Work Text:
Studio itu masih gelap, kecuali nyala satu lampu meja yang temaram. Cahaya keemasan menyapu meja konsol, tumpukan kertas lirik, dan dua laptop menyala. Sisa dari sesi yang sejak sore tak kunjung selesai.
Tapi bukan musik yang jadi pusat malam ini.
Bukan mixing, bukan lirik, bukan melodi.
Taesan bersandar di kursinya. Tubuhnya letih, tapi bukan karena kerja.
Karena Jaehyun.
Karena sejak dua jam lalu, Jaehyun duduk di sofa panjang ujung studio, memakai celana pendek abu tipis dan hoodie gombrang, dengan bahu kiri terbuka, menampilkan kulit halus seputih susu dan lekuk leher yang terlalu santai untuk jam segini.
Dan Jaehyun tak berhenti menggodanya.
“Menurutku kamu harus turunin low-end di chorus,” kata Jaehyun sambil berdiri pelan. Langkahnya lambat menuju kursi Taesan. “Soalnya... susah fokus sama suara rendah lain waktu kamu udah terlalu... keras di sini.”
Tangannya menunjuk ke monitor, tapi matanya turun.
Ke arah yang lebih rendah.
Taesan menahan napas. Tapi dia tahu itu percuma.
Jaehyun tahu persis dia sudah keras dari tadi.
“Jangan liatin aku kayak gitu,” gumam Taesan pelan.
Tapi Jaehyun sudah duduk, bukan di kursi kosong. Tapi di pangkuan Taesan sendiri.
Langsung. Berat dan hangat.
Dan bokongnya—bokong Jaehyun yang terkenal indah itu, bulat, kencang, terasa sempurna di atas paha Taesan.
Kain tipis celana pendek itu tak menyembunyikan apa pun. Bahkan... saat bokong itu mulai bergeser, naik-turun, seperti menggiling batang Taesan yang terperangkap di balik celana training.
“Tau gak,” bisik Jaehyun pelan, suara napasnya menggoda di telinga. “Celana kamu udah ketat dari tadi. Sakit gak sih ditahan kayak gitu?”
Taesan menggertakkan gigi.
Jaehyun menggoyangkan pinggulnya sekali lagi, keras kali ini, dan Taesan mengerang pendek.
“Jaehyun...”
“Hmm?”
“Turun, sebelum aku...”
Tapi Jaehyun hanya memutar tubuhnya sedikit, membuat gerakan yang lebih jelas—menggesek-gesekkan bokongnya ke arah batang Taesan yang masih terbungkus celana, tapi jelas terasa—keras, tegang, dan sudah basah karena pre-cum. Gesekan itu pelan-pelan berubah jadi gerakan menggoda, membuat kain tipis di antara mereka terasa nyaris tak ada gunanya.
Dan saat Jaehyun menggoyang lebih cepat, tubuhnya menekan erat ke pangkal paha Taesan.
“Taesan... kamu beneran gede banget.”
Bisikannya lembut tapi jahat. “Bokongku sampe ngilu cuma dari gesekannya.”
Tangannya bergerak turun.
Membuka celana Taesan perlahan, lalu menariknya ke bawah.
Batangnya muncul—besar, panjang, keras. Ujungnya merah, berdenyut, dengan pre-cum menetes perlahan.
Jaehyun menelan ludah. “Astaga... selalu lupa segede ini.”
Lalu, sambil tetap duduk di paha Taesan, dia turun perlahan ke lantai, sampai berlutut.
Lidahnya menjulur, menjilat perlahan dari dasar batang ke ujung.
“Taesan... mau aku bersihin semuanya gak?”
Dia membuka mulut. Dalam. Pelan.
Masukkan satu inci. Dua.
Sampai bibirnya menyentuh pangkal, dan batang Taesan hampir hilang seluruhnya di mulut kecil itu.
“Shit... Jaehyun.”
Suara Taesan serak, tangannya mencengkeram rambut Jaehyun.
Jaehyun mulai menyedot—basah, dalam, dengan suara gluck gluck gluck yang memuaskan.
Dia menjilat, memutar lidah, menekan langit-langit, menahan napas agar bisa masuk lebih dalam.
Tangannya memijat batang, naik-turun, saat mulutnya sibuk di ujung.
Dan setiap gerakan terasa seperti... hukuman surgawi.
“Cepetin dikit, pretty boy,” gumam Taesan, jari-jarinya menekan pangkal tengkorak Jaehyun.
“Kamu suka kan isi mulut kamu penuh banget kayak gini?”
Jaehyun menatap ke atas, mata berkaca, air liur menetes. Tapi dia mengangguk dengan batang penuh di tenggorokan.
Dan itu memicu sesuatu.
Taesan menarik Jaehyun berdiri, dan dalam sekali gerakan, mendorongnya ke sofa.
Jaehyun tertawa pelan. “Marah, Taesan?”
Taesan membalik tubuhnya, menarik celana pendek Jaehyun.
Dan saat bokong itu terlihat utuh—putih, bulat, menggoda—Taesan terdiam sejenak.
Karena seindah apa pun musik mereka, bokong Jaehyun adalah mahakarya paling sempurna.
Dia menunduk, menggigit pipi bokong itu pelan.
“Mau aku rekam?” gumam Jaehyun nakal. “Suara kamu ngebentur aku?”
Taesan tak menjawab.
Dia menekan batangnya, keras, ke celah sempit di antara bokong itu.
Kali ini lebih brutal.
Dia menggesek, naik-turun, membuat suara kulit bergesek dan desahan Jaehyun mengisi ruangan.
Dan saat lubang itu mulai terbuka sedikit karena gesekan—basah karena ludah dan liur dari Jaehyun sebelumnya—Taesan menekan ujung batangnya ke sana.
“Mau aku isi?”
Jaehyun menoleh.
“Masuk sekarang. Dalam. Sampai aku lupa nama sendiri.”
Dan Taesan menuruti.
Perlahan, menekan, menembus.
“Fuhh—” Jaehyun mengerang keras, menggenggam bantal sofa.
“Anjir, Taesan...pelan... gede banget...”
Setiap inci masuk terasa seperti perobekan surgawi.
Lubang itu menggenggam erat, panas, basah.
Taesan menahan napas, lalu mulai menghentak.
Plak. Plak. Plak.
Bokong Jaehyun memantul.
Tangannya mencengkram sofa.
Suara napas, desahan, makian bercampur jadi satu.
“Bokong kamu... nahan aku dalem banget, Jaehyun.”
“Kamu... masuk... semuanya?”
“Full. Sampai hamil.”
Jaehyun tertawa sambil menangis.
“Gila... kamu tuh, Taesan...”
Taesan mencambuk bokongnya—keras. Lalu menarik rambutnya agar Jaehyun bisa melihat ke cermin kecil studio.
“Liat. Liat gimana kamu nahan batang segede ini.”
Jaehyun mendesah, menatap pantulan dirinya—berantakan, merah, terbuka, dan terlihat indah.
Dan Taesan terus menghentak. Dalam. Cepat. Brutal.
Sampai Jaehyun menggigil dan gemetar, dan tubuh mereka sama-sama bergetar.
Ketika mereka akhirnya jatuh bersama—basah, penuh keringat, dengan cairan menetes di paha Jaehyun dan batang Taesan—mereka diam sejenak.
Jaehyun menyender dan Taesan mencium tengkuknya.
“Hidden track,” bisik Jaehyun.
Taesan mengangguk, “Tapi ini cuma kita yang dengerin.”
