Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-20
Words:
2,482
Chapters:
1/1
Comments:
10
Kudos:
224
Bookmarks:
7
Hits:
3,406

Rahasia

Summary:

“Menurut lu, cewek kayak apa yang cocok buat Jerry?”

 

Arya hanya mengangkat bahu sambil berkata seadanya, “Yang cantik kali?”

Notes:

Cast:
Arya = Renjun
Jerry = Jaehyun
Johan = Johnny
Hans = Haechan
Mario = Mark
Yuda = Yuta
Widiar = Winwin

Dan karakter lain yang tidak disebutkan namanya secara spesifik.

Work Text:

“Menurut lu, cewek kayak apa yang cocok buat Jerry?” pertanyaan Hans sontak membuat Arya tersadar dari lamunan. Si mungil kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, menyadari semua orang sedang menanti reaksinya. Sementara Jerry, sosok yang sejak tiga puluh menit belakangan jadi bahan diskusi mereka, hanya meneguk minumannya dengan cuek di sampingnya. 

Menyadari orang-orang sangat menantikan pendapatnya, Arya hanya mengangkat bahu sambil berkata seadanya, “Yang cantik kali?” 

“Alah, standar!” Mario dari seberang meja menyahuti, “Lu kan yang paling deket sama Bang Jerry, masa nggak tau tipe dia kayak apa?” 

Arya mendengus, kemudian menyesap lemon tea-nya yang mulai kehilangan rasa karena sebagian besar esnya sudah mencair. Disandarkannya kepalanya ke bahu lelaki di sampingnya yang refleks merangkul bahu mungilnya, meski memilih sibuk dengan ponselnya. Dari tempatnya duduk, Arya bisa melihat Jerry sebenarnya tidak melakukan apa-apa, hanya mengecek galeri dan menghapus tangkapan layar yang menurutnya sudah tidak berguna. Ia pun mendengus. Jerry selalu seperti itu. Pura-pura sibuk sendiri ketika ia tak tertarik dengan pembahasan di sekitarnya.  

“Emang ada di antara kita yang pernah dikenalin ama pacar-pacarnya Jerry?” Arya lalu menyahut tak acuh. 

“Jadi rumor itu bener? Bang Jerry pacarnya banyak?” Mario berkata dengan sepasang matanya yang membulat sempurna. 

Arya kembali mengedikkan bahu, “ Well… ” 

“Lu kan sering nginep tempat dia, ga ada gitu sekali dua kali mergokin dia bawa cewek?” kini giliran Yuda yang penasaran. 

“Kalian kenapa percaya diri banget Jerry naksir cewek sih? Selalu ada kemungkinan pacar dia cowok, loh,” Johan menyahut malas dari arah dapur, sambil mengaduk jagung popcorn di panci. 

Suasana jadi makin riuh. Mereka saling tebak dan tuding, Mengorek rumor demi rumor yang sering mereka dengar. Sementara Jerry yang menjadi pusat pembicaraan hanya mendengus sambil menggelengkan kepala. 

Sejak tadi Jerry sama sekali tak menanggapi teman-temannya yang ngide mau mencarikan pacar untuknya. Johan tampak tak tertarik sejak awal diskusi dibuka, Yuda dan yang lain ikut mencoba mencari-cari kandidat pada awalnya. Namun, melihat Jerry yang minim reaksi, mereka semua mulai kehilangan minat dan memilih menyimak. Menyisakan Hans dan Mario yang masih tak mau menyerah. 

Ini semua berawal dari anggapan mereka bahwa Jerry belakangan terlalu sering mengiyakan ajakan teman-temannya nongkrong. Pun memilih absen, itu pasti karena harus menemani Arya ke suatu tempat. Akhirnya, muncul rumor bahwa setahun terakhir Jerry jomblo. Teman-temannya pun berlagak sok khawatir dan mulai mencarikan kandidat untuknya. Padahal, mereka saja tidak pernah tahu kapan Jerry pacaran, kapan Jerry putus, atau bahkan siapa yang jadi pacarnya selama ini. 

“Terakhir gue denger pacar Jerry tuh model, bro. Katanya putus soalnya si cewek jadi trainee idol,” Hans berkata seolah lelaki yang dibicarakan tidak duduk di seberangnya. 

“Lah? Bukanya penyanyi, ya? Yang orang Malaysia itu bukan sih?” Mario ikut-ikutan. 

“Enggak anjir, beauty influencer ,” Arya akhirnya ikut-ikutan sambil tertawa kecil, meski akhirnya mengaduh karena Jerry mencubit lengannya. 

“Jadi bener gosip Jerry pernah pacaran ama Anggun? Si selebgram itu?” Mario jadi antusias karena akhirnya Arya ikut menyumbang rumor. 

Muka kepo Mario membuat Arya terbahak. Namun belum sempat ia menanggapi, Jerry membungkam mulutnya. Membuat Arya tertawa makin terpingkal meski suaranya teredam tangan besar yang menutupi hampir setengah muka mungilnya itu. 

“Yaelah, Yak. Lu punya gosip kaga pernah bagi-bagi dah,” rengek Hans, “Lu doang emang kayanya yang dibagi cerita. Pelit lu, Jer.” 

Jerry memang selalu tertutup tentang kehidupan pribadinya. Tidak. Jerry memang tertutup akan segala hal. Hanya sedikit orang yang tahu tentang dirinya karena memang lelaki itu hanya membagi seperlunya. Bukan karena tidak percaya atau apa, Jerry memang dasarnya irit bicara saja. Dan orang-orang terlalu segan untuk bertanya jika pria berlesung pipi itu tidak dengan sukarela berbagi cerita. 

“Gua rasa Jerry single setahun ini gara-gara Arya sih,” Hans berasumsi. 

“Setuju gue,” Mario mengamini, “Lu terlalu memonopoli Bang Jerry sih.” 

“Ya kan? Kalau nggak nongkrong ama kita, dia pasti nemenin Arya shopping atau ke mana gitu. Gimana mau punya pacar?” Hans kembali bersungut, yang hanya ditanggapi Mario dengan manggut-manggut setuju. Sementara yang lain mulai sibuk melakukan kegiatan lain karena tak minat lagi mengurusi Jerry dan lika-liku cintanya yang misterius. Beberapa memilih main uno, yang lain memilih main PS saja. 

Arya memutar bola matanya jengah, namun masih tak bisa menyahut karena Jerry masih membungkam mulutnya. Tentu saja orang-orang akan menyalahkannya meski tak tahu cerita yang sebenarnya. Padahal, jika mereka mengajukan pertanyaan dengan benar, Arya dengan senang hati akan membocorkan rahasia Jerry yang selama ini hanya dia dan Tuhan yang tahu. 

“Udah-udah bubar. Ketimbang ngurusin misteri asmara Jerry mending lu pada bantuin gue nih mindahin makanan dari dapur,” Johan kemudian berseru dari balik meja pantry. Membuat Hans dan Mario sebagai yang termuda di ruang tengah apartemen Johan itu mengerang malas, namun bangkit juga daripada kena bogem si senior. 

Saat Hans dan Mario sudah tak terlihat, barulah Jerry membuka bungkaman tangannya. Arya hanya terkekeh, kemudian menatap jenaka lelaki di sampingnya yang hanya tersenyum datar padanya itu. Jerry kemudian memberi Arya isyarat untuk mengikutinya ke balkon. 

Tak banyak protes, masih dengan tertawa kecil, Arya mengikuti Jerry seperti anak ayam. Ketika sampai di balkon, seniornya itu sudah membakar batang pertamanya dan menghirup asap beracun yang dihasilkan dalam-dalam. Tanpa diminta, Arya segera menutup pintu agar asap tidak memasuki ruangan. 

Si mungil bersandar di pagar balkon yang tidak terlalu luas itu. Ditatapnya lelaki berlesung pipi yang kini tampak memandang datar hamparan perkotaan di hadapannya. Rambutnya yang sudah memanjang tertiup angin, membuat tangan Arya gatal untuk menyentuhnya. Dan tentu saja ia tak akan menahan diri. Tangan mungilnya menyentuh helai rambut Jerry, menatanya meski percuma. Si lelaki tinggi hanya tersenyum memamerkan lesung pipinya. Sepasang mata yang semula mengerut dalam itu seketika melembut. 

“Jangan merengut gitu, dong. Kan anak-anak cuma khawatir,” ujar Arya sambil menyelipkan rambut Jerry ke belakang telinganya. 

Jerry mendengus, “Ngapain juga?” katanya tak acuh sambil kembali menyesap rokok di tangannya. 

“Ya kan wajar khawatir abang ganteng kesayangan mereka kesepian,” goda Arya sambil memiringkan kepala. Tersenyum puas ketika Jerry terkekeh geli sambil menggelengkan kepala. Saat mata mereka akhirnya kembali bertemu, Arya bisa merasakan jantungnya berdegub kencang. Ia masih saja merasa seperti remaja kasmaran setiap bertatapan dengan sepasang mata yang selalu memandangnya penuh kasih itu. Bahkan setelah sekian lama….

Sayang.. ..” 

Panggilan yang dilontarkan dengan nada paling lembut sedunia itu seketika membuat Arya tersenyum semakin lebar. Si mungil pun tak tahan sampai mencubit gemas pipi gembul lelaki di hadapannya itu. Jerry menggenggam pergelangan tangan Arya dan mencium telapak tangannya lembut sebelum menangkupkannya ke pipinya sendiri. 

“Jangan kejem-kejem lah sama aku,” kata Jerry setengah berbisik, dengan muka dimelas-melaskan. Arya hanya memutar bola matanya jengah. 

“Seru tauk. Ngebiarin seluruh dunia mikir ini itu tentang kamu, padahal kamu punyaku.” 

Jerry mendengus mendengarnya, “Kenapa sih lagian harus nyembunyiin dari mereka? Ini mulai nggak lucu, loh. Mereka mulai maksa-maksa aku kenalan sama ini itu.” 

“Yang nyembunyiin juga siapa? Kan aku bilang, kalau mereka nanya ya kita ngaku. So far mereka ga ada yang nanya. Salah sendiri nggak peka.”

Jerry kemudian memainkan jemari mungil dalam genggamannya. Bibirnya manyun, membuat Arya harus mati-matian menahan diri agar tak mengecupnya. 

Dipikir-pikir teman-teman mereka agak keterlaluan juga, sih. Selama ini Jerry dan Arya benar-benar tidak pernah menutupi. Ke mana-mana selalu berdua. Tangan Jerry bahkan tak pernah meninggalkan tubuh Arya sedikitpun setiap mereka kumpul-kumpul seperti sekarang. Mario bahkan pernah memergoki keduanya saat cuddling di kamar. Namun sepertinya memang tak pernah muncul dalam benak mereka bahwa Arya dan Jerry berpacaran setahun belakangan. Malah memilih percaya rumor-rumor tidak jelas di luar sana. Tebak tabok seenaknya, namun tak sekalipun tebakan tentang hubungan keduanya pernah keluar dari mulut mereka. 

“Aku posting aja apa foto kita ciuman?” 

Arya terbahak. Seketika terbayang muka syok teman-temannya kelak. Terutama Mario. Kawannya yang satu itu memang entah terlalu polos atau bagaimana, namun tetap clueless sampai sekarang. Padahal dia yang paling sering memergoki Arya dan Jerry bermesraan. 

“Kamu nih ada-ada aja!” 

“Yeh, serius,” Jerry mulai merengek, sangat bukan dirinya (yang dikenal masyarakat). “Aku lulus tahun depan. Masa ampe lulus orang taunya kamu single ? Ntar kalo ada yang deketin pas aku udah nggak di kampus gimana?” 

“Ada gitu yang tertarik ama aku?” 

Jerry mendecih, sepertinya mulai kesal betulan, “Yaang, kamu nggak tau aja orang-orang kayak apa ngomongin kamu di belakang. Emang kamu nggak nyadar Hans beberapa kali nge- flirt kamu?” 

“Hans mah flirty sama semua orang nggak sih?” 

“Ya emang, tapi dia serius pernah deketin kamu. Dia ampe nanya ke aku tipe kamu kayak apa, kamu sukanya apa. Sampe akhirnya nyerah sendiri karena kamu nggak nanggepin.” 

“Nah itu kamu tau. Mau siapapun yang deketin juga, aku nggak bakal nanggepin. Kan aku punya kamu.” 

Seketika bahu Jerry turun. Disesapnya rokok di tangannya untuk yang terakhir sebelum menginjaknya. 

“Iya, kamu punyaku. Tapi yang tau cuma aku, kamu, sama Tuhan.” 

Muka rungsing Jerry membuat Arya tersenyum. Diusapnya pipi lelaki itu sebelum berkata lembut, “Kita nggak nyembunyiin apa-apa dari siapa-siapa, sayang. Aku bisa jamin nggak akan ada yang rebut aku dari kamu, dan aku percaya begitu pun sebaliknya. Peduli setan berapa banyak orang yang ngejar aku atau kamu, yang penting kita komit sama satu sama lain, kan?” 

Jerry terlihat tak puas, namun pada akhirnya memutuskan menelan protesnya. Ia kemudian menghela napas sambil mengangguk pasrah. 

Arya tertawa kecil menatap muka kekanakan itu, sebelum menarik kembali tangannya. Bisa didengarnya dari arah dalam kawan-kawan mereka mulai riuh, sepertinya pizza pesanan mereka sudah sampai. Ia bahkan mendengar Yuda dan Widiar berdebat film mana yang akan mereka tonton hari ini.

Oh, Arya akan merindukan momen seperti ini saat senior-seniornya itu satu per satu akan lulus dan memulai kehidupan mereka sebagai orang dewasa sepenuhnya. 

“Balik ke dalem, yuk?” ajak Arya sambil melangkah mendekati pintu balkon. Ia tahu Jerry akan mengikutinya nanti. “Ntar anak-anak nyariin.” 

Jerry mau tak mau mengikuti, namun sesaat sebelum mereka masuk, ia berkata, “Apa aku cium aja kamu di depan mereka sekarang?” 

Pertanyaan random itu lantas membuat Arya tertawa. Tanpa berpikir, ia kemudian menjawab sekenanya, “Coba aja. Emang berani?” 

Hal yang tak pernah Arya jadikan pelajaran hidup adalah betapa Jerry tidak pernah menolak tantangan. Lima langkah setelah memasuki ruang tengah dan hendak berjalan menuju Hans untuk membantunya membawa mangkuk popcorn, tiba-tiba ia merasakan tangannya ditarik hingga tubuhnya berputar 180 derajat. 

Mata Arya membulat saat mendapati Jerry menangkap tubuhnya. Namun Arya tak sempat berpikir atau bereaksi karena semua berjalan begitu cepat. Bisa dirasakannya tangan lelaki itu memegangi tengkuknya, lembut meski tegas, sehingga ia tak bisa kabur. Sesaat setelahnya, bibir lembut lelaki itu mendarat tepat di bibirnya dan bergerak sesuai insting. Seketika Arya membelalakkan mata dan jantungnya berdegub kencang. Meski begitu, ia tak bisa berontak karena Jerry mengunci tubuhnya. 

Pada akhirnya Arya tak punya pilihan selain membalas ciuman lelaki itu sama antusiasnya. Mengalungkan tangannya di leher lelaki yang lebih tinggi darinya itu dan membiarkan si kekasih memperdalam ciumannya. Arya bahkan bisa merasakan Jerry tersenyum puas di sela kegiatan favoritnya itu, membuat si mungil mendengus dalam hati. 

Untuk sejenak Arya lupa di mana mereka berada, dan kenyataan bahwa setidaknya ada sembilan orang dalam ruangan itu yang kini menonton keduanya sambil melongo tanpa suara. Barang kali terlalu syok untuk bereaksi karena tiba-tiba diberi tontonan panas secara gratis. 

Jerry baru melepaskan bibirnya saat keduanya sama-sama membutuhkan napas. Arya merasa seperti mabuk. Kakinya lemas. Ia yakin kalau bukan karena Jerry yang menahan tubuhnya, ia pasti sudah jatuh tersungkur. 

Kesadarannya perlahan pulih saat merasakan Jerry menyentuhkan kening keduanya sambil tertawa kecil. Membuat Arya mau tak mau ikut tersenyum. Muka keduanya memerah, dan Arya bisa merasakan jemari yang masih memijat lembut tengkuknya menghangat dan berkeringat. Berapa lama mereka berciuman? 

“Dibilang jangan suka nantangin,” Jerry kemudian berkata parau, masih sambil tersenyum.

Arya baru saja hendak menyahut, saat bunyi mangkuk stainless yang terjatuh mengejutkannya dan membuatnya terperanjat. Saat itulah baru Arya sadar bahwa semua orang dalam ruangan itu memandang mereka berdua nanar. Mata Arya seketika membulat sempurna, kemudian kembali menatap Jerry yang hanya berdiri santai sambil melipat tangan di dada, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia malah tersenyum bangga, seolah baru saja memenangkan kejuaraan tingkat nasional. 

What the fuck?” Mario menjadi orang pertama yang bersuara.

“Jadi… selama ini…” Hans menimpali, masih dengan nada tak percaya. 

Arya pada akhirnya hanya bisa meringis sambil perlahan menoleh ke arah kedua temannya. Untuk sepersekian detik, ia hanya ber-hehe canggung. Sebelum akhirnya keterkejutan di wajah Hans dan Mario berubah menjadi kesal dan amarah. 

“BISA-BISANYA LU NYEMBUNYIIN HUBUNGAN KALIAN SELAMA INI?” teriak Hans histeris sebelum melangkah cepat menuju Arya. Spontan, si mungil berlari menjauh mengelilingi ruangan. Jadilah tiga minion itu saling kejar sambil berteriak satu sama lain. Membuat yang lain hanya bisa terbahak melihat tingkah ajaib ketiganya. 

Jerry hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Hanya mengacungkan jempol saat Arya menatapnya melas dari seberang ruangan, sementara kedua temannya masih melontarkan beragam makian sambil berusaha mengepungnya. 

Finally, huh? ” Johan berkata sambil merangkul Jerry yang hanya tertawa. Sahabatnya itu memang menjadi satu-satunya yang tahu soal hubungannya dan Arya selama ini. Sebab hanya dia yang cukup peka melihat perubahan dinamika hubungan mereka yang tak lagi platonis dan dengan polos bertanya, “Kalian pacaran?” tiga bulan setelah mereka jadian. 

Jerry dengan bangga mengonfirmasi, namun sengaja tak memberi tahu Arya bahwa Johan tahu tentang ini. Toh sepertinya si mungil memang senang mengerjai teman-teman mereka yang sama sekali tak menyangka keduanya punya hubungan. 

Yeah, finally ,” Jerry kemudian menyahut sambil melipat tangan di dada. Sepasang matanya masih memandang lembut Arya yang lompat ke sana-ke mari menghindari kedua sahabatnya yang berusaha menangkapnya. 

“Kenapa baru sekarang dah?” Johan bertanya penasaran. 

Untuk sejenak Jerry tak menjawab, namun ia kemudian mendengus dan berkata santai, “Gua yakin dia lupa, tapi hari ini anniversary gue sama Arya.” 

Johan hanya mengangguk pelan, menatap ngeri bocah-bocah yang kini makin liar lompat ke segala penjuru sampai menginjak-injak sofanya. 

“Kira-kira dia tau nggak lu udah ngincer dia dari maba?” 

Apakah Arya tahu? Apakah lelaki mungil itu tahu bahwa Jerry sudah terobsesi padanya sejak tak sengaja bertubrukan dengannya di lorong saat masa orientasi kampus? Apakah lelaki cantik itu tahu bahwa Jerry jugalah alasan mengapa hubungannya selama kuliah tidak pernah berhasil hingga Arya harus lagi dan lagi kembali ke pelukannya? Apakah kekasih hatinya itu tahu, paham, dan menyadari bahwa Jerry secara langsung maupun tidak langsung menciptakan lingkungan yang membuat lelaki lain sulit mendekatinya? 

Tidak. Arya sepertinya tidak tahu. Bagi si cantik mungkin Jerry adalah lelaki dewasa yang dapat diandalkan, selalu ada untuknya, dan rela melakukan apa saja asal ia bahagia. Yang mana tidak salah. Hanya saja bagian di mana ia memastikan hidup orang-orang yang berusaha mendekati Arya akan menderita sepertinya tidak perlu diceritakan. 

Biar jadi rahasianya saja. Biar Arya tahu baik-baiknya saja. 

“Nggak semua hal dia harus tau sih,” jawab Jerry santai, diiringi tawa Johan sebelum lelaki itu melangkah dan memperingatkan Hans dan Mario untuk berhenti lompat ke sana ke mari. 

Saat Arya akhirnya tak lagi jadi incaran, lelaki mungil itu segera berlari ke arah Jerry dan menenggelamkan diri dalam pelukannya. Jerry hanya terkekeh ringan, kemudian memeluk kekasihnya itu sama eratnya dan menyandarkan kepalanya di pucuk kepala lelaki itu. 

Dalam angan Jerry, skenario rapi untuk kencan nanti malam sudah tertata. Bukan sesuatu yang mewah, memang. Hanya makan malam romantis sederhana di ruang tengah apartemen mereka. Lengkap dengan dekorasi bunga yang telah ia tata sedemikian rupa. Dan sekotak cincin yang terselip di bagian paling bawah tas ranselnya. 

Ah, betapa Jerry tak sabar menjadikan lelaki dalam pelukannya itu miliknya selamanya. 

Hanya miliknya. 

Selamanya.