Work Text:
Heeseung baru saja meletakkan botol alkohol di lantai, tatapannya beralih pada sosok Sunghoon, teman satu grupnya yang setahun lebih muda, yang kini sudah mengunci pintu di belakangnya. Heeseung tersenyum tipis, mengisyaratkan Sunghoon untuk mendekat dengan tatapan matanya yang teduh.
Seharian tadi, di studio latihan, mereka – ENHYPEN – memang sudah berjanji akan bermain game bersama. Namun, setelah makan malam, Jungwon tiba-tiba mengusulkan menonton film horor. Meskipun sebenarnya takut, rasa penasaran Jungwon lebih besar. Jay dan Sunoo menyetujuinya, sementara Jake memilih untuk tidur. Ni-ki, dengan proyek solonya, harus kembali ke studio. Tinggallah Heeseung dan Sunghoon, yang sudah pernah menonton film itu, memutuskan untuk kembali ke dorm mereka di lantai lain.
Dan di sinilah mereka sekarang, di kamar Heeseung, duduk di atas karpet tebal yang nyaman. Monitor dan PS5 sudah menyala, siap untuk memulai petualangan virtual. Melihat Heeseung yang sibuk mengatur permainan, Sunghoon berinisiatif menuangkan alkohol ke dalam gelas masing-masing. Di depan mereka, berjejer rapi berbagai camilan ringan, menemani minuman yang siap menghangatkan suasana.
"1v1?" tanya Heeseung tanpa menoleh, fokus pada layar di depannya.
"Boleh," jawab Sunghoon singkat, menyetujui tantangan itu.
"Apa taruhannya?"
"Yang kalah, one shot ."
" Deal ."
Begitulah, permainan dimulai dengan taruhan konyol yang mereka ciptakan. Ronde pertama dan kedua, Sunghoon harus menelan kekalahan pahit, memaksa dirinya melakukan one shot. Di ronde ketiga, giliran Heeseung yang harus menyerah. Dengan senyum penuh kemenangan, Sunghoon mengisi gelas Heeseung hingga penuh, nyaris meluap.
Permainan terus berlanjut, entah sudah berapa ronde mereka lewati. Yang jelas, botol ketiga sudah dibuka, dan dua botol kosong tergeletak tak berdaya di depan mereka. Suara tembakan dari speaker berpadu dengan teriakan dan gelak tawa keduanya, mengisi ruangan dengan kegembiraan yang sedikit memabukkan.
"ANJING!" Heeseung berteriak kesal saat ia kalah lagi. Stik PS5 dilempar asal, semakin menguatkan tawa Sunghoon yang pecah.
"HAHAHA NIH MINUM, KAK!" Sunghoon menyodorkan gelas Heeseung yang sudah terisi penuh alkohol.
Heeseung meraihnya, dan dalam sekali tegukan, minuman itu tandas. One shot. Sunghoon kembali tergelak saat Heeseung melempar gelasnya sembarangan, lalu langsung merebahkan diri di karpet, sebelah lengannya menutupi wajah.
"Pusing, anjing," keluh Heeseung. Memang, toleransi alkoholnya tidak terlalu tinggi.
Mengabaikan tawa Sunghoon, "Kasih gue break , bentaran doang," pintanya, kepalanya terasa berdenyut. Sunghoon mengangguk. Ia sendiri juga mulai merasakan efek alkohol. Keduanya sudah agak tipsy, sensasi melayang mulai terasa.
Kemudian, hening meliputi mereka. Hanya suara background music dari game yang masih mengalun lembut, sedikit keras. Sunghoon menyandar pada ranjang Heeseung, matanya tak lepas dari Heeseung yang terbaring tak berdaya di karpet yang sama.
Kaos putih tipisnya sedikit tersingkap, memperlihatkan perut kotak-kotak Heeseung yang terbentuk sempurna. Dadanya naik turun perlahan. Sunghoon memperhatikan wajah Heeseung yang setengahnya tertutup lengan, terlihat jelas semburat merah mulai menjalar. Bibirnya sedikit terbuka, dan Sunghoon bisa melihat jakun Heeseung bergerak naik turun setiap kali menelan ludah.
Sunghoon tertegun. Sialan, kakaknya itu benar-benar seksi.
Pandangannya kembali terpaku pada bibir Heeseung. Ingatannya melayang pada momen ketika bibir manis itu mencium bibirnya, mengecup setiap jengkal kulitnya. Ya, benar. Mereka pernah berciuman. Bahkan, lebih dari itu. Saat itu, Sunghoon baru saja memasuki usia legal, sudah bisa minum alkohol. Di suatu malam, ia bertanya pada Heeseung bagaimana rasanya berciuman. Dan Heeseung, sebagai kakak yang "baik", memutuskan untuk memberi tahu bagaimana rasanya kepada sang adik. Awalnya hanya ciuman, tapi pengaruh alkohol dan hormon pubertas membawa situasi itu jauh lebih intim. Itulah pertama dan terakhir kalinya Sunghoon merasakan kejantanan Heeseung di lubangnya. Esoknya, Heeseung meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ia tidak ingin membuat Sunghoon kesakitan. Padahal, Sunghoon biasa saja, ia tidak keberatan jika mereka menjadi sex buddies. Meskipun pada awalnya memang sakit, toh pada akhirnya ia juga menikmati tusukan kejantanan Heeseung.
Sialan, mengingat itu semua membuat suhu tubuh Sunghoon memanas, dan kejantanannya mengeras.
Ia kembali memperhatikan Heeseung yang masih tak bergerak. Apakah Heeseung sudah tidur?
Perlahan, Sunghoon bergerak mendekat. Ia duduk sangat dekat dengan Heeseung, namun Heeseung tetap diam, tidak merasa terganggu sama sekali. Mungkin memang benar sudah tidur, pikir Sunghoon.
Sunghoon menelan ludah gugup, mengumpulkan keberaniannya. Ia menunduk, jarak wajahnya hanya sejengkal dari wajah Heeseung. Ia bisa merasakan hembusan napas Heeseung di kulitnya.
Kemudian, cup .
Sunghoon mengecup bibir Heeseung. Ia menjauh sedikit, melihat reaksi Heeseung. Heeseung mengerutkan kening. Tak tahan, akhirnya Sunghoon menangkup wajah Heeseung dan kembali mencium bibir Heeseung. Kali ini, bukan hanya kecupan. Ia melumat bibir atas dan bawah Heeseung bergantian. Sunghoon bisa merasakan Heeseung menggeliat di bawahnya, kemudian mendorong Sunghoon menjauh dan duduk dengan ekspresi terkejut.
"Sunghoon?" Mengabaikan pusing di kepalanya, Heeseung duduk, menatap Sunghoon yang membalas tatapannya dengan wajah sayu.
Bukannya takut dan menjelaskan, Sunghoon justru semakin berani. Ia mendekat, lalu dengan berani duduk di paha Heeseung. Ia menangkup kembali wajah Heeseung.
"Kak, please ?" Heeseung masih belum mengerti maksud Sunghoon, sampai akhirnya ia merasakan Sunghoon bergerak di pahanya, menggesekkan kejantanannya sendiri dengan paha Heeseung. Ia melakukan gerakan humping dengan tatapan yang tak lepas dari Heeseung.
Heeseung memejamkan mata, menahan diri. Ia mulai mengerti permintaan adiknya itu.
Heeseung membuka mata, berniat menolak dan menasihati adiknya itu. Tapi yang ia lihat adalah wajah kenikmatan Sunghoon, dengan bibir tergigit, terus menggerakkan pinggulnya di atas paha Heeseung.
Heeseung mencengkeram pinggang Sunghoon, memaksa Sunghoon menghentikan kegiatannya.
" FUCK , PARK SUNGHOON," geram Heeseung, menahan hasrat yang mulai bangkit.
" YES , KAK. FUCK ME PLEASE ."
Sialan, Park Sunghoon benar-benar tidak membantu sama sekali. Heeseung pusing, sepusing-pusingnya. Efek samping alkohol ditambah hasrat yang memuncak. Heeseung merasakan celananya mulai menyempit.
Ah, persetan. Pikir Heeseung.
Maka dengan itu, Heeseung menarik Sunghoon mendekat, tangannya meraih belakang kepala Sunghoon. Bibirnya kemudian melumat bibir Sunghoon, mengecap setiap jengkalnya, menyesapnya dengan rakus seolah menemukan oase di gurun pasir.
Sunghoon, yang sudah menantikan hal ini, langsung mengalungkan lengannya ke leher Heeseung. Tubuhnya ia dekatkan agar semakin bersentuhan dengan Heeseung. Pinggulnya ia tekan ke bawah, membuat kejantanannya bersentuhan dengan kejantanan Heeseung.
"Mmmhh..." Sunghoon mendesah dalam ciuman ketika Heeseung melesakkan lidahnya ke rongga mulut Sunghoon. Sunghoon menerima lidah Heeseung dengan baik, ia sentuh lidah Heeseung menggunakan lidahnya. Ia sesap lidah Heeseung dalam, membuat Heeseung mengerang dalam ciuman mereka.
Heeseung melepas ciuman mereka, mendorong Sunghoon untuk berbaring. Ia baru saja akan mencium Sunghoon lagi, tapi gerakannya ditahan Sunghoon.
"Kak, Do you mind if I take the lead ?" tanya Sunghoon dengan suara kecil dan parau. Heeseung mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Serius?" Heeseung bertanya untuk meyakinkan.
Sunghoon mengangguk, "Huum, Kakak diam saja."
Heeseung menyeringai, mengerti arah maksud Sunghoon.
" Sure, princess," Heeseung mengecup bibir Sunghoon, kemudian ia bangkit duduk, diikuti Sunghoon.
" So, what should I do, Princess ?" tanya Heeseung lembut, membuat pipi Sunghoon bersemu malu.
Sunghoon kemudian mengajak Heeseung untuk berdiri. Keduanya berdiri, meskipun agak goyah karena alkohol.
"Buka baju," titah Sunghoon, " All of them ."
Heeseung tersenyum, ia mulai membuka bajunya dengan tatapan yang tak lepas dari Sunghoon. Kini ia telanjang bulat, memperlihatkan kejantanannya yang menurut Sunghoon sekarang jauh lebih besar dibandingkan waktu itu.
Sunghoon bisa merasakan pipinya memanas, ia mengalihkan pandangannya ke mana pun. Ia bisa mendengar Heeseung terkekeh melihat reaksinya. Sunghoon kemudian menggigit bibir, sebenarnya ia malu, tapi ia tetap bergerak membuka seluruh bajunya. Setelah telanjang bulat, ia mendekat ke arah Heeseung, menatap Heeseung, kemudian kembali mencium bibir Heeseung sambil mendorong mundur Heeseung perlahan agar bisa menjangkau kasur.
Setelah mencapai kasur, Sunghoon mendorong Heeseung untuk bersandar ke kepala ranjang, kemudian ia kembali duduk di atas pangkuan Heeseung, kembali mencium Heeseung.
Sunghoon mendesah ketika beberapa kali ia merasakan kejantanannya bersentuhan dengan kejantanan Heeseung.
Astaga, Sunghoon tidak kuat. Akhirnya ia melepas ciuman mereka, ciumannya turun ke leher Heeseung, membuat Heeseung mendongak memberi akses lebih. Kemudian turun lagi ke tulang selangka, turun ke dada, ke perut, kemudian terus turun ke bawah.
Ia menggenggam kejantanan Heeseung yang ternyata tidak muat di genggamannya. Ia menelan ludah, kemudian mendekat untuk menghirup dalam kejantanan Heeseung. Perlahan ia kecup setiap jengkal batang kejantanan Heeseung, membuat Heeseung mendesahkan namanya. Sunghoon membuka mulutnya, siap memasukkan kejantanan Heeseung ke mulutnya.
Heeseung menahan kepala Sunghoon.
"Pelan-pelan, manis."
"Jangan kena gigi."
Sunghoon mengangguk, mencoba menuruti titah Heeseung. Perlahan ia masukkan kejantanan Heeseung ke dalam mulutnya.
"Aahhh, hangat banget, Hoon," Heeseung mendesah, ia mengusap belakang kepala Sunghoon perlahan. Sunghoon mulai bergerak memaju-mundurkan kepalanya, menyedot dan menjilat kejantanan Heeseung di mulutnya.
Setelah beberapa menit, Heeseung menarik Sunghoon menjauh, membuat Sunghoon menatapnya bingung.
"Nanti cepat keluar," jelas Heeseung. Sunghoon mengangguk. Heeseung kemudian bergerak ke arah nakas, mengeluarkan lotion. Ia kembali duduk di hadapan Sunghoon.
"Sini, Kakak siapin kamu dulu," Heeseung menarik Sunghoon mendekat, ia memposisikan diri di tengah-tengah kaki Sunghoon, kemudian mendorong Sunghoon berbaring.
Sunghoon berbaring, ia menatap langit-langit kamar Heeseung. Ia bisa merasakan jari dingin Heeseung yang sudah dibaluri losion menusuk-nusuk di depan lubangnya. Secara refleks, Sunghoon mencengkeram pergelangan tangan Heeseung.
"Sssh... rileks, cantik." Sunghoon mengangguk, ia menarik napas, mencoba mengendurkan otot-ototnya yang tegang.
"Ngeuhh," Sunghoon melenguh ketika jari telunjuk Heeseung memasuki lubangnya. Jari Heeseung bergerak perlahan maju mundur beberapa kali sebelum mencoba memasukkan jari kedua.
Sunghoon mencengkeram sprei di bawahnya. Heeseung menggerakkan jarinya maju mundur, memutar, menyusuri dinding-dinding dalam lubangnya, seringkali jarinya dibuat gerakan menggunting untuk melebarkan lubang Sunghoon.
Heeseung melakukannya selama beberapa menit. Setelah dirasa cukup, ia mengeluarkan jarinya dan bersiap memasukkan kejantanannya, tapi Sunghoon segera menahan pinggul Heeseung.
"I'm the leader, right ?" Sunghoon mengingatkan. Heeseung mengangguk, ia kemudian bersandar di kepala ranjang, meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya, menunggu dengan santai apa yang akan Sunghoon lakukan selanjutnya.
Dengan sedikit tertatih, Sunghoon bergerak mengangkangi Heeseung. Ia meraih kejantanan Heeseung, kemudian dengan perlahan mengarahkannya ke lubangnya. Sunghoon menekan ke bawah, membuat kepala kejantanan Heeseung masuk ke lubangnya.
"AAHHH..." Sunghoon mendongak. Baru kepalanya saja yang masuk, tapi Sunghoon sudah merasakan perih luar biasa seolah tubuhnya terbelah dua.
Melihat Sunghoon yang kesusahan, Heeseung meletakkan kedua tangannya di pinggang Sunghoon, mengelusnya perlahan, memberikan semangat.
" Easy, princess . Kakak engga akan ke mana-mana," ucap Heeseung menenangkan Sunghoon. Sunghoon mencengkeram pundak Heeseung, ia menggelengkan kepalanya. Tidak bisa, kalau semakin lama masuknya, Sunghoon akan semakin sakit.
Jadi dengan sisa tenaga yang ada, Sunghoon menekan pinggulnya ke bawah, sekaligus membuat kejantanan Heeseung masuk seluruhnya.
"Aahh, it's too big." Badan Sunghoon bergetar. Kejantanan Heeseung besar dan panjang, menyentuh langsung titik terdalam Sunghoon.
Sunghoon bisa merasakan bukan hanya lubangnya yang penuh, tapi perutnya juga penuh. Dengan tubuh bergetar, Sunghoon ambruk ke pelukan Heeseung yang langsung merengkuhnya, mengelus punggungnya penuh sayang.
Heeseung menunduk, melihat Sunghoon yang meringkuk di pelukannya. Ia usap pipi Sunghoon, singkirkan rambut Sunghoon yang menghalangi keningnya, kemudian ia kecup sayang kening Sunghoon.
Merasa Sunghoon tidak akan mampu bergerak, Heeseung meraih Sunghoon dan membalikkan posisi mereka. Sunghoon berbaring di kasur Heeseung, dan Heeseung mengungkungnya. Kemudian Heeseung menggerakkan kejantanannya keluar, kemudian mendorong lagi dengan perlahan.
Sunghoon mendesah, ia meraih tengkuk Heeseung kemudian membawa Heeseung pada ciuman yang dalam. Ciuman yang penuh hasrat dan basah.
Di bawah sana, Heeseung terus menggerakkan pinggulnya, mengeluarkan kejantanannya untuk dimasukkan lagi lebih dalam. Sunghoon mengerang, tangannya sibuk mencari pegangan yang berakhir berpegangan pada lengan Heeseung.
"Kak, ahh, iyaa, di situ," Sunghoon mendesah panjang ketika kejantanan Heeseung menekan titik nikmat. Heeseung menyeringai, ia makin mempercepat gerakannya, menekan titik yang sama berulang-ulang.
Sunghoon menggelengkan kepalanya, ini terlalu nikmat. Ia makin kencang mencengkeram lengan Heeseung, meninggalkan bekas cakaran yang akan perih keesokan hari, tapi Heeseung tidak peduli. Lubang Sunghoon membungkus dengan hangat dan erat.
"Ahh, Kakak, it's t-too big , Kak. Slow , aaahhh, please ," Sunghoon mencoba meminta belas kasihan Heeseung.
" Take it, princess ," bukannya mendengarkan apa kata Sunghoon, Heeseung malah makin mempercepat tusukannya. Setiap kali kejantanannya masuk, ia hentak dengan keras, menusuk tepat di titik kenikmatan Sunghoon.
Sunghoon mendesah, ia menggelengkan kepalanya. Tangannya bergerak makin memeluk Heeseung, membuat tubuh keduanya makin dekat. Kulit berpeluh mereka bersentuhan.
Suara background music game yang masih menyala beriringan dengan decit kasur Heeseung, desahan Sunghoon teredam oleh dada Heeseung. Sunghoon terlihat kecil dalam rengkuhan pelukan Heeseung.
"Kak, ahh, k-keluar, Kak," Sunghoon terbata-bata.
"Bersama, cantik," Heeseung membisikkan di telinga Sunghoon.
Heeseung makin mempercepat gerakannya, mengejar pelepasannya di depan matanya. Ia kemudian merasakan Sunghoon mencengkeram punggungnya, dan ia merasakan lubang Sunghoon semakin erat. Melihat Sunghoon sudah keluar, ia menghentak kejantanannya beberapa kali sampai akhirnya putihnya keluar di lubang Sunghoon.
Heeseung memeluk Sunghoon lebih erat, ia mengecup kening Sunghoon selama pelepasannya. Mereka terdiam dengan posisi yang sama selama beberapa menit. Keduanya mengatur napas yang masih memburu.
"Kakak engap," Sunghoon yang pertama kali memecah hening. Tubuh Heeseung itu besar, ia kesusahan napas dipeluk terus. Heeseung terkekeh, ia kembali mengecup kening Sunghoon kemudian dengan perlahan mengeluarkan kejantanannya dari lubang Sunghoon, putih Heeseung keluar bersamaan, Sunghoon meringis tidak nyaman.
Heeseung kemudian bangkit dengan agak tertatih, lemas baru saja pelepasan. Ia meraih handuk baru kemudian kembali ke kasur untuk membersihkan kekacauan yang mereka buat.
Setelah selesai, ia memakai kembali boxer-nya, dan membantu Sunghoon melakukan hal yang sama. Heeseung berbaring di samping Sunghoon, Sunghoon langsung bergerak memeluk Heeseung.
"Kak?"
"Hmm?"
"Kira-kira besok pas Kakak bangun, Kakak bakal inget ini atau engga?"
"Kenapa memangnya, kok nanya begitu?"
"Takut Kakak engga inget, terus nanti jauhin aku kayak dulu pas pertama kali."
Heeseung terkekeh, ia menunduk, menatap Sunghoon yang ternyata tengah mengerucutkan bibirnya.
"Dulu juga Kakak inget kok, cuma Kakak merasa bersalah. Makanya Kakak janji engga akan mengulanginya lagi."
"Jangan lagi," Sunghoon mengeratkan pelukan mereka.
"Kenapa?"
"Aku ketagihan, kalau Kakak engga mau, nanti aku minta ke siapa?"
Heeseung tertawa, tidak menyangka dengan pertanyaan Sunghoon.
"Iyaa, engga. Nanti kalau kamu mau minta, sama Kakak saja ya. Jangan sama yang lain."
Sunghoon mengangguk.
"Besok pagi aku mau minta lagi."
"Boleh."
"Dua ronde?"
"Sepuluh ronde juga boleh."
"Ayo sekarang."
"Jangan sekarang. Capek, pinggang Kakak encok."
"Dasar orang tua."
Kemudian mereka tertawa bersama, saling mengejek dan bercanda.
"Aku ngantuk." Heeseung mengangguk, ia makin merapatkan pelukan mereka. Ia elus punggung Sunghoon, membuat Sunghoon masuk ke dalam mimpinya lebih cepat.
Heeseung kemudian mendengar ponselnya bergetar berkali-kali. Dengan perlahan ia bergerak mencapai ponselnya yang ia simpan di atas nakas.
Jay
gue tidur di bawah bro
lain kali kabarin kalau mau main sama sunghoon
jadi gue ga usah capek-capek naik ke lantai atas
you
sorry bro
ga niat sumpah
kelepasan
Jay
kelepasan sampe 2 kali gitu
you
hehe
enak sih
Jay
TMI bangettt bangsattttt
