Actions

Work Header

etched into you

Summary:

Jungwon suka ninggalin jejak di tubuh mas-nya—bukan sekadar bukti cinta, tapi pengingat kalau Mas cuma punya dia. Pagi itu, satu tanda terakhir justru bikin Heeseung lupa mana malu, mana nagih.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bulan kembali sembunyi di balik selimut malam, jadi alarm Heeseung untuk bangun. Sebenarnya dia kebangun karena rasa lengket di paha bagian dalam, sedikit pegal dan perih yang ketinggalan dari sisa-sisa semalam. Matahari belum tinggi tapi kamar Jungwon udah terasa lebih hangat - bukan cuma karena masih dibalik selimut, tapi karena tangan Jungwon masih melingkar di pinggang Heeseung. Enggan melepas masnya bahkan buat satu senti.

Heeseung pelan-pelan menyelinap keluar dari pelukan Jungwon. Bangkit pelan-pelan dan jalan ke cermin di depan lemari, kemudian terdiam.

Lehernya penuh bercak-bercak merah keunguan. Jejak-jejak cium Jungwon kemarin masih nyata. Ada juga yang keliatan baru, mungkin dibuat Jungwon tiap kebangun sebentar. Tapi semuanya terlalu jelas. Terus ke bawah sedikit - tulang selangka, dada, bahkan di bagian-bagian yang cuma keliatan kalau Heeseung lagi telanjang. Jungwon bener-bener ninggalin tanda yang banyak. Seakan-akan lagi ngasih tau satu dunia 'Mas cuma punya aku.'

Heeseung lagi asik sama pikirannya sendiri yang debatin harus senang karena Jungwon udah nandain dia sebanyak ini atau harus bingung karena semua ini salah. Tiba-tiba dia ngerasain ada pelukan hangat lagi dari belakang. Kepala Jungwon disandarkan di bahu Heeseung. Napas Jungwon juga bikin geli leher Heeseung.

"Mas manis banget deh kalo kayak gini." ucap Jungwon sambil cium leher dan sekitar garis rahang Heeseung.

"Mas harus punya satu tanda lagi deh kayaknya di paha, yang besar. Biar mas ga lupa Mas punya siapa." kali ini Jungwon tutup kalimatnya sambil agak majuin wajahnya buat cium bibir Heeseung.

"Mas mau ga? Nanti aku bikin yang awet berhari-hari biar bisa mas liatin terus." meyakinkan banget gaya si brondong satu ini.

Heeseung jawab pakai anggukan yang secara spontan buat Jungwon tuntun mas kesayangannya untuk duduk di meja belajar Jungwon. Tangan Jungwon buka pelan-pelan kedua kaki Heeseung. Buat celah untuk dia biar bisa tinggalin jejak di sepanjang paha masnya. Satu cium yang panjang Jungwon tinggalkan di bagian paha dalam masnya. Kalo lebih deket satu senti lagi udah bukan ninggalin kissmark lagi. 

Jungwon sesap kulit paha Heeseung sampai masnya keluarkan lenguhan kecil. Tangan Jungwon bergerak mengelus kaki Heeseung agar tidak bergerak gelisah ke sana kemari. Sesudah Jungwon rasa cukup pekat warnanya, dia jauhin mukanya dari paha Heeseung. 

"Eh, Mas? Aku cuma nambahin satu kissmark, kenapa mas malah becek ini?" jari telunjuk Jungwon asik colek-colek memek Heeseung sambil liatin masnya mulai merem nahan nafsu.

Ga sampe lima menitan dia godain masnya itu sampai akhirnya dia tarik jarinya. Memancing Heeseung buat buka mata dan melotot ke arah Jungwon.

"Kenapa udahan, Won? Kan kamu cuma nyolek-nyolek doang, bukannya ngobelin mas. Kamu ga bisa ya biarin mas enak sendiri sekali aja?" Heeseung langsung beranjak dari meja belajar Jungwon. Mulai ambilin sisa-sisa baju dia tadi malem yang udah ga jelas kelempar ke mana aja.

"Emangnya kalo aku terusin mas bakal keluar gitu? Gini deh, mas mau enak sendirian kan? Ya udah, kali ini aku biarin mas pake semua badanku sepuasnya." tawar Jungwon.

Heeseung berhenti dari kegiatan mungut bajunya dan menoleh ke arah Jungwon."Beneran kamu mau?" Pertanyaan Heeseung dijawab dengan anggukan dari Jungwon. Sebenarnya bukan tanpa alasan juga dia menawari hal itu. Tapi kalau masnya yang satu ini sampai ngambek, yang susah Jungwon juga karena kehilangan 'teman tidur'nya.

Heeseung mendekat kembali ke Jungwon dan mendorong Jungwon untuk duduk di kursi belajarnya. "Mas mau dipangku sambil gesekin memek mas di paha Won. Tapi kamu beneran diem aja. Ga boleh sentuh mas, even cuma buat ngelus pinggang mas kecuali mas yang arahin tangan kamu." bisik Heeseung tepat di telinga Jungwon.

Sesuai kesepakatan mereka, Heeseung pun duduk di paha Jungwon - perlu diingat kembali kalau mereka berdua belum pakai baju dari bangun - dan mulai gerak maju mundur pelan-pelan. Tangan masnya bertumpu di bahu Jungwon, kepalanya mulai mendongak sedikit demi sedikit.

Desahan-desahan kecil dan pelan keluar dari bibir mungil Heeseung. Gesekan dia di paha Jungwon juga makin cepet, mungkin udah ngerasain enaknya. Bahkan tangannya yang semula cuma pegang bahu Jungwon udah berganti jadi meluk leher Jungwon. Suara cantik masnya itu mulai menuhin telinga Jungwon. Ditambah muka Heeseung yang lagi merem keenakan tiap mundurin pinggangnya itu bikin candu.

Heeseung udah ga gesekin memeknya ke paha Jungwon secepat tadi lagi, malah sekarang dia goyangin pinggulnya as if lagi naikin Jungwon kayak tadi malem. Heeseung bawa tangan kanan Jungwon buat rangkul pinggangnya erat. Jungwon curi-curi kesempatan buat ngencengin otot pahanya, jadi pahanya kerasa lebih keras. Heeseung bisa lebih puas gesekin klitorisnya di paha Jungwon.

"Enak ga mas? Lebih suka memeknya digesekin ke paha aku gini daripada aku sumpelin pake punya aku?" 

Heeseung balas dengan gelengan. "Ngga kok-ah! Masih lebih enakan punya Won." Biarpun masnya bilang gitu, tetap aja matanya masih merem melek. Jungwon mana bisa percaya.

"Kalo gitu liat aku, sayang. Kamu merem melek gitu malah ngasih tau aku kalo kamu udah keenakan, masku sayang." 

Heeseung buka sedikit matanya. Tatapan sayunya bikin Jungwon makin naik birahi. Tapi dia udah terlanjur janji bakalan biarin masnya sesuka hati pakai dia, setidaknya untuk pagi ini.

"Cantik banget kamu kalo udah keenakan gini, mas." puji Jungwon.

Heeseung percepat lagi gerakannya dibantu dengan Jungwon yang menuntun gerak Heeseung yang sembrono itu. Sampai akhirnya Heeseung capai pelepasannya dan paha Jungwon terasa lebih basah. Napas Heeseung tersenggal-senggal. Dia lirik ke arah selangkangan Jungwon yang udah bangun itu.

"Punya Won jadi diri tuh. Mas bantuin, ya?" Tangan Heeseung udah mau megang tapi langsung ditepis sama Jungwon. Raut wajah Heeseung siratkan kekecewaan, tapi pas waktu Jungwon mau ngomong terdengar ketukan pintu.

"Adek, ayo bangun sarapan dulu. Mas Heeseung tidurnya sama kamu lagi ya? Tadi mama cek ke kamar ga ada. Tolong dibangunin ya, biar sarapan bareng." itu suara dari mama mereka.

"Aku bisa sendiri kok, mas. Mas bebersih ya? Biar aku beresin kamar dulu." Jungwon mau angkat Heeseung yang masih duduk manis di pangkuannya itu, tapi masnya malah meluk leher Jungwon lebih erat.

"Ga mau. Adek ga mau mas bantuin karena bosen sama mas ya? Mas banyak mau ya selama ini? Atau karena mas selama ini rewel dan gampang capek? Atau punya mas udah ga enak lagi? Mas ga mau bebersih sendirian..." 

Waduh. Jungwon usap punggung Heeseung sebagai upaya buat nenangin masnya yang tiba-tiba ngambekan ini. "Aku ga pernah bosen atau capek kok sama Mas. Tapi ini berantakan loh kamarku, mas. Kalo orang lain masuk juga bisa nebak ini basah apaan di meja sama lantai. Aku beresin ini habis itu aku bersihin mas ya?"

Heeseung pun termakan bujukan Jungwon dan pergi masuk ke dalam kamar mandi di kamar Jungwon. Duduk manis di atas toilet nungguin adek kesayangannya itu masuk dan bersihin tubuhnya dari sisa-sisa cinta mereka semalam - dan pagi ini.

Notes:

hi, ngawur dikit tapi emang dibikin pas lagi pusing-pusingnya.
temenan plis, aku ga gigit (tapi dm dulu yah). X: @seferhilim

Series this work belongs to: