Work Text:
Katanya, Sungchan suka dengan istri yang pintar dan penurut. Ia suka ketika istrinya patuh. Karena hal itu, sore ini sesuai permintaan sang suami semalam. Sungchan ingin sekali disambut dengan erotis ketika pulang kerja, terlebih karena ia selalu saja terlihat emosi ketika membuka pintu rumah. Entah hari itu ada banyak re-schedule dari atasan, ban kempes ketika hampir sampai rumah, atau hal sekecil terkena lampu merah di setiap perempatan.
Jiwoong tidak tahan melihat suami brondongnya itu selalu diliputi amarah, jadi sekarang Jiwoong duduk di kursi yang dia ambil dari meja makan ruang tamu. Ia posisikan kursi di depan pintu masuk supaya waktu suaminya pulang, voila dinner’s ready. Jiwoong kenakan rok tipis dengan bahan satin tanpa adanya kain lain yang menutupi lipatan daging tembam yang mudah becek.
Jarum jam di atas kepalanya menunjukan pukul lima kurang sepuluh menit. Sebentar lagi suaminya muncul dari balik pintu. Dengan segera Jiwoong buka pahanya lebar-lebar menghadap ke pintu. Jiwoong tarik dan gigit ujung roknya lalu gunakan jemari lentiknya untuk mengusap belahan labianya. Ia buat gerakan memutar, memijat dan menekan beriringan dengan gerakan membuka. Dua jari ia gunakan untuk mengelus memek tembam favorit suaminya itu sampai mengeluarkan lendir secara perlahan. Ia mulai pejamkan matanya selagi jari-jarinya sekarang mulai membuat gerakan keluar masuk di dalam vaginanya yang mulai licin.
Pelan, pelan, pelan lalu ia hentak jarinya sampai membuat pahanya gemetar. Kepalanya dipenuhi rupa tampan dan otot-otot penuh keringat yang mengkilap milik suaminya itu setiap mereka kawin di bawah lampu kamar yang redup.
“Umhhh…a-ackhh…Sungchan-nhh…t-terus mas..makan memek aku terus, hngg…”
Tidak tahu malu, memang. Jiwoong sudah tidak punya malu lagi karena sekarang memeknya sudah makin berkedut karena perlakuannya sendiri. Ia memanggil-manggil nama suaminya sambil terus ngobel memeknya tanpa henti. Meski ia tahu, jarinya tak senikmat kontol suaminya yang selalu bisa bikin ngompol. Tapi tak apa, toh habis ini ia akan dirusak sampai tolol kalau suaminya pulang dengan penuh amarah. Jadi ia teruskan untuk basahi memeknya, biar gampang digenjot pikirnya.
Tanpa dia sadari, sedari tadi pintu rumahnya sudah terbuka. Sungchan berdiri di ambang pintu dengan rambut lepek dan keringat mengucur dari keningnya. Jiwoong tersentak dan reflek menarik jarinya keluar dari jepitan vaginanya.
“Eh, umnn m-mas kapan pulang?”
“Lima menit lalu, waktu kamu masih asik desahin nama mas sambil colokin memek pakai jari kamu sendiri.”
Panas dingin, jantungnya terasa sedang memompa banyak darah ke kepalanya sampai pipinya memerah. Jiwoong malu, malu karena terlihat seperti lonte murahan di depan suaminya karena pamer memek sembarangan.
“Nggak nyangka bakal beneran kamu lakuin yang mas bilang beberapa hari lalu? Suka ya pamer memek gini sayang? Kalau yang masuk rumah ternyata bukan suami kamu, gimana? Emang jiwa lontenya kuat banget ya istri mas ini,” ucap Sungchan mendekat untuk jongkok di hadapan ‘makan malamnya’ nanti dan menutup pintu rumah dengan kakinya.
Tanpa suara, hanya anggukan kecil.
“Kenapa kok diem aja sayang? Udah nggak bisa mikir mau jawab apa, hm? Belum mas apa-apain loh ini memeknya,” Sungchan menunduk, mendekatkan wajahnya ke lipatan gemuk berlendir yang seakan menghipnotisnya untuk segera menyantap. Sungchan menarik rok yang tersingkap dari tubuh istrinya dan ia gunakan untuk menutupi kepalanya selagi ia ‘makan’.
Jiwoong melenguh, memeknya dimakan dengan lahap. Lidah dan bibir Sungchan menari dengan ritme tak tentu, menyedot, mengecup, menjilat dan memainkan labia bahkan klitorisnya dengan acak. Jiwoong bingung harus bagaimana karena sekujur tubuhnya seperti kesetrum setiap kali Sungchan membuat gerakan atas-bawah dan memutar dengan lidahnya.
“Umnhg, j-janganhh kena gigi mas nhhh memek adek, gatel mau dilamotin sampai adek kencing ke muka mas, m—nghhh aAAHHHH."
Jiwoong berteriak ketika ia bisa merasakan seluruh muka Sungchan terbenam dan hidungnya sekarang bergesekan dengan memeknya. Jiwoong rapatkan pahanya dan kepala Sungchan terjebak hingga tak bisa lepas dari kungkungan surgawi itu. Selang beberapa menit, akhirnya Jiwoong kembali rileks dan Sungchan keluar dari balik rok istrinya dengan wajah becek, penuh lendir nikmat yang keluar dari istrinya. Rambutnya makin lepek dan t-zone yang mengkilap.
“Pinter banget istriku siapin makan malam hari ini, habis ini gantian mas yang bikin kamu kenyang ya sayang?” Sungchan berdiri, melepas kemeja biru tuanya dan menurunkan celananya sampai telanjang bulat. Hanya dasi yang kini jadi aksesoris Sungchan. Ia ambil ujung dasi itu dan minta Jiwoong untuk menggigitnya, lalu badan istrinya ia gendong dengan satu kaki bertumpu pada dudukan kursi.
“Setelah ini, kamu bakal kenyang sembilan bulan sayang,”
“Mau, mau dibikin kenyang sama mas, mau dibikin kenyang pakai pejunya, mau perut adek diisi peju mas,” rengek Jiwoong di pelukan Sungchan lengkap dengan bibir manyunnya.
Sungchan terkekeh kecil dan mengecup kening istrinya. Lalu ia dekatkan tangannya ke mulutnya, kumpulkan ludahnya untuk pelumas. Sungchan malas harus ke kamar dulu, batangnya sudah tidak kuat ingin segera pulang ke rumah hangat favoritnya. Sungchan genggam kontolnya dan arahkan di depan vagina Jiwoong, dengan ujungnya yang sudah berkedut, ia dorong pelan. Keduanya merengkuh badan satu sama lain dengan lembut ketika kontol Sungchan perlahan mengisi setengah bagian Jiwoong.
“Shhhh, hnggghh mas Sungchan-hhh…penuhin memek adek, dorong terus mas ackhh.”
Siap grak, seperti mendapat komando penuh, Sungchan menghentak pinggulnya kuat yang membuat kaki Jiwoong reflek menyilang di pinggang Sungchan. Berkat hentakannya itu, Jiwoong sampai tidak sadar menjulurkan lidahnya di depan Sungchan. Tanpa pikir panjang, Sungchan lumat lidah dan bibir Jiwoong dengan rakus sembari pinggulnya tetap bergerak mencarikan kontolnya kehangatan dan jepitan yang ia rindukan. Stimulasi atas bawah tanpa henti buat Jiwoong kewalahan, ia hanya bisa kalungkan tangan di leher lebar suaminya sambil tetap pasrah untuk dipakai semaunya sore itu.
“Hmphhh—ahh hahh, hah hari ini ada masalah apa sayangku? Siapa yang bikin gantengnya aku emosi hari ini?” sela Jiwoong yang terengah dan penasaran disela ciumannya.
“H-hari ini Pak Broto nambahin kerjaan buat di meja mas, ugghh emang berengsek shh bakal bikin mas susah ketemu cantiknya mas di rumah,” jawab Sungchan dengan nafas tak beraturan karena kontolnya makin merasakan nikmat yang luar biasa. Urat-urat kontolnya bergesekan penuh dengan dinding hangat Jiwoong menimbulkan sensasi hangat, nyaman dan juga candu.
“Kalau besok mas ketemu Pak Broto, bakal mas marahin karena ngurangin jatah ngentot mas sama kamu.”
“Kalau perlu kayanya mas bawa kamu aja ya ke kantor? Kalau nanti Pak Broto lewat, biar sekalian mas entotin memek kamu di depannya. Mas genjot kamu sampai tolol biar seisi kantor jadi tahu kalau mas kerja buat istri cantik kaya kamu.”
“Atau ngga, anterin mas bekal aja sayang sesekali. Pakai rok kaya gini, ngga usah pakai dalaman biar bisa mas entot kamu di kamar mandi, shh bangsathh mas kayanya udah gila ketagihan memek kamu sayang OUGHH, FUCK—HH” Sungchan bisa rasakan ujungnya berkedut hebat seakan siap menyemburkan peju yang ia simpan semingguan karena padatnya pekerjaan.
Karena tahu kontolnya sudah makin membengkak dan memenuhi memek Jiwoong, Sungchan menambah tempo genjotannya tanpa ampun. Kaki Jiwoong seakan terkulai di pinggangnya dan dadanya sedikit memantul karena hentakan kontolnya yang menumbuk memek Jiwoong. Tak selang berapa lama dari hentakan penuh dari kontol Sungchan hingga akhirnya Jiwoong ngompol dan menyembur kuat basahi perut dan tubuh Sungchan. Setelah capai titik nikmatnya, kini jepitan memek Jiwoong yang tak beraturan pun terasa penuh nikmat bagi Sungchan. Tak heran karena Sungchan akhirnya menyusul hingga puncaknya. Sungchan menembakkan beberapa cairan kental penuh cintanya di dalam memek Jiwoong yang ‘banjir’ karena ulah suaminya.
Keduanya kini berusaha mengatur nafas dan Sungchan yang masih menggendong tubuh Jiwoong membawanya ke atas meja makan.
“Umnhh, hahh hahhh memek adek rasanya penuh banget kontol mas ngga berhenti berhenti muncratnya, kalau habis ini adek hamil nanti jangan ngambek!”
“Kalau kamu beneran hamil, topcer berarti sayang. Makin banyak alasan buat ngga ditambah kerjaan dari Pak Broto nanti kalau kamu lahiran,” ucap Sungchan penuh guyon yang dilanjut dengan kecupan ke seluruh wajah istrinya.
