. I still remember the dirty looks from his parents when the 1st time Sunny took me to their house.

Yeahhhh if i was in his parents shoes, i would never give my son to a man like me too. Dunia kita sangat jauh berbeda…Sunny itu anak bungsu kesayangan dari seorang pengusaha kaya raya di kota ini, dan aku hanyalah orang biasa. Si kaya berakhir bersama dengan si miskin itu hanya ada dalam cerita dongeng dan opera sabun yang sering ditonton ibu-ibu kala siang. Dalam kenyataannya hal itu tidak mungkin terjadi. Ahhh mungkin saja sih, tapi peluangnya hanya 1 berbanding 10000 kali ya hehe and am not the part of it.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir aku yang gila sih, kenapa aku nekat mendekatinya. Aku terlalu naif. Pasti kalian bingung kan kenapa orang sepertiku pernah menjadi pasangan Sunny yang secerah matahari? Sama..aku juga bingung hehe nanti kapan-kapan aku ceritakan tentang pertemuan aku dan Sunny.

 

 

Aku terlalu terlena dengan kecantikan dan memori masa lalu dengan Sunny hingga aku tidak sadar kalau kini Sunny sedang menatap ke arahku. Meski sedikit terlihat kaku, but I try to give my best smile, but his bright smile suddenly disappears. Oh shittt…I ruined his day. 

If you are wondering where I am right now? yes..today is his wedding day. Tenang…aku datang ke sini bukan untuk merebut calon mempelainya dan membawanya kabur seperti di film-film loh yaaaa…ngga. Aku diundang resmi oleh Sunny and I’m here to cherish him.

Tapi sepertinya keputusanku untuk datang dan melihatnya untuk terakhir kali ini adalah keputusan yang salah. Harusnya aku tidak berada di sini dan merusak hari besarnya. Aku merutuki diriku sendiri, kulangkahkan kaki ini, dan terus berjalan menjauh tanpa melihat apapun yang ada di depanku, pokoknya jalan terus. Sampai tiba-tiba terasa ada tarikan tangan. Belum sempat aku melihat siapa pelakunya, badanku kini diseret ke arah belakang gedung yang terlihat sepi, kemudian aku sadar kalau yang menarik tanganku adalah dia, Sunny. Aku hanya bisa terdiam melihatnya yang masih mengatur nafasnya yang tersengal dengan mukanya yang memerah. Aku tebak, dia tadi pasti lari-lari. Kupandangi lekat raut wajahnya, sampai akhirnya dia memandangku.

 

Sementara itu, mataku tak sengaja melihat seorang lelaki lain di area taman yang nampak gusar mencari keberadaan seseorang, ah ya…namanya Sagara. Dia anak rektor di kampus kami dulu. Ia sedang mencari Sunny, pasangannya.

Aku tidak ingin membuat keributan dengan terciduk sedang memeluk Sunny seperti ini, perlahan kuurai pelukanku dengan Sunny. Kuusap sisa-sisa bulir air mata di pipi cantiknya.