Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-22
Words:
1,435
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
83
Bookmarks:
7
Hits:
3,779

Ini bukan apa-apa, hanya dua orang bersenggama.

Work Text:

Mobil melaju pelan di jalan tol yang mulai sepi, keramaian kota sudah tertinggal jauh di belakang. Radio hanya menyala untuk formalitas, gumaman suara penyiar dan musik lo-fi yang tak satupun dari mereka dengarkan.

Anton menggenggam setir, matanya lurus ke depan, tapi rahangnya mengatup. Sudah dua puluh menit ia tak bicara. Bukan karena tak ada yang ingin ia katakan. Tapi karena setiap kata yang lolos bisa jadi pelatuk.

Taesan duduk di sampingnya, kaki disilang, tangannya di pangkuan, tubuhnya santai tapi sorot matanya waspada. Ia tahu betul cara kerja tubuh Anton. Ia tahu bagaimana ketegangan menjalar dari otot lengan kekar itu ke tengkuk, bagaimana napas yang ditahan terlalu lama akan memanas di dada. Ia tahu, karena tubuh itu pernah ia baca, pernah ia hafal, pernah ia tinggali.

Dan sekarang, tubuh itu duduk hanya sejengkal darinya, memanas pelan seperti bara yang disengaja tidak ditiup.

Jarak terlalu dekat. Mobil terlalu sunyi. Dan aroma tubuh mereka; segar parfum, keringat samar, hasrat yang ditahan terlalu rapi, membuat mobil itu terasa seperti perangkap.

Anton melirik. Sekilas. Tapi cukup untuk membuat jantung Taesan mengetuk keras di tulang rusuk.

“Masih lama?” tanya Taesan. Suaranya tenang, tapi sedikit serak, sedikit rusak.

“Sepuluh menit.” Suara Anton rendah, padat.

Lalu hening lagi.

Tiba-tiba tawa pelan keluar dari Taesan, seperti sengaja dilempar ke udara untuk memancing. “Tegang banget, kalem napa.”

Anton menoleh. Menatap. Dan dalam tatapan itu, tak ada kalem. Yang ada hanya kesabaran yang mulai retak.

“Gue kalem, tuh? Lo pikir gue lagi ngereog?” Gumam Anton, membuat senyum di bibir Taesan melebar.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di basement apartemen Anton. Mereka keluar tanpa banyak bicara. Langkah mereka cepat, keduanya menaiki lift dalam diam, hanya diiringi suara detak jantung masing-masing yang kini berdentum seperti bassline.

Begitu pintu apartemen terbuka, mereka masuk. Lampu ruang tamu menyala otomatis. Interior minimalis. Bersih. Dingin.

Tapi bukan tempatnya yang mereka inginkan.

Pintu belum sepenuhnya tertutup ketika Anton membalikkan badan dan menarik Taesan mendekat, mendorong tubuh itu ke dinding. Tangan kirinya menyentuh rahang Taesan, mengangkat wajahnya. Dan untuk beberapa detik, mereka hanya diam. Hidung saling bersentuhan, napas bercampur, dada bersinggungan.

Lalu bibir mereka bertemu.

Ciuman itu bukan sapaan. Bukan basa-basi. Itu ciuman yang seperti pintu dibuka paksa. Penuh, dalam, keras, panas. Ciuman yang membawa seluruh waktu yang mereka habiskan tanpa satu sama lain, seluruh fantasi yang disimpan di sela malam, seluruh “seandainya” yang akhirnya menemukan wujudnya.

Tangan Anton masuk ke balik jaket Taesan, membuka resletingnya cepat, gesit. Jaket jatuh ke lantai. Kaos menyusul. Dada Taesan terekspos di bawah lampu ruang tamu yang kuning temaram.

Taesan membalas dengan gesit yang sama—menarik hoodie Anton ke atas, melemparkannya ke lantai, memperlihatkan punggung yang dulu sering ia jamahi, dan kini kembali dalam jangkauan.

Ciuman mereka berpindah. Ke leher. Ke bahu. Ke tulang selangka.

Langkah-langkah terburu-buru menuntun mereka ke kamar. Pintu terbuka dengan dorongan siku, dan begitu berada di dalam, lampu tak perlu dinyalakan. Mereka tak butuh terang. Yang mereka butuhkan hanyalah tubuh satu sama lain, dan malam yang panjang.

Di kamar itu, pakaian-pakaian jatuh satu per satu seperti kalimat yang tak sempat selesai. Dan mereka menulis ulang tubuh satu sama lain dengan sentuhan, dengan lidah, dengan ingatan yang dipulihkan lewat kulit.

Anton melahap kekasihnya yang cantik itu dengan seluruh inderanya. Dengan matanya, dengan hidungnya, dengan mulutnya, dengan telinganya. Taesan terkulai indah di atas sprei putih bersih seperti boneka. Tubuhnya bukan lagi miliknya semata, tapi milik malam, milik ranjang, dan terutama milik Anton, yang meninggalkan jejak tak terlihat di setiap lekuknya. Seluruh sudut kamar ini berbau Anton. Bukan hanya sabun atau parfum mahalnya, tapi juga sesuatu yang lebih purba: nafasnya yang berat, tangannya yang kasar, suaranya yang sesekali pecah. Bahkan dinding tampak ikut mengingat sentuhan itu—seperti bisa bicara, seandainya diberi mulut. Taesan tidak ingin lepas dari aroma itu. Ia ingin menempel, mengering, lalu larut seperti garam di laut, hilang dalam laut Anton yang asin dan dalam yang tak pernah ia tahu batasnya.

“Babe, biarin aja roknya,” suara Anton datang memotong khayal, “jangan dilepas, gue mau liat lo keenakan sambil pake rok.” Pintanya diiringi tawa renyah. Kedua tangan kekarnya seperti berakar pada tubuh sang kekasih, satu membungkus betis, menahannya agar tetap dekat sementara yang lain perlahan menjelajah. Memaksa masuk ke dalam ruang sempit yang dijaga rapat dua tebing daging milik Taesan.

Taesan mendesah lirih, seperti lantunan doa yang tersesat. Kenikmatan yang lama dibendung perlahan membanjiri tubuhnya, naik ke kepala seperti ekstasiーmenjadi keringat yang asin, air mata yang tak diketahui sebabnya, air liur yang tertinggal di sudut bibir, dan rintihan yang tak bisa dibedakan antara sakit dan rindu yang digenapkan.

“Ahーton…”

“Iya, sayang?” Anton menjawab tanpa jeda. Sementara itu, jemarinya bekerja di bawah sana, seperti nelayan yang sabar menyelam ke laut dalam—maju, mundur, menekan, membuka—mempersiapkan Taesan untuk menyambut sesuatu yang akan datang seperti badai yang tak minta izin.

“Masukkin sekarang ajaーaku… nghhhーudah nggak taーah! Hhhhan…” Wajah Taesan memerah, bukan karena malu, tapi karena tubuhnya mengkhianati martabat yang coba ia jaga. Suara jalang yang baru saja berkumandang dari mulutnya sendiri terdengar asing, liar, seolah bukan miliknya—atau justru paling jujur mewakili siapa dirinya? Anton selalu saja berhasil menguliti lapis-lapis kesantunan palsu yang ia kenakan. Membuatnya membuka diri seperti pelacur tua yang tak lagi peduli pada harga diri, runtuh oleh kenikmatan. Membuatnya menjadi dirinya yang paling telanjang, haus, pasrah, dan hina dengan cara yang paling indah. Menjadi canvas milik sang kekasih.

“Taesan… Taesan…” Nama itu dirapal Anton seperti mantra. Jemarinya menari liar di antara ruang-ruang tersembunyi, seirama dengan degup jantung mereka yang kian menggila. Seolah tubuh mereka berdua sedang berpacu dengan waktu, atau dengan dosa. Saat jerit nyaris lepas dari bibir Taesan, tiba-tiba semua berhenti. Jemari milik Anton yang tadi sibuk mengaduk kenikmatan, kini berpindah tempat, tenggelam dalam mulutnya sendiri, dijilat dengan pelan seperti menikmati sisa manisan dari pesta rahasia. Taesan menatapnya, terengah dan terperangah. Tak tahu apakah harus marah, malu, atau menyerah. Tubuhnya mendidih, tapi pikirannya beku. Yang ia tahu, lelaki di hadapannya bukan sekadar kekasih—tapi candu, hukuman, dan pengampunan dalam satu tubuh.

“Udah siap dihamilin pake rok, belum?” Masih sempat pula Anton melontarkan goda di tengah kekacauan yang belum selesai itu. Kadang lelaki itu seperti bocah tak tahu waktu, kadang seperti iblis yang tahu persis di mana letak celah kehancuran. Taesan menggertakkan gigi, ingin rasanya menendang seringai menyebalkan yang bersarang di wajah tampan itu, kalau saja wajah itu bukan komoditas yang harus dijaga, aset bernilai tinggi dalam industri yang menuntut pesona lebih dari bakat. Dan Anton, sialnya, tahu persis bahwa wajahnya kebal dari hukuman. Maka ia tersenyum lebih lebar lagi.

“Bangsat!” Balasan Taesan terdengar lemahーsetengah hati, setengah nafsu. Habis bagaimana, mulutnya di bawah sana sudah menganga minta digagahi. Ia bahkan sudah khatam menelan keringat Anton yang mengalir dari pelipis, asin, panas, dan entah mengapa terasa seperti janji yang belum ditepati. Ia butuh lebih. Bukan karena kurang, tapi karena terlalu lama menahan.

“Iya, sayang, maaf ya kalo habis ini rok mahal lo ini cuma bisa jadi lap keringat dan sisa tubuh kita.” ucap Anton—pelan tapi tajam, seperti ancaman yang dibungkus sayang. Yang datang setelahnya bukan lagi sentuhan, tapi serbuan. Tubuh Taesan menerima lelaki itu seperti tanah yang pasrah diinjak, dibajak, lalu ditanami dosa. Malam ini bukan yang pertama kali, tapi selalu saja tubuhnya terkejut—seperti belum cukup belajar, seperti belum cukup paham bahwa ukuran Anton adalah murka sekaligus ampunan.

Nafasnya tercekat, bukan karena perih, tapi karena kenikmatan yang menyaru dalam bentuk luka. Luka yang justru ia cari. Luka yang ia ingin pelihara. Luka yang datang dari lelaki yang memperlakukannya bukan seperti kekasih, tapi seperti sesuatu yang bisa dimiliki, dipakai, dan dilahap sampai habis.

Kalau boleh, Taesan ingin disakiti begini setiap hari. Ingin tubuhnya menjadi altar bagi dosa yang sama. Ingin apartemen ini—dindingnya, lantainya, bahkan langit-langitnya—menyimpan gema tubuh mereka, rintihannya, dan segala maksiat yang mereka ulangi tanpa pernah benar-benar selesai.

Tidak ada yang lembut malam itu. Tapi semuanya jujur.

Dan ketika akhirnya mereka tenggelam di atas ranjang, berkeringat, berpeluh, bertukar suara dan luka yang dulu sempat diredam, dunia menyusut hanya menjadi satu; mereka.

Malam itu, keduanya bukan siapa-siapa. Bukan idola yang senyumnya dijual di layar kaca, bukan wajah-wajah tanpa cela yang dipuja ribuan mata lewat kamera. Mereka menanggalkan itu semua, seperti menanggalkan baju yang sudah terlalu lama dipakai bersandiwara. Yang tersisa hanyalah dua tubuh, dua rindu yang tumbuh liar, dua hasrat yang lama dikurung dalam etalase citra. Mereka tak sedang berakting, tak sedang tersenyum untuk menyenangkan siapa pun. Mereka adalah kekasih malam ini. Hanya itu. Dan itu lebih dari cukup untuk membakar dunia kecil yang mereka ciptakan di ranjang—dunia tanpa penonton, tanpa tepuk tangan, tapi penuh suara yang tak pernah mereka berani keluarkan di siang hari.

Dan satu minggu ke depan, mereka akan membiarkan tubuh bicara terus—tanpa jeda, tanpa sensor, tanpa maaf.