Chapter Text
Haechan as Hayana/Haya. (Ay/Aya nickname dari Matt)
Mark as Matteo/Matt
Johnny as Johan
Taeyong as Talia
....
Happy reading!
....
Sudah menjadi rahasia umum saat mahasiswa cantik jajaran primadona kampus itu merupakan seorang biduan. Namanya Hayana.
Memiliki kulit tan, kaki jenjang, dan suara yang bagus menjadi ciri khas darinya. Jangan lupakan payudara yang membusung dengan sombongnya itu juga tidak bisa di lupakan oleh orang-orang yang telah mengenalnya.
Meski seorang biduan, saat di kampus Hayana tetap berpakaian sopan kok, ramah jadi teman-temannya gak mempermasalahin soal kerjaan Haechan yang jadi biduan.
Beberapa kali dia juga disuruh ikut memeriahkan event musik yang diselenggarakan pihak kampus. Dan karena suaranya itulah sejak SMA dia telah menjadi biduan.
Haya mulai jadi biduan dari bernyanyi desa ke desa. Menjual suara untuk membantu biaya sekolahnya. Hingga dia akhirnya bertemu dengan Mas Johan. Yang ternyata mempunyai orkes musik terkenal dan cukup ternama, mengajaknya bergabung dengan talent lain dari miliknya. Bernyanyi dari kota ke kota, dengan bayaran yang lebih besar.
Mas Johan yang membantunya sehingga dia seperti sekarang ini. Dapat melanjutkan kuliah di kota besar, hidup lebih dari cukup, tidak kekurangan seperti masa lalunya saat di desa.
Sikap yang harus dimiliki seorang biduan adalah mampu menarik perhatian penonton. Dan kata Johan, suara aja gak cukup membuat penonton tertarik.
Jadi Mas Johan mengajarinya cara menggoda, mulai dari pakaian yang cukup terbuka sampai meladeni godaan-godaan dari cowok hidung belang yang menontonnya menyanyi. Dan benar saja, sawerannya bahkan melebihi tarif dia saat bernyanyi di acara desa.
Meskipun merelakan beberapa bagian tubuhnya terjamah tangan-tangan nakal tersebut, Haya tidak keberatan. Selagi itu sepadan dengan uang yang didapatnya.
Haya senang dengan pekerjaannya saat ini. Meskipun pacarnya: Matteo, sering memintanya untuk berhenti jadi biduan tapi Haya tetap melakukannya. Baginya, selain alasan uang, ada suatu kepuasan tersendiri saat mata dan tangan mereka hanya bisa memandangnya, menyentuhnya tanpa ada yang berhasil mendapatkannya.
Matt selalu mengantar Haya saat ada job menyanyi. Menunggu semalaman hingga acara selesai. Dia juga melihat semua apa yang laki-laki hidung belang itu lakukan kepada kekasihnya diatas panggung sana.
Seperti malam ini, dia duduk di kursi belakang tak jauh dari panggung. Disamping Johan yang juga menyaksikan Haya dan beberapa talent lain mendendangkan suara mereka.
"Daerah sini tuh orangnya pada tajir-tajir tau gak, Matt? Buktinya ya talent gue keempatnya di sewa semua, cok. Pokoknya gue yakin semakin panas mereka semakin besar sawerannya anjir" tak henti-hentinya senyum Johan merekah. Saat menerima tawaran nyanyi disini Johan senang bukan main, apalagi saat mereka mau keempat talentnya manggung semua. Bagai ketiban duren lah si Johan.
Matt hanya tanggapi ocehan Johan dengan dengusan. Kalo kaya mah dia juga kaya. Itu sebabnya dia minta Haya berhenti jadi biduan. Dia bisa kok jajanin Haya sepuasnya, semaunya. Tapi ya gimana kekasihnya itu menolak tawarannya mentah-mentah.
"ini kan kerjaan aku, Matt. Dulu kamu bilang gak papa kalau aku masih jadi biduan. Kok akhir-akhir ini minta aku berhenti sih. Males banget. Mending putus ajalah kita kalo banyak ngatur"
Siapa yang shock? tentu saja Matt. Bahkan kekasihnya berani mengancam putus. Setelah susah payah Matt dapetin Haya yang selain jadi incaran di kampus juga incaran para lelaki diluar sana yang suka Haya saat manggung. Dititik ini sudah jelas Matt yang akan kehilangan kekasihnya itu, dan Matt gak mau. Jadi mau gak mau Matt tetap menuruti kekasihnya. Dengan alibi menawarkan untuk selalu mengantarkan kekasihnya saat ada job manggung di luar kota, Matt ingin mengawasi kekasihnya saat jadi biduan.
Matt tak keberatan, meski awalnya risih saat melihat penonton yang jelalatan sama kekasihnya diatas panggung, tapi lama-lama dia juga udah biasa dengan apa yang terjadi di atas panggung sana.
Matt menghembuskan asap rokoknya yang tinggal setengah. Johan juga sedang merokok dan beberapa kali menegak cairan alkohol diatas meja. Semakin larut, penonton di depannya juga semakin panas, gila menegak cairan alkohol yang membuat teler. Tapi tidak dengan Matt yang tak akan membiarkan dirinya mabuk, tidak saat dia harus selalu pasang mata untuk kekasihnya di atas panggung.
Keadaan di depan semakin liar. Kekasihnya diatas sana menyanyi dengan merdu, berbanding terbalik dengan jogetannya yang kian menggoda.
Press body knit dress yang membungkus tubuh kekasihnya itu terlihat senada dengan warna kulitnya. Bagian kancing di dadanya membuat payudaranya terlihat sesak, dengan pentil yang samar terlihat mengacung tegang. Bahkan dua kancing atas sudah terlepas karena oknum nakal yang memasukkan uang sawerannya ke dalam dada kekasihnya. Penonton yang melihat itu bersorak senang. Belahan payudaranya menjadi santapan mata-mata keranjang yang telah lapar.
Kekasihnya itu tidak peduli dengan kancing yang lepas, malah mendengar sorakan-sorakan itu membuatnya terpacu untuk menggoda lebih. Mengajak salah satu penonton keatas panggung berjoget bersamanya. Menempelkan payudaranya ke dada lelaki asing itu, membusungkan ke depan untuk menerima saweran lebih banyak lagi. Dan lembar-lembar merah itu masuk ke dada Haya. Terkadang lelaki asing itu memasukkannya sedikit lebih lama untuk merasakan payudara Haya yang tidak terbungkus bra. Haya juga meladeni semakin jauh dengan menggesekkan bokongnya ke selangkangan lelaki itu.
"damn bro, panas banget pacar lu anjing" Johan berkata, dengan tangan yang tanpa malu mengusap tonjolannya yang entah sejak kapan sudah menggembung itu. Tak peduli bahwa lelaki disampingnya menjabat sebagai kekasih resmi Haya.
Haya terlihat senang-senang saja di atas panggung, membuat suasana semakin panas, semakin ramai sorakan, lembaran-lembaran yg terus berjatuhan menghujani dirinya.
Matt disini juga ikut kepanasan. Hatinya panas, tapi tidak dapat mengelak juga bahwa kejantanannya di bawah sana ikut menegang melihat kelakuan kekasihnya. fuck anjing.
Tak selang beberapa lama, acara ditutup dengan keempat talent Johan yg menyanyi bersama. Bahkan setelah acaranya selesai, penonton tak kunjung bubar. Masih mencoba peruntungan kali saja salah satu talent dapat dibawa untuk memuaskan hasrat mereka.
Dan Matt gak akan biarin itu terjadi. Tepat saat mereka berpamitan, Matt melangkah maju, menghampiri kekasihnya. Menjemputnya untuk turun panggung. Kancing di dadanya sudah terlepas semua, yang Matt lihat kadang pentil kekasihnya mengintip tanpa malu di balik bajunya. Matt mengeratkan rangkulan di tubuh kecil kekasihnya, menerjang penonton yang gila secara terang-terangan ingin menarik Haya darinya. Membawa kekasihnya ke tempat mobilnya terparkir berada.
"easy Matt. Aku bahkan belum berpamitan dengan Mas Johan" Haya agak kesandung-kesandung saat mengikuti langkah lebar kekasihnya.
Matt tak menggubris omongan Haya. Dirinya patut marah saat pengawasannya luput dari kancing baju Haya yang sudah terbuka semua.
Jadi dengan sedikit tidak sabar, Matt mendorong Haya masuk ke dalam mobilnya. Sebelum dirinya masuk di kursi mengemudi, membanting pintu mobil cukup keras.
"Sayang tenang dong.. Jangan marah kek gini. serem tauk" Haya memajukan bibirnya, biasanya tingkah lucu darinya dapat melunakkan hati kekasihnya. Tapi mungkin tidak saat ini.
"Gue udah bilang kan gak usah berlebihan kalau lagi manggung. Tapi tadi apa? Kancing baju lo kebuka semua, lo bahkan gesekin bokong kayak lonte tadi. Gimana gue gak marah"
"ih maaf. Aya cuma terbawa suasana. Tapi sawerannya banyak banget anjir kan lumayan. hehe" Haya nyengir, menunjukkan deretan giginya lucu. Seolah hal yang tadi dilakukan di panggung sana tidak memberikan efek apapun ke Matt, seolah penghinaan kata lonte yang dikeluarkan Matt kepada dirinya dianggap angin lalu saja.
Matt mnghembuskan nafasnya kesal. Berasa percuma saja ngomong sama kekasihnya saat ini. Jadi tanpa pikir panjang Matt menginjak gas, melajukan mobilnya arah pulang.
"Matt.. Beneran aku minta maaf. Gak sengaja keterusan tadi."
"Sayang.. Jangan diem aja dong"
"Matt sayang, Aya jangan dicuekin"
Rengekan Haya tidak satupun disahuti oleh Matt. Haya menatap kekasihnya, matanya terlihat tajam menatap jalan didepan, rahangnya mengatup kencang, pegangan di kemudi juga mengerat. Kekasihnya kali ini benar-benar marah.
Haya mendekatkan tubuhnya kearah Matt. Mendekap lengan kiri Matt ke dadanya. lebih tepatnya sih ke payudaranya yang empuk. Gelendotan meski terkadang tangan kiri mark sibuk dengan kopling mobilnya. Jika bersikap lucu tidak mempan, maka ini upaya terakhir Haya, biasanya sih ampuh. Yaitu mengajak Matt sex and makeup.
"Matt.. Aya minta maaf ya. Aya tadi cuma terbawa suasana kok. Kan tadi sebelum Aya ada mbak Talia yang dikasih saweran di memeknya. Masak Aya kalah sih. Nanti suasananya gak hype lagi. Jadi tadi Aya ngide untuk ngegoda dikit kok"
Aya kemudian membawa tangan kiri Matt untuk menyentuh selangkangannya, "Tuh kan tambah basah. Biasanya gak sebasah ini, yang. Kan nanti ayang juga yang suka kalo memek Aya basah. Jadi gampang di masukkin. Ayang kalo marah harusnya kontolnya gak ikutan ngaceng sih"
Kali ini giliran Aya yang mengelus penis Matt diluar celananya. Memberikan sedikit remasan, menggoda sampai kekasihnya kelepasan meloloskan desahan.
"Kan bener. Ayang pasti suka. Aya sepong ya?"
.
.
.
.
halo halo.. jangan lupa mampir ya twitter
