Chapter Text
Langit sore menggantung malu-malu, seolah tahu ada ratusan pasang mata yang menunggunya menangis. Mungkin cuaca juga bisa bingung. Mungkin langit pun sesekali perlu jeda sebelum memutuskan; jadi hujan atau tetap menyimpan tangisnya sendiri.
Jaehyun melangkah turun dari panggung tanpa tepuk tangan di pikirannya. Bukan karena tak diapresiasi, tapi karena detak di dadanya lebih bising dari gemuruh penonton. Kakinya membawanya ke kursi plastik paling belakang. Warnanya biru, terlalu biru. Jenis biru yang seperti ingin terlihat bahagia, tapi justru memberinya getir yang aneh.
Punggungnya basah oleh keringat, tapi bukan keringat biasa. Ini bukan sekadar reaksi tubuh pada suhu, tapi keringat yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam. Tubuhnya seperti menyerap perasaan, dan Jaehyun tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya selain lewat pori-pori.
“Lo oke, hyung?” tanya Riwoo.
Satu tanya yang ringan, namun tak sanggup dipikul dengan jawaban utuh.
“Yah,” jawab Jaehyun. Hanya satu kata menggantung yang multitafsir.
Tapi Riwoo bukan penutur utama di kisah ini, maka ia pun pamit menghilang di antara logistik dan botol air mineral.
Yang muncul kemudian adalah Woonhak.
Masih dengan napas yang setengah tercuri oleh lagu terakhir, dengan jersey yang seolah telah menjadi lapisan kulit keduanya. Rambutnya berantakan kena keringat, tapi justru itu yang membuatnya terlihat lebih hidup. Bukan sebagai idol, tapi sebagai manusia.
Dan Jaehyun sedang melihatnya bukan dari ujung mata, tapi dari ujung perasaan.
Ekspresi di wajah Woonhak terlihat seperti catatan kaki di buku filsafat. Tak sepenuhnya menjelaskan, tapi membuatnya ingin berhenti membaca dan merenung. Seperti matahari pukul empat sore di taman kampus, hangat dan tak pernah benar-benar asing. Di wajah itu terukir sisa-sisa cahaya dari kampus yang tak pernah mereka jejaki.
Seperti mahasiswa tahun kedua jurusan komunikasi yang selalu datang paling awal ke kelas, lalu duduk di tengah agar bisa tersambung dengan bangku depan dan belakang. Dan entah bagaimana, dikenal dan disayangi semua dosen tanpa perlu berusaha menjilat. Dia seperti akan jadi bagian dari kelompok yang tertawa paling keras saat diskusi, tapi juga yang diam-diam menyatukan argumen semua orang jadi satu benang merah yang tak terlihat. Bukan tipe yang menonjol, tapi selalu jadi poros.
Pikiran Jaehyun melanglang buana. Membawanya ke tempat yang tidak punya titik koordinat. Ke sebuah semesta sunyi yang tidak ada di Google Maps.
Dia mulai membayangkan hal-hal absurd. Bagaimana jika dunia ini sebenarnya bukan satu garis lurus? Tapi pohon, dengan akar yang menjalar kemana-mana. Dengan cabang takdir yang melengkung, menyimpang, dan mungkin… lebih indah.
Dan bagaimana jika di satu cabang yang lain, Woonhak bukanlah seorang idol?
Bukan sosok yang dilihat oleh milyaran pasang mata, tapi hanya dilihat oleh satu pasang mata―milik seseorang yang duduk di seberang meja kantin kampus. Dia tetap memakai jersey, tapi bukan bagian dari kostum panggung, melainkan jersey kampus yang warnanya mulai pudar karena terlalu sering dicuci. Dia akan punya tugas kuliah yang menumpuk. Charger-nya mungkin akan sering tertinggal, seolah jadi simbol kecil betapa hidupnya sering kehabisan daya di waktu-waktu yang tidak tepat. Dia juga akan jatuh cinta, bukan hanya karena skenario MV, tapi karena seseorang membantunya menyalakan proyektor di kelas kuliah umum suatu hari di Rabu sore.
Dan di dunia itu, mungkin Jaehyun juga bukan Jaehyun yang ini.
“Hyung?”
Suara itu memotong pikirannya seperti daun pisau yang runcing tapi hangat. Tidak melukai, tapi menyadarkan.
“Hm?”
“Tumben diem banget? Lagi mikirin apa, sih? Biasanya udah ribut nyari kamera buat Selfie kayak Taesan-hyung.”
Jaehyun tersenyum, tapi matanya tidak ikut. Bukan karena sedih, tapi saat ini dia sedang merasa terlalu penuh.
“Kamu cocok jadi anak kuliahan, deh.”
Woonhak mengerutkan alis. “Ha?”
“Serius. Tadi pas hyung liat kamu salaman sama panitia. Ketawa lepas, pake jersey kampus yang sama, kamu bener-bener kelihatan kayak bagian dari mereka. Kayak mahasiswa beneran, yang baru selesai kelas, terus ngumpul sama temen buat ngobrolin hal-hal seru tentang―dunia kuliah,” Jaehyun tidak menemukan perbandingan yang sesuai, karena tak ada kata yang cukup adil untuk menggambarkan dunia yang belum pernah disentuhnya itu.
Woonhak berkedip dua kali. Lalu tertawa. Tawa kecil yang cukup untuk menghangatkan udara di antara mereka.
“Hyung, ini puisi post stage apa efek euforia gratis dari fans?” Jaehyun tidak perlu mengangkat wajahnya untuk tahu kalau ada senyum tengil di wajah sang kekasih saat ini.
“Ih kamu mah, serius… tadi hyung lihat itu, dan…”
“Jadi itu yang bikin hyung jadi sedih kayak sekarang?”
“...”
“Lagian kenapa harus sedih, emang aku yang sekarang jelek? Kalah keren sama anak-anak kampus sini?”
“Nggak gitu, justru bagus banget! Kamu selalu keren!”
Jawaban itu tidak jatuh, juga tidak mendarat. Pengakuan itu terdengar seperti pengakuan cinta, bukan sekadar kekaguman biasa.
“Hidup kita sekarang udah keren, tapi hyung juga mikir kalo hidup ini memang sempit, ya. Karena kita cuma bisa jadi satu versi dari diri kita. Padahal hyung mau lihat versi diri kamu yang lain. Mungkin yang nggak harus kerja terlalu keras buat bikin lagu sampai begadang dan lupa makan, yang nggak harus mikirin kamera yang nyala terus.”
Woonhak tidak menyela sama sekali. Dia menatap Jaehyun dengan mata yang tak mencari jawaban, tapi menikmati mendengarkan. Di balik semua diamnya, dia sedang menaruh perhatian yang hanya bisa diberikan oleh orang yang hatinya diam-diam ikut berpindah tempat.
Dan seperti anak berumur delapan belas tahun pada umumnya yang masih luwes menyelipkan gengsi dan belum tahu cara menanggapi kemurnian selain dengan mekanisme paling kuno, dia tertawa lagi.
Tawanya kecil, dari hidung. Pffft.
“Aneh banget sih, hyung.”
Tapi Jaehyun malah mengangguk. “Iya, ya?”
“Sebenernya aku juga pernah mikir pasti seru kalo kita kuliah bareng. Hyung pasti suka duduk di depan, terus aktif nanya-nanya. Aku duduk di belakangnya biar bisa bebas liatin hyung.”
“Kalo kita sekelas mah hyung ngulang dong…”
“Please deh ini cuma misalnya elah!”
Mereka saling menatap. Lalu tumbuh senyum, bukan yang lebar tapi setengah. Seperti pintu balkon yang sengaja tidak ditutup rapat agar angin bisa masuk dan menyapa.
Lalu realitas memanggil lewat suara manajer mereka. Waktu kembali bergerak, dunia mereka harus kembali ke orbitnya.
Woonhak yang berdiri lebih dulu. Tapi sebelum melangkah, dia menoleh, seakan ingin membawa sisa percakapan tadi dalam sakunya.
“Hyung, kalo kita jadi mahasiswa… hyung akan tetep suka sama aku, nggak?”
Jaehyun butuh waktu dua detik untuk menjawab. Tapi jawabannya sudah ada bahkan sebelum pertanyaan itu diucapkan.
“Iya.”
Dan dari semua kemungkinan yang tidak pernah terjadi, mungkin hal itu adalah satu-satunya yang tidak akan berubah. Di semesta manapun.
