Work Text:
Doyoung sudah pergi sejak beberapa saat yang lalu setelah membantu dirinya memotret beberapa foto untuk diunggah. Tetapi, Jihoon masih berada di tempat itu—di locker room, bersama dengan Hyunsuk yang tampak sibuk menggulirkan kedua ibu jarinya di layar ponselnya sendiri. Tak ada tanda-tanda si Maret yang hendak keluar dari ruangan yang tidak begitu luas itu, hanya duduk di samping yang lebih tua sembari sesekali melirik ponsel Hyunsuk. Jihoon jelas penasaran dengan apa yang begitu menarik perhatian sosok yang lebih tua hingga membuat Hyunsuk begitu fokus. Namun, nihil. Tidak ada hal yang bisa ia temukan, hanya sebuah ruang obrolan dengan tema gelap di sana dan Jihoon masih tahu diri, tak membiarkan dirinya memperhatikan layar ponsel Hyunsuk lebih lama lagi.
"Dah, yuk. Balik lagi," ajak Hyunsuk tanpa menoleh ke arah Jihoon, seolah-olah sudah tahu lelaki itu menunggu dirinya. Jihoon pun mengekori Hyunsuk yang berjalan ke arah pintu keluar yang tertutup rapat. Entah mengapa pintu itu terasa begitu janggal bagi Jihoon—dan setelah melihat bagaimana Hyunsuk yang tampak cukup kesusahan membukanya, Jihoon langsung menegak ludahnya kasar. Jihoon merasa firasatnya benar kali ini. Jihoon lalu berjalan mendekati Hyunsuk, turut memperhatikan pintu yang sedang Hyunsuk tatap lekat-lekat di setiap bagiannya. "Kenapa, Kak?" tanya Jihoon setelahnya.
"Kayanya stuck, deh," sahut Hyunsuk yang melirik Jihoon dengan perlahan sebelum mengukir sebuah senyuman masamnya. "Serius?" Jihoon yang tak percaya langsung mengulurkan tangannya, meraih knop handle sliding door itu dan menariknya sekuat tenaga. Sia-sia. Bahkan hingga seluruh uratnya terlukis di lengannya, Jihoon tak berhasil membuka pintu itu. Terdengar sebuah helaan napas cukup panjang setelahnya. Hyunsuk pun berujar, "Ya udah, deh. Kita istirahat sebentar di sini, kamu enggak buru-buru mau pulang 'kan?"
Jihoon pun menjawab pertanyaan yang lebih tua dengan sebuah gelengan, kemudian menyandarkan punggungnya di locker yang berada di belakangnya. "You know..." Kalimat yang belum usai diucapkan Hyunsuk itu membuat Jihoon mendongakkan kepalanya, menatap si Taurus lekat-lekat dengan rasa penasarannya. "I kinda miss you." Ucapan Hyunsuk sukses membuat Jihoon menautkan kedua alisnya, kebingungan. "Kangen aku? I'm not going anywhere. I'm here, I'm always here," timpal Jihoon tanpa melepaskan pandangannya dari lelaki yang berdiri di hadapannya.
Setelahnya, dapat Jihoon lihat dengan jelas bagaimana Hyunsuk mengambil dua langkah ke depan—semakin mengikis jarak diantara mereka. Lelaki itu lagi-lagi berjalan maju, kini tanpa ragu berdiri tepat di hadapannya yang masih membeku. "I mean, I miss us," bisiknya sebelum merengkuh tubuh Jihoon ke dalam dekapan tubuhnya yang tak sepenuhnya selimuti badan Jihoon. Si Maret itu sempat tertegun untuk beberapa saat. Bersamaan dengan otot-otot tubuh tegangnya yang mulai mengendur, Jihoon merentangkan kedua tangannya dan mulai melingkarkan sepasang lengannya di tubuh Hyunsuk yang masih dibalut jas berwarna hitam.
"I miss you too," celetuknya. “And us.” Salah satu tangannya kemudian bertengger di belakang kepala Hyunsuk, beri yang lebih tua usapan-usapan lembut, menyalurkan seluruh rindu yang memenuhi relung hatinya. Belum puas memberi afeksi-afeksi kecil kesukaan Kak Hyunsuknya itu, pelukan sudah lebih dulu dilepaskan. Lelaki berambut pendek dengan merah gelap itu kemudian menjauhkan tubuhnya dari Jihoon tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Do you?" tanya Hyunsuk. Sepasang mata itu lalu menatap Jihoon begitu dalam. "I really do." Jawaban itu membuat Hyunsuk mengulas senyuman manisnya. Beberapa detik setelahnya, Hyunsuk kembali berjalan mendekat. Namun, kali ini Hyunsuk tak memasukkan Jihoon ke dalam pelukannya. Kini, justru Hyunsuk lah yang menenggelamkan dirinya ke dalam rengkuhan Jihoon. "Glad that you miss us too," lirihnya sebelum menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jihoon, menghirup wangi Jihoon dalam-dalam.
Suasana berubah menjadi hangat dan penuh kasih sayang. Apalagi saat Jihoon kembali mengalungkan kedua lengannya pada tubuh ramping Hyunsuk yang masih setia melekat di badannya. Kedua lengan Jihoon terasa begitu pas tiap dirinya memeluk badan Hyunsuk yang sedang pamerkan rasa manjanya—kegiatan kesukaannya.
Namun, kehangatan itu berubah saat Hyunsuk menanamkan beberapa kecupan di leher Jihoon tanpa alasan—yang entah mengapa terasa seperti sebuah godaan. "Kakak, you better stop," tegur Jihoon tanpa pikir panjang. "And if I don't?" Jawaban itu langsung membuat Jihoon meloloskan sebuah kekehan kecilnya. Jihoon pun menjawab dengan sebuah bisikan di telinga Hyunsuk, "Then I have to stop you, right?" Hyunsuk tak menjawab apapun, karena bibirnya sibuk melanjutkan kegiatannya tadi. Kecupan demi kecupan menghujani leher Jihoon hingga akhirnya Hyunsuk dengan berani bergerak naik, menuju telinga yang lebih muda. Hyunsuk pun menyeringai kecil, dapat Jihoon lihat dengan jelas dari ekor matanya. Kedua lengan yang semula memeluk pinggang ramping Jihoon itu berpindah, kini bertengger di bahu, memeluk leher Jihoon dengan cukup kencang.
Jihoon belum sempat mengujarkan komentarnya, namun Hyunsuk sudah terlebih dahulu memberi jilatan kecil cuping telinga Jihoon yang terasa dingin. "You don't wanna wait until we got home first?" tanya Jihoon tanpa menghentikan setiap seduksi yang Hyunsuk lakukan untuk dirinya. Kepala yang sibuk membubuhkan jilatan dan ciuman itu menggeleng kecil. "Lama," sahutnya singkat disela kegiatannya. "I can't wait any longer." Kalimat itu sukses membuat Jihoon terkekeh lagi, merasa Hyunsuk tampak seribu persen lebih menggemaskan meskipun yang sedang ia lakukan jauh dari kata lucu. "Lagian, bukannya seru ya kalo coba di sini?"
Maka untuk menunjukkan antusiasmenya tentang apapun yang akan mereka lakukan setelah ini, Jihoon melayangkan sebuah tamparan yang cukup kencang pada pantat Hyunsuk yang masih terbalut celana. Suara tamparan itu terdengar jelas, membuat Hyunsuk berdecih karena cukup terganggu. "Kalo ada yang denger gimana?" tanyanya tanpa menjauhkan wajahnya dari leher jenjang Jihoon namun tetap berusaha untuk menahan dirinya agar tak menanamkan tanda merah keunguan kesukaannya di sana. "Emang sengaja," timpal Jihoon yang langsung disahuti dengan sebuah dengusan kecil dari Hyunsuk.
Setelahnya, Jihoon melesakkan salah satu tangannya ke dalam jas hitam yang masih memeluk tubuh Hyunsuk. Tangan itu terus bergerak masuk hingga bersentuhan langsung dengan kulit hangat nan empuk Hyunsuk yang terasa sedikit lengket karena keringat. Telapak tangannya terus didorong masuk. Jihoon kemudian mengusap-usap tubuh atas Hyunsuk, mulai dari perut ratanya hingga dada. Gerakan itu terus Jihoon lakukan hingga Hyunsuk meloloskan sebuah lenguhan kecil di telinganya. Sedangkan tangannya yang lain bergerak mengincar pantat milik si Taurus untuk diberi remasan-remasan halus—mengundang suara desahan lembut lain untuk segera keluar mengiringi kegiatan mereka.
"Gimana? You can't wait any longer too, right?" tanya Hyunsuk tengil sembari memandangi wajah Jihoon yang masih sibuk meremas bongkahan sintalnya. "Aku cuma ngikutin Kakak, sih," jawabnya setelah mencuri sebuah kecupan dari bibir Hyunsuk. "Soalnya kalo aku tolak, kasian Kakak." Mendengar jawaban yang terdengar mempermalukan dirinya itu membuat Hyunsuk langsung mengukirkan sebuah senyum miring. "Stop acting like you don't want me, Jihoonie~" goda Hyunsuk lalu menarik wajah Jihoon untuk mendekat dengan miliknya.
Tak ada jawaban yang Jihoon lontarkan. Sebagai gantinya, lelaki itu langsung menabrakkan bibirnya dengan milik Hyunsuk. Lumatan-lumatan itu tak bisa dikatakan lembut, justru penuh dengan nafsu dan dengan mudahnya membuat seluruh bulu kuduk mereka berdua berdiri. Suara basah tercipta di antara pagutan dua lelaki di balik pintu yang rusak itu. Hyunsuk kemudian menjulurkan lidahnya, seolah menawarkan Jihoon agar segera menyesapnya. Tanpa perintah maupun kata-kata, Jihoon paham. Lidah tak bertulang itu kemudian ia sesap dengan perlahan. Setelahnya, Jihoon pun turut mengeluarkan lidahnya. Kali ini mengajak Hyunsuk untuk bersilat lidah.
Pergulatan itu terjadi selama beberapa saat, membuat saliva yang sudah bercampur itu keluar membasahi dagu mereka berdua. Tanpa melepaskan cumbuan panas itu, sepasang tangan Hyunsuk bergerak cepat menuju celana yang Jihoon kenakan. Ikat pinggang itu dengan mudahnya Hyunsuk lepaskan. Hal yang selanjutnya ditanggalkan adalah kaitan celananya. Teringat tentang waktu yang mengejar mereka berdua, si Taurus itu langsung melesakkan tangannya kedalam celana dalam Jihoon tanpa ragu lalu menggenggam kejantanan si lelaki Maret yang sudah menegang sempurna di balik selapis kain itu. Telapak tangannya lalu mulai membelai batang tegang itu dengan perlahan, membuat Jihoon mendesah di antara ciuman mereka yang belum terlepas.
"You drive me crazy." Jihoon membuka matanya sejenak, menatap wajah Hyunsuk yang bersemu merah dan berbisik dengan napasnya yang memberat. Ciuman kembali dilanjutkan, kini terasa lebih berantakan karena Hyunsuk yang menggerakkan tangannya lebih cepat. Setelah pagutan mereka terlepas, Hyunsuk menatap Jihoon dengan wajah yang sedang melukiskan ekspresi penuh seduksi. Lelaki Taurus itu menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat saat memberi tekanan di tangannya yang masih menggenggam kejantanan milik yang lebih muda. “You like it, mmhm?” tanya Hyunsuk penuh goda. “You like how I move my hand?”
“Kak—” Ucapan Jihoon terjeda karena Hyunsuk yang sudah berlutut di hadapannya. Kedua tangan yang lebih kecil daripada miliknya itu dengan cekatan menarik celananya hingga lutut, tak lupa celana dalamnya juga ditanggalkan hingga ereksinya menyapa langsung wajah yang lebih tua. “Ooh—looks like you're so excited to see me,” monolog Hyunsuk kembali menggenggam batang kemaluan Jihoon yang basah oleh cairan pre-cum. Jihoon lantas mendongakkan kepalanya ketika Hyunsuk mulai memberi miliknya kecupan demi kecupan, dimulai dari ujung hingga pangkalnya dan diulang untuk beberapa kali sebelum akhirnya Hyunsuk menjulurkan lidahnya keluar.
Kepala penisnya kemudian diberi jilatan-jilatan kecil dan lumatan, lalu digaruk di lubang kencingnya menggunakan ujung lidah. Hyunsuk sempat menoleh ke atas, merasa penasaran dengan reaksi Jihoon ketika ia mulai mengulum kejantanan milik yang lebih muda. “Kakak…” ujar Jihoon rendah tanpa memandang wajah Hyunsuk, ia masih setia menatap langit-langit locker room itu seperti ada hal yang lebih menarik di sana dibandingkan dengan pemandangan yang Hyunsuk sajikan untuk dirinya—Hyunsuk yang sedang berlutut dengan mulut yang sedang menggoda miliknya.
Padahal yang di dalam benak Jihoon rasanya seperti sedang bergemuruh, Jihoon seolah melawan dirinya sendiri untuk tetap menahan diri. Namun, akhirnya tembok pertahanan yang dibangun kokoh itu akhirnya runtuh juga, tepat ketika Hyunsuk melesakkan seluruh inci kejantanan yang lebih muda ke dalam mulut sempit dan panasnya. Tanpa menunggu waktu lama, Jihoon langsung menunduk. Si Maret langsung disambut dengan bagaimana bibir tebal Hyunsuk yang sedang mengitari diameternya. “You really want me, huh?” Jihoon membelai lembut pipi Hyunsuk.
Dengan mulutnya yang dipenuhi dengan milik Jihoon, Hyunsuk mengangguk kecil. Penis yang lebih muda dikeluarkan dari mulutnya sendiri, kemudian tangannya bergerak mengocok pelan batang kemaluan yang tampak membengkak itu. “Aku ‘kan udah bilang kalo aku kangen sama kamu,” ujar Hyunsuk cepat lalu memberi kecupan dan jilatan di perut bagian bawah Jihoon, salah satu titik sensitif yang lebih muda.
Yah, meskipun bisa dikatakan mereka memang sering bertemu. Tentu saja Jihoon paham mengenai rasa rindu macam apa yang sedang melanda Hyunsuk. Karena Jihoon juga merasakan hal yang sama. Baik Hyunsuk maupun Jihoon sama-sama merasa tak memiliki waktu berdua akhir-akhir ini. Maka ketika mengetahui pintu locker room itu tak dapat berfungsi dengan semestinya, mereka berdua melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Setidaknya untuk beberapa saat.
Seolah paham, Jihoon menyingkap kaos hitam yang sedang memeluk tubuhnya. Bibir Hyunsuk pun terus bergerak naik, memberi tiap lekuk tubuh Jihoon sebuah kecupan dan juga jilatan. Tangannya pun masih bergerak, dengan lihainya memompa kejantanan Jihoon, meratakan saliva miliknya yang sudah bercampur dengan pre-cum ke seluruh permukaan penis milik lelaki yang lebih muda. Tepat ketika wajah mereka kembali berhadapan, Jihoon menarik tengkuk Hyunsuk untuk pagutan panas yang lain. Kali ini cumbuan mereka terkesan begitu terburu-buru dan berantakan, membiarkan suara lenguhan mereka beradu dengan suara kecapan basah yang tercipta.
Oksigen menipis di dalam paru-paru, ciuman itu pun terlepas. Namun, Hyunsuk tak berhenti begitu saja. Hyunsuk membalikkan tubuhnya, menghadap ke dinding polos sembari sesekali menoleh ke belakang dan memberi tatapan usil untuk Jihoon. Lelaki April itu sontak terkekeh saat melihat bagaimana Jihoon memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dengan sengaja, Hyunsuk menunggingkan tubuhnya selama beberapa saat, lalu kembali berdiri tegak. Kedua tangannya lalu bergerak meremas pantatnya sendiri, bahkan tak ragu untuk memberi tamparan di bokongnya yang masih terbalut celana.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hyunsuk melepaskan celananya beserta celana dalamnya. Ia tarik dua lapis kain itu hingga lututnya. Kemudian Hyunsuk menunggingkan tubuhnya di depan Jihoon. “Do everything that you wanna do to me, Jihoonie~” Hyunsuk berkata dengan begitu tengilnya, bahkan dengan sengaja menggoda Jihoon sembari menggoyangkan pantatnya ke kanan dan ke kiri. “Everything?” tanya Jihoon yang mulai mendekatkan tubuhnya dengan milik Hyunsuk. Lelaki Taurus itu menoleh ke belakang kemudian menganggukkan kepalanya. “Everything, yang penting inget batasnya ya, Hoonie?”
Entah apakah Jihoon mendengar dengan jelas kalimat Hyunsuk yang memberinya peringatan, akan tetapi yang selanjutnya terjadi adalah salah satu telapak tangan Jihoon yang berhasil bertengger di salah satu sisi pantat sintal tersebut. Sedangkan tangannya yang lain menyelinap ke arah depan, meraih bagian selatan Hyunsuk yang juga sudah menegang. Ketika tubuh mereka menempel, dapat Hyunsuk rasakan bagaimana kejantanan Jihoon yang terasa keras menabrak pinggulnya. “Anh—Jihoon…” lirih Hyunsuk menyerukan nama yang lebih muda.
Jihoon kemudian menenggelamkan wajahnya sendiri di perpotongan leher Hyunsuk, mengendus wangi alami Hyunsuk yang bercampur dengan wangi parfum yang sempat Hyunsuk semprotkan di titik-titik nadi serta wangi keringat Hyunsuk. Baru beberapa saat menenggelamkan hidungnya di sana, Jihoon sudah merasa mabuk kepayang. Jihoon benar-benar bergelut dengan dirinya sendiri, menahan agar tak membuat tanda kepemilikan di sana, meskipun Hyunsuk sama sekali tak mencegahnya maupun memberinya peringatan.
“Kakak, spread your cheeks please,” bisiknya membuat bulu kuduk Hyunsuk sontak berdiri. Hyunsuk pun menuruti permintaan Jihoon. Hyunsuk langsung menggerakkan kedua tangannya ke belakang. Kemudian ia raih dua sisi pantatnya sebelum ia tarik ke arah yang berlawanan. Hyunsuk mendesis tatkala rasakan jemari Jihoon bermain di antara belahan pantatnya, menggoda cincin analnya. Sedangkan tangan Jihoon yang lain mulai memompa penis ereksinya.
Di tengah desahan lirih mereka yang saling bersahutan, Jihoon kembali berbisik, “Did you bring a lube by any chance?” Hyunsuk menggelengkan kepalanya pelan. Tentu saja Hyunsuk tak membawanya, karena tak ada yang tahu dirinya dan Jihoon akan terjebak di posisi seperti ini. “Ah bener juga. I'm sorry, my bad.” Meskipun dapat dengan jelas Hyunsuk dengar bagaimana Jihoon yang terkekeh, Hyunsuk jelas sama sekali tak bisa menanggapinya dengan benar.
“Mmh, Jihoon—anh, please make it quick.” Maka Jihoon sanggupi permintaan Hyunsuk yang satu ini. Lelaki di belakang Hyunsuk pun membawa salah satu tangannya menuju di depan mulut Hyunsuk. Sosok yang lebih tua itu pun paham meskipun tak diberi perintah maupun isyarat oleh Jihoon. Jemari panjang Jihoon kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri secara sukarela. Dikulum, disesap, dijilat bak gula-gula yang kerap memicu perdebatan di antaranya dan Jihoon—jelas karena Jihoon tak mengizinkan dirinya untuk memakan permen lebih dari batas.
Mulutnya yang sibuk memanjakan jari-jari Jihoon membuat desahannya teredam selama beberapa waktu. Sesekali pekikan lolos karena Jihoon yang mulai menggerakkan tangannya di bawah sana tanpa aturan. Penis Hyunsuk yang terus keluarkan cairan pre-ejakulasi itu terus dipompa, sesekali ibu jari Jihoon akan bergerak cepat di lubang kencingnya untuk menggoda Hyunsuk. Namun, Hyunsuk masih tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah melumuri jari Jihoon dengan salivanya, Hyunsuk pun mengeluarkannya.
Diraihnya tengkuk Jihoon untuk cumbuan yang lain ketika tangan Jihoon menyelinap turun, lalu diselipkan di antara pantat sekal Hyunsuk. Ciuman mereka berdua berhasil meredam desahan yang lolos tatkala Jihoon melesakkan satu jarinya ke dalam liang sempit dan panas milik si April yang tengah memejamkan matanya kuat-kuat. Pagutan mereka pun terlepas setelah beberapa saat beradu dalam diam, Hyunsuk juga kembali ke posisinya semula. Hyunsuk lagi-lagi menunggingkan tubuhnya di depan Jihoon tanpa sedikitpun ragu, memberi akses agar yang lebih muda dapat bergerak lebih leluasa di tubuhnya.
“Hoonie—ah, please… Cepetan, hng.” Berkali-kali Hyunsuk merengek pelan, mendesak Jihoon agar cepat melanjutkan permainan panas mereka. Tetapi, Jihoon yang tak mudah puas itu justru dengan sengaja mempermainkan Hyunsuk. Batang kemaluan Hyunsuk dilepaskan, tak lagi diberi pijatan lembut maupun dipompa pelan. Tangannya yang menganggur meluncur masuk ke dalam baju Hyunsuk—mengincar dada si April yang sedang membusung. “Enggak seru dong Kak kalo cepet-cepet,” ujarnya berbisik di samping telinga Hyunsuk. Sedangkan yang lebih tua, hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan lenguhannya karena jemari Jihoon yang mulai mempermainkan puncak noktahnya dengan begitu lihai. “Emangnya enggak mau dimainin dulu ya di sini? Kan biasanya Kakak suka.”
Jelas Hyunsuk tahu. Mana mungkin ia bisa mengabaikan salah satu hal kesukaannya itu begitu saja? Namun, otaknya seolah terus menjaga dirinya untuk tetap menjaga kewarasannya—dan mengingatkan dirinya dimana tempat mereka berdua berdiri sekarang. “Fuck, wish I can see your pretty face right now.” Mendengar bagaimana Jihoon mengumpat, Hyunsuk hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah. “You will only do something worse kalo—hng, kalo sambil liat muka aku…” ujar Hyunsuk pelan, sangat pelan. Hyunsuk mendadak sangat berhati-hati dengan setiap perkataannya, seolah jika suara mereka dikeluarkan dengan volume lebih kencang, semua orang akan tahu.
“Tapi Kakak enjoy ‘kan kalo sambil liat muka aku?” Tak melanjutkan sentuhannya, Jihoon justru mengajukan pertanyaan yang terdengar tengil itu. “Jujur aja, haha.” Jihoon berkata disusul dengan kekehan kecilnya karena tak kunjung mendengar jawaban dari Hyunsuk. Mendapati bagaimana kedua tangan Hyunsuk yang menempel di dinding mengepal kuat, Jihoon kemudian kembali merengkuh pinggang ramping Hyunsuk. Bersamaan dengan tangannya yang memompa satu jari di dalam liang yang lebih tua lagi, Jihoon merapatkan tubuhnya dengan milik Hyunsuk.
“Kakak kok cuma diem, hmm? Bukannya tadi Kakak yang minta?” Digit lain dilesakkan masuk, bergerak menggunting agar membuat lubang sempit si April merenggang dan memberi ruang untuk miliknya nanti. Kemudian dikulum cuping telinga yang lebih tua, diendus-endus juga wangi parfum dan keringat Hyunsuk yang saling bercampur di leher. “Kakak, jawab.” Tak ada yang Hyunsuk ucapkan selain mendesah dan melenguh lirih. Seolah Hyunsuk tak mampu menyusun satu kalimat yang dapat Jihoon pahami. Badannya bergerak mundur, memaksa kedua jari yang lebih muda untuk lebih tenggelam di dalamnya. “Hng, Jihoonie~” rengek lelaki itu dengan kedua tangannya yang semakin mengepal kuat.
Tepat saat Jihoon memompa kedua jarinya semakin kuat keluar masuk dari lubang panas Hyunsuk, tangannya yang lain bergerak gusar. Suara becek dan basah yang tercipta itu lamat-lamat terganggu oleh suara berisik Jihoon yang sedang berusaha tanggalkan seluruh celananya. “Aah, Jihoon… M—Mau dibantuin?” tanya Hyunsuk yang berada di ambang kewarasannya. Meskipun merasa berat untuk melakukan sedikit gerakan kecil pun, si April tampak berusaha mengulurkan tangannya ke belakang, menuju Jihoon. Tanpa melihat langsung ke arah yang lebih muda, jemari Hyunsuk dengan lihai membantu Jihoon untuk segera menarik turun dan menanggalkan seluruh celananya. “Mmh, Hoonie, ah… Keras banget, Sayang,” ujarnya penuh goda saat tangannya berhasil meraih kejantanan Jihoon yang sudah ereksi sempurna.
Berusaha mengabaikan bagaimana dua jari Jihoon yang menekan-nekan titik manis dan kandung kemihnya dari belakang, Hyunsuk membelai manja penis si Lelaki Maret, meratakan cairan pre-cumnya di seluruh bagian batang tegang itu. “Mau, mau Jihoon…” ucapnya lembut. Demanding. “Hng—ah, Jihoon—hh.” Namanya lagi-lagi dipanggil, penuh dengan nafsu, mendambakan nikmat dunia. Lalu dikeluarkannya saliva di telapak tangannya sebelum kembali memompa batang kemaluan yang lebih muda dengan susah payah—karena jari-jari lihai Jihoon yang tak memberi ampun, memenuhi dan terus mengisi lubangnya yang lapar akan milik Jihoon.
Dua jari si Maret ditarik keluar saat sepasang kaki yang lebih tua mulai bergetar. Tanpa basa-basi, Hyunsuk pun mulai memposisikan tubuhnya. Badan ramping itu semakin menungging, pamerkan pantat sintalnya untuk Jihoon. Sedangkan tangannya yang masih menggenggam penis Jihoon mengarahkan kejantanan itu menuju lubangnya. Inci demi inci, batang ereksi itu tenggelam di dalam lubang analnya, dipeluk hangat rektumnya. Namun, Jihoon yang sudah tak memiliki sisa kesabaran itu justru dengan sengaja menggerakkan pinggulnya maju, melesakkan seluruh bagian penisnya dalam satu entakkan. Hyunsuk tak kuasa menahan suaranya, sebuah pekikan cukup lantang pun terpaksa mengudara, memenuhi locker room yang tak seharusnya menjadi saksi kegiatan panas mereka hari ini.
Seolah semuanya tak cukup. Seolah semuanya tak membuat Jihoon puas. Pinggulnya semakin bergerak maju, menekan penisnya untuk tenggelam lebih dalam—abaikan Hyunsuk yang sudah mulai kewalahan meskipun Jihoon belum melancarkan aksinya. Nyatanya Jihoon dan aksi kurang ajar memang tak bisa dipisahkan. Satu telapak tangannya bergerak perlahan, menuju bagian bawah perut si April. Hyunsuk yang tak bisa berpikir jernih hanya diam, total mabuk karena Jihoon. Ketika ditekan titik itu, kewarasannya seolah dipaksa kembali, membuat Hyunsuk berteriak kecil. “Jihoon!” Hyunsuk mendadak lupa kalau harus menahan volume suaranya.
Sedangkan Jihoon, menyeringai di balik punggungnya. Lalu pinggulnya bergerak, mulai memompa penisnya keluar masuk dari lubang sempit itu dengan tempo sedang. Suara yang tercipta tiap kulit mereka bercumbu pun tak terelakkan lagi—tak bisa Hyunsuk tahan, karena bukan ranahnya. Suara itu terdengar kotor, sukses membuat Hyunsuk ingin segera menyudahinya dan juga membuat lelaki itu untuk melanjutkannya hingga fajar menyingsing esok harinya dalam waktu yang bersamaan. Entah, mungkin kewarasannya yang sempat kembali sudah diusir paksa, ditendang keluar tanpa pandang bulu.
“Udah seneng? Udah puas? Kan udah dikontolin beneran nih,” ujar Jihoon penuh goda, dilontarkan dengan begitu lantangnya. “Hoonie… J—Jangan kenceng-kenceng ngomongnya… Hng,” tegur Hyunsuk berusaha tegas, namun hanya lenguh dan desah yang dapat keluar dari mulutnya. “Kenapa? Bukannya Kakak mau pamer?” celetuk Jihoon sarkas. Salah satu tangannya bergerak mencengkram pinggang, menahan tubuh Hyunsuk agar tak berlarian. Sedangkan tangannya yang lain, kembali menelusuri lekuk tubuh sang kekasih sebelum akhirnya bertengger di dada. Diberi remasan lembut kedua sisi dada si April yang membusung secara bergantian, lalu dipilin kuat putingnya hingga Hyunsuk berteriak kecil meminta dirinya untuk berhenti.
Semakin Hyunsuk meminta Jihoon untuk diam dan melakukan tugas utamanya, maka Jihoon akan semakin bergerak tak beraturan. Karena setelah kembali melontarkan peringatannya untuk Jihoon agar tak berlebihan mengerjainya di dada, Jihoon justru semakin tak terkendali. Tanpa ragu Jihoon tarik puting si April bergantian, lalu digaruk-garuk menggunakan kukunya dengan penuh tekanan. Tak ada yang bisa Hyunsuk lakukan. Tubuhnya menggeliat kesana-kemari, berusaha melepaskan diri. Namun, semua usahanya nihil. Kedua tangannya pun hanya bisa mencengkram lemah kedua lengan Jihoon.
“Ah, Jihoon!” Kali ini suara Hyunsuk yang keluar terdengar paling lantang—karena Jihoon yang meraih penis tegangnya untuk diusap-usap di lubang kencingnya, bersamaan dengan putingnya yang masih dikerjai habis-habisan. Desahan-desahan lain yang tak kalah nyaring pun menyusul keluar dari mulut si April. Namun, Hyunsuk yang sedang terengah-engah mendadak membeku, menutup bibirnya rapat-rapat ketika mendengarkan suara pintu diketuk dari luar. "Kak? Is everything okay?" Suara itu terdengar familiar, yang pasti adalah salah satu anggotanya yang lain. Hyunsuk tak begitu bisa mengingat siapa pemilik suara itu karena otaknya yang dipenuhi Jihoon dan sentuhannya. "Jawab, Kak," pinta Jihoon berbisik di samping telinga Hyunsuk yang masih mengunci mulutnya. Lelaki yang lebih tua langsung menggeleng cepat saat mendengarkan perintah itu—sadar batasan dirinya sendiri yang pasti tak bisa menyimpan desahannya saat menjawab suara itu. Sedangkan Jihoon, tampak tak peduli. Dengan kedua tangannya yang kembali mencengkram pinggang Hyunsuk hingga kulit yang lebih tua tampak memerah itu, Jihoon masih setia gerakkan pinggulnya maju dan mundur.
Hyunsuk pun sadar, Jihoon tak menerima penolakan. Maka dengan seluruh kekuatannya, ia menelan setiap lenguhan yang hendak keluar dari mulutnya setiap Jihoon menumbuk titik manisnya. "G—Gapapa, nanti aku sama Jihoon—nyusul..." ujarnya terbata karena lelaki di belakangnya itu tak memberi Hyunsuk sedikit keringanan. Justru gerakan Jihoon semakin kuat—nyaris membabi buta. Mungkin sosok yang lebih muda itu begitu terpacu dengan kondisi ini. "Beneran gapapa?" Tanya suara itu memastikan keadaan mereka berdua. Hyunsuk pun menjawab dengan cukup bersusah payah, berusaha menjaga nadanya agar terdengar senormal mungkin, "Gapapa, aku lagi bahas sesuatu sama Jihoon." Setelah Hyunsuk melontarkan alibinya, dapat ia rasakan salah satu tangan Jihoon bergerak naik dan menangkup dadanya, lagi. Remasan cukup kuat kemudian Jihoon lakukan di sana sebelum memilin gemas puncak noktah Hyunsuk yang tegang hingga rasa geli dan menyengat terasa.
Setelah merasa seseorang itu pergi menjauh dari depan pintu, Hyunsuk langsung menoleh ke belakang dan melemparkan tatapan tajamnya. “Ji—hoon!” serunya galak meskipun dengan suara tersengal, lagi-lagi Jihoon tampak tak acuh. Justru Jihoon dengan sengaja menarik salah satu puting tegangnya hingga Hyunsuk kembali merasakan nyeri yang bercampur dengan nikmat. “Kakak enggak inget siapa yang minta dikontolin di sini tadi?” Hyunsuk jelas sadar dirinyalah yang memicu semua ini terjadi, di tempat yang jelas tak aman untuk mereka memadu kasih. Namun, apa daya Hyunsuk yang sudah dikuasai nafsu beberapa saat lalu—yang terpicu salah satunya karena penampilan luar biasa Jihoon malam ini. Lagi pula Jihoon juga tak tampak terganggu dan menolaknya, bukan?
“Mmhm—tapi kamu, kamu turutin—angh,” ujar Hyunsuk dengan lirih, berusaha untuk menjaga suaranya agar tak terlalu lantang—Hyunsuk takut desahannya lolos tanpa izinnya. “Aku ‘kan cuma nurut sama Kakak.” Jawaban Jihoon membuat Hyunsuk merasa jengkel. “Kalo kaya gini aja kamu baru mau nurut sama aku,” keluh Hyunsuk diantara desahan tertahannya. “Ya udah lah, Kak. Sekarang yang penting Kakak enak, iya ‘kan?” ujar Jihoon hendak menyudahi pertikaian kecil mereka. Toh, memang yang dikejar Hyunsuk hingga nekat memancing dirinya adalah nikmat dan waktu berduaan dengannya. Yah, meskipun opsi terakhir hanyalah asumsi belaka.
“Hng, Hoonie…” Hyunsuk tak menjawab pertanyaannya, justru kembali mendesahkan namanya lirih. “Iya, Sayang,” jawab Jihoon ramah, memberi beberapa kecupan di tengkuk dan leher Hyunsuk yang dipenuhi peluh. “Hoonie… Jihoonie…” ujar Hyunsuk, kembali menyebutkan namanya lagi. Jihoon pun menjawab lembut, “Iya, Kakak Sayang.” Suara Jihoon mengalun perlahan, begitu lembut menyapa indra pendengaran sosok yang lebih tua—justru kembali membuat Hyunsuk kembali mendesah lirih. “Mmh, please…” Ucapannya terdengar seperti sedang mengadu, namun juga terdengar seperti permintaan yang harus segera dituruti.
Dan Jihoon tak perlu petunjuk lain. Jihoon sudah tahu. Jihoon sudah hafal di luar kepalanya. Tak ada yang tahu tentang Kak Hyunsuknya lebih baik daripada dirinya.
“You close, Sayang?” Pertanyaan itu jelas dijawab dengan sebuah anggukan. Maka Jihoon fokuskan tiap gerakan pinggulnya, menekan telak titik manis Hyunsuk agar segera menjemput nikmat duniawinya. Pergelangan tangan si Maret dijemput, digenggam dengan semakin kuat. “Hhah—Jihoon, please, please…. Ah, please,” mohon Hyunsuk lirih, masih menjaga suaranya agar tak mengundang orang lain kembali menanyakan keadaannya lagi. Karena Hyunsuk tak miliki waktu untuk menanggapi orang lain selain Jihoon saat ini. Penisnya diraup lagi, diselimuti hangatnya telapak tangan Jihoon yang besar, dengan mudahnya menutupi seluruh miliknya.
Cukup dipompa perlahan, beberapa saat. Putihnya pun akhirnya berjumpa. Semuanya luruh di telapak tangan Jihoon yang masih setia membelai penis Hyunsuk yang mulai kehilangan kerasnya. Badan si April tersengal-sengal, diserang nikmat yang akhirnya menjemputnya. Namun, permainan belum usai. Jihoon masih tenggelam, begitu dalam di dalamnya. Kejantanannya tak pernah berhenti keluar masuk dari lubangnya. Bahkan tak memberi sedikit waktu untuk Hyunsuk agar bisa menikmati pelepasannya. Karena setelah memeras seluruh putih Hyunsuk keluar, kedua tangan Jihoon kembali mencengkram kuat pinggang si April.
“Kakak, aku belum keluar loh.” Ujaran itu diucapkan begitu tenang. Namun, berhasil menarik sebagian kecil kesadaran Hyunsuk yang sempat menari-nari di awang-awang. “Ji—” Kali ini tak diberi kesempatan, bahkan untuk mengucapkan nama sang kekasih. Jihoon sudah terkunci, mengejar pelepasannya sendiri. Bunyi yang terdengar tiap kulit mereka saling bertabrakan semakin terdengar nyaring, memenuhi locker room. Tenggorokan si April sudah terlampau kering, terlalu banyak melolongkan lenguhannya tadi. Akan tetapi, Jihoon seolah terus menekannya agar kembali mendesah nikmat, memberi lelaki yang lebih muda bukti bahwa Jihoon berhasil membuatnya keenakan—meskipun mereka sama-sama tahu, Jihoon sudah mengerti.
“Let them know, Kak,” ujar Jihoon di sela suara nyaring setiap pantatnya bertabrakan dengan pelvis yang lebih muda. “Let them know that I fuck you good, Kak,” sambungnya. “Ji—hoon… Ngh, pelan… Please.” Hyunsuk kembali memohon lirih. Karena tak mampu menahan tubuhnya lagi untuk tetap berdiri di tempat itu. Maka sebelum ambruk, Jihoon sudah lebih dahulu merengkuh tubuh yang lebih tua dengan erat. “I got you, Baby,” celetuknya tengil tepat di samping telinga Hyunsuk.
Di tengah pikirannya yang kacau dan rasa pening yang masih memenuhi kepalanya, Hyunsuk hanya bisa menerima apapun yang Jihoon berikan—semuanya. Termasuk dengan rasa hangat yang mulai Hyunsuk rasakan di dalam lubangnya tanpa izin. “Jihoon!” seru Hyunsuk berusaha melepaskan rengkuh Jihoon. Namun, tak peduli seberapa besar kekuatan yang Hyunsuk kerahkan, pelukan Jihoon terlalu erat. “Fuck you, Park Jihoon,” umpat Hyunsuk masih berusaha melepaskan diri dari Jihoon. Justru yang si April dengar setelahnya adalah suara kekehan kecil. “You just did, literally,” celetuk Jihoon tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Lepas,” tegas Hyunsuk.
“Enggak, nanti Kakak jatuh.” Jihoon jelas tak menuruti permintaan Hyunsuk, justru semakin mengeratkan pelukannya dan menjaga Hyunsuk agar tetap dekat dengannya. “It's okay, take your time. Aku jagain Kakak.” Selesai dengan kalimatnya, Jihoon pun disambut dengan suara dengusan Hyunsuk yang terdengar. “Aku bilang jangan keluar di dalem,” ucap Hyunsuk ketus. “Kakak enggak bilang apa-apa tentang itu,” sahut Jihoon membela dirinya. Toh, memang tak ada pembahasan tentang hal itu, sama sekali. “Semuanya enggak harus dibahas dulu, Jihoon.”
“Kalo aja Kakak bilang enggak boleh, then I won't do it.” Jihoon masih saja membela dirinya, melemparkan alibi-alibinya, tak mau disalahkan sepenuhnya. “Lagian Kakak yang godain aku duluan,” ujar Jihoon, mencolek dagu Hyunsuk dengan manja. Hyunsuk sontak menggerakkan bahunya, berusaha mengusir jemari Jihoon yang sedang membelai wajahnya. “Terus ini aku gimana, Jihoon…” jawab Hyunsuk menghela napas panjangnya.
“Kak, jangan diketatin gitu lah. Masih keras ini. Enggak kasian sama aku?” Kalimat yang baru saja Jihoon lontarkan mengundang sebuah pukulan kencang yang Hyunsuk berikan di lengan yang lebih muda. “Aku bingung gimana caranya beresin dan kamu lebih milih mikirin kontol kamu itu?!” protes Hyunsuk membuat gelak tawa Jihoon hadir. “Nanti aku bantu bersihin, Kak. Tenang aja,” celetuk Jihoon enteng, kedua tangannya bergerak masuk ke dalam baju yang masih Hyunsuk kenakan. Sembari mengecup dan menjilati leher Hyunsuk yang tak bisa ia beri tanda, Jihoon lagi-lagi meremas-remas lembut dada si April. “Jihoon, ih!”
“Lanjutin di kamar mandi sekalian aku bantu bersihin mau enggak, Kak?”
“And I kinda wish the bathroom door will be broken too.”
“Park Jihoon!”
