Chapter Text
“Tapi Chenle, bagaimana jika saat kau sedang mencintai seseorang, orang lain juga mencintaimu? Siapa yang akan kau pilih jika mereka sama-sama memintamu memilih?”
Pertanyaan Jisung di bibir pantai dua tahun silam itu menggema di kepala Chenle, kalimatnya seolah terus berputar, mengingatkan dirinya atas kebodohan yang menganggap untaian kalimat Jisung hanya basa basi tak bermakna.
Kala itu Chenle hanya terkekeh sebagai balasan, kemudian menepuk punggung lelaki yang entah sejak kapan ia kenal. Chenle berhenti menghitung berapa banyak hari yang ia lewati bersama Jisung. Karena demi Tuhan–itu sudah lama sekali. Seingatnya ukuran sepatunya masih 34 senti ketika Jisung kecil yang pemalu menolongnya saat jatuh dari sepeda. Dan kini sepatu itu mungkin hanya setengah dari panjang telapak kakinya–bahkan bumi sudah berevolusi entah berapa kali.
Lalu pemuda manis itu menjawab, “tentu saja orang yang kucintai, Jisung.”
“Kenapa?” Jisung kembali bertanya, mengundang raut keheranan dari Chenle.
“Bukankah sudah jelas? Semua orang pasti lebih memilih menghabiskan hidup bersama orang yang mereka cinta, Jisung. Memangnya kau tidak?” Chenle bertanya balik. Raut herannya masih terpatri, mata bulat itu menatap Jisung penuh.
Jisung sedikit tersentak, “um–iya, tentu,” jawabnya, “jadi… Apakah kau tetap memilih Jaemin jika suatu saat aku bilang aku juga menginginkanmu, Chenle?”
Chenle terdiam.
Begitu pula dengan Jisung. Tak ada penyesalan yang Chenle lihat dari raut lelaki yang merupakan sahabatnya sejak kecil itu tatkala usai melontarkan pertanyaan–yang sejujurnya membuat Chenle berpikir.
Tunggu. Bukankah sudah jelas? Aku tentu memilih Jaemin! Kenapa aku ragu?!
Bibir pualam itu hendak berucap tatkala Jisung juga menyahut tiba-tiba. Lelaki itu terkekeh pelan, membuat Chenle memandangnya dengan bingung, “aku hanya bercanda, Chenle. Hentikan ekspresi konyolmu.”
Alis lelaki manis itu lantas menukik, memandang sebal laki-laki yang duduk di sampingnya. Hasta lembutnya lantas memukul lengan Jisung yang dapat ia raih. “Jangan bebicara aneh-aneh kalau tidak mau ku musuhi!” Ucapnya di sela-sela pukulannya.
Jisung masih tertawa, “baik! Baik! Aku, kan, hanya bercanda!” Sambil menghindari pukulan Chenle.
Chenle menghentikan siksaan yang ia berikan kepada Jisung, “bercandamu tidak lucu!”
Sore itu keduanya habiskan dengan duduk bersisihan di bibir pantai, memandang surya sampai habis tenggelam. Hingga Chenle meninggalkan Jisung terlebih dahulu karena Jaemin telah menjemput lelaki manis itu.
“Kau yakin tidak mau pulang bersama?” tanya Chenle, bersiap pergi setelah usai merapikan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas. Jisung menggeleng, seolah mengatakan tidak.
“Duluan saja, Jaemin pasti ingin berduaan denganmu.”
Chenle terkekeh pelan, seolah tak peduli. Tapi dengan meronanya wajah manis itu, Jisung tau Chenle sedang salah tingkah. Selain Chenle sendiri yang tau sebesar apa cintanya pada Jaemin, Jisung adalah yang lainnya.
“Yasudah, aku pulang ya, Jisung.”
Tubuh mungil itu sudah berjalan menjauh ketika Jisung mengangguk. Ditatapnya langkah demi langkah yang Chenle ambil untuk sampai ke pelukan Jaemin. Chenle melambaikan tangan ke Jisung setelah memakai seatbelt -nya–isyarat berpamintan untuk kedua kalinya. Jisung membalas, kemudian menganggukkan kepala ketika netra legamnya bersirobok dengan milik Jaemin.
“Dadah, Jisung!” pekik Chenle, yang dibalas Jisung dengan senyum simpul. Dipandangnya wajah tegas Jisung dari kejauhan itu, lantas menurunkan lambaiannya ketika mobil Jaemin mulai bergerak.
“Tadi cukup heboh untuk sampai jumpa kepada orang yang kau lihat setiap hari, Sayang.” Jaemin bersuara ketika mobil yang ia dan Chenle tumpangi keluar dari area pantai.
Chenle menoleh, “aku juga berpikir seperti itu. Tapi Jisung cukup aneh hari ini, aku sedikit khawatir.”
“Aneh bagaimana?” Jaemin bertanya, netranya masih fokus pada jalanan.
“Dia bertanya hal yang rumit.”
Chenle tak lagi menjawab ketika Jaemin bertanya hal rumit apa yang dimaksud, lelaki manis itu seolah ingin menyimpan memori bersama Jisung sore itu sendiri. Jaemin juga tidak memaksa kekasihnya itu untuk bercerita lebih lanjut. Keduanya diam menelan isi kepala masing-masing.
Jisung kadangkala aneh, Chenle tau.
Jisung memang kadang rumit, Chenle juga tahu itu.
Tapi untuk kali ini, Chenle seolah tak memiliki kemampuan apapun untuk memahami pertanyaan Jisung. Pertanyaan Jisung kembali berputar di kepalanya, suara Jisung seperti kaset rusak yang terputar berulang-ulang.
Chenle tak mau memikirkannya, menepis segala pemikiran dalam benak.
Sore itu ia anggap Jisung hanya aneh seperti biasa. Tanpa alasan bermakna.
Yang tanpa lelaki manis itu ketahui, sore itu juga kali terakhir ia melihat sahabat kecilnya.
