Actions

Work Header

Cyrenaica : Trace of Love

Summary:

Cyrenaica adalah sebuah daerah yang saat ini masuk ke dalam wilayah Libya Timur, Afrika Utara. Dipercaya bahwa kota tersebut dibangun sebagai bentuk cinta Apollo, Sang Dewa Matahari dan Cahaya kepada Sang kekasih, Cyrene. Jika Apollo memberikan Cyrenaica kepada kekasihnya sebagai hadiah, hadiah seperti apa yang diberikan Phainon kepada Cyrene, wanita yang dicintainya? Sebuah hadiah yang membuat Cyrene selalu ingat bahwa pria itu akan selalu berada di sisinya dan membuat dirinya merasa aman dari segala ketidakpercayaan dirinya.

Notes:

Disclaimer : Honkai Star Rail milik Hoyoverse. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini.

Peringatan : Mengandung Sex Scenes. Bagi yang masih di bawah umur, jangan baca dulu! Dimohon kebijaksanaannya, terima kasih.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Konon katanya. Sang Dewa Matahari, Apollo membangun sebuah wilayah sebagai hadiah untuk Cyrene, kekasihnya. Wilayah tersebut bernama Cyrenaica yang beribukota di Cyrene. Cyrene sendiri dijadikan Ratu untuk memimpin wilayah tersebut. Saat ini, Cyrenaica masuk ke dalam wilayah Libya Timur dan menjadi saksi bagi banyak peristiwa bersejarah."

Begitulah sekilas sejarah Cyrenaica yang dibaca oleh Phainon dalam perjalanannya pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Pekerjaan kantor yang sangat melelahkan akhirnya berlalu. Pria itu tak sabar ingin segera pulang ke rumah untuk menemui Cyrene, wanita yang dinikahinya selama 1 tahun.

Seperti Apollo yang memberikan kota sebagai hadiah, Phainon ingin memberikan hadiah untuk Cyrene. Akhir-akhir ini, Cyrene sering merasa tidak percaya diri dengan tubuhnya. Beberapa kali Cyrene menolak untuk berhubungan intim karena ia merasa dirinya tidak pantas untuk Phainon.

"Aku tidak pantas untuk menerima tubuhmu. Kamu itu tampan, atletis dan karismatik. Apa yang kamu lihat dariku hingga kamu menikahiku? Buah dadaku tidak menarik, pinggulku juga tidak menawan dan tubuhku terlalu mungil. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari tubuhku ini."

Begitulah yang dikatakan oleh Cyrene di malam terakhir mereka berhubungan intim sekitar 3 bulan yang lalu. Hati Phainon seperti ditusuk anak panah musuh ketika mendengar pernyataan istrinya.

"Kenapa dia seperti itu? Hatiku sangat sakit. Aku menyukai semua hal dari dirinya..." batinnya.

Selama fase absen berhubungan intim, Phainon dan Cyrene seperti saling menjauh dan cara mereka menyelesaikan masalah jadi sangat buruk. Minggu lalu, Phainon dan Cyrene bertengkar hebat karena Phainon pulang kantor terlalu malam akibat macet, Cyrene yang salah paham justru mengomel hingga akhirnya Phainon yang lelah membentak Cyrene. Cyrene yang shock dengan amarah sang suami langsung menangis dan memutuskan untuk tidur di kamar terpisah.

Phainon merasa bersalah karena membuat Cyrene menangis dan menjauh darinya. Tapi, bukan Phainon namanya jika dia menyerah begitu saja. Karena keduanya menyadari ada yang salah, Phainon dan Cyrene akhirnya berdiskusi tentang preferensi seksual, fantasi masing-masing, batasan-batasan aman serta hal-hal yang membuat mereka merasa tidak percaya diri. Setelah mendapatkan jawabannya, Phainon mampir ke mall yang searah dengan rumahnya untuk membeli hadiah.

Hadiah yang membuat kepercayaan diri Cyrene meningkat dan menonjolkan kemolekan tubuhnya serta perhiasan yang membuatnya semakin cantik.

"Cyrene pasti menyukainya."


"Aku pulang!"

"Phai!" Seorang wanita bertubuh mungil berambut merah muda menyambutnya di depan pintu yang tak lain adalah Cyrene. Keduanya saling berpelukan singkat dengan kecupan singkat, sebuah rutinitias yang sangat dirindukan oleh Phainon. Setelah momen tersebut berlalu, Phainon melepas sepatu dan kaos kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Cyrene kembali ke dapur untuk memasak.

"Sebelum makan, cuci tangan dulu." suara Cyrene terdengar dari arah dapur.

"Dengan senang hati, sayang."

Di malam yang hangat, Phainon dan Cyrene menghabiskan waktu untuk makan bersama sambil mengobrol tentang hari ini. Setelah membantu Cyrene mencuci piring, Phainon pergi mandi.

Setelah mandi dan mengganti pakaian, Phainon memanggil Cyrene. Setelah dia mendekat, Phainon memberikan hadiahnya sambil berbisik :

"Tolong dipakai ya. Kamu pasti menyukainya."


Cyrene keluar dari kamar mandi dengan mengenakan lingerie model chemise berwarna hitam yang sedikit ketat dan push-up bra yang membuat buah dada Cyrene semakin menonjol. Ia juga mengenakan kalung permata berwarna biru dan stocking yang senada dengan lingerie-nya.

Cyrene sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah ranum seperti tomat ketika duduk di samping sang suami. Phainon hanya tersenyum lembut melihat ekspresi sang istri.

"Hari ini kamu sangat seksi. Apakah kamu ingin menghabiskan malammu bersama suamimu yang rupawan ini?" bisik Phainon sambil mengenggam tangan mungil Cyrene dan mengigit pelan pipi bulatnya.

Cyrene gugup. Wajahnya semakin memerah, tangannya mulai gemetar. Phainon memang ahli dalam menggoda sampai membuatnya salah tingkah. Bisikannya tidak pernah gagal membuat Cyrene gugup meskipun dia telah mengenal pria tersebut sejak kecil dan selalu bersekolah di sekolah yang sama.

Manisnya, batin Phainon.

Melihat penampilan Cyrene dengan lingerie pemberiannya, membuat pria berambut putih tersebut ingin segera menyatukan hasrat intimnya dengan sang istri dan memuja tubuh indahnya dengan kecupan. Tetapi, Phainon berusaha untuk bersabar karena menaklukkan ketidakpercayaan diri seorang wanita membutuhkan kelembutan. Baginya, kenyamanan Cyrene nomor satu.

Phainon dengan lembut meraih tubuh Cyrene dan memeluknya. Cyrene merasakan kehangatan menjalar ke tubuhnya. Ia merindukannya, merindukan sentuhan manis dari pria yang telah hidup bersamanya selama 1 tahun.

Dengan perlahan, Phainon melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menelusuri tiap jengkal wajah cantik Cyrene. Pria itu mulai mencium dahi, lalu turun ke pipi ranumnya. Phainon mencium pipi wanita tersebut sambil mengigit pelan pipinya. Sesaat setelahnya, Phainon mencium bibir Cyrene yang manis dan beraroma cherry. Awalnya, ciuman tersebut sangat lembut. Seiring dengan gairah yang mulai terbentuk, ciuman tersebut berubah menjadi lebih liar seolah-olah Phainon ingin memangsanya. Lidah Phainon meminta izin kepada bibir Cyrene untuk masuk dan Cyrene mengizinkannya hingga membuat lidah mereka saling beradu dalam hasrat yang semakin naik dan naik.

Bagi Phainon, malam itu merupakan malam paling menggairahkan sekaligus penuh tantangan untuk menaklukkan musuh terbesar istrinya : body insecurities.


Bibir Phainon mulai menelusuri setiap jengkal leher jenjang Cyrene dengan langkah selembut awan. Pikiran Cyrene mulai melayang karena sentuhan Phainon membuatnya tenggelam dalam kabut yang semanis madu. Dengan lembut, Phainon meninggalkan tanda cinta di leher Cyrene sebagai tanda bahwa Cyrene hanya miliknya seorang.

Jemari kokoh Phainon kembali menjelajahi tubuh Cyrene yang terlihat rapuh dan lembut. Seperti sebelumnya, Phainon meninggalkan tanda cinta di bahu hingga dekat buah dada Cyrene. Pria itu tidak bisa berhenti mengagumi buah dada Cyrene yang tidak terlalu besar, namun memiliki bentuk yang cantik. Saat ia berusaha melepaskan lingerie Cyrene, sebuah memori yang memuat masa pacaran mereka terlintas di kepalanya.

“Cyrene, kamu tahu tentang kota Cyrene?”

“Apa itu, Phainon? Kenapa itu terdengar seperti namaku?”

“Menurut legenda, kota Cyrene berasal dari nama kekasih Dewa Apollo, Cyrene. Karena cintanya kepada Cyrene, Dewa Apollo membangunkan kota untuknya supaya dia dapat berburu sebanyak yang dia mau. Kota Cyrene sendiri merupakan ibukota dari wilayah Cyrenaica.”

“Pasti seru sekali bisa berburu di dalam kota milik sendiri ya.”

“Di zaman sekarang, aku hanya bisa membawakanmu hadiah-hadiah kecil yang kamu sukai. Maafkan aku karena tidak bisa memberikan perlakuan seperti Ratu untukmu.”

Cyrene tertawa kecil, “Tidak apa-apa, Phainon sayang. Selama kamu berada di sisiku dan selalu mendengarkan keluh kesahku, semuanya sudah cukup.”

“Phai? Phainon?”

Suara Cyrene mengejutkan Phainon dari lamunannya. Tanpa ia sadari, mata biru langit Phainon menatap buah dada Cyrene dalam waktu yang lama sehingga membuat Cyrene sedikit tidak nyaman.

“Phai, apakah buah dadaku ini tidak terlalu kecil untukmu?” tanya Cyrene pelan. Phainon menggeleng sambil melepaskan lingerie Cyrene hingga menampakkan buah dada Cyrene yang putingnya sudah mengeras. Phainon selalu menyukai penampakan buah dada Cyrene dalam kondisi seperti ini, seperti bunga yang merekah. Siap memberikan nektar manis untuk pria yang haus hasrat seperti dirinya. Dengan penuh senyuman, Phainon memijat buah dada Cyrene sambil memberikan hisapan yang lembut. Tubuh Cyrene memberikan reaksi kesenangan karena nektarnya dihisap oleh sang pria. Tanpa sadar, Cyrene mengeluarkan rintihan yang membuat Phainon semakin agresif menghisap buah dadanya.

“Ini… memabukkan sekali…” batin Cyrene.

“Cantiknya.” Bisik Phainon dengan suara seksinya. “Aku menyukai buah dadamu, rasanya manis sekali.” Cyrene meresponnya dengan nyanyian kenikmatannya dan mengarahkan Phainon ke buah dadanya, seolah-olah belum puas.

“Tolong yakinkan aku, Phai.” Cyrene berbisik dengan suara bergetar. “Yakinkan bahwa aku adalah wanita berharga bagimu. Yakinkan aku bahwa tubuhku cantik di matamu.”


Di malam yang dingin dan sunyi, sepasang kekasih tersebut saling berpelukan semakin erat, erat dan erat hingga pakaian keduanya berjatuhan di lantai. Yang tertinggal hanyalah kulit keduanya yang saling menempel untuk memberikan kehangatan. Jemari Phainon mulai memasuki lorong kewanitaan Cyrene yang membuat Cyrene terus menyanyikan alunan musik yang penuh kenikmatan sekaligus kebahagiaan di waktu yang bersamaan hingga wanita mungil tersebut mencapai klimaksnya. Dengan cekatan, Phainon mengeluarkan jari-jarinya yang sudah terlapis cairan cinta dari kewanitaan Cyrene dan memasukkan jari tersebut ke dalam mulutnya.

"Jangan... Itu kotor..." rintih Cyrene saat melihat Phainon menjilati cairan cintanya.

"Tidak, cairanmu sangat nikmat bagiku." bisik Phainon dengan suara baritonenya yang membuat Cyrene hanya bisa mengerang pasrah. Mata birunya tertutup oleh kegelapan karena hasratnya yang semakin kuat untuk menghangatkannya di malam yang dingin ini, namun ia harus fokus mempersiapkan Cyrene untuk menerima kejantannya. Sebagai gentleman, Phainon tidak akan membiarkan Cyrene menangis kesakitan karena kejantannya. Pria itu merengkuh tubuh Cyrene yang tidak berbalut sehelai kain apapun, ia ingin menikmati momen intim ini dengan santai.

“Phai.” Cyrene memanggil Phainon.

“Ada apa, cantik?”

“Tubuhmu sangat mengagumkan, otot yang terukir ini tidak pernah gagal membuatku membeku, terlihat maskulin dan kuat. Setiap kali aku melihatmu berlatih dan berkeringat yang memperlihatkan ototmu, aku membayangkan bagaimana rasanya dipeluk oleh tubuh kuatmu. Rasanya sangat nyaman dan hangat…”

Phainon mengukir senyum tanpa sadar. Ia tidak menyangka bahwa perasaan kagumnya terhadap tubuh Cyrene berbalas di tempat teramannya, tempat dimana ia bisa menunjukkan ekspresi paling rapuh di hadapan wanita yang dicintainya.

“Kenapa kamu selalu rajin berlatih?” tanya Cyrene yang selalu penasaran melihat Phainon olahraga.

“Tubuhmu sangat rapuh, aku berlatih untuk melindungimu dari bahaya apapun.”jawab Phainon sambil melatih otot tangannya melalui angkat beban ringan.

“Heeee, apa kamu tidak mau sehat juga dengan berolahraga?”

“Sehat itu bonus. Yang paling penting adalah, kekuatan fisikku akan membuatku mampu berada di sisimu selama aku masih hidup.” Cyrene hanya memasang senyuman yang diikuti oleh pipinya yang memerah. Mungkin karena dia berpikir aku hanya menggodanya.

Sayangnya, apa yang kukatakan saat itu bukan kebohongan. Apalagi godaan…

Aku benar-benar melatih fisikku untuk melindungimu, Cyrene.

Seperti janji pernikahan kita dahulu. Membawa ketentraman dalam hidup kita, saling menyayangi, saling menerima kekurangan masing-masing dan selalu bersama dalam suka duka.

Ketika memikirkan janji pernikahannya, Phainon sudah menghangatkan tubuhnya di dalam tubuh Cyrene. Memberikan dorongan yang lembut namun penuh candu. Candu yang membuat Cyrene semakin menginginkannya dan selalu memikirkannya. Candu dari kejantanan sang suami jugalah yang membuatnya melepaskan kecemasannya saat ini.

Selang beberapa menit, Phainon mengeluarkan cairan kehidupannya di dalam rahim istrinya. Cairan yang menghangatkan tubuhnya. Namun, Phainon belum merasa cukup hangat dari tubuh Cyrene yang bagaikan candu surgawi. Di sisi lain, Phainon tetap harus meminta izin kepada pemilik tubuh candu tersebut untuk meminta kehangatan selama beberapa waktu.

“Cyrene, maaf.” kata Phainon dengan suara terengah-engah. Ia menyempatkan diri untuk menyeka keringat dari dahi Cyrene.

“Ya?”

“Bolehkah aku menghangatkan tubuhku selama beberapa waktu? Aku merasa belum cukup.”

“Phai…” Cyrene cemberut, memberikan tatapan tajam kepada suaminya yang sepertinya punya tenaga kuda kalau sedang berhubungan intim.

“Tolong yaaa… aku mau lagi…” Phainon memasang puppy eyes yang tidak mampu ditolak oleh Cyrene.

“Kalau itu maunya Phai, boleh.” Cyrene berbisik sambil mengecup pipi Phainon. “Tapi aku juga ingin menghangatkan diriku dengan cairan kehidupanmu itu. Boleh kan?”

Phainon tertawa kecil sebelum memulai hubungan intim untuk ronde berikutnya. Alam biologisnya belum merasa cukup kehangatan dari kekasihnya. Phainon dan Cyrene terus menghangatkan diri sambil melepaskan hasrat yang penuh cinta selama beberapa waktu.


Sesaat setelah Phainon memberikan cairan kehidupannya ke dalam rahim Cyrene untuk sekian kalinya, dalam kondisi emosinya yang berlebihan setelah berhubungan intim, Cyrene memeluk Phainon sambil terisak. Phainon membalas pelukan istri tercintanya sambil menepuk pelan punggungnya.

"Phai... Maafkan aku yang sudah salah sangka padamu. Maafkan aku yang tidak percaya dengan cintamu. Maaf... Maaf telah menyakitimu dengan ketidakpercayaan diriku dan penolakanku." isak Cyrene.

Phainon tersenyum sambil tetap menepuk punggung wanita mungil tersebut, berusaha untuk membuatnya lebih nyaman.

"Semuanya baik-baik saja, Cyrene sayang." bisik Phainon. "Kamu aman bersamaku. Semua ketidakpercayaan dirimu sudah kuusir."

Tangisan Cyrene semakin keras, pelukannya semakin erat. Dia seperti ingin melampiaskan semua emosi dan rasa tidak amannya yang ia pendam selama ini ke suaminya.

"My beloved Phainon, terima kasih untuk hadiah lingerie-nya. Aku sangat bahagia. Aku akhirnya sadar... Kalau kamu sangat peduli dan memahamiku. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi kekasih yang bisa diandalkan. I love you."

"Yeah, I love you too, my dearest Cyrene." Phainon tanpa sadar sudah meneteskan air mata. "Kita akan selalu bersama. Jika kamu ingin bercerita dan berbagi keintiman, aku akan selalu terbuka untukmu. Jangan sungkan, oke?"

Cyrene menggangguk sambil tetap menenggelamkan wajahnya di tubuh kekar Phainon. Malam yang sunyi tersebut adalah momen dimana Phainon akhirnya mampu menyelam menuju kedalaman hati Cyrene, memahaminya melalui penyatuan intim dan memberikan kelembutan serta rasa aman baginya.

Di sisi lain, Cyrene juga berdamai dengan rasa tidak percaya diri dengan tubuhnya. Melalui hadiah lingerie yang ia kenakan, Cyrene tahu bahwa Phainon sangat mencintainya, pria itu akan selalu menjaganya dan selalu berada di sisinya. Cyrene juga tidak perlu lagi untuk menyembunyikan tubuhnya karena Phainon menyukai semua jengkal tubuhnya.

Malam tersebut adalah malam dimana ketidakpercayaan diri Cyrene berhasil ditaklukkan. Seperti Amr bin Ash dan pasukannya yang berhasil menaklukkan Cyrenaica. Setelah ditaklukkan, Amr bin Ash membuat wilayah Cyrenaica kembali menjadi daerah yang strategis dan berharga bagi perekonomian serta politik Libya. Sama seperti Phainon yang kembali membuat Cyrene menjadi wanita yang paling cantik dan berharga baginya setelah masa-masa sulit menimpa keduanya.

Cyrene akhirnya jatuh tertidur di dada bidang Phainon setelah menangis cukup lama. Phainon merengkuh tubuh Cyrene perlahan dan membaringkannya di tempat tidur mereka, meyelimutinya dan memberikan kecupan di dahi Cyrene yang terlelap.

"Selamat tidur, sayang."

Phainon ikut membaringkan tubuhnya di samping Cyrene dan memeluknya sebelum ikut bergabung ke alam mimpi.

Notes:

Halooo, terima kasih sudah membaca karya pertamaku di fandom Honkai Star Rail. Maaf kalau karakternya agak OOC, karena aku ingin menggambarkan Phainon sebagai cowok yang bisa membuat Cyrene nyaman dan aman karena Cyrene insecure sama badannya sendiri, serta percaya kalau dirinya cantik di mata orang yang dicintainya serta dirinya sendiri. Ini isu yang sangat relevan bagi perempuan, jadi aku menulisnya.

Bagi yang membaca fanfic ini, aku berharap kalian menemukan pasangan yang bisa menerima semua kelebihan serta kekurangan kalian apa adanya dan tidak menjadikan kalian sebagai objek seksual belaka.

Terima kasih sudah mampir! Sampai jumpa lagi~